Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Pertanyaan yang Menyelamatkan Sebuah Pernikahan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Pertanyaan yang Menyelamatkan Sebuah Pernikahan…

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang sangat menyentuh hati.

Bukan tulisan dari seorang konselor pernikahan terkenal. Bukan pula hasil penelitian yang panjang. Hanya sebuah kisah sederhana tentang seorang wanita berusia 96 tahun yang telah menikah selama 74 tahun.

Ini jelas bukan sekedar teori….

Seseorang bertanya kepada ibu yang bijak itu,
“Apa yang membuat pernikahan Anda bisa bertahan selama itu?”

Saya membayangkan jawabannya mungkin tentang cinta yang besar, pasangan yang romantis, atau kehidupan yang nyaris tanpa konflik.

Tetapi ternyata bukan itu.

Ia tidak berkata, “Kami tidak pernah bertengkar.”

Ia juga tidak berkata, “Kami selalu bahagia.”

Sebaliknya, ia mengakui dengan jujur,

“Kami pernah bertengkar. Kami pernah menangis. Kami pernah saling mengecewakan. Bahkan ada saat-saat kami berhenti berbicara.”

Saya tersenyum ketika membacanya. Paham sekali rasanya.

Wuih…. Akhirnya ada seseorang yang berani mengatakan bahwa pernikahan yang panjang bukanlah pernikahan tanpa masalah.

Yang membuat saya semakin terdiam adalah kalimat berikutnya.

Setiap malam sebelum tidur, salah satu dari mereka selalu bertanya,

“Apakah kita baik-baik saja?”

Sederhana sekali.

Namun mungkin justru pertanyaan itulah yang menyelamatkan hubungan mereka selama puluhan tahun.

Wanita itu melanjutkan,
“Kami tahu bahwa kesombongan tidak pernah menyelamatkan sebuah hubungan. Kasih selalu dimulai ketika ego berakhir.”

Kalimat itu begitu dalam.
Berapa banyak hubungan yang sebenarnya tidak hancur karena masalah yang besar, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah?

Tidak ada yang mau meminta maaf lebih dulu.
Tidak ada yang mau membuka percakapan.
Tidak ada yang mau bertanya, “Apakah kita baik-baik saja?”

Lalu ia memandang cincin pernikahannya dan berkata,

“Ada hari-hari ketika mengucapkan ‘Maaf’ terasa mustahil. Tetapi kehilangan satu sama lain terasa jauh lebih menyakitkan.”

Saya rasa, itulah kedewasaan.
Bukan berarti tidak terluka.
Bukan berarti tidak kecewa.
Tetapi mampu melihat bahwa hubungan jauh lebih berharga daripada kemenangan sesaat.

Yang paling saya sukai adalah kalimat menjelang akhir.
Sambil menggenggam tangan suaminya, ia berkata,

“Kami tidak pernah bertengkar untuk menang. Kami bertengkar untuk saling memahami.”

Bukankah sering kali kita justru melakukan sebaliknya?

Kita sibuk mengumpulkan alasan mengapa kita benar.
Kita mendengarkan hanya untuk membalas.
Kita berbicara bukan untuk memahami, tetapi untuk memenangkan perdebatan.

Padahal setiap kali ada yang menang dalam pertengkaran suami istri, sesungguhnya yang kalah adalah hubungan itu sendiri.

Sebelum meninggalkan ruangan, wanita itu menoleh kepada cucunya dan memberikan nasihat yang indah.

“Pilihlah seseorang yang sanggup kamu ampuni. Dan jadilah seseorang yang layak untuk diampuni.”

Saya berhenti membaca sejenak.

Kalimat itu mengingatkan saya bahwa pernikahan bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna.
Kita semua akan mengecewakan orang yang kita kasihi, cepat atau lambat.

Karena itu yang dibutuhkan bukan kesempurnaan, melainkan anugerah dan kasih Tuhan yang mengalir melalui kita. Kita jelas tidak bisa melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi bersama Tuhan, kita pasti bisa!

Pernikahan yang langgeng, bukanlah pasangan yang tidak pernah salah, tetapi dua orang yang terus memilih untuk kembali mengasihi.

Saya percaya, hubungan yang langgeng dibangun bukan oleh momen-momen besar, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.

Memilih meminta maaf.
Memilih mengampuni.
Memilih mendengar.
Memilih tetap tinggal ketika ego mengajak pergi.

Dan mungkin, mulai malam ini, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan kepada orang-orang yang kita kasihi,

“Apakah kita baik-baik saja?”

Bisa jadi, pertanyaan sederhana itu akan menyembuhkan lebih banyak hal daripada seribu argumen yang kita menangkan.


“Love is the will to extend one’s self for the purpose of nurturing one’s own or another’s spiritual growth.” – M. Scott Peck

“Kasih adalah kemauan untuk memberikan diri demi menolong diri sendiri maupun orang lain bertumbuh secara rohani.” – M. Scott Peck

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Hubungan yang kuat bukan dibangun oleh dua orang yang selalu benar, tetapi oleh dua orang yang selalu memilih untuk memulihkan.”

“Strong relationships are not built by two people who are always right, but by two people who always choose restoration.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Family Constitution: Solusi Menghadapi Perang Bratayudha dalam Keluarga.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Family Constitution: Solusi Menghadapi Perang Bratayudha dalam Keluarga.

“Kekayaan tidak bertahan sampai generasi ketiga.”

Tahukah Anda bahwa pepatah ini ternyata dikenal hampir di seluruh dunia? Di Tiongkok ada ungkapan “fù bù guò san dài”. Di Amerika dikenal dengan “Shirtsleeves to shirtsleeves in three generations.” Italia, Brasil, hingga Jepang pun memiliki pepatah yang senada.

Pesannya sama.

Generasi pertama membangun. Generasi kedua mengembangkan. Generasi ketiga… meruntuhkan.

Mitos?

Ternyata tidak.

Fenomena ini begitu sering terjadi sehingga para pakar menyebutnya Third Generation Curse. Penyebabnya bukan semata-mata karena generasi ketiga kurang pintar, tetapi karena mereka lahir dalam kenyamanan. Mereka menikmati hasil perjuangan tanpa mengalami pahitnya membangun dari nol. Ditambah lagi konflik mengenai warisan, jabatan, dan kekuasaan yang sering kali memecah keluarga.

Di salah satu slide seminar ditampilkan kutipan yang sangat mengena.

“Hard times create strong men. Strong men create good times. Good times create weak men. Weak men create hard times.”

“Masa-masa sulit membentuk manusia yang kuat. Manusia kuat menciptakan masa yang baik. Masa yang baik melahirkan manusia yang lemah. Dan manusia yang lemah kembali menciptakan masa yang sulit.”

Kalimat sederhana, tetapi menjelaskan mengapa banyak perusahaan keluarga gagal melewati generasi ketiga.

Itulah sebabnya P. Indra dan saya rela terbang ke Surabaya mengikuti Family Constitution Workshop, bersama Disway.

Saya percaya satu hal, segala sesuatu ada ilmunya.

Kalau kita rela belajar membangun perusahaan, mengapa kita tidak belajar mempertahankannya?

Workshop dipandu oleh P. Dahlan Iskan dengan gaya khasnya yang santai, tajam, dan penuh humor. Beliau tidak sekadar menjadi moderator, tetapi menggali pengalaman para narasumber melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang sering kali menghasilkan jawaban-jawaban yang jauh lebih berharga daripada teori. Tidak lupa, beliau juga berbagi pengalamannya yang berharga.

Narasumber pertama adalah P. Bambang Sutantio, Founder & President Commissioner Cimory Group.

Yang membuat saya terkesan, beliau memilih mundur ketika masih berusia sekitar enam puluhan. Saat tubuh masih sehat, pikiran masih tajam, dan energi masih sangat produktif.

Operasional perusahaan benar-benar diserahkan kepada anak-anaknya. Masing-masing memimpin perusahaan yang berbeda sesuai bidangnya, sementara kepemilikan saham dibuat saling silang (cross shareholding). Dengan cara itu mereka tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi memiliki kepentingan yang sama untuk melihat seluruh grup terus bertumbuh.

Lalu P. Dahlan bertanya, “Kapan waktu terbaik untuk mundur?”

Jawaban P. Bambang sangat singkat.

“As soon as possible.”

Awalnya terdengar ekstrem.

Namun penjelasannya sangat masuk akal. Bila orang tua baru melepaskan kendali ketika kesehatan mulai menurun atau kemampuan berpikir berkurang, anak-anak sering kali sudah kehilangan respek terhadap keputusan-keputusannya.

Sebaliknya, ketika mundur saat masih kuat, orang tua dapat berubah peran menjadi mentor. Anak-anak diberi ruang untuk memimpin, sementara orang tua tetap mendampingi.

Yang menarik, pensiun bukan berarti berhenti berkarya. P. Bambang justru memiliki lebih banyak waktu memikirkan strategi jangka panjang, membeli startup yang potensial, atau bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lama yang membutuhkan transformasi. Beliau tidak mengalami power syndrome. Beliau hanya naik ke level peran yang berbeda.

Materi berikutnya dibawakan Dr. Hadi Cahyadi mengenai Family Constitution.

Sebelumnya saya mengira *Family Constitution* hanyalah dokumen berisi aturan keluarga.

Ternyata saya salah.

Yang paling penting bukan dokumennya, melainkan proses penyusunannya.

Seluruh anggota keluarga duduk bersama, belajar saling mendengar, menyampaikan harapan, membahas potensi konflik, lalu menyepakati aturan sebelum masalah benar-benar terjadi.

Dr. Hadi menjelaskan hubungan antara keluarga, kepemilikan, dan bisnis. Konflik biasanya muncul ketika seseorang memegang lebih dari satu peran. Karena itu hak, kewajiban, kompensasi, dividen, hingga mekanisme suksesi harus disepakati dengan jelas.

Siapa boleh menjadi CEO?

Bukan karena ia anak sulung atau anak favorit.

Tetapi karena memenuhi kompetensi yang telah disepakati bersama, bahkan bila perlu dinilai oleh pihak independen.

Mau mendapatkan lebih?
Silakan.
Tetapi harus melalui performance, bukan hubungan darah.

Saya juga menyukai konsep 5R yang dijelaskan Dr. Hadi.

Konflik selalu dimulai dari Resah, lalu menjadi Risih, berkembang menjadi Ribut, berlanjut Rebutan, dan akhirnya Rusak-rusakan.

Artinya, waktu terbaik menyusun Family Constitution justru ketika keluarga baru mulai merasa “resah”, bukan ketika sudah saling berebut.

Beliau juga memperkenalkan konsep PHC: Parenting to Equip, Harmonizing to Prosper, dan Collaborating to Endure.

Anak dipersiapkan sejak dini, keluarga dijaga tetap harmonis, dan perusahaan dibangun bersama para profesional agar mampu bertahan lintas generasi.

Dan PHC sesungguhnya singkatan lain Profesor Hadi Cahyadi…. hahaha… kreatifnya!

Sesi terakhir bersama P. Antonius Tanan, anak didik sekaligus tangan kanan Alm. P. Ciputra, membuka wawasan saya tentang *Tacit Knowledge.*

Menurut P. Anton, Pak Ci memiliki kemampuan yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Saat melihat sebidang tanah, beliau tidak sekadar melihat hamparan kosong.
*Beliau “mencium bau tanahnya”.*

Dari “bau” itulah Pak Ci seolah dapat membaca masa depan. Di tempat yang bagi orang lain hanyalah semak belukar atau lahan tidur, beliau sudah melihat jalan raya, kawasan bisnis, sekolah, rumah sakit, bahkan sebuah kota baru. BSD & PIK, contohnya.

Kemampuan itu bukan sihir.
Itulah yang disebut Tacit Knowledge, pengetahuan yang dibentuk oleh pengalaman puluhan tahun, intuisi, keberhasilan, kegagalan, dan ribuan keputusan yang pernah diambil.

Tetapi muncul satu persoalan.

Bagaimana jika semua pengetahuan berharga itu hanya tersimpan di kepala sang pendiri?

Karena itulah P. Anton menjelaskan pentingnya externalization, yaitu mengubah Tacit Knowledge menjadi pengetahuan yang terdokumentasi sehingga dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Namun beliau mengingatkan bahwa Tacit Knowledge tidak dapat diwariskan hanya melalui buku atau SOP. Ia harus ditransfer melalui pendampingan. Anak-anak perlu diajak mengikuti rapat-rapat penting, dilibatkan saat menghadapi persoalan besar, menyaksikan bagaimana orang tua mengambil keputusan sulit, bernegosiasi, menghadapi krisis, bahkan belajar dari kegagalan. Di situlah intuisi bisnis dibentuk.

Saya langsung teringat pada apa yang dilakukan P. Bambang Sutantio. Beliau tidak sekadar menyerahkan jabatan kepada anak-anaknya, tetapi jauh sebelumnya telah mempercayakan setiap anak memimpin sebuah perusahaan sambil terus mendampingi mereka sebagai mentor. Dengan cara itulah Tacit Knowledge perlahan berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Saat itulah saya menyadari bahwa Family Constitution sesungguhnya merupakan salah satu bentuk externalization. Nilai-nilai keluarga yang selama puluhan tahun hanya hidup di kepala dan hati pendiri akhirnya dituangkan menjadi kesepakatan yang dipahami seluruh anggota keluarga. Bukan sekadar mewariskan aset, tetapi mewariskan cara berpikir.

Saya terus memikirkan satu hal.

Selama ini banyak orang sibuk mempersiapkan warisan, tetapi sangat sedikit yang mempersiapkan hubungan. Kita menulis wasiat, tetapi sering lupa mewariskan nilai, karakter, dan hikmat yang membuat keluarga tetap utuh.

Mungkin itulah makna terdalam dari Family Constitution.

Bukan sekadar mengatur siapa memperoleh apa, melainkan menjaga agar kasih, kepercayaan, dan visi keluarga tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena perusahaan bisa dibangun kembali. Tetapi keluarga yang hancur akibat “perang Bratayudha” memperebutkan warisan sering kali tidak pernah benar-benar pulih. Dan mungkin, warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua bukanlah kekayaan, melainkan keluarga yang tetap utuh.

*”What you leave behind is not what is engraved in stone monuments, but what is woven into the lives of others.” – Pericles.*

*”Warisan sejati bukanlah apa yang terukir pada monumen batu, melainkan apa yang teranyam ke dalam kehidupan orang lain.”- Pericles.*

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Families stay strong when wisdom is shared before wealth is divided.”

“Keluarga tetap kuat ketika hikmat diwariskan sebelum harta dibagikan.” – YennyIndra

Read More
Articles

Reuni Emas Kosayu ’76: 24 – 26 juli 2026… Ketika Persahabatan Berhasil Menaklukkan Waktu.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Reuni Emas Kosayu ’76: 24 – 26 juli 2026… Ketika Persahabatan Berhasil Menaklukkan Waktu.

Lima puluh tahun.

Setengah abad.

Angka yang tidak pendek.

Bahkan, lebih panjang daripada usia persahabatan yang pernah dimiliki sebagian orang.

Namun, akhir pekan itu, waktu seolah berhenti sejenak.

Dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dari luar negeri, para alumni Kosayu ’76 berkumpul di Hotel Tentrem Yogyakarta untuk merayakan Reuni Emas. Reuni P. Indra, suami saya dan kawan-kawannya.

Begitu saling bertemu, tidak ada lagi jarak lima puluh tahun.

Yang terdengar hanyalah,

“Eh… masih ingat aku?”

“Wah… sudah lama sekali ya!”

Lalu disusul pelukan hangat, tawa lepas, dan obrolan yang seolah tidak pernah terputus oleh waktu.

Siang itu kami menikmati makan bersama di Mang Engking. Makanan memang lezat, tetapi yang jauh lebih “mengenyangkan” adalah cerita-cerita lama yang kembali hidup.

Malam harinya, kami diajak menikmati makan malam di Otada Resto, Jalan Kaliurang.

Suasananya begitu indah.

Kami disuguhi tarian Jawa yang anggun, diiringi alunan musik tradisional. Ketika pertunjukan mencapai puncaknya, langit malam mendadak dihiasi semburan kembang api yang memukau. Perpaduan budaya Jawa dan sentuhan modern membuat malam itu terasa begitu istimewa.

Tak lama kemudian, lagu-lagu nostalgia mulai dimainkan.

Tanpa dikomando, satu per satu teman bangkit dari kursinya.

Ada yang berjoget.

Ada yang bergandengan tangan.

Bahkan irama cha-cha membuat lantai dansa semakin ramai.

Malam itu, Ko Hendro Liem bersama Ci Aling menjadi “bintang panggung”. Gerakan mereka begitu luwes dan penuh semangat hingga berkali-kali disambut tepuk tangan dan sorak-sorai.

Melihat mereka, seluruh ruangan ikut tertawa dan bertepuk tangan. Rasanya kami kembali menjadi anak-anak SMA yang menari tanpa memikirkan usia.

Usia ternyata tidak pernah mampu mengalahkan hati yang penuh sukacita.

Keesokan paginya kami menuju Magelang.

Puluhan mobil Volkswagen klasik berwarna-warni telah menunggu.

Udara Magelang yang sejuk, deretan VW klasik yang unik, dan tawa yang tak pernah putus membuat pagi itu terasa begitu sempurna.

Kami berkeliling menikmati pedesaan, berhenti di beberapa lokasi untuk berfoto dengan balon-balon raksasa dan semburan asap warna-warni yang membuat setiap jepretan tampak begitu ceria.

Entah mengapa, hari itu kami semua kembali merasa muda.

Siang harinya kami makan bersama di Kampung Ulam menikmati sajian dan jajanan khas Jawa, sambil terus bercengkerama. Kenangan masa sekolah terus bermunculan, seolah lima puluh tahun hanyalah hitungan beberapa hari.

Puncak acara berlangsung pada malam Gala Dinner.

Video-video reuni tahun-tahun sebelumnya diputar di layar besar. Senyum, tawa, bahkan mata yang mulai berkaca-kaca muncul ketika wajah-wajah lama dan berbagai kenangan kembali memenuhi layar.

Setelah itu suasana berubah menjadi penuh gelak tawa.

Panitia dari grup Surabaya, Jakarta, dan Malang benar-benar kreatif.

Ada peserta pria yang dipakaikan daster dengan balon besar di balik bajunya. Tantangannya sederhana, mengeluarkan balon tanpa menggunakan tangan. Kedengarannya mudah, tetapi tingkah para peserta justru membuat seluruh ruangan tertawa terbahak-bahak.

Permainan berikutnya lebih seru lagi.

Para istri ditutup matanya, lalu diminta menyodorkan dot bayi ke mulut suami mereka. Dot itu lebih sering “mendarat” di pipi dan dagu daripada di mulut. Sorak-sorai pun kembali pecah.

Yang paling mengundang tawa adalah permainan “bayi raksasa”. Sebuah kain besar dengan tiga lubang dipasang di depan panggung. Kepala seorang pria menjadi kepala “bayi”, sementara kedua tangannya digantikan oleh dua wanita yang berbeda sambil memegang pisang. Melihat “bayi” itu berlomba menghabiskan pisang dengan gerakan yang tidak kompak membuat seluruh ruangan hampir tak berhenti tertawa.

Acara semakin semarak dengan penampilan modern dance,dari Grup Surabaya dan Malang. Lagu-lagu apik yang dibawakan para alumni, pembagian hadiah, door prize, dan berbagai kejutan yang membuat malam itu terasa begitu hidup.

Namun, kejutan terbesar justru datang di penghujung acara.

Panitia mengumumkan bahwa seluruh biaya pendaftaran akan dikembalikan kepada setiap peserta.

Kami saling berpandangan.

Ternyata seluruh rangkaian Reuni Emas ini disponsori sepenuhnya oleh salah seorang alumni kami, P. Tonny Susanto, pendiri dan owner jaringan Kikka Sushi di US.

“Beliau ingin setiap sahabat pulang membawa sukacita, tanpa dibebani oleh biaya reuni. Sebuah hadiah persahabatan yang lahir dari hati yang penuh kemurahan.”

Bukan hanya itu.

Setiap peserta juga menerima sebuah liontin emas Reuni Emas Kosayu ’76 sebagai kenang-kenangan, persembahan dari Ibu Felia Rahardjo.

Liontin kecil itu mungkin sederhana, tetapi nilainya jauh melampaui emasnya. Setiap kali melihatnya, kami akan selalu teringat pada persahabatan yang telah bertahan selama lima puluh tahun.

Sungguh sesuatu yang sangat bermakna.

Saat itu saya menyadari, keberhasilan seseorang memang patut disyukuri.

Tetapi ketika keberhasilan itu dipakai untuk membahagiakan orang lain, nilainya menjadi jauh lebih indah.

Saya pulang dari reuni ini membawa lebih dari sekadar foto-foto dan kenangan.

Saya membawa keyakinan bahwa waktu memang dapat mengubah wajah.
Tetapi waktu tidak mampu menghapus persahabatan yang dirawat dengan kasih.

Lima puluh tahun telah berlalu.

Namun malam itu, kami kembali menjadi anak-anak SMA yang tertawa tanpa beban.

Dan mungkin…

Itulah hadiah terindah dari sebuah Reuni Emas.

Di balik suksesnya Reuni Emas ini, ada kerja keras yang mungkin tidak terlihat.

Apresiasi setinggi-tingginya kepada P. Hendro Liem selaku ketua panitia, beserta seluruh tim yang dengan penuh kasih mempersiapkan setiap detail acara sehingga kami semua dapat pulang membawa kenangan yang begitu indah.

Terima kasih kepada B. Binarwati, B. Christine Liana, B. Felia Rahardjo, B. Andriana, B. Swanny, P. Suminto, P. Segerianto, B. Shanty, B. Eni Limarta, B. Suliwati, dan B. Tjhun Lan.

Terima kasih telah menghadirkan sebuah reuni yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga akan terus hidup di hati kami.

“We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” – Winston Churchill.

“Kita mencari nafkah dari apa yang kita peroleh, tetapi kita membangun kehidupan dari apa yang kita berikan.” – Winston Churchill.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi kita bisa naik, tetapi seberapa banyak orang yang kita angkat bersama kita.”

“The true measure of success is not how high we climb, but how many people we lift along the way.” – Yenny Indra.

Read More
Articles

Berhenti Menjadi Tawanan Masa Lalu

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berhenti Menjadi Tawanan Masa Lalu

Seorang sahabat bernama Ben pernah bercerita tentang pergumulannya sebagai seorang ayah. Anaknya mengalami masalah emosi yang cukup serius hingga harus menjalani berbagai pemeriksaan. Kesimpulan yang diterimanya membuat hatinya hancur. Banyak ahli berpendapat, akar persoalan itu berasal dari pengalaman masa kecil dan pola asuh yang pernah diterimanya.

Sebagai seorang ayah, Ben langsung dipenuhi rasa bersalah. Ia mulai mengingat setiap kesalahan yang pernah dilakukan.
Ia bertanya dalam hati,
“Apakah semua ini terjadi karena saya?”

Ia pun berusaha memperbaiki hubungan, meminta maaf, menjadi lebih sabar, dan lebih mengerti. Namun semakin ia mencoba mengurai masa lalu, semakin banyak luka yang muncul. Satu penyesalan membuka penyesalan berikutnya hingga akhirnya ia lelah secara emosional.

Saya memahami pergumulan itu. Andrew Wommack pernah mengatakan bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Menurut saya, itu sangat benar.

Untuk menjadi dokter ada sekolahnya. Untuk menjadi insinyur ada pendidikannya. Tetapi tidak ada sekolah yang benar-benar mengajarkan bagaimana menjadi suami, istri, atau orang tua yang sempurna. Kita belajar sambil berjalan, sambil bertumbuh, bahkan sering kali sambil membereskan kelemahan kita sendiri.

Karena itu saya merasa dunia saat ini kadang terlalu lama tinggal di masa lalu. Kita diajak terus menggali luka, menghubungkan setiap masalah dengan pengalaman masa kecil, seolah-olah masa depan hanya merupakan bayangan dari masa lalu. Padahal Firman Tuhan berkali-kali mengarahkan pandangan kita kepada masa kini dan masa depan. Masa lalu memang bisa menjadi pelajaran, tetapi bukan tempat tinggal.

Saya percaya, terus-menerus mengorek luka tanpa arah yang sehat ibarat membuka kembali luka fisik yang sebenarnya sedang sembuh. Semakin sering dibuka, semakin sulit pulih. Akhirnya banyak orang menjalani hidup sebagai korban masa lalu. Semua kegagalan dijelaskan oleh trauma. Semua ketakutan disandarkan pada pengalaman yang pernah terjadi.

Yang indah adalah Tuhan tidak membiarkan kita hidup seperti itu.
Mazmur 139:5 dalam TPT mengatakan sesuatu yang indah:

You’ve gone into my future to prepare the way,
and in kindness you follow behind me to spare me from the harm of my past.
With your hand of love upon my life, you impart a blessing to me.

Allah telah pergi ke masa depanku untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan-Mu mengikuti di belakangku,
untuk menyelamatkanku dari bahaya masa laluku.
Dengan tangan kasih-Mu atas hidupku, Engkau memberkatiku.

Perhatikan.
Tuhan bahkan sudah pergi ke masa depan kita.
Tetapi Tuhan juga membereskan masa lalu. Dia juga sedang menyiapkan masa depan dan melindungi kita dari banyak hal yang bahkan belum kita lihat.

Ketika Ben mulai memahami kebenaran ini, sesuatu berubah di dalam dirinya. Ia memilih menyerahkan penyesalannya kepada Tuhan. Ia berhenti berusaha mengendalikan segala sesuatu dan mulai belajar menjadi ayah yang baru setiap hari. Ia membangun waktu bersama Tuhan melalui firman, doa, perenungan, dan berbahasa roh. Dari luar, mungkin tidak banyak yang berubah. Namun di dalam hatinya, damai mulai bertumbuh.

Saya belajar, sering kali mujizat pertama yang Tuhan kerjakan bukanlah perubahan keadaan, melainkan perubahan hati. Ketika hati menjadi tenang, kita mulai lebih peka mendengar suara Tuhan. Dan saat kita mendengar-Nya dengan jelas, kita tidak lagi berjalan dipimpin oleh rasa bersalah, melainkan oleh pengharapan.

Masa lalu mungkin menjelaskan mengapa kita terluka, tetapi masa lalu tidak berhak menentukan siapa kita hari ini. Di dalam Tuhan selalu ada kesempatan untuk memulai kembali. Dia tidak memanggil kita hidup dalam penyesalan, melainkan melangkah bersama-Nya menuju masa depan yang telah dipersiapkan-Nya.

“Kita boleh belajar dari masa lalu, tetapi jangan pernah menjadikannya tempat tinggal. Tuhan memanggil kita untuk melangkah maju, karena masa depan selalu lebih besar daripada penyesalan.”

“Sometimes the greatest act of faith is to stop rehearsing the past and start trusting God with the future.” – Christine Caine.

“Kadang tindakan iman terbesar adalah berhenti mengulang-ulang masa lalu dan mulai mempercayakan masa depan kepada Tuhan – Christine Caine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Pemulihan sejati dimulai saat kita berhenti hidup sebagai korban masa lalu dan mulai berjalan sebagai anak Tuhan.”

“True healing begins when we stop living as victims of the past and start walking as children of God.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Mengapa Yohanes Masih Menulis Injil Lagi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengapa Yohanes Masih Menulis Injil Lagi?

Sebelum Yohanes mengambil penanya, tiga Injil lainnya, yaitu Matius, Markus, dan Lukas, sudah lebih dahulu beredar luas di kalangan jemaat.

Kisah kelahiran Yesus, pelayanan-Nya, mujizat-mujizat-Nya, pengajaran-Nya, hingga kematian dan kebangkitan-Nya telah dicatat dengan baik.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik.

Mengapa Yohanes masih menulis Injil yang keempat?

Bukankah semua peristiwa penting tentang Yesus sudah tersedia? Mengapa perlu ada satu Injil lagi?

Pertanyaan itu ternyata dijawab sendiri oleh Yohanes.

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semuanya ini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:30-31)

Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami seluruh Injil Yohanes.

Ia tidak menulis karena kekurangan bahan bacaan tentang Yesus. Ia menulis karena memiliki tujuan yang berbeda.

Di sinilah letak keunikan Injil Yohanes. Ia tidak berusaha menuliskan semua yang Yesus lakukan. Ia justru memilih beberapa peristiwa tertentu agar pembacanya mengenal siapa Yesus sebenarnya. Tujuan akhirnya bukan sekadar menambah catatan sejarah, tetapi membawa setiap orang kepada iman yang hidup di dalam Kristus.

Banyak ahli Perjanjian Baru seperti D.A. Carson, Andreas Köstenberger, Leon Morris, Merrill Tenney, dan Craig Keener melihat bahwa Injil Yohanes memiliki tujuan teologis yang sangat jelas. Yohanes bukan sekadar menyusun kronologi kehidupan Yesus. Ia sedang mengarahkan mata pembacanya kepada Pribadi Yesus.

Karena itu Yohanes hampir selalu menyebut mujizat sebagai “tanda” (semeion).
Mengapa bukan sekadar mujizat? Karena sebuah tanda tidak berhenti pada dirinya sendiri. Tanda selalu menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar.

Air berubah menjadi anggur bukan hanya menunjukkan kuasa Yesus mengubah air menjadi anggur. Peristiwa itu menunjuk kepada Yesus sebagai pembawa perjanjian yang baru. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, Yohanes tidak ingin kita berhenti kagum pada roti yang berlipat ganda. Ia segera membawa kita kepada perkataan Yesus, “Akulah Roti Hidup.”

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, Yohanes mengarahkan perhatian kita kepada perkataan Yesus, “Akulah Terang Dunia.” Demikian pula ketika Lazarus dibangkitkan, fokusnya bukan sekadar seorang mati hidup kembali, melainkan kepada pernyataan Yesus, “Akulah Kebangkitan dan Hidup.”

Semakin membaca Injil Yohanes, semakin kita menyadari bahwa mujizat bukanlah tujuan. Mujizat adalah tanda yang menunjuk kepada Pribadi Yesus. Yohanes ingin setiap pembacanya bertanya, bukan hanya, “Apa yang Yesus lakukan?”, tetapi “Siapakah Yesus sebenarnya?”

Ada satu fakta menarik lagi. Dalam bahasa Yunani, kata benda “iman” (pistis) tidak muncul satu kali pun di Injil Yohanes. Sebaliknya, kata kerja “percaya” (pisteuo) muncul sekitar 98 kali. Fakta ini telah lama diperhatikan oleh para ahli Perjanjian Baru.

Pesannya sangat indah. Yohanes tidak ingin iman hanya menjadi sebuah konsep yang kita pahami. Ia ingin kita percaya kepada Yesus. Percaya kepada firman-Nya. Percaya kepada kasih-Nya. Percaya kepada karakter-Nya. Percaya kepada janji-Nya. Iman bukan sekadar sesuatu yang kita miliki di kepala, tetapi hubungan yang terus hidup dengan Kristus.

Saya juga belajar sesuatu ketika membaca Injil Yohanes. Selama ini saya sering membaca Alkitab hanya untuk mengetahui apa yang terjadi. Yohanes mengajak kita melangkah lebih dalam. Setiap selesai membaca satu perikop, cobalah bertanya, “Apa yang Tuhan sedang nyatakan tentang Yesus melalui bagian ini?”

Pertanyaan sederhana itu mengubah cara kita membaca Alkitab. Kita tidak lagi sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi sedang mengenal Pribadi yang mengubah hidup kita.

Mungkin itulah sebabnya Injil Yohanes menjadi kitab yang paling sering diberikan kepada orang yang baru percaya. Karena tujuan akhirnya bukan membuat kita berkata, “Wah, mujizat Yesus luar biasa.” Melainkan membawa kita kepada pengakuan Tomas,

“Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).

Semakin kita mengenal Yesus, semakin kita mempercayai-Nya. Dan semakin kita mempercayai-Nya, semakin kita mengalami hidup yang sejati di dalam Dia.

“The more clearly we see Christ, the more naturally faith arises.”

“Semakin jelas kita melihat Kristus, semakin alami iman bertumbuh.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Mujizat menarik perhatian kita, tetapi tanda membawa kita mengenal Kristus. Semakin kita mengenal Dia, semakin mudah kita mempercayai-Nya.”

“Miracles capture our attention, but signs lead us to Christ. The more we know Him, the easier it becomes to trust Him.” – Yenny Indra

Read More
1 6 7 8 9 10 427