Reuni Emas Kosayu ’76: 24 – 26 juli 2026… Ketika Persahabatan Berhasil Menaklukkan Waktu.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Reuni Emas Kosayu ’76: 24 – 26 juli 2026… Ketika Persahabatan Berhasil Menaklukkan Waktu.
Lima puluh tahun.
Setengah abad.
Angka yang tidak pendek.
Bahkan, lebih panjang daripada usia persahabatan yang pernah dimiliki sebagian orang.
Namun, akhir pekan itu, waktu seolah berhenti sejenak.
Dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dari luar negeri, para alumni Kosayu ’76 berkumpul di Hotel Tentrem Yogyakarta untuk merayakan Reuni Emas. Reuni P. Indra, suami saya dan kawan-kawannya.
Begitu saling bertemu, tidak ada lagi jarak lima puluh tahun.
Yang terdengar hanyalah,
“Eh… masih ingat aku?”
“Wah… sudah lama sekali ya!”
Lalu disusul pelukan hangat, tawa lepas, dan obrolan yang seolah tidak pernah terputus oleh waktu.
Siang itu kami menikmati makan bersama di Mang Engking. Makanan memang lezat, tetapi yang jauh lebih “mengenyangkan” adalah cerita-cerita lama yang kembali hidup.
Malam harinya, kami diajak menikmati makan malam di Otada Resto, Jalan Kaliurang.
Suasananya begitu indah.
Kami disuguhi tarian Jawa yang anggun, diiringi alunan musik tradisional. Ketika pertunjukan mencapai puncaknya, langit malam mendadak dihiasi semburan kembang api yang memukau. Perpaduan budaya Jawa dan sentuhan modern membuat malam itu terasa begitu istimewa.
Tak lama kemudian, lagu-lagu nostalgia mulai dimainkan.
Tanpa dikomando, satu per satu teman bangkit dari kursinya.
Ada yang berjoget.
Ada yang bergandengan tangan.
Bahkan irama cha-cha membuat lantai dansa semakin ramai.
Malam itu, Ko Hendro Liem bersama Ci Aling menjadi “bintang panggung”. Gerakan mereka begitu luwes dan penuh semangat hingga berkali-kali disambut tepuk tangan dan sorak-sorai.
Melihat mereka, seluruh ruangan ikut tertawa dan bertepuk tangan. Rasanya kami kembali menjadi anak-anak SMA yang menari tanpa memikirkan usia.
Usia ternyata tidak pernah mampu mengalahkan hati yang penuh sukacita.
Keesokan paginya kami menuju Magelang.
Puluhan mobil Volkswagen klasik berwarna-warni telah menunggu.
Udara Magelang yang sejuk, deretan VW klasik yang unik, dan tawa yang tak pernah putus membuat pagi itu terasa begitu sempurna.
Kami berkeliling menikmati pedesaan, berhenti di beberapa lokasi untuk berfoto dengan balon-balon raksasa dan semburan asap warna-warni yang membuat setiap jepretan tampak begitu ceria.
Entah mengapa, hari itu kami semua kembali merasa muda.
Siang harinya kami makan bersama di Kampung Ulam menikmati sajian dan jajanan khas Jawa, sambil terus bercengkerama. Kenangan masa sekolah terus bermunculan, seolah lima puluh tahun hanyalah hitungan beberapa hari.
Puncak acara berlangsung pada malam Gala Dinner.
Video-video reuni tahun-tahun sebelumnya diputar di layar besar. Senyum, tawa, bahkan mata yang mulai berkaca-kaca muncul ketika wajah-wajah lama dan berbagai kenangan kembali memenuhi layar.
Setelah itu suasana berubah menjadi penuh gelak tawa.
Panitia dari grup Surabaya, Jakarta, dan Malang benar-benar kreatif.
Ada peserta pria yang dipakaikan daster dengan balon besar di balik bajunya. Tantangannya sederhana, mengeluarkan balon tanpa menggunakan tangan. Kedengarannya mudah, tetapi tingkah para peserta justru membuat seluruh ruangan tertawa terbahak-bahak.
Permainan berikutnya lebih seru lagi.
Para istri ditutup matanya, lalu diminta menyodorkan dot bayi ke mulut suami mereka. Dot itu lebih sering “mendarat” di pipi dan dagu daripada di mulut. Sorak-sorai pun kembali pecah.
Yang paling mengundang tawa adalah permainan “bayi raksasa”. Sebuah kain besar dengan tiga lubang dipasang di depan panggung. Kepala seorang pria menjadi kepala “bayi”, sementara kedua tangannya digantikan oleh dua wanita yang berbeda sambil memegang pisang. Melihat “bayi” itu berlomba menghabiskan pisang dengan gerakan yang tidak kompak membuat seluruh ruangan hampir tak berhenti tertawa.
Acara semakin semarak dengan penampilan modern dance,dari Grup Surabaya dan Malang. Lagu-lagu apik yang dibawakan para alumni, pembagian hadiah, door prize, dan berbagai kejutan yang membuat malam itu terasa begitu hidup.
Namun, kejutan terbesar justru datang di penghujung acara.
Panitia mengumumkan bahwa seluruh biaya pendaftaran akan dikembalikan kepada setiap peserta.
Kami saling berpandangan.
Ternyata seluruh rangkaian Reuni Emas ini disponsori sepenuhnya oleh salah seorang alumni kami, P. Tonny Susanto, pendiri dan owner jaringan Kikka Sushi di US.
“Beliau ingin setiap sahabat pulang membawa sukacita, tanpa dibebani oleh biaya reuni. Sebuah hadiah persahabatan yang lahir dari hati yang penuh kemurahan.”
Bukan hanya itu.
Setiap peserta juga menerima sebuah liontin emas Reuni Emas Kosayu ’76 sebagai kenang-kenangan, persembahan dari Ibu Felia Rahardjo.
Liontin kecil itu mungkin sederhana, tetapi nilainya jauh melampaui emasnya. Setiap kali melihatnya, kami akan selalu teringat pada persahabatan yang telah bertahan selama lima puluh tahun.
Sungguh sesuatu yang sangat bermakna.
Saat itu saya menyadari, keberhasilan seseorang memang patut disyukuri.
Tetapi ketika keberhasilan itu dipakai untuk membahagiakan orang lain, nilainya menjadi jauh lebih indah.
Saya pulang dari reuni ini membawa lebih dari sekadar foto-foto dan kenangan.
Saya membawa keyakinan bahwa waktu memang dapat mengubah wajah.
Tetapi waktu tidak mampu menghapus persahabatan yang dirawat dengan kasih.
Lima puluh tahun telah berlalu.
Namun malam itu, kami kembali menjadi anak-anak SMA yang tertawa tanpa beban.
Dan mungkin…
Itulah hadiah terindah dari sebuah Reuni Emas.
Di balik suksesnya Reuni Emas ini, ada kerja keras yang mungkin tidak terlihat.
Apresiasi setinggi-tingginya kepada P. Hendro Liem selaku ketua panitia, beserta seluruh tim yang dengan penuh kasih mempersiapkan setiap detail acara sehingga kami semua dapat pulang membawa kenangan yang begitu indah.
Terima kasih kepada B. Binarwati, B. Christine Liana, B. Felia Rahardjo, B. Andriana, B. Swanny, P. Suminto, P. Segerianto, B. Shanty, B. Eni Limarta, B. Suliwati, dan B. Tjhun Lan.
Terima kasih telah menghadirkan sebuah reuni yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga akan terus hidup di hati kami.
“We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” – Winston Churchill.
“Kita mencari nafkah dari apa yang kita peroleh, tetapi kita membangun kehidupan dari apa yang kita berikan.” – Winston Churchill.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur
“Ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi kita bisa naik, tetapi seberapa banyak orang yang kita angkat bersama kita.”
“The true measure of success is not how high we climb, but how many people we lift along the way.” – Yenny Indra.

