Articles

Mengapa Justru Setelah Menang, Masalah Datang Lagi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengapa Justru Setelah Menang, Masalah Datang Lagi?

“Life’s tests often come on the heels of a great victory, when we’re full and enjoying life at its best.”
— Chuck Swindoll

“Ujian kehidupan sering kali datang tepat setelah sebuah kemenangan besar, ketika kita sedang merasa penuh dan menikmati kehidupan dalam keadaan terbaik.”
— Chuck Swindoll

Aneh juga ya cara kehidupan berjalan?

Ketika masalah datang pada masa-masa sulit, kita tidak terlalu heran. Rasanya memang masuk akal.

Tetapi ketika masalah datang tepat setelah kemenangan besar, kita mulai bingung.

Baru saja doa dijawab. Bisnis sedang bagus. Hubungan keluarga membaik. Kesempatan baru terbuka. Kita sedang menikmati kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Tiba-tiba… boom!

Masalah datang.

Lalu pikiran mulai bertanya, “Saya salah apa?”

Bahkan kadang kita mulai mencurigai Tuhan.

Padahal belum tentu ada yang salah.

Saya teringat Elia.

Baru saja ia mengalami kemenangan spektakuler di Gunung Karmel. Api Tuhan turun. Bangsa Israel menyaksikan kuasa Tuhan dengan mata kepala sendiri.

Kalau kehidupan Elia dibuat film, rasanya inilah saat yang tepat untuk menuliskan: The End.

Happy ending.

Ternyata tidak.

Tidak lama sesudah kemenangan besar itu, ancaman Izebel datang. Elia ketakutan, melarikan diri, bahkan sampai kehilangan semangat hidup.

Menarik bukan?

Orang yang baru saja berdiri dengan berani menghadapi ratusan nabi Baal, sekarang ketakutan menghadapi ancaman seorang perempuan.

Apa yang terjadi?

Elia tetap manusia.

Tubuhnya lelah. Emosinya terkuras. Dan setelah tekanan yang begitu besar, ia membutuhkan pemulihan.

Yang menarik, Tuhan tidak datang memarahinya.

Tuhan memberinya makanan.

Membiarkannya tidur.

Kemudian memberinya makanan lagi.

Saya suka sekali bagian ini.

Kadang kita terlalu cepat membuat segala sesuatu menjadi persoalan rohani, padahal mungkin kita hanya perlu makan dan tidur.

Tubuh kita mempunyai batas.

Kemenangan tidak membuat kita menjadi Superman.

Justru setelah bekerja keras, menyelesaikan proyek besar, melayani banyak orang, atau melewati masa yang sangat intens, kita perlu belajar berhenti dan memulihkan diri.

Tetapi ada pelajaran lain yang tidak kalah penting.

Kemenangan mempunyai bahayanya sendiri.

Ketika semuanya berjalan lancar, tanpa sadar kita mudah merasa sudah menguasai kehidupan.

Kita tahu caranya.

Kita punya pengalaman.

Kita punya koneksi.

Kita punya uang.

Kita tahu strategi yang berhasil.

Perlahan-lahan ketergantungan kepada Tuhan dapat bergeser menjadi ketergantungan kepada kemampuan sendiri.

Karena itu setiap tantangan yang muncul dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengingat:

Saya tetap membutuhkan Tuhan.

Bukan berarti Tuhan mengirimkan hal buruk untuk mengajari kita. Yang buruk bukan berasal dari-Nya.

Tetapi ketika kehidupan menghadirkan sesuatu yang tidak kita harapkan, Tuhan sanggup menuntun kita melewatinya dan membuat kita bertumbuh di tengah keadaan tersebut.

Di situlah perspektif menjadi penting.

Jangan langsung menafsirkan masalah sebagai hukuman.

Jangan pula menganggap kemenangan kemarin menjadi tidak berarti hanya karena hari ini muncul tantangan baru.

Kemenangan kemarin tetap kemenangan. Masalah hari ini hanyalah persoalan baru yang perlu dihadapi bersama Tuhan.

Dan mungkin setelah sebuah kemenangan besar, pertanyaan terbaik bukanlah,

“What’s next?”

Melainkan,

“Apakah hati saya masih bergantung kepada Tuhan seperti ketika saya belum memiliki jawabannya?”

Sebab kesuksesan yang sesungguhnya bukan hanya berhasil mencapai sesuatu.

Kesuksesan adalah tetap mengenal siapa sumber kita setelah kita berhasil.

Tetap rendah hati ketika dipuji.

Tetap mau mendengar ketika sudah berpengalaman.

Tetap bergantung kepada Tuhan ketika rekening cukup, bisnis berkembang, keluarga bahagia, dan kehidupan terasa baik-baik saja.

Jangan hanya mencari Tuhan ketika tembok berada di depan kita.

Tetaplah dekat ketika tembok sudah runtuh.

Karena kemenangan terbaik bukan sekadar mendapatkan apa yang kita doakan.

Kemenangan terbaik adalah ketika setelah semuanya kita peroleh, hati kita tetap melekat kepada Tuhan.

“I have learned to kiss the wave that throws me against the Rock of Ages. – Charles Spurgeon.

“Saya telah belajar menerima gelombang yang menghempaskan saya kembali kepada Batu Karang yang Kekal. – Charles Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Dulu kita menggenggam Tuhan erat karena membutuhkan pertolongan-Nya. Kedewasaan adalah tetap menggenggam-Nya erat ketika pertolongan itu sudah menjadi kemenangan.”

“We once held tightly to God because we needed His help. Maturity is holding Him just as tightly when His help has become our victory.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Mengapa Tuhan Tidak Menjawab Doaku?
WHY ME????
Basic CEO Training