Monthly Archives: Sep 2026

Articles

Ketika Ilmu Sampai Pada Batasnya.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Ilmu Sampai Pada Batasnya.

Ada saatnya manusia sudah melakukan semua yang diketahuinya, tetapi jawabannya tetap tidak ditemukan.

Charles Cullistahu persis rasanya.

Ia bukan orang yang anti-pengobatan. Ia seorang dokter terlatih, memperoleh gelar kedokteran dari University of Vermont pada usia 24 tahun. Sejak kecil kesehatannya sendiri tidak terlalu baik, mungkin itu pula yang membuat hatinya mudah tersentuh melihat penderitaan orang sakit.

Pada tahun 1864, Cullis membuka rumah perawatan gratis di Boston bagi para penderita tuberkulosis. Pada zaman itu, penyakit ini sangat ditakuti. Banyak pasien yang dianggap tidak mempunyai harapan bahkan ditolak rumah sakit.

Cullis menerima mereka.

Ia memberikan perawatan medis, tempat tinggal yang hangat, perhatian, sekaligus doa.

Dalam urusan keuangan, Cullis banyak belajar dari George Müller. Ia memilih tidak meminta-minta sumbangan, tetapi percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Pelayanannya kemudian berkembang. Ada rumah bagi anak yatim piatu, pasien kanker, penderita gangguan tulang belakang, dan orang miskin.

Selama enam tahun Cullis bekerja sebagai dokter seperti biasa, merawat pasien dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya sambil tetap berdoa bagi mereka.

Hingga pada tahun 1870 terjadi sesuatu yang mengubah hidupnya.

Seorang perempuan bernama Lucy Drake datang kepadanya dengan tumor otak yang sangat melemahkan. Kemampuan medis pada masa itu hanya memberikan sedikit harapan.

Cullis sudah belajar kedokteran. Ia tahu apa yang dapat dilakukan dokter.

Ia juga tahu kapan ilmu manusia sudah sampai pada batasnya.

Cullis menumpangkan tangan atas Lucy dan berdoa dengan sederhana.

Lucy sembuh.

Seketika.

Apa yang terjadi di depan matanya mengguncang cara Cullis memandang kesembuhan. Bukan karena ilmu kedokteran tiba-tiba menjadi buruk, tetapi karena ia menemukan bahwa kemampuan manusia bukanlah batas kemampuan Tuhan.

Saya menyukai bagian ini.

Kadang-kadang tanpa sadar kita mengukur apa yang Tuhan dapat lakukan berdasarkan apa yang manusia masih dapat lakukan.

Selama dokter berkata masih ada jalan, kita tenang.

Selama rekening masih cukup, kita tenang.

Selama bisnis masih dapat dikendalikan, kita tenang.

Tetapi ketika manusia berkata, “Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi,” hati kita ikut kehilangan harapan.

Padahal batas manusia tidak pernah menjadi batas Tuhan.

Setelah pengalaman itu, pelayanan Cullis semakin dikenal dengan doa bagi orang sakit. Pada tahun-tahun berikutnya ia mengadakan berbagai *Faith Conventions.* Banyak orang datang untuk mendengar Firman dan berdoa bagi kesembuhan.

Pengaruhnya bahkan menjangkau tokoh-tokoh lain.

*A. B. Simpson*, yang kemudian mendirikan *Christian and Missionary Alliance*, mengalami kesembuhan dalam lingkungan pelayanan Cullis. *A. J. Gordon* juga sangat dipengaruhi oleh apa yang disaksikannya dan kemudian menulis tentang kesembuhan ilahi.

Satu kehidupan yang sederhana ternyata dapat menyalakan api yang menjalar jauh melampaui zamannya.

Tetapi ada sesuatu yang lebih menyentuh saya.

Sebelum Cullis dikenal karena kisah-kisah kesembuhan, ia sudah melayani orang sakit ketika belum ada sesuatu yang spektakuler untuk diceritakan.

Ia merawat penderita tuberkulosis.

Menolong orang miskin.

Menerima mereka yang tidak mempunyai tempat untuk pergi.

Memberikan rumah yang hangat bagi orang yang sedang menderita.

Iman Cullis tidak dimulai ketika mukjizat terjadi. Iman itu sudah terlihat ketika ia memilih mengasihi orang-orang yang tidak dapat membalas apa pun kepadanya.

Kemudian Tuhan memperluas pengaruhnya.

Kita perlu belajar menjaga keseimbangan ini.

Kita bersyukur untuk dokter, pengobatan, pengetahuan, dan segala sarana yang tersedia. Tetapi iman kita tidak berhenti pada apa yang dapat dilakukan manusia.

Dokter menolong.

Obat dapat menjadi sarana.

Ilmu pengetahuan terus berkembang.

Tetapi Tuhan tetap Sumber kita.

Ketika manusia berkata tidak tahu lagi harus berbuat apa, kita tidak perlu ikut berkata, “Berarti sudah tidak ada jalan.”

Ada Pribadi yang jauh lebih besar daripada diagnosis, statistik, pengalaman manusia, dan segala sesuatu yang dapat kita lihat.

Mukjizat bukan tentang kehebatan orang yang berdoa.

Mukjizat menunjuk kepada kehebatan Tuhan yang menjawab doa.

Karena pada akhirnya, bukan Charles Cullis yang harus menjadi pusat cerita ini.

Bukan pula Lucy Drake.

Melainkan Tuhan yang menunjukkan bahwa ketika kemampuan manusia sampai pada batasnya, kuasa-Nya tidak pernah kehabisan jalan.

“Faith begins where the will of God is known.” — F. F. Bosworth.

“Iman dimulai ketika kehendak Tuhan diketahui.” — F. F. Bosworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Batas kemampuan manusia bukanlah batas kemampuan Tuhan. Gunakanlah setiap pertolongan yang tersedia, tetapi jangan pernah memindahkan kepercayaan kita dari Sang Sumber kepada sarana.” — Yenny Indra

“The limit of human ability is never the limit of God’s ability. Use every help available, but never transfer your trust from the Source to the means.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Kesempatan Kedua di Bawah Reruntuhan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kesempatan Kedua di Bawah Reruntuhan…

Pagi 11 September 2001, Genelle Guzman-McMillan berangkat bekerja seperti biasa. Tidak ada firasat bahwa beberapa jam kemudian hidupnya akan berubah selamanya.

Genelle bekerja di lantai 64 North Tower, World Trade Center, New York. Ketika pesawat menghantam gedung itu, ia bersama teman-temannya berusaha turun melalui tangga darurat.

Mereka hampir berhasil.

Genelle sudah berada sekitar lantai 13 ketika gedung itu runtuh.

Dalam hitungan detik, semuanya gelap.

Genelle terkubur di bawah berton-ton beton dan baja. Kedua kakinya terjepit. Tubuhnya nyaris tidak dapat bergerak. Hanya satu tangannya yang masih bisa digerakkan.

Tidak ada cahaya.

Tidak tahu apakah ada orang yang mencarinya.

Tidak tahu apakah ia akan keluar hidup-hidup.

Di tengah kegelapan itulah Genelle mulai memikirkan hidupnya.

Sebelum tragedi itu, ia percaya kepada Tuhan, tetapi mengakui bahwa ia tidak sungguh-sungguh menjalani hidup bersama-Nya. Sekarang, di bawah reruntuhan World Trade Center, tidak ada lagi jabatan, pekerjaan, uang, penampilan, atau kesibukan yang berarti.

Tinggal dirinya dan Tuhan.

Genelle berdoa.

Ia meminta Tuhan mengampuninya dan memberinya kesempatan kedua. Jika ia keluar hidup-hidup, ia ingin hidupnya berubah.

Saya berhenti sejenak ketika membaca kisah ini.

Betapa mudahnya kita menjalani hidup seolah-olah masih mempunyai waktu tanpa batas.

Nanti saja berdamai.

Nanti saja mengampuni.

Nanti saja memperbaiki hubungan.

Nanti kalau tidak sibuk, baru punya waktu untuk Tuhan.

Nanti. Nanti. Nanti.

Sampai suatu hari kita menyadari bahwa tidak seorang pun memegang kontrak tentang hari esok.

Genelle menunggu.

Satu jam.

Lima jam.

Sepuluh jam.

Malam datang dan ia masih berada di sana.

Akhirnya, setelah sekitar 27 jam terkubur, pertolongan datang. Para penyelamat menemukan Genelle dan perlahan-lahan membebaskannya dari beton dan baja yang menjepit tubuhnya.

Genelle Guzman-McMillan tercatat sebagai orang terakhir yang ditemukan hidup dari reruntuhan World Trade Center.

Ia selamat.

Namun bagi Genelle, kisah terbesarnya bukan sekadar bahwa tubuhnya berhasil dikeluarkan dari reruntuhan.

Ia merasa memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda.

Genelle kemudian menceritakan satu pengalaman yang sangat pribadi. Ketika terperangkap, ia berseru meminta pertolongan dan merasakan seseorang menggenggam tangannya. Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Paul dan menguatkannya sampai tim penyelamat tiba. Belakangan ia tidak pernah berhasil menemukan siapa Paul tersebut.

Genelle sendiri percaya mungkin Tuhan mengirimkan seorang malaikat.

Kita tidak perlu membangun doktrin dari pengalaman pribadi yang tidak dapat diverifikasi. Tetapi satu hal tidak perlu diperdebatkan: Genelle diselamatkan dari reruntuhan, dan pengalaman itu mengubah arah hidupnya.

Ia bahkan kemudian menulis kisahnya dalam sebuah buku berjudul Angel in the Rubble.

Bagi saya, ada pertanyaan yang lebih penting daripada, “Siapakah Paul?”

Apa yang kita lakukan dengan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita hari ini?

Tidak semua orang membutuhkan reruntuhan untuk mengubah hidupnya.

Kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Tidak perlu menunggu sakit untuk menyadari berharganya kesehatan.

Tidak perlu menunggu hubungan hancur untuk menurunkan ego.

Tidak perlu menunggu hidup terguncang untuk mulai mencari Tuhan.

Kadang-kadang mukjizat terbesar bukan ketika Tuhan mengeluarkan seseorang dari reruntuhan.

Mukjizat terbesar terjadi ketika setelah keluar dari reruntuhan, ia tidak kembali menjadi orang yang sama.

Setiap pagi ketika kita membuka mata, sesungguhnya kehidupan sedang memberikan kesempatan baru.

Kesempatan untuk mengasihi lebih sungguh-sungguh.

Mengampuni lebih cepat.

Mengucapkan kata-kata yang membangun.

Menghargai keluarga.

Melakukan apa yang benar.

Dan terutama, hidup semakin dekat dengan Tuhan.

Genelle mendapat kesempatan kedua setelah 27 jam terkubur di bawah reruntuhan.

Kita mendapatkannya pagi ini.

Jangan tunggu reruntuhan.

“It is never too late to be what you might have been.” — George Eliot

“Tidak pernah terlambat untuk menjadi pribadi yang seharusnya dapat kita jadi.” — George Eliot

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan menunggu hidup runtuh untuk menemukan apa yang benar-benar berharga. Selama Tuhan masih memberi kita hari ini, kita masih mempunyai kesempatan untuk hidup dengan cara yang berbeda.” — Yenny Indra

“Don’t wait until life falls apart to discover what truly matters. As long as God still gives us today, we still have the opportunity to live differently.” — Yenny Indra

Read More
Articles

KARAT DARI DALAM.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

KARAT DARI DALAM.

“None can destroy iron, but its own rust can! Likewise, none can destroy a person, but his own mindset can.”

“Tidak ada yang dapat menghancurkan besi, kecuali karatnya sendiri. Demikian juga, tidak ada yang dapat menghancurkan seseorang seperti pola pikirnya sendiri.”

Saya suka sekali ilustrasi ini.

Besi itu kuat. Dipakai untuk membangun gedung, jembatan, mesin, bahkan berbagai konstruksi raksasa. Anehnya, sesuatu yang begitu kuat dapat perlahan-lahan keropos bukan karena hantaman besar dari luar, tetapi karena karat yang bekerja diam-diam dari dalam.

Demikian pula kehidupan.

Kita sering mengira musuh terbesar adalah keadaan. Ekonomi. Kompetitor. Orang yang tidak menyukai kita. Masa lalu. Kesempatan yang hilang. Pengkhianatan. Atau keputusan salah yang pernah kita buat.

Padahal tidak jarang yang paling merusak justru percakapan yang terus berlangsung di dalam kepala kita sendiri.

“Saya memang tidak bisa.”

“Sudah terlambat.”

“Orang lain lebih beruntung.”

“Saya selalu gagal.”

“Dia tidak menghargai saya.”

“Saya tidak akan memaafkannya.”

Kelihatannya sepele. Tidak terdengar oleh siapa pun. Tetapi ketika dipelihara terus-menerus, perlahan-lahan menjadi karat.

Karat kepahitan. Karat iri hati. Karat minder. Karat mengasihani diri sendiri. Bahkan karat merasa diri paling benar.

Yang paling berbahaya, lama-kelamaan kita tidak lagi menyadari bahwa itu karat. Kita menganggapnya kebenaran.

Ada sebuah nasihat sederhana yang sangat dalam:

“Two things to remember in life: Take care of your thoughts when you are alone, and take care of your words when you are with people.”

“Dua hal yang perlu diingat dalam hidup: jagalah pikiran ketika sedang sendirian, dan jagalah perkataan ketika sedang bersama orang lain.”

Mengapa keduanya berhubungan?

Karena apa yang kita pelihara ketika sendirian, suatu hari akan keluar ketika kita bersama orang lain.

Kalau ketika sendirian kita terus memutar ulang sakit hati, jangan heran suatu hari perkataan kita menjadi tajam. Kalau terus membandingkan diri, iri hati akan mencari jalan keluar. Kalau terus merasa tidak dihargai, sedikit saja orang melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan, kita mudah tersinggung.

Sebaliknya, ketika pikiran dipenuhi Firman, kasih, rasa syukur dan kebenaran, semuanya itu pun perlahan-lahan terlihat melalui perkataan dan respons kita.

Mulut tidak menciptakan isi hati. Mulut akhirnya membocorkan apa yang selama ini kita simpan di dalam.

Itulah sebabnya pengendalian diri tidak dimulai ketika kita hampir mengucapkan sesuatu yang salah. Pengendalian diri dimulai jauh sebelumnya, ketika tidak ada seorang pun melihat apa yang sedang kita pikirkan.

Firman Tuhan mengajarkan, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Menarik sekali. Perubahan kehidupan ternyata sangat berkaitan dengan perubahan cara berpikir.

Kita kerap berdoa, “Tuhan, ubah pasangan saya. Ubah anak saya. Ubah bisnis saya. Ubah orang-orang di sekitar saya.”

Tetapi bagaimana kalau yang pertama-tama perlu berubah justru cara kita memandang semuanya itu?

Dua orang dapat menghadapi masalah yang sama, tetapi menghasilkan kehidupan yang sama sekali berbeda. Yang satu berkata, “Habis sudah.” Yang lain berkata, “Baik, apa yang bisa saya pelajari? Apa langkah berikutnya?”

Yang satu membangun rumah di dalam kekecewaan. Yang lain mengakui bahwa memang sakit, tetapi menolak tinggal di sana.

Iman bukan menyangkal kenyataan. Iman tidak mengajarkan kita berpura-pura bahwa masalah tidak ada. Tetapi kita belajar tidak memberikan kepada masalah hak untuk menentukan siapa diri kita dan ke mana hidup kita akan pergi.

Karat pun tidak menghancurkan besi dalam semalam.

Sedikit demi sedikit.

Begitu pula pikiran yang salah.

Satu kekecewaan dipelihara. Satu penghinaan diputar ulang ratusan kali. Satu kegagalan dijadikan identitas. Satu kesalahan orang lain disimpan bertahun-tahun.

Tanpa sadar, energi yang seharusnya dipakai untuk membangun masa depan habis untuk memelihara masa lalu.

Nach, kalau karat bisa dibersihkan, pikiran pun bisa diperbarui.

Isi pikiran dengan kebenaran. Belajar melihat diri sebagaimana Tuhan melihat kita. Belajar mengampuni. Berhenti membandingkan. Berhenti memutar ulang percakapan yang tidak dapat diubah. Belajar memiliki hati seluas samudra sehingga tidak setiap batu kecil yang dilemparkan orang mampu menciptakan badai di dalam jiwa kita.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang kepada kita. Tetapi kita dapat memilih apa yang kita izinkan tinggal di dalam kita.

Jaga pikiran ketika sendirian.

Jaga perkataan ketika bersama orang lain.

Karena perkataan hari ini sering kali hanyalah buah dari pikiran yang kemarin kita izinkan berakar.

Jangan sibuk hanya menjaga kehidupan dari serangan luar. Periksa juga karat yang mungkin sedang tumbuh di dalam.

Karena sering kali, musuh terbesar masa depan kita bukanlah orang yang pernah menyakiti kita.

Melainkan pola pikir yang kita pelihara setelah mereka melakukannya.

“The first and best victory is to conquer self.”— Plato.

“Kemenangan yang pertama dan terbaik adalah menaklukkan diri sendiri.” — Plato.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Semakin luas hati, semakin sedikit hal yang perlu kita menangkan.”

“The larger the heart, the fewer battles we need to win.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

JANGAN PAKSA ORANG BERJALAN DENGAN SEPATU KITA…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

JANGAN PAKSA ORANG BERJALAN DENGAN SEPATU KITA…

Saya baru belajar sesuatu yang menarik dan mak jleb….

Semestinya ketika ada teman yang curhat dan membutuhkan solusi, salah satu pertanyaan terpenting yang perlu kita tanyakan adalah:

“Apa yang Tuhan katakan kepadamu?”

Lalu tugas kita bukan buru-buru memberikan sepuluh langkah berdasarkan pengalaman kita, melainkan membantu dan memotivasinya supaya berani berdiri di atas kebenaran yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kebiasaan banyak orang, termasuk saya, justru sebaliknya.

Begitu mendengar masalah teman, spontan kita berkata,

“Oh, dulu saya juga pernah mengalami seperti itu. Saya begini….”

Lalu keluarlah resepnya.

Saya melakukan A, berhasil. Jadi kamu lakukan A.

Saya memilih B, sukses. Kamu juga pilih B.

Saya membangun bisnis dengan cara C, berkembang pesat. Berarti C adalah jawabannya.

Padahal belum tentu.

Pengalaman kita berharga, tetapi pengalaman bukan formula.

Orang lain tidak hidup dengan sepatu kita.

Level imannya berbeda. Karakternya berbeda. Latar belakang keluarga berbeda. Musim kehidupannya berbeda. Kapasitas finansial berbeda. Bahkan ketika masalahnya sama-sama bisnis, produknya bisa berbeda, pasarnya berbeda, kompetitornya berbeda, timing-nya pun berbeda.

Strategi yang membuat saya berhasil belum tentu membuat orang lain berhasil.

Sebaliknya, kegagalan saya menggunakan sebuah strategi juga tidak otomatis berarti strategi itu buruk untuk orang lain.

Di sinilah saya semakin menyadari betapa pentingnya belajar mendengar tuntunan Tuhan secara pribadi.

Lihatlah Petrus dan Yohanes.

Sesudah kebangkitan, Petrus bertanya tentang Yohanes, “Tuhan, bagaimana dengan dia?”

Jawaban Tuhan kurang lebih sangat sederhana: kalau Aku menghendaki dia tetap hidup sampai Aku datang, apa urusanmu? Engkau, ikutlah Aku.

Mak jleb!

Dengan kata lain, jangan sibuk mengukur perjalananmu dengan perjalanan orang lain.

Tuhan mempunyai jalan bagi Petrus. Tuhan juga mempunyai jalan bagi Yohanes.

Bahkan dalam pelayanan Paulus, Roh Kudus pernah melarang mereka memberitakan Firman di suatu daerah, lalu mengarahkan mereka ke Makedonia. Memberitakan Firman tentu sesuatu yang baik. Tetapi sesuatu yang baik belum tentu merupakan instruksi Tuhan untuk kita pada saat itu.

Inilah mengapa kita membutuhkan Roh Kudus.

Tuhan mengetahui seluruh gambar yang tidak kita lihat.

Dia tahu kemampuan seseorang. Dia tahu apa yang sudah ditanam dalam dirinya. Dia tahu orang-orang yang akan ditemuinya. Dia tahu pintu mana yang harus diketuk dan pintu mana yang justru harus dilewati. Dia bahkan sudah mengetahui apa yang menunggu di tikungan berikutnya ketika kita belum melihat apa-apa.

Kenneth E. Hagin banyak mengajarkan pentingnya orang percaya belajar mengikuti pimpinan Roh Kudus dari dalam. Andrew Wommack juga menekankan bahwa orang percaya mempunyai Roh Kudus dan perlu belajar mengenali pimpinan-Nya melalui Firman.

Artinya, ketika seseorang datang kepada kita meminta nasihat, mungkin salah satu pelayanan terbaik yang dapat kita berikan bukan membuatnya bergantung kepada kebijaksanaan kita, tetapi membantunya semakin mampu mengenali tuntunan Tuhan.

Tentu bukan berarti kita tidak boleh memberikan pengalaman atau nasihat.

Pengalaman bisa menjadi referensi. Nasihat bisa membuka perspektif. Orang bijaksana memang mau menerima nasihat.

Tetapi akhirnya kita perlu mengatakan:

“Ini yang saya pelajari dari perjalanan saya. Tetapi tanyakan kepada Tuhan apa yang harus kamu lakukan.”

Ada perbedaan besar antara memberikan lampu dan mengambil alih kemudi.

Saya boleh membantu menerangi beberapa kemungkinan. Tetapi saya tidak berhak mengemudikan kehidupan orang lain.

Dan ini juga mengajar saya ketika menerima nasihat.

Saya boleh mendengar pengalaman orang yang saya hormati. Saya boleh belajar dari orang yang lebih sukses. Saya boleh bertanya kepada mentor. Tetapi jangan memakai pengalaman mereka sebagai pengganti tuntunan Tuhan.

Karena manusia hanya mengetahui sebagian cerita kita.

Tuhan mengetahui semuanya.

Jadi lain kali seorang teman datang dan berkata, “Menurutmu saya harus bagaimana?”

Mungkin jangan terlalu cepat menjawab.

Dengarkan.

Lalu tanyakan:

“Apa yang Tuhan katakan kepadamu?”

Bantu dia kembali kepada Firman. Bantu dia mengenali damai dan tuntunan Roh Kudus. Kalau Tuhan sudah memberikan arah, dorong dia mempunyai keberanian untuk melangkah.

Karena tujuan seorang sahabat yang baik bukan membuat orang semakin membutuhkan jawabannya.

Sahabat yang baik menolong seseorang semakin mengenal suara Tuhan bagi dirinya sendiri.

“The Spirit of God will always guide you in line with the Word of God.”— Kenneth E. Hagin.

“Roh Tuhan akan selalu menuntun kita selaras dengan Firman Tuhan.” — Kenneth E. Hagin.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Pengalaman orang lain bisa menjadi pelajaran, tetapi jangan menjadikannya peta perjalanan kita. Tuhan mengenal jalan yang dirancang-Nya khusus untuk kita.”
— Yenny Indra

“Someone else’s experience can teach us, but it should never become the map for our journey. God knows the path He has designed specifically for us.” — Yenny Indra

Read More
Articles

KETIKA “NOBODY” ADA DI TANGAN TUHAN…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

KETIKA “NOBODY” ADA DI TANGAN TUHAN…

Saya membaca sebuah quote yang mak jleb sekali:

“Moses spent forty years thinking he was somebody; forty years learning he was nobody; and forty years discovering what God can do with a nobody.” — D. L. Moody

“Musa menghabiskan empat puluh tahun merasa dirinya somebody; empat puluh tahun belajar bahwa dirinya nobody; dan empat puluh tahun berikutnya menemukan apa yang dapat Tuhan kerjakan melalui seorang nobody.”

Wow….

Musa memang menjalani tiga periode besar dalam hidupnya. Empat puluh tahun pertama dibesarkan di lingkungan istana Mesir. Kisah Para Rasul 7 mengatakan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan berkuasa dalam perkataan serta perbuatannya.

Somebody.

Punya pendidikan, akses, status dan kemampuan.

Ketika melihat seorang Ibrani dianiaya, Musa bertindak dengan caranya sendiri. Ia membunuh orang Mesir itu. Mungkin maksudnya membela bangsanya, tetapi caranya sendiri membawa masalah. Musa akhirnya melarikan diri ke Midian.

Berakhir sudah kehidupan istana.

Empat puluh tahun berikutnya, sang pangeran menjadi gembala di padang gurun.

Menarik sekali. Ketika akhirnya Tuhan memanggil Musa dari semak yang menyala untuk membawa Israel keluar dari Mesir, Musa justru bertanya,

“Siapakah aku ini?”

Dulu berani bergerak sendiri. Sekarang merasa tidak mampu.

Tetapi jawaban Tuhan luar biasa. Tuhan tidak sibuk meyakinkan Musa, “Kamu hebat kok. Kamu pintar. Kamu qualified.”

Tuhan berkata, “Certainly I will be with thee.”

Aku akan menyertai engkau.

Nah!

Rahasianya ternyata bukan siapa Musa, melainkan Siapa yang menyertai Musa.

Di situlah saya belajar sesuatu.

Dalam kehidupan, kita mudah sekali menganggap jabatan sebagai identitas. Direktur. Owner. Pemimpin. Pendeta. PIC. Guru. Orang sukses. Influencer. Apa pun itu.

Padahal jabatan bisa datang dan pergi.

Hari ini kita memimpin, besok orang lain menggantikan. Hari ini nama kita terpampang di depan, suatu hari generasi berikutnya mengambil tempat kita.

Bahkan kemampuan yang kita banggakan pun sebenarnya tidak berdiri sendiri. Siapa yang memberi kita napas? Kesempatan? Orang-orang yang menolong? Pintu yang terbuka? Ide yang tepat pada waktunya?

Karena itu Mazmur 127:1 berkata,

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Perhatikan, ayat itu tidak berkata jangan membangun.

Tetap membangun.

Tidak berkata pengawal tidak perlu berjaga.

Tetap berjaga.

Tetapi jangan pernah mengira hasil akhirnya bergantung pada kehebatan kita.

Kita bekerja, tetapi Tuhan sumbernya. Kita menanam, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Kita memimpin, tetapi kita sendiri harus dipimpin Tuhan.

Itulah sebabnya semakin besar kepercayaan yang diberikan kepada kita, seharusnya semakin rendah hati kita.

Bukan merasa diri tidak berharga. Bukan minder. Bukan pula berkata, “Saya bukan siapa-siapa, jadi saya tidak bisa apa-apa.”

Bukan itu.

Kita tahu siapa kita di dalam Kristus. Tetapi justru karena itu kita juga tahu siapa pusat kehidupan kita.

It’s all about God, not us.

Musa akhirnya dipakai Tuhan melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan dengan gelar seorang pangeran. Laut terbelah. Bangsa Israel keluar dari perbudakan. Air keluar dari batu. Tuhan melakukan perkara-perkara luar biasa melalui hidupnya.

Musa belajar bahwa tugasnya bukan menjadi Tuhan.

Tugasnya mendengar, percaya, taat dan mengikuti tuntunan-Nya.

Saya pun terus belajar hal yang sama.

Ketika Tuhan memberi kesempatan, jangan merasa, “Hebat ya saya.”

Ketika Tuhan memperluas pengaruh, jangan sampai berpikir, “Tanpa saya semuanya tidak jalan.”

Justru semakin dipakai Tuhan, semakin sadar:

Saya hanyalah steward. Pengelola.

Jabatan itu titipan. Pengaruh itu titipan. Bisnis itu titipan. Pelayanan itu titipan. Talenta itu titipan. Bahkan waktu yang saya miliki hari ini pun titipan.

Dan suatu hari semuanya akan kita serahkan kembali.

Mungkin keberhasilan terbesar dalam hidup bukan ketika dunia akhirnya menganggap kita somebody.

Melainkan ketika kita cukup mengenal Tuhan sehingga tidak lagi perlu membuktikan bahwa kita somebody.

Kita cukup berkata,

“Tuhan, tunjukkan jalannya. Saya ikut.”

Karena seorang nobody yang mengikuti Tuhan dapat menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dapat dicapai seorang somebody yang berjalan dengan kekuatannya sendiri.

Jikalau bukan Tuhan yang membangun, kita hanya kelelahan membangun sesuatu yang tidak pernah Dia minta.

Tetapi ketika Dia yang memimpin…

Tugas kita sederhana:

Dengar. Percaya. Taat. Ikuti.

Because ultimately,

It’s all about God, not us.

“Without God, we cannot. Without us, God will not.” – Augustine.

“Tanpa Tuhan, kita tidak mampu. Tanpa kita, Tuhan tidak akan melakukannya.” – Augustine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Bukan seberapa hebat kita, tetapi seberapa taat kita mengikuti Dia. Ini tentang Tuhan, bukan kita.”

“It’s not about how great we are, but how faithfully we follow Him. It’s all about God, not us.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 … 5