Monthly Archives: Sep 2026

Articles

BERKAT BESAR BUTUH KAPASITAS BESAR….

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

BERKAT BESAR BUTUH KAPASITAS BESAR….

Bayangkan Tuhan sudah menyiapkan kita menjadi mempelai yang cantik, lengkap dengan sebuah gaun yang sangat indah, size S. Gaunnya sudah tersedia. Cantik sekali. Persis seperti yang kita impikan.

Masalahnya, tubuh kita masih size L.

Kita terus berdoa, “Tuhan, saya mau gaun itu. Kapan saya bisa memakainya?”

Padahal mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Kapan gaunnya tersedia?” melainkan, “Apa yang perlu berubah dalam diri saya supaya saya fit dengan apa yang sudah tersedia?”

Demikian juga dalam kehidupan.

Kita berdoa meminta terobosan lebih besar, bisnis lebih besar, pengaruh lebih luas, pelayanan lebih besar, bahkan berkat finansial yang lebih besar. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi sering kali kita lupa bahwa level yang lebih besar membawa tanggung jawab yang lebih besar.

Bisnis kecil mungkin masih bisa dikelola dengan sistem sederhana. Tetapi ketika omzet bertambah berkali-kali lipat, jumlah karyawan meningkat dan cabang bertambah, persoalannya pun semakin kompleks. Dibutuhkan pembukuan yang lebih rapi, sistem yang lebih baik, leadership yang lebih matang, kemampuan mendelegasikan, serta hikmat mengambil keputusan.

Berkat yang lebih besar membutuhkan kapasitas yang lebih besar.

Karena itu sementara menantikan sesuatu yang besar, jangan hanya memandang ke depan sambil bertanya, “Tuhan, kapan?”

Sesekali lihat juga ke dalam.

Adakah “lemak” yang perlu dibuang?

Lemak iri hati. Ego. Mudah tersinggung. Emosi yang tidak terkendali. Ketidakdisiplinan. Kebiasaan menghakimi. Kebutuhan untuk selalu membuktikan diri. Atau cara berpikir lama yang tidak sesuai dengan Firman.

Bukan supaya kita menjadi layak menerima kasih dan berkat Tuhan. Kita tidak membeli berkat dengan karakter baik. Semuanya tetap karena anugerah.

Bahkan Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Tuhan telah mengaruniakan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kesalehan (2 Petrus 1:3). Jadi persoalannya bukan membujuk Tuhan supaya akhirnya mau menyediakan.

Dia sudah menyediakan.

Yang terus bertumbuh adalah kemampuan kita untuk berjalan di dalamnya.

Firman memperbarui pikiran kita, mengubah cara kita memandang kehidupan, membentuk karakter dan memperbesar kapasitas kita sehingga kita semakin mampu mengelola dengan bijaksana apa yang dipercayakan kepada kita.

Tuhan berkata bahwa orang yang setia dalam perkara kecil, setia juga dalam perkara besar.

Jadi jangan hanya berdoa,

“Tuhan, berikan saya lebih banyak.”

Saya belajar berdoa,

“Tuhan, melalui Firman-Mu, ubah cara berpikir saya. Tunjukkan apa yang perlu saya pelajari supaya saya mampu mengelola lebih banyak dengan benar.”

Dan jangan pula setiap kali sesuatu belum terjadi kita langsung menyimpulkan, Pasti ada yang salah dengan saya.

Tidak demikian.

Tidak setiap penantian berarti kita sedang salah. Tetapi orang bijaksana selalu bersedia belajar. Kalau Roh Kudus menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki, perbaiki. Kalau ada kemampuan yang perlu dipelajari, belajarlah. Kalau ada langkah yang perlu dilakukan, lakukan. Kalau belum ada yang perlu dilakukan, tetap percaya dan terus berjalan.

Jangan mengubah introspeksi menjadi condemnation. Jadikan introspeksi kesempatan untuk bertumbuh.

Saya suka sekali perkataan Nancy Dufresne:

*“If we listen to right thoughts—thoughts of the Word—long enough, it will start running out wrong thinking.” — Nancy Dufresne*

*“Jika kita terus mendengarkan pikiran yang benar—pikiran yang berasal dari Firman—cukup lama, pikiran yang benar itu akan mulai mengusir pemikiran yang salah.”*

Nah, di sinilah rahasianya.

Kita tidak berubah dengan terus-menerus memandangi “lemak” kita.

Kita berubah dengan memenuhi pikiran dengan Firman.

Ketika pikiran dipenuhi kebenaran cukup lama, cara berpikir berubah. Ketika cara berpikir berubah, keputusan berubah. Respons berubah. Kebiasaan berubah. Cara mengelola uang berubah. Cara memperlakukan orang berubah. Cara memimpin pun berubah.

Dan semakin pikiran kita selaras dengan Firman, semakin leluasa kehidupan Tuhan yang sudah ada di dalam roh kita mengalir keluar secara natural.

Bukan struggling supaya Tuhan memberkati.

Tetapi bertumbuh supaya apa yang sudah Tuhan sediakan semakin nyata dalam kehidupan kita.

Gaunnya mungkin sudah tersedia.

Daripada terus bertanya mengapa belum bisa memakainya, izinkan Firman mengubah cara berpikir kita, membuang “lemak-lemak” yang tidak diperlukan dan memperbesar kapasitas kita.

Sehingga ketika kesempatan besar datang, kita bukan hanya mampu menerimanya, tetapi juga mampu membawanya dengan anggun dan mengelolanya dengan bijaksana.

Karena terkadang yang perlu diperbesar bukan berkatnya.

Kapasitas kitalah yang perlu diperbesar.

What you get by achieving your goals is not as important as what you become by achieving your goals.” – Zig Ziglar

“Apa yang Anda peroleh ketika mencapai tujuan tidak sepenting menjadi pribadi seperti apa Anda dalam proses mencapai tujuan itu.” – Zig Ziglar

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan hanya meminta berkat yang lebih besar. Bertumbuhlah menjadi pribadi dengan kapasitas yang lebih besar untuk mengelolanya.” — Yenny Indra

“Don’t just ask for a greater blessing. Grow into a person with greater capacity to steward it well.” — Yenny Indra

Read More
Articles

TUHAN TIDAK PERGI, KITALAH YANG KERAP TIDAK SADAR.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

TUHAN TIDAK PERGI, KITALAH YANG KERAP TIDAK SADAR.

John Bevere mengajukan sebuah pertanyaan menarik:

“If God is everywhere, why don’t we always experience His presence?”
“Jika Tuhan ada di mana-mana, mengapa kita tidak selalu mengalami hadirat-Nya?”

Pertanyaan yang menarik.

Tuhan memang omnipresent—Dia hadir di mana-mana. Daud berkata, ke mana pun ia pergi, Tuhan ada di sana.

Tetapi bagi kita yang sudah lahir baru, ada sesuatu yang bahkan lebih dahsyat.

Roh Kudus bukan sekadar berada di sekitar kita. Dia tinggal di dalam kita.

Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan menyertai kita selama-lamanya. Paulus bahkan mengatakan tubuh kita adalah bait Roh Kudus.

Artinya, ketika pagi ini kita berdoa dan merasakan hadirat Tuhan begitu kuat, lalu besok pagi tidak merasakan apa-apa, jangan langsung berpikir,

“Waduh… Tuhan pergi ke mana?”

Ha… ha…

Tuhan tidak pindah rumah.

Perasaan kita berubah. Kesadaran kita bisa berubah. Tetapi kebenaran Firman tidak berubah.

Di sinilah saya belajar membedakan antara presence dan awareness of His presence.

Tuhan hadir. Itu fakta.

Tetapi seberapa sadar kita akan kehadiran-Nya, seberapa peka kita terhadap suara dan tuntunan-Nya, serta seberapa dalam kita menikmati persekutuan dengan-Nya, bisa berbeda.

Yakobus berkata,

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”

Bukan berarti Tuhan sedang jauh secara jarak, lalu ketika kita berdoa Dia berjalan mendekati kita. Bagi orang percaya, Roh Kudus sudah tinggal di dalam kita.

Mendekat kepada Tuhan berbicara tentang respons hati dan fellowship. Kita mengarahkan perhatian kepada-Nya, memberi tempat kepada Firman-Nya, dan merespons tuntunan Roh Kudus.

Dia sudah tinggal di dalam kita—itu identity.
Kita mendekat kepada-Nya—itu fellowship.

Masalahnya, sesuatu yang terlalu familiar terkadang mulai kita anggap biasa.

Kita membaca Alkitab sambil memikirkan WhatsApp. Berdoa, tetapi pikiran sudah ke mana-mana. Mendengar ayat yang sudah ratusan kali kita dengar lalu berkata,

“Oh, ayat itu lagi. Sudah tahu.”

Padahal familiar dengan Firman belum tentu berarti kita sedang memberi perhatian kepada Tuhan yang berbicara melalui Firman itu.

John Bevere mengatakan,

“Intimacy with God should never produce casualness toward God.”

Keintiman dengan Tuhan jangan sampai membuat kita memperlakukan-Nya sembarangan.

Saya suka sekali keseimbangan yang Yesus ajarkan ketika berdoa:

“Our Father…”

Bapa kita.

Itu intimacy.

Kita adalah anak-Nya. Kita diterima. Kita boleh datang dengan berani kepada takhta kasih karunia. Tidak perlu mengemis supaya Tuhan bersedia menerima kita.

Tetapi kemudian Yesus berkata,

“Hallowed be Your name.”

Dikuduskanlah nama-Mu.

Itu reverence.

Wow!

Kedekatan tidak menghilangkan penghormatan. Penghormatan pun tidak menghilangkan kedekatan.

Semakin mengenal Tuhan, seharusnya kita bukan semakin takut mendekat kepada-Nya, tetapi juga bukan semakin sembarangan.

Ada satu hal lagi yang penting.

Jangan sampai kita mengejar manifest presence seolah-olah kehadiran Tuhan ditentukan oleh goosebumps, menangis, musik tertentu, atau perasaan yang luar biasa.

Alkitab berkata, kita hidup karena percaya, bukan karena melihat.

Kalau hari ini kita merasakan sesuatu yang luar biasa, bersyukurlah.

Kalau tidak?

Firman tetap benar.

Christ in you.

Kristus di dalam kita.

Sebaliknya, jangan pula berpikir, “Kalau saya cukup menghormati Tuhan, cukup berdoa, cukup sungguh-sungguh, barulah Tuhan mau hadir dan memberkati saya.”

No.

Itu kembali menjadi performance.

Kita tidak menghormati Tuhan supaya diterima.

Kita menghormati-Nya karena sudah diterima di dalam Kristus.

Kita tidak berusaha membuat Tuhan yang jauh menjadi dekat. Kita belajar semakin sadar akan Pribadi yang sudah tinggal di dalam kita, semakin mengenal-Nya melalui Firman, dan semakin peka mengikuti tuntunan-Nya.

Mungkin itu sebabnya semakin bertumbuh, doa kita perlahan berubah.

Bukan terus-menerus,

“Tuhan, Engkau di mana?”

Melainkan,

“Tuhan, Engkau sudah di sini. Ajari saya hidup hari ini dengan kesadaran akan Engkau.”

Presence is a fact. Awareness grows. Fellowship deepens. Faith does not depend on feelings.

Hadirat-Nya adalah fakta. Kesadaran kita bertumbuh. Persekutuan semakin dalam. Dan iman tidak bergantung pada perasaan.

“The practice of the presence of God is to find joy in His divine company.” – Brother Lawrence.

“Melatih kesadaran akan hadirat Tuhan berarti menemukan sukacita dalam kebersamaan dengan-Nya.” – Brother Lawrence.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Semakin dekat kita dengan Tuhan, jangan sampai semakin biasa kita memperlakukan-Nya. Keintiman sejati melahirkan kasih sekaligus penghormatan.” – Yenny Indra

“The closer we grow to God, the less casually we should treat Him. True intimacy produces both love and reverence.” – Yenny Indra

Read More
Articles

JANGAN UKUR PERTUMBUHAN ORANG DENGAN PENGGARIS KITA.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

JANGAN UKUR PERTUMBUHAN ORANG DENGAN PENGGARIS KITA.

Ada sesuatu yang mudah sekali terjadi ketika kita sudah lama belajar.

Kebenaran yang sekarang begitu jelas bagi kita terasa seolah-olah seharusnya jelas juga bagi semua orang.

Kita lupa bahwa dulu kita pun tidak langsung mengerti.

Ada hal-hal yang harus kita dengar berkali-kali. Ada pola pikir lama yang membutuhkan waktu untuk diperbarui. Ada kebenaran yang sudah kita catat di buku, bahkan mungkin bisa kita jelaskan kepada orang lain, tetapi belum sungguh-sungguh menjadi cara kita berpikir dan hidup.

Lalu ketika bertemu seseorang yang pemahamannya masih bercampur-campur, kita mulai bertanya,

“Kok masih begitu?”

“Bukankah sudah belajar?”

“Sudah ikut sekolah Alkitab, masa masih belum mengerti?”

Nach, di sinilah kita perlu berhati-hati.

Pertumbuhan rohani bukan perlombaan siapa yang paling cepat memahami semuanya.

Paulus menulis, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

Pembaruan pikiran bukan peristiwa satu malam. Identitas kita di dalam Kristus adalah anugerah yang sudah kita terima, tetapi belajar berpikir selaras dengan kebenaran adalah perjalanan.

Seseorang bisa sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, rajin belajar, bahkan berulang kali mendengarkan pengajaran yang sama, tetapi masih mempunyai area tertentu yang belum diperbarui.

Bukankah kita juga demikian?

Mungkin doktrin kita sudah rapi, tetapi respons ketika tersinggung masih perlu diperbarui. Mungkin kita sudah banyak memahami anugerah, tetapi masih mudah menghakimi. Mungkin kita fasih menjelaskan iman, tetapi ketika keadaan tidak sesuai harapan, hati kita masih mudah goyah.

Karena itu pengetahuan yang lebih banyak seharusnya tidak membuat kita semakin cepat menilai orang.

Justru seharusnya membuat kita semakin sabar.

Bayangkan seorang murid kelas satu dibandingkan dengan seseorang yang sudah bertahun-tahun belajar. Tentu pemahamannya berbeda.

Tidak adil menuntut orang lain berada di kilometer 50 hanya karena kita sudah sampai di sana, sementara ia baru memulai perjalanan dari kilometer 5.

Bahkan kita tidak tahu seberapa jauh ia sudah berjalan.

Mungkin sesuatu yang bagi kita tampak “masih jauh”, sebenarnya merupakan kemajuan luar biasa dibandingkan kehidupannya beberapa tahun lalu.

Yesus memberikan gambaran pertumbuhan yang indah. Benih yang ditaburkan tidak langsung menghasilkan panen.

Mula-mula tunas, kemudian tangkai, lalu bulir, dan akhirnya bulir yang penuh isinya.

Saya suka sekali gambaran ini.

Kadang kita begitu sibuk mencari panen, sampai lupa bersyukur ketika melihat tunas.

“Kok belum berubah?”

Padahal benihnya mungkin sudah pecah.

“Kok pemahamannya masih begitu?”

Padahal tangkainya sedang tumbuh.

“Kok belum seperti yang seharusnya?”

Padahal bulirnya mulai terbentuk.

Jangan mencabut tanaman hanya karena hari ini kita belum melihat panen.

Sirami. Beri Firman. Beri kasih. Beri kesempatan untuk bertumbuh.

Tuhan bekerja bersama kita dari tempat kita berada. Dia tidak mengubah kebenaran untuk menyesuaikan diri dengan level iman kita, tetapi dengan sabar membawa kita dari pengertian yang kita miliki menuju kedewasaan yang lebih besar.

Bukankah Tuhan juga begitu sabar terhadap kita?

Karena itu jangan hanya melihat apa yang belum ada dalam diri seseorang. Belajarlah mensyukuri apa yang sudah mulai tumbuh.

Hari ini mungkin baru tunas.

Besok menjadi tangkai.

Kemudian bulir.

Dan pada waktunya, panen.

Kedewasaan bukan hanya mampu mengenali buah yang sudah matang. Kedewasaan juga mampu melihat sebuah tunas kecil dan bersyukur karena tahu: kehidupan sudah bekerja di dalamnya.

Itulah sebabnya saya belajar satu prinsip:

Jangan menilai seseorang hanya dari posisinya hari ini. Lihat juga arah perjalanannya.

Apakah ia lapar akan kebenaran? Apakah ia mau belajar? Apakah ketika mengetahui sesuatu yang lebih benar, ia bersedia berubah?

Teachable heart jauh lebih berharga daripada sekadar banyaknya pengetahuan.

Tentu kasih bukan berarti semua pengajaran dianggap sama benarnya. Kebenaran tetap harus diuji. Kita perlu membedakan apa yang benar-benar dikatakan Firman, apa yang merupakan interpretasi, dan apa yang sekadar pengalaman seseorang.

Bahkan pengajar yang kita hormati pun tidak menjadi otoritas terakhir.

Firman Tuhan tetap otoritas final.

Tetapi ada perbedaan besar antara menguji pengajaran dan menghakimi perjalanan seseorang.

Yang satu mencari kebenaran. Yang lain bisa lahir dari kesombongan karena merasa sudah lebih tahu.

Semakin bertumbuh, seharusnya kita semakin sadar betapa banyaknya yang masih perlu kita pelajari.

Mungkin salah satu bukti bahwa pikiran kita benar-benar sedang diperbarui bukan hanya karena kita semakin pandai membedakan doktrin, tetapi karena kita menjadi semakin rendah hati dan semakin mencerminkan anugerah ketika melihat orang lain masih berproses.

Guru yang baik tidak berdiri di garis finish sambil berteriak,

“Kok kamu belum sampai?”

Ia kembali beberapa langkah, mengulurkan tangan dan berkata,

“Yuk, kita jalan bersama. Saya pun masih belajar.”

Pada akhirnya, Tuhan tidak meminta kita menjadi polisi pertumbuhan orang lain.

Kita dipanggil untuk terus bertumbuh, memegang kebenaran dengan teguh, tetapi menyampaikannya dengan kasih.

Karena kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kesombongan, sementara kasih tanpa kebenaran kehilangan arah.

Kalau kita merasa sudah memahami anugerah lebih banyak, mungkin pertanyaan yang justru perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah:

Apakah pemahaman saya tentang anugerah juga membuat saya semakin penuh anugerah dalam memperlakukan orang yang belum mengerti sebanyak saya?

Mak jleb!

“Knowledge puffs up, but love builds up.”— 1 Korintus 8:1.

“Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.” — 1 Korintus 8:1.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Jangan kecewa karena hari ini baru melihat tunas ketika kita mengharapkan panen. Syukuri setiap tahap pertumbuhan. Tunas adalah bukti bahwa benih itu hidup.”

“Don’t be disappointed when you see only a sprout while expecting a harvest. Celebrate every stage of growth. A sprout is evidence that the seed is alive.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

BELAJAR TANPA HARUS JATUH DI LUBANG YANG SAMA

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

BELAJAR TANPA HARUS JATUH DI LUBANG YANG SAMA

Saya suka membaca kehidupan para jenderal iman. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena dari perjalanan mereka, termasuk kesalahan dan kegagalannya, saya bisa belajar banyak hal.

Ada pelajaran yang mereka peroleh setelah jatuh bangun bertahun-tahun. Kita bisa mempelajari prinsip yang sama tanpa harus mengalami semua kegagalan mereka.

Andrew Wommack pernah mengajarkan pentingnya belajar dari orang lain. Ada hal-hal yang dia pelajari melalui proses panjang selama bertahun-tahun. Ketika pengalaman dan prinsip itu diajarkan di sekolah, kita dapat menghemat waktu dan menghindari banyak pertempuran yang sebenarnya tidak perlu kita alami sendiri.

Kita tidak harus mengalami setiap kegagalan untuk memperoleh hikmat darinya.

Bukankah itu juga sebabnya Tuhan memberikan orang-orang untuk memperlengkapi kita?

Efesus 4:11-12 mengatakan bahwa Kristus memberikan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan.

Paulus bahkan berkata:

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
— 1 Korintus 11:1

Perhatikan batasnya: sebagaimana Paulus mengikuti Kristus.

Kita boleh belajar dari orang-orang yang berjalan lebih dahulu. Bagaimana mereka mengenal Tuhan, mempercayai Firman, bangkit dari kegagalan dan mengikuti tuntunan-Nya. Tetapi manusia bukan standar kebenaran. Firman tetap menjadi otoritas final.

Itulah salah satu alasan saya bersyukur memiliki komunitas BBL, Berdoa Berbahasa Lidah.

BBL adalah komunitas doa pagi yang terbuka untuk siapa saja, diadakan setiap Senin sampai Jumat pukul 05.00–06.45 WIB, kecuali hari libur nasional.

Teman-teman bergabung dari berbagai kota dan pulau di Indonesia, bahkan ada yang dari luar negeri. Kami dipertemukan oleh kerinduan yang sama: berdoa, belajar Firman dan bertumbuh bersama.

Kami belajar perikop Firman, Discipleship Evangelism, membedah buku dan pengajaran Andrew Wommack, serta mendengar sharing dan kesaksian teman-teman.

Di situlah indahnya bertumbuh bersama.

Kadang orang lain melihat sesuatu dari Firman yang belum saya lihat. Di kesempatan lain, sebuah kesaksian sederhana menyalakan kembali semangat dan iman seseorang.

Saling berbagi. Saling mengisi. Saling menguatkan.

Paulus berkata:

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
— 1 Korintus 3:6

Ada yang menanam, ada yang menyiram. Allah yang memberi pertumbuhan.

Kami juga berdoa dalam bahasa roh. 1 Korintus 14:4 mengatakan bahwa orang yang berkata-kata dalam bahasa roh membangun dirinya sendiri.

Ketika kita memenuhi pikiran dengan Firman dan bersekutu dengan Tuhan, kita belajar semakin sadar akan Roh Kudus yang tinggal di dalam kita dan semakin peka bekerja sama dengan tuntunan-Nya.

Hidup tetap natural. Kita tetap bekerja, berbisnis, mengurus keluarga, mengambil keputusan dan menghadapi berbagai persoalan. Tetapi kita menjalaninya bersama Roh Kudus.

Natural, tetapi supernatural.

Kami juga mengambil Perjamuan Kudus untuk mengingat apa yang sudah Kristus selesaikan bagi kita. Dalam Doa Sepakat, kami menyatukan iman berdasarkan Firman, bukan bersama-sama membujuk Tuhan agar mau menjawab doa, melainkan berdiri bersama di atas karya Kristus dan apa yang telah Tuhan sediakan.

Namun ada satu hal yang perlu dijaga.

Belajarlah dari orang lain, tetapi jangan copy assignment-nya.

Ibrani 11:29 mengatakan:
“Karena iman maka mereka telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam ketika mereka mencobanya juga.”

Menarik bukan?

Israel dipimpin oleh Musa masuk ke Laut Merah.
Orang Mesir juga masuk ke Laut Merah.

Secara kasat mata mereka melakukan hal yang sama. Tetapi hasilnya berbeda.

Israel melangkah berdasarkan Firman dan tuntunan Tuhan. Orang Mesir mencoba mengikuti apa yang mereka lihat dilakukan Israel.

Tindakan yang terlihat sama belum tentu lahir dari iman yang sama.

Karena itu kita boleh meneladani bagaimana seseorang mengenal Tuhan. Belajar dari imannya, kesungguhannya terhadap Firman, keberaniannya, bahkan kegagalannya.

Tetapi jangan sekadar meniru assignment orang lain.

Tuhan tidak membutuhkan fotokopi.

Dia ingin kita mengenal-Nya secara pribadi, belajar dari orang-orang yang diberikan-Nya untuk memperlengkapi kita, lalu menjalani assignment kita sendiri bersama-Nya.

Itulah BBL bagi saya. Bukan sekadar bangun pagi dan berkumpul melalui Zoom.

Kami belajar mengenal Tuhan, bertumbuh dalam Firman dan berjalan bersama-Nya. Bersama-sama.

Kalau Anda rindu belajar Firman, berdoa dalam bahasa roh, saling berbagi dan bertumbuh bersama, BBL terbuka untuk siapa saja. Mari bergabung bersama kami.

Link Zoom
https://zoom.us/j/8119821520?pwd=ZVBWR0Jxa3ZJam9qSHNITHhiTGNIUT09

atau masukan Zoom ID:
ID: 8119821520
Password: 123456

“Follow my example, as I follow the example of Christ.”
— Paul, 1 Corinthians 11:1

“Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus.”
— Paulus, 1 Korintus 11:1

YennyIndra
www.yennyindra.com

MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#SeruputKopiFirmanTuhan #YennyIndra #GraceAndFaith #FirmanTuhan

“Belajarlah dari perjalanan orang lain agar kita tidak perlu jatuh di lubang yang sama. Teladani imannya, tetapi jalani assignment yang Tuhan percayakan kepada kita sendiri.”
— Yenny Indra

“Learn from the journeys of others so we don’t have to fall into the same holes. Follow their faith, but walk out the assignment God has entrusted to you.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

JEHOVAH SHAMMAH TUHAN HADIR DI SANA

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

JEHOVAH SHAMMAH
TUHAN HADIR DI SANA

Pernahkah kita merasa sendirian? Seolah semua orang pergi dan hanya kita yang tertinggal?

Tenang. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia adalah Jehovah Shammah, Tuhan hadir di sana.

Nama ini muncul di bagian terakhir kitab Yehezkiel. Kota yang dilihat Yehezkiel dalam penglihatannya diberi sebuah nama yang sangat indah:

“Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR DI SITU.”
Yehezkiel 48:35

Setelah begitu banyak kisah tentang kehancuran, pembuangan dan penderitaan, kitab Yehezkiel ditutup dengan gambaran pemulihan dan kehadiran Tuhan.

Jehovah Shammah. The LORD is there.

Bukan sekadar nama yang indah. Bagi kita, ini mengingatkan kepada janji Yesus sendiri:

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Matius 28:20

Tuhan tidak hanya bersama kita ketika segala sesuatu berjalan baik. Ketika keadaan di sekeliling kita gelap, ketika air mata mengalir, ketika jawaban yang ditunggu belum terlihat, Dia tetap bersama kita.

Banyak di antara kita menantikan penggenapan janji-janji Tuhan. Namun sering kali kita ingin segera melihat hasil akhirnya dan tidak menyukai perjalanan menuju ke sana.

Yakobus 1:2-3 berkata:

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Perhatikan, Firman tidak mengatakan bahwa Tuhanlah sumber pencobaan atau masalah kita. Tetapi ketika tantangan datang, iman kita dapat tetap berdiri di atas Firman. Di situlah ketekunan berkembang.

Firman yang sebelumnya hanya kita mengerti di kepala mulai kita praktikkan dalam kehidupan nyata. Kita belajar mempercayai Tuhan ketika keadaan belum berubah. Kita belajar mengikuti tuntunan Roh Kudus ketika belum mengetahui seluruh jawabannya.

Seperti otot yang menjadi kuat ketika dilatih, iman pun bertumbuh ketika digunakan.

Kesuksesan dalam bisnis, pelayanan maupun kehidupan keluarga juga bukan terjadi dalam semalam. Ada perjalanan panjang di baliknya. Ada saat jatuh, belajar, bangkit kembali, memperbarui pikiran dengan Firman, mendengarkan tuntunan Roh Kudus, lalu melangkah lagi.

Dan yang paling indah, Tuhan tidak menunggu kita di garis akhir.

Dia tidak berkata, “Berjuanglah sendiri. Kalau sudah berhasil, Aku akan menemuimu di sana.”

Tidak.

Dia menyertai kita sekarang.

Tuhan hadir dalam perjalanan. Roh Kudus tinggal di dalam kita, mengajar, menuntun dan mengingatkan kita kepada kebenaran Firman.

Corrie ten Boom mengalami kebenaran ini dengan cara yang sangat nyata. Ia adalah seorang wanita Kristen Belanda yang bersama keluarganya menolong menyembunyikan orang-orang Yahudi dari Nazi pada masa Perang Dunia II.

Corrie dan kakaknya, Betsie, akhirnya ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi Ravensbrück.

Tempat itu penuh penderitaan dan kematian. Namun justru di sana mereka tetap berpegang kepada Tuhan. Mereka berhasil membawa sebuah Alkitab kecil dan menggunakannya untuk membaca Firman serta menguatkan sesama tahanan.

Di tempat yang secara manusia tampak begitu gelap, mereka menemukan bahwa kegelapan tidak dapat mengusir kehadiran Tuhan.

Betsie mengungkapkan sebuah kebenaran yang kemudian terus dibagikan Corrie:

“There is no pit so deep, that God’s love is not deeper still.”

Tidak ada jurang yang begitu dalam sehingga kasih Tuhan tidak lebih dalam lagi.

Itulah gambaran Jehovah Shammah.

Bukan berarti Tuhan adalah sumber penderitaan mereka. Kejahatan tetaplah kejahatan. Tetapi kejahatan manusia tidak mampu membuat Tuhan meninggalkan anak-anak-Nya.

Setelah perang berakhir, Corrie bahkan memberitakan pengampunan dan kasih Kristus kepada banyak orang di berbagai negara.

Lalu apa artinya Jehovah Shammah bagi kita hari ini?

Saat merasa sendiri, Jehovah Shammah.
Saat bingung, Jehovah Shammah.
Saat bisnis menghadapi tantangan, Jehovah Shammah.
Saat keluarga sedang bergumul, Jehovah Shammah.
Saat jawaban doa belum terlihat oleh mata, Jehovah Shammah.

Namun bagi kita yang hidup dalam Perjanjian Baru, ada sesuatu yang bahkan lebih dahsyat.

Tuhan bukan hanya hadir di sana.

Roh-Nya tinggal di dalam kita.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah…”
1 Korintus 6:19

Jadi kita tidak perlu menjalani kehidupan dengan mentalitas orang yang ditinggalkan Tuhan.

Di dalam Kristus, kita membawa hadirat-Nya ke mana pun kita pergi.

Sahabat, jangan percaya kepada perasaan yang berkata bahwa kita sendirian. Perasaan dapat berubah. Keadaan dapat berubah. Tetapi Firman Tuhan tetap.

Jehovah Shammah.

Tuhan menyertai kita dalam suka maupun duka, dalam keberhasilan maupun tantangan. Dan melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, kehadiran-Nya bukan sekadar sebuah konsep yang kita ketahui.

Dia hadir.

Di sini.

Sekarang.

“Hard times may have held you down, but they will not last forever. When all is said and done, you will be increased.”
— Joel Osteen

“Masa-masa sulit mungkin telah menahan Anda, tetapi semuanya tidak akan berlangsung selamanya. Ketika semuanya telah berlalu, Anda akan mengalami peningkatan.”
— Joel Osteen

??YennyIndra??
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?? MPOIN PLUS & PIPAKU ??
?? SVRG ??
?? SWEET O’ TREAT ??
?? AESTICA ID ??
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Tuhan tidak menunggu kita di garis akhir. Dia hadir dalam setiap langkah perjalanan. Bahkan ketika mata belum melihat jawaban, kita dapat tetap melangkah dengan tenang karena Sang Penjawab tinggal di dalam kita.”
— Yenny Indra

“God is not waiting for us at the finish line. He is present in every step of the journey. Even when our eyes have not yet seen the answer, we can keep walking in peace because the One who holds the answer lives within us.”
— Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 5