Menang Mempertahankan Ego, Tetapi Kehilangan Orang yang Kita Kasihi…
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Menang Mempertahankan Ego, Tetapi Kehilangan Orang yang Kita Kasihi…
Dulu saya berpikir, kalau saya benar, ya harus diperjuangkan.
Harus dijelaskan sampai orang mengerti. Kalau perlu keluarkan data, fakta, kronologi lengkap. Jangan sampai orang mempunyai persepsi yang salah tentang kita.
Makin dewasa saya belajar sesuatu:
Tidak semua kebenaran harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Kadang yang sedang kita pertahankan bukan lagi kebenaran, tetapi ego.
Ada perbedaan antara mempunyai pendirian dan mempertahankan ego.
Pendirian berkata, “Saya tahu apa yang saya percaya.”
Ego berkata, “Kamu harus mengakui bahwa saya benar.”
Pendirian bisa tetap tenang ketika orang berbeda pendapat. Ego gelisah sampai orang lain setuju.
Seorang teman bercerita tentang pasangan suami istri yang tinggal serumah, tetapi sudah pisah kamar, bahkan hampir tidak pernah berbicara. Sama-sama keras. Sementara istri dan anak-anak tetap pergi ke gereja dan aktif melayani.
Saya tentu tidak mengetahui seluruh persoalan mereka dan tidak berhak menentukan siapa yang salah.
Tetapi kisah itu membuat saya bertanya:
Apa gunanya Firman yang kita dengar setiap minggu kalau ego kita tidak pernah boleh disentuh oleh Firman itu?
Kita bisa aktif melayani tetapi sulit berkata, “Saya salah.”
Bisa berdoa panjang tetapi tidak mau memulai percakapan.
Bisa mengerti banyak Firman tetapi menyimpan daftar kesalahan pasangan bertahun-tahun.
Bisa berbicara tentang kasih karunia kepada orang lain, sementara di rumah masing-masing menunggu pihak lain berubah terlebih dahulu.
Kalau dua orang sama-sama mempertahankan ego, mungkin salah satunya akhirnya memenangkan perdebatan.
Tetapi keduanya bisa kehilangan hubungan.
Teman saya kemudian bercerita tentang Susi.
Sinta bukan orang yang berkepribadian lembut. Ia dikenal cukup keras. Latar belakangnya sederhana, kemampuannya terbatas. Hidup yang keras membentuknya menjadi seorang pekerja tangguh agar bisa bertahan hidup. Tetapi ketika mengenal Tuhan, ada sesuatu yang membedakannya: ia mau tunduk kepada Firman.
Kehidupannya kemudian memengaruhi suaminya. Mereka bertumbuh bersama, dan dari kehidupan sederhana itu, Sinta bahkan membawa banyak orang mengenal Tuhan.
Saya suka sekali pelajarannya.
Kedewasaan rohani bukan berarti kehilangan kepribadian kuat.
Orang tegas tidak harus menjadi lembek. Orang yang mempunyai pendapat tidak harus kehilangan pendirian.
Pertanyaannya hanya satu:
Siapa yang mendapat kata terakhir, ego kita atau Firman Tuhan?
Saya teringat pengalaman lain.
Saya mengenal seorang teman yang semasa istrinya hidup, hampir selalu mengeluh tentang istrinya.
Rasanya apa pun tidak pernah cukup baik. Ada saja yang kurang. Ketika istrinya tidak memenuhi harapannya, ia mengkritik, memberi label, bahkan mendiamkannya.
Lalu istrinya meninggal.
Mendadak semuanya terlihat berbeda.
Barulah ia menyadari bahwa banyak hal kecil yang dahulu dianggap biasa sebenarnya merupakan bentuk perhatian istrinya. Hal-hal yang dulu tidak dihargai sekarang sangat dirindukan.
Ia sangat menyesal.
Tetapi kali ini tidak ada kesempatan untuk pulang dan berkata,
“Maaf. Ternyata selama ini saya kurang menghargaimu.”
Terlambat.
Kisah itu menampar saya.
Saat seseorang masih bersama kita, mata kita sering sangat tajam melihat kekurangannya. Ketika ia sudah tiada, tiba-tiba kita menjadi sangat pandai mengingat kebaikannya.
Mengapa harus menunggu kehilangan?
Pasangan kita tidak sempurna.
Anak-anak kita tidak sempurna.
Orangtua, sahabat, rekan kerja, bahkan orang-orang yang melayani bersama kita tidak sempurna.
Tetapi surprise…
Kita juga tidak.
Ego menghitung apa yang tidak kita dapatkan.
Kasih belajar melihat apa yang selama ini sudah diberikan.
Kerendahan hati bukan menganggap diri tidak berharga. Kerendahan hati adalah cukup aman untuk berkata, “Kalau Firman menunjukkan saya salah, saya yang berubah.”
Tentu melepaskan ego bukan berarti membiarkan kekerasan, manipulasi atau perilaku destruktif. Kasih tetap membutuhkan hikmat dan batas yang sehat.
Tetapi jangan memakai kata “prinsip” untuk membungkus ego yang sebenarnya hanya ingin menang.
Hidup terlalu singkat untuk memenangkan pertempuran yang tidak perlu.
Kalau ada terima kasih yang bisa dikatakan hari ini, katakan.
Kalau salah, minta maaf.
Kalau seseorang layak dihargai, hargai sekarang.
Dan kalau pertengkaran itu sebenarnya tidak sebanding dengan harga hubungan yang dipertaruhkan, turunkan ego.
Jangan menunggu seseorang menjadi kenangan untuk akhirnya menyadari betapa berharganya kehadirannya.
Sebab ada pertempuran yang bisa kita menangkan…
tetapi ternyata hadiahnya adalah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.
*”The only way to get the best of an argument is to avoid it.” – Dale Carnegie.*
*”Satu-satunya cara terbaik untuk memenangkan sebuah perdebatan adalah dengan tidak terjebak di dalamnya”.- Dale Carnegie.*
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Jangan tunggu kehilangan mengajari kita menghargai apa yang hari ini masih bisa kita peluk.”
“Don’t wait for loss to teach us the value of what we can still hold today.”
– Yenny Indra




