Monthly Archives: Oct 2026

Articles

Menang Mempertahankan Ego, Tetapi Kehilangan Orang yang Kita Kasihi…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Menang Mempertahankan Ego, Tetapi Kehilangan Orang yang Kita Kasihi…

Dulu saya berpikir, kalau saya benar, ya harus diperjuangkan.

Harus dijelaskan sampai orang mengerti. Kalau perlu keluarkan data, fakta, kronologi lengkap. Jangan sampai orang mempunyai persepsi yang salah tentang kita.

Makin dewasa saya belajar sesuatu:

Tidak semua kebenaran harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Kadang yang sedang kita pertahankan bukan lagi kebenaran, tetapi ego.

Ada perbedaan antara mempunyai pendirian dan mempertahankan ego.

Pendirian berkata, “Saya tahu apa yang saya percaya.”

Ego berkata, “Kamu harus mengakui bahwa saya benar.”

Pendirian bisa tetap tenang ketika orang berbeda pendapat. Ego gelisah sampai orang lain setuju.

Seorang teman bercerita tentang pasangan suami istri yang tinggal serumah, tetapi sudah pisah kamar, bahkan hampir tidak pernah berbicara. Sama-sama keras. Sementara istri dan anak-anak tetap pergi ke gereja dan aktif melayani.

Saya tentu tidak mengetahui seluruh persoalan mereka dan tidak berhak menentukan siapa yang salah.

Tetapi kisah itu membuat saya bertanya:

Apa gunanya Firman yang kita dengar setiap minggu kalau ego kita tidak pernah boleh disentuh oleh Firman itu?

Kita bisa aktif melayani tetapi sulit berkata, “Saya salah.”

Bisa berdoa panjang tetapi tidak mau memulai percakapan.

Bisa mengerti banyak Firman tetapi menyimpan daftar kesalahan pasangan bertahun-tahun.

Bisa berbicara tentang kasih karunia kepada orang lain, sementara di rumah masing-masing menunggu pihak lain berubah terlebih dahulu.

Kalau dua orang sama-sama mempertahankan ego, mungkin salah satunya akhirnya memenangkan perdebatan.

Tetapi keduanya bisa kehilangan hubungan.

Teman saya kemudian bercerita tentang Susi.

Sinta bukan orang yang berkepribadian lembut. Ia dikenal cukup keras. Latar belakangnya sederhana, kemampuannya terbatas. Hidup yang keras membentuknya menjadi seorang pekerja tangguh agar bisa bertahan hidup. Tetapi ketika mengenal Tuhan, ada sesuatu yang membedakannya: ia mau tunduk kepada Firman.

Kehidupannya kemudian memengaruhi suaminya. Mereka bertumbuh bersama, dan dari kehidupan sederhana itu, Sinta bahkan membawa banyak orang mengenal Tuhan.

Saya suka sekali pelajarannya.

Kedewasaan rohani bukan berarti kehilangan kepribadian kuat.

Orang tegas tidak harus menjadi lembek. Orang yang mempunyai pendapat tidak harus kehilangan pendirian.

Pertanyaannya hanya satu:

Siapa yang mendapat kata terakhir, ego kita atau Firman Tuhan?

Saya teringat pengalaman lain.

Saya mengenal seorang teman yang semasa istrinya hidup, hampir selalu mengeluh tentang istrinya.

Rasanya apa pun tidak pernah cukup baik. Ada saja yang kurang. Ketika istrinya tidak memenuhi harapannya, ia mengkritik, memberi label, bahkan mendiamkannya.

Lalu istrinya meninggal.

Mendadak semuanya terlihat berbeda.

Barulah ia menyadari bahwa banyak hal kecil yang dahulu dianggap biasa sebenarnya merupakan bentuk perhatian istrinya. Hal-hal yang dulu tidak dihargai sekarang sangat dirindukan.

Ia sangat menyesal.

Tetapi kali ini tidak ada kesempatan untuk pulang dan berkata,

“Maaf. Ternyata selama ini saya kurang menghargaimu.”

Terlambat.

Kisah itu menampar saya.

Saat seseorang masih bersama kita, mata kita sering sangat tajam melihat kekurangannya. Ketika ia sudah tiada, tiba-tiba kita menjadi sangat pandai mengingat kebaikannya.

Mengapa harus menunggu kehilangan?

Pasangan kita tidak sempurna.

Anak-anak kita tidak sempurna.

Orangtua, sahabat, rekan kerja, bahkan orang-orang yang melayani bersama kita tidak sempurna.

Tetapi surprise…

Kita juga tidak.

Ego menghitung apa yang tidak kita dapatkan.

Kasih belajar melihat apa yang selama ini sudah diberikan.

Kerendahan hati bukan menganggap diri tidak berharga. Kerendahan hati adalah cukup aman untuk berkata, “Kalau Firman menunjukkan saya salah, saya yang berubah.”

Tentu melepaskan ego bukan berarti membiarkan kekerasan, manipulasi atau perilaku destruktif. Kasih tetap membutuhkan hikmat dan batas yang sehat.

Tetapi jangan memakai kata “prinsip” untuk membungkus ego yang sebenarnya hanya ingin menang.

Hidup terlalu singkat untuk memenangkan pertempuran yang tidak perlu.

Kalau ada terima kasih yang bisa dikatakan hari ini, katakan.

Kalau salah, minta maaf.

Kalau seseorang layak dihargai, hargai sekarang.

Dan kalau pertengkaran itu sebenarnya tidak sebanding dengan harga hubungan yang dipertaruhkan, turunkan ego.

Jangan menunggu seseorang menjadi kenangan untuk akhirnya menyadari betapa berharganya kehadirannya.

Sebab ada pertempuran yang bisa kita menangkan…

tetapi ternyata hadiahnya adalah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

*”The only way to get the best of an argument is to avoid it.” – Dale Carnegie.*

*”Satu-satunya cara terbaik untuk memenangkan sebuah perdebatan adalah dengan tidak terjebak di dalamnya”.- Dale Carnegie.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan tunggu kehilangan mengajari kita menghargai apa yang hari ini masih bisa kita peluk.”

“Don’t wait for loss to teach us the value of what we can still hold today.”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Turun Level Hanya Karena Ada yang Menyepak Kita…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Turun Level Hanya Karena Ada yang Menyepak Kita…

“Never respond to insults. The main purpose of an insulter is to make you act without thinking. Frustrate them with silence.”

“Jangan buru-buru membalas penghinaan. Tujuan orang yang menghina sering kali adalah membuat kita bereaksi tanpa berpikir. Gagalkan dengan ketenangan.”

Menjengkelkan bukan?

Kita sedang baik-baik saja, tiba-tiba seseorang menyindir, meremehkan, bahkan sengaja mengatakan sesuatu yang menusuk.

Lebih menjengkelkan lagi kalau datangnya dari orang dekat.

Mereka tahu persis tombol mana yang harus ditekan supaya kita meledak.

Respons natural kita?

Membalas!

You think I don’t have an answer?

Oh… kita punya.

Bahkan mungkin lengkap dengan data, bukti, saksi dan arsip sejak zaman Majapahit.

Ha… ha….

Tetapi semakin dewasa saya belajar:

Tidak semua perkataan layak mendapatkan respons kita. Tidak semua pertempuran layak mendapatkan energi kita.

Kadang insult memang sebuah umpan.

Tujuannya membuat kita marah, kehilangan penguasaan diri, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, lalu akhirnya kita sendiri yang menyesal.

Di sinilah musuh bisa menggunakan orang lain, bahkan orang-orang dekat, untuk membuat kita tersandung.

Bukan berarti orang tersebut adalah iblis.

Tetapi musuh senang menggunakan offense, ego, kemarahan dan sakit hati untuk menarik kita keluar dari damai Tuhan.

Jangan ambil umpannya.

Satu kalimat orang lain mungkin hanya berlangsung sepuluh detik.

Tetapi respons emosional kita bisa menciptakan konsekuensi sepuluh tahun.

Karena itu diam bukan selalu berarti kalah.

Kadang diam berarti,

“Saya tahu siapa diri saya. Saya tidak membutuhkan pengakuanmu untuk menentukan nilai saya.”

Dale Carnegie pernah menggunakan ungkapan yang menarik:

“Nobody kicks a dead dog.”

Tidak ada orang yang repot-repot menyepak anjing mati.

Why?

Tidak ada nilainya.

Orang biasanya tidak menghabiskan energi menyerang sesuatu yang dianggap tidak berarti. Ketika seseorang mulai menghasilkan sesuatu, berprestasi, mempunyai pengaruh, berbeda dan terlihat, kritik pun biasanya ikut datang.

Tetapi hati-hati.

Jangan kemudian setiap kali dikritik kita berkata,

“Oh, dia pasti iri karena saya hebat.”

Ha… ha….

Itu bukan confidence.

Itu kesombongan.

Orang bijaksana tetap memeriksa kritik.

Kalau benar, ambil.

Kalau kita salah, akui.

Belajar.

Berubah.

Karena kerendahan hati membuat kita cukup aman untuk menerima koreksi tanpa kehilangan identitas.

Tetapi setelah diperiksa ternyata isinya hanya penghinaan, provokasi, jealousy atau usaha menjatuhkan?

Don’t take the bait.

Tidak perlu menjelaskan diri kepada semua orang.

Tidak perlu memenangkan setiap argumentasi.

Tidak perlu mengejar orang yang sudah memutuskan untuk salah memahami kita.

Bahkan tidak semua orang perlu diyakinkan tentang value kita.

Saya suka sebuah quote yang sering dikaitkan dengan Jackie Chan:

“Don’t worry. They will perceive your value when they cannot find anyone like you.”

“Jangan khawatir. Mereka akan menyadari nilaimu ketika mereka tidak dapat menemukan orang lain seperti dirimu.”

Mak jleb!

Kadang kita terlalu sibuk membuat orang menghargai kita.

Kita menjelaskan kontribusi kita.

Mengingatkan apa yang sudah kita lakukan.

Mencoba membuat mereka mengerti betapa berharganya kehadiran kita.

Capek!

Value tidak perlu berteriak supaya dianggap bernilai.

Emas tidak berubah menjadi tembaga hanya karena seseorang tidak mengenali nilainya.

Dan kita pun tidak kehilangan value hanya karena berada di hadapan orang yang tidak mampu melihatnya.

Tuhan tahu siapa kita.

Karena itu identitas kita tidak naik ketika dipuji dan tidak turun ketika dihina.

Semakin mengenal Tuhan, seharusnya semakin sedikit remote control emosi kita berada di tangan orang lain.

Mereka boleh berbicara.

Tetapi kita yang menentukan respons.

Ada waktunya berbicara tegas.

Ada waktunya menetapkan boundaries.

Ada waktunya meluruskan kesalahpahaman.

Dan ada waktunya…

Diam.

Smile.

Terus berjalan.

Biarkan waktu mengungkapkan karakter.

Biarkan konsistensi membangun reputasi.

Biarkan buah kehidupan berbicara.

Dan kalau suatu hari orang yang dahulu meremehkan akhirnya menyadari value kita, bagus.

Kalau tidak?

Tetap bagus.

Karena tujuan hidup kita bukan membuat semua orang akhirnya mengakui betapa berharganya kita.

Tujuan kita adalah hidup sesuai dengan siapa Tuhan menciptakan kita, terus bertumbuh, menghasilkan buah, dan tidak membiarkan penghinaan siapa pun menurunkan kita menjadi pribadi yang bukan diri kita.

So, don’t worry.

Tidak semua hinaan perlu dijawab.

Tidak semua kesalahpahaman perlu diluruskan.

Tidak semua orang harus melihat value kita.

Jangan turun level hanya karena seseorang mengundang kita bertarung di sana.

Tetap tenang.

Tetap berkelas.

Terus menghasilkan buah.

Karena pada akhirnya, jawaban paling keras terhadap orang yang meremehkan kita sering kali justru kehidupan yang tidak pernah berhenti bertumbuh.

“You will never reach your destination if you stop and throw stones at every dog that barks.” – Winston Churchill”

“Kita tidak akan pernah sampai ke tujuan jika terus berhenti untuk melempari setiap anjing yang menggonggong.” – Winston Churchill”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan serahkan remote control emosimu kepada orang yang bahkan tidak layak menentukan nilaimu.”

“Don’t hand the remote control of your emotions to someone who isn’t even qualified to define your value.”
– Yenny Indra

Read More
Articles

DI BALIK TUBUH YANG DIAM, TERNYATA IA MENDENGAR

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

DI BALIK TUBUH YANG DIAM, TERNYATA IA MENDENGAR

Bayangkan selama bertahun-tahun kita dapat mendengar percakapan orang-orang di sekitar kita. Kita mengerti semuanya. Kita ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa kita mendengar, bahkan ingin sekadar tersenyum. Tetapi tubuh tidak mampu memberikan tanda bahwa kita ada di sana.

Itulah yang dialami Martin Pistorius.

Martin tumbuh sebagai anak sehat di Afrika Selatan. Namun ketika berusia 12 tahun, kesehatannya tiba-tiba merosot. Perlahan ia kehilangan kemampuan bergerak dan berbicara. Kondisinya begitu berat sehingga dokter memperkirakan kemampuan mentalnya telah mengalami kerusakan serius dan kemungkinan hidupnya hanya tinggal beberapa tahun.

Tetapi Martin tidak meninggal.

Beberapa tahun kemudian, sesuatu yang tidak diketahui orang-orang di sekelilingnya terjadi. Kesadarannya perlahan kembali. Tubuhnya tetap hampir tidak mampu merespons, tetapi pikirannya hidup.

Ia melihat. Ia mendengar. Ia berpikir. Ia merasakan.

Masalahnya, tidak seorang pun mengetahuinya.

Selama bertahun-tahun Martin seperti menjadi tahanan di dalam tubuhnya sendiri. Ia menyaksikan ayahnya merawatnya dengan luar biasa. Memandikan, memberi makan, mendandani, bahkan bangun malam untuk mengubah posisi tubuhnya.

Martin memahami semuanya. Ia ingin mengatakan, “Terima kasih, Dad.”

Tetapi tidak bisa.

Lebih menyakitkan lagi, karena dianggap tidak mengerti apa-apa, orang terkadang memperlakukannya sembarangan. Ia mengalami pengabaian bahkan perlakuan kasar tanpa mampu mengatakan, “Stop! Saya merasakan semuanya.”

Salah satu pengalaman paling menyakitkan justru terjadi di rumah. Suatu hari ibunya yang sudah begitu lelah dan tertekan berkata di hadapannya,

“Aku berharap kamu mati saja.”

Ibunya tidak tahu bahwa Martin mendengar dan memahami perkataan itu.

Mak jleb!

Kita sering menganggap perkataan yang keluar ketika sedang marah, frustrasi atau kelelahan akan berlalu begitu saja. Padahal Amsal mengingatkan bahwa hidup dan mati dikuasai lidah. Perkataan mempunyai bobot.

Tetapi yang sangat menyentuh saya adalah respons Martin. Ia melihat penderitaan ibunya. Ia memahami bahwa perkataan itu keluar dari seorang ibu yang sudah kehabisan kekuatan, bukan karena tidak mencintainya.

Dalam kesunyian, Martin memilih memaafkannya.

Mengampuni seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa perkataannya telah melukai kita.

Wow!

Bertahun-tahun kemudian, seorang terapis bernama Virna van der Walt memperhatikan sesuatu yang dilewatkan orang lain. Ia memperlakukan Martin sebagai manusia yang utuh. Ia berbicara kepadanya secara normal dan memperhatikan respons-respons kecil yang selama ini diabaikan.

Virna mulai bertanya, “Bagaimana kalau sebenarnya Martin mengerti?”

Pertanyaan sederhana itu akhirnya mengubah kehidupan Martin.

Keluarganya membawa Martin untuk menjalani evaluasi lebih lanjut. Ternyata benar.

Martin ada di sana.

Pikirannya hidup. Ia memahami dunia di sekelilingnya. Selama bertahun-tahun, dunia hanya tidak mampu mendengarnya.

Dengan bantuan teknologi komunikasi, perlahan Martin mendapatkan kembali “suaranya”. Kehidupannya berkembang jauh melampaui apa yang dahulu dibayangkan orang. Ia belajar, bekerja di bidang komputer, menulis memoar Ghost Boy, menikah dan kemudian menjadi seorang ayah.

Ketika membaca kisahnya, saya teringat bagaimana Tuhan melihat manusia.

Manusia melihat apa yang di depan mata. Tuhan melihat hati.

Betapa mudahnya kita memberi label kepada seseorang berdasarkan apa yang terlihat.

“Dia tidak mengerti.”

“Anak ini tidak punya masa depan.”

“Orang itu tidak akan pernah berubah.”

“Sudahlah. Tidak ada harapan.”

Hati-hati.

Jangan memberikan kesimpulan kepada cerita yang belum selesai.

Dan ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: perlakukan setiap manusia dengan dignity, dengan martabat dan penghargaan.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang berlangsung di balik kehidupan seseorang. Orang yang tidak mampu menjawab bukan berarti tidak mendengar. Orang yang berbeda bukan berarti lebih rendah. Orang yang sedang berada pada titik terburuk kehidupannya bukan berarti tidak mempunyai masa depan.

Yesus begitu luar biasa dalam hal ini. Dia melihat orang-orang yang dilewati orang lain. Bartimeus berteriak ketika orang banyak menyuruhnya diam. Orang kusta dijauhi masyarakat. Perempuan yang dipermalukan dan dihakimi tetap dilihat-Nya sebagai pribadi yang berharga.

Yesus melihat manusia, bukan sekadar kondisinya.

Kisah Martin juga mengingatkan saya agar tidak terlalu cepat menaruh titik.

Dokter memberikan prognosis berdasarkan ilmu dan fakta yang mereka miliki, dan kita menghormatinya. Tetapi prognosis bukanlah identitas seseorang. Keadaan hari ini pun belum tentu menjadi gambaran kehidupannya selamanya.

Dan mungkin “Virna” dalam kehidupan seseorang justru adalah kita.

Seseorang yang mau berhenti sebentar, melihat lebih dekat, mendengarkan lebih sungguh-sungguh, dan memperlakukan orang lain dengan hormat ketika dunia sudah kehilangan harapan terhadapnya.

Kadang kita berpikir bahwa untuk mengubah kehidupan seseorang diperlukan sesuatu yang spektakuler.

Ternyata bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Melihat seseorang sebagai pribadi yang berharga ketika orang lain hanya melihat keterbatasannya.

Jangan terlalu cepat menilai. Jangan sembarangan berbicara. Jangan kehilangan harapan. Dan jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena hari ini ia belum mampu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Manusia melihat keadaan sekarang. Tuhan melihat jauh melampauinya.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view.” – Harper Lee, To Kill a Mockingbird.

“Kita tidak akan pernah benar-benar memahami seseorang sampai kita mencoba melihat kehidupan dari sudut pandangnya.”
— Harper Lee, To Kill a Mockingbird.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan biarkan keterbatasan yang terlihat membuat kita gagal melihat nilai yang tidak terlihat.”

“Never let visible limitations keep us from seeing invisible worth.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Biarkan Batu Kecil Menciptakan Badai…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Biarkan Batu Kecil Menciptakan Badai…

Ada sebuah nasihat sederhana yang sangat dalam:

“Two things to remember in life: Take care of your thoughts when you are alone, and take care of your words when you are with people.”

Dua hal yang perlu diingat dalam hidup: jaga pikiran ketika sedang sendirian, dan jaga perkataan ketika sedang bersama orang lain.

Mak jleb!

Ketika sendirian, tidak ada yang tahu apa yang sedang kita pikirkan. Kita bebas memutar ulang perlakuan orang yang menyakitkan, membayangkan balasan yang ingin kita berikan, mengasihani diri sendiri, iri terhadap keberhasilan orang lain, atau sibuk membandingkan hidup kita dengan mereka.

Tidak ada yang mendengar.

Tetapi justru di ruang tersembunyi itulah kehidupan sedang dibentuk.

Pikiran yang terus diberi makan hari ini, suatu saat akan keluar melalui perkataan, keputusan dan respons kita.

Itulah sebabnya pengendalian diri tidak dimulai dari mulut.

Ia dimulai dari pikiran.

Saya semakin belajar bahwa kedewasaan rohani bukan sekadar seberapa banyak Firman yang kita tahu, seberapa fasih kita berdoa, atau seberapa aktif kita melayani.

Ujiannya justru muncul ketika ego kita tersenggol.

Ketika diremehkan.

Ketika pendapat kita tidak dipakai.

Ketika orang lain mendapatkan penghargaan yang menurut kita seharusnya menjadi milik kita.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak fair tentang kita.

Saat itulah terlihat siapa yang sebenarnya memegang kendali: roh atau ego kita.

Menariknya, orang yang kuat bukanlah orang yang selalu berhasil memenangkan argumentasi.

Kadang justru dibutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar untuk mampu menjawab, tetapi memilih diam.

Mampu membalas, tetapi tidak membalas.

Mampu membuka kesalahan seseorang, tetapi memilih menutupinya karena tidak ada gunanya mempermalukannya.

Bukan karena lemah.

Karena kita tidak perlu memenangkan setiap peperangan.

Amsal mengatakan bahwa orang yang lambat marah lebih baik daripada seorang pahlawan, dan orang yang menguasai dirinya lebih baik daripada orang yang merebut sebuah kota.

Wow…

Dunia mengagumi orang yang mampu menaklukkan kota.

Tuhan menghargai orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.

Saya ingin belajar memiliki hati seluas samudra.

Samudra tidak menjadi keruh hanya karena seseorang melemparkan segenggam lumpur ke dalamnya.

Demikian juga ketika hati kita semakin luas, perkara-perkara kecil tidak mudah mengguncangkan kita.

Tidak semua komentar harus ditanggapi.

Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan.

Tidak semua kritik harus dibalas.

Tidak semua orang harus mengerti kita.

Dan kita tidak harus selalu mendapatkan kata terakhir.

Ego selalu ingin membuktikan, “Saya benar.”

Kedewasaan bertanya, “Apakah ini perlu?”

Semakin mengenal Tuhan, seharusnya ego kita semakin terkikis. Bukan berarti kehilangan ketegasan atau membiarkan orang memperlakukan kita semena-mena. Ada waktunya berbicara tegas. Ada waktunya menetapkan batas.

Tetapi kita belajar melakukannya tanpa kebencian, tanpa kebutuhan untuk mempermalukan, dan tanpa dorongan untuk membalas.

Itulah kelas.

Bukan tas yang kita bawa.

Bukan mobil yang kita kendarai.

Bukan jabatan, gelar, jumlah follower, atau seberapa banyak orang mengenal nama kita.

Kelas seseorang terlihat dari bagaimana ia mengelola dirinya ketika sebenarnya ia punya kesempatan untuk melukai orang lain.

Dan semuanya kembali kepada dua tempat yang sering tidak diperhatikan:

Pikiran ketika sendirian.
Perkataan ketika bersama orang lain.

Jaga pikiran, karena di sanalah benih ditanam.

Jaga perkataan, karena melalui mulutlah isi hati akhirnya terlihat.

Pada akhirnya, salah satu kemenangan terbesar dalam hidup bukan ketika kita berhasil mengendalikan keadaan atau orang lain.

Kemenangan terbesar adalah ketika orang lain tidak lagi mempunyai remote control atas emosi kita.

Mereka boleh salah memahami.

Boleh tidak menghargai.

Boleh mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Tetapi kita tetap dapat memilih respons kita sendiri.

Itulah pengendalian diri.

Itulah kedewasaan.

Dan bagi saya, itulah perjalanan seumur hidup: belajar dari Tuhan, memperluas hati, mengikis ego, sampai tidak setiap batu kecil yang dilemparkan orang mampu menciptakan badai di dalam jiwa kita.

Keep growing in grace.

“The first and best victory is to conquer self.” – Plato.

“Kemenangan yang pertama dan terbaik adalah menaklukkan diri sendiri.” – Plato.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Semakin luas hati, semakin sedikit hal yang perlu kita menangkan.”

“The larger the heart, the fewer battles we need to win.” – Yenny Indra

Read More
Articles

PROVISION & PREPARATION.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

PROVISION & PREPARATION.

Ada orang yang menganggap kalau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, tidak perlu terlalu banyak mempersiapkan diri. Tidak perlu memikirkan hari depan. Tidak perlu punya asuransi. Tidak perlu membuat *emergency fund*. Tidak perlu terlalu detail membuat perencanaan.

Bukankah Tuhan akan menyediakan?

Saya justru belajar sesuatu yang berbeda.

Provision dan preparation bukan musuh.

Percaya bahwa Tuhan adalah sumber kita tidak berarti kita mengabaikan tanggung jawab untuk mempersiapkan apa yang bisa dipersiapkan hari ini.

Memiliki asuransi bukan berarti kita sedang mempersiapkan diri untuk sakit. Sama seperti memakai seat belt bukan berarti kita percaya akan mengalami kecelakaan. Membawa payung bukan deklarasi bahwa hari ini pasti hujan.

Itu namanya wisdom. Hikmat.

Kita berharap yang terbaik, percaya yang terbaik, tetapi tetap bertanggung jawab mengelola kehidupan yang dipercayakan kepada kita.

Seorang pengusaha percaya bisnisnya akan berkembang. Justru karena itu dia membangun sistem sebelum bisnisnya menjadi terlalu besar. Menyiapkan orang-orang yang tepat, memperbaiki pembukuan, mengembangkan leadership, membuat SOP dan mempersiapkan suksesi.

Mengapa?

Karena ketika kesempatan besar datang tetapi kita belum siap, kesempatan yang seharusnya menjadi berkat justru bisa berubah menjadi beban.

Preparation is our responsibility, but God remains our Source.

Persiapan adalah tanggung jawab kita, tetapi Tuhan tetap Sumber kita.

Saya suka sekali prinsip ini.

Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kontrol. Kita tidak tahu persis apa yang akan terjadi tahun depan, bahkan besok pagi. Tetapi ketidakmampuan mengontrol masa depan bukan alasan untuk menjalani hari ini dengan sembrono.

Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap masa depan. Tetapi kita juga tidak perlu menggunakan “iman” sebagai alasan untuk tidak membuat persiapan.

Ada perbedaan besar antara preparation, persiapan, yang lahir dari wisdom – hikmat – dan preparation yang lahir dari fear, ketakutan.

Fear berkata, “Bagaimana kalau nanti semuanya berantakan? Saya harus memastikan hidup saya aman.”

Wisdom berkata, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya akan mengelola dengan baik apa yang ada di tangan saya hari ini.”

Yang satu berusaha mengontrol masa depan.

Yang lain bertanggung jawab terhadap hari ini.

Menariknya, provision sering kali tidak datang dalam bentuk paket yang tiba-tiba jatuh dari langit.

Kadang provision datang sebagai kesempatan untuk melakukan preparation.

Kesehatan yang kita miliki hari ini adalah kesempatan untuk membangun kebiasaan hidup yang sehat. Penghasilan hari ini adalah kesempatan untuk menabung dan berinvestasi. Waktu hari ini adalah kesempatan untuk belajar. Orang-orang yang ada di sekitar kita adalah kesempatan untuk membangun hubungan. Kesalahan hari ini pun bisa menjadi kesempatan untuk memperoleh hikmat yang akan sangat kita perlukan kelak.

Jangan sampai kita baru menghargai musim persiapan setelah kebutuhan datang.

Kerap kali kita berkata, “Tuhan, kapan kesempatan besar itu datang?”

Tetapi bagaimana kalau ternyata sebagian jawaban doa itu sedang berlangsung sekarang—dalam bentuk proses belajar, disiplin, pengalaman, bahkan hal-hal kecil yang terasa tidak spektakuler?

Seorang pilot tidak belajar menerbangkan pesawat ketika pesawat sudah berada di udara.

Seorang atlet tidak mulai berlatih ketika pertandingan sudah dimulai.

Demikian pula kehidupan.

Persiapan terbaik dilakukan sebelum kita membutuhkannya.

Namun ada sisi lainnya yang sama penting.

Setelah kita melakukan preparation sebaik mungkin, jangan menjadikan preparation sebagai sumber rasa aman kita.

Asuransi bukan Tuhan.

Tabungan bukan Tuhan.

Dokter bukan Tuhan.

Sistem bisnis bukan Tuhan.

Koneksi bukan Tuhan.

Semuanya baik. Semuanya berguna. Semuanya dapat menjadi alat. Tetapi Source kita tetap Tuhan.

Kita membuat rencana, tetapi tidak menyembah rencana. Kita menabung, tetapi tidak menggantungkan damai sejahtera pada saldo rekening. Kita mempunyai asuransi, tetapi tidak menjadikan polis sebagai sumber keyakinan. Kita belajar dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, sambil menyadari bahwa ada begitu banyak hal dalam kehidupan yang berada di luar kemampuan kita.

Di situlah iman dan wisdom bertemu dengan indah.

Kita melakukan bagian kita tanpa mencoba mengambil alih bagian Tuhan.

Tidak pasif menunggu.

Tidak pula hidup seolah semuanya bergantung kepada kita.

Kita mempersiapkan dengan bijaksana, bekerja dengan sungguh-sungguh, mengelola apa yang dipercayakan kepada kita sebaik mungkin—kemudian berjalan dengan tenang.

Karena pada akhirnya, preparation membuat kita siap, tetapi provision mengingatkan kita dari mana sumber kehidupan kita berasal.

“By failing to prepare, you are preparing to fail.” — Benjamin Franklin

“Dengan gagal mempersiapkan diri, sesungguhnya kita sedang mempersiapkan kegagalan.” — Benjamin Franklin

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Persiapkan apa yang menjadi bagian kita, lalu percayakan apa yang berada di luar kendali kita kepada Tuhan.

Preparation is our responsibility, but God remains our Source.” — Yenny Indra

Read More