Articles, Articles, Travelling

WELCOME TO BUKHARA!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

WELCOME TO BUKHARA!

Hari kedua perjalanan 4 “Tan”, kami bangun di Bukhara, salah satu kota legendaris di Jalur Sutra.

Bukhara bukan sekadar kota tua. Selama berabad-abad tempat ini menjadi persimpangan pedagang, pelajar, ulama dan pengembara yang bergerak antara Timur dan Barat. Kota tuanya yang berusia lebih dari 2.000 tahun sekarang menjadi UNESCO World Heritage Site.

Pagi-pagi sebelum acara dimulai, kami berjalan-jalan di sekitar hotel.

Nah, di sinilah “masalah” dimulai…

Mei Tjien, Bu Ketua Kaki 1000, menemukan jepit berbentuk hati merah yang lucu. Bukan hati biasa lho, ada antenanya yang bisa goyang-goyang.

Jadilah kami rame-rame ikut mengenakan jepit hati merah. Ada yang dijepit di topi, ada di rambut, ada di jaket.

Ha… ha…

Kalau pergi sendiri mungkin tidak terpikir melakukan beginian. Tetapi justru itulah serunya travelling bersama teman-teman.

Yang sederhana menjadi cerita karena dinikmati bersama.

Tujuan pertama kami Ark Citadel, benteng sekaligus kediaman para penguasa Bukhara selama berabad-abad.

Kami naik ke bagian yang tinggi dan memandang Bukhara dari atas. Terlihat bangunan-bangunan kota, kubah masjid berwarna biru yang cantik, sementara di bagian lain terbentang tanah kecokelatan yang sekilas seperti padang gurun.

P. Indra langsung mencari tempat tinggi, berdiri di atas tumpukan batu, lalu sibuk memotret.

Kalau zaman dulu Emir berdiri di ketinggian untuk mengawasi kerajaannya, sekarang P. Indra berdiri di sana untuk mencari…
angle terbaik.

Ha… ha…

Di dalam Ark terdapat museum yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah Bukhara: keramik, manuskrip, koin, peta dan benda-benda dari berbagai periode. Salah satu ruang bahkan merupakan bekas reception room Rahim Khan dari pertengahan abad ke-18. Di sana dipamerkan koin emas dan perak.

Melihat museum seperti ini membuat sejarah yang tadinya hanya berupa nama dan tahun terasa lebih nyata.

Bukhara memang pantas disebut City of Traders. Tiga trading domes bersejarahnya dahulu mempunyai spesialisasi masing-masing: penukar uang, pedagang penutup kepala, serta pedagang perhiasan. Sekarang barang dagangannya jauh lebih beragam, dari karpet, kerajinan kayu, logam hingga berbagai suvenir.

Shopping rupanya bukan penemuan zaman modern.

Sudah dari zaman Silk Road!

Wkwkwk…

Ada kejadian lucu lainnya.

Serombongan orang Uzbek tiba-tiba ingin berfoto bersama kami. Entah apa yang menarik perhatian mereka. Mungkin jepit hati merah kami?

Belum selesai.

Menjelang keluar, adaseorang pria tinggi, berjenggot, berambut panjang yang sedang berfoto dengan serombongan wanita Uzbek lainnya.

Kami saling pandang.

“Lho… kok mirip Yesus yang sering digambarkan di film-film?”

Mulailah Ci Swan – founder Ny Swan Dapur Solo – minta foto.

Disusul yang lain.

Lalu yang lain lagi.

Akhirnya pria cakep ini mendadak menjadi selebriti dan kami bergantian berfoto dengannya.

Ha… ha…

Siang menjelang sore, langit yang sejak pagi mendung akhirnya menurunkan hujan. Karena itu kunjungan ke Bolo Hauz Mosque terpaksa dilewatkan.

Travelling memang begitu.

Kita punya itinerary.

Cuaca juga punya itinerary.

Sore hari kami menuju Kalyan Minaret dan Kalyan Mosque, salah satu landmark paling terkenal di Bukhara. Kalyan Minaret sudah berdiri sejak tahun 1127. Hampir sembilan abad!

Bayangkan berapa banyak manusia, kerajaan dan generasi telah datang dan pergi, sementara menara itu tetap berdiri.

Perjalanan dilanjutkan ke Lyabi Hauz, Summer Palace, kawasan bersejarah yang berpusat pada sebuah kolam. Dahulu tempat seperti ini menjadi bagian dari kehidupan kota dan perdagangan. Sekarang suasananya lebih santai, dikelilingi bangunan bersejarah, pepohonan, restoran dan café.

Setelah seharian berjalan, waktunya urusan yang tidak kalah penting:

Makan!

Dinner di Zaytoon.

Kami sengaja sharing steak, lamb, beef, ayam dan berbagai salad serta set food khas Bukhara, supaya bisa mencicipi macam-macam menu.

Ternyata…

Cocok juga dengan lidah Indonesia. Enak lho!

Yang paling lucu, lamb-nya justru sama sekali tidak bau kambing.

Sebaliknya…

ayamnya malah terasa bau kambing!

Lho?

Wkwkwk…

Begitulah Bukhara hari itu.

Ada benteng berusia ratusan tahun. Ada museum dan peninggalan Silk Road. Ada minaret hampir sembilan abad. Tetapi ketika perjalanan ini selesai nanti, mungkin yang paling membuat kami tertawa justru jepit hati merah, “Yesus” yang mendadak ngetop, dan ayam rasa kambing.

Saya semakin sadar, travelling bukan hanya tentang tempat-tempat yang kita kunjungi.

Tempat yang indah memberi kita foto.

Sejarah memberi kita pengetahuan.

Tetapi orang-orang yang berjalan bersama kitalah yang mengubah perjalanan menjadi kenangan.

“A journey is best measured in friends, rather than miles.” — Tim Cahill

“Sebuah perjalanan paling indah diukur dari persahabatan, bukan sekadar jauhnya kilometer yang ditempuh.” — Tim Cahill

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Tempat yang indah memberi kita foto, sejarah memberi kita pengetahuan, tetapi orang-orang yang berjalan bersama kitalah yang mengubah perjalanan menjadi kenangan.” — Yenny Indra

“Beautiful places give us photographs, history gives us knowledge, but the people who walk beside us are the ones who turn a journey into memories.” — Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Jangan Menyerah!”
Bukan Sekadar Liburan: Dari Sampan Sunyi ke Kafe Unik di Jantung Ho Chi Minh
Pewahyuan atau Peniruan?”