Category : Travelling

Articles, Articles, Travelling

WELCOME TO BUKHARA!

k

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

WELCOME TO BUKHARA!

Hari kedua perjalanan 4 “Tan”, kami bangun di Bukhara, salah satu kota legendaris di Jalur Sutra.

Bukhara bukan sekadar kota tua. Selama berabad-abad tempat ini menjadi persimpangan pedagang, pelajar, ulama dan pengembara yang bergerak antara Timur dan Barat. Kota tuanya yang berusia lebih dari 2.000 tahun sekarang menjadi UNESCO World Heritage Site.

Pagi-pagi sebelum acara dimulai, kami berjalan-jalan di sekitar hotel.

Nah, di sinilah “masalah” dimulai…

Mei Tjien, Bu Ketua Kaki 1000, menemukan jepit berbentuk hati merah yang lucu. Bukan hati biasa lho, ada antenanya yang bisa goyang-goyang.

Jadilah kami rame-rame ikut mengenakan jepit hati merah. Ada yang dijepit di topi, ada di rambut, ada di jaket.

Ha… ha…

Kalau pergi sendiri mungkin tidak terpikir melakukan beginian. Tetapi justru itulah serunya travelling bersama teman-teman.

Yang sederhana menjadi cerita karena dinikmati bersama.

Tujuan pertama kami Ark Citadel, benteng sekaligus kediaman para penguasa Bukhara selama berabad-abad.

Kami naik ke bagian yang tinggi dan memandang Bukhara dari atas. Terlihat bangunan-bangunan kota, kubah masjid berwarna biru yang cantik, sementara di bagian lain terbentang tanah kecokelatan yang sekilas seperti padang gurun.

P. Indra langsung mencari tempat tinggi, berdiri di atas tumpukan batu, lalu sibuk memotret.

Kalau zaman dulu Emir berdiri di ketinggian untuk mengawasi kerajaannya, sekarang P. Indra berdiri di sana untuk mencari…
angle terbaik.

Ha… ha…

Di dalam Ark terdapat museum yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah Bukhara: keramik, manuskrip, koin, peta dan benda-benda dari berbagai periode. Salah satu ruang bahkan merupakan bekas reception room Rahim Khan dari pertengahan abad ke-18. Di sana dipamerkan koin emas dan perak.

Melihat museum seperti ini membuat sejarah yang tadinya hanya berupa nama dan tahun terasa lebih nyata.

Bukhara memang pantas disebut City of Traders. Tiga trading domes bersejarahnya dahulu mempunyai spesialisasi masing-masing: penukar uang, pedagang penutup kepala, serta pedagang perhiasan. Sekarang barang dagangannya jauh lebih beragam, dari karpet, kerajinan kayu, logam hingga berbagai suvenir.

Shopping rupanya bukan penemuan zaman modern.

Sudah dari zaman Silk Road!

Wkwkwk…

Ada kejadian lucu lainnya.

Serombongan orang Uzbek tiba-tiba ingin berfoto bersama kami. Entah apa yang menarik perhatian mereka. Mungkin jepit hati merah kami?

Belum selesai.

Menjelang keluar, adaseorang pria tinggi, berjenggot, berambut panjang yang sedang berfoto dengan serombongan wanita Uzbek lainnya.

Kami saling pandang.

“Lho… kok mirip Yesus yang sering digambarkan di film-film?”

Mulailah Ci Swan – founder Ny Swan Dapur Solo – minta foto.

Disusul yang lain.

Lalu yang lain lagi.

Akhirnya pria cakep ini mendadak menjadi selebriti dan kami bergantian berfoto dengannya.

Ha… ha…

Siang menjelang sore, langit yang sejak pagi mendung akhirnya menurunkan hujan. Karena itu kunjungan ke Bolo Hauz Mosque terpaksa dilewatkan.

Travelling memang begitu.

Kita punya itinerary.

Cuaca juga punya itinerary.

Sore hari kami menuju Kalyan Minaret dan Kalyan Mosque, salah satu landmark paling terkenal di Bukhara. Kalyan Minaret sudah berdiri sejak tahun 1127. Hampir sembilan abad!

Bayangkan berapa banyak manusia, kerajaan dan generasi telah datang dan pergi, sementara menara itu tetap berdiri.

Perjalanan dilanjutkan ke Lyabi Hauz, Summer Palace, kawasan bersejarah yang berpusat pada sebuah kolam. Dahulu tempat seperti ini menjadi bagian dari kehidupan kota dan perdagangan. Sekarang suasananya lebih santai, dikelilingi bangunan bersejarah, pepohonan, restoran dan café.

Setelah seharian berjalan, waktunya urusan yang tidak kalah penting:

Makan!

Dinner di Zaytoon.

Kami sengaja sharing steak, lamb, beef, ayam dan berbagai salad serta set food khas Bukhara, supaya bisa mencicipi macam-macam menu.

Ternyata…

Cocok juga dengan lidah Indonesia. Enak lho!

Yang paling lucu, lamb-nya justru sama sekali tidak bau kambing.

Sebaliknya…

ayamnya malah terasa bau kambing!

Lho?

Wkwkwk…

Begitulah Bukhara hari itu.

Ada benteng berusia ratusan tahun. Ada museum dan peninggalan Silk Road. Ada minaret hampir sembilan abad. Tetapi ketika perjalanan ini selesai nanti, mungkin yang paling membuat kami tertawa justru jepit hati merah, “Yesus” yang mendadak ngetop, dan ayam rasa kambing.

Saya semakin sadar, travelling bukan hanya tentang tempat-tempat yang kita kunjungi.

Tempat yang indah memberi kita foto.

Sejarah memberi kita pengetahuan.

Tetapi orang-orang yang berjalan bersama kitalah yang mengubah perjalanan menjadi kenangan.

“A journey is best measured in friends, rather than miles.” — Tim Cahill

“Sebuah perjalanan paling indah diukur dari persahabatan, bukan sekadar jauhnya kilometer yang ditempuh.” — Tim Cahill

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Tempat yang indah memberi kita foto, sejarah memberi kita pengetahuan, tetapi orang-orang yang berjalan bersama kitalah yang mengubah perjalanan menjadi kenangan.” — Yenny Indra

“Beautiful places give us photographs, history gives us knowledge, but the people who walk beside us are the ones who turn a journey into memories.” — Yenny Indra

Read More
Articles, Travelling

EMPAT “TAN”, SATU PETUALANGAN DIMULAI

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

EMPAT “TAN”, SATU PETUALANGAN DIMULAI

02–17 Oktober 2026, kami memulai perjalanan menjelajahi empat negara Asia Tengah: Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan.

Empat negara dengan nama yang sama-sama berakhir “stan”. Dalam bahasa Persia, -stan berarti tempat atau negeri. Jadi sederhananya, Uzbekistan berarti “negeri orang Uzbek”, Kazakhstan “negeri orang Kazakh”, dan seterusnya.

Pagi itu kami landing di Tashkent, ibu kota Uzbekistan.

Sedikit sejarah sebelum jalan-jalan…

Uzbekistan dan Kazakhstan pernah menjadi bagian dari Uni Soviet hingga 1991. Tetapi jangan keliru mengatakan mereka “asalnya dari Kerajaan Turki”. Lebih tepatnya, bangsa Uzbek dan Kazakh termasuk rumpun bangsa Turkic, yang sejarahnya jauh lebih luas dan lebih tua daripada negara Turki modern. Bahasa dan kebudayaan Turkic tersebar dari Anatolia hingga Asia Tengah. Setelah Uni Soviet bubar, Uzbekistan dan Kazakhstan menjadi negara merdeka dan kembali menegaskan identitas nasional mereka masing-masing.

Aha! Travelling memang paling asyik kalau tidak cuma foto-foto, tetapi sedikit mengerti cerita di balik tempat yang kita datangi.

Perjalanan pertama membawa kami keluar dari Tashkent menuju Charvak Reservoir atau sering ditulis Chorvoq.

Begitu sampai…

Wow!

Air biru membentang dengan pegunungan sebagai latar belakang. Charvak bukan danau alami, melainkan reservoir yang terbentuk berkaitan dengan pembangunan PLTA Charvak pada era Soviet. Airnya ditopang sistem sungai pegunungan Chatkal, Pskem dan Koksu di kawasan Western Tien Shan. Sekarang tempat ini menjadi salah satu kawasan rekreasi favorit Uzbekistan.

Langit biru. Air biru. Pegunungan kecokelatan.

Dan tentu saja…

Foto dulu!

Ha… ha…

Di sini ada kuda besar berwarna hitam. Saya yang tidak berniat naik pun tetap harus berpose. Kapan lagi ketemu kuda ganteng dengan background secantik ini?

Dari Charvak kami menuju Amirsoy Mountain Resort.

Ini menarik. Uzbekistan yang sering kita bayangkan sebagai negeri Silk Road dengan masjid, madrasah dan bangunan kuno, ternyata mempunyai mountain resort modern untuk bermain ski.

Saat musim dingin, kawasan pegunungan sekitar Tashkent memang menjadi tujuan ski. Musim puncaknya umumnya November hingga Maret. Amirsoy memiliki gondola modern yang membawa pengunjung naik menikmati panorama pegunungan, dan fasilitasnya juga menyediakan ski academy bagi pemula maupun pemain berpengalaman.

Kabarnya pada weekend musim dingin kawasan pegunungan ini bisa sangat ramai. Masuk akal, karena bagi masyarakat kawasan Asia Tengah, menikmati salju dan belajar ski di sini bisa menjadi alternatif menarik tanpa harus terbang jauh ke resort-resort Eropa.

Kami naik cable car.

Dari atas, pemandangannya berubah total. Pegunungan luas terbentang, udara sejuk, dan dari kejauhan warna biru air reservoir muncul di antara gunung-gunung.

Indah sekali.

Tetapi rupanya bukan hanya pemandangannya yang menjadi bintang hari itu.

Jaket kami juga!

Ha… ha…

Kami para mami dan oma kompak memakai jaket NOISY TEDDY. Lengkap dengan boneka teddy bergelantungan di jaket dan topi.

Lucunya, anak-anak kami justru tidak mau memakainya.

Katanya mungkin terlalu ramai?

Entahlah.

Yang jelas emak-emaknya malah pede abis!

Foto sana.

Foto sini.

Berjejer.

Angkat jempol.

Pose dengan kuda.

Naik cable car.

Pokoknya teddy-nya harus kelihatan!

Kadang memang umur bertambah membawa satu keuntungan besar: kita semakin tidak sibuk memikirkan pendapat orang.

Yang penting happy!

Kami juga menemukan sebuah café bergaya Uzbekistan yang cantik sekali. Karpet-karpet bermotif khas memenuhi lantai, meja kayu tertata rapi, warna-warna tanah berpadu dengan cahaya matahari dan pegunungan di sekelilingnya.

Rasanya bukan sekadar tempat makan.

Seperti masuk ke sebuah postcard Asia Tengah.

Saya duduk menikmati suasananya dan berpikir…

Travelling ternyata bukan hanya soal berapa negara yang berhasil kita centang dari daftar.

Ada kenikmatan dalam memperhatikan detail kecil.

Mencicipi makanan.

Melihat budaya.

Belajar sejarah.

Tertawa bersama teman.

Dan tentu saja… punya keberanian memakai jaket teddy ketika anak-anak sendiri ogah memakainya!

Menjelang malam perjalanan belum selesai.

Kami kembali ke Tashkent, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta malam menuju Bukhara.

Hari pertama saja sudah penuh cerita.

Dan petualangan empat “Tan” baru dimulai…

“The world is a book, and those who do not travel read only one page.” — Saint Augustine

“Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak bepergian hanya membaca satu halaman.” — Saint Augustine

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Travelling bukan sekadar berpindah tempat. Kita belajar sejarah, mengenal budaya, menikmati persahabatan, lalu pulang membawa cara pandang yang sedikit lebih luas. Bonusnya? Foto-foto keren dan cerita yang membuat kita tersenyum lagi bertahun-tahun kemudian.” — Yenny Indra

“Travel is not merely about moving from one place to another. We learn history, discover cultures, enjoy friendships, and return home with a slightly wider perspective. The bonus? Beautiful photos and stories that will make us smile again years later.” — Yenny Indra

Read More
Articles, Travelling

Brunei… Kejutan Indah yang Tidak Pernah Kami Rencanakan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Brunei… Kejutan Indah yang Tidak Pernah Kami Rencanakan

Sesungguhnya tidak ada rencana sedikit pun untuk pergi ke Brunei Darussalam.
Tujuan kami sebenarnya hanya Kuching, Malaysia.
Namun seperti biasa, saat P. Indra mempelajari peta perjalanan, tiba-tiba ia berkata,

“Brunei sudah dekat.”

Akhirnya, jadilah kami terbang sekitar 1 jam 15 menit dari Kuching menuju Bandar Seri Begawan.

Begitulah kadang perjalanan hidup.
Kita membuat rencana.
Lalu sebuah kesempatan kecil muncul dan mengubah semuanya.
Dan ternyata, perjalanan yang tidak direncanakan itu justru meninggalkan kenangan yang begitu manis.

Begitu pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Seri Begawan, saya langsung merasa seperti kembali ke Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu.

Kota ini tenang.
Tidak banyak gedung tinggi.
Jalan-jalannya tidak padat.
Suasananya jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kami tinggal di kawasan Gadong, salah satu kawasan yang cukup ramai di Bandar Seri Begawan. Malam hari kami menikmati Gadong Night Market, melihat berbagai makanan lokal yang dijajakan dengan suasana sederhana dan akrab.

Brunei memang negara kecil, tetapi sejarahnya panjang.

Kesultanan Brunei telah ada selama berabad-abad dan pernah menjadi kerajaan yang berpengaruh di kawasan Kalimantan dan Asia Tenggara. Memasuki abad ke-20, penemuan minyak dan gas mengubah perekonomian negeri ini secara besar-besaran.

Namun menariknya, kekayaan itu tidak membuat Bandar Seri Begawan berubah menjadi kota yang penuh gedung pencakar langit.

Brunei tetap terasa tenang.
Dan mungkin justru itulah daya tariknya.

Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah mengunjungi Kampong Ayer Cultural & Tourism Gallery.

Kampong Ayer dikenal sebagai salah satu permukiman air terbesar dan tertua di dunia. Rumah-rumah berdiri di atas tiang di atas Sungai Brunei, dihubungkan oleh jembatan-jembatan.

Yang membuat saya kagum, ini bukan sekadar tempat wisata.
Masyarakat benar-benar hidup di sana.
Ada rumah, sekolah, masjid, klinik, toko, bahkan fasilitas pemadam kebakaran.
Kehidupan modern berjalan berdampingan dengan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.

Kami kemudian mengunjungi Royal Regalia Museum.

Di sini tersimpan berbagai benda yang berkaitan dengan Kesultanan Brunei, termasuk kereta kerajaan, perlengkapan upacara, hadiah kenegaraan, dan berbagai koleksi yang menggambarkan perjalanan panjang kerajaan ini.

Namun suasana Brunei semakin berbeda ketika malam tiba.

Kami mengunjungi Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien.

Kalau siang hari sudah indah, malam hari terasa magis.

Kubah emasnya diterangi cahaya lampu. Bangunan putihnya berdiri anggun di tepi kolam yang tenang, dan pantulannya di permukaan air membuat pemandangan semakin memesona.

Saya berdiri cukup lama hanya untuk menikmati keindahannya.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Jame’ Asr Hassanil Bolkiah, masjid terbesar di Brunei.

Ke-29 kubah emasnya berkilauan diterpa cahaya malam, melambangkan Sultan Brunei yang ke-29, Sultan Hassanal Bolkiah.

Dua masjid.

Dua karakter.

Yang satu terasa klasik dan romantis.

Yang satu megah dan monumental.

Tetapi keduanya sama-sama membuat kami terpukau.

Saya selalu menyukai tempat yang tidak hanya indah untuk difoto, tetapi juga meninggalkan rasa damai setelah kita meninggalkannya.

Dan Brunei memiliki rasa itu.

Namun perjalanan kami belum selesai.

Sebelum meninggalkan Brunei, kami masih memiliki satu tujuan terakhir.

The Empire Brunei.

Begitu bus memasuki kawasan resort ini, saya langsung mengerti mengapa tempat ini begitu terkenal.

Luas kawasan The Empire mencapai sekitar 180 hektare.

Saking luasnya, ke mana-mana kami diantar menggunakan buggy listrik.

Rasanya seperti berada di sebuah kota kecil yang seluruhnya dibuat untuk menikmati liburan.

Bangunan utamanya megah, dengan marmer, pilar-pilar tinggi, dan detail arsitektur yang elegan.

Berbagai restoran tersedia dengan konsep berbeda, dari restoran fine dining, restoran Asia, kafe hingga lounge. Banyak ruang dirancang dengan jendela kaca besar sehingga pemandangan laut dan taman terasa seperti bagian dari interior.

Di luar bangunan utama terbentang lapangan golf 18 hole yang hijau dan luas hingga mengarah ke Laut Cina Selatan.

Ada kolam renang, spa, pusat kebugaran, lapangan tenis, bowling, bioskop, marina, pantai privat, dan berbagai fasilitas rekreasi lainnya.

Tetapi bagi saya, kemewahan terbesar The Empire bukan semua fasilitas itu.

Melainkan ketenangannya.

Sore itu kami berdiri di balkon yang menghadap laut.

Angin bertiup lembut.

Matahari perlahan turun.

Langit berubah dari biru menjadi jingga keemasan, lalu perlahan dihiasi semburat merah muda dan ungu.

Kami sibuk memotret.

Berkali-kali.

Sulit berhenti.

Sunset dari balkon The Empire benar-benar luar biasa cantiknya.

Cahaya matahari yang memantul di permukaan laut membuat seluruh pemandangan terasa hangat dan damai.

Saat itu saya tidak banyak berbicara.

Saya hanya menikmati.

Dan mengucap syukur.

Bukankah sering kali kita mengira kemewahan adalah sesuatu yang mahal?

Padahal mungkin kemewahan yang sesungguhnya adalah memiliki waktu untuk berhenti sejenak.

Menghirup udara segar.

Memandang matahari terbenam.

Menikmati laut yang bersih.

Lalu menyadari bahwa semua keindahan itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita ciptakan sendiri.

Begitulah Brunei menutup perjalanan kami.

Kami datang tanpa rencana.

Hanya karena sebuah titik di peta terlihat “sudah dekat”.

Tetapi kami pulang membawa begitu banyak cerita.

Tentang Kampong Ayer.

Tentang sejarah Kesultanan Brunei.

Tentang masjid-masjid yang berkilauan di malam hari.

Tentang kehidupan yang tenang.

Dan tentang sebuah resort megah di tepi laut yang menutup perjalanan kami dengan sunset yang begitu indah.

Bukan hanya karena tempat-tempatnya.

Tetapi karena Brunei mengajarkan saya satu hal sederhana:

Tidak semua perjalanan indah harus direncanakan jauh-jauh hari. Kadang-kadang, kejutan terbaik justru menunggu di jalan yang tidak pernah kita rencanakan.

Dan mungkin…
itulah cara Tuhan memperkaya perjalanan kita.
Kita membuat rencana.
Dia melihat peta yang jauh lebih luas.

“Not all those who wander are lost.” – J.R.R. Tolkien

“Tidak semua orang yang mengembara itu tersesat.” – J.R.R. Tolkien

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Read More
Articles, Travelling

Divine Connection – Perjumpaan Ilahi….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Divine Connection – Perjumpaan Ilahi….

“P. Pras & B. Uti, lihat siapa dia?” , chat saya pada P. Prasetya M. Brata & B. Uti Brata, guru saya, sambil mengirimkan foto.

“Wah gimana ceritanya bisa ketemu bu Mariani?”, balas P. Pras penasaran.

“Waah ternyata sama Oma perginya”, komentar B. Uti.

Unik sekali…
Bertahun-tahun saya kerap melihat wajah B. Mariani berfoto dengan P. Pas dan para tokoh Neurosemantic dunia. Jadi familiar sekali dengan wajah dan nama beliau: Mariani Ng

Nach saat ikut tur Nepal Bhutan, berkenalan dengan beliau tetapi saya tidak menyangka beliau inilah sesepuh Neurosemantic Indonesia. Trainer Neurosemantic Wanita Pertama di Asia.

B. Mariani Ng, guru P. Pras. Sementara saya ini muridnya P. Pras.
Menurut bahasa cerita silat ala P. Irsan, sohib saya, berarti B. Mariani Ng ini sucow alias nenek – guru saya… Wuih kerennya.
Dan kami liburan bersama.

B. Mariani dengan bijak menjawab, saat saya bertanya benarkah beliau guru P. Pras?
“P. Pras hanya belajar sebagian ilmu dari saya, kami sama-sama belajarlah…. Nach, sekarang kami sama-sama mengembangkan Neuro Semantic dengan style masing-masing.”

Saya pun belajar….
Bergaul dengan orang-orang bijak, membuka kesempatan bagi kita untuk menimba ilmu dan mendapatkan pengaruhnya.

*******
Ketika ikut optional tour ke Mt. Everest, Hean sahabat saya mendengar Tiorida itu SMA nya di Malang?

“SMA di Hwaind (nama populer SMA Kolose Santo Yusuf, Malang yang biasa disingkat Kosayu)?”, B.Hean pun ingin tahu.

Ternyata benar.
Suami B. Hean, P. Leonard dan P. Indra sama-sama alumni Kosayu 76.
Tiorida alumni Kosayu 85, yang jagoan akuntansi.
Ternyata ada peserta lagi, P. Willy Himawan alumni Kosayu 88, yang kontraktor unik. Beliau tidak mau membangun gedung-gedung bertingkat biasa.
“Bosan”, katanya, P. Willy yang membangun Carstensz Mall di Tangerang Selatan, “Jika harus memindahkan sungai, pokoknya yang aneh-aneh, itu baru menarik dan menantang.”

Wow seru jadinya…. merasa bertemu dengan keluarga sendiri. Dan semuanya teman-teman yang berkualitas & berprestasi.
Duh…. senangnya.

Mereka pun segera mengambil foto berempat.
Divine Connection lagi….

******
B. Indrawaty, salah seorang peserta dari Jakarta pun menyapa saya.
Rupanya B. Indrawaty itu sahabat baik B. Meliani Buana Riem, sahabat baik saya juga di Surabaya.

Sungguh dunia itu sangat kecil… bahkan saat ke Nepal & Bhutan pun bertemu dengan orang-orang yang mengenal kita.

Pelajarannya:
Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.

Nama baik itu melekat ke mana pun kita pergi. Hingga ke ujung dunia pun akan ada orang-orang yang memiliki link dengan orang yang mengenal kita.

*********

Enakan jalan sendiri or ikut tur? Masing-masing ada keuntungan dan keunikan yang berbeda.

Tanpa tur saya ‘mungkin’ tidak bisa bertemu dengan B. Mariani dengan suasana seperti ini. Punya kesempatan berbagi, dalam keadaan santai.
Divine Connection. bukan hanya dengan B. Mariani tetapi juga dengan teman-teman lain.

Dr. Daniel dan Tju, istrinya, yang dokter spesialis penyakit manula,Geriatri namanya, sekaligus sahabat baik keluarga besar P. Kwik Kian Gie. Hobinya memotret kami semua, plus menjadi pengarah gayanya…

P. Edi dari Tegal dan P. Junaedi yang selalu berbaik hati membantu mengangkat smart luggage. Thanks Pak…

B. Hean dan Mei Tjien, yang sigap menyediakan apa yang saya perlu tanpa diminta…
So sweet…

Ke mana pun pergi, Tuhan mengirimkan orang-orang baik alias ‘malaikat’-Nya untuk menolong kami.

Banyak teman-teman lain yang gak bisa diceritakan satu persatu, dengan prestasi, pengalaman, pelayanan serta keunikannya.

Ssstt… grup kali ini, saya bertemu banyak traveller sejati.
Bahkan ada yang nyaris tiap bulan jalan liburan ke luar negeri. Tujuannya yang aneh-aneh pula, yang jarang dikunjungi turis umum.

Ada pula yang sudah pernah ke tempat wisata terkenal di China tetapi sudah lama, sekarang pergi lagi untuk menikmati perubahannya karena China berubah cepat sekali.

Saya diperkaya karenanya.
Tidak ada kebetulan di dunia ini. Tentunya Tuhan mempertemukan saya dengan mereka, karena Tuhan ingin saya belajar sesuatu, dan ada tujuan-Nya… mungkin bukan sekarang tetapi di masa depan. Who knows?

Bukankah kita ini ‘terang dan garam’ dunia yang memberi cahaya dan rasa?
Kata Tuhan, “Pergilah….”
Taati saja…
Setiap kita memiliki peran dan tugas yang berbeda. Tuhan ingin di mana pun kita berada, kita menjadi duta-Nya yang membawa damai, sukacita serta cermin siapa Tuhan kita?

Orang-orang tidak bisa melihat Tuhan secara kasat mata tetapi bisa melihat Tuhan melalui kita.
Keren bukan?

*****
Di Nepal, malam terakhir sebelum kami ke Bhutan diadakan show dan semua mengenakan baju traditional Nepal.
Tidak hanya menonton pertunjukkannya, tetapi penonton dilibatkan ikut menari.

Puncak acaranya, P. Anton Thedy TX Travel mendapatkan Certificate of Apreciation dari Pemerintah Nepal. Mereka sedang menggalakkan pariwisata ke Nepal dan Bhutan.

Belajar ‘berbisnis dan negosiasi’ pula secara tidak langsung. Banyak nilai-nilai dan pengalaman berharga yang membuka wawasan.
Travelling itu bukan sekedar berlibur tetapi belajar ‘melihat’ dari sisi yang berbeda, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

A mind that is stretched by a new experience can never go back to its old dimensions.” – Oliver Wendell Holmes Jr.

Pikiran yang telah diperluas oleh pengalaman baru tidak akan pernah kembali ke dimensinya yang lama. Oliver Wendell Holmes Jr.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan
#MotivasiKebaikan

Read More
Articles, Travelling

Anugerah Menikmati Gunung Everest – Puncak Tertinggi Di Dunia….. Yeaaaayyy..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Anugerah Menikmati Gunung Everest- Puncak Tertinggi Di Dunia….. Yeaaaayyy..

“Memangnya Nepal & Bhutan bagus Bu Yenny?,” tanya Marlina, alias maybe.

“Travelling itu bukan sekedar melihat tempat yang bagus, tetapi sesuatu yang unik, berbeda, membuka wawasan serta menginspirasi. Apalagi saya penulis.”

“Mestinya ke Mount Everest. Itu pasti unik dan menginspirasi,” komentar P. Dolfi.

“Yach… gak sanggup naiknya…”

Tetapi Tuhan itu Maha-baik… senantiasa memberi melampaui apa yang bisa kita pikirkan. Ternyata ada optional tour dengan pesawat. Semua duduknya window-seat, tidak masalah duduk di sebelah kiri atau kanan, karena pesawat akan terbang hingga ke Kanchenjunga- gunung sesudah Mount Everest, lalu putar balik.
Yang lebih keren lagi: charter flight pula…jadi seluruh pesawat teman sendiri.
Praise The Lord.
I love You full, My Lord… meniru mbah Surip.

Pesawat melintasi pegunungan Himalaya, mulai dari gunung Langtang Lirung dengan ketinggian 7234 m, melintasi 21 gunung-gunung dengan ketinggian yang bervariasi dari 5970 m yaitu gunung Chihoba-Bhamare, hingga melewari gunung Sagarmatha, dalam bahasa Nepal, terkenal dengan nama Mount Everest dengan ketinggian 8848.86 m, puncak tertinggi di dunia.
Melaju lagi hingga gunung Kanchenjunga 8586 m.

Pada puncak gunung-gunung yang tinggi serta berlapis-lapis, nampak glacier menutupi puncaknya. Sebagian meleleh terkena sinar matahari, menutupi sebagian lembah, menjadi danau nan cantik memukau. Perpaduan putihnya es glacier dengan warna biru atau hijau danaunya, diantara lekukan nampak asri… dan unik. Sulit dilukiskan dengan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya.

Berbeda dengan menonton video, hanya melihat dari sudut pandang orang lain. Mengalami sendiri sensasinya, seperti mengenal Tuhan secara pribadi—merasakan, melihat, dan menyadari kebesaran-Nya secara langsung.

*Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:*
Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.

Hati pun meleleh … betapa Engkau mencintaiku Tuhan…
Beruntungnya bisa menikmati keindahan Mount Everest, dengan kecanggihan masa kini, tanpa bersusah payah seperti Sir Edmund Hillary, pendaki asal Selandia Baru, dan Tenzing Norgay, pemandu Sherpa dari Nepal, penakluk Mt. Everest dari ekspedisi Inggris 1953 yang dipimpin oleh Kolonel John Hunt.

Penaklukan Mt.Everest tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, keberanian, ketahanan, dan kerja sama tim, tetapi juga biaya yang sangat mahal.
Pada tahun 1953 dibutuhkan biaya sekitar £10.000 (setara dengan ratusan ribu poundsterling saat ini), setara 2 milyar rupiah lebih.

Tidak hanya pendaki saja, kru sebanyak 400 orang, porter Sherpa, kru pembawa ransum yang diangkut Yak, mirip banteng berbadan besar.
Wuih….

Hambatan Besarnya, Zona Kematian di atas 8.000 meter dengan oksigen yang sangat tipis, badai salju, lereng es curam di sebuah tebing setinggi 12 meter di ketinggian 8.790 meter, diberi nama Hillary Steps, menjadi rintangan terakhir yang tersulit.
Hillary memimpin dengan memanjat celah es dan menarik Tenzing ke atas.

Pada 29 Mei 1953, pukul 11:30 waktu setempat, Hillary dan Tenzing berdiri di puncak Everest (8.848 meter). Mereka mengambil foto dan menancapkan bendera Inggris, Nepal, India, serta PBB.

Saat kembali, Hillary dengan santai berkata kepada rekan-rekannya:
“Well, we knocked the bastard off.”
(“Yah, kita sudah menaklukkan si brengsek itu.”)

Keberhasilan ini menjadikan mereka pahlawan dunia. Hillary kemudian dianugerahi gelar “Sir” oleh Ratu Elizabeth II, dan Tenzing Norgay menjadi ikon kebanggaan bagi Nepal dan komunitas Sherpa.

Hillary tidak menikmati kejayaannya sendirian. Namun dia kembali ke Nepal dan mendirikan Himalayan Trust, yang membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur bagi komunitas Sherpa yang telah membantunya.

Sekian tahun kemudian, seorang wartawan bertanya pada Tenzing, mengapa dia membiarkan Hillary yang menginjakkan kali terlebih dahulu ke puncak Mt. Everest.

“Tidakkah Anda ingin juga menjadi orang pertama yang menaklukkan Everest, setelah 6 kali gagal, sebelum mendampingi Sir Hillary?”

“Tidak,” ujar Tenzing dengan bijak, “karena itu adalah mimpi Hillary… bukan mimpi saya.”

Wow… sungguh keputusan seorang yang berjiwa besar.

Pelajarannya:
Tidak ada orang yang bisa sukses sendirian. Selalu ada orang-orang yang berjasa membawa kita ke sana.

Setuju?

Travel far enough, you meet yourself.” David Mitchell

Perjalanan cukup jauh, Anda bertemu diri sendiri. “- David Mitchell

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan
#MotivasiKebaikan

Read More
1 2 3 … 16