Monthly Archives: Aug 2019

Articles, Seruput Kopi Cantik, Travelling

Liburan Zell Am See – Kaprun Yang Serba GRATIS. Mau??? Ini Rahasianya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Liburan Zell Am See – Kaprun Yang Serba GRATIS. Mau??? Ini Rahasianya!

Pagi ini kami menjelajah oldtown St. Wolfgang yang cantik. Banyak rumah kuno yang berada di tebing. Di salah satu rumah, tebingnya dihiasi patung dan berbagai posisi tangan: menggenggam, tunjuk jari dll. Lalu rumah-rumah yang dindingnya penuh tanaman merambat. Di sana-sini pagar kayu dengan beraneka bunga berkembang di pot yang menempel di pagar. Cantik sekali.

Gereja St. Wolfgang berada di tepi danau. Dinding luar halamannya berbentuk melengkung, menjadi spot foto para turis. Dari lengkungan terlihat kapal dan danau. Wow ..
Gereja dengan hiasan keemasan yang megah. Sementara di sisi belakang tabung-tabung untuk akustik berjajar rapi di lantai atas.

Di tepi danau banyak orang yang duduk-duduk menikmati keindahan danau. Ada 2 kursi berbentuk melengkung untuk 2 orang tiap kursinya, dan bisa jadi kursi goyang. Sebagian lain duduk di tepian danau. Bebek-bebek berenang kian kemari. Sementara air danaunya bening dan bersih sedap di pandang mata.

Dari St. Wolfgang menuju kota Zell Am See sekitar 2 jam perjalanan.
Nach yang menarik, di Zell Am See dan Kapun, kota di dekatnya, ada kartu Zell Am See – Kaprun Summer Card.
Apa istimewanya?
Dengan kartu ini bisa naik transportasi apa saja, semuanya GRATIS.
Yeaaayyyyyy….

Tetapi tidak semua hotel join program ini. Jadi sejak awal pastikan hotel pilihan kita memberikan Summer Card.
Segera dengan berbekal kartu ini kami menuju Schmitten yang dikenal sebagai salah satu gunung panorama paling indah di Austria di ketinggian 3000 meter.
Naik Cable Car gratis.
Dari puncaknya terlihat Danau Zell yang cantik, juga pemandangan indah Taman Nasional Hohe Tauern.
Gunung Schmitten terkenal untuk Ski dan Hiking.

Dari Schmitten, kami mencoba boat yang mengelilingi setengah Danau Zell. Boat ini berhenti di 3 lokasi menjadi transportasi air bagi penduduk di 3 lokasi tersebut.
Dari boat, sekarang mencoba naik Ferry yang mengelilingi Danau Zell satu putaran lengkap selama 45 menit. Di dalam Ferry tersedia resto sehingga para penumpang bisa menikmati keindahan Danau Zell sambil makan dan minum.
Menyenangkan sekali, boat dan ferry juga free.

Hotel kami tepat di tengah-tengah oldtown Zell Am See, di mana mobil tidak diijinkan lewat. Hanya untuk pejalan kaki. Resto hingga makanan kaki lima berjejer di sekelilingnya.
Setiap malam ada grup 4 orang berpakaian traditional khas Austria yang memainkan alat musik sambil bernyanyi, tepat di bawah jendela kamar kami. Jadi tidak perlu menonton berdesakan, cukup menikmati dari jendela kamar. Apalagi saat lagu yang dinyanyikan lagu kesukaan yang berjudul Edelweiss, diambilkan dari film The Sound of Music…
Asyiknya…

Bizarre travel plans are dancing lessons from God.” – Kurt Vonnegut

Rencana perjalanan yang aneh adalah pelajaran menari dari Tuhan. ”- Kurt Vonnegut

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
Articles, Travelling

Naik Kereta Api Tut…Tut…Tut…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Naik Kereta Api Tut…Tut…Tut…

Ingat lagu masa kecil dulu?
Naik Kereta Api Tut…Tut…Tut…
Siapa hendak turut?

Dan kami naik kereta api bergigi tertua di dunia yang masih beroperasi di St. Wolfgang, Austria.
The Steepest Steam Cog-railway in Austria, adalah Kereta api uap dengan roda gigi paling curam di Austria telah menaiki Gunung Schafberg dari St. Wolfgang sejak 1893. Dibutuhkan 35 menit untuk mencapai puncak.

Pemandangan dari puncak pada ketinggian1.783 m, sangatlah memukau dan terkenal di seantero dunia. Pada hari yang cerah terlihat pemandangan panorama 360 ° di atas 4 Danau Wolfgangsee, Irrsee, Mondsee dan Fuschlsee.
Tempat ini konon dinobatkan sebagai Austria’s Most Beautiful and Scenic Mountain- Gunung Paling Indah dan Menawan di Austria.

Pada saat kereta naik, lancar seperti kereta pada umumnya. Saat-saat tertentu, terdengar bunyi tuuuuut…. tuuuuut… dan asap membumbung dari cerobong asapnya.
Ketika turun, serasa naik kuda. Tuplak… tuplak… bergetar karena gigi roda harus menahan agar kereta tidak meluncur ke bawah. Unik!

Kami menginap di St. Wolfgang. Tetapi sengaja sore itu ke St. Gilgen desa yang berjarak sekitar 20 km.
Ada gereja dengan menara cantik dekatnparkiran mobil. Melewati air mancur dengan gadis kecil mengangkat tangan, ternyata ada patung pria memanggul salib.
Dengan rasa ingin tahu, kami masuk ke dalamnya, tempat pemakaman dengan nisan-nisan cantik. Ada patung Yesus, Bunda Maria dan tidak lupa dihiasi dengan berbagai bunga-bunga nan indah. Rupanya para tentara yang dimakamkan di sana. Gereja cantik berada di sisi lain pemakaman. Sama sekali tidak ada kesan seram. Bahkan malam pun masih ada beberapa turis yang berkunjung.

St. Wolfgangplatz adalah pusat kota kecil St. Gilgen. Balaikota kalau di Indonesia.
Ada taman berbentuk lingkaran dengan patung di tengahnya.
Di pelabuhan banyak kapal-kapal kecil berwarna-warni tengah bersandar. Di depannya terletak taman kota di manabanyak warga berkumpul dan bersantai.
Pengalaman menyenangkan mengunjungi St. Gilgen yang cantik dan asri.

Whatever you do, do it for the glory of God.

Apa pun yang Anda lakukan, lakukan itu untuk kemuliaan Allah.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
Articles, Travelling

Hallstatt, Kota Yang Populer Keindahannya

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hallstatt, Kota Yang Populer Keindahannya

Setiap google Hallstatt, maka muncul pemandangan desa cantik khas Eropa dengan danau, rumah-rumah abad ke 16 dan gereja yang menaranya lancip berwarna hitam, serta pengunungan indah di belakangnya.
Sebegitu terkenal dan cantiknya kota Hallstatt hingga China membuat replikanya di kota Huizhou, dibuka 2 Juni 2012.

Hampir setiap sisi kota kecil Hallstatt cantik untuk di foto.
Danaunya yang bersih dan bening airnya hingga dasar danaunya kelihatan. Di sisi tertentu, bebek- bebek liar berenang. Kadang nampak angsa pula. Banyak motorhome dan pengendara motor, menandakan tempat ini memang tujuan wisata yang populer.

Bone House in the Michaelschapel, nama sebuah rumah tempat menyimpan tulang dan tengkorak manusia sejak abad ke 12 di gereja St. Michael.
Ada 1200 tengkorak di sana, 610 diantaranya telah dilukis dengan tangan, diatur sesuai dengan kelompok keluarga masing-masing, dan ditandai pula tanggal kematian mereka. Pemakaman di tempat itu terlalu kecil, karena itu setelah 10 tahun, kerangka diambil lalu tengkoraknya dihias. Pemakamannya digunakan untuk mengebumikan orang meninggal lainnya.

Top of Hallstatt yang kami kunjungi hari ini, yaitu Hallstatt Skywalk dan Hallstatt Saltmine.

Dengan menggunakan Furnicular, kereta bergigi untuk naik ke pegunungan, tibalah pada stasiun atas.
Hallstat Skywalk berupa jembatan sepanjang 12 meter menggantung pada ketinggian 360 meter di atas kota Hallstatt.
Saat berdiri pada ujung jembatan yang berbentuk lancip, seolah melayang di atas kehampaan, sementara danau berada beratus-ratus meter di bawahnya, sensasi yang dirasakan tak terlupakan. Kota Hallstatt tepat berada di bawah kaki, saat memandang ke bawah maka nampak The world-famous World Heritage town. Sementara pemandangan teluk, danau dan pegunungan di depannya, sungguh menakjubkan. Seolah berada diantara surga dan dunia.

Hallstat Saltmine atau Tambang Garam Hallstatt berada di atasnya. Mendaki bukit sekitar 30 menit, tibalah di tambang itu. Pada jaman dahulu, garam dijuluki sebagai emas putih karena harganya sangat mahal dan langka.

Setiap pengunjung harus melapisi bajunya dengan seragam khusus yang telah disediakan. Lalu setiap grup akan mengikuti saltmine tour dengan seorang guide yang mengenakan kostum kuno.
Tambang garam ini sudah berusia 7000 tahun dan merupakan tambang garam tertua di dunia.

Tur ini menarik karena penjelasan dikombinasi dengan film yang ditayangkan di dinding gua seolah hidup. Ada pula boneka yang menjelaskan sambil menggerakan tangan, menoleh ke kiri dan ke kanan, di samping penjelasan dari guide.
Nach yang paling berkesan, ada lokasi dengan perbedaan ketinggian cukup besar, dengan kreatif mereka tidak memasang tangga tapi justru memasang papan seluncur. Jadilah setiap pengunjung bergantian berseluncur di 2 lokasi yang berbeda. Bagi yang takut bisa berseluncur berdua. Fun … kombinasi pengetahuan dan permainan.

The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are. – Samuel Johnson

Manfaat bepergian adalah untuk mengatur imajinasi dengan kenyataan, dan alih-alih memikirkan bagaimana keadaannya, lihatlah apa adanya.- Samuel Johnson.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
Articles, Travelling

Five Fingers & Panorama Heritage.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Five Fingers & Panorama Heritage.

Menginap di pedesaan di mana di sekeliling hotel terhampar rumput hijau dengan pohon-pohon Pinus, memberikan kesan damai tersendiri.
Pagar-pagar rumah ditumbuhi pohon anggur yang tengah berbuah.
Bunga-bunga cantik berwarna-warni menghiasi rumah pedesaan. Sapi-sapi yang tengah merumput, melengkapi indahnya alam pedesaan. Rindiering Village, namanya.

Dari sana kami menuju Obertraun, desa kecil di dekat kota Hallstatt yang terkenal sebagai kota tercantik di Eropa.
Tujuan utama kami adalah Five Fingers, 5 jembatan yang menggantung untuk menikmati keindahan danau cantik yang dikelilingi pegunungan Dachstein yang indah.

Perlu naik kereta gantung (cable car) sebanyak 2 kali dari stasiun Dachstein untuk mencapai ketinggian sekitar 2000m di mana Five Fingers berada.
Dinamakan Five fingers atau 5 jari karena ada 5 jembatan dengan ukuran 4 x 1 m dengan design yang berbeda-beda dan ketinggian yang berbeda-beda pula. Berada pada puncak gunung, jembatan menjorok ke atas Danau Dachstein yang dikelilingi pegunungan dan sebagian masih dilapisi glacier alias salju abadi.
Ketika berada di ujung jembatan yang menggantung di udara pada ketinggian 400 meter, sementara danau biru tepat berada di bawah kaki, sungguh memberikan sensasi yang menakjubkan. Ngeri-ngeri sedap, kata orang.
Di setiap jembatan itu menampilkan sudut pandang yang berbeda dari danau serta keindahan pegunungan Alpen.
Kemungkinan ini pemandangan yang paling spektakuler di pegunungan Alpen.

The World Natural Heritage ini juga menawarkan pemandangan sempurna dari kedua glacier Dachstein.
Di sisi lainnya, ada bangunan yang berbentuk kapal yang terbuat dari allumunium, yang disebut The Welterbespirale viewing platform.
Dari ketinggian Welterbespirale 2100 m, dapat dinikmati pemandangan 360 derajad keindahan danau dan pegunungan Alpine. Tidak lupa pula, disediakan spot untuk photo dan tempat duduk memanjang untuk para turis sejenak melepas lelah.

Meski telah menaiki cable car 2 kali, tetap butuh sekitar 30 menit berjalan kaki menuju Five Fingers. Jalannya menanjak ke atas.
Sementara untuk mencapai Welterbespirale, dibutuhkan 15 menit lagi berjalan dari stasiun kereta gantung ke sisi yang berbeda.
Perjalanan pulang dari five fingers sudah melelahkan, belum lagi harus ke Welterbespirale.
Pemerintah Austria cukup cerdik, di dekat
Welterbespirale, disediakan kursi melengkung 3, jika duduk di tengah maka kaki akan lurus ke atas. Ternyata dengan cara duduk demikian, lelah di kaki segera berkurang.

Dari pengalaman ini saya belajar, segala sesuatu yang indah, kebanyakan harus dinikmati dari ketinggian. Umumnya, harus berjalan cukup jauh dan menanjak pula.
Artinya, segala sesuatu yang indah dan berharga, butuh usaha, tekad dan kerja keras untuk mencapainya.
Tidak ada makan siang gratis, kata orang.
Setuju?

I am not the same, having seen the moon shine on the other side of the world.– Mary Anne Radmacher

Saya tidak sama, setelah melihat bulan bersinar di sisi lain dunia.- Mary Anne Radmacher

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
Articles, Travelling

Hohenschwangau Castle, Istana Masa Kecil King Ludwig II.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hohenschwangau Castle, Istana Masa Kecil King Ludwig II.

Kastil ke dua yang dikunjungi setelah Neuschwanstein Castle adalah Hohenschwangau Castle.
Kastil lama peninggalan dari Ayah Raja Ludwig II.

Ada jalan untuk berjalan kaki sekitar 40 menit dari Neuschwanstein Castle menuju Hohenschwangau Castle. Kami memilih naik bus dan dari bus stop, berjalan hanya sekitar 10 menit. Cukup melelahkan. Jalanan berbukit dan harus melewati banyak tangga.

Kami tiba PK.10.51, saat memasukkan tiket untuk melewati pintu, ternyata ditolak. Tidak ada penjaga di sana. Semua elektronik.
Mencoba bertanya ke pemilik toko souvenir di dekatnta,
“Tunggu 4 menit lagi. Tiket ini untuk pk. 10.55.”
Oh… Kurang 4 menit saja tidak bisa. ?

Istana ini didominasi warna kuning. Di sinilah kediaman masa kecil Raja Ludwig II, yang dibangun oleh ayahnya, Raja Maximilian II.
Istana ini direnovasi oleh Raja Ludwig II, setelah ayahnya meninggal dan dia menggantikannya sebagai raja berikutnya.

Kastil Schwangau berasal dari abad ke-12 – dan merupakan rumah bagi para ksatria Schwangau. Namun, selama berabad-abad, kastilnya rusak parah.

Pada tahun 1832 Putra Mahkota Maximilian (kemudian Raja Max II) memperoleh kastil dan membangunnya kembali sebagai Kastil Hohenschwangau yang sekarang, selama lima tahun untuk menyelesaikannya. Sang raja dan keluarganya menggunakan Kastil sebagai tempat tinggal musim panas dan berburu.

Setelah kematian Raja Maximilian II, putranya Ludwig II merancang kamar-kamar kerajaan dengan syarat-syaratnya sesuai keinginan hatinya. Dia juga menghabiskan banyak waktu di Kastil Hohenschwangau. Sebagian bagian dalam istana kerajaan, kebun, dan dapur kastil telah dilestarikan dan dapat dikunjungi oleh wisatawan. Seperti juga istana lainnya, banyak ornamen berupa angsa menghiasi istana.

Hohenschwangau memang tidak semegah Neuschwanstein namun istana ini memiliki sejarah panjang dihuni para raja.
Dari Hohenschwangau Castle kami melanjutkan perjalanan menuju Prien Am Chiemsee. Kota kecil di dekat perbatasan Jerman dengan Austria.
Danaunya sangat cantik dengan pulau-pulau kecil di tengahnya. Ternyata di sana ada persewaan boat dan penumpang boleh mengendarai boat sendiri.
P. Indra tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera menyewa boat dan mengendarainya keliling danau.
Wow… ngeri-ngeri sedap.
Terimakasih Tuhan untuk pengalaman uniknya.

Once you have tasted flight, you will forever walk the earth with your eyes turned skyward, for there you have been, and there you will always long to return- Leonardo Da Vinci

Setelah Anda merasakan penerbangan, Anda akan selamanya berjalan di bumi dengan mata Anda menoleh ke atas, karena di sana Anda pernah, dan di sana Anda akan selalu ingin kembali.- Leonardo Da Vinci

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
1 2 3 4