Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya! Banyak orang menjalani hidup

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya!

Banyak orang menjalani hidup seperti sedang mengikuti arus. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Kadang kita berpikir hidup ini milik kita, jadi kita bebas menentukan apa pun yang kita mau. Tapi pernahkah kita merasa, meski semuanya tampak baik-baik saja, hati tetap terasa kosong?

Kenyataannya, manusia tidak akan pernah benar-benar puas sebelum ia hidup sesuai rancangan Allah.
Mazmur 139:14–17 berkata bahwa bahkan sebelum kita lahir, Allah sudah menulis hari-hari kita. Dia menenun kita dengan tangan-Nya sendiri, menaruh kepribadian, bakat, dan potensi unik di dalam diri kita. Kita tidak hadir di dunia ini karena kebetulan.

Andrew Wommack menulis, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Betapa dalam kalimat itu! Kadang kita iri dengan kemampuan orang lain, ingin seperti mereka, padahal Tuhan tidak memanggil kita untuk itu.
Kalau Allah menciptakan saya sebagai pelari jarak jauh, maka saya tidak akan bisa berlari cepat seperti sprinter. Saya bisa melatih diri, tapi saya tidak bisa melawan desain Ilahi yang sudah ditetapkan.

Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras tapi tetap merasa hampa. Mereka sibuk melakukan banyak hal yang kelihatannya penting, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidupnya.
Kita bisa punya jabatan tinggi, penghasilan besar, tapi kalau itu bukan tempat yang Allah mau, hati kita tidak akan damai.

Andrew berkata, “Allah bermaksud agar kita mengalami kepuasan kehidupan yang dijalani dengan baik.”
Artinya, hidup yang penuh makna bukan ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tapi seberapa selaras kita dengan kehendak Tuhan.
Kepuasan sejati datang saat kita tahu, “Saya berada di tempat yang seharusnya, melakukan apa yang Tuhan mau saya lakukan.”

Kadang Tuhan menuntun kita bukan lewat suara besar dari langit, tapi lewat damai sejahtera di hati. Kalau kita melangkah dalam kehendak-Nya, ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan.
Sebaliknya, ketika kita keluar dari jalur itu, hati menjadi gelisah.
Damai sejahtera adalah kompas batin orang percaya.

Buku ini juga menegaskan bahwa Allah tidak memaksa kehendak-Nya terjadi. Ia memberi kita kebebasan untuk memilih. Itu sebabnya banyak orang tidak menggenapi rencana Allah, bukan karena Allah tidak sanggup, tapi karena mereka tidak mau taat.
Tuhan tidak akan menarik kita seperti boneka tali. Ia ingin kita mencari, mengenal, lalu memilih untuk mengikuti-Nya dengan sukarela.

Saya belajar, hidup yang berhasil bukan berarti bebas dari masalah, tapi punya kepastian arah.
Kita tahu kemana sedang berjalan, dan siapa yang menuntun kita.
Ketika kita hidup dalam kehendak-Nya, meski jalannya kadang tidak mudah, hati kita tetap penuh damai dan sukacita.
Itu tanda kita sedang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Jadi, kalau hari ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena ada yang kurang di luar, tapi karena kita belum sepenuhnya berjalan di dalam rancangan Tuhan.
Mulailah dengan doa sederhana, “Tuhan, tunjukkan apa yang Kau taruh dalam diriku, supaya aku bisa hidup sesuai dengan tujuan-Mu.”

Sebab seperti kata Andrew, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Dan saat kita mulai hidup sesuai rancangan-Nya, itulah awal dari hidup yang paling memuaskan.

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain

“Dua hari terpenting dalam hidupmu adalah hari kamu dilahirkan, dan hari kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan.”
– Mark Twain

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun

Conflict Resolution — cara menangani konflik dengan anggun — adalah keterampilan yang perlu dipelajari. Resolusi berarti keputusan untuk berubah, memperbaiki perilaku, dan membangun hidup yang lebih baik. Dalam konteks hubungan, conflict resolution artinya mengelola konflik dengan bijak agar kehidupan kita semakin berkualitas.

Banyak orang salah kaprah. Mereka berpikir jika fondasi hubungan adalah kasih, maka pintu maaf selalu terbuka dan tidak ada konsekuensi. Padahal mengampuni itu wajib, tetapi konsekuensi tetap harus ada.
Kasih tidak berarti membiarkan kekacauan. Kasih dan disiplin harus berjalan seimbang.

Guru kami, Carrie Pickett, sering membagikan prinsip-prinsip praktis disertai contoh kasus. Misalnya, bagaimana menangani seseorang yang tidak memahami visi organisasi dan bertindak semaunya.

Evaluasinya sederhana:
Apakah orang itu sudah ditraining?
Apakah ia mengerti visi dan tujuan organisasi?
Apakah ia tahu apa yang diharapkan darinya?

Kalau semua sudah jelas, barulah diajak bicara dengan kasih. Mulai dari kata-kata positif, tunjukkan potensinya, lalu jelaskan peraturan dan visi organisasi. Sampaikan kesalahannya tanpa menghakimi, dan beritahu konsekuensi jika tetap melanggar.

Dan jika setelah semua ini ia tetap melanggar, konsekuensi harus diterapkan. Tegas bukan berarti tidak mengasihi. Malah justru karena mengasihi.

Tuhan berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum sepakat?”
Jika tidak sepakat, lebih baik berjalan sendiri-sendiri. Ini mencegah konflik berkepanjangan dan energi yang terbuang sia-sia.

Satu contoh menarik dari Carrie: sebelum menegur seseorang, ia tidak langsung bicara. Ia mengajaknya makan bersama beberapa kali tanpa membahas kesalahannya. Tujuannya membangun hubungan. Setelah persahabatan terjalin, barulah teguran disampaikan dengan lembut.
“Biarkan mereka melihat hati kita terlebih dahulu. Lalu tanyakan apakah kita boleh menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak nyaman,” kata Carrie.

Pendekatan ini membuat orang lebih siap menerima masukan. Benar seperti pepatah: kita tidak bisa menarik uang di bank kalau tidak pernah menabung.

Sayangnya banyak orang baru muncul ketika butuh sumbangan atau dukungan. Proposal datang, tapi selama ini menyapa pun tidak pernah.
Hukum kehidupan itu sederhana: tabur dan tuai.
Bagaimana mungkin mengharapkan dukungan jika kita tidak pernah menabur kebaikan sebelumnya?

Itu sebabnya saya suka menabur tanpa pamrih. Selain rutin menulis Seruput Kopi Cantik, saya sering mengirim buku gratis, bahkan kepada orang yang belum pernah saya temui. Ini cara saya menggelar karpet merah kehidupan. Saya percaya ketika kita rajin menabur kebaikan, saat kita membutuhkan sesuatu, Tuhan membawa orang-orang yang tepat untuk membantu.

Andrew Wommack punya kisah serupa. Ia mengajar di radio dan televisi secara gratis, dan hampir semua materi pelayanannya boleh diunduh tanpa biaya. Ia bahkan mendorong murid-muridnya memberi untuk pelayanan tamunya, meski Andrew sendiri sedang membangun gedung jutaan dolar. Ia tidak takut kekurangan.

Inilah rahasia mindset kelimpahan: Tuhan punya lebih dari cukup untuk semua orang. Andrew menabur di mana-mana. Karena itu ketika Tuhan memberi langkah penggenapan visi, donatur dari seluruh dunia datang membantu. Mereka mengenal integritasnya. Mereka ingin terlibat.

Andrew berkata, “Saya punya panen karena sebelumnya saya menabur.”

Carrie juga pernah menangani staf yang terlibat perselingkuhan hingga hamil. Mereka bertobat dan berubah, dan Carrie tetap mengasihi mereka. Tapi konsekuensi tetap berlaku: mereka harus dicopot dari jabatan. Karena posisi itu mempengaruhi banyak orang.

Mereka tidak dibuang. Tetap dilibatkan dalam organisasi, tetapi pada tugas yang tidak berhubungan langsung dengan publik. Kepercayaan harus dibangun kembali.

Karena benar kata Warren Buffett:
“Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk merusaknya.”

Kepercayaan itu mahal. Sekali pecah, sulit kembali utuh.

Belajar yuk menangani konflik dengan anggun, penuh kasih tetapi tetap tegas.

“Anyone can become angry—that is easy. But to be angry with the right person, at the right time, for the right purpose, and in the right way—that is not easy.” – Aristotle.*

“Siapa pun bisa marah—itu mudah. Tapi marah kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang benar, dan dengan cara yang benar—itu tidak mudah.” – Aristoteles*

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Robert Liardon, seorang penulis yang dikenal lewat seri God’s Generals, pernah bercerita dengan gaya lugas dan penuh warna tentang pengalamannya bersama Oral Roberts. Ia berkata bahwa Oral Roberts memiliki karunia kesembuhan yang unik—dan hanya bekerja melalui tangan kanannya. Tangan kirinya biasa saja, seperti tangan pada umumnya. Banyak pengkhotbah datang kepadanya, lalu berdebat, mempertanyakan, mencoba mencari-cari rumus bagaimana karunia itu bekerja. Seolah-olah kalau diperas cukup lama, mereka bisa menemukan formula yang bisa direplikasi.

Robert Liardon memilih jalan yang berbeda. “Saya belajar sejak muda,” katanya sambil tertawa, “kalau Anda berada di dekat orang besar, tutup mulut dan ikut saja. Kepala kamu mungkin tidak nangkep, teologi kamu mungkin belum cocok, tapi kalau mereka jalan ke sana, ikut.”

Sadarlah, selalu ada yang mengenal Tuhan lebih baik dari kita. Jangan sok tahu, ikuti saja.. kira-kira demikian.

Dan karena tahu karunia itu mengalir dari tangan kanan Oral Roberts, setiap kali ia berkunjung, Robert akan duduk sedekat mungkin di sisi kanan. Kalau tangan itu mulai bergetar, ia yang kena duluan. “Nenek saya bilang, pukulan pertama itu yang paling dahsyat,” cerita Robert. Praktis, cerdik, dan tidak banyak teori—saya suka sekali gaya seperti itu.

Oral Roberts dan Billy Graham adalah dua figur yang mendefinisikan kekristenan global antara tahun 1950 sampai 2000. Mereka dipakai luar biasa oleh Tuhan tanpa pernah sepenuhnya dimengerti oleh manusia. Dan di sini saya sering tersenyum melihat pola umat Kristen: begitu ada hal supranatural, kita langsung ingin membuat rumusnya. Seolah-olah kalau kita bisa memerasnya sampai kering, kita akan menemukan cara kerja Roh Kudus yang bisa dimasukkan ke dalam “manual book”. Padahal otak kita cuma sebesar cangkir kopi, sementara pikiran Allah seluas samudra Atlantik. Tetap saja kita mencoba memasukkan samudra itu ke dalam cangkir kecil kita.

Guuuuubbrraaaakkk….

Mengapa kuasa kesembuhan Oral Roberts hanya bekerja melalui tangan kanan dan bukan kiri? Jujur saja: saya tidak tahu. Dan kita tidak perlu tahu. Yang jelas, kuasa itu nyata. Orang-orang sembuh. Mujizat terjadi. Dibanding sibuk merumuskan teori yang tak ada habisnya, saya jauh lebih suka sikap Robert Liardon: duduk saja di tempat yang tepat. Kalau Tuhan bergerak, saya mau di posisi yang kena duluan.

Saya sendiri lebih percaya pada buah dan bukti dibanding sekadar janji atau teori.
Saya suka bukti, bukan janji! Itu jargon saya.

Teologi itu penting, tentu saja. Tapi pengalaman pribadi bersama Tuhanlah yang mengubah hidup. Kita bisa hafal banyak ayat, tapi kalau tidak pernah mencicipi hadirat-Nya, semuanya terasa kering. Firman itu untuk dilakukan, bukan cuma diperdebatkan. Kadang kita harus melangkah dulu, mengimani dulu, taat dulu meski belum sepenuhnya paham. Karena terbukti berkali-kali: ketika firman ditaati, apa yang dijanjikan-Nya termanifestasi dalam hidup kita.

Buat apa berputar-putar dalam teori kalau Tuhan menawarkan pengalaman nyata? Roh Kudus hadir untuk menuntun, mengajar, dan menyingkapkan. Bagian kita sederhana: buka hati, lakukan firman, dan melangkah. Nanti Tuhan sendiri yang menunjukkan bahwa Ia setia. Dan bukankah itu yang terpenting?

Menurut saya, iman sejati tidak membutuhkan semua jawaban. Iman berjalan sambil percaya. Seperti Robert Liardon duduk di sisi kanan, siap menerima apa pun yang Tuhan lakukan. Praktis, sederhana, dan efektif. Kadang, justru itu cara paling bijak untuk mengalami Tuhan.

We know the truth, not only by reason, but by the heart.” – Blaise Pascal

“Kita mengenal kebenaran bukan hanya lewat logika, tetapi melalui hati.” – Blaise Pascal

YennyIndra

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGAl
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?

“Apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang?”

Kalimat itu sering terdengar gagah, penuh percaya diri, bahkan sedikit menantang dunia.

“kalau ada masalah, tinggal “tampar” pakai uang. Pasti beres.”, lanjutnya jumawa.

Saya malah tertawa kecil setiap dengar kalimat itu.
Bukan sinis, tapi karena hidup sudah cukup mengajar saya satu hal: dunia tidak sesederhana itu.

Beberapa waktu lalu, saya dengar cerita tentang seseorang yang hartanya luar biasa.
Aset di mana-mana. Bisnis jalan di beberapa kota. Duit banyak, koneksi luas.
Tapi waktu mau ikut tour bersama Pak Anton Thedy – TX Travel, dia ditolak.

Why?
Bukan karena uangnya kurang.
Bukan karena kuota penuh.
Bukan karena ribet.

Alasannya sederhana:
Karena gak sehat.

Sudah beberapa kali ikut perjalanan, tapi selalu berakhir masuk rumah sakit dan mengganggu rombongan. Jalan sendiri gak happy…. Gak ada teman!

Gubbrrraaaaak!

Di titik itu, uang benar-benar tidak berdaya.
Bisa beli tiket kelas bisnis or first class, tapi tidak bisa beli tubuh yang sehat.
Bisa bayar rumah sakit mahal, tapi tidak bisa membeli kesehatan dan kualitas hidup.

Dari sini saya belajar:
Uang itu kuat, tapi bukan Tuhan.
Dia punya batas.

Bagi banyak orang, kemakmuran diukur dari jumlah di rekening.
Semakin banyak, semakin dianggap sukses.
Semakin tinggi aset, semakin dianggap diberkati.

Tapi menurut Barry Bennett, salah satu guru favorit saya, itu terlalu dangkal.

Orang bisa sangat kaya, tapi:
– jiwanya kosong
– pikirannya penuh kecemasan
– tubuhnya rusak karena stres
– relasinya dingin
– emosinya berantakan
– rohnya kering

Itu bukan kemakmuran.
Itu cuma angka yang besar, tapi hidup yang kecil.

Barry pernah menjelaskan, uang hanyalah perpanjangan dari hati.
Kalau hati tidak diberkati, uang justru memperbesar kekacauan.

Dan di sinilah saya mau menambahkan satu hal yang sangat penting:

Berkat itu bukan pertama-tama uang. Berkat itu Firman Tuhan yang diperkatakan.

Firman itu bukan teori.
Firman itu bukan motivasi kosong.
Firman itu adalah Allah sendiri.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Firman itu roh,
Firman itu hidup,
Firman itu berkuasa,
dan Firman sanggup menciptakan apa yang tidak ada menjadi ada.

Waktu Firman bukan hanya kita baca, tapi kita ucapkan, percayai, dan dihidupi, alam mulai bergerak menyesuaikan dengan kebenaran itu.

Dan waktu hidup kita dipenuhi God’s Favor – perkenanan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi:
Bukan kita yang mengejar kebutuhan,
tapi kebutuhan yang mengejar kita.

Bukan karena kita hebat.
Bukan karena uang kita banyak.
Tapi karena kita berjalan dalam rencana-Nya.

Bahkan sebelum kita sadar butuh, Tuhan sudah menyiapkan.
Sebelum kita minta, Dia sudah menyediakan.

Tuhan telah pergi ke masa depan kita untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan Tuhan mengikuti di belakang kita untuk menyelamatkan kita dari bahaya masa lalu kita.
Dengan tangan kasih-Nya, Tuhan memberkati kita senantiasa”
, nyanyian Raja Daud.

Inilah kemakmuran sejati:
Bukan cuma kaya materi, tapi hidup dalam aliran perkenanan Allah.
Di mana kita tidak berjuang sendirian, tapi berjalan bersama Sang Sumber Segalanya.

Dan orang itu, yang ditolak ikut tour?
Dia bukan miskin.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia beli:
Tubuh yang sehat, damai di dalam, dan hidup yang selaras dengan Firman.

What a loss!

Karena itu, sebelum kita sibuk mengejar uang, keamanan, atau segala hal duniawi, Tuhan sudah memberi satu kunci sederhana:
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Ini bukan janji kosong, tapi prinsip hidup.

Saat fokus kita lurus kepada Tuhan, saat Firman-Nya jadi arah, bukan sekadar hiasan, hidup kita masuk ke dalam tatanan ilahi. Bukan kita yang kelelahan mengejar segala sesuatu, tetapi segala sesuatu itu akan ditambahkan sesuai waktu dan cara Tuhan. Bukan karena kita hebat, tapi karena kita memilih sumber yang benar.

It’s all about God, not us.

Siap praktik? Yuuuk….

“The greatness of a man’s power is the measure of his surrender.”- AW Tozer.

“Besar kecilnya kuasa seseorang ditentukan oleh besar kecilnya penyerahannya.” – AW Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Tuhan Bukan Doktrin, Semua Perdebatan Berakhir….

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tuhan Bukan Doktrin, Semua Perdebatan Berakhir….

Yohanes 10:24–25 selalu mengingatkan saya pada dinamika hubungan manusia dengan Tuhan. Orang-orang Yahudi mengelilingi Yesus, menuntut kepastian. “Kalau Engkau Mesias, bilang terus terang!” Dan Yesus menjawab dengan sederhana, “Aku sudah bilang, tapi kalian tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan-Ku itulah kesaksiannya.”

Ayat ini seperti cermin untuk zaman kita. Banyak orang sibuk mencari rumus tentang doa, lalu berdebat panjang soal Word of Faith. Ada yang pro, ada yang kontra, masing-masing merasa punya kebenaran. Padahal inti persoalannya bukan pada teknik, tetapi pada hubungan. Ketika Tuhan hanya diperlakukan sebagai konsep teologis, orang cenderung memperjuangkan rumus. Tapi ketika Ia dikenal sebagai Pribadi, cara mendekat kepada-Nya menjadi alami.

Word of Faith pada dasarnya adalah meyakini bahwa iman bergerak lewat kata-kata, dan bahwa janji Tuhan dihidupi, bukan hanya disimpan di kepala. Tapi sebagian orang menyalahgunakannya untuk memenuhi ambisi pribadi. Di sisi lain, ada yang menolaknya sama sekali karena takut terlihat seperti “memaksa Tuhan”. Dua ekstrem ini muncul karena Tuhan dianggap objek debat, bukan Pribadi yang mau ditemui dan diikuti.

Kathryn Kuhlman pernah berkata, “I never met the Holy Spirit as a doctrine. I met Him as a person, and He changed my life forever.”
“Saya tidak pernah menemui Roh Kudus sebagai doktrin. Saya bertemu Dia sebagai pribadi, dan Dia mengubah hidup saya selamanya.”

Itu sangat mengena buat saya. Semakin saya menyadari betapa baiknya Tuhan, semakin saya menyerahkan hidup pada tuntunan-Nya, dan semakin ringan hidup saya. Hidup kalau dijalani bersama Tuhan, bukan sekadar teori tentang Tuhan—hasilnya selalu berbeda.

Beberapa hari lalu, Elisa menyarankan papanya membeli baju merk tertentu, seperti yang ia belikan saat di luar negeri. Katanya, merk itu sudah masuk Indonesia. Kami tidak tahu tokonya di mana. Saya hanya berkata, “Tolong ya Tuhan, tunjukkan.”

Kami tiba di mal, masuk dari pintu tertentu, dan langsung melihat tokonya tepat di depan kami. Semua terasa pas. Parkir pas. Pintu masuk pas. Saya tersenyum—Tuhan memang peduli pada hal-hal kecil yang penting buat kita.

Kadang saya meminta secara spesifik. Kadang saya mengajak-Nya berdiskusi sambil minta arahan. Kadang saya menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya, sesuai 1 Petrus 5:7. Setiap hari bentuk hubungan itu berbeda-beda. Hidup bersama Tuhan itu hidup, bukan prosedur.

Begitu pula dengan empat anak kami. Cara mereka meminta sesuatu tidak sama. Ada yang langsung. Ada yang bercerita dulu. Ada yang memberi kode. Tapi saya mengerti semuanya. Kalau itu baik dan mereka siap, saya memberikannya. Hubungan yang membuat saya memahami hati mereka, bukan format permintaannya.

Kalau orang tua manusia saja bisa fleksibel, mengapa Tuhan—yang jauh lebih mengasihi—harus dibatasi oleh formula tertentu?

Di bagian inilah banyak orang salah paham tentang Word of Faith, terutama soal berkat dan berkelimpahan. Apakah Tuhan ingin kita hidup berkelimpahan? Tentu. Kita punya Bapa yang baik. Tetapi kelimpahan itu bukan untuk memanjakan ego atau memenuhi ambisi pribadi. Kelimpahan diberikan supaya kita menjadi pengelola yang bijaksana. Diberkati agar bisa menjadi berkat bagi orang lain. Bukan untuk memuaskan keinginan diri, tetapi untuk memperluas kerajaan-Nya melalui hidup yang memuliakan Dia.

Melakukan Word of Faith? Ya. Bahkan kadang sambil sikat gigi di depan cermin. Saya suka mengingatkan diri saya tentang identitas saya di dalam Kristus sesuai Filemon 1:6. Itu bukan ritual semata, tetapi ucapan syukur yang mengalir dari hati yang tahu kepada siapa ia terhubung. Siapa saya di dalam Kristus – In Christ – dengan DNA & identitas yang baru.

Ketika Tuhan bukan lagi doktrin yang harus diperdebatkan, tetapi Pribadi yang kita kenal, semua perdebatan berhenti. Yang tersisa hanya perjalanan bersama Bapa yang baik, yang tahu kebutuhan kita, memahami keinginan kita, dan memampukan kita menjalani hidup yang berarti.

Christianity is not a religion. It is a relationship.” – Billy Graham

“Kekristenan itu bukan agama. Kekristenan adalah hubungan.” – Billy Graham

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 391