Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Jangan Tunggu Sampai Mati Untuk Berterima Kasih.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Tunggu Sampai Mati Untuk Berterima Kasih.

George Clooney pernah melakukan sesuatu yang kedengarannya seperti adegan film.

Ia mengundang 14 sahabatnya makan malam.

Mereka bukan sekadar teman sesama selebriti. Mereka adalah orang-orang yang sudah bersamanya selama puluhan tahun, termasuk ketika Clooney belum menjadi siapa-siapa.

Saat masih berjuang sebagai aktor di Los Angeles, ada yang meminjamkan uang. Ada yang membiarkannya tidur di sofa rumah mereka. Ada yang menolong ketika hidupnya masih jauh dari nyaman.

Clooney tidak lupa.

Tanggal 27 September 2013, keempat belas sahabat itu diundang ke rumahnya. Di setiap tempat duduk sudah tersedia sebuah koper hitam.

Ketika koper dibuka…

US$1 juta tunai!

Untuk setiap orang.

Total US$14 juta.

Dan pajaknya pun ditanggung Clooney.

Bayangkan suasananya.

Beberapa sahabatnya saat itu memang sudah mapan. Tetapi sebagian lainnya masih berjuang secara finansial. Rande Gerber bahkan bercerita bahwa salah seorang dari mereka bekerja di sebuah bar di bandara Texas dan naik sepeda ke tempat kerja untuk menghidupi keluarganya.

Rande sendiri sudah kaya. Ia merasa tidak pantas menerima uang itu dan mencoba menolak.

Clooney memberi ultimatum sederhana: kalau Rande tidak menerimanya, yang lain juga tidak mendapatkannya.

Akhirnya Rande menerima, lalu menyumbangkan uang tersebut untuk amal.

Tetapi bagian yang paling menyentuh bagi saya justru alasan Clooney melakukannya.

Bertahun-tahun kemudian ia menjelaskan, tanpa sahabat-sahabat itu ia tidak akan memiliki semua yang sekarang dimilikinya. Mereka toh akan masuk dalam surat wasiatnya jika sesuatu terjadi kepadanya.

Lalu mengapa harus menunggu sampai mati?

Jleb.

Bukankah kita sering begitu?

Kita begitu mudah mengingat orang yang mengecewakan kita, tetapi kadang lupa kepada mereka yang pernah menolong ketika kita sedang susah.

Ada guru yang dahulu memberi kesempatan.

Sahabat yang menemani ketika belum punya apa-apa.

Orang yang memperkenalkan kita kepada seseorang sehingga sebuah pintu terbuka.

Karyawan yang ikut berjuang ketika perusahaan masih kecil.

Orangtua yang berkorban diam-diam.

Pasangan yang berdiri di samping kita selama puluhan tahun.

Setelah sukses, semuanya terlihat seolah-olah hasil perjuangan kita sendiri.

Padahal tidak ada seorang pun yang sampai di tempatnya hari ini sendirian.

Yang saya sukai dari kisah Clooney bukan angka US$14 juta itu.

Tidak semua orang mampu memberikan sejuta dolar, dan rasa terima kasih memang tidak diukur dari besarnya hadiah.

Yang mengesankan adalah: dia ingat.

Kesuksesan tidak membuatnya lupa pada sofa tempat ia pernah menumpang tidur.

Itulah karakter.

Memberi kepada orang yang bisa membalas kita adalah transaksi.

Memberi untuk mendapatkan nama adalah promosi.

Tetapi menghargai orang yang pernah berjasa, bahkan ketika dunia sudah tidak tahu apa yang pernah mereka lakukan bagi kita, namanya tahu berterima kasih.

Saya jadi belajar sesuatu.

Kalau ada orang yang berjasa dalam hidup kita, jangan menunggu pemakamannya untuk menceritakan betapa baiknya dia.

Jangan menunggu terlambat untuk berkata, “Terima kasih. Saya tidak akan berada di sini tanpa bantuanmu.”

Telepon selagi dia masih bisa mendengarnya.

Peluk selagi dia masih bisa merasakannya.

Balas kebaikannya selagi kita masih mempunyai kesempatan.

George Clooney memilih tidak menunggu warisan berbicara setelah ia mati.

Ia ingin sahabat-sahabatnya mendengarnya langsung dari mulutnya:

Saya ingat.

Dan mungkin itulah salah satu tanda kesuksesan yang sesungguhnya.

Bukan sekadar seberapa jauh kita berhasil naik.

Tetapi apakah setelah berada di atas, kita masih ingat siapa yang pernah membantu kita berdiri.

“Feeling gratitude and not expressing it is like wrapping a present and not giving it.” – William Arthur Ward.

“Merasakan rasa syukur tetapi tidak mengungkapkannya seperti membungkus hadiah tetapi tidak memberikannya.” — William Arthur Ward.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Success shows how far we have traveled. Character shows whether we still remember those who walked with us when we had nothing.”

“Kesuksesan menunjukkan seberapa jauh kita telah melakukan perjalanan. Karakter menunjukkan apakah kita masih mengingat mereka yang berjalan bersama kita ketika kita tidak punya apa-apa.” — Yenny Indra

Read More
Articles

MENGENANG P. HOENTORO HADIWIDJOJO:APA YANG TERTINGGAL DARI NAMA KITA?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengenang P. HOENTORO HADIWIDJOJO:APA YANG TERTINGGAL DARI NAMA KITA?

Kemarin saya menulis tentang orang-orang yang berjasa dalam hidup kita. Tentang kebaikan yang jangan sampai dilupakan hanya karena waktu sudah berlalu. Lalu saya berpikir dari sisi sebaliknya. Kelak, ketika nama kita disebut, apa yang orang ingat tentang kita?

Ada seseorang bernama Hoentoro Hadiwidjojo. Ko Hoen, demikian saya memanggilnya, yang sampai hari ini saya ingat dengan rasa hormat. Beliau terkenal murah hati, suka membantu orang, sangat berbakti kepada orangtua dan peduli kepada keluarga. Kalau mencari teladan tentang u hao, berbakti kepada orangtua dan keluarga, Ko Hoen salah satunya.

Papa Ko Hoen bersama empat sahabatnya, termasuk papa saya, mengangkat saudara. Mereka menamakan persaudaraan itu Panca Saudara. Yang mengesankan, persaudaraan itu tidak berhenti ketika salah seorang meninggal.

Setelah papa saya meninggal, Ko Hoen secara berkala menelepon Mama, sekadar menanyakan kabar keluarga. Kalau melewati Kebumen, kota tempat keluarga kami tinggal, beliau menyempatkan diri menjenguk. Setelah Mama meninggal pun kebiasaan itu tidak berhenti. Ko Hoen menelepon Ay Cen, adik ipar yang meneruskan usaha Papa di Kebumen, menanyakan kabar keluarga. Padahal Ko Hoen jauh lebih tua. Seharusnya yang muda yang memperhatikan beliau. Kenyataannya justru beliau yang terus memperhatikan kami.

Kualitas karakter yang langka. Dan bukan hanya kepada keluarga kami. Kepada keluarga lainnya pun demikian.

Wow….

Ko Hoen meninggal pada masa Covid. Tetapi bertahun-tahun kemudian, karakter seperti itu ternyata tidak ikut terkubur bersama kepergiannya. Namanya masih membawa cerita tentang kebaikan.

Saya belajar, ternyata manusia meninggalkan jejak jauh sebelum meninggalkan dunia ini. Ada orang yang ketika namanya disebut, kita tersenyum. “Wah, dia baik sekali. Dulu ketika saya kesulitan, dia yang membantu.”

Tetapi ada pula nama yang setelah puluhan tahun disebut, ceritanya masih sama. “Dulu kami begitu percaya kepadanya. Justru karena percaya, kami tidak banyak bertanya. Belakangan baru sadar ternyata kami dirugikan.” Uangnya mungkin sudah lama habis. Tetapi rasanya masih tertinggal.

Dalam bisnis, tentu mencari keuntungan itu wajar. Saya pun pebisnis. Tidak ada yang salah dengan profit. Tetapi ada perbedaan besar antara mendapatkan keuntungan yang wajar dan mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan kepercayaan seseorang. Apalagi ketika orang itu percaya kepada kita sehingga tidak mengecek harga, tidak membandingkan, bahkan tidak banyak bertanya.

Secara hukum mungkin semuanya sah. Secara hitungan mungkin kita untung. Tetapi apakah setiap keuntungan layak diambil? Saya rasa tidak.

Dan tentu prinsip ini berlaku dua arah. Jangan pula menuduh seseorang tidak fair hanya karena kita tidak mendapatkan harga yang kita inginkan. Fair bukan berarti selalu murah. Fair berarti tidak mengambil keuntungan secara tidak patut dari ketidaktahuan atau kepercayaan orang lain.

“A good name is more desirable than great riches; to be esteemed is better than silver or gold.”

“Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar; dihormati lebih baik daripada perak dan emas.”

Semakin berumur, saya semakin mengerti mengapa. Apa artinya sejumlah uang masuk ke rekening kita, kalau pada saat yang sama kepercayaan seseorang keluar dari hidup kita?

Lebih menyedihkan lagi, mungkin kita sudah lupa peristiwanya. Tetapi orang yang pernah merasa dirugikan belum tentu melupakannya, bahkan puluhan tahun kemudian. Terkadang ceritanya diteruskan kepada anak-anaknya. Bukan karena sengaja menyimpan dendam, tetapi karena pengalaman mengajarkan mereka: lain kali hati-hati.

Tiba-tiba saya sadar, setiap transaksi bukan sekadar pertukaran uang. Kita sedang membangun reputasi. Setiap kali seseorang mempercayakan sesuatu kepada kita, sebenarnya dia sedang meletakkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang di tangan kita: kepercayaan. Jangan disia-siakan.

Saya tidak ingin suatu hari orang menyebut nama saya lalu berkata, “Saya percaya kepadanya, justru karena itulah saya dirugikan.” Saya ingin ketika nama saya disebut, orang berkata, “Saya pernah berurusan dengannya. Dia fair.”

Tidak harus selalu murah. Tidak harus selalu mengalah. Bisnis tetap bisnis. Tetapi fair. Uang bisa dicari lagi. Kesempatan bisa datang lagi. Namun sekali seseorang merasa kepercayaannya dimanfaatkan, membangunnya kembali tidak semudah mentransfer uang kembali ke rekeningnya.

Ko Hoen mungkin dahulu tidak pernah berpikir bahwa kemurahan hatinya masih akan diceritakan bertahun-tahun kemudian. Tetapi ternyata begitulah kehidupan. Kita sedang menulis kenangan tentang diri kita di hati orang lain setiap hari.

Karena itu jangan hanya bertanya, “Berapa keuntungan yang saya dapat?” Sesekali tanyakan juga, “Setelah semuanya selesai, apa yang tertinggal dari nama saya?”

Sebab pada akhirnya, mungkin bukan berapa banyak yang pernah kita miliki yang paling lama diingat orang, melainkan bagaimana kita memperlakukan mereka.

Dan saya memilih: lebih baik kehilangan sedikit keuntungan daripada kehilangan sebuah nama baik.

“A good name is more desirable than great riches; to be esteemed is better than silver or gold.” — Proverbs

“Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar; dihormati lebih baik daripada perak dan emas.”— Proverbs

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan hanya menghitung berapa banyak yang masuk ke rekening kita. Hitung juga apakah setelah semuanya selesai, orang masih mempercayai nama kita.” — Yenny Indra

“Don’t only count what enters your bank account. Count whether, when it is all over, people can still trust your name.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Hati Tetap Bersih, Mata Tetap Terbuka.”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Hati Tetap Bersih, Mata Tetap Terbuka.”

Semakin panjang perjalanan hidup, semakin saya menyadari bahwa kita tidak dapat memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.

Ada orang yang tulus mengasihi kita.

Ada yang pernah berjasa besar.

Ada yang menyenangkan di depan, tetapi ternyata berbeda di belakang.

Ada yang pernah mengecewakan.

Bahkan ada orang yang sudah kita ampuni, tetapi rasanya tidak bijaksana jika kita kembali memberikan kepercayaan sebesar sebelumnya.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai anak Tuhan?

Apakah walking in love berarti harus dekat dengan semua orang?

Apakah mengampuni berarti harus mempercayai kembali?

Apakah menjaga jarak berarti kita tidak mengasihi?

Saya belajar, jawabannya tidak sesederhana hitam dan putih.

Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi. Bahkan mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita.

Tetapi Yesus juga berkata,

“Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Wow!

Ternyata ketulusan harus berjalan bersama kecerdikan.

Hati yang baik tidak harus menjadi hati yang naif.

Alkitab juga mengatakan, sejauh hal itu bergantung kepada kita, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Artinya kita melakukan bagian kita. Menjaga hati. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak memelihara dendam.

Tetapi perdamaian tidak selalu berarti kedekatan.

Ada orang yang layak kita kasihi dari dekat. Ada pula yang tetap kita kasihi, tetapi dengan batas yang sehat.

Ada empat prinsip yang saya pegang:

Kebaikan diingat dengan gratitude.
Kesalahan diampuni dengan grace.
Kebenaran dihadapi dengan courage.
Hubungan dijalani dengan wisdom.

Saya sangat percaya pentingnya mengingat kebaikan orang.

Memang Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang baik dan manusia hanyalah alat-Nya. Tetapi bagi saya, mengatakan “semua karena Tuhan” tidak pernah menjadi alasan untuk melupakan tangan yang pernah Tuhan pakai menolong kita.

Kalau seseorang pernah hadir ketika kita membutuhkan, memberikan waktu, tenaga, kesempatan, nasihat atau pertolongan, ingatlah.

Jangan take it for granted.

Gratitude is character.

Tetapi hidup tidak hanya mempertemukan kita dengan orang baik.

Kadang kita terluka.

Kadang diperlakukan tidak adil.

Kadang kepercayaan disalahgunakan.

Di sinilah grace dibutuhkan.

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa yang salah menjadi benar. Mengampuni berarti saya menolak membawa racun perbuatan orang lain ke dalam hati saya.

Saya melepaskan hak untuk membalas.

Tetapi setelah mengampuni, ada sesuatu yang tetap harus dilakukan: menghadapi kebenaran.

Jika ada persoalan, cari faktanya.

Kalau perlu dibicarakan, bicarakan.

Jangan bergosip kepada sepuluh orang tetapi tidak pernah berbicara kepada orang yang bersangkutan.

Kebenaran membutuhkan courage.

Namun keberanian pun harus ditemani wisdom.

Tidak semua orang perlu mengetahui seluruh cerita kehidupan kita. Tidak semua orang layak menerima tingkat kepercayaan yang sama.

Bahkan Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada semua orang karena Dia mengetahui hati manusia.

Jadi ada perbedaan antara forgiveness dan trust.

Pengampunan dapat diberikan sebagai keputusan hati. Kepercayaan dibangun melalui karakter yang terbukti.

Kalau seseorang berkali-kali menunjukkan bahwa ia tidak dapat dipercaya, mengampuninya tidak mengharuskan kita menyerahkan kunci rumah kepadanya lagi.

Ha… ha…

Itu bukan kasih. Itu kurang wisdom.

Saya semakin belajar bahwa kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa banyak orang yang menyukai kita atau seberapa pandai kita menghindari konflik.

Salah satu ukurannya justru terlihat ketika hati kita terganggu.

Berapa lama kita membiarkan gangguan itu menguasai hati sebelum kembali kepada kebenaran?

Kembali kepada Firman.

Kembali kepada kasih.

Kembali kepada damai.

Lalu dari tempat itulah kita mengambil keputusan.

Bukan dari luka.
Bukan dari kemarahan.
Bukan pula karena takut tidak disukai.

Kita dapat mengasihi tanpa menjadi naif.

Mengampuni tanpa kehilangan hikmat.

Menghargai orang yang berjasa tanpa mengkultuskannya.

Menghadapi kesalahan tanpa membenci pelakunya.

Dan menjaga jarak tanpa menyimpan dendam.

Hati tetap bersih, tetapi mata tetap terbuka.

Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.

Bukan memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi belajar memperlakukan setiap orang dengan kasih, kebenaran, keberanian dan hikmat.

“When someone shows you who they are, believe them the first time.” – Maya Angelou.

“Ketika seseorang menunjukkan siapa dirinya, percayalah sejak pertama kali ia menunjukkannya.” – Maya Angelou.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Mengampuni tidak berarti melupakan pelajaran. Lepaskan lukanya, tetapi simpan hikmatnya.”

“Forgiveness doesn’t mean forgetting the lesson. Release the hurt, but keep the wisdom.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Lupakan Tangan yang Pernah Menolong…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Lupakan Tangan yang Pernah Menolong…

Saya percaya sepenuhnya bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang baik dalam kehidupan kita.

Pertolongan datang dari Tuhan. Hikmat berasal dari-Nya. Kesempatan dibukakan-Nya. Bahkan orang-orang yang hadir tepat pada waktunya dalam kehidupan kita pun sering kali merupakan bagian dari cara Tuhan menjawab kebutuhan kita.

Tetapi ada satu hal yang mengusik hati saya.

Kadang dengan alasan, “Semua karena Tuhan, manusia hanya alat,” tanpa sadar kita menjadi begitu rohani sampai lupa menghargai alat yang Tuhan pakai.

Memang benar, manusia hanyalah alat.

Tetapi alat itu punya nama. Punya hati. Punya waktu yang dikorbankan. Punya kebaikan yang layak dihargai.

Mengakui jasa seseorang tidak pernah mengurangi kemuliaan Tuhan.

Justru menurut saya, salah satu bentuk ucapan syukur kepada Tuhan adalah menghargai orang yang dipakai-Nya untuk menolong kita.

Saya teringat pengalaman keluarga kami.

Selama lebih dari dua tahun, kami direpotkan oleh urticaria. Bagi orang yang tidak pernah mengalaminya mungkin terdengar sederhana, hanya alergi atau gatal-gatal.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ketika terus berulang, sulit diketahui pemicunya, dan mengganggu aktivitas sehari-hari, urticaria benar-benar memengaruhi kualitas hidup. Kami mencoba mencari solusi, tetapi persoalan itu terus datang dan pergi.

Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kami dengan Dr. Jusuf.

Melalui pengetahuan, pengalaman, dan penanganannya, perlahan kami menemukan solusi. Urticaria itu akhirnya dapat dikendalikan.

Bagi orang lain mungkin biasa saja.

Bagi kami, itu sangat berarti.

Hidup menjadi jauh lebih nyaman. Tidak lagi terus-menerus direpotkan oleh persoalan yang sama. Kualitas hidup kami berubah.

Apakah saya percaya Dr. Jusuf yang menjadi sumber kesembuhan kami?

Tentu tidak.

Tuhanlah sumbernya.

Tetapi Tuhan memakai seseorang yang mempunyai ilmu, pengalaman, perhatian, dan kemampuan untuk menjadi jawaban bagi kebutuhan kami.

Karena itu dengan bercanda sekaligus sungguh-sungguh, saya sering menjulukinya “malaikat” yang Tuhan kirimkan kepada kami.

Dan setelah persoalan selesai, saya tidak ingin kemudian melupakan orangnya.

Hubungan baik tetap kami pelihara dengan Dr. Jusuf dan keluarganya. Kalau ada sesuatu yang dapat saya lakukan atau bagikan untuk menjadi kebaikan bagi mereka, saya ingin memperhatikannya.

Bukan untuk membayar utang.

Kebaikan sejati memang tidak selalu dapat dibayar.

Tetapi kebaikan dapat diingat.

Saya tidak ingin take it for granted.

Ada orang yang begitu membutuhkan kita ketika sedang kesulitan, tetapi setelah keadaan membaik, orang-orang yang pernah menolong perlahan menghilang dari ingatannya.

Sayang sekali.

Tuhan memang dapat memakai siapa saja. Hari ini A, besok B. Tetapi kenyataan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja tidak membuat orang yang sungguh-sungguh telah dipakai-Nya menjadi tidak berarti.

Daud tidak melupakan kebaikan Yonatan. Bertahun-tahun setelah Yonatan meninggal, Daud bertanya,

“Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.”

Lalu Mefiboset menerima kebaikan yang sebenarnya berakar dari hubungan yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.

Saya belajar, orang yang tahu berterima kasih sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sopan santun. Ia sedang membangun karakter dan hubungan.

Hidup ini panjang.

Kita tidak pernah tahu kapan jalan kita akan kembali bersinggungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan kita.

Karena itu saya percaya, mengingat kebaikan orang lain seperti menggelar karpet merah di sepanjang perjalanan kehidupan.

Bukan formula supaya hidup bebas masalah.

Bukan pula transaksi: saya baik supaya suatu hari dibalas.

Tetapi orang yang menghargai kebaikan, menjaga hubungan, dan tidak mudah melupakan pertolongan orang lain biasanya tidak meninggalkan jembatan-jembatan yang terbakar di belakangnya.

Tuhan adalah sumbernya.

Manusia memang alat-Nya.

Tetapi ketika Tuhan memilih sebuah tangan untuk menolong kita, jangan hanya bersyukur kepada Tuhan lalu melupakan tangan itu.

Hargai.

Ingat kebaikannya.

Jaga hubungan jika memungkinkan.

Dan ketika suatu hari kita berada pada posisi untuk menjadi “alat” Tuhan bagi orang lain, lakukan hal yang sama.

Karena kehidupan yang indah bukan hanya dibangun oleh berkat yang kita terima, tetapi juga oleh kebaikan yang tidak kita lupakan.


“Feeling gratitude and not expressing it is like wrapping a present and not giving it.” – William Arthur Ward.

“Merasakan syukur tetapi tidak mengungkapkannya seperti membungkus sebuah hadiah tetapi tidak pernah memberikannya.- – William Arthur Ward.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Tuhan adalah sumbernya, tetapi jangan lupakan tangan yang dipakai-Nya untuk menolongmu. Hati yang tahu berterima kasih tidak pernah kehilangan kemuliaannya.

God is the source, but never forget the hands He chose to help you. A grateful heart never loses its nobility. – Yenny Indra

Read More
Articles

Karakter Kita Terlihat Saat Tidak Ada yang Melihat…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Karakter Kita Terlihat Saat Tidak Ada yang Melihat…

David Gibbs Jr. adalah seorang pengacara Kristen, pengkhotbah, sekaligus pendiri Christian Law Association. Bertahun-tahun ia membela gereja, sekolah Kristen dan orang-orang percaya dalam berbagai persoalan hukum.

Ia terbiasa berdiri di mimbar, mengajar Firman dan berbicara kepada banyak orang.

Tetapi suatu hari, pelajaran terbesar justru datang bukan dari mimbar.

Melainkan dari sebuah motel.

Saat check-in, Gibbs mendapati tidak ada air mengalir di kamarnya.

Kesal, ia menelepon resepsionis.

Dan meledaklah kemarahannya.

Ia berbicara kasar kepada seorang wanita muda yang sedang bertugas. Mungkin bagi Gibbs saat itu, ia hanya sedang menyampaikan komplain yang memang beralasan.

Bukankah kita sering begitu?

“Memang salah mereka!”

“Saya kan bayar!”

“Pelayanannya memang buruk!”

Masalahnya mungkin benar.

Tetapi cara kita merespons masalah belum tentu benar.

Lalu wanita muda itu mengatakan sesuatu yang membuat Gibbs terdiam.

Ternyata ia mengenal Gibbs.

Ia pernah mendengarnya berkhotbah di sekolah Alkitab tempatnya belajar. Ia mengagumi pelayanannya. Bahkan setiap hari ia mendoakan Gibbs dan setiap bulan menyisihkan sedikit uangnya untuk mendukung pelayanan tersebut.

Lalu wanita itu menangis.

Ouch!

Bayangkan perasaan Gibbs.

Seseorang yang selama ini mendengarkan khotbahnya, mendoakannya, bahkan ikut menopang pelayanannya, sekarang melihat sisi dirinya yang sama sekali berbeda dari apa yang selama ini ia ajarkan.

Gibbs tersadar.

Ia turun menemui wanita itu, berlutut di hadapannya dan meminta maaf.

Saya belajar sesuatu dari kisah ini.

Karakter kita yang sesungguhnya sering kali bukan terlihat ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, tetapi ketika sesuatu mengganggu kenyamanan kita.

Mudah bersikap ramah ketika orang memperlakukan kita dengan baik.

Mudah berbicara tentang kasih ketika tidak ada yang menjengkelkan.

Mudah berkata harus sabar ketika bukan kita yang sedang menunggu.

Tetapi coba penerbangan dibatalkan.

Pesanan restoran salah.

Karyawan melakukan kesalahan.

Internet mati ketika sedang meeting penting.

Atau seseorang berbicara dengan nada yang tidak kita sukai.

Tiba-tiba keluarlah sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati.

Itulah sebabnya Firman mengajarkan agar kita cepat mendengar, lambat berbicara dan lambat marah. Sebab amarah manusia tidak menghasilkan kebenaran Tuhan.

Menariknya, masalah terbesar Gibbs hari itu sebenarnya bukan air yang tidak mengalir.

Masalah sesungguhnya adalah apa yang mengalir keluar dari dirinya ketika air tidak mengalir.

Mak jleb!

Kita sering berdoa agar Tuhan memakai hidup kita menjadi berkat.

Tetapi menjadi berkat bukan hanya soal berapa banyak orang yang mendengarkan kita berbicara.

Kehidupan kita sendiri sedang berbicara.

Cara kita memperlakukan waiter.

Cara berbicara kepada asisten rumah tangga.

Cara merespons customer service.

Cara memperlakukan bawahan yang melakukan kesalahan.

Cara berbicara kepada pasangan ketika sedang lelah.

Bahkan cara kita memperlakukan seseorang yang tidak mempunyai sesuatu yang kita butuhkan.

Semuanya sedang berbicara.

Dan sering kali kehidupan berbicara jauh lebih keras daripada perkataan.

Namun ada bagian lain dari kisah Gibbs yang juga saya sukai.

Ketika menyadari kesalahannya, ia tidak membela diri.

Tidak berkata, “Ya, tetapi memang airnya mati.”

Ia merendahkan dirinya dan meminta maaf.

Itu juga karakter.

Kedewasaan bukan berarti kita tidak pernah salah.

Kedewasaan adalah ketika salah, kita cukup rendah hati untuk mengakuinya, memperbaikinya, lalu belajar darinya.

Mungkin sebelum marah, ada baiknya kita belajar memberi diri sendiri sedikit jeda.

Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan keras.

Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan.

Dan tidak semua persoalan layak membuat kita kehilangan damai.

Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang sedang memperhatikan kehidupan kita.

Pada akhirnya, karakter bukan siapa kita ketika berdiri di atas panggung. Karakter adalah siapa kita ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan.

Dan mungkin justru di sanalah pesan kehidupan kita yang sesungguhnya sedang disampaikan.

“Surely what a man does when he is taken off his guard is the best evidence for what sort of man he is.” – C.S. Lewis.

“Apa yang dilakukan seseorang ketika ia lengah merupakan bukti terbaik tentang seperti apa dirinya sebenarnya.” – C.S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Perkataan dapat menginspirasi orang, tetapi cara kita memperlakukan mereka menentukan apakah perkataan itu layak dipercaya.”

“Words may inspire people, but how we treat them determines whether those words are worth believing.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 427