Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Maya Angelou & Oprah Winfrey: Ketika Masa Lalu Berusaha Membungkammu…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Maya Angelou & Oprah Winfrey: Ketika Masa Lalu Berusaha Membungkammu…

Beberapa waktu lalu saya membaca buku “I Know Why the Caged Bird Sings” karya Maya Angelou.

Saya akhirnya mengerti mengapa buku ini begitu mengubah hidup Oprah Winfrey.

Maya Angelou mengalami pelecehan seksual saat masih berusia delapan tahun.
Sesudah kejadian itu terungkap, pelakunya dipenjara. Tidak lama kemudian ia meninggal. Maya kecil lalu menarik sebuah kesimpulan yang keliru.

“Perkataankulah yang menyebabkan dia mati.”

Seorang anak berusia delapan tahun tentu belum mampu memahami rumitnya hidup orang dewasa.
Yang ia tahu hanyalah satu hal.
Suaraku berbahaya.
Karena itulah Maya memilih diam.
Bukan sehari.
Bukan seminggu.
Hampir lima tahun.

Bayangkan menjadi seorang anak yang hidup dalam ketakutan setiap hari. Ingin tertawa tetapi takut. Ingin bercerita tetapi tidak berani. Ingin dipercaya tetapi merasa dirinya kotor. Ingin hidup normal tetapi terus dihantui rasa malu.

Banyak orang mengira luka terbesar dari pelecehan adalah kejadian itu sendiri.
Padahal sering kali yang lebih menyakitkan adalah apa yang terjadi setelahnya.

Korban mulai kehilangan rasa aman.
Sulit mempercayai orang.
Mudah menyalahkan diri sendiri.
Merasa tidak berharga.
Merasa rusak.
Bahkan ada yang bertahun-tahun terus bertanya,

“Kalau saja waktu itu aku…”

Padahal sesungguhnya mereka bukan pelakunya.
Mereka adalah korbannya.

Yang membuat saya terharu, titik balik hidup Maya bukan dimulai dari terapi yang rumit.
Bukan pula dari seseorang yang memberinya ceramah panjang.
Melainkan dari seorang wanita bernama Mrs. Bertha Flowers.

Mrs. Flowers tidak memaksa Maya berbicara.

Ia tidak berkata,
“Sudahlah… lupakan saja.”

Ia juga tidak berkata,
“Kamu harus kuat.”

Sebaliknya, ia membangun sesuatu yang mungkin sudah lama hilang dari hidup Maya.

Rasa aman.
Ia mengajak Maya membaca buku.
Membacakan puisi.
Mengobrol tentang banyak hal.

Perlahan-lahan, Maya mulai menemukan kembali suaranya.
Bukan hanya suara untuk berbicara.
Tetapi suara untuk hidup.

Bertahun-tahun kemudian, Maya Angelou menjadi salah satu penulis dan pembicara paling berpengaruh di dunia.

Ironisnya, perempuan yang pernah memilih diam selama lima tahun, sekarang justru dikenal karena kata-katanya.

Kisah Maya kemudian dibaca oleh jutaan orang, termasuk Oprah Winfrey.
Oprah pernah mengalami luka masa kecil yang hampir serupa. Dilecehkan banyak orang bahkan memiliki anak di usia 14 tahun dan meninggal.

Saat membaca buku Maya, ia berkata bahwa untuk pertama kalinya ia merasa ada seseorang yang benar-benar memahami apa yang ia rasakan.
Ia tidak lagi merasa sendirian. Lalu mereka bersahabat.

“Ubahlah luka-lukamu menjadi hikmat,” ujar Oprah Winfrey, presenter televisi, penulis, dan filantropis yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.”

Saya belajar sesuatu dari dua wanita luar biasa ini.

Orang yang terluka tidak selalu membutuhkan jawaban.
Sering kali mereka lebih membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal.

Yang mau mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Yang tidak memaksa mereka segera pulih.
Yang tidak menghakimi ketika mereka menangis.
Yang tidak berkata, “Kamu harus move on.”

Karena luka tidak sembuh oleh tekanan.
Luka sembuh ketika seseorang kembali merasa aman.
Ketika ia kembali percaya bahwa hidupnya masih berharga.
Ketika ia mulai berani berharap lagi.

Kalau hari ini di sekitar kita ada seseorang yang membawa luka seperti ini, mungkin kita tidak memiliki semua jawaban.

Tidak apa-apa.

Kadang kehadiran yang tulus jauh lebih menyembuhkan daripada seribu kalimat yang terdengar bijaksana.
Mungkin yang mereka butuhkan bukan orang yang paling pandai berbicara.
Melainkan seseorang yang mau duduk di samping mereka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan dengan sabar mengingatkan bahwa masa lalu tidak harus menjadi akhir cerita.

Maya Angelou dan Oprah Winfrey tidak dapat mengubah masa lalu mereka. Tetapi mereka membuktikan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan.

Saya percaya, inilah pengharapan yang Tuhan berikan kepada kita. Bukan berarti semua yang terjadi itu baik, tetapi Tuhan sanggup bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Apa yang dimaksudkan si jahat untuk melukai kita, di tangan Tuhan dapat menjadi kesaksian. Dan apa yang pernah membuat kita kehilangan suara, di tangan Tuhan dapat berubah menjadi suara yang membawa pengharapan bagi banyak orang.

“When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”- Viktor Frankl

“Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu keadaan, tantangannya adalah mengubah diri kita sendiri.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Aku Bukan Sebuah Kesalahan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Aku Bukan Sebuah Kesalahan…

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.” – Yeremia 1:5.

Ada pertanyaan yang Ani simpan selama puluhan tahun.

“Siapa sebenarnya saya?”

Sejak kecil ia merasa berbeda, tetapi tidak pernah tahu alasannya. Suatu hari, saat masih remaja, seorang tetangga lama datang berkunjung. Begitu melihatnya, ia berkata sambil tertawa, “Mirip Riyanto.”

Ani tidak mengenal nama itu. Ia hanya sempat mendengar percakapan yang terpotong.

“Tidak mengaku… padahal mirip sekali.”

Ibunya menjawab pelan, “Plek ketiplek wajahnya… tingkah lakunya juga sama.”

Ani tidak mengerti. Percakapan itu pun terlupakan. Ia tidak tahu bahwa Tuhan sedang meninggalkan sebuah jejak kecil yang baru dipahaminya puluhan tahun kemudian.

Masa kecilnya dipenuhi luka. Saat SMP ia tidak naik kelas. Meski nilai akademiknya baik, sekolah tetap mempertahankan keputusan itu. Yang lebih menyakitkan terjadi ketika ayahnya mengetahui hal tersebut. Dalam kemarahannya, ia memukul Ani sambil berkata, “Lebih baik kamu mati sejak kecil.”

Kalimat itu tertanam dalam hati. Ani tumbuh dengan perasaan tidak berharga.

Karena keterbatasan ekonomi, ia juga harus berhenti sekolah. Ia mulai bekerja sebagai SPG dan berharap suatu hari pernikahan akan memberinya keluarga yang penuh kasih.

Namun harapan itu kembali hancur.

Ia hamil di usia muda. Anak pertamanya lahir ketika usianya baru dua puluh tahun. Pria yang dicintainya meninggalkan mereka.

Setiap malam Ani menangis kepada Tuhan.

“Tuhan, mengapa hidup saya seperti ini?”

Suatu malam ia merasakan Tuhan berbicara sangat jelas.

“Mengapa kamu menyalahkan Aku? Sebelum memilih dia, apakah kamu pernah bertanya kepada-Ku?”

Ani terdiam.

Kemudian Tuhan berkata lagi,

“Tentang anakmu, itu sudah ada dalam rencana-Ku. Aku yang akan memeliharanya.”

Kalimat itu menjadi titik balik hidupnya.

Dengan iman, ia melangkah ke masa depan tanpa tahu bagaimana Tuhan akan membuka jalan. Namun sedikit demi sedikit ia melihat pemeliharaan Tuhan yang nyata. Tuhan mencukupi kebutuhannya, menghiburnya, dan menguatkannya melewati setiap musim kehidupan.

Puluhan tahun kemudian, Tuhan mulai membuka kepingan-kepingan puzzle hidupnya. Percakapan tetangga yang pernah terlupakan kembali teringat. Berbagai petunjuk mengarah pada sebuah pencarian panjang hingga akhirnya Ani menemukan identitas ayah biologisnya.

Yang mengejutkan, namanya ternyata bukan Riyanto seperti yang pernah disebut tetangga dahulu. Saat semua itu terungkap, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Tidak ada lagi yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Anehnya, Ani tidak dipenuhi kemarahan.

Yang memenuhi hatinya justru damai.

Ia menyadari bahwa selama ini Tuhan bukan sedang membawanya mencari seorang ayah biologis, melainkan menemukan identitas dirinya.

Selama bertahun-tahun ia merasa hidupnya adalah sebuah kesalahan.

Hari ini ia tahu bahwa itu tidak benar.

Ia ada bukan karena kebetulan.

Ia ada karena Tuhan menghendakinya ada.

Yang paling berharga bukanlah menemukan siapa ayah biologisnya, melainkan menemukan bahwa Bapa di surga tidak pernah kehilangan dirinya.

Mungkin kisah kelahiran kita tidak sempurna.

Mungkin masa lalu kita penuh luka.

Namun kasih Tuhan selalu lebih besar daripada masa lalu kita.

Identitas kita tidak ditentukan oleh siapa orang tua biologis kita, melainkan oleh siapa Bapa surgawi kita.

Karena itu, jika hari ini Anda merasa ditolak, tidak diinginkan, atau mempertanyakan nilai diri Anda, ingatlah satu kebenaran ini:

Tuhan tidak pernah menciptakan seorang pun sebagai sebuah kesalahan.

“God never wastes a hurt.” – Elisabeth Elliot.

“Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan sebuah luka.” — Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Jangan Berhenti di ABC Firman

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Berhenti di ABC Firman

Belum lama ini saya mendengar sebuah ilustrasi dari Grace Lubega yang benar-benar mengubah cara saya memandang pembelajaran Firman Tuhan.

Kurang lebih beliau berkata demikian,
“Belajar Firman itu seperti belajar huruf A, B, C. Tetapi tujuan belajar bukan berhenti di alfabet. Tujuannya adalah memakai alfabet itu untuk menjadi dokter, pengacara, insinyur, atau profesi lain yang berguna bagi banyak orang.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terus saya renungkan.
Benar juga.
Anak kecil yang hafal A sampai Z belum otomatis bisa menulis buku.
Mahasiswa kedokteran yang hafal nama semua tulang belum tentu mampu menyelamatkan pasien.

Pengetahuan adalah fondasi.
Tetapi fondasi bukan tujuan.
Begitu pula saat kita belajar Firman Tuhan.

Belakangan ini semakin banyak orang tertarik mempelajari bahasa Ibrani dan Yunani. Menurut saya, itu sesuatu yang baik. Saya sendiri sering diberkati ketika seorang pengajar menjelaskan arti sebuah kata dalam bahasa aslinya.

Namun melalui proses belajar, saya mulai memahami satu hal yang sangat penting.
Bahasa asli adalah alat bantu, bukan tujuan akhir.

Saya teringat Andrew Wommack pernah mengingatkan agar kita tidak membangun sebuah doktrin hanya dari arti satu kata Yunani.

Mengapa?
Karena satu kata bisa memiliki beberapa kemungkinan arti.

Contohnya kata Yunani kosmos, yang biasanya diterjemahkan menjadi “dunia.”

Dalam Yohanes 3:16,
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia…”
Di sini “dunia” berbicara tentang umat manusia yang dikasihi Allah.

Tetapi dalam 1 Yohanes 2:15,
“Janganlah kamu mengasihi dunia.”

Di sini “dunia” berbicara tentang sistem dunia yang melawan Allah.
Kata Yunaninya sama.
Artinya berbeda.

Apa yang membedakannya?
Konteks.

Saya belajar bahwa arti sebuah kata tidak ditentukan oleh kamus semata, tetapi oleh kalimatnya, paragrafnya, bahkan keseluruhan Kitab Suci.

Melalui proses belajar dari guru-guru seperti Grace Lubega dan Andrew Wommack, saya justru menemukan sebuah urutan belajar yang menurut saya sangat bijaksana. Saya sendiri sedang belajar menerapkannya sedikit demi sedikit.

Pertama, baca konteksnya terlebih dahulu.

Apa yang sedang dibicarakan Yesus?
Mengapa Paulus menulis surat itu?
Apa masalah yang sedang dihadapi jemaat waktu itu?
Sering kali jawaban terbesar justru sudah ada di sekitar ayat itu sendiri.

Kedua, bandingkan beberapa terjemahan.

Saya belajar bahwa banyak penafsir Alkitab menyarankan memulai dari terjemahan yang lebih LITERAL. Untuk bahasa Indonesia saya biasanya membaca LAI, lalu membandingkannya dengan terjemahan seperti KJV, NKJV, NASB, atau ESV.

Kalau ingin melihat alur pikir penulis dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, NLT juga sangat membantu.

Sesudah itu, The Passion Translation (TPT) atau The Message (MSG) dapat menjadi bacaan renungan yang memperkaya. Namun karena keduanya merupakan parafrasa, sebaiknya tidak dijadikan dasar utama untuk membangun sebuah doktrin.

Ketiga, bila memang diperlukan, barulah melihat bahasa Ibrani atau Yunani.

Di sinilah bahasa asli menjadi sangat berharga.
Bukan untuk menemukan arti baru yang tidak pernah dimaksudkan penulis.
Melainkan untuk memperjelas apa yang memang sedang disampaikan oleh penulis Alkitab.

Bahasa asli adalah kaca pembesar, bukan pencipta makna.

Keempat, barulah membuat aplikasi bagi kehidupan.

Menurut saya, di sinilah kita perlu berhati-hati.
Sering kali seorang pengajar mengembangkan sebuah ilustrasi atau renungan yang sangat indah berdasarkan satu kata Yunani. Sebagai ilustrasi, itu bisa sangat memberkati.

Tetapi kita perlu membedakan antara exegesis dan aplikasi.

Exegesis berarti menggali keluar makna yang memang ada di dalam teks Alkitab.

Pertanyaannya adalah:
“Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembacanya?”

Sedangkan aplikasi bertanya,
“Bagaimana kebenaran itu saya hidupi hari ini?”
Keduanya sama-sama penting.

Namun jika hasil pengembangan seorang pengajar kemudian dianggap sebagai makna asli ayat, tanpa disadari kita sudah keluar dari maksud penulis Alkitab.

Semakin saya belajar, saya justru semakin kagum pada kesederhanaan Firman Tuhan.

Yesus mengajar para nelayan.
Paulus menulis kepada jemaat biasa.

Firman Tuhan memang dalam, tetapi tidak ditulis sebagai teka-teki yang hanya bisa dipahami oleh ahli bahasa Yunani.

Tujuannya bukan membuat kita berkata,
“Hebat sekali pengajarnya.”

Melainkan membuat kita berkata,
“Betapa luar biasanya Yesus.”

Saya rasa inilah yang dimaksud Grace Lubega.
Belajar ABC memang penting.
Tetapi Tuhan tidak memanggil kita berhenti di alfabet.

Dia memanggil kita memakai “alfabet Firman” itu untuk menyembuhkan yang terluka, menguatkan yang lemah, menuntun yang tersesat, dan membawa orang semakin mengenal Kristus.

Karena pewahyuan sejati bukan membuat kita semakin kagum pada kepintaran manusia, melainkan semakin mengagumi Pribadi Yesus yang dinyatakan melalui Firman-Nya.

The Bible was not given for our information but for our transformation.” – D.L. Moody

“Alkitab tidak diberikan hanya untuk menambah pengetahuan kita, tetapi untuk mengubahkan hidup kita.”- D.L. Moody

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

The goal of studying Scripture is not to become impressed by knowledge, but to be transformed by the One who wrote it.”

“Tujuan mempelajari Firman bukan untuk mengagumi pengetahuan, tetapi untuk diubahkan oleh Pribadi yang mengilhamkannya.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Pelajaran yang Tidak Saya Minta…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pelajaran yang Tidak Saya Minta…

Belakangan ini saya merasa Tuhan sedang mengajar saya sebuah pelajaran yang tidak pernah saya minta.

Pelajaran tentang melepaskan.
Bukan melepaskan orang.
Tetapi melepaskan harapan-harapan kecil yang tanpa sadar masih saya genggam.

Harapan untuk selalu diingat.
Harapan untuk selalu dianggap penting.
Harapan untuk diperlakukan seperti yang saya bayangkan.

Lucunya, Tuhan tidak mengajar saya lewat mimbar.
Dia mengajarnya melalui kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika saya bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu pernah dekat.

Ada yang lupa nama saya.
Ada yang tampak lebih akrab dengan orang lain.

Dulu, mungkin saya akan sedikit kecewa.
Tetapi kali ini berbeda.
Saya hanya tersenyum.
Tidak ada rasa tersinggung.
Tidak ada keinginan menjelaskan diri.
Tidak ada dorongan untuk mencari perhatian.

Biasa saja.

Bahkan saat ada kesempatan berfoto bersama tamu penting dari luar negeri, saya tidak lagi merasa harus ikut.

Bukan karena marah.
Bukan karena kecewa.
Hanya… rasanya tidak perlu.

Lalu saya menyadari sesuatu.
Memang begitulah hidup.
Waktu terus berjalan.
Orang-orang bertemu.
Lalu berpisah.
Lingkaran pertemanan berubah.
Kedekatan pun berubah.
Dan itu bukan sesuatu yang harus disesali.

Beberapa hari kemudian Tuhan kembali mengajar saya.
Lewat sebuah situasi di rumah.
Ada perkataan yang cukup menyakitkan.
Anehnya, saya tidak ingin membalas.
Saya juga tidak ingin berdebat.
Saya memilih diam.
Bukan diam karena kalah.
Tetapi diam karena damai sejahtera dalam hati terasa jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah perdebatan.

Malam itu saya duduk diam di hadapan Tuhan.
Tidak banyak berdoa.
Hanya merenung.
Tiba-tiba hati saya dibawa kepada Yesus.

Saya teringat bagaimana begitu banyak orang pernah mengikuti-Nya.
Disembuhkan.
Dikenyangkan.
Ditolong.

Namun pada akhirnya banyak di antara mereka yang berteriak, “Salibkan Dia!”

Lalu saya teringat ayat yang selama ini sering saya baca tetapi malam itu terasa begitu hidup.

Yoh 2: 23-25
“Selama perayaan Paskah di Yerusalem, banyak orang percaya kepada Yesus setelah melihat mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. _Namun Yesus tidak menggantungkan kepercayaan-Nya kepada mereka. la mengenal manusia sampai ke dasar hatinya. la tahu bahwa hati manusia begitu mudah berubah._ Tidak ada seorang pun yang perlu menjelaskan hal itu kepada-Nya.”

Perhatikan, Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada manusia, karena Ia tahu isi hati manusia.

Betapa dalam kalimat itu.
Yesus mengasihi semua orang.
Tetapi Dia tidak menggantungkan hati-Nya pada respons mereka.

Saya merasa Tuhan sedang berbicara sangat pribadi kepada saya.

“Jangan biarkan perlakuan orang lain menentukan keadaan hatimu dan menentukan responmu. Bertindaklah seperti-Ku, karena Aku di dalammu.”

Kalimat itu terus terngiang.

Bukankah sering kali kita baik kepada orang karena mereka baik kepada kita?
Kita mudah mengasihi ketika dihargai.
Tetapi mulai terluka ketika diabaikan.

Padahal kasih yang Tuhan ajarkan memiliki sumber yang berbeda.
Bukan berasal dari bagaimana orang memperlakukan kita.
Melainkan dari Kristus yang hidup di dalam kita.

Saya tidak mengatakan bahwa pelajaran ini mudah.
Tetapi saya mulai merasakan kebebasan yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Ternyata damai itu muncul ketika kita berhenti menuntut orang lain memenuhi kebutuhan hati kita.

Keesokan paginya saya mendapat giliran memimpin doa pagi.
Lucunya, tanpa memasang alarm pun saya terbangun sendiri.
Tuhan seakan berkata, “Kalau ini memang bagianmu, Aku sendiri yang akan membangunkanmu.”

Saya belajar bahwa kedewasaan rohani bukan hanya tentang semakin banyak mengetahui Firman Tuhan.
Tetapi tentang semakin sedikit hati kita diguncang oleh perlakuan manusia.

Dan mungkin…

Itulah salah satu cara Tuhan membentuk hati kita agar semakin serupa dengan Kristus.

“Semakin hati kita berakar di dalam Kristus, semakin sedikit kita membutuhkan pengakuan dari manusia.”

Bagaimana pendapat Anda?

“The less you depend on people for your happiness, the happier you will be.”- Roy T. Bennett.

“Semakin sedikit kebahagiaanmu bergantung pada manusia, semakin bahagia hidupmu.” – Roy T. Bennett.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Pengaruh Besar Membuat Jiwa Lelah: Pelajaran Hidup James Robison

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Pengaruh Besar Membuat Jiwa Lelah: Pelajaran Hidup James Robison

James Robison pernah berada di puncak pengaruh.
Di tahun 1970–1980-an, namanya sangat besar di Amerika. Ia berkhotbah di stadion, tampil di televisi nasional, dekat dengan tokoh-tokoh politik penting seperti Ronald Reagan, dan menjadi salah satu suara Kristen konservatif paling berpengaruh saat itu.

Ia berani bicara tentang moralitas bangsa, keluarga, dosa, dan arah Amerika.
Dari luar, hidupnya terlihat luar biasa.
Tetapi diam-diam, jiwanya mulai lelah.

James pernah mengakui bahwa musim itu membuat dirinya menjadi keras. Ia begitu terbiasa “berjuang” dan “melawan” sampai tanpa sadar kehilangan kelembutan. Ia menjadi cepat marah, defensif, dan hidup dalam tekanan untuk terus tampil kuat.

Kadang itu juga terjadi dalam hidup kita.

Awalnya melayani Tuhan dengan hati yang tulus. Lalu perlahan hidup berubah menjadi performance. Selalu harus benar. Selalu harus kuat. Selalu harus terlihat berhasil.

Dan tanpa sadar… damai mulai hilang.

James mulai menyadari sesuatu yang pahit: memenangkan debat tidak selalu berarti memenangkan jiwa manusia.

Ia bisa berdiri di panggung besar dan dipuji banyak orang, tetapi pulang dengan jiwa yang kosong.

Kadang Tuhan memang mengizinkan seseorang melewati musim “keras” supaya akhirnya sadar:
pengaruh tanpa damai itu kosong,
popularitas tanpa intimacy with God itu melelahkan,
dan hidup yang terus mencari validasi manusia pada akhirnya menguras jiwa.

Di tengah musim itulah, istrinya Betty Robison banyak menolongnya.

Betty dikenal lebih lembut dan penuh belas kasihan. Ia membantu James kembali kepada hal-hal sederhana: duduk tenang di hadapan Tuhan, membangun hubungan pribadi dengan-Nya, dan berhenti hidup hanya dari tekanan pelayanan publik.

Perubahan James tidak terjadi dalam semalam. Tetapi orang-orang mulai melihat perbedaannya.
James tua jauh lebih lembut dibanding James muda.
Masih tegas. Masih berani. Tetapi tidak lagi dipenuhi kemarahan.

Lalu ada hal lain yang membuat banyak orang merasa hidup James “real”.
Ia tidak membangun image keluarga sempurna.
Di dunia pelayanan, itu jarang.

Banyak pemimpin rohani sibuk mempertahankan citra seolah rumah tangga mereka tidak pernah bermasalah. Tetapi James dan Betty cukup terbuka tentang pergumulan keluarga mereka.

Salah satu anak mereka pernah mengalami depresi dan pergumulan berat secara emosional. Dan menariknya, mereka tidak merespons dengan pencitraan rohani.
Mereka tidak pura-pura semuanya baik-baik saja.
Mereka mengakui rasa sakit. Mereka berbicara tentang tekanan. Mereka menghadapi kenyataan sebagai keluarga nyata.

Being real itu penting.

Karena terlalu banyak orang Kristen hidup capek menjaga image.
Takut kalau orang tahu kelemahannya. Takut kalau terlihat tidak rohani. Takut kalau dianggap gagal.

Padahal Tuhan tidak pernah meminta kita tampil sempurna. Tuhan meminta kita hidup dalam terang.

Ada perbedaan besar antara hidup kudus dan hidup palsu.
Hidup kudus berarti kita terus berjalan bersama Tuhan walaupun masih sedang diproses. Hidup palsu berarti kita sibuk menutupi luka supaya tetap dikagumi manusia.

James akhirnya belajar bahwa pelayanan terbesar bukanlah terlihat hebat di depan publik.
Tetapi tetap memiliki hati yang lembut di hadapan Tuhan.

Dan mungkin itu sebabnya, di akhir hidupnya, banyak orang tidak terutama mengingat seberapa dekat ia dengan presiden atau seberapa besar pelayanannya.

Mereka mengingat kelembutannya. Belas kasihnya. Kejujurannya. Dan bagaimana seorang anak yang lahir dari luka akhirnya dipakai Tuhan membawa pengharapan bagi banyak orang.

Kadang kemenangan rohani terbesar bukan ketika semua orang mengagumi kita.
Tetapi ketika kita akhirnya berhenti berpura-pura dan mulai hidup dekat dengan Tuhan apa adanya.

God never called us to impress people. He called us to walk with Him.”- Charles Stanley.

“Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk mengesankan manusia. Tuhan memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya.”- Charles Stanley.

??YennyIndra??
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

never called us to impress people. He called us to walk with Him.”- Charles Stanley.*

*”Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk mengesankan manusia. Tuhan memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya.”- Charles Stanley.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 420