Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Xi’an: Suatu Hari, Kita Semua Menjadi Cerita… Lalu Apa Cerita kita?*

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Xi’an: Suatu Hari, Kita Semua Menjadi Cerita… Lalu Apa Cerita kita?*

Ada perjalanan yang membuat kita terkagum-kagum melihat pemandangan. Ada yang membuat kita belajar sejarah. Ada pula yang akhirnya mengingatkan bahwa hidup ini sebaiknya jangan terlalu serius.

Perjalanan kali ini memberi saya semuanya.

Kami mengunjungi Hukou Waterfall, air terjun spektakuler di Yellow River, sungai terpanjang kedua di China dan salah satu sungai terpanjang di dunia.

Yellow River bermula dari dataran tinggi Qinghai, lalu mengalir lebih dari 5.000 kilometer sebelum akhirnya bermuara ke laut. Sungai ini dijuluki “Mother River of China” karena di sepanjang alirannya lahir dan berkembang berbagai pusat peradaban China kuno.

Menariknya, di Hukou aliran sungai yang sangat lebar tiba-tiba menyempit drastis. Bayangkan volume air sebesar itu dipaksa melewati celah yang jauh lebih kecil.

Hasilnya?

Bergemuruh!

Air berwarna kuning kecokelatan menerjang bebatuan dengan kekuatan dahsyat. Kabut air beterbangan, dan ketika sinar matahari mengenainya, pelangi muncul di atas air.

Ketika sinar matahari menembus miliaran tetesan air kecil dari kabut tersebut, cahaya mengalami pembiasan (refraction) dan pemantulan (reflection), lalu terurai menjadi spektrum warna pelangi.

Indah sekali.

Namanya Hukou, yang berarti “mulut teko”. Memang seperti air dalam teko raksasa yang tiba-tiba dituangkan melalui mulut yang sempit.

Dan di tengah pemandangan sedahsyat itu, apa yang kami lakukan?

Berfoto!

Mei Tjien berfoto mengenakan baju tradisional merah, naik keledai berhias bunga warna-warni. Hahaha….
P. Indra bikin AI foto saya seperti Mei Tjien. Kreatif! Hahaha….

Kalau sudah sampai jauh-jauh ke China, sekalianlah membuat kenangan.

Hari berikutnya lebih santai. Jalan-jalan di sekitar Muslim Quarter, -yang banyak dihuni oleh muslim dari Suku Hui -, shopping dan tentu saja… makan.

Kami mencicipi Hongliu Rouchuan, sate domba khas yang ditusuk menggunakan batang pohon Hongliu atau tamarisk.
Saat dipanggang, batang kayunya memberi aroma khas sekaligus membantu mengurangi bau prengus daging.
Tusukannya yang tebal memungkinkan potongan daging dibuat besar, empuk dan juicy.

Keesokan harinya, Ayam Hulu , tidak kalah keren. Ayam khas Chang’an yang dimasak tiga kali: direbus, dikukus, lalu digoreng utuh.
Hasilnya mantap: ayam menggembung, kulitnya garing, tetapi dagingnya lembut dan juicy.
Pantas menjadi salah satu kuliner legendaris Xi’an.

“Eh, ingat gak ayam yang kita makan waktu di Xi’an?”

Hahaha….

Perjalanan memang bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi. Sering kali justru rasa, aroma, tawa dan kejadian kecil yang tinggal paling lama dalam ingatan.

Hari terakhir membawa kami kembali menembus waktu.
Kami mengunjungi Small Wild Goose Pagoda, Big Wild Goose Pagoda dan Xi’an Museum.

Small Wild Goose Pagoda membawa kami kembali ke zaman Dinasti Tang. Berdiri di kompleks Jianfu Temple, pagoda ini dibangun pada awal abad ke-8 pada masa Kaisar Zhongzong dan berkaitan erat dengan perkembangan Buddhisme serta penerjemahan kitab-kitab yang dibawa dari India. Lebih dari 1.300 tahun berlalu, bangunan ini masih berdiri, menjadi saksi bagaimana kejayaan sebuah zaman akhirnya berubah menjadi sejarah.

Xi’an dahulu bernama Chang’an
, salah satu ibu kota terpenting dalam sejarah China sekaligus titik awal Jalur Sutra kuno.

Big Wild Goose Pagoda
dibangun pada zaman Dinasti Tang dan erat kaitannya dengan Xuanzang, biksu terkenal yang melakukan perjalanan panjang ke India untuk mempelajari ajaran Buddha dan membawa kembali berbagai manuskrip ke China.

Lalu beberapa jam kemudian kami sudah berada di dunia yang sama sekali berbeda.
Shopping di Joy Mall dan Momo Park.
Dari pagoda kuno ke pusat perbelanjaan modern.

Dari peninggalan Dinasti Tang ke Museum Coklat, lalu makan es krim berbentuk panda yang lucu.
Bahkan P. Indra ikut menikmati es krim panda. Ini baru layak diabadikan!

Belum selesai.

Ada naga raksasa, berbagai instalasi yang sangat Instagrammable, patung babi yang membuat kami berhenti untuk berfoto, sampai Sun Go Kong raksasa bak anak-anak kecil…

China memang jago membuat sesuatu menjadi larger than life.

Malam hari, Xi’an berubah lagi. Lampu-lampu menyala, bangunan kuno bermandikan cahaya keemasan, orang-orang berjalan memakai kostum tradisional. Berfoto bak pendekar silat dengan background Xi’an Bell Tower.

Ancient China bertemu modern China.

Dan entah mengapa, setelah melihat semuanya, saya justru berpikir tentang waktu.
Apalagi perjalanan kali ini bertepatan dengan ulang tahun Kristina Roberts.
Seru… berkesan penuh canda dan tawa.

Happy Birthday Kristina sayang….

Kami merayakannya bersama. Ada kue, dinner rame-rame, foto bersama dan tentu saja suasana yang meriah.Kadang tidak penting ke mana kita pergi tetapi kebersamaan yang tercipta yang membuatnya berharga.

Pada akhirnya, tempat boleh luar biasa, tetapi perjalanan menjadi jauh lebih berharga karena dengan siapa kita menjalaninya.

Perjalanan ini akhirnya ditutup dengan sesuatu yang sangat sederhana: makan bersama, merayakan ulang tahun seorang sahabat, shopping, tertawa, menikmati es krim panda dan mengabadikan berbagai momen konyol.

Besok kami pulang ke Indonesia.
Tetapi hati saya pulang membawa satu pengingat:

Hidup memang serius, tetapi jangan sampai terlalu sibuk membangun kehidupan sampai lupa menikmatinya.

Bekerjalah. Bangunlah sesuatu yang bernilai. Tinggalkan jejak yang baik.
Tetapi jangan lupa tertawa.
Nikmati teman-teman yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita berada di dunia.

Tetapi tentang bagaimana kita mengisinya, dengan siapa kita menjalaninya, dan cerita apa yang tertinggal setelah kita pergi. Dan biarkan kasih Tuhan memancar melalui kepribadian kita. Hidup menjadi lebih nikmat, karena kita memberinya rasa bak ‘Garam Dunia’.

“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” — John Lennon.

“Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat berbagai rencana.” — John Lennon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #Xi’an #China #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Suatu hari foto-foto kita akan menjadi kenangan, barang-barang kita berpindah tangan, dan nama kita menjadi cerita. Karena itu jangan hanya membangun sesuatu untuk dimiliki. Bangunlah kehidupan yang layak dikenang.”

“One day our photos will become memories, our possessions will change hands, and our names will become stories. So don’t merely build things to own. Build a life worth remembering.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

Huashan: Gara-Gara Medali, Akhirnya Sampai Puncak!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Huashan: Gara-Gara Medali, Akhirnya Sampai Puncak!

Hari ini perjalanan kami menuju Mount Hua atau Huashan.

Mendengar nama Huashan, saya langsung teringat P. Irsan, sohib saya yang paling cinta cerita pendekar-pendekar Tiongkok.

Ha… ha….

Bagi penggemar cerita silat, nama Huashan Pai tentu tidak asing. Dalam dunia persilatan—Huashan sering muncul sebagai salah satu perguruan silat terkenal.

Dulu hanya membaca atau mendengar namanya dalam cerita.
Hari ini kami benar-benar berada di Huashan.

Huashan berarti Flower Mountain. Gunung ini memiliki lima puncak utama yang jika dilihat susunannya menyerupai kelopak bunga. Huashan juga merupakan salah satu dari Lima Gunung Suci Besar Tiongkok dan terkenal dengan formasi granitnya yang menjulang dramatis.

Tujuan kami adalah West Peak, yang tingginya sekitar 2.086 meter. Puncak tertinggi Huashan sendiri adalah South Peak, sekitar 2.155 meter.

Untuk mencapainya ada berbagai cara.
Yang jago dan punya tenaga berlebih, silakan hiking.

Kami?

Shuttle bus, coaster, cable car….

Wkwkwk….

Tetap sampai gunung kok!

Perjalanan dengan West Peak Cable Car justru menjadi pengalaman tersendiri. Gondola meluncur di antara gunung-gunung granit yang bertumpuk-tumpuk sejauh mata memandang.

Cantik sekali!

Kadang gondola naik tajam, kemudian turun, lalu naik lagi sehingga lintasannya terlihat seperti huruf W.

Di beberapa bagian rasanya seperti sedang menggantung di udara dengan jurang menganga jauh di bawah.
Yang membuat saya terkagum-kagum, untuk membangun jalur ini mereka bahkan membuat stasiun cable car menembus gunung granit.
Bayangkan bagaimana membangunnya di medan seperti itu.

Orang Tiongkok memang jago membuat tempat yang tadinya sulit dijangkau menjadi accessible bagi begitu banyak orang.

Setelah turun dari cable car, kami tiba di area sebuah kuil, tempat para turis berkumpul, beristirahat dan makan sebelum melanjutkan perjalanan.

Awalnya P. Indra sudah mantap.
Cukup sampai sini saja.
Kami pun memesan ayam goreng dan menikmatinya dengan santai.

Ngapain capek-capek naik ke atas?

Ha… ha….

Di restoran itu kami bertemu Amelia yang ternyata juga sedang makan.
Setelah ngobrol, akhirnya kami bertiga sepakat,

“Naik sedikit yuk… cari spot foto yang cantik.”

Bukan mau ke puncak lho.

Cuma cari foto!

Wkwkwk….

Begitu keluar dari restoran, kami bertemu Siekah yang menggunakan semacam robot atau exoskeleton pendukung kaki untuk membantu mendaki. Katanya sewanya sekitar 200 yuan.

Menarik sekali.

Kami pun dipinjami untuk mencobanya bergantian.

P. Indra yang pertama mencoba.

Wuih….

Enteng lho!

Ketika melangkah, kaki seperti mendapat tambahan tenaga yang mendorong ke atas.

P. Indra rupanya keasyikan mencoba.

Jalan….

Naik….

Terus naik….

Tanpa terasa, sudah hampir setengah perjalanan!

Ha… ha….

Lha, kalau sudah sampai situ, masa balik?

Kemudian gantian saya dan Amelia mencobanya sambil terus mendaki.

Lucu juga. Awalnya kami bertiga sama sekali tidak berniat menuju puncak. Hanya mau naik sedikit mencari spot foto yang bagus.

Eh… robot membuat kami keterusan naik.

Di tengah perjalanan itulah kami bertemu dr. Jusuf yang sedang turun dari puncak.

Dan perhatian saya langsung tertuju pada sesuatu yang tergantung di lehernya.

Medali emas!

Lho?

Ada medalinya?

Wow….

Mau ah!

Ha… ha….

Mendadak tujuan berubah.

Tadi cuma mau foto.

Sekarang harus sampai puncak!

Ternyata manusia memang unik.

Pemandangan indah belum tentu berhasil menyuruh naik.

Robot berhasil membawa kami setengah jalan.

Medali menyelesaikan sisanya.

Wkwkwk….

Akhirnya kami bertiga melanjutkan pendakian melewati ratusan anak tangga menuju puncak.

Robot atau tidak, anak tangganya tetap harus dilewati satu demi satu.

Dan akhirnya….

Yeaaayy…. sampai puncak!

Lulus!

Ha… ha….

Di atas ada kuil lagi, dengan pemandangan pegunungan granit berlapis-lapis yang luar biasa indah.

Dan tentu saja….

MEDALI!

Kami memesan medali dan masing-masing diberi nama.

Entah mengapa benda kecil itu terasa sangat berharga setelah melewati ratusan anak tangga.

Bukan soal harga medalinya.
Tetapi ceritanya.
Melihat teman berhasil.
Ikut termotivasi.
Dan akhirnya sampai.

Di situlah saya kembali merasakan salah satu kenikmatan traveling bersama teman-teman.
Kita sering berjalan lebih jauh karena ada orang lain yang berjalan bersama kita.

Ketika satu orang semangat, yang lain ikut.
Ketika melihat teman sudah berhasil, muncul pikiran,
Kalau dia bisa, masa saya tidak?
Dan tanpa terasa kita melakukan sesuatu yang tadinya bahkan tidak masuk rencana.

Ternyata teman seperjalanan bukan hanya membuat perjalanan lebih menyenangkan.
Kadang mereka membuat kita menemukan bahwa kita mampu berjalan lebih jauh daripada yang kita kira.

Pemandangan di puncak memang menakjubkan. Gunung granit berlapis-lapis yang cantik, berdiri kokoh di antara pepohonan hijau…
Ada Huashan cafe pula…
Cantiiik….

Ada satu lagi kreativitas orang Tiongkok yang membuat kami tertawa.

Mereka menjual es krim berbentuk Huashan.

Tentu saja kami beli.

Lalu es krimnya dipegang di depan gunung asli….

Foto!

Gunung ketemu gunung.

Ha… ha….

Perjalanan turun pun tidak kalah seru.

Naik coaster ketika berangkat sudah menyenangkan, tetapi saat pulang karena jalurnya menurun terasa jauh lebih cepat.

Wuiiih….

Meluncur!

Setelah seharian naik-turun gunung, cable car, tangga, robot, medali dan coaster, resto siap menyambut kami dengan masakan Xi’an yang lezat.

Untungnya makanan Xi’an cocok sekali dengan lidah Indonesia.

Enak!

Dan ternyata hari belum selesai.

Hotel kami dikelilingi toko-toko dan tempat makan.

Malam hari?

Shopping time!

Ha… ha….

Mei Tjien, Bu Ketum kami, memang pintar memilih lokasi hotel. Pulang tour seharian, tinggal keluar hotel dan kehidupan malam Xi’an sudah menunggu.

Dan…. kami kembaran beli jaket Teddy Bear! Tunggu cerita selanjutnya besok ya..

Life is good.
Praise The Lord!

It is not the mountain we conquer, but ourselves.” – Edmund Hillary.

“Bukan gunung yang kita taklukkan, melainkan diri kita sendiri.” – Edmund Hillary.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Puncak yang tadinya tidak kita rencanakan, kadang menjadi cerita yang paling kita banggakan.”

“Sometimes the summit we never planned to reach becomes the story we’re most proud to tell.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Xi’an: Sehari Melompat Menembus Ribuan Tahun….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Xi’an: Sehari Melompat Menembus Ribuan Tahun….

Kemarin kami masih berada di Qinghai, memakai jaket, ditemani hujan dan udara dingin.
Hari ini?

Welcome to Xi’an!

Matahari bersinar terang dan suhu siang mencapai 31°C.
Panas!

Katanya musim panas di Xi’an suhu bisa menembus 40°C, sementara musim dinginnya bisa bersalju.
Benar-benar ekstrem.

Tetapi justru di bawah matahari yang menyengat itu, kami mulai menjelajahi salah satu kota paling bersejarah di Tiongkok.

Xi’an dahulu dikenal sebagai Chang’an dan pernah menjadi ibu kota bagi 13 dinasti Tiongkok selama lebih dari seribu tahun. Letaknya strategis, dikelilingi pegunungan dan kawasan sungai, sekaligus menjadi salah satu titik penting Jalur Sutra.

Tidak heran sejarah ada di mana-mana.
Perhentian pertama kami adalah Xi’an City Wall.

Tembok kota yang kita lihat sekarang sebagian besar berasal dari Dinasti Ming, dibangun pada abad ke-14. Kelilingnya hampir 14 kilometer, tingginya sekitar 12 meter, dan termasuk tembok kota kuno yang paling lengkap terpelihara di Tiongkok.

Bayangkan…

Sudah berdiri sekitar 650 tahun!

Gerbangnya besar dengan pintu merah bertabur paku-paku keemasan. Berdiri di bawahnya membuat manusia terasa kecil sekali.

Malam hari katanya lebih cantik lagi karena seluruh tembok diterangi lampu.

Xi’an memang seperti kota yang masa lalunya tidak pernah benar-benar pergi.

Dari peninggalan Dinasti Ming, kami melompat mundur lebih jauh lagi…

Lebih dari dua ribu tahun!

Kami menuju Terracotta Warriors, pasukan tanah liat yang dibuat untuk menjaga makam Qin Shi Huang, kaisar pertama yang mempersatukan Tiongkok.

Yang membuat ceritanya semakin menarik, penemuan luar biasa ini terjadi secara tidak sengaja.

Tahun 1974, beberapa petani sedang menggali sumur.
Mereka bukan sedang mencari benda purbakala.
Bukan arkeolog.
Cuma mau mencari air.
Eh… malah menemukan salah satu penemuan arkeologi terbesar abad ke-20.

Ha… ha….

Ketika masuk ke dalam bangunan besar yang menaungi Pit No. 1, barulah saya memahami skalanya.

Wow!

Barisan demi barisan prajurit berdiri di depan kami.

Bukan puluhan.

Ribuan!

Ada prajurit infanteri, pemanah, perwira, kuda dan kereta perang. Menariknya, wajah mereka tidak terlihat persis sama. Bentuk rambut, ekspresi, pakaian dan detailnya berbeda-beda.

Seperti sebuah pasukan sungguhan yang tiba-tiba membeku selama lebih dari dua ribu tahun. Konon patung-patung itu replika prajurit sungguhan.

Dan ternyata Terracotta Warriors hanyalah sebagian dari proyek makam Qin Shi Huang.

Kompleks makamnya membentang sekitar 56 kilometer persegi.

Lebih mencengangkan lagi, makam utama sang kaisar hingga sekarang belum dibuka sepenuhnya.

Catatan sejarawan Tiongkok kuno, Sima Qian, menceritakan adanya sungai dan lautan yang dibuat dari merkuri di dalam makam. Penelitian modern memang menemukan kadar merkuri yang tidak biasa di kawasan tersebut.

Misterius ya….

Dua ribu tahun berlalu dan manusia modern masih belum mengetahui seluruh rahasia yang terkubur di sana.

Ada pula cerita terkenal bahwa senjata-senjata perunggu yang ditemukan tetap terawat karena teknologi chromium coating yang sangat maju.

Ternyata penelitian modern mengoreksi teori tersebut. Kondisi tanah dan komposisi perunggunya kemungkinan jauh lebih berperan daripada teknologi pelapisan krom yang sengaja dibuat.

Menarik.

Sejarah pun kadang harus bersedia dikoreksi ketika bukti baru ditemukan.

Setelah melihat pasukan Terracotta, kami melanjutkan ke area taman makam kaisar.

Suasananya berubah total.

Dari ribuan prajurit tanah liat menjadi taman hijau yang tenang.

Pohon-pohon Yangliu menjuntai sampai hampir menyentuh air. Ada jembatan merah melengkung, gunung hijau di belakangnya, dan semuanya terpantul begitu jernih di permukaan kolam.

Cantik sekali!

Ada pula ayunan besar yang dihiasi bunga-bunga merah.

Ya sudah…

Foto lagi!

Wkwkwk….

Namanya juga traveling. Sejarah dapat, foto juga jangan sampai ketinggalan.

Tetapi perjalanan menembus waktu kami ternyata belum selesai.

Malamnya kami menonton Ancient City Beacon, sebuah pertunjukan kolosal yang membawa penonton ke masa pergolakan Tiongkok sekitar tahun 1935.

Terus terang saya tidak memahami seluruh ceritanya.

Lha wong dialognya Mandarin….

Ha… ha….

Secara singkat kisahnya tentang Zhao Yunfeng, seorang pemuda yang mengalami tragedi keluarga, kemudian terlibat dalam perlawanan terhadap penindasan di tengah masa Tiongkok yang penuh pergolakan.

Tetapi meski tidak memahami setiap dialog, pertunjukannya tetap spektakuler.

Yang paling unik, kursi penontonnya bisa berputar mengikuti perpindahan adegan.

Jadi bukan sekadar panggung yang berubah.

Kami yang ikut “dibawa” menuju setting berikutnya.

Ada peperangan, ledakan, kereta, pesawat, efek air, bahkan anjing dan unta sungguhan muncul dalam pertunjukan.

Rasanya seperti berada di dalam film.

Barulah ketika perjalanan hari itu selesai saya menyadari sesuatu.

Pagi kami berdiri di atas tembok kota berusia sekitar 650 tahun.

Siang kami berhadapan dengan pasukan yang dibuat lebih dari 2.000 tahun lalu.

Malam kami “dipindahkan” ke Tiongkok tahun 1935.

Dalam satu hari, Xi’an membawa kami melompat-lompat menembus zaman.

Dan mungkin itulah daya tarik terbesar kota ini.

Xi’an tidak hanya menyimpan sejarah di museum.

Sejarahnya masih berdiri dalam tembok-temboknya, terkubur di bawah tanahnya, hidup dalam taman-tamannya, bahkan dipentaskan kembali di atas panggung.

Dua ribu tahun lalu manusia membangun sesuatu yang mereka pikir akan menemani seorang kaisar menuju keabadian.

Hari ini sang kaisar telah lama tiada.

Tetapi karya tangan manusia yang ditinggalkannya justru membuat jutaan orang dari seluruh dunia datang untuk melihatnya.

Waktu memang berlalu, tetapi jejak yang kita tinggalkan bisa berbicara jauh lebih lama daripada umur kita sendiri.

Dan perjalanan Xi’an kami…
masih belum selesai. 🙂

“What we do now echoes in eternity.” – Marcus Aurelius.

“Apa yang kita lakukan sekarang bergema hingga kekekalan.” – Marcus Aurelius.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Sejarah mengajarkan satu hal yang tidak disukai ego: sehebat apa pun seseorang pada zamannya, suatu hari ia akan menjadi cerita. Pertanyaannya, cerita seperti apa?”

“History teaches the ego an uncomfortable truth: no matter how great someone is in their time, one day they will become a story. The question is, what kind of story?”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Yesus Menjadi Nyata di Tengah Hujan…


Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Yesus Menjadi Nyata di Tengah Hujan…

“I will let Myself be clearly seen by him and make Myself real to him.”
Yohanes 14:21 ( AMPC).

Beberapa hari ini saya terus terpikat pada satu frasa:

“Make Myself real to him.”

Yesus ingin menjadi nyata bagi kita.

Dulu mungkin saya membayangkan Tuhan menjadi nyata ketika doa dijawab persis seperti yang saya inginkan.

Ternyata tidak selalu demikian.

Perjalanan ke Chaka Salt Lake dan Qinghai Lake memberi saya pelajaran sederhana.

Saat hendak ke Chaka, saya berdoa agar tidak hujan.

Mengapa?

Karena Chaka terkenal sebagai Mirror of the Sky. Ada lapisan air tipis di atas hamparan garam yang memantulkan langit seperti cermin. Kalau hujan, tentu pengalaman dan fotonya berbeda.

Saya sudah berdoa.

Setelah itu saya memilih berhenti memikirkannya.

Beberapa teman masih berkata,

“Semoga nggak hujan ya…”

“Kalau hujan bagaimana?”

Saya pikir, sudah berdoa, ya sudah.

Bukan berarti Tuhan harus mengikuti keinginan saya.

Saya hanya percaya Dia mengasihi saya. Apa pun hasilnya, saya akan tetap menikmati perjalanan.

Dan ternyata…
Cuaca Chaka bagus!

Kami mendapatkan foto-foto dengan pantulan yang cantik.
Puji Tuhan.

Doa dijawab sesuai keinginan.
Senang?
Tentu!

Lalu perjalanan berlanjut ke Qinghai Lake dan keesokan harinya, Kanbula Forest Park.

Dan…
Hujan.
Ha… ha….

Kali ini tidak berhenti.
Foto pun tidak bisa sebanyak yang kami harapkan.

Sehebat apa pun manusia, ternyata ada wilayah-wilayah kehidupan di mana kita harus mengakui:

Kita bukan Tuhan.

Manusia bisa membangun kereta supercepat, membuat jalan menembus pegunungan, menciptakan teknologi luar biasa.
Tetapi kita tidak bisa memerintah awan sesuka hati.

Pertanyaannya kemudian:
Apakah sukacita saya ikut berhenti karena hujan tidak berhenti?

Nah, justru di sinilah Yohanes 14:21 terasa semakin nyata.

Mungkin “make Myself real to him” bukan hanya ketika Tuhan memberikan apa yang saya minta.

Kadang Yesus justru menjadi sangat nyata ketika keadaan tidak sesuai keinginan, tetapi saya menemukan sesuatu di dalam hati saya sudah berubah.

Dulu mungkin kecewa.
Ngomel.
Sudah jauh-jauh datang ke sini, kok malah hujan?
Sekarang?
Dibawa happy saja.

Kami tetap menikmati perjalanan.
Lihat-lihat ke sekeliling.

Eh… ada bunga-bunga cantik.
Jepret!
Cakep juga.
Ha… ha….

Saya belajar, kita tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi di luar, tetapi kita tidak perlu menyerahkan remote control hati kita kepada keadaan.

Inilah yang dikatakan Kolose 3:15:
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu…”

Perhatikan kata memerintah.

Berarti bukan cuaca yang memerintah.
Bukan komentar orang.
Bukan keadaan bisnis.
Bukan perubahan rencana.
Bukan pula apakah doa kita dijawab persis seperti keinginan kita.

Damai Kristus yang memerintah.

Paulus berkata dalam Filipi 4 bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Saya suka kata belajar.

Artinya kedewasaan tidak otomatis terjadi.

Kita berlatih.
Hari ini cuaca.
Besok mungkin bisnis.
Lain kali hubungan.
Atau rencana yang tiba-tiba berubah.

Setiap kesempatan menjadi tempat kita belajar:
Apakah keadaan mengendalikan hati saya, atau Kristus yang memerintah di sana?

Dan saya mulai melihat sesuatu yang lebih dalam.

Di Chaka, saya mengenal kebaikan Tuhan ketika hujan berhenti.

Di Qinghai & Kanbula, saya juga dapat mengenal kebaikan Tuhan ketika hujan tetap turun.

Wow.

*Ternyata kebaikan Tuhan tidak berubah mengikuti cuaca.*

Kalau iman kita hanya bersukacita ketika keadaan sesuai doa, kita akan mudah naik turun.

Tetapi ketika kita mengenal Pribadi-Nya, kita bisa berkata:
Saya suka kalau hujannya berhenti.
Kalau tetap hujan?
Tuhan tetap baik.
Mari kita cari bunga cantik!

Ha… ha….

Why?
Saya mengenal karakter Bapa saya yang mengasihi saya tanpa syarat. Meski saya tidak tahu alasannya, saya percaya kepada-Nya: kebaikan-Nya, pertimbangan-Nya dan pilihan-Nya.

Tidak perlu saya mencari alasan yang rohani yang masuk akal.
Tidak semua dalam hidup bisa kita pahami dengan otak kita yang hanya sebesar kacang – “Your Peanut Brain”, kata Greg Mohr, guru saya.

Mungkin inilah salah satu bentuk *distinction* yang sesungguhnya.

Bukan tampil berbeda supaya orang kagum.

Tetapi begitu mengenal Kristus sehingga ketika cuaca kehidupan berubah, sesuatu dari Kristus tetap terlihat melalui kita.

Damai-Nya.
Sukacita-Nya.
Kemampuan menikmati kehidupan.
Rasa syukur.
Dan ketenangan yang tidak mudah dicuri keadaan.

Jesus makes Himself real to us, bukan hanya melalui mukjizat yang mengubah keadaan, tetapi juga melalui transformasi yang mengubah cara kita menjalani keadaan.

Akhirnya saya belajar:

Mukjizat bukan hanya ketika hujan berhenti. Kadang mukjizat yang lebih dalam adalah ketika hujan tetap turun, tetapi sukacita kita tidak ikut hanyut bersamanya.

Damai Kristus memerintah hatiku.

Hujan atau cerah…

He is here. And I am okay.

“You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – St. Augustine

“Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan tenang sampai menemukan ketenangannya di dalam-Mu.” – St. Augustine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

*”Yesus menjadi nyata bukan hanya ketika Dia mengubah apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi ketika kehadiran-Nya mengubah apa yang terjadi di dalam kita.”*

*”Jesus becomes real not only when He changes what happens around us, but when His presence changes what happens within us.” – Yenny Indra*

Read More
Articles

Qinghai: Ketika Hujan Mengubah Itinerary…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Qinghai: Ketika Hujan Mengubah Itinerary…

Hari kedua perjalanan kami di Qinghai, tujuan utamanya adalah Qinghai Lake, danau air asin pedalaman terbesar di Tiongkok.

Danau ini benar-benar besar. Luasnya sekitar 4.600 kilometer persegi, sementara Pulau Bali sekitar 5.600 kilometer persegi.

Bayangkan, sebuah danau luasnya hampir menyamai Pulau Bali!

Pantas ketika memandangnya, rasanya bukan sedang melihat danau.

Lebih mirip laut.

Air membentang luas sampai ke horizon. Qinghai Lake berada di dataran tinggi sekitar 3.200 meter di atas permukaan laut dan juga terkenal sebagai habitat serta tempat persinggahan berbagai jenis burung migran.

Kami sudah membayangkan berjalan di area tepi danau, melihat burung-burung beterbangan di pantai, memberi mereka makan….
Sayangnya hari itu hujan.

Bukan hujan sebentar lalu berhenti.
Hujan terus turun.
Kami tidak bisa turun menikmati tepi danau dan berfoto seperti yang sudah dibayangkan. Akhirnya Qinghai Lake kami nikmati dari kejauhan sambil minum kopi.

Ya sudah…
Dibawa happy saja.

Sehebat apa pun manusia membuat itinerary, tetap ada hal-hal yang tidak bisa kita atur.
Salah satunya cuaca.

Tetapi ternyata ceritanya belum selesai.

Ketika kami berjalan menuju toilet, eh… di dekat toilet justru ada bunga warna-warni yang cantik

Merah, kuning, ungu dan berbagai warna lainnya tersusun seperti karpet hidup.

Nah…

Yang di danau tidak bisa foto, di dekat toilet malah dapat spot foto!

Ha… ha….

Langit boleh kelabu, tetapi bunga-bunganya tetap cerah.
Jepret… jepret….
Cakep juga ternyata!

Kadang traveling memang lucu. Kita sudah membayangkan akan mendapatkan foto terbaik di tempat wisata utama, ternyata tidak bisa. Eh, justru menemukan sesuatu yang cantik di tempat yang sama sekali tidak diperhitungkan.

P. Indra bahagia, sibuk mengubah foto-foto teman-teman menjadi video lucu-lucu dengan AI.
Ternyata, selalu ada cara kreatif menikmati sesuatu bukan?

Keesokan harinya, itinerary kami seharusnya menuju Kanbula National Forest Park.

Ternyata hujan belum juga berhenti.
Bahkan hujan turun terus sepanjang hari hingga malam.

Saat itu pemerintah Tiongkok memang sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem. Beberapa hari sebelumnya, kawasan perbatasan Nepal–Tibet baru saja mengalami bencana banjir bandang yang sangat dahsyat akibat runtuhnya gletser dan material batu di Himalaya. Air, lumpur dan bebatuan menerjang lembah, menghancurkan permukiman, jalan serta jembatan. Ratusan orang meninggal dan banyak lainnya masih dinyatakan hilang.

Di Qinghai sendiri, hujan lebat saat itu meningkatkan risiko banjir, longsor dan aliran lumpur sehingga pemerintah setempat meningkatkan status kesiapsiagaan di sejumlah wilayah.

Safety first.

Kanbula pun ditutup untuk pengunjung.

Sayang memang, karena sepanjang perjalanan kami bisa melihat betapa uniknya kawasan Kanbula.

Pegunungannya berwarna kemerahan,tanahnya berwarna merah, berpadu dengan pepohonan hijau, sementara beberapa bagian mulai berwarna kuning.
Merah, hijau, kuning…
Menarik….

Meski tidak bisa masuk ke kawasan wisatanya, setidaknya kami masih bisa menikmati pemandangannya dari perjalanan.

Karena Kanbula tutup, perjalanan dilanjutkan menuju Guide Ancient City.

Kami berjalan-jalan di kawasan kota tua tersebut dan mengunjungi sebuah monastery. Suasananya sangat berbeda dari Qinghai Lake. Perjalanan ini memang menarik—dalam beberapa hari saja kami berpindah dari danau garam, pegunungan, kota tua, hingga monastery.

After lunch, perjalanan dilanjutkan menuju Kumbum Monastery, yang juga dikenal sebagai Ta’er Temple, dekat Xining.

Kumbum merupakan salah satu biara Buddha Tibet yang paling penting di Qinghai dan salah satu pusat utama tradisi Gelug dalam Buddhisme Tibet. Kompleksnya luas, sehingga kami menggunakan shuttle bus untuk menjelajahinya.

Dua hari di Qinghai benar-benar mengajarkan bahwa traveling tidak selalu berjalan sesuai itinerary.

Qinghai Lake hujan.
Tidak bisa foto di tepi danau.
Kanbula malah tutup.
Rencana berubah.

Tetapi kami tetap minum kopi, menemukan hamparan bunga cantik dekat toilet, menikmati pegunungan merah dari kejauhan, mengunjungi kota tua dan melihat monastery-monastery yang menarik.

Tidak semua yang direncanakan berhasil dikunjungi, tetapi selalu ada sesuatu yang bisa dinikmati.
Bukankah justru kejadian-kejadian seperti inilah yang kelak paling seru diceritakan?

Hari ini saatnya kami meninggalkan Xining.
Sebelum menuju train station, kami sempat mampir ke pasar tradisional. Menarik melihat kue-kue, buah dan sayuran segar dengan harga yang sangat murah. Bahkan masih ada kue hangat, lezat ala jadul yang kalau dikonversikan harganya sekitar seribu rupiah. Peach segar pun hanya sekitar 5 yuan.

Kami mencicipi berbagai jajanan sambil bercanda dan tertawa bersama teman-teman.

Ternyata bahagia saat traveling tidak selalu harus datang dari tempat wisata spektakuler. Menikmati jajanan sederhana dan tertawa bersama teman pun bisa menjadi kenangan yang menyenangkan.

Perjalanan dilanjut dengan bullet train dari Xining menuju Xi’an.

Bye-bye Qinghai…

Xi’an, here we come!

Itinerary boleh berubah.

The journey continues.


“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” – John Lennon

“Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat rencana-rencana lain.” – John Lennon

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Ketika tempat yang kita tuju tertutup, jangan ikut menutup mata. Bisa jadi keindahan sedang menunggu di tempat yang tidak kita rencanakan.”

“When the place we planned to visit is closed, don’t close your eyes with it. Beauty may be waiting somewhere we never planned to find” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 5 427