Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Svalbard: A Story from 78° North

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Svalbard: A Story from 78° North

Hari ini kami meninggalkan Tromsø menuju Longyearbyen, kota utama di Kepulauan Svalbard.

Sejak awal saya sudah tahu bahwa perjalanan ini akan berbeda.
Tetapi saya tidak menyangka akan seunik ini.

Meski berada di bawah kedaulatan Norwegia, Svalbard memiliki status khusus berdasarkan Svalbard Treaty. Itulah sebabnya sebelum naik pesawat kami harus melewati pemeriksaan paspor dan imigrasi.

Rasanya aneh.
Masih Norwegia.
Tetapi seperti pergi ke negara lain.

Begitu pesawat mulai mendekati Svalbard, saya langsung menempel ke jendela.

Wow…

Pemandangan di bawah sungguh luar biasa.

Gunung-gunung batu raksasa dengan bentuk yang berbeda-beda berdiri megah di tengah hamparan salju putih. Ada yang menyerupai benteng purba, ada yang bergelombang, ada yang tampak seperti ukiran alam yang belum pernah tersentuh manusia.

Perpaduan warna putih salju dan hitam kecokelatan batu menciptakan pemandangan yang jarang sekali kita lihat di Indonesia.

Saya akhirnya mengerti mengapa banyak orang menyebut penerbangan menuju Svalbard sebagai Panoramic Flight.

Tujuannya memang unik.
Tetapi perjalanan menuju ke sana sama spektakulernya.

Begitu pesawat mendarat, kami tiba di Longyearbyen.
Di mana-mana terlihat tulisan:

“The Northernmost Airport in the World.”

Kerennya!
Dan memang itulah salah satu kebanggaan mereka.
Bandara komersial berjadwal paling utara di dunia.

Lucunya, setelah semua penumpang keluar, suasana langsung sepi.
Bandara kecil itu seperti kembali tertidur.
Tidak banyak penerbangan datang ke sini setiap hari.

Tidak banyak manusia yang hidup sedekat ini dengan Kutub Utara.

Ketika saya bercerita kepada teman-teman bahwa saya akan ke ujung dunia: Svalbard, banyak yang bertanya,

“Bukannya ujung dunia itu Nordkapp?”

Memang Nordkapp sangat terkenal.
Tetapi Nordkapp berada di sekitar 71° lintang utara.

Sementara Longyearbyen berada di 78° lintang utara.
Artinya kami berada ratusan kilometer lebih dekat ke Kutub Utara dibanding Nordkapp.

Di halaman bandara bahkan terdapat penanda besar bertuliskan 78° North, lengkap dengan jarak menuju berbagai kota besar dunia.

Rasanya benar-benar seperti berdiri di ujung peta.

Yang membuat saya semakin kagum adalah kehidupan di sini.
Jumlah penduduk Longyearbyen hanya sekitar 2.500–3.000 orang.

Tetapi kota kecil ini memiliki sekolah, universitas, supermarket, museum, rumah sakit, gereja, hotel, pelabuhan, bahkan pusat penelitian internasional.
Lengkap.
Seperti dunia mini yang berdiri sendiri di tepi Kutub Utara.

Namun jangan salah.

Di Svalbard, manusialah yang menjadi tamu.
Alam tetap menjadi penguasa sesungguhnya.

Ratusan beruang kutub berkeliaran bebas di luar kawasan permukiman. Karena itu siapa pun yang bepergian keluar kota wajib membawa senjata atau perlengkapan perlindungan khusus.

Ini mungkin satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi di mana manusia benar-benar sadar bahwa mereka bukan penguasa alam.
Mereka hanya menumpang hidup di dalamnya.

Kota Longyearbyen sendiri tidak besar.
Berjalan kaki beberapa menit saja, kita sudah merasa mengenal sebagian besar pusat kotanya.

Kami menginap di Radisson Blu Polar Hotel, hotel terbesar dan paling terkenal di Longyearbyen.

Dari hotel terlihat pelabuhan kecil yang menjadi pintu masuk banyak kapal ekspedisi Arctic.
Sebagian besar kapal yang datang ke sini bukan kapal pesiar biasa.

Mereka adalah kapal ekspedisi yang membawa peneliti, fotografer, pencinta alam, dan petualang menuju kawasan Kutub Utara.
Biayanya terkenal sangat mahal.

Tetapi hari itu kami juga melihat Viking Cruise bersandar, kapal pesiar mewah yang membawa wisatawan menikmati keindahan Arctic dengan lebih nyaman.

Menariknya, kota yang biasanya tenang ini bisa mendadak ramai ketika beberapa kapal datang bersamaan.
Ribuan orang tiba-tiba membanjiri jalan-jalan kecil Longyearbyen.

Satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah bentuk rumah-rumahnya.
Hampir semuanya berdiri di atas tiang seperti rumah panggung.

Why?

Karena tanah di bawahnya adalah permafrost, lapisan tanah yang membeku sepanjang tahun.

Jika bangunan langsung menempel ke tanah, panas dari bangunan dapat mencairkan lapisan es dan merusak fondasi.
Karena itulah rumah-rumah di sini dibuat “mengambang” di atas tiang.

Unik sekali.

Permafrost ini juga memengaruhi seluruh kehidupan di Svalbard.

Tidak ada hutan.
Tidak ada perkebunan.
Tidak ada sawah.
Hampir semua kebutuhan hidup harus didatangkan dari mainland Norway.

Sayur-mayur.
Buah-buahan.
Material bangunan.
Peralatan rumah tangga.
Semuanya.
Karena alam di sini memang tidak dirancang untuk pertanian seperti yang kita kenal.

Bahkan para ibu hamil biasanya harus terbang ke Tromsø beberapa minggu sebelum melahirkan karena fasilitas persalinan lengkap tidak tersedia di Svalbard.

Orang-orang yang membutuhkan perawatan medis khusus juga biasanya dipindahkan ke daratan utama Norwegia.

Awalnya saya berpikir, betapa sulitnya hidup di sini.
Tetapi semakin lama saya melihat, semakin saya kagum.

Di tengah salju.
Di tengah es.
Di tengah keterbatasan.
Orang-orang tetap hidup.

Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap membangun keluarga.
Tetap bermimpi.

Dan saya kembali diingatkan bahwa Tuhan menciptakan dunia yang jauh lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan.

Di Indonesia kita menikmati hutan tropis yang hijau sepanjang tahun.
Di Svalbard saya melihat dunia batu, salju, es, dan laut yang membentang tanpa akhir.

Berbeda.
Tetapi sama-sama indah.
Sama-sama memukau.
Dan sama-sama menceritakan kebesaran Sang Pencipta.

Semakin jauh saya melangkah ke utara, semakin saya menyadari satu hal:

Dunia ini luar biasa besar. Tetapi Tuhan yang menciptakannya jauh lebih besar lagi.

“The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of His hands.”

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tromso : Seniman Tetap Berkarya di Usia 93 Tahun….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tromso : Seniman Tetap Berkarya di Usia 93 Tahun….

Pagi ini kami meninggalkan Sommarøy menuju Tromsø, kota terbesar di kawasan Arctic Norwegia.*

Tromsø sering disebut sebagai Gateway to the Arctic, gerbang menuju Kutub Utara. Sebagian kota berada di Pulau Tromsøya, sementara sebagian lainnya berada di daratan utama Norwegia. Keduanya dihubungkan oleh jembatan dan terowongan yang menjadi urat nadi kehidupan kota ini.

Tujuan pertama kami adalah Fjellheisen, gondola yang membawa wisatawan naik ke Gunung Storsteinen setinggi sekitar 421 meter di atas permukaan laut.

Hanya sekitar empat menit perjalanan.
Tetapi pemandangan di atas sungguh luar biasa.
Arctic Cathedral terlihat kecil di kejauhan.
Jembatan Tromsø membentang anggun di atas air.

Pelabuhan dipenuhi kapal-kapal yang datang dan pergi.
Sementara pegunungan bersalju berdiri mengelilingi kota seperti benteng alam yang megah.

Norwegia memang negeri yang dekat dengan alam.
Bahkan terowongan pun dibuat menarik.
Di Tromsø ada terowongan unik yang memiliki jalur berputar di dalam gunung. Saat melintas, lampu-lampu warna-warni di langit-langit menyambut kendaraan yang lewat.

Fungsinya sederhana.
Tetapi dibuat indah.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa hidup di sini terasa menyenangkan.
Mereka tidak hanya membangun sesuatu agar berfungsi, tetapi juga agar bisa dinikmati.

Ski Jump, olah raga yang terkenal di Tromso.

Namun kejutan terbesar hari itu justru datang dari tempat yang tidak kami rencanakan.

Driver kami, Roar, yang sudah menemani perjalanan selama tujuh hari, mengajak kami ke sebuah spot foto tambahan yang bahkan menurut Bu Rita dari TX Travelbelum pernah ia kunjungi selama puluhan kali datang ke Tromsø.

Di sana berdiri sebuah karya mosaik besar yang membingkai pemandangan Arctic Cathedral, jembatan, pelabuhan, dan gunung bersalju di belakangnya.

Cantik sekali.

Seolah-olah seseorang sengaja membuat pigura untuk salah satu pemandangan terbaik di Tromsø.

Saat itulah saya mendengar kisah yang lebih menarik lagi.
Karya mosaik tersebut dibuat oleh seorang seniman Norwegia bernama Marit Bockelie.

Yang membuat saya tertegun bukan hanya karyanya.
Tetapi usianya.
Saat ini ia telah berusia lebih dari 90 tahun.
Bahkan salah satu karya mosaik monumentalnya di Tromsø diselesaikan ketika usianya sekitar 93 tahun.

Saya langsung terdiam.
Sembilan puluh tiga tahun.
Di usia ketika banyak orang merasa hidupnya sudah selesai.
Di usia ketika sebagian orang mulai menghitung hari-hari yang tersisa.

Perempuan ini masih berkarya.
Masih mencipta.
Masih meninggalkan jejak.
Masih memberi keindahan kepada dunia.

Bukankah itu luar biasa?

Sering kali kita berkata,
“Saya sudah terlalu tua.”
“Saya sudah terlambat.”
“Sudah bukan waktunya lagi.”

Tetapi ternyata umur tidak pernah menjadi penghalang utama.
Sering kali yang menjadi penghalang adalah cara berpikir kita.

Marit Bockelie mengingatkan saya bahwa selama Tuhan masih memberi napas, artinya masih ada tugas dari Tuhan, selalu ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Selalu ada sesuatu yang bisa dibagikan.
Selalu ada sesuatu yang bisa ditinggalkan sebagai warisan.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya teringat pula pada Roar.

Menurut Bu Rita, selama sepuluh tahun membawa rombongan wisata dari berbagai negara, Roar mengatakan grup kami yang paling ramah.

Kami suka tersenyum.
Suka menyapa, mengucapkan terima kasih.
Hal-hal kecil yang sering kali dianggap biasa.
Tetapi rupanya meninggalkan kesan.
Dan mungkin karena itulah kami mendapat bonus spot foto yang tidak ada dalam itinerary.

Saya kembali diingatkan pada satu prinsip sederhana.

Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.

Kadang bukan dalam bentuk uang.
Bukan pula dalam bentuk hadiah.
Tetapi dalam bentuk pintu yang terbuka.
Pertemuan yang menyenangkan.
Atau pengalaman indah yang tidak direncanakan.

Malam itu kami menginap di Radisson Blu Tromsøyang berada tepat di tepi pelabuhan.

Sambil memandang kapal-kapal yang berlabuh, saya merenungkan satu hal.

Hari ini saya belajar dari seorang sopir bus yang ramah.
Dan saya belajar dari seorang seniman berusia 93 tahun yang masih berkarya.
Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama.

Jangan berhenti memberi yang terbaik.
Karena kita tidak pernah tahu siapa yang sedang diberkati oleh apa yang kita lakukan.

“The meaning of life is to find your gift. The purpose of life is to give it away.”— Pablo Picasso.

“Makna hidup adalah menemukan karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Tujuan hidup adalah membagikannya kepada orang lain.” — Pablo Picasso.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Melewati sebuah jembatan sepanjang sekitar 600 meter yang hanya cukup dilalui satu mobil secara bergantian, akhirnya kami tiba di tujuan utama perjalanan ini.: Sommarøy, yang dikejar karena terpesona kisah di Tiktok.

Pulau kecil di kawasan Arctic yang selama setahun terakhir hanya saya lihat di video-video perjalanan.

Kini saya benar-benar berada di sana.
Kami sudah berada di sekitar 69° Lintang Utara.
Masuk jauh ke kawasan Arctic, alias kutub utara.

Dan semakin saya melihatnya, semakin saya mengerti mengapa banyak orang menyebut Norwegia sebagai Stairway to Heaven.

Sebelum memasuki Sommarøy, perhatian saya tertuju pada sebuah pulau bergerigi yang berdiri gagah di tengah laut.

Namanya Pulau Håja.

Bentuknya begitu khas sehingga banyak orang percaya pulau inilah yang menginspirasi desain Arctic Cathedral di Tromsø yang terkenal itu.

Arsiteknya, Jan Inge Hovig, ternyata sengaja membiarkan misteri itu tetap hidup.

Kadang ia mengatakan inspirasinya berasal dari gunung es.
Kadang dari tenda suku Sami.
Kadang dari rak pengering ikan.
Kadang pula dari Pulau Håja.

Sampai beliau meninggal dunia, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.
Dan mungkin memang tidak semua keindahan harus dijelaskan.
Sebagian cukup dikagumi.

Sommarøy sendiri hanya dihuni sekitar 300 penduduk.
Sebagai perbandingan, seluruh kepulauan Lofoten yang begitu luas hanya memiliki sekitar 28.000 penduduk.

Tetapi yang membuat saya kagum, pulau kecil ini memiliki hampir semua yang dibutuhkan.

Ada sekolah.
Ada supermarket.
Ada museum kecil.
Ada pelabuhan.
Ada fasilitas umum.
Lengkap.
Seperti sebuah dunia mini yang berdiri sendiri di tengah lautan Arctic.

Pulau ini juga dikelilingi banyak pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Dari kejauhan tampak seperti batu-batu zamrud yang ditaburkan Tuhan di atas laut biru kehijauan.

Dan warna lautnya sungguh luar biasa.
Ketika langit mendung, air laut berubah menjadi abu-abu lembut.
Tetapi begitu matahari muncul, warnanya berubah menjadi hijau turquoise yang memukau.
Seolah-olah seseorang baru saja mengganti warna seluruh lautan.

Kami menginap di Sommarøy Arctic Hotel, satu-satunya hotel besar di pulau itu.
Dan tentu saja lokasinya yang terbaik.
Hotel ini memiliki lagoon sendiri.
Pantai pribadi.
Pasir putih.
Air sebening kristal.
Dan pemandangan yang membuat kita sulit berhenti memotret.

Malam itu suhu sekitar delapan derajat Celsius.
Bagi kami dingin.
Tetapi puluhan remaja Norwegia masih berenang dan bermain di pantai.
Padahal jam sudah malam.
Atau setidaknya seharusnya malam.

Karena di sini, malam dan siang menjadi konsep yang membingungkan.
Langit tetap terang.
Matahari masih bercahaya.
Dan tubuh kita seperti kehilangan orientasi waktu.

Ada satu spot yang sangat cantik di tengah Sommarøy.
Tiga rumah mungil yang berdiri anggun menghadap laut.
Persis seperti kartu pos.
Saya berfoto di sana.
Ternyata Private property.

Di Norwegia, hak milik pribadi benar-benar dihormati.
Tidak boleh sembarangan masuk.
Tidak boleh sembarangan parkir.
Bahkan untuk mengambil foto pun ada batas yang harus dihormati.

Awalnya terasa merepotkan.
Tetapi kemudian saya mengerti.
Mungkin karena itulah tempat-tempat seperti ini tetap terjaga keindahannya.

Namun keunikan terbesar Sommarøy bukanlah pantainya.
Bukan pula hotelnya.

Melainkan sebuah ide yang membuat dunia tercengang.

Pada tahun 2019, seorang warga bernama Kjell Ove Hveding mengusulkan agar Sommarøy menjadi Time-Free Zone, zona bebas waktu pertama di dunia.

Alasannya sederhana.
Selama musim panas, matahari tidak benar-benar terbenam selama sekitar 69 hari.

Siang dan malam menjadi kabur.
Jam tujuh malam terasa seperti jam dua siang.
Jam dua pagi bisa terasa seperti sore hari.
Kalau ingin minum kopi di pantai jam dua pagi, silakan.
Kalau ingin berenang jam empat pagi, juga silakan.

Bahkan saat kampanye itu diluncurkan, sebagian warga benar-benar menyimpan jam tangan mereka di laci.

Sebagian melepas jam dinding dari rumah.
Mereka ingin hidup mengikuti cahaya dan musim, bukan jarum jam.

Media internasional langsung heboh.
Lebih dari 1.600 media dunia memberitakannya.
Jangkauannya mencapai sekitar 1,2 miliar pembaca global.

Yang lebih mengejutkan lagi, belakangan diketahui bahwa kampanye tersebut merupakan strategi promosi wisata yang sangat cerdas.
Biayanya hanya sekitar 60.000 dolar AS.
Tetapi nilai publisitas yang dihasilkan diperkirakan mencapai 11,4 juta dolar AS.
Brilian.

Sebuah pulau kecil berpenduduk 300 orang berhasil membuat dunia membicarakan dirinya.

Namun setelah berada di sini, saya merasa keberhasilannya bukan semata karena pemasaran yang hebat.
Melainkan karena mereka menjual sesuatu yang memang dirindukan banyak orang.

Mereka menjual sebuah pertanyaan.
*Bagaimana jadinya jika hidup kita tidak terus-menerus dikuasai oleh waktu?*

Karena sesungguhnya banyak orang lelah.
Lelah mengejar jadwal.
Lelah mengejar target.
Lelah mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya.

Sommarøy seolah berbisik,
“Sesekali, lepaskan jam tanganmu.”

Bukan secara harfiah.
Tetapi di dalam hati.
Berhentilah sejenak.

Nikmati momen yang sedang Tuhan berikan.

Karena hidup bukan hanya soal mengelola waktu.

Tetapi juga tentang menikmati waktu yang telah dianugerahkan kepada kita.

“Jangan terlalu sibuk menghitung waktu hingga lupa menikmati kehidupan yang Tuhan berikan.”
Setuju?

“The butterfly counts not months but moments, and has time enough.”— Rabindranath Tagore .

“Kupu-kupu tidak menghitung bulan, melainkan momen. Dan itu sudah cukup baginya.” — Rabindranath Tagore .

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Husøy, Norway: Tuhan Menyimpan Kejutan di Tempat yang Tidak Kita Rencanakan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Husøy, Norway:Tuhan Menyimpan Kejutan di Tempat yang Tidak Kita Rencanakan…

“Bye Bye Lofoten…”
Bus kami perlahan meninggalkan kepulauan yang selama bertahun-tahun saya idamkan.

Tujuan berikutnya adalah Sommarøy.

Namun karena jaraknya terlalu jauh untuk ditempuh sekaligus, kami harus bermalam terlebih dahulu di Husøy, sebuah pulau kecil di ujung Senja Island.

Saat itu saya menganggapnya hanya sebagai tempat transit.
Sekadar tempat menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan.

Saya tidak tahu bahwa Tuhan sedang menyiapkan kejutan.

Perjalanan dari Svolvær menuju Husøy ternyata menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan.

Kami menyusuri National Scenic Route Senja, jalur ikonik sepanjang pantai yang sering disebut sebagai salah satu rute terindah di Norwegia.

Tidak heran jika banyak orang menjuluki negeri ini sebagai Stairway to Heaven, Tangga menuju Surga.

Sepanjang perjalanan, mata seolah tidak pernah diberi kesempatan untuk bosan.

Gunung.
Laut.
Salju.
Langit.
Semuanya bergantian memamerkan kecantikannya.

Di laut berkali-kali terlihat lingkaran-lingkaran besar mengapung.

“Itu salmon farm,” kata B. Rita.

Mereka menyebutnya Ring of Money.
Lingkaran uang.
Gudang duit.
Dan memang benar.
Di balik lingkaran-lingkaran sederhana itu tersimpan salah satu kekayaan terbesar Norwegia, Salmon.

Lalu menjelang tiba di Husøy, bus berhenti.

Pulau mungil yang berdiri sendiri di tengah laut dan hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan pendek ke daratan utama Senja.

Kami berfoto bersama.
Dan saya langsung terpana.

Di tengah lautan berdiri sebuah pulau kecil yang cantik.
Sebagiannya dikelilingi gunung hijau.
Di sisi lain berdiri gunung batu hitam yang dihiasi salju abadi.

Pemandangan itu begitu memukau.
Begitu asli.
Begitu murni.

Sampai-sampai saya bingung harus memilih foto yang mana untuk mewakilinya.

Setiap sudut terasa layak menjadi kartu pos.

Barulah saya teringat sesuatu.
Bertahun-tahun lalu ketika merencanakan perjalanan sendiri bersama P. Indra, saya memang pernah membaca tentang Husøy.

Saya tahu, salah satu pilihan menginap di Senja Island ya .. di Husøy.
Tetapi saya tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Saya tidak sadar bahwa tempat ini sesungguhnya salah satu impian kecil yang selama ini tersimpan di hati saya.

Saya selalu membayangkan suatu hari bisa menginap di sebuah pulau kecil yang terpencil.

Dikelilingi laut, gunung cantik, burung-burung beterbangan, dengan kicaunya…
Jauh dari keramaian.

Dan ternyata tanpa saya sadari, Tuhan sedang membawa saya tepat ke tempat seperti itu.

Ketika memasuki kamar hotel, saya kembali dibuat terdiam.

Bangunannya mengingatkan saya pada rorbuer, rumah nelayan khas Norwegia.
Tetapi versi modern.
Hangat.
Minimalis.
Elegan.

Yang paling memukau adalah jendela kaca raksasa dari lantai hingga hampir menyentuh plafon.

Tepat di depan tempat tidur terbentang gunung hijau, gunung batu, salju, dan laut yang tenang.

Malam itu kami sengaja tidak menutup tirai blackout.
Sayang rasanya.
Terlalu indah untuk dilewatkan.

Menurut Bu Rita, hotel dan makanan di tempat transit ini justru lebih mahal dibanding beberapa lokasi lain yang kami kunjungi.

Saat itu saya belum mengerti.

Sekarang saya mengerti.
Dan menurut saya, semuanya sepadan.

Bahkan sebuah toilet stop di perjalanan pun memberi kejutan.
Bus berhenti di sebuah toilet umum di tengah perjalanan.

Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya itu yang saya kira.
Ternyata tepat di depannya terbentang jembatan cantik yang menghubungkan pantai-pantai kecil.
Di belakangnya berdiri gunung-gunung batu runcing.

“Gunung gigi monster,” kata Pak Anton.

Kami semua tertawa.
Tetapi memang benar.
Bentuknya seperti deretan gigi raksasa yang muncul dari bumi.

Cantiknya luar biasa.
Padahal itu hanya toilet stop.
Bayangkan.

Kami lunch di Skaland sebelum menyeberang dengan ferry menuju Sommarøy.
Sekali lagi saya menemukan pemandangan yang membuat saya terdiam.

Dan di situlah saya semakin mengerti sesuatu.

Sering kali kita terlalu fokus pada tujuan.
Padahal Tuhan juga bekerja di sepanjang perjalanan.

Kita sibuk memikirkan tempat yang ingin kita datangi.
Sementara Dia sedang menyiapkan hadiah-hadiah kecil di tempat yang tidak pernah kita masukkan ke dalam daftar.

Saya datang ke Norwegia dengan impian melihat Lofoten.
Tetapi Tuhan juga memperkenalkan saya kepada Husøy.

Dan mungkin itu gambaran kehidupan.
Kita punya rencana.
Tuhan punya kejutan.

Dan sering kali kejutan-Nya jauh lebih indah daripada rencana kita.

Melihat ciptaan-Nya yang begitu megah dan memukau membuat saya semakin mengenal sisi lain dari kebaikan Tuhan.

Dia bukan hanya menjawab doa.
Dia juga senang memberi kejutan.
Karena Tuhan yang kita sembah adalah Bapa yang jauh lebih baik daripada yang mampu kita bayangkan.

Kadang Dia memberikan apa yang kita minta.
Tetapi sering kali Dia memberikan lebih dari yang pernah kita pikirkan.

Dan ketika itu terjadi, kita hanya bisa tersenyum, bersyukur, lalu berkata, menirukan kalimat topnya Mbah Surip
“Tuhan, I love You Full….”

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”- Marcel Proust.

“Perjalanan penemuan yang sesungguhnya bukanlah mencari pemandangan baru, melainkan memiliki cara pandang yang baru.”- Marcel Proust.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Tertawa bersama adalah bagian dari berkat Tuhan.

Laughing together is one of God’s blessings.
– Yenny Indra

Read More
Articles

Bau Ikan, Burung Camar, dan Orang-Orang yang Berjalan Bersama Kita

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bau Ikan, Burung Camar, dan Orang-Orang yang Berjalan Bersama Kita

Semakin lama saya berada di Lofoten, semakin saya sadar bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar tentang melihat tempat-tempat indah.

Justru yang membuat saya terkesan adalah kehidupan yang berlangsung di balik pemandangan itu.

Hari ini kami mengunjungi Nusfjord, Ballstad, dan Stamsund.

Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda.

Sejak pagi matahari bersinar penuh.
Langit biru.
Laut tenang.

Dan untuk pertama kalinya saya benar-benar memperhatikan para penghuni asli Lofoten, teutama di Nusfjord, yang sesungguhnya adalah Burung camar.
Mereka ada di mana-mana.
Di tebing-tebing batu.
Di pelabuhan.

Bahkan di atas atap-atap rorbuer.

Karena itu kami harus berhati-hati saat berjalan atau berfoto.

Kalau tidak, bisa saja mendapat “oleh-oleh” dari udara!

Burung-burung itu tampak begitu bebas.
Seolah mereka yang memiliki Lofoten, sementara kami hanya tamu yang datang berkunjung.

Untuk mendapatkan beberapa foto terbaik, kami harus memanjat batu-batu di perbukitan.

Begitu sampai di atas, pemandangan yang terbentang sungguh luar biasa.

Laut yang tenang seperti kaca.

Kapal-kapal nelayan yang beristirahat di pelabuhan.

Tebing-tebing batu yang berdiri kokoh menjaga teluk.

Saya kembali belajar bahwa pemandangan terbaik sering kali membutuhkan sedikit usaha ekstra.
Dari bawah kita hanya melihat sebagian.
Dari atas kita melihat keseluruhan.

Di Nusfjord kami juga bertemu seorang wanita Norwegia yang mengenakan batik.
Tentu saja saya langsung menyapanya.
Ternyata beliau sudah tiga kali mengunjungi Indonesia.

Bali.
Sumba.
Dan Lombok.

Saya tersenyum bangga.

Di sebuah desa nelayan kecil di ujung Norwegia, saya bertemu seseorang yang begitu menghargai budaya Indonesia.

Hari itu saya kembali diingatkan bahwa dunia sebenarnya tidak sebesar yang kita bayangkan.

Di tengah perjalanan yang jauh, kita sering menemukan hal-hal yang terasa seperti rumah.

Makan siang sudah termasuk dalam paket kunjungan.

Dan lagi-lagi…
Ikan dan udang.
Awalnya menyenangkan.

Tetapi setelah beberapa hari berturut-turut, saya mulai merindukan nasi goreng, Soto, Rawon Indonesia.

Mungkin itulah salah satu tanda bahwa saya benar-benar sedang jauh dari rumah.

Untunglah dinner kami, Japanese food. Sushi, chiken karage, set menu dengan nasi plus pisang goreng ice cream penutupnya. Cocok di lidah.

Dari Nusfjord kami melanjutkan perjalanan ke Ballstad.

Kalau Reine terkenal karena keindahannya, maka Ballstad terkenal karena aromanya.

Aroma ikan.

Di beberapa sudut desa, bau ikan cod cukup kuat tercium.

Namun menariknya, penduduk lokal memiliki cara pandang yang berbeda.

Bagi mereka, itulah aroma penghidupan.
Aroma yang membangun rumah-rumah mereka.
Menyekolahkan anak-anak mereka.
Membeli kapal-kapal mereka.
Dengan kata lain, bau ikan adalah bau uang.

Saya langsung teringat bahwa sering kali kita mengeluh tentang hal-hal yang setiap hari kita temui, padahal mungkin justru itulah berkat yang menopang kehidupan kita.

Kemudian kami tiba di Stamsund.

Di sini suasananya terasa berbeda.
Tidak seindah Reine.
Tidak seartistik Henningsvær.
Tetapi lebih nyata sebagai kota nelayan yang bekerja.

Kapal-kapal penangkap ikan berukuran besar memenuhi pelabuhan.
Rorbuer yang berdiri di sepanjang pantai juga terlihat lebih baru, lebih besar, dan lebih modern.

Berbeda dengan Reine yang banyak mempertahankan rorbuer tua tradisional.

Menariknya, warna merah khas rorbuer di Lofoten memang memiliki sejarah panjang. Dahulu cat merah menjadi pilihan karena relatif murah dan mudah diperoleh dibanding warna lain. Pigmen merah yang digunakan di Skandinavia banyak berasal dari mineral dan bahan tambang sehingga menghasilkan warna merah tua yang khas dan hingga kini menjadi identitas visual desa-desa nelayan Norwegia.

Ada satu hal lagi yang terus saya perhatikan selama beberapa hari di Lofoten.

Kami hampir selalu berada di tepi laut.
Tetapi udaranya tidak lengket.
Tidak lembab seperti yang biasa kita rasakan di daerah pantai Indonesia.

Udara terasa ringan.
Segar.
Bersih.
Bahkan di pelabuhan yang dipenuhi kapal ikan sekalipun.

Mungkin karena jumlah penduduknya sedikit.
Mungkin karena alamnya masih sangat terjaga.
Atau mungkin karena mereka sungguh menghargai lingkungan tempat mereka hidup.

Yang pasti, saya menikmatinya.

Dan di tengah semua keindahan itu, saya mulai menyadari sesuatu.
Liburan yang berkesan ternyata bukan hanya tentang ke mana kita pergi.
Tetapi dengan siapa kita berjalan.

Rombongan kami hanya terdiri dari dua belas orang.
Jumlah yang kecil.
Tetapi justru itu yang membuat suasananya hangat.

P. Indra dan para bapak bahkan menemukan hiburan baru.

Mereka berfoto dengan gaya seolah-olah sedang terbang, lalu mengubahnya menjadi video AI sehingga benar-benar terlihat melayang di udara.

Foto-foto grup pun dibuat menari bersama.
Kami semua tertawa melihat hasilnya.

Mungkin itulah salah satu keuntungan bertambahnya usia.
Kita tidak lagi terlalu sibuk menjaga citra.
Kita lebih mudah tertawa.
Lebih mudah menikmati momen.
Dan lebih mudah bersyukur.

Karena pada akhirnya, kenangan terbaik dari sebuah perjalanan hampir selalu memiliki wajah-wajah yang kita kasihi di dalamnya.

Bukan hanya pemandangan yang kita lihat.
Tetapi orang-orang yang berjalan bersama kita di sepanjang jalan.

Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa jauh kita pergi.
Tetapi dari seberapa dalam kita melihat serta memberinya makna.

“We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next, to find ourselves.” – Pico lyer.

“Pada awalnya kita bepergian untuk melepaskan diri dari rutinitas. Pada akhirnya kita bepergian untuk menemukan diri kita kembali.” – Pico lyer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Tertawa bersama adalah bagian dari berkat Tuhan.

Laughing together is one of God’s blessings.
– Yenny Indra

Read More
1 2 3 416