Tromso : Seniman Tetap Berkarya di Usia 93 Tahun….
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Tromso : Seniman Tetap Berkarya di Usia 93 Tahun….
Pagi ini kami meninggalkan Sommarøy menuju Tromsø, kota terbesar di kawasan Arctic Norwegia.*
Tromsø sering disebut sebagai Gateway to the Arctic, gerbang menuju Kutub Utara. Sebagian kota berada di Pulau Tromsøya, sementara sebagian lainnya berada di daratan utama Norwegia. Keduanya dihubungkan oleh jembatan dan terowongan yang menjadi urat nadi kehidupan kota ini.
Tujuan pertama kami adalah Fjellheisen, gondola yang membawa wisatawan naik ke Gunung Storsteinen setinggi sekitar 421 meter di atas permukaan laut.
Hanya sekitar empat menit perjalanan.
Tetapi pemandangan di atas sungguh luar biasa.
Arctic Cathedral terlihat kecil di kejauhan.
Jembatan Tromsø membentang anggun di atas air.
Pelabuhan dipenuhi kapal-kapal yang datang dan pergi.
Sementara pegunungan bersalju berdiri mengelilingi kota seperti benteng alam yang megah.
Norwegia memang negeri yang dekat dengan alam.
Bahkan terowongan pun dibuat menarik.
Di Tromsø ada terowongan unik yang memiliki jalur berputar di dalam gunung. Saat melintas, lampu-lampu warna-warni di langit-langit menyambut kendaraan yang lewat.
Fungsinya sederhana.
Tetapi dibuat indah.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa hidup di sini terasa menyenangkan.
Mereka tidak hanya membangun sesuatu agar berfungsi, tetapi juga agar bisa dinikmati.
Ski Jump, olah raga yang terkenal di Tromso.
Namun kejutan terbesar hari itu justru datang dari tempat yang tidak kami rencanakan.
Driver kami, Roar, yang sudah menemani perjalanan selama tujuh hari, mengajak kami ke sebuah spot foto tambahan yang bahkan menurut Bu Rita dari TX Travelbelum pernah ia kunjungi selama puluhan kali datang ke Tromsø.
Di sana berdiri sebuah karya mosaik besar yang membingkai pemandangan Arctic Cathedral, jembatan, pelabuhan, dan gunung bersalju di belakangnya.
Cantik sekali.
Seolah-olah seseorang sengaja membuat pigura untuk salah satu pemandangan terbaik di Tromsø.
Saat itulah saya mendengar kisah yang lebih menarik lagi.
Karya mosaik tersebut dibuat oleh seorang seniman Norwegia bernama Marit Bockelie.
Yang membuat saya tertegun bukan hanya karyanya.
Tetapi usianya.
Saat ini ia telah berusia lebih dari 90 tahun.
Bahkan salah satu karya mosaik monumentalnya di Tromsø diselesaikan ketika usianya sekitar 93 tahun.
Saya langsung terdiam.
Sembilan puluh tiga tahun.
Di usia ketika banyak orang merasa hidupnya sudah selesai.
Di usia ketika sebagian orang mulai menghitung hari-hari yang tersisa.
Perempuan ini masih berkarya.
Masih mencipta.
Masih meninggalkan jejak.
Masih memberi keindahan kepada dunia.
Bukankah itu luar biasa?
Sering kali kita berkata,
“Saya sudah terlalu tua.”
“Saya sudah terlambat.”
“Sudah bukan waktunya lagi.”
Tetapi ternyata umur tidak pernah menjadi penghalang utama.
Sering kali yang menjadi penghalang adalah cara berpikir kita.
Marit Bockelie mengingatkan saya bahwa selama Tuhan masih memberi napas, artinya masih ada tugas dari Tuhan, selalu ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Selalu ada sesuatu yang bisa dibagikan.
Selalu ada sesuatu yang bisa ditinggalkan sebagai warisan.
Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya teringat pula pada Roar.
Menurut Bu Rita, selama sepuluh tahun membawa rombongan wisata dari berbagai negara, Roar mengatakan grup kami yang paling ramah.
Kami suka tersenyum.
Suka menyapa, mengucapkan terima kasih.
Hal-hal kecil yang sering kali dianggap biasa.
Tetapi rupanya meninggalkan kesan.
Dan mungkin karena itulah kami mendapat bonus spot foto yang tidak ada dalam itinerary.
Saya kembali diingatkan pada satu prinsip sederhana.
Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.
Kadang bukan dalam bentuk uang.
Bukan pula dalam bentuk hadiah.
Tetapi dalam bentuk pintu yang terbuka.
Pertemuan yang menyenangkan.
Atau pengalaman indah yang tidak direncanakan.
Malam itu kami menginap di Radisson Blu Tromsøyang berada tepat di tepi pelabuhan.
Sambil memandang kapal-kapal yang berlabuh, saya merenungkan satu hal.
Hari ini saya belajar dari seorang sopir bus yang ramah.
Dan saya belajar dari seorang seniman berusia 93 tahun yang masih berkarya.
Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama.
Jangan berhenti memberi yang terbaik.
Karena kita tidak pernah tahu siapa yang sedang diberkati oleh apa yang kita lakukan.
“The meaning of life is to find your gift. The purpose of life is to give it away.”— Pablo Picasso.
“Makna hidup adalah menemukan karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Tujuan hidup adalah membagikannya kepada orang lain.” — Pablo Picasso.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan




