Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Kalau Ada Surga di Bumi, Mungkin Beginilah Rasanya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Ada Surga di Bumi, Mungkin Beginilah Rasanya…

Konon orang Norwegia sering berkata,
“Jika ada surga di bumi, mungkin itulah Lofoten saat Midnight Sun.”

Setelah seharian menjelajahi Lofoten dari Svolvær menuju Å Village, Reine dan Hamnøy, saya mulai mengerti mengapa mereka berkata demikian.

Lofoten bukan sekadar indah.

Lofoten itu membuat kita berhenti berbicara.

Lalu hanya memandang.

Dan berulang kali berkata,

“Wow…”

Pagi itu cuaca tidak terlalu bersahabat.
Mendung.
Sedikit gerimis.
Gunung-gunung besar yang menjulang tinggi sebagian tertutup awan.

Tetapi justru di situlah keunikannya.
Di Lofoten, cuaca bisa berubah berkali-kali dalam sehari.

Saat mendung, air laut terlihat abu-abu keperakan.
Tenang.
Dingin.
Hampir seperti cermin logam raksasa.

Namun begitu matahari muncul dan menyentuh permukaan laut, keajaiban terjadi.
Air yang tadinya abu-abu langsung berubah menjadi hijau turquoise.
Biru kehijauan.
Berkilauan.

Seolah seseorang baru saja mengganti warna laut dengan sapuan kuas raksasa.
Saya sampai berkali-kali mengucek mata.
Apakah ini laut yang sama?

Lofoten terdiri dari beberapa pulau besar yang saling terhubung oleh jembatan-jembatan cantik dan jalan yang berkelok mengikuti garis pantai.

Tujuan kami hari itu adalah Å Village.

Ya, namanya hanya satu huruf.

Å.

Huruf terakhir dalam alfabet Norwegia.
Dan secara harfiah menjadi ujung jalan Lofoten.
Wuih… uniknya!
The end of the road.
Tidak ada lagi jalan setelah itu.
Hanya laut.
Pulau-pulau kecil.
Dan cakrawala yang luas.

Sepanjang perjalanan menuju Å, mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang rasanya seperti keluar dari kartu pos.

Rumah-rumah nelayan merah.
Gudang-gudang kayu merah tua.
Perahu-perahu kecil.
Laut biru.

Dan gunung-gunung batu raksasa yang berdiri gagah langsung dari permukaan laut.

Kadang saya bertanya dalam hati,

“Tuhan, bagaimana mungkin ada tempat secantik ini?”

Salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah ikan cod yang dijemur di mana-mana.

Bau ikan kering cukup terasa di beberapa tempat.

Ribuan ikan cod tergantung berjajar pada rak-rak kayu besar.

Pemandangan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lofoten selama ratusan tahun.

Yang unik, ikan cod kering ini keras sekali.

Hampir seperti kayu.

Ternyata sebelum diolah, ikan tersebut direndam beberapa hari hingga kembali menyerap air dan menjadi lebih lunak.

Tradisi lama yang masih bertahan hingga sekarang.

Kami berhenti makan siang di Reine.
Salmon steak.
Resto di sana hanya 2. Selalu full dengan grup.
Dan mungkin salah satu lokasi makan siang tercantik yang pernah saya alami.

Di depan restoran terbentang laut yang tenang.
Beberapa orang bermain kayak.
Banyak yacht yang parkir di sana.

Sementara di belakangnya berdiri tebing-tebing raksasa yang menjulang ke langit.
Makanannya enak.
Tetapi pemandangannya membuat makanan terasa lebih nikmat.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Hamnøy.

Di sinilah saya benar-benar terpukau.

Hamnøy mungkin adalah salah satu tempat yang paling sering muncul dalam foto-foto promosi Norwegia.

Dan setelah melihatnya sendiri, saya mengerti alasannya.

Rumah-rumah merah berdiri di tepi laut.
Air yang tenang memantulkan bayangan gunung.

Di kejauhan, puncak-puncak batu menjulang seperti benteng raksasa.
Sebagian masih menyimpan sisa-sisa salju musim dingin.
Sementara lerengnya ditutupi warna hijau yang segar.

Begitu matahari keluar setelah hujan berhenti, seluruh pemandangan berubah.

Seolah tirai dibuka.
Gunung-gunung bersinar.
Laut berkilauan berubah warna dari abu-abu saat mendung, menjadi hijau turqoise.

Rumah-rumah merah menjadi semakin hidup.
Dan warna-warna alam muncul dengan penuh percaya diri.

Saya hanya bisa berdiri diam.
Menikmati.
Bersyukur.
Terpukau.
Menyerap semuanya.
Karena ada keindahan yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya oleh kamera.

Di beberapa tempat kami juga melihat saluran air khusus untuk salmon.
Orang Norwegia sangat memperhatikan kelestarian alam.
Mereka membantu ikan-ikan salmon bermigrasi kembali ke hulu sungai saat musim bertelur tiba.
Melihat itu saya kembali teringat pelajaran kemarin.
Salmon selalu menemukan jalan pulang.

Mungkin karena Tuhan memang menciptakan setiap makhluk dengan tujuan dan arah yang jelas.

Sepanjang perjalanan hari ini, saya semakin menyadari satu hal.
Damai bukan hanya sesuatu yang kita rasakan.
Damai adalah hadiah dari Tuhan.
Damai adalah kompas.
Damai adalah petunjuk.
Dan damai itulah yang membawa saya sampai ke tempat ini.

Melihat gunung-gunung yang luar biasa.
Laut yang berubah warna.
Rumah-rumah nelayan yang cantik.
Dan karya Tuhan yang begitu megah.

Ada tempat-tempat yang membuat kita kagum.

Tetapi ada tempat-tempat yang membuat kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihatnya.

Lofoten termasuk yang kedua.

“Anugerah Tuhan membawa saya sampai di sini.”

Praise The Lord!

“The farther I travel, the more I realize: I did not discover the beauty. God simply allowed me to see it.” – Yenny Indra.

Semakin jauh saya melangkah, semakin saya sadar: bukan saya yang menemukan keindahan itu. Tuhanlah yang memperkenankan saya melihatnya.”- Yenny Indra.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tuhan Sumbernya, Kita Pengelolanya

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tuhan Sumbernya, Kita Pengelolanya

Beberapa waktu lalu saya membaca kisah menarik tentang Truett Cathy, pendiri Chick-fil-A.

Secara logika bisnis, keputusan yang ia ambil terasa tidak masuk akal. Ketika banyak perusahaan berusaha memaksimalkan keuntungan dengan membuka usaha tujuh hari seminggu, ia justru menutup seluruh gerainya setiap hari Minggu.

Satu hari penuh tanpa pemasukan.

Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap keputusan yang merugikan. Tetapi bagi Truett Cathy, ada prinsip yang lebih penting daripada keuntungan.

Ia percaya bisnisnya bukan miliknya.
*Bisnis itu milik Tuhan.*

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengandung salah satu prinsip Kerajaan Allah yang paling penting: *Allah adalah Pemberi, kita hanyalah pengelola.*

Sering kali kita menganggap diri sebagai pemilik. Bekerja keras, berjuang, berpikir, mengambil risiko, lalu secara tidak sadar muncul pikiran, “Ini hasil saya.”

Memang kita tidak mengucapkannya dengan mulut, tetapi sikap hati kita sering menunjukkan hal itu.

Akibatnya, hidup menjadi berat.

Kita takut kehilangan.

Takut masa depan.

Takut bisnis menurun.

Takut investasi salah.

Takut berkat berhenti mengalir.

Mengapa?

Karena merasa semuanya bergantung pada kita.

Sesungguhnya, haruslah kita ingat kepada TUHAN, Allah kita, sebab Dialah yang memberikan kepada kita kekuatan untuk memperoleh kekayaan.

Perhatikan baik-baik.

Bukan hanya kekayaan yang berasal dari Tuhan.

Kemampuan untuk memperoleh kekayaan pun berasal dari Tuhan.

Ide berasal dari Tuhan.

Kesempatan berasal dari Tuhan.

Kesehatan berasal dari Tuhan.

Napas yang kita hirup hari ini pun berasal dari Tuhan.

Kalau demikian, apa sebenarnya yang benar-benar milik kita?

Bahkan hidup kita sendiri adalah titipan Tuhan.

Sebelum kita lahir, Dia sudah memiliki rancangan bagi hidup kita. Dia sudah mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan baik untuk kita jalani. Kita datang ke dunia bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pengelola dari apa yang Tuhan percayakan.

Ketika kebenaran ini masuk ke dalam hati, sesuatu berubah.

Tekanan mulai berkurang.

Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak lagi hidup dalam ketakutan.

Kita tetap bertanggung jawab, tetapi tidak memikul beban seolah-olah seluruh dunia berada di pundak kita.

Ada perbedaan besar antara tanggung jawab dan beban.

Tanggung jawab membuat kita bertindak.

Beban membuat kita tertekan.

Tuhan berkata:
“Janganlah kamu khawatir tentang hidupmu.”

Bukan karena hidup selalu mudah tetapi karena kita bukan sumbernya.

Allah sumbernya.

Allahlah yang akan memenuhi segala kebutuhan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Bukan menurut saldo rekening kita.

Bukan menurut kondisi ekonomi dunia.

Bukan menurut kemampuan kita.

Melainkan menurut kekayaan-Nya.

Itulah sebabnya orang yang mengerti Tuhan sebagai sumber memiliki damai yang berbeda. Mereka tetap menghadapi tantangan, tetapi tidak hidup dalam kepanikan.

Kembali kepada Truett Cathy.

Ketika ia memutuskan menghormati Tuhan dengan menutup Chick-fil-A setiap hari Minggu, banyak orang menganggapnya tidak bijaksana secara bisnis.

Namun hasilnya justru sebaliknya.

Perusahaannya berkembang menjadi salah satu jaringan restoran paling sukses di Amerika. Bahkan penjualan per gerainya melampaui banyak pesaing yang buka tujuh hari seminggu.

Mengapa?

Karena ia memilih mempercayai prinsip Tuhan daripada logika ketakutan.

Ia hidup sebagai pengelola, bukan pemilik.

Dan di situlah letak pelajaran yang sangat penting bagi kita.

Tuhan tidak sedang mencari orang yang memiliki banyak.
Tuhan sedang mencari orang yang dapat dipercaya.

Orang yang sadar bahwa uang, rumah, bisnis, pelayanan, keluarga, bahkan hidupnya sendiri adalah titipan Tuhan.

Ketika kita melihat semuanya sebagai titipan, kita tidak lagi terlalu takut kehilangan.

Kita juga tidak lagi terlalu sulit memberi.

Sebab kita sadar bahwa sumber kita bukanlah apa yang ada di tangan kita, melainkan Dia yang mengisi tangan kita.

Tuhan berkata:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Perhatikan urutannya.

Bukan mengejar tambahan terlebih dahulu.

Bukan mengejar uang terlebih dahulu.

Bukan mengejar keamanan terlebih dahulu.

Tetapi mencari Tuhan terlebih dahulu.

Ketika posisi hati kita benar, damai datang.

Dan ketika damai datang, kita mulai melihat hidup dari perspektif yang berbeda.

Tuhan bukan mengambil dari kita.

Dia sedang mempercayakan sesuatu kepada kita.

Dan selama kita setia mengelolanya, Dia tidak pernah kehabisan cara untuk menambah, melipatgandakan, dan memberkati hidup kita.

Tanpa stres.
Tanpa tekanan.
Tanpa ketakutan.

Karena sejak awal Tuhan adalah Pemberi, dan kita hanyalah pengelola. Saat posisi ini benar, beban berubah menjadi damai dan pengelolaan menjadi sukacita.

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.” -Corrie ten Boom

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang belum kita kenal kepada Tuhan yang sudah kita kenal.” – Corrie ten Boom.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…

Ada sesuatu yang menarik yang pernah diungkapkan oleh Dr.Caroline Leaf, seorang pakar neuroscience dan kesehatan mental yang banyak meneliti hubungan antara pikiran, emosi, dan pola hidup manusia.

Menurutnya, banyak orang yang sejak kecil kekurangan perhatian emosional akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sangat suka merawat orang lain. Mereka menjadi penolong. Menjadi tempat bersandar. Menjadi orang yang selalu hadir ketika dibutuhkan.

Konon, pikiran manusia akan terus mencari jalan untuk mendapatkan apa yang dulu tidak sempat ia rasakan.

Kalau dulu seseorang jarang ditenangkan, jarang diperhatikan, atau terlalu cepat dipaksa menjadi “kuat”, tanpa sadar ia bisa membangun identitas sebagai orang yang selalu memberi kepada orang lain.

Dan jujur saja, waktu membaca itu, saya seperti ditampar pelan.

Karena saya sadar, ada banyak hal yang selama bertahun-tahun saya lakukan secara otomatis, tanpa benar-benar memeriksa akar pikirannya.

Sebagai anak Tuhan, sejak kecil saya diajar bahwa kita harus murah hati. Harus menolong. Apalagi kalau ada saudara seiman yang membutuhkan. Dan itu memang baik.

Mungkin bukan jumlah yang spektakuler, tetapi prinsip berbagi itu seperti kewajiban moral.

Lagipula, dari kecil kita dididik bahwa berbuat baik adalah sesuatu yang mulia.

Lalu Sekolah Charis . Belajar firman. Lulus. Tetapi ternyata, lulus sekolah tidak otomatis membuat pola pikir langsung berubah.

Perubahan mindset membutuhkan pembaharuan pikiran dan prosesnya terus-menerus.

Dan salah satu pelajaran yang paling sulit saya pahami, ternyata tidak semua perbuatan baik otomatis benar.

Gubbraaakkk…

Wah… ini perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar saya mengerti.

Karena selama ini logikanya sederhana: kalau ada orang susah lalu kita membantu, bukankah itu baik?

Ya, baik.

Tetapi apakah selalu benar?

Ternyata belum tentu.

Kadang tanpa sadar, saat kita selalu menjadi jawaban bagi semua kebutuhan orang lain, kita sedang mengambil posisi yang seharusnya menjadi bagian Tuhan dalam hidup mereka.

Kita menjadi “penolong tetap”.

Akibatnya, orang itu tidak belajar percaya Tuhan. Tidak belajar bertumbuh. Tidak belajar menggunakan iman dan tanggung jawab pribadinya.

Yang lebih berbahaya, orang-orang mulai terbiasa menggantungkan diri kepada kita.

Sedikit-sedikit datang. Sedikit-sedikit minta bantuan. Sedikit-sedikit berharap kita turun tangan.

Awalnya kita merasa dibutuhkan.

Lama-lama lelah.

Lalu mulai kecewa.

Dan kalau jujur, kadang muncul pahit hati: “Kenapa ya saya selalu dikelilingi orang yang maunya ditolong terus?”

Padahal mungkin tanpa sadar kita sendiri ikut membangun pola itu.

Kita terlalu cepat menyelesaikan masalah orang lain.

Terlalu cepat menjadi penyelamat.

Padahal kasih yang sehat bukan membuat orang bergantung kepada kita, tetapi menolong mereka bertumbuh dewasa.

Di situlah saya mulai mengerti perbedaan antara sekadar “baik” dan melakukan apa yang “benar”

strong>Yang benar bukan selalu memberi ikan. Kadang yang benar adalah mengajar orang me

Kadang yang benar adalah membimbing seseorang mengenal kebenaran Firman Tuhan, belajar berdiri dengan imannya sendiri, lalu memberi ruang bagi Tuhan bekerja dalam hidupnya.

Memang lebih cepat memberi bantuan.

Sementara memuridkan orang membutuhkan kesabaran, hikmat, dan kepekaan rohani.

Itulah sebabnya Amanat Agung Tuhan bukan hanya mengabarkan Kabar Baik, tetapi juga memuridkan.

Bukan sekadar membuat orang merasa tertolong sesaat, tetapi membawa mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mengenal Tuhan, mendengar suara-Nya, dan berjalan bersama-Nya.

Karena tujuan akhirnya bukan membuat orang tergantung pada manusia, tetapi makin mengandalkan Tuhan.

Dan di sinilah saya belajar sesuatu yang penting: kita tidak bisa menolong hanya berdasarkan rasa kasihan atau emosi.

Kita harus belajar menolong sesuai pimpinan Tuhan.

Ada saat Tuhan memang menyuruh kita memberi.

Ada saat Tuhan menyuruh kita diam.

Ada saat Tuhan meminta kita menopang seseorang.

Tetapi ada juga saat Tuhan membiarkan seseorang melewati proses supaya imannya bertumbuh.

Kalau tidak hati-hati, rasa “ingin menolong” bisa berubah menjadi campur tangan yang justru menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidup orang itu.

Karena itu kita perlu makin peka mendengar suara Tuhan.

Bukan sekadar bergerak karena iba, tekanan, atau rasa tidak enak.

Semakin dewasa rohani, semakin kita belajar bertanya: “Tuhan, apa yang benar untuk dilakukan dalam situasi ini?”

Kadang jawabannya memberi.

Kadang jawabannya menunggu.

Kadang jawabannya membimbing.

Kadang jawabannya hanya mendoakan.

Dan jujur saja, mendengar suara Tuhan dalam hal seperti ini membutuhkan latihan terus-menerus.

Sebab hati manusia mudah terseret rasa bersalah, kebutuhan untuk diterima, atau keinginan merasa dibutuhkan.

Hari ini saya percaya, kalau seseorang sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan segenap hati, Tuhan sanggup menuntun, membuka jalan, dan memelihara hidupnya.

Kita boleh membantu. Tentu.

Tetapi jangan sampai kita mengambil alih proses yang seharusnya membuat seseorang belajar berjalan bersama Tuhan.

Dan ternyata menarik sekali… prinsip Firman Tuhan itu sejalan dengan apa yang dijelaskan Dr.Caroline Leaf.

Pola yang tidak disadari akan terus berjalan otomatis, sampai kita berhenti sejenak dan mulai bertanya:

“Apakah saya menolong karena dipimpin kasih dan hikmat Tuhan… atau karena saya merasa harus selalu menjadi penyelamat?”

Makes sense?

“Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime.” – Chinese Proverb

“Beri seseorang ikan, ia kenyang sehari. Ajari ia memancing, ia bisa hidup seumur hidup.” – pepatah China.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Masih Suka Mengeluh? Coba Jujur, Itu Bekerja atau Tidak?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Masih Suka Mengeluh? Coba Jujur, Itu Bekerja atau Tidak?”

Pernah gak kita berhenti sejenak dan tanya ke diri sendiri: “Sebenarnya, mengeluh itu bikin hidup kita lebih baik atau malah makin berat?”

Saya pernah ada di posisi itu. Dulu, mengeluh terasa seperti hal yang wajar. Bahkan terasa “benar”. Kita merasa, “Ini kan memang salah… saya cuma menyuarakan kebenaran.” Kita mengeluh tentang keadaan, orang lain, keluarga, pekerjaan, bahkan pelayanan.

Kelihatannya sepele. Tapi kalau jujur, ada sesuatu yang pelan-pelan rusak di dalam.

Mengeluh itu seperti kebiasaan kecil yang diam-diam menggerogoti. Bukan hanya suasana hati, tapi cara kita melihat hidup, cara kita merespon Tuhan, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.

Dan sering kali, kita tidak sadar.

Kita pikir kita sedang “menilai dengan benar”, padahal sebenarnya kita sedang melatih hati untuk fokus pada yang salah.

Padahal Firman Tuhan jelas: dari hati yang penuh, mulut berbicara. Artinya, kata-kata kita itu bukan sekadar reaksi… tapi cermin isi hati.

Kalau yang keluar terus adalah keluhan, kritik, dan ketidakpuasan… mungkin masalahnya bukan di luar. Mungkin ada sesuatu di dalam yang perlu dibereskan.

Mengeluh bukan cuma kebiasaan buruk. Akar terdalamnya adalah ketidakpercayaan.

Kita mengeluh karena kita tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan itu baik. Kita tidak yakin Dia pegang kendali. Kita tidak percaya bahwa Dia sanggup bekerja bahkan di tengah situasi yang tidak ideal.

Akhirnya kita mengambil posisi sebagai “hakim”. Menilai, mengkritik, menyalahkan.

Tanpa sadar, kita sedang mengambil peran yang salah.

Dan efeknya nyata.

Hati yang suka mengeluh tidak akan pernah bisa melihat kebaikan Tuhan dengan jelas. Bukan karena Tuhan tidak baik, tapi karena fokusnya sudah salah.

Sebaliknya, iman yang sehat menghasilkan kata-kata yang berbeda.

Bukan berarti hidup selalu mulus. Tapi ada sikap hati yang memilih percaya, memilih bersyukur, dan tetap berkata benar… sekalipun keadaan belum berubah.

Ini yang membedakan.

Iman sejati mengalir dari damai dengan Tuhan. Dari kepercayaan bahwa Dia adalah Sumber kita. Bukan keadaan, bukan sistem dunia, bukan orang lain.

Dan di titik ini, kita belajar satu hal penting: ketika ada ketidaksepakatan, tidak semua harus kita selesaikan dengan reaksi cepat.

Serahkan kepada Tuhan.

Tidak semua konflik perlu ditangani dengan emosi. Tidak semua perbedaan harus kita menangkan.

Kadang, justru yang paling rohani adalah… diam.

Diam bukan berarti lemah. Diam adalah memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja.

Kita sering terlalu cepat bicara, terlalu cepat bereaksi, terlalu cepat membela diri. Padahal Tuhan belum selesai bekerja di balik layar.

Biarkan Dia yang membereskan.

Pada waktu yang tepat, Tuhan akan menuntun kita. Bisa jadi kita tetap terlibat dalam penyelesaiannya, dengan hikmat dan damai. Tapi bisa juga Tuhan membereskannya lewat cara yang tidak kita duga… bahkan melalui orang lain.

Tuhan itu kreatif.

Dia tidak terbatas dengan cara kita. Tidak ada situasi yang terlalu rumit bagi-Nya. Tidak ada hati yang terlalu keras bagi-Nya.

Yang kita butuhkan bukan selalu jawaban cepat, tapi kepercayaan yang tenang.

Dunia bisa kacau. Orang bisa mengecewakan. Situasi bisa tidak masuk akal.

Tapi hati yang percaya akan tetap stabil.

Dan dari hati seperti itu, keluar kata-kata yang membangun. Kata-kata yang memberi hidup. Kata-kata yang membawa damai.

Firman Tuhan berkata, jangan biarkan kata-kata yang merusak keluar dari mulut kita, tapi hanya yang membangun dan memberi kasih karunia bagi yang mendengar.

Artinya sederhana: setiap kita bicara, harusnya ada sesuatu yang menjadi lebih baik… bukan lebih rusak.

Jadi ini bukan soal hidup tanpa masalah.

Ini soal pilihan.

Mau tetap hidup dalam pola lama: mengeluh, menyalahkan, dan kehilangan damai…

Atau mulai hidup dari atas: percaya, bersyukur, dan memberi ruang bagi Tuhan bekerja.

Karena pada akhirnya, bukan kita yang harus mengontrol segalanya.

Kita hanya perlu percaya… dan taat.

Dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya dengan cara yang sering kali jauh lebih baik dari rencana kita.

“Lebih baik diam dan mempercayai Tuhan, daripada berbicara tanpa iman dan memperkeruh keadaan.”

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.”– Corrie ten Boom.

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang tidak kamu ketahui kepada Tuhan yang kamu kenal.” – Corrie ten Boom

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Memberi Itu Membuka Jalan, Bukan Kehilangan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Memberi Itu Membuka Jalan, Bukan Kehilangan.

Ada satu prinsip sederhana, tapi dampaknya bisa luar biasa besar dalam hidup: pemberian yang tepat bisa membuka jalan yang tidak bisa dibuka dengan usaha biasa.

Bukan manipulasi. Bukan sogokan. Tapi sebuah tindakan hati yang mengalir dari pengertian dan tujuan yang jelas.

Kita lihat kisah Ratu Syeba. Ia bukan orang miskin. Ia ratu, punya kekayaan, punya kuasa. Tapi menariknya, ketika ia mendengar tentang hikmat Salomo, ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang membawa hadiah besar, sangat besar.

Seberapa besar?

Catatan sejarah menyebut ia memberi sekitar 120 talenta emas. Kalau dikonversi, itu kira-kira lebih dari 4.000 kg emas. Dengan nilai sekarang, itu bisa mencapai sekitar 2–3 triliun rupiah. Belum termasuk rempah-rempah dalam jumlah sangat besar dan batu permata yang mahal.
Jadi ini bukan pemberian kecil. Ini keputusan serius.

Sekilas, orang bisa salah paham. “Untuk apa memberi sebanyak itu kepada orang yang sudah kaya?”

Kalau kita pikir secara dangkal, memang terlihat tidak masuk akal. Tapi Ratu Syeba tidak berpikir pendek. Ia berpikir strategis.

Ia tahu, kalau ia bisa mendapatkan akses kepada hikmat Salomo – orang paling kaya dan paling bijak di seluruh muka bumi -, itu jauh lebih berharga daripada emas yang ia bawa. Hikmat itu bisa dibawa pulang. Hikmat itu bisa diterapkan. Hikmat itu bisa mengubah sistem, memperbaiki bangsa, dan pada akhirnya menolong jauh lebih banyak orang.
Dan itu yang sering kita lewatkan.

Pemberian Ratu Syeba, membuka kesempatan baginya mendapatkan aliran hikmat dan kelimpahan yang dimiliki Salomo.
Ada cara untuk sukses.
Sukses itu bukan kebetulan, karena itu belajarlah pada orang yang sudah sukses di depan kita.

Memberi bukan soal kehilangan. Memberi itu soal membuka jalan kepada sesuatu yang lebih besar.

Dalam hidup saya pribadi, saya sudah berkali-kali mengalami ini dengan cara yang sangat sederhana.

Saya sering pindah kota. Datang ke tempat baru, tidak kenal siapa pun. Nol relasi.

Kalau hanya menunggu, ya bisa lama sekali. Tapi saya belajar satu hal: jangan tunggu pintu terbuka, kita bisa “mengetuk” dengan cara yang baik.

Saya kirim kue ke youth leader. Sambil titip anak-anak masuk sekolah minggu.

Sederhana sekali. Tapi dari situ, percakapan mulai. Hubungan mulai. Tidak kaku. Tidak canggung.
Dan membuka jalan.

Saya juga belajar, setiap kali ada orang yang menolong kita, jangan diam saja. Beri sesuatu. Tidak harus mahal. Bisa kue, bisa sesuatu kecil. Tapi itu membuat hubungan jadi hangat. Lebih manusiawi. Lebih hidup.
Itu cara menghargai.

Dan saya pribadi, karena saya suka membaca dan belajar, saya sering memberi buku.
Buat saya, buku itu bukan sekadar barang. Itu isi. Itu nilai. Itu bisa mengubah cara pikir seseorang.
Saya punya akses dengan penerbit, jadi sering kali saya tinggal minta nomor orangnya, transfer, dan buku langsung dikirim.

Banyak pembaca Seruput Kopi Cantik yang saya kirimi buku, bahkan gratis.
Dan yang menarik, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya jadi sahabat dekat.

Salah satunya Fenny Halim. Tersambung karena membaca Seruput Kopi Cantik
Awalnya hanya chat.
Lalu dia berpikir, “Kok bisa ada orang nggak kenal kirim buku gratis pula……”
Dari situ hubungan terbentuk. Hari ini, kami jadi sohib.

Ada lagi P. Irsan di Binjai. Awalnya dari Seruput Kopi Cantik juga. Waktu itu bisnisnya sedang bermasalah. Saya kirimi buku.
Ternyata dilahap habis. Satu buku, lanjut lagi. Sampai hampir sepuluh buku.

Melihat keseriusannya, saya bilang, “Sudah, sekolah saja.”
Program satu tahun, tapi karena online, selesai enam bulan.
Wow… keren ya?

Hasilnya? Bisnisnya bukan hanya pulih. Bertambah satu toko lagi. Dari jual jam, sekarang tambah toko kacamata. Bahkan jual tangki MPOIN juga… hahaha.

Dan sampai hari ini, kami ngobrol hampir setiap hari. Dari tidak kenal, jadi sahabat dekat.
Semua dimulai dari satu hal sederhana: memberi.

Jadi kalau mau jujur, memberi itu bukan soal uangnya. Tapi tentang hati, arah, dan tujuan.

Kalau memberi hanya karena kebiasaan, dampaknya kecil.
Tapi kalau memberi dengan pengertian, sesuai tuntunan Tuhan, itu bisa membuka pintu, memperluas relasi, bahkan mengubah hidup orang lain… dan hidup kita sendiri.

Tidak semua pemberian langsung kelihatan hasilnya. Tapi percayalah, tidak ada pemberian yang sia-sia.
Apa yang kita tabur, pasti kita tuai.
Bahkan segelas air yang kita berikan karena mengasihi-Nya, Tuhan perhitungkan. Membawa dampak natural mau pun rohani.
Karena setiap pemberian membawa sesuatu: akses, hubungan, favor, bahkan hikmat.

Penting untuk mengenali, ketika kita bermitra dengan sebuah pelayanan dan memberi dengan sengaja, kita dapat mengambil bagian dari berkat yang ada atas pelayanan itu.
Sama seperti petani, jika menabur di tanah yang subur, maka hasilnya tentu lebat.

Memberi bukan hanya untuk menerima, tapi memberi untuk membantu membawa ke tempat yang ingin kita tuju. Ketika kita melakukan itu, sebuah aliran supernatural dari keuangan Allah mulai mengalir kepada kita sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri dan sekaligus melimpah dalam pelbagai kebajikan.

Dan sering kali, yang kita terima kembali jauh lebih besar daripada yang kita berikan.
Sungguh, gift itu benar-benar powerful.

“No one has ever become poor by giving.”- Anne Frank.

“Tidak seorang pun pernah menjadi miskin karena memberi.” – Anne Frank.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2