Articles

Memberi Itu Membuka Jalan, Bukan Kehilangan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Memberi Itu Membuka Jalan, Bukan Kehilangan.

Ada satu prinsip sederhana, tapi dampaknya bisa luar biasa besar dalam hidup: pemberian yang tepat bisa membuka jalan yang tidak bisa dibuka dengan usaha biasa.

Bukan manipulasi. Bukan sogokan. Tapi sebuah tindakan hati yang mengalir dari pengertian dan tujuan yang jelas.

Kita lihat kisah Ratu Syeba. Ia bukan orang miskin. Ia ratu, punya kekayaan, punya kuasa. Tapi menariknya, ketika ia mendengar tentang hikmat Salomo, ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang membawa hadiah besar, sangat besar.

Seberapa besar?

Catatan sejarah menyebut ia memberi sekitar 120 talenta emas. Kalau dikonversi, itu kira-kira lebih dari 4.000 kg emas. Dengan nilai sekarang, itu bisa mencapai sekitar 2–3 triliun rupiah. Belum termasuk rempah-rempah dalam jumlah sangat besar dan batu permata yang mahal.
Jadi ini bukan pemberian kecil. Ini keputusan serius.

Sekilas, orang bisa salah paham. “Untuk apa memberi sebanyak itu kepada orang yang sudah kaya?”

Kalau kita pikir secara dangkal, memang terlihat tidak masuk akal. Tapi Ratu Syeba tidak berpikir pendek. Ia berpikir strategis.

Ia tahu, kalau ia bisa mendapatkan akses kepada hikmat Salomo – orang paling kaya dan paling bijak di seluruh muka bumi -, itu jauh lebih berharga daripada emas yang ia bawa. Hikmat itu bisa dibawa pulang. Hikmat itu bisa diterapkan. Hikmat itu bisa mengubah sistem, memperbaiki bangsa, dan pada akhirnya menolong jauh lebih banyak orang.
Dan itu yang sering kita lewatkan.

Pemberian Ratu Syeba, membuka kesempatan baginya mendapatkan aliran hikmat dan kelimpahan yang dimiliki Salomo.
Ada cara untuk sukses.
Sukses itu bukan kebetulan, karena itu belajarlah pada orang yang sudah sukses di depan kita.

Memberi bukan soal kehilangan. Memberi itu soal membuka jalan kepada sesuatu yang lebih besar.

Dalam hidup saya pribadi, saya sudah berkali-kali mengalami ini dengan cara yang sangat sederhana.

Saya sering pindah kota. Datang ke tempat baru, tidak kenal siapa pun. Nol relasi.

Kalau hanya menunggu, ya bisa lama sekali. Tapi saya belajar satu hal: jangan tunggu pintu terbuka, kita bisa “mengetuk” dengan cara yang baik.

Saya kirim kue ke youth leader. Sambil titip anak-anak masuk sekolah minggu.

Sederhana sekali. Tapi dari situ, percakapan mulai. Hubungan mulai. Tidak kaku. Tidak canggung.
Dan membuka jalan.

Saya juga belajar, setiap kali ada orang yang menolong kita, jangan diam saja. Beri sesuatu. Tidak harus mahal. Bisa kue, bisa sesuatu kecil. Tapi itu membuat hubungan jadi hangat. Lebih manusiawi. Lebih hidup.
Itu cara menghargai.

Dan saya pribadi, karena saya suka membaca dan belajar, saya sering memberi buku.
Buat saya, buku itu bukan sekadar barang. Itu isi. Itu nilai. Itu bisa mengubah cara pikir seseorang.
Saya punya akses dengan penerbit, jadi sering kali saya tinggal minta nomor orangnya, transfer, dan buku langsung dikirim.

Banyak pembaca Seruput Kopi Cantik yang saya kirimi buku, bahkan gratis.
Dan yang menarik, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya jadi sahabat dekat.

Salah satunya Fenny Halim. Tersambung karena membaca Seruput Kopi Cantik
Awalnya hanya chat.
Lalu dia berpikir, “Kok bisa ada orang nggak kenal kirim buku gratis pula……”
Dari situ hubungan terbentuk. Hari ini, kami jadi sohib.

Ada lagi P. Irsan di Binjai. Awalnya dari Seruput Kopi Cantik juga. Waktu itu bisnisnya sedang bermasalah. Saya kirimi buku.
Ternyata dilahap habis. Satu buku, lanjut lagi. Sampai hampir sepuluh buku.

Melihat keseriusannya, saya bilang, “Sudah, sekolah saja.”
Program satu tahun, tapi karena online, selesai enam bulan.
Wow… keren ya?

Hasilnya? Bisnisnya bukan hanya pulih. Bertambah satu toko lagi. Dari jual jam, sekarang tambah toko kacamata. Bahkan jual tangki MPOIN juga… hahaha.

Dan sampai hari ini, kami ngobrol hampir setiap hari. Dari tidak kenal, jadi sahabat dekat.
Semua dimulai dari satu hal sederhana: memberi.

Jadi kalau mau jujur, memberi itu bukan soal uangnya. Tapi tentang hati, arah, dan tujuan.

Kalau memberi hanya karena kebiasaan, dampaknya kecil.
Tapi kalau memberi dengan pengertian, sesuai tuntunan Tuhan, itu bisa membuka pintu, memperluas relasi, bahkan mengubah hidup orang lain… dan hidup kita sendiri.

Tidak semua pemberian langsung kelihatan hasilnya. Tapi percayalah, tidak ada pemberian yang sia-sia.
Apa yang kita tabur, pasti kita tuai.
Bahkan segelas air yang kita berikan karena mengasihi-Nya, Tuhan perhitungkan. Membawa dampak natural mau pun rohani.
Karena setiap pemberian membawa sesuatu: akses, hubungan, favor, bahkan hikmat.

Penting untuk mengenali, ketika kita bermitra dengan sebuah pelayanan dan memberi dengan sengaja, kita dapat mengambil bagian dari berkat yang ada atas pelayanan itu.
Sama seperti petani, jika menabur di tanah yang subur, maka hasilnya tentu lebat.

Memberi bukan hanya untuk menerima, tapi memberi untuk membantu membawa ke tempat yang ingin kita tuju. Ketika kita melakukan itu, sebuah aliran supernatural dari keuangan Allah mulai mengalir kepada kita sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri dan sekaligus melimpah dalam pelbagai kebajikan.

Dan sering kali, yang kita terima kembali jauh lebih besar daripada yang kita berikan.
Sungguh, gift itu benar-benar powerful.

“No one has ever become poor by giving.”- Anne Frank.

“Tidak seorang pun pernah menjadi miskin karena memberi.” – Anne Frank.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Iman Hanya Memiliki Satu Sumber: Mendengar Dari Tuhan.
“Apakah Anda hidup dari jiwa atau dari roh?”
Apakah Kita Menghidupi Panggilan Allah?