Bau Ikan, Burung Camar, dan Orang-Orang yang Berjalan Bersama Kita
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Bau Ikan, Burung Camar, dan Orang-Orang yang Berjalan Bersama Kita
Semakin lama saya berada di Lofoten, semakin saya sadar bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar tentang melihat tempat-tempat indah.
Justru yang membuat saya terkesan adalah kehidupan yang berlangsung di balik pemandangan itu.
Hari ini kami mengunjungi Nusfjord, Ballstad, dan Stamsund.
Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda.
Sejak pagi matahari bersinar penuh.
Langit biru.
Laut tenang.
Dan untuk pertama kalinya saya benar-benar memperhatikan para penghuni asli Lofoten, teutama di Nusfjord, yang sesungguhnya adalah Burung camar.
Mereka ada di mana-mana.
Di tebing-tebing batu.
Di pelabuhan.
Bahkan di atas atap-atap rorbuer.
Karena itu kami harus berhati-hati saat berjalan atau berfoto.
Kalau tidak, bisa saja mendapat “oleh-oleh” dari udara!
Burung-burung itu tampak begitu bebas.
Seolah mereka yang memiliki Lofoten, sementara kami hanya tamu yang datang berkunjung.
Untuk mendapatkan beberapa foto terbaik, kami harus memanjat batu-batu di perbukitan.
Begitu sampai di atas, pemandangan yang terbentang sungguh luar biasa.
Laut yang tenang seperti kaca.
Kapal-kapal nelayan yang beristirahat di pelabuhan.
Tebing-tebing batu yang berdiri kokoh menjaga teluk.
Saya kembali belajar bahwa pemandangan terbaik sering kali membutuhkan sedikit usaha ekstra.
Dari bawah kita hanya melihat sebagian.
Dari atas kita melihat keseluruhan.
Di Nusfjord kami juga bertemu seorang wanita Norwegia yang mengenakan batik.
Tentu saja saya langsung menyapanya.
Ternyata beliau sudah tiga kali mengunjungi Indonesia.
Bali.
Sumba.
Dan Lombok.
Saya tersenyum bangga.
Di sebuah desa nelayan kecil di ujung Norwegia, saya bertemu seseorang yang begitu menghargai budaya Indonesia.
Hari itu saya kembali diingatkan bahwa dunia sebenarnya tidak sebesar yang kita bayangkan.
Di tengah perjalanan yang jauh, kita sering menemukan hal-hal yang terasa seperti rumah.
Makan siang sudah termasuk dalam paket kunjungan.
Dan lagi-lagi…
Ikan dan udang.
Awalnya menyenangkan.
Tetapi setelah beberapa hari berturut-turut, saya mulai merindukan nasi goreng, Soto, Rawon Indonesia.
Mungkin itulah salah satu tanda bahwa saya benar-benar sedang jauh dari rumah.
Untunglah dinner kami, Japanese food. Sushi, chiken karage, set menu dengan nasi plus pisang goreng ice cream penutupnya. Cocok di lidah.
Dari Nusfjord kami melanjutkan perjalanan ke Ballstad.
Kalau Reine terkenal karena keindahannya, maka Ballstad terkenal karena aromanya.
Aroma ikan.
Di beberapa sudut desa, bau ikan cod cukup kuat tercium.
Namun menariknya, penduduk lokal memiliki cara pandang yang berbeda.
Bagi mereka, itulah aroma penghidupan.
Aroma yang membangun rumah-rumah mereka.
Menyekolahkan anak-anak mereka.
Membeli kapal-kapal mereka.
Dengan kata lain, bau ikan adalah bau uang.
Saya langsung teringat bahwa sering kali kita mengeluh tentang hal-hal yang setiap hari kita temui, padahal mungkin justru itulah berkat yang menopang kehidupan kita.
Kemudian kami tiba di Stamsund.
Di sini suasananya terasa berbeda.
Tidak seindah Reine.
Tidak seartistik Henningsvær.
Tetapi lebih nyata sebagai kota nelayan yang bekerja.
Kapal-kapal penangkap ikan berukuran besar memenuhi pelabuhan.
Rorbuer yang berdiri di sepanjang pantai juga terlihat lebih baru, lebih besar, dan lebih modern.
Berbeda dengan Reine yang banyak mempertahankan rorbuer tua tradisional.
Menariknya, warna merah khas rorbuer di Lofoten memang memiliki sejarah panjang. Dahulu cat merah menjadi pilihan karena relatif murah dan mudah diperoleh dibanding warna lain. Pigmen merah yang digunakan di Skandinavia banyak berasal dari mineral dan bahan tambang sehingga menghasilkan warna merah tua yang khas dan hingga kini menjadi identitas visual desa-desa nelayan Norwegia.
Ada satu hal lagi yang terus saya perhatikan selama beberapa hari di Lofoten.
Kami hampir selalu berada di tepi laut.
Tetapi udaranya tidak lengket.
Tidak lembab seperti yang biasa kita rasakan di daerah pantai Indonesia.
Udara terasa ringan.
Segar.
Bersih.
Bahkan di pelabuhan yang dipenuhi kapal ikan sekalipun.
Mungkin karena jumlah penduduknya sedikit.
Mungkin karena alamnya masih sangat terjaga.
Atau mungkin karena mereka sungguh menghargai lingkungan tempat mereka hidup.
Yang pasti, saya menikmatinya.
Dan di tengah semua keindahan itu, saya mulai menyadari sesuatu.
Liburan yang berkesan ternyata bukan hanya tentang ke mana kita pergi.
Tetapi dengan siapa kita berjalan.
Rombongan kami hanya terdiri dari dua belas orang.
Jumlah yang kecil.
Tetapi justru itu yang membuat suasananya hangat.
P. Indra dan para bapak bahkan menemukan hiburan baru.
Mereka berfoto dengan gaya seolah-olah sedang terbang, lalu mengubahnya menjadi video AI sehingga benar-benar terlihat melayang di udara.
Foto-foto grup pun dibuat menari bersama.
Kami semua tertawa melihat hasilnya.
Mungkin itulah salah satu keuntungan bertambahnya usia.
Kita tidak lagi terlalu sibuk menjaga citra.
Kita lebih mudah tertawa.
Lebih mudah menikmati momen.
Dan lebih mudah bersyukur.
Karena pada akhirnya, kenangan terbaik dari sebuah perjalanan hampir selalu memiliki wajah-wajah yang kita kasihi di dalamnya.
Bukan hanya pemandangan yang kita lihat.
Tetapi orang-orang yang berjalan bersama kita di sepanjang jalan.
Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa jauh kita pergi.
Tetapi dari seberapa dalam kita melihat serta memberinya makna.
“We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next, to find ourselves.” – Pico lyer.
“Pada awalnya kita bepergian untuk melepaskan diri dari rutinitas. Pada akhirnya kita bepergian untuk menemukan diri kita kembali.” – Pico lyer.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
Tertawa bersama adalah bagian dari berkat Tuhan.
Laughing together is one of God’s blessings.
– Yenny Indra
