Berhenti Menjadi Tawanan Masa Lalu
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Berhenti Menjadi Tawanan Masa Lalu
Seorang sahabat bernama Ben pernah bercerita tentang pergumulannya sebagai seorang ayah. Anaknya mengalami masalah emosi yang cukup serius hingga harus menjalani berbagai pemeriksaan. Kesimpulan yang diterimanya membuat hatinya hancur. Banyak ahli berpendapat, akar persoalan itu berasal dari pengalaman masa kecil dan pola asuh yang pernah diterimanya.
Sebagai seorang ayah, Ben langsung dipenuhi rasa bersalah. Ia mulai mengingat setiap kesalahan yang pernah dilakukan.
Ia bertanya dalam hati,
“Apakah semua ini terjadi karena saya?”
Ia pun berusaha memperbaiki hubungan, meminta maaf, menjadi lebih sabar, dan lebih mengerti. Namun semakin ia mencoba mengurai masa lalu, semakin banyak luka yang muncul. Satu penyesalan membuka penyesalan berikutnya hingga akhirnya ia lelah secara emosional.
Saya memahami pergumulan itu. Andrew Wommack pernah mengatakan bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Menurut saya, itu sangat benar.
Untuk menjadi dokter ada sekolahnya. Untuk menjadi insinyur ada pendidikannya. Tetapi tidak ada sekolah yang benar-benar mengajarkan bagaimana menjadi suami, istri, atau orang tua yang sempurna. Kita belajar sambil berjalan, sambil bertumbuh, bahkan sering kali sambil membereskan kelemahan kita sendiri.
Karena itu saya merasa dunia saat ini kadang terlalu lama tinggal di masa lalu. Kita diajak terus menggali luka, menghubungkan setiap masalah dengan pengalaman masa kecil, seolah-olah masa depan hanya merupakan bayangan dari masa lalu. Padahal Firman Tuhan berkali-kali mengarahkan pandangan kita kepada masa kini dan masa depan. Masa lalu memang bisa menjadi pelajaran, tetapi bukan tempat tinggal.
Saya percaya, terus-menerus mengorek luka tanpa arah yang sehat ibarat membuka kembali luka fisik yang sebenarnya sedang sembuh. Semakin sering dibuka, semakin sulit pulih. Akhirnya banyak orang menjalani hidup sebagai korban masa lalu. Semua kegagalan dijelaskan oleh trauma. Semua ketakutan disandarkan pada pengalaman yang pernah terjadi.
Yang indah adalah Tuhan tidak membiarkan kita hidup seperti itu.
Mazmur 139:5 dalam TPT mengatakan sesuatu yang indah:
You’ve gone into my future to prepare the way,
and in kindness you follow behind me to spare me from the harm of my past.
With your hand of love upon my life, you impart a blessing to me.
Allah telah pergi ke masa depanku untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan-Mu mengikuti di belakangku,
untuk menyelamatkanku dari bahaya masa laluku.
Dengan tangan kasih-Mu atas hidupku, Engkau memberkatiku.
Perhatikan.
Tuhan bahkan sudah pergi ke masa depan kita.
Tetapi Tuhan juga membereskan masa lalu. Dia juga sedang menyiapkan masa depan dan melindungi kita dari banyak hal yang bahkan belum kita lihat.
Ketika Ben mulai memahami kebenaran ini, sesuatu berubah di dalam dirinya. Ia memilih menyerahkan penyesalannya kepada Tuhan. Ia berhenti berusaha mengendalikan segala sesuatu dan mulai belajar menjadi ayah yang baru setiap hari. Ia membangun waktu bersama Tuhan melalui firman, doa, perenungan, dan berbahasa roh. Dari luar, mungkin tidak banyak yang berubah. Namun di dalam hatinya, damai mulai bertumbuh.
Saya belajar, sering kali mujizat pertama yang Tuhan kerjakan bukanlah perubahan keadaan, melainkan perubahan hati. Ketika hati menjadi tenang, kita mulai lebih peka mendengar suara Tuhan. Dan saat kita mendengar-Nya dengan jelas, kita tidak lagi berjalan dipimpin oleh rasa bersalah, melainkan oleh pengharapan.
Masa lalu mungkin menjelaskan mengapa kita terluka, tetapi masa lalu tidak berhak menentukan siapa kita hari ini. Di dalam Tuhan selalu ada kesempatan untuk memulai kembali. Dia tidak memanggil kita hidup dalam penyesalan, melainkan melangkah bersama-Nya menuju masa depan yang telah dipersiapkan-Nya.
“Kita boleh belajar dari masa lalu, tetapi jangan pernah menjadikannya tempat tinggal. Tuhan memanggil kita untuk melangkah maju, karena masa depan selalu lebih besar daripada penyesalan.”
“Sometimes the greatest act of faith is to stop rehearsing the past and start trusting God with the future.” – Christine Caine.
“Kadang tindakan iman terbesar adalah berhenti mengulang-ulang masa lalu dan mulai mempercayakan masa depan kepada Tuhan – Christine Caine.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
Pemulihan sejati dimulai saat kita berhenti hidup sebagai korban masa lalu dan mulai berjalan sebagai anak Tuhan.”
“True healing begins when we stop living as victims of the past and start walking as children of God.” – Yenny Indra
