Category : Articles

Articles

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Melewati sebuah jembatan sepanjang sekitar 600 meter yang hanya cukup dilalui satu mobil secara bergantian, akhirnya kami tiba di tujuan utama perjalanan ini.: Sommarøy, yang dikejar karena terpesona kisah di Tiktok.

Pulau kecil di kawasan Arctic yang selama setahun terakhir hanya saya lihat di video-video perjalanan.

Kini saya benar-benar berada di sana.
Kami sudah berada di sekitar 69° Lintang Utara.
Masuk jauh ke kawasan Arctic, alias kutub utara.

Dan semakin saya melihatnya, semakin saya mengerti mengapa banyak orang menyebut Norwegia sebagai Stairway to Heaven.

Sebelum memasuki Sommarøy, perhatian saya tertuju pada sebuah pulau bergerigi yang berdiri gagah di tengah laut.

Namanya Pulau Håja.

Bentuknya begitu khas sehingga banyak orang percaya pulau inilah yang menginspirasi desain Arctic Cathedral di Tromsø yang terkenal itu.

Arsiteknya, Jan Inge Hovig, ternyata sengaja membiarkan misteri itu tetap hidup.

Kadang ia mengatakan inspirasinya berasal dari gunung es.
Kadang dari tenda suku Sami.
Kadang dari rak pengering ikan.
Kadang pula dari Pulau Håja.

Sampai beliau meninggal dunia, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.
Dan mungkin memang tidak semua keindahan harus dijelaskan.
Sebagian cukup dikagumi.

Sommarøy sendiri hanya dihuni sekitar 300 penduduk.
Sebagai perbandingan, seluruh kepulauan Lofoten yang begitu luas hanya memiliki sekitar 28.000 penduduk.

Tetapi yang membuat saya kagum, pulau kecil ini memiliki hampir semua yang dibutuhkan.

Ada sekolah.
Ada supermarket.
Ada museum kecil.
Ada pelabuhan.
Ada fasilitas umum.
Lengkap.
Seperti sebuah dunia mini yang berdiri sendiri di tengah lautan Arctic.

Pulau ini juga dikelilingi banyak pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Dari kejauhan tampak seperti batu-batu zamrud yang ditaburkan Tuhan di atas laut biru kehijauan.

Dan warna lautnya sungguh luar biasa.
Ketika langit mendung, air laut berubah menjadi abu-abu lembut.
Tetapi begitu matahari muncul, warnanya berubah menjadi hijau turquoise yang memukau.
Seolah-olah seseorang baru saja mengganti warna seluruh lautan.

Kami menginap di Sommarøy Arctic Hotel, satu-satunya hotel besar di pulau itu.
Dan tentu saja lokasinya yang terbaik.
Hotel ini memiliki lagoon sendiri.
Pantai pribadi.
Pasir putih.
Air sebening kristal.
Dan pemandangan yang membuat kita sulit berhenti memotret.

Malam itu suhu sekitar delapan derajat Celsius.
Bagi kami dingin.
Tetapi puluhan remaja Norwegia masih berenang dan bermain di pantai.
Padahal jam sudah malam.
Atau setidaknya seharusnya malam.

Karena di sini, malam dan siang menjadi konsep yang membingungkan.
Langit tetap terang.
Matahari masih bercahaya.
Dan tubuh kita seperti kehilangan orientasi waktu.

Ada satu spot yang sangat cantik di tengah Sommarøy.
Tiga rumah mungil yang berdiri anggun menghadap laut.
Persis seperti kartu pos.
Saya berfoto di sana.
Ternyata Private property.

Di Norwegia, hak milik pribadi benar-benar dihormati.
Tidak boleh sembarangan masuk.
Tidak boleh sembarangan parkir.
Bahkan untuk mengambil foto pun ada batas yang harus dihormati.

Awalnya terasa merepotkan.
Tetapi kemudian saya mengerti.
Mungkin karena itulah tempat-tempat seperti ini tetap terjaga keindahannya.

Namun keunikan terbesar Sommarøy bukanlah pantainya.
Bukan pula hotelnya.

Melainkan sebuah ide yang membuat dunia tercengang.

Pada tahun 2019, seorang warga bernama Kjell Ove Hveding mengusulkan agar Sommarøy menjadi Time-Free Zone, zona bebas waktu pertama di dunia.

Alasannya sederhana.
Selama musim panas, matahari tidak benar-benar terbenam selama sekitar 69 hari.

Siang dan malam menjadi kabur.
Jam tujuh malam terasa seperti jam dua siang.
Jam dua pagi bisa terasa seperti sore hari.
Kalau ingin minum kopi di pantai jam dua pagi, silakan.
Kalau ingin berenang jam empat pagi, juga silakan.

Bahkan saat kampanye itu diluncurkan, sebagian warga benar-benar menyimpan jam tangan mereka di laci.

Sebagian melepas jam dinding dari rumah.
Mereka ingin hidup mengikuti cahaya dan musim, bukan jarum jam.

Media internasional langsung heboh.
Lebih dari 1.600 media dunia memberitakannya.
Jangkauannya mencapai sekitar 1,2 miliar pembaca global.

Yang lebih mengejutkan lagi, belakangan diketahui bahwa kampanye tersebut merupakan strategi promosi wisata yang sangat cerdas.
Biayanya hanya sekitar 60.000 dolar AS.
Tetapi nilai publisitas yang dihasilkan diperkirakan mencapai 11,4 juta dolar AS.
Brilian.

Sebuah pulau kecil berpenduduk 300 orang berhasil membuat dunia membicarakan dirinya.

Namun setelah berada di sini, saya merasa keberhasilannya bukan semata karena pemasaran yang hebat.
Melainkan karena mereka menjual sesuatu yang memang dirindukan banyak orang.

Mereka menjual sebuah pertanyaan.
*Bagaimana jadinya jika hidup kita tidak terus-menerus dikuasai oleh waktu?*

Karena sesungguhnya banyak orang lelah.
Lelah mengejar jadwal.
Lelah mengejar target.
Lelah mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya.

Sommarøy seolah berbisik,
“Sesekali, lepaskan jam tanganmu.”

Bukan secara harfiah.
Tetapi di dalam hati.
Berhentilah sejenak.

Nikmati momen yang sedang Tuhan berikan.

Karena hidup bukan hanya soal mengelola waktu.

Tetapi juga tentang menikmati waktu yang telah dianugerahkan kepada kita.

“Jangan terlalu sibuk menghitung waktu hingga lupa menikmati kehidupan yang Tuhan berikan.”
Setuju?

“The butterfly counts not months but moments, and has time enough.”— Rabindranath Tagore .

“Kupu-kupu tidak menghitung bulan, melainkan momen. Dan itu sudah cukup baginya.” — Rabindranath Tagore .

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Husøy, Norway: Tuhan Menyimpan Kejutan di Tempat yang Tidak Kita Rencanakan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Husøy, Norway:Tuhan Menyimpan Kejutan di Tempat yang Tidak Kita Rencanakan…

“Bye Bye Lofoten…”
Bus kami perlahan meninggalkan kepulauan yang selama bertahun-tahun saya idamkan.

Tujuan berikutnya adalah Sommarøy.

Namun karena jaraknya terlalu jauh untuk ditempuh sekaligus, kami harus bermalam terlebih dahulu di Husøy, sebuah pulau kecil di ujung Senja Island.

Saat itu saya menganggapnya hanya sebagai tempat transit.
Sekadar tempat menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan.

Saya tidak tahu bahwa Tuhan sedang menyiapkan kejutan.

Perjalanan dari Svolvær menuju Husøy ternyata menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan.

Kami menyusuri National Scenic Route Senja, jalur ikonik sepanjang pantai yang sering disebut sebagai salah satu rute terindah di Norwegia.

Tidak heran jika banyak orang menjuluki negeri ini sebagai Stairway to Heaven, Tangga menuju Surga.

Sepanjang perjalanan, mata seolah tidak pernah diberi kesempatan untuk bosan.

Gunung.
Laut.
Salju.
Langit.
Semuanya bergantian memamerkan kecantikannya.

Di laut berkali-kali terlihat lingkaran-lingkaran besar mengapung.

“Itu salmon farm,” kata B. Rita.

Mereka menyebutnya Ring of Money.
Lingkaran uang.
Gudang duit.
Dan memang benar.
Di balik lingkaran-lingkaran sederhana itu tersimpan salah satu kekayaan terbesar Norwegia, Salmon.

Lalu menjelang tiba di Husøy, bus berhenti.

Pulau mungil yang berdiri sendiri di tengah laut dan hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan pendek ke daratan utama Senja.

Kami berfoto bersama.
Dan saya langsung terpana.

Di tengah lautan berdiri sebuah pulau kecil yang cantik.
Sebagiannya dikelilingi gunung hijau.
Di sisi lain berdiri gunung batu hitam yang dihiasi salju abadi.

Pemandangan itu begitu memukau.
Begitu asli.
Begitu murni.

Sampai-sampai saya bingung harus memilih foto yang mana untuk mewakilinya.

Setiap sudut terasa layak menjadi kartu pos.

Barulah saya teringat sesuatu.
Bertahun-tahun lalu ketika merencanakan perjalanan sendiri bersama P. Indra, saya memang pernah membaca tentang Husøy.

Saya tahu, salah satu pilihan menginap di Senja Island ya .. di Husøy.
Tetapi saya tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Saya tidak sadar bahwa tempat ini sesungguhnya salah satu impian kecil yang selama ini tersimpan di hati saya.

Saya selalu membayangkan suatu hari bisa menginap di sebuah pulau kecil yang terpencil.

Dikelilingi laut, gunung cantik, burung-burung beterbangan, dengan kicaunya…
Jauh dari keramaian.

Dan ternyata tanpa saya sadari, Tuhan sedang membawa saya tepat ke tempat seperti itu.

Ketika memasuki kamar hotel, saya kembali dibuat terdiam.

Bangunannya mengingatkan saya pada rorbuer, rumah nelayan khas Norwegia.
Tetapi versi modern.
Hangat.
Minimalis.
Elegan.

Yang paling memukau adalah jendela kaca raksasa dari lantai hingga hampir menyentuh plafon.

Tepat di depan tempat tidur terbentang gunung hijau, gunung batu, salju, dan laut yang tenang.

Malam itu kami sengaja tidak menutup tirai blackout.
Sayang rasanya.
Terlalu indah untuk dilewatkan.

Menurut Bu Rita, hotel dan makanan di tempat transit ini justru lebih mahal dibanding beberapa lokasi lain yang kami kunjungi.

Saat itu saya belum mengerti.

Sekarang saya mengerti.
Dan menurut saya, semuanya sepadan.

Bahkan sebuah toilet stop di perjalanan pun memberi kejutan.
Bus berhenti di sebuah toilet umum di tengah perjalanan.

Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya itu yang saya kira.
Ternyata tepat di depannya terbentang jembatan cantik yang menghubungkan pantai-pantai kecil.
Di belakangnya berdiri gunung-gunung batu runcing.

“Gunung gigi monster,” kata Pak Anton.

Kami semua tertawa.
Tetapi memang benar.
Bentuknya seperti deretan gigi raksasa yang muncul dari bumi.

Cantiknya luar biasa.
Padahal itu hanya toilet stop.
Bayangkan.

Kami lunch di Skaland sebelum menyeberang dengan ferry menuju Sommarøy.
Sekali lagi saya menemukan pemandangan yang membuat saya terdiam.

Dan di situlah saya semakin mengerti sesuatu.

Sering kali kita terlalu fokus pada tujuan.
Padahal Tuhan juga bekerja di sepanjang perjalanan.

Kita sibuk memikirkan tempat yang ingin kita datangi.
Sementara Dia sedang menyiapkan hadiah-hadiah kecil di tempat yang tidak pernah kita masukkan ke dalam daftar.

Saya datang ke Norwegia dengan impian melihat Lofoten.
Tetapi Tuhan juga memperkenalkan saya kepada Husøy.

Dan mungkin itu gambaran kehidupan.
Kita punya rencana.
Tuhan punya kejutan.

Dan sering kali kejutan-Nya jauh lebih indah daripada rencana kita.

Melihat ciptaan-Nya yang begitu megah dan memukau membuat saya semakin mengenal sisi lain dari kebaikan Tuhan.

Dia bukan hanya menjawab doa.
Dia juga senang memberi kejutan.
Karena Tuhan yang kita sembah adalah Bapa yang jauh lebih baik daripada yang mampu kita bayangkan.

Kadang Dia memberikan apa yang kita minta.
Tetapi sering kali Dia memberikan lebih dari yang pernah kita pikirkan.

Dan ketika itu terjadi, kita hanya bisa tersenyum, bersyukur, lalu berkata, menirukan kalimat topnya Mbah Surip
“Tuhan, I love You Full….”

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”- Marcel Proust.

“Perjalanan penemuan yang sesungguhnya bukanlah mencari pemandangan baru, melainkan memiliki cara pandang yang baru.”- Marcel Proust.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Tertawa bersama adalah bagian dari berkat Tuhan.

Laughing together is one of God’s blessings.
– Yenny Indra

Read More
Articles

Bau Ikan, Burung Camar, dan Orang-Orang yang Berjalan Bersama Kita

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bau Ikan, Burung Camar, dan Orang-Orang yang Berjalan Bersama Kita

Semakin lama saya berada di Lofoten, semakin saya sadar bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar tentang melihat tempat-tempat indah.

Justru yang membuat saya terkesan adalah kehidupan yang berlangsung di balik pemandangan itu.

Hari ini kami mengunjungi Nusfjord, Ballstad, dan Stamsund.

Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda.

Sejak pagi matahari bersinar penuh.
Langit biru.
Laut tenang.

Dan untuk pertama kalinya saya benar-benar memperhatikan para penghuni asli Lofoten, teutama di Nusfjord, yang sesungguhnya adalah Burung camar.
Mereka ada di mana-mana.
Di tebing-tebing batu.
Di pelabuhan.

Bahkan di atas atap-atap rorbuer.

Karena itu kami harus berhati-hati saat berjalan atau berfoto.

Kalau tidak, bisa saja mendapat “oleh-oleh” dari udara!

Burung-burung itu tampak begitu bebas.
Seolah mereka yang memiliki Lofoten, sementara kami hanya tamu yang datang berkunjung.

Untuk mendapatkan beberapa foto terbaik, kami harus memanjat batu-batu di perbukitan.

Begitu sampai di atas, pemandangan yang terbentang sungguh luar biasa.

Laut yang tenang seperti kaca.

Kapal-kapal nelayan yang beristirahat di pelabuhan.

Tebing-tebing batu yang berdiri kokoh menjaga teluk.

Saya kembali belajar bahwa pemandangan terbaik sering kali membutuhkan sedikit usaha ekstra.
Dari bawah kita hanya melihat sebagian.
Dari atas kita melihat keseluruhan.

Di Nusfjord kami juga bertemu seorang wanita Norwegia yang mengenakan batik.
Tentu saja saya langsung menyapanya.
Ternyata beliau sudah tiga kali mengunjungi Indonesia.

Bali.
Sumba.
Dan Lombok.

Saya tersenyum bangga.

Di sebuah desa nelayan kecil di ujung Norwegia, saya bertemu seseorang yang begitu menghargai budaya Indonesia.

Hari itu saya kembali diingatkan bahwa dunia sebenarnya tidak sebesar yang kita bayangkan.

Di tengah perjalanan yang jauh, kita sering menemukan hal-hal yang terasa seperti rumah.

Makan siang sudah termasuk dalam paket kunjungan.

Dan lagi-lagi…
Ikan dan udang.
Awalnya menyenangkan.

Tetapi setelah beberapa hari berturut-turut, saya mulai merindukan nasi goreng, Soto, Rawon Indonesia.

Mungkin itulah salah satu tanda bahwa saya benar-benar sedang jauh dari rumah.

Untunglah dinner kami, Japanese food. Sushi, chiken karage, set menu dengan nasi plus pisang goreng ice cream penutupnya. Cocok di lidah.

Dari Nusfjord kami melanjutkan perjalanan ke Ballstad.

Kalau Reine terkenal karena keindahannya, maka Ballstad terkenal karena aromanya.

Aroma ikan.

Di beberapa sudut desa, bau ikan cod cukup kuat tercium.

Namun menariknya, penduduk lokal memiliki cara pandang yang berbeda.

Bagi mereka, itulah aroma penghidupan.
Aroma yang membangun rumah-rumah mereka.
Menyekolahkan anak-anak mereka.
Membeli kapal-kapal mereka.
Dengan kata lain, bau ikan adalah bau uang.

Saya langsung teringat bahwa sering kali kita mengeluh tentang hal-hal yang setiap hari kita temui, padahal mungkin justru itulah berkat yang menopang kehidupan kita.

Kemudian kami tiba di Stamsund.

Di sini suasananya terasa berbeda.
Tidak seindah Reine.
Tidak seartistik Henningsvær.
Tetapi lebih nyata sebagai kota nelayan yang bekerja.

Kapal-kapal penangkap ikan berukuran besar memenuhi pelabuhan.
Rorbuer yang berdiri di sepanjang pantai juga terlihat lebih baru, lebih besar, dan lebih modern.

Berbeda dengan Reine yang banyak mempertahankan rorbuer tua tradisional.

Menariknya, warna merah khas rorbuer di Lofoten memang memiliki sejarah panjang. Dahulu cat merah menjadi pilihan karena relatif murah dan mudah diperoleh dibanding warna lain. Pigmen merah yang digunakan di Skandinavia banyak berasal dari mineral dan bahan tambang sehingga menghasilkan warna merah tua yang khas dan hingga kini menjadi identitas visual desa-desa nelayan Norwegia.

Ada satu hal lagi yang terus saya perhatikan selama beberapa hari di Lofoten.

Kami hampir selalu berada di tepi laut.
Tetapi udaranya tidak lengket.
Tidak lembab seperti yang biasa kita rasakan di daerah pantai Indonesia.

Udara terasa ringan.
Segar.
Bersih.
Bahkan di pelabuhan yang dipenuhi kapal ikan sekalipun.

Mungkin karena jumlah penduduknya sedikit.
Mungkin karena alamnya masih sangat terjaga.
Atau mungkin karena mereka sungguh menghargai lingkungan tempat mereka hidup.

Yang pasti, saya menikmatinya.

Dan di tengah semua keindahan itu, saya mulai menyadari sesuatu.
Liburan yang berkesan ternyata bukan hanya tentang ke mana kita pergi.
Tetapi dengan siapa kita berjalan.

Rombongan kami hanya terdiri dari dua belas orang.
Jumlah yang kecil.
Tetapi justru itu yang membuat suasananya hangat.

P. Indra dan para bapak bahkan menemukan hiburan baru.

Mereka berfoto dengan gaya seolah-olah sedang terbang, lalu mengubahnya menjadi video AI sehingga benar-benar terlihat melayang di udara.

Foto-foto grup pun dibuat menari bersama.
Kami semua tertawa melihat hasilnya.

Mungkin itulah salah satu keuntungan bertambahnya usia.
Kita tidak lagi terlalu sibuk menjaga citra.
Kita lebih mudah tertawa.
Lebih mudah menikmati momen.
Dan lebih mudah bersyukur.

Karena pada akhirnya, kenangan terbaik dari sebuah perjalanan hampir selalu memiliki wajah-wajah yang kita kasihi di dalamnya.

Bukan hanya pemandangan yang kita lihat.
Tetapi orang-orang yang berjalan bersama kita di sepanjang jalan.

Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa jauh kita pergi.
Tetapi dari seberapa dalam kita melihat serta memberinya makna.

“We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next, to find ourselves.” – Pico lyer.

“Pada awalnya kita bepergian untuk melepaskan diri dari rutinitas. Pada akhirnya kita bepergian untuk menemukan diri kita kembali.” – Pico lyer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Tertawa bersama adalah bagian dari berkat Tuhan.

Laughing together is one of God’s blessings.
– Yenny Indra

Read More
Articles

Henningsvær: Ruang VIP di Surga Bernama Lofoten

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Henningsvær: Ruang VIP di Surga Bernama Lofoten

Hari ini Lofoten kembali membuat saya jatuh cinta.

Padahal sejak beberapa hari terakhir saya sudah melihat gunung-gunung yang menjulang dari laut, fjord yang bening seperti kaca, rumah-rumah nelayan merah, dan pemandangan yang terasa seperti kartu pos.

Tetapi anehnya, setiap sudut Lofoten memiliki kecantikannya sendiri.
Tidak ada yang terasa sama.
Tidak ada yang membosankan.
Justru semakin jauh menjelajah, semakin banyak kejutan yang menanti.

Sejak pagi matahari bersinar cerah.
Langit biru membentang luas.
Udara sejuk dan bersih.

Di perjalanan kami melewati sebuah drinking water reservoir yang terletak tepat di bawah tebing-tebing batu yang menjulang tinggi.
Airnya begitu tenang.
Begitu jernih.
Memantulkan bayangan gunung seperti cermin raksasa.

Di salah satu sisi tebing, terlihat beberapa orang sedang melakukan rock climbing.

Saya terpesona.

Di Norwegia, alam bukan sekadar tempat wisata.
Alam adalah bagian dari kehidupan.

Tak lama kemudian kami tiba di kawasan Gimsoy.
Di sana berdiri Gimsoy Bridge yang tinggi melengkung anggun di atas laut.
Sekilas mengingatkan saya pada jembatan-jembatan terkenal di Atlantic Ocean Road.

Dari atas jembatan, laut membentang luas dengan pulau-pulau kecil dan gugusan batu yang tersebar di sana-sini.

Gunung-gunung Lofoten berdiri kokoh di kejauhan.
Yang saya sukai dari Lofoten adalah kontrasnya.
Gunungnya terlihat gagah dan keras.
Tetapi lautnya lembut dan tenang.
Semua terasa begitu seimbang.

Perhentian berikutnya adalah Pantai Haukland.

Dan saya langsung mengerti mengapa banyak orang menyebutnya sebagai salah satu pantai terindah di Norwegia.

Pasir putihnya lembut seperti gula pasir.
Air lautnya berwarna biru kehijauan yang bening.
Gunung-gunung mengelilinginya seperti benteng alam yang megah.

Menariknya, meskipun udara bagi kami terasa cukup dingin, banyak orang Norwegia justru menikmati pantai itu dengan penuh sukacita.

Ada yang berenang.
Ada yang berjemur.
Ada yang bermain bersama keluarga.
Ada yang mendirikan tenda.

Budaya outdoor memang sudah menjadi bagian hidup mereka.
Bahkan sebagian orang Norwegia tetap berenang saat musim dingin.

Saya sendiri cukup menikmati pemandangannya saja.
Itu sudah lebih dari cukup.

Kami juga datang pada waktu yang tepat.
Bunga-bunga liar musim panas baru saja bermekaran.
Warna kuning, putih, dan ungu menghiasi lereng-lereng hijau. Ada pula bunga Lupina ungu yang terkenal.

Semuanya tampak segar.
Seolah alam sedang berdandan menyambut para tamunya.

Saat makan siang, kami kembali bertemu dengan “emas putih” Norwegia.
Ikan cod.

Selama ratusan tahun ikan cod menjadi sumber kehidupan masyarakat Lofoten.
Restoran tempat kami makan siang memiliki dekorasi yang unik.
Di langit-langit tergantung ikan cod kering.

Di berbagai sudut terdapat hiasan kepala ikan cod berukuran besar.
Bahkan saya sempat melihat bagian tenggorokan ikan yang memperlihatkan deretan struktur mirip gigi.

Wuih…
Baru kali ini saya melihatnya.

Makan siang kami diawali dengan sup ikan cod dan udang yang hangat.
Dilanjutkan steak salmon segar sebagai hidangan utama.
Lalu ditutup dengan hidangan penutup yang lezat.

Sederhana.
Tetapi nikmat.
Mungkin karena semua bahannya begitu segar.
Atau mungkin karena pemandangan di luar jendela membuat makanan terasa lebih istimewa.

Sore hari kami melanjutkan perjalanan menuju Henningsvær.

Konon, jika Lofoten adalah surga, maka Henningsvær adalah ruang VIP-nya.

Dan saya mulai mengerti alasannya.
Sebelum memasuki kota kecil ini, kami kembali melewati jembatan melengkung tinggi yang menjadi gerbang menuju Henningsvær.

Di bawahnya terbentang laut yang dipenuhi pulau-pulau batu. Ada sedikit rumput dan tanaman hijaunya.

Airnya begitu tenang.
Di kejauhan yacht-yacht berlayar perlahan.

Sesampainya di sana, saya langsung jatuh hati.

Henningsvær dibangun di beberapa pulau kecil yang saling terhubung oleh jembatan.
Karena itulah tempat ini sering dijuluki “Venice of Lofoten.”

Kota kecil ini terasa hidup namun tenang.
Rorbuer yang biasanya berwarna merah di tempat lain, di sini tampil lebih berani.

Ada yang berwarna kuning kunyit.
Hijau.
Coklat.
Putih.
Merah tua.

Bunga-bunga musim panas tumbuh di mana-mana.
Yacht berlabuh tenang di kanal-kanal kecil.
Orang-orang berjalan santai.
Tidak ada yang terburu-buru.
Mobil yang sesekali melintas, dengan sangat sabar menanti kami menyeberang. Dari jauh mereka sudah stop dulu.

Dan mungkin itulah yang membuat saya paling terkesan.
Bukan hanya keindahannya.
Tetapi ritme hidupnya.

Kami juga mengunjungi lapangan soccer yang paling cantik di seluruh dunia.

Lapangan itu berdiri di atas pulau batu kecil bernama Hellandsøya dan menjadi markas Henningsvær IL sejak tahun 1927.

Dari atas, lapangan hijau itu terlihat seperti permata yang mengapung di tengah laut.

Gunung-gunung batu berdiri mengelilinginya.
Laut membentang di segala arah.
Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Namun ketika meninggalkan Henningsvær, saya merasa tempat ini mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.

Bahwa hidup tidak harus selalu lebih besar.
Tidak harus selalu lebih ramai.
Tidak harus selalu lebih banyak.
Kadang hidup hanya perlu lebih disadari.
Lebih dinikmati.
Lebih disyukuri.

Karena semakin bertambah usia, saya mulai mengerti bahwa kekayaan bukanlah memiliki sebanyak mungkin.

Kekayaan adalah masih memiliki mata yang bisa melihat.
Hati yang bisa bersyukur.
Dan jiwa yang masih mampu terkagum-kagum.

Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa jauh kita pergi.
Tetapi dari seberapa dalam kita melihat.

“The more clearly we can focus our attention on the wonders and realities of the universe about us, the less taste we shall have for destruction.” – Rachel Carson.

“Semakin kita memusatkan perhatian pada keajaiban dan realitas alam semesta di sekitar kita, semakin kecil keinginan kita untuk merusak.” – Rachel Carson.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Keindahan ini bukan tujuan. Keindahan ini pengingat.

This beauty is not the destination. It is the reminder.
– Yenny Indra

Read More
Articles

Kalau Ada Surga di Bumi, Mungkin Beginilah Rasanya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Ada Surga di Bumi, Mungkin Beginilah Rasanya…

Konon orang Norwegia sering berkata,
“Jika ada surga di bumi, mungkin itulah Lofoten saat Midnight Sun.”

Setelah seharian menjelajahi Lofoten dari Svolvær menuju Å Village, Reine dan Hamnøy, saya mulai mengerti mengapa mereka berkata demikian.

Lofoten bukan sekadar indah.

Lofoten itu membuat kita berhenti berbicara.

Lalu hanya memandang.

Dan berulang kali berkata,

“Wow…”

Pagi itu cuaca tidak terlalu bersahabat.
Mendung.
Sedikit gerimis.
Gunung-gunung besar yang menjulang tinggi sebagian tertutup awan.

Tetapi justru di situlah keunikannya.
Di Lofoten, cuaca bisa berubah berkali-kali dalam sehari.

Saat mendung, air laut terlihat abu-abu keperakan.
Tenang.
Dingin.
Hampir seperti cermin logam raksasa.

Namun begitu matahari muncul dan menyentuh permukaan laut, keajaiban terjadi.
Air yang tadinya abu-abu langsung berubah menjadi hijau turquoise.
Biru kehijauan.
Berkilauan.

Seolah seseorang baru saja mengganti warna laut dengan sapuan kuas raksasa.
Saya sampai berkali-kali mengucek mata.
Apakah ini laut yang sama?

Lofoten terdiri dari beberapa pulau besar yang saling terhubung oleh jembatan-jembatan cantik dan jalan yang berkelok mengikuti garis pantai.

Tujuan kami hari itu adalah Å Village.

Ya, namanya hanya satu huruf.

Å.

Huruf terakhir dalam alfabet Norwegia.
Dan secara harfiah menjadi ujung jalan Lofoten.
Wuih… uniknya!
The end of the road.
Tidak ada lagi jalan setelah itu.
Hanya laut.
Pulau-pulau kecil.
Dan cakrawala yang luas.

Sepanjang perjalanan menuju Å, mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang rasanya seperti keluar dari kartu pos.

Rumah-rumah nelayan merah.
Gudang-gudang kayu merah tua.
Perahu-perahu kecil.
Laut biru.

Dan gunung-gunung batu raksasa yang berdiri gagah langsung dari permukaan laut.

Kadang saya bertanya dalam hati,

“Tuhan, bagaimana mungkin ada tempat secantik ini?”

Salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah ikan cod yang dijemur di mana-mana.

Bau ikan kering cukup terasa di beberapa tempat.

Ribuan ikan cod tergantung berjajar pada rak-rak kayu besar.

Pemandangan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lofoten selama ratusan tahun.

Yang unik, ikan cod kering ini keras sekali.

Hampir seperti kayu.

Ternyata sebelum diolah, ikan tersebut direndam beberapa hari hingga kembali menyerap air dan menjadi lebih lunak.

Tradisi lama yang masih bertahan hingga sekarang.

Kami berhenti makan siang di Reine.
Salmon steak.
Resto di sana hanya 2. Selalu full dengan grup.
Dan mungkin salah satu lokasi makan siang tercantik yang pernah saya alami.

Di depan restoran terbentang laut yang tenang.
Beberapa orang bermain kayak.
Banyak yacht yang parkir di sana.

Sementara di belakangnya berdiri tebing-tebing raksasa yang menjulang ke langit.
Makanannya enak.
Tetapi pemandangannya membuat makanan terasa lebih nikmat.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Hamnøy.

Di sinilah saya benar-benar terpukau.

Hamnøy mungkin adalah salah satu tempat yang paling sering muncul dalam foto-foto promosi Norwegia.

Dan setelah melihatnya sendiri, saya mengerti alasannya.

Rumah-rumah merah berdiri di tepi laut.
Air yang tenang memantulkan bayangan gunung.

Di kejauhan, puncak-puncak batu menjulang seperti benteng raksasa.
Sebagian masih menyimpan sisa-sisa salju musim dingin.
Sementara lerengnya ditutupi warna hijau yang segar.

Begitu matahari keluar setelah hujan berhenti, seluruh pemandangan berubah.

Seolah tirai dibuka.
Gunung-gunung bersinar.
Laut berkilauan berubah warna dari abu-abu saat mendung, menjadi hijau turqoise.

Rumah-rumah merah menjadi semakin hidup.
Dan warna-warna alam muncul dengan penuh percaya diri.

Saya hanya bisa berdiri diam.
Menikmati.
Bersyukur.
Terpukau.
Menyerap semuanya.
Karena ada keindahan yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya oleh kamera.

Di beberapa tempat kami juga melihat saluran air khusus untuk salmon.
Orang Norwegia sangat memperhatikan kelestarian alam.
Mereka membantu ikan-ikan salmon bermigrasi kembali ke hulu sungai saat musim bertelur tiba.
Melihat itu saya kembali teringat pelajaran kemarin.
Salmon selalu menemukan jalan pulang.

Mungkin karena Tuhan memang menciptakan setiap makhluk dengan tujuan dan arah yang jelas.

Sepanjang perjalanan hari ini, saya semakin menyadari satu hal.
Damai bukan hanya sesuatu yang kita rasakan.
Damai adalah hadiah dari Tuhan.
Damai adalah kompas.
Damai adalah petunjuk.
Dan damai itulah yang membawa saya sampai ke tempat ini.

Melihat gunung-gunung yang luar biasa.
Laut yang berubah warna.
Rumah-rumah nelayan yang cantik.
Dan karya Tuhan yang begitu megah.

Ada tempat-tempat yang membuat kita kagum.

Tetapi ada tempat-tempat yang membuat kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihatnya.

Lofoten termasuk yang kedua.

“Anugerah Tuhan membawa saya sampai di sini.”

Praise The Lord!

“The farther I travel, the more I realize: I did not discover the beauty. God simply allowed me to see it.” – Yenny Indra.

Semakin jauh saya melangkah, semakin saya sadar: bukan saya yang menemukan keindahan itu. Tuhanlah yang memperkenankan saya melihatnya.”- Yenny Indra.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 325