Category : Articles

Articles

Berhenti Menjadi Tawanan Masa Lalu

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berhenti Menjadi Tawanan Masa Lalu

Seorang sahabat bernama Ben pernah bercerita tentang pergumulannya sebagai seorang ayah. Anaknya mengalami masalah emosi yang cukup serius hingga harus menjalani berbagai pemeriksaan. Kesimpulan yang diterimanya membuat hatinya hancur. Banyak ahli berpendapat, akar persoalan itu berasal dari pengalaman masa kecil dan pola asuh yang pernah diterimanya.

Sebagai seorang ayah, Ben langsung dipenuhi rasa bersalah. Ia mulai mengingat setiap kesalahan yang pernah dilakukan.
Ia bertanya dalam hati,
“Apakah semua ini terjadi karena saya?”

Ia pun berusaha memperbaiki hubungan, meminta maaf, menjadi lebih sabar, dan lebih mengerti. Namun semakin ia mencoba mengurai masa lalu, semakin banyak luka yang muncul. Satu penyesalan membuka penyesalan berikutnya hingga akhirnya ia lelah secara emosional.

Saya memahami pergumulan itu. Andrew Wommack pernah mengatakan bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Menurut saya, itu sangat benar.

Untuk menjadi dokter ada sekolahnya. Untuk menjadi insinyur ada pendidikannya. Tetapi tidak ada sekolah yang benar-benar mengajarkan bagaimana menjadi suami, istri, atau orang tua yang sempurna. Kita belajar sambil berjalan, sambil bertumbuh, bahkan sering kali sambil membereskan kelemahan kita sendiri.

Karena itu saya merasa dunia saat ini kadang terlalu lama tinggal di masa lalu. Kita diajak terus menggali luka, menghubungkan setiap masalah dengan pengalaman masa kecil, seolah-olah masa depan hanya merupakan bayangan dari masa lalu. Padahal Firman Tuhan berkali-kali mengarahkan pandangan kita kepada masa kini dan masa depan. Masa lalu memang bisa menjadi pelajaran, tetapi bukan tempat tinggal.

Saya percaya, terus-menerus mengorek luka tanpa arah yang sehat ibarat membuka kembali luka fisik yang sebenarnya sedang sembuh. Semakin sering dibuka, semakin sulit pulih. Akhirnya banyak orang menjalani hidup sebagai korban masa lalu. Semua kegagalan dijelaskan oleh trauma. Semua ketakutan disandarkan pada pengalaman yang pernah terjadi.

Yang indah adalah Tuhan tidak membiarkan kita hidup seperti itu.
Mazmur 139:5 dalam TPT mengatakan sesuatu yang indah:

You’ve gone into my future to prepare the way,
and in kindness you follow behind me to spare me from the harm of my past.
With your hand of love upon my life, you impart a blessing to me.

Allah telah pergi ke masa depanku untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan-Mu mengikuti di belakangku,
untuk menyelamatkanku dari bahaya masa laluku.
Dengan tangan kasih-Mu atas hidupku, Engkau memberkatiku.

Perhatikan.
Tuhan bahkan sudah pergi ke masa depan kita.
Tetapi Tuhan juga membereskan masa lalu. Dia juga sedang menyiapkan masa depan dan melindungi kita dari banyak hal yang bahkan belum kita lihat.

Ketika Ben mulai memahami kebenaran ini, sesuatu berubah di dalam dirinya. Ia memilih menyerahkan penyesalannya kepada Tuhan. Ia berhenti berusaha mengendalikan segala sesuatu dan mulai belajar menjadi ayah yang baru setiap hari. Ia membangun waktu bersama Tuhan melalui firman, doa, perenungan, dan berbahasa roh. Dari luar, mungkin tidak banyak yang berubah. Namun di dalam hatinya, damai mulai bertumbuh.

Saya belajar, sering kali mujizat pertama yang Tuhan kerjakan bukanlah perubahan keadaan, melainkan perubahan hati. Ketika hati menjadi tenang, kita mulai lebih peka mendengar suara Tuhan. Dan saat kita mendengar-Nya dengan jelas, kita tidak lagi berjalan dipimpin oleh rasa bersalah, melainkan oleh pengharapan.

Masa lalu mungkin menjelaskan mengapa kita terluka, tetapi masa lalu tidak berhak menentukan siapa kita hari ini. Di dalam Tuhan selalu ada kesempatan untuk memulai kembali. Dia tidak memanggil kita hidup dalam penyesalan, melainkan melangkah bersama-Nya menuju masa depan yang telah dipersiapkan-Nya.

“Kita boleh belajar dari masa lalu, tetapi jangan pernah menjadikannya tempat tinggal. Tuhan memanggil kita untuk melangkah maju, karena masa depan selalu lebih besar daripada penyesalan.”

“Sometimes the greatest act of faith is to stop rehearsing the past and start trusting God with the future.” – Christine Caine.

“Kadang tindakan iman terbesar adalah berhenti mengulang-ulang masa lalu dan mulai mempercayakan masa depan kepada Tuhan – Christine Caine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Pemulihan sejati dimulai saat kita berhenti hidup sebagai korban masa lalu dan mulai berjalan sebagai anak Tuhan.”

“True healing begins when we stop living as victims of the past and start walking as children of God.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Mengapa Yohanes Masih Menulis Injil Lagi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengapa Yohanes Masih Menulis Injil Lagi?

Sebelum Yohanes mengambil penanya, tiga Injil lainnya, yaitu Matius, Markus, dan Lukas, sudah lebih dahulu beredar luas di kalangan jemaat.

Kisah kelahiran Yesus, pelayanan-Nya, mujizat-mujizat-Nya, pengajaran-Nya, hingga kematian dan kebangkitan-Nya telah dicatat dengan baik.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik.

Mengapa Yohanes masih menulis Injil yang keempat?

Bukankah semua peristiwa penting tentang Yesus sudah tersedia? Mengapa perlu ada satu Injil lagi?

Pertanyaan itu ternyata dijawab sendiri oleh Yohanes.

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semuanya ini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:30-31)

Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami seluruh Injil Yohanes.

Ia tidak menulis karena kekurangan bahan bacaan tentang Yesus. Ia menulis karena memiliki tujuan yang berbeda.

Di sinilah letak keunikan Injil Yohanes. Ia tidak berusaha menuliskan semua yang Yesus lakukan. Ia justru memilih beberapa peristiwa tertentu agar pembacanya mengenal siapa Yesus sebenarnya. Tujuan akhirnya bukan sekadar menambah catatan sejarah, tetapi membawa setiap orang kepada iman yang hidup di dalam Kristus.

Banyak ahli Perjanjian Baru seperti D.A. Carson, Andreas Köstenberger, Leon Morris, Merrill Tenney, dan Craig Keener melihat bahwa Injil Yohanes memiliki tujuan teologis yang sangat jelas. Yohanes bukan sekadar menyusun kronologi kehidupan Yesus. Ia sedang mengarahkan mata pembacanya kepada Pribadi Yesus.

Karena itu Yohanes hampir selalu menyebut mujizat sebagai “tanda” (semeion).
Mengapa bukan sekadar mujizat? Karena sebuah tanda tidak berhenti pada dirinya sendiri. Tanda selalu menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar.

Air berubah menjadi anggur bukan hanya menunjukkan kuasa Yesus mengubah air menjadi anggur. Peristiwa itu menunjuk kepada Yesus sebagai pembawa perjanjian yang baru. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, Yohanes tidak ingin kita berhenti kagum pada roti yang berlipat ganda. Ia segera membawa kita kepada perkataan Yesus, “Akulah Roti Hidup.”

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, Yohanes mengarahkan perhatian kita kepada perkataan Yesus, “Akulah Terang Dunia.” Demikian pula ketika Lazarus dibangkitkan, fokusnya bukan sekadar seorang mati hidup kembali, melainkan kepada pernyataan Yesus, “Akulah Kebangkitan dan Hidup.”

Semakin membaca Injil Yohanes, semakin kita menyadari bahwa mujizat bukanlah tujuan. Mujizat adalah tanda yang menunjuk kepada Pribadi Yesus. Yohanes ingin setiap pembacanya bertanya, bukan hanya, “Apa yang Yesus lakukan?”, tetapi “Siapakah Yesus sebenarnya?”

Ada satu fakta menarik lagi. Dalam bahasa Yunani, kata benda “iman” (pistis) tidak muncul satu kali pun di Injil Yohanes. Sebaliknya, kata kerja “percaya” (pisteuo) muncul sekitar 98 kali. Fakta ini telah lama diperhatikan oleh para ahli Perjanjian Baru.

Pesannya sangat indah. Yohanes tidak ingin iman hanya menjadi sebuah konsep yang kita pahami. Ia ingin kita percaya kepada Yesus. Percaya kepada firman-Nya. Percaya kepada kasih-Nya. Percaya kepada karakter-Nya. Percaya kepada janji-Nya. Iman bukan sekadar sesuatu yang kita miliki di kepala, tetapi hubungan yang terus hidup dengan Kristus.

Saya juga belajar sesuatu ketika membaca Injil Yohanes. Selama ini saya sering membaca Alkitab hanya untuk mengetahui apa yang terjadi. Yohanes mengajak kita melangkah lebih dalam. Setiap selesai membaca satu perikop, cobalah bertanya, “Apa yang Tuhan sedang nyatakan tentang Yesus melalui bagian ini?”

Pertanyaan sederhana itu mengubah cara kita membaca Alkitab. Kita tidak lagi sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi sedang mengenal Pribadi yang mengubah hidup kita.

Mungkin itulah sebabnya Injil Yohanes menjadi kitab yang paling sering diberikan kepada orang yang baru percaya. Karena tujuan akhirnya bukan membuat kita berkata, “Wah, mujizat Yesus luar biasa.” Melainkan membawa kita kepada pengakuan Tomas,

“Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).

Semakin kita mengenal Yesus, semakin kita mempercayai-Nya. Dan semakin kita mempercayai-Nya, semakin kita mengalami hidup yang sejati di dalam Dia.

“The more clearly we see Christ, the more naturally faith arises.”

“Semakin jelas kita melihat Kristus, semakin alami iman bertumbuh.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Mujizat menarik perhatian kita, tetapi tanda membawa kita mengenal Kristus. Semakin kita mengenal Dia, semakin mudah kita mempercayai-Nya.”

“Miracles capture our attention, but signs lead us to Christ. The more we know Him, the easier it becomes to trust Him.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Kasih Karunia Lebih Besar daripada Kesalahan Kita….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Kasih Karunia Lebih Besar daripada Kesalahan Kita….

Beberapa hari terakhir saya merenungkan satu hal.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seseorang menjalani hidup tanpa Tuhan.

Mengapa?

Karena hidup ini tidak pernah lepas dari kesalahan.
Ada keputusan yang ternyata keliru.
Ada kesempatan yang sudah lewat.
Ada kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan.
Dan yang paling berat, ada kesalahan yang sudah terjadi dan tidak bisa lagi diperbaiki.

Saat itulah penyesalan datang.
Ia berbisik pelan, tetapi terus-menerus.

“Seandainya waktu itu…”

“Kalau saja aku tahu…”

“Mengapa aku mengambil keputusan itu?”

Semakin dipikirkan, semakin berat rasanya.
Masa lalu memang tidak bisa diubah.
Tetapi penyesalan sering kali membuat kita kehilangan damai hari ini dan ketakutan menghadapi hari esok.

Saya bersyukur mempunyai Tuhan.
Bukan karena orang percaya tidak pernah salah.
Bukan pula karena setiap keputusan kita selalu benar.
Tetapi karena kasih karunia Tuhan lebih besar daripada kesalahan kita.

Beberapa waktu lalu saya kembali merenungkan *Roma 8:28.
“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Perhatikan baik-baik.

Ayat ini tidak berkata semua yang terjadi berasal dari Tuhan.
Ayat ini juga tidak berkata bahwa semua yang terjadi itu baik.
Tetapi Tuhan sanggup bekerja di dalam segala sesuatu.
Termasuk di dalam keputusan yang pernah kita sesali.

Saya belajar bahwa iman bukan berarti menyangkal fakta.
Iman berarti meninggikan Firman Tuhan di atas fakta.

Fakta berkata,
“Kamu pernah salah.”

Firman berkata,
“Kasih karunia-Ku cukup bagimu.”

Fakta berkata,
“Sudah terlambat.”

Firman berkata,
“Aku turut bekerja mendatangkan kebaikan.”

Fakta mengajak kita terus melihat ke belakang.
Firman mengajak kita berjalan bersama Tuhan hari ini.

Saya membayangkan betapa beratnya hidup jika semuanya bergantung pada kesempurnaan kita.
Kalau begitu, siapa yang bisa hidup dengan tenang?

Tetapi syukurlah, dasar hidup kita bukan kesempurnaan kita.
Dasarnya adalah kesetiaan Tuhan.

Abraham pernah keliru.
Daud pernah jatuh.
Petrus pernah menyangkal Yesus.
Namun kisah mereka tidak berhenti pada kegagalan.
Karena kasih karunia Tuhan selalu menulis bab berikutnya.

Ada satu kalimat yang sangat menguatkan hati saya.

Gembala yang baik bukan hanya menjaga domba yang selalu benar melangkah. Ia juga tahu bagaimana membawa pulang domba yang pernah salah melangkah.

Kalimat itu membuat hati saya lega.

Sebab saya sadar, ada kesalahan yang bisa saya perbaiki.
Tetapi ada juga yang tidak.

Namun ternyata pengharapan saya tidak terletak pada kemampuan saya memperbaiki masa lalu.

Pengharapan saya ada pada kesetiaan Gembala yang tetap memegang tangan saya hari ini.

Kalau memang saya keliru, saya belajar.
Kalau perlu bertobat, saya bertobat.
Lalu saya melangkah lagi.
Bukan dengan rasa bersalah.
Tetapi dengan iman bahwa Tuhan masih memegang masa depan saya.

Mungkin hari ini Anda juga sedang memikul beban penyesalan.
Jangan biarkan penyesalan itu berbicara lebih keras daripada janji Tuhan.

Apa yang sudah berlalu memang tidak bisa diubah.
Tetapi Tuhan masih memegang hari ini.
Dan Dia juga sudah berada di hari esok.

Karena itu saya memilih mempercayai Firman-Nya lebih daripada perasaan saya.

Saya memilih meninggikan janji-Nya di atas fakta yang saya lihat.

Sebab saya percaya, kasih karunia Tuhan selalu memiliki kata terakhir.

“Aku tidak lagi mengukur masa depanku dari kesalahan kemarin, tetapi dari janji Tuhan yang tidak pernah berubah.”

My grace is sufficient for you, for My power is made perfect in weakness.” – 2 Korintus 12:9

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
– 2 Korintus 12:9

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“I no longer measure my future by yesterday’s mistakes, but by God’s unchanging promises.”

“Aku tidak lagi mengukur masa depanku dari kesalahan kemarin, tetapi dari janji Tuhan yang tidak pernah berubah. – YennyIndra

Read More
Articles

Berani Bertanya, Berani Bertumbuh

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berani Bertanya, Berani Bertumbuh

Mengapa ada orang yang mampu melihat dunia dengan cara yang berbeda, sementara sebagian besar dari kita menerima segala sesuatu apa adanya? Pertanyaan itu membawa saya kepada kisah Albert Einstein.

Einstein lahir di Jerman pada tahun 1879. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang pendiam, tetapi memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Ia tidak puas hanya menerima jawaban. Ia ingin mengerti mengapa sesuatu bisa terjadi. Ketika sistem pendidikan pada zamannya lebih menekankan hafalan dan disiplin, Einstein justru lebih tertarik memahami konsep daripada sekadar mengingat fakta. Rasa ingin tahunya tidak pernah padam.

Setelah lulus dari ETH Zurich, ia tidak langsung menjadi profesor terkenal. Sebaliknya, ia bekerja sebagai pegawai di Kantor Paten Swiss di Bern. Pekerjaannya bukan meneliti alam semesta, melainkan memeriksa dokumen-dokumen penemuan orang lain. Namun di sela-sela pekerjaannya, pikirannya terus bekerja. Ia berdiskusi dengan beberapa sahabat dekat dalam sebuah kelompok kecil yang mereka sebut Olympia Academy. Mereka membaca buku, saling mengkritik, berdiskusi, dan mempertanyakan berbagai hal. Di sanalah kebiasaan berpikir Einstein semakin terasah.

Ada satu pertanyaan sederhana yang terus mengisi pikirannya sejak remaja,
“Bagaimana jika seseorang dapat bergerak secepat cahaya?”
Pertanyaan itu terdengar aneh.
Tidak ada laboratorium. Tidak ada teleskop canggih. Hanya sebuah imajinasi. Namun justru dari pertanyaan sederhana itulah lahir salah satu teori paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Tahun 1905, yang kemudian dikenal sebagai Annus Mirabilis atau Miracle Year, Einstein menerbitkan empat makalah ilmiah yang mengubah dunia fisika. Saat itu ia belum menjadi ilmuwan terkenal. Ia masih bekerja di kantor paten. Namun pikirannya sudah melampaui zamannya.

Tidak semua orang langsung menerima gagasannya. Banyak ilmuwan bersikap skeptis karena teorinya menantang cara berpikir yang selama ini dianggap benar. Namun Einstein tidak berhenti bertanya. Ia lebih tertarik mencari kebenaran daripada mengejar pengakuan manusia.

Ada satu kutipan Einstein yang sangat terkenal, “Imagination is more important than knowledge.”

Banyak orang salah memahaminya, seolah-olah Einstein menganggap pengetahuan tidak penting. Padahal bukan itu maksudnya. Baginya, pengetahuan adalah apa yang sudah kita ketahui hari ini, sedangkan imajinasi memberi keberanian untuk menjelajahi apa yang belum pernah diketahui.

Membaca kisah itu membuat saya bertanya kepada diri sendiri. Kapan terakhir kali saya benar-benar penasaran? Bukan sekadar mencari jawaban di internet, tetapi sungguh-sungguh berpikir. Sungguh-sungguh bertanya.

Sering kali kita berhenti belajar bukan karena sudah tahu banyak, melainkan karena berhenti bertanya. Padahal setiap pertumbuhan selalu dimulai oleh sebuah pertanyaan.
Mengapa?
Bagaimana?
Apakah ada cara yang lebih baik?

Saya percaya prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani. Orang yang terus bertumbuh bukanlah mereka yang merasa sudah mengetahui semuanya.
Justru mereka yang terus datang kepada Tuhan dan bertanya,
“Apa yang ingin Engkau ajarkan melalui situasi ini?”
atau,
“Apa yang masih perlu Engkau ubah dalam hidup saya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat tetap rendah hati, tetap mau belajar, dan tetap terbuka untuk diubahkan.

Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa orang yang berhenti bertanya biasanya juga berhenti bertumbuh. Karena itu jangan takut bertanya. Jangan takut berpikir. Jangan takut melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Siapa tahu, perubahan besar dalam hidup kita justru dimulai dari satu pertanyaan sederhana yang selama ini belum pernah kita beranikan untuk ajukan.

“Pertumbuhan tidak selalu dimulai dari jawaban yang hebat. Sering kali, pertumbuhan dimulai dari keberanian mengajukan pertanyaan yang tepat.”

“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing.”— Albert Einstein.

“Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti bertanya. Rasa ingin tahu memiliki alasannya sendiri untuk ada.” — Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Jawaban dapat menambah pengetahuan. Tetapi pertanyaan yang tepat dapat

mengubah arah hidup.” “Answers add knowledge. But the right question can change the direction of your life. – Yenny Indra

Read More
Articles

Iman Dimulai Sebelum Bukti Muncul.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Iman Dimulai Sebelum Bukti Muncul.

Ada musim-musim dalam hidup yang terasa membingungkan. Kita sudah berdoa, sudah berusaha, bahkan merasa telah melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya belum juga terlihat. Pintu yang kita harapkan terbuka ternyata masih tertutup. Jawaban yang kita nantikan belum juga datang. Bahkan terkadang keadaan justru tampak semakin tidak masuk akal.

Saat berada di musim seperti itu, biasanya pikiran kita mulai bekerja lembur. Muncul berbagai pertanyaan yang melemahkan hati. “Bagaimana kalau gagal?” “Bagaimana kalau semua ini sia-sia?” “Bagaimana kalau Tuhan tidak menjawab doa saya?” Tanpa sadar, pikiran berubah menjadi mesin pencari masalah. Sedikit saja ada berita buruk, kita langsung menghubungkannya dengan keadaan kita. Sedikit hambatan membuat kita merasa semuanya akan berakhir buruk.

Padahal sering kali yang berubah bukanlah keadaan, melainkan cara kita memandang keadaan.

Saya pernah membaca sebuah penjelasan menarik tentang cara kerja otak. Ketika seseorang memutuskan untuk percaya bahwa sesuatu akan berhasil, otaknya mulai mencari berbagai bukti yang mendukung keyakinan itu. Sebaliknya, ketika seseorang sudah yakin bahwa semuanya akan gagal, otaknya juga akan bekerja keras menemukan alasan mengapa kegagalan itu pasti terjadi. Otaknya sama. Dunianya sama. Yang berbeda hanyalah apa yang dipilih untuk dipercaya.

Prinsip ini sebenarnya sudah lama diajarkan dalam Firman Tuhan. Apa yang terus memenuhi pikiran kita perlahan akan membentuk cara kita memandang kehidupan, lalu memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil.

Karena itu saya belajar bahwa iman bukanlah menutup mata terhadap kenyataan. Iman adalah memilih melihat kenyataan dari sudut pandang Tuhan.

Abraham menjadi teladan yang indah. Secara manusia hampir tidak ada alasan baginya untuk tetap berharap. Usianya sudah lanjut, tubuhnya semakin lemah, dan janji Tuhan belum juga digenapi. Namun ia memilih tetap percaya. Ia tidak menunggu bukti baru untuk mulai percaya. Ia lebih dahulu mengambil keputusan untuk percaya, lalu tetap berdiri di atas keputusan itu.

Sering kali kita justru melakukan kebalikannya. Kita berkata, “Kalau nanti saya melihat hasilnya, baru saya percaya.” Padahal iman berkata, “Saya percaya, karena itu saya akan melihat.”

Dalam perjalanan hidup, saya beberapa kali mengalami hal yang sama. Ketika sedang berada di tengah proses, saya bertanya-tanya, “Tuhan, sebenarnya Engkau sedang mengerjakan apa?” Jawabannya tidak selalu datang saat itu juga. Namun ketika menoleh ke belakang, saya baru menyadari bahwa tidak ada satu langkah pun yang sia-sia. Tuhan sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih indah daripada yang mampu saya bayangkan.

Mungkin hari ini Anda sedang berada dalam masa penantian. Doa belum terjawab. Usaha belum membuahkan hasil. Jalan di depan masih tampak berkabut. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Tuhan sedang diam. Sangat mungkin Dia sedang bekerja di balik layar, mempersiapkan sesuatu yang belum dapat kita lihat.

Karena itu, keputusan terpenting yang dapat kita ambil hari ini bukanlah menyerah, melainkan tetap percaya. Sebab sering kali mukjizat tidak dimulai ketika keadaan berubah. Mukjizat dimulai ketika hati memutuskan untuk tetap mempercayai Tuhan, meskipun mata belum melihat apa pun.

“Keadaan tidak selalu berubah seketika. Tetapi ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan, cara kita memandang keadaan mulai berubah. Dan sering kali, di situlah mukjizat mulai bekerja.”

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”- Søren Kierkegaard.

“Hidup hanya bisa dipahami ketika menoleh ke belakang, tetapi harus dijalani dengan terus melangkah ke depan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Keajaiban bukan selalu ketika keadaan berubah. Kadang keajaiban pertama adalah hati yang tetap tenang di tengah penantian.”

“Miracles are not always when circumstances change. Sometimes the first miracle is a heart that remains at peace while waiting.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 329