Category : Articles

Articles

Saat Tuhan Membelokkan Stir Hidup Anda

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Tuhan Membelokkan Stir Hidup Anda

Pernahkah Anda merasa sudah berada di jalur yang paling “pas” secara logika, lalu tiba-tiba Tuhan menginterupsi dan membelokkan arahnya ke tempat yang sama sekali tidak masuk akal?

Kita sudah merasa punya skill, punya latar belakang yang mendukung, dan merasa, “Di sinilah tempat saya seharusnya bersinar.”
Tapi Tuhan berkata, “Bukan di situ, anak-Ku. Ke sana.”

Gubraaaaaaakkk…..

Saya teringat kisah seorang arsitek senior yang sangat mapan. Dia merasa panggilannya adalah membangun gedung-gedung megah untuk kemuliaan Tuhan. Namun, di tengah puncak karirnya, Tuhan “menutup matanya” terhadap proyek-proyek besar dan mengarahkannya untuk melayani anak-anak putus sekolah di pelosok.

Logikanya berontak. Dia merasa keahliannya terbuang percuma. Namun, setelah dia taat, dia justru menemukan kepuasan yang tidak pernah diberikan oleh cetak biru bangunan manapun. Ternyata, Tuhan tidak butuh keahlian arsitekturnya, Tuhan butuh hatinya untuk membangun “bait suci” di dalam jiwa anak-anak itu.

Kisah Paulus juga dimulai dengan cara yang serupa. Setelah perjumpaan dramatis dengan Tuhan, Paulus bukan cuma bertobat, dia menjadi buta.

Tuhan lalu mengirim Ananias—bukan rasul besar, cuma orang biasa yang taat—untuk memulihkan penglihatannya.

Di sini kita belajar:
Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita, Dia memulihkan kita untuk sebuah penugasan.

?Why?
Karena kesembuhan dan pemulihan kita bukan sekadar untuk kenyamanan pribadi atau agar kita bisa pamer mujizat. Pemulihan itu adalah persiapan untuk tujuan kekekalan. Bayangkan jika Paulus tetap buta, dia tidak akan bisa menulis surat-surat yang menjadi napas iman kita hari ini. Tuhan memulihkan mata Paulus agar dia bisa melihat “Yang Benar” dan mendengar suara-Nya.

Namun, di sinilah ujiannya. Secara logika, Paulus adalah orang yang paling cocok melayani orang Yahudi. Dia pakar Taurat, dia tahu sistem mereka, dia punya “jam terbang” di sana. Tapi Tuhan justru berkata: “Aku mengutus engkau kepada bangsa-bangsa lain.” Ini seperti menyuruh seorang ahli bedah untuk menjadi koki. Tidak nyambung secara manusia, tapi sempurna secara ilahi.

Sering kali kita terjebak dalam versi kita sendiri tentang rencana Tuhan. Kita merasa, “Saya cocoknya di sini,” atau “Saya seharusnya melakukan ini.”

Tapi saat Tuhan mulai mengoreksi cara berpikir kita, mengganggu kenyamanan, atau mengubah arah hidup, kita mulai tidak nyaman. Masalahnya sering kali bukan pada Tuhan, tapi pada pola pikir kita yang kaku.

Kekristenan sejati bukan hanya tentang “sudah selamat,” lalu hidup semau kita. Ini tentang mengenal kehendak-Nya, mendengar suara-Nya, dan berani melangkah saat Dia membelokkan stir hidup kita. Hidup yang paling diberkati bukanlah hidup yang kita rancang sendiri dengan rapi, melainkan hidup yang kita jalani sesuai dengan tuntunan suara Tuhan, meski jalannya tidak seperti yang kita bayangkan.

Mari kita belajar seperti Paulus dan Ananias. Yang satu taat untuk dipulihkan dan diutus ke tempat yang asing, yang satu taat untuk menjadi alat bagi rencana besar orang lain. Jangan takut saat Tuhan mengubah arah hidup Anda. Think Eternity. Dia tahu tujuan akhir yang terbaik bagi kita.

“Obedience to God is the pathway to the life you were truly created for.”

“Ketaatan kepada Tuhan adalah jalan menuju kehidupan yang untuknya Anda benar-benar diciptakan.— Joyce Meyer

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ego Kecil, Pintu pun Stres Menutup.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ego Kecil, Pintu pun Stres Menutup.

Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara batin, padahal pekerjaan fisik tidak seberapa?
Kita sering kali menyalahkan keadaan, menunjuk orang lain sebagai sumber stres, atau merasa beban hidup ini terlalu tidak adil.

Namun, jika kita mau jujur dan duduk tenang sejenak sambil menyeruput kopi, mungkinkah sumber kelelahan itu sebenarnya berasal dari dalam diri kita sendiri?

Saya teringat kisah seorang manajer sukses yang hampir burnout. Dia stres luar biasa karena merasa stafnya tidak becus dan kliennya terlalu menuntut.

Suatu hari, dalam sebuah sesi konseling, dia ditanya: “Apa yang paling membuatmu sakit hati?”
Jawabannya jujur, “Saya merasa mereka tidak menghargai posisi dan pengalaman saya.”

Boom!
Di situlah letak masalahnya.

Ternyata bebannya bukan pada volume pekerjaan, tapi pada upaya raksasa untuk menjaga “harga diri” agar tetap diakui. Begitu dia belajar untuk melepaskan hak untuk dihormati dan mulai melayani stafnya dengan tulus, stresnya menguap. Bebannya hilang bukan karena kliennya berubah, tapi karena egonya mengecil.

Saya pun merenungkan pesan “Mak Jleb” dari Bro Hadi Pandu, mengenai Galatia 2:20.

Dalam versi bahasa Inggris, ada satu kalimat yang sangat tajam:
“My ego is no longer central.”
Ego saya bukan lagi pusatnya.

Kalimat ini seperti pedang bermata dua yang memisahkan antara apa yang kita sebut “masalah hidup” dengan apa yang sebenarnya adalah “masalah ego.”

Why?
Karena jujur saja, sebagian besar stres yang kita alami bukan karena dunia ini terlalu jahat, tapi karena ego kita masih terlalu besar.

Kita stres karena ingin dipahami, ingin dihargai, ingin dianggap benar, dan ingin semua hasil sesuai dengan kemauan kita. Tanpa sadar, hidup kita masih berputar di sekitar: aku, aku, dan aku.

Selama “aku” masih duduk di takhta hati, damai sejahtera kita akan selalu goyah. Sering kali stres adalah alarm bahwa identitas kita belum beres. Kalau kita belum tahu siapa kita di dalam Kristus, kita akan terus hidup dari opini orang lain. Satu komentar miring bisa melukai dalam, karena kita sedang mati-matian mempertahankan ego.

Galatia 2:20 bukan sekadar ayat pajangan, ini adalah ayat eksekusi.
“Aku telah disalibkan dengan Kristus…”

artinya hidup ini bukan lagi panggung pembuktian diri saya. Tuhan tidak menyuruh kita mendidik ego jadi kudus, tapi menyuruh kita menyalibkannya.
Saat Kristus sungguh menjadi pusat, kita menjadi bebas. Kita tidak lagi haus dipuji atau hancur saat ditolak.

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita bisa tetap tenang walau tidak semua orang paham, karena hidup kita bukan lagi tentang “bagaimana saya terlihat,” tetapi tentang “siapa yang hidup di dalam saya.” Semakin aman identitas kita di dalam Kristus, semakin tenang jiwa kita.

Jadi, jangan hanya bertanya “Mengapa saya stres?”, tapi tanyalah “Bagian mana dari ego saya yang masih ingin jadi pusat?”. Kabar baiknya, “aku” yang lama itu sudah disalibkan.
Mari hidup dalam kemenangan-Nya

“More of your ego means less of your peace. The less of self, the more of God.”— Rick Warren & Charles Spurgeon.

“Semakin besar ego Anda, semakin sedikit kedamaian Anda. Semakin sedikit diri sendiri, semakin banyak Tuhan yang bekerja” — Rick Warren & Charles Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengejar Bayangan atau Menemukan Sumbernya?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Mengejar Bayangan atau Menemukan Sumbernya?

?Pernahkah Anda merasa seperti sedang mengejar bayangan? Kita berlari begitu kencang mengejar sesuatu yang kita sebut kebahagiaan, namun sering kali saat kita merasa hampir menyentuhnya, ia justru menjauh.

Dunia modern hari ini seolah-olah memaksa kita untuk percaya bahwa kebahagiaan adalah sebuah garis finish yang hanya bisa dicapai melalui pencapaian materi, pengakuan, atau kenyamanan hidup yang maksimal.

Kita terjebak dalam siklus “nanti kalau”: nanti kalau sudah punya rumah, nanti kalau anak-anak sudah lulus, nanti kalau tabungan sudah cukup, baru saya akan bahagia. Tapi jujur saja, apakah setelah semua itu tercapai, hati kita benar-benar merasa penuh?

?Saya merenungkan apa yang ditulis oleh Billy Graham dalam Hope For Each Day, sebuah pesan yang sangat sederhana namun menusuk kesadaran kita semua.

Billy mengingatkan bahwa kebahagiaan itu sebenarnya bukan tujuan utama, melainkan sebuah produk sampingan.

Bayangkan sebuah bunga; keindahannya merupakan hasil dari akar yang sehat dan tanah yang subur.

Tanpa sadar, kita sering kali sibuk menyemprot parfum pada kelopak bunga yang layu, padahal yang bermasalah adalah akarnya.

Akar dari segala kedamaian dan kebahagiaan sejati itu sebenarnya sudah dibocorkan rahasianya oleh Yesus ribuan tahun yang lalu dalam

Matius 6:33.
?”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Ayat ini mungkin sudah sangat sering kita dengar, bahkan mungkin sudah kita hafal luar kepala sejak sekolah minggu. Namun, seberapa dalam kita benar-benar menghidupinya?

Sering kali kita membalik urutannya. Kita mencari “semuanya itu” terlebih dahulu—mencari kecukupan, mencari keamanan, mencari kesuksesan—dan kalau masih ada waktu sisa, baru kita mencari Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan seperti ban serep yang hanya dicari saat ban utama kita bocor di tengah jalan. Padahal, kuncinya justru Think Eternity, berpikir dalam perspektif kekekalan.

?Berpikir tentang kekekalan bukan berarti kita menjadi orang yang tidak membumi atau tidak peduli dengan urusan dunia. Justru sebaliknya, dengan mata yang tertuju pada kekekalan, kita menjadi pribadi yang paling tenang di tengah badai dunia.

Why?
Karena kita tahu siapa yang memegang masa depan kita.

Mencari Kerajaan Allah berarti kita menyerahkan tongkat estafet hidup kita kepada Sang Raja. Kita berhenti mencoba menjadi “tuhan” atas hidup kita sendiri. Kita menyerahkan segala kekhawatiran tentang hari esok, tentang apa yang akan kita makan atau pakai, karena kita sadar, seorang ‘anak raja’ tidak akan pernah pusing memikirkan apa yang akan dia makan di istana ayahnya.

?Saya belajar bahwa kunci praktis dari gaya hidup ini adalah penyerahan diri tanpa syarat setiap hari.
Bukan hanya saat hari Minggu di gereja, tapi saat kita menghadapi macetnya jalanan, saat menghadapi rekan kerja yang menyebalkan, atau saat melihat saldo tabungan yang menipis.
Dalam setiap momen itu, kita punya pilihan: apakah saya mau mengandalkan kekuatan saya sendiri (yang sangat terbatas ini) atau saya mau tunduk pada otoritas Kristus sebagai Raja?

Saat kita memilih untuk mendahulukan kebenaran-Nya—memilih untuk tetap jujur saat orang lain curang, memilih untuk mengampuni saat hati disakiti, memilih untuk memberi saat kita sendiri kekurangan—di situlah sebenarnya kita sedang membangun Kerajaan Allah di dalam hati kita.

?Dan tahukah Anda apa yang luar biasa? Saat kita sibuk mengurus bagian kita, yaitu mencari wajah-Nya dan melakukan kehendak-Nya, Tuhan dengan penuh kasih setia akan mengurus bagian kita yang lainnya. Dia “menambahkan” kebahagiaan itu tanpa perlu kita kejar-kejar sampai kelelahan.

Kebahagiaan itu datang menyelinap masuk ke dalam hati kita dalam bentuk damai sejahtera yang melampaui segala akal.

Kita jadi mengerti bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi tentang seberapa dekat kita berjalan bersama Sang Raja.

?Mari kita mulai hari ini dengan perspektif yang baru. Mari kita berhenti berlari mengejar bayangan kebahagiaan yang semu. Kembalilah pada prioritas yang utama. Fokuslah pada kekekalan, fokuslah pada Kerajaan-Nya.
Biarkan Yesus benar-benar menjadi Raja atas setiap detik hidup kita. Ketika fokus kita benar, maka seluruh hidup kita akan mengikuti arah yang benar.

Percayalah, saat kita menempatkan Tuhan di tempat yang utama, Dia tidak akan pernah menempatkan kita di tempat yang terakhir. Kebahagiaan sejati itu sudah ada di sana, menunggu kita di dalam ketaatan dan penyerahan diri yang tulus kepada-Nya. Tetap semangat dan teruslah menginspirasi di dalam kasih-Nya!

“Happiness is not a destination, it is a byproduct of a life lived in harmony with God.”— Billy Graham.

“Kebahagiaan bukanlah sebuah tujuan, ia adalah produk sampingan dari hidup yang selaras dengan Tuhan.”— Billy Graham.

?YennyIndra
www.yennyindra.com

?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Diam Itu Bukan Selalu Iman

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Diam Itu Bukan Selalu Iman

Beberapa waktu ini saya membaca satu kalimat yang cukup “nendang”:

“Orang paling menakutkan bukan yang marah, tapi yang diam saat batasnya dilanggar.”

Jujur, awalnya saya setuju.
Karena memang ada tipe orang yang diam… tapi sekali dia “selesai”, dia benar-benar pergi tanpa suara.

Tapi makin saya renungkan, saya sadar:
tidak semua diam itu dewasa.
Tidak semua diam itu rohani.
Kadang… diam itu cuma tanda hati kita sedang penuh.
Kita sering salah mengerti kekuatan.

Kita pikir kuat itu berarti:
tahan semuanya
tidak usah bicara
tetap baik walau disakiti
Kita bilang, “Saya mengampuni.”
Padahal di dalam hati: kita terluka… dan tidak pernah benar-benar dibereskan.

Saya belajar satu hal penting:
Tuhan tidak pernah minta kita pura-pura kuat.
Mazmur itu jujur sekali.
Daud tidak menyembunyikan emosinya.
Dia bisa berkata: “Tuhan, aku terluka.”
“Tuhan, ini tidak adil.”
Itu bukan kelemahan.
Itu hubungan yang hidup.

Saya juga melihat sesuatu dalam hidup Yesus.
Yesus itu penuh kasih, iya.
Tapi Dia tidak “diam saja”.

Dia tahu kapan harus:
diam
bicara
bahkan menegur
Dia tidak membiarkan orang memperlakukan Dia sembarangan.

Artinya apa?
Kasih itu bukan berarti tidak punya batas.
Kasih itu punya kejelasan.
Di titik ini, saya mulai jujur pada diri sendiri.
Selama ini, saya pikir saya sabar.
Tapi ternyata… ada bagian di hati saya yang hanya “menahan”.
Dan yang ditahan itu tidak hilang.
Dia hanya menunggu waktu.
Makanya ada orang yang:
kelihatannya tenang
tidak pernah marah
tapi tiba-tiba “cut off” orang lain tanpa penjelasan
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena dia sudah capek menahan terlalu lama.

Firman Tuhan berkata:
“Apabila kamu marah, jangan berbuat dosa.” (Efesus 4:26)

Perhatikan, bukan “jangan marah”.
Tapi: jangan salah mengelola marah.

Artinya:
emosi itu bukan musuh.
Yang jadi masalah adalah cara kita merespon.

Saya belajar hidup dengan cara yang lebih sehat.
Bukan reaktif.
Tapi juga tidak memendam.
Kalau hati mulai tidak damai, saya berhenti.

Saya tanya: “Tuhan, ini kenapa?”
Kadang jawabannya sederhana: ada batas yang perlu ditegakkan.
Belajar bicara itu penting.
Bukan untuk menyerang.
Tapi untuk jujur.

Kita bisa bilang dengan tenang:
“Saya tidak nyaman dengan itu.”
“Itu melewati batas saya.”
Tanpa emosi. Tanpa drama.
Tapi jelas.
Percaya atau tidak, ini menyelamatkan banyak hubungan.

Satu lagi yang Tuhan koreksi dalam hidup saya:
Mengampuni bukan berarti membiarkan.
Ini beda.

Mengampuni itu:
melepaskan kepahitan
Tapi membiarkan terus disakiti…
itu bukan kasih.
Itu ketidakseimbangan.
Tuhan tidak pernah minta kita hidup tanpa batas. Tanpa Boundaries.
Dia justru memimpin kita hidup dalam terang.

Hari ini saya mengerti sesuatu:
Kedewasaan rohani itu bukan diukur dari seberapa lama kita bisa menahan marah.
Tapi dari seberapa jujur kita berjalan dengan Tuhan.

Apakah kita:
peka dengan damai di hati
berani menghadapi kebenaran
dan tidak hidup dalam kepura-puraan?

Jadi kalau hari ini kita merasa lelah karena “terlalu kuat”…
Mungkin kita tidak butuh jadi lebih kuat.
Mungkin kita hanya perlu jadi lebih jujur.
Di hadapan Tuhan.
Dan dalam cara kita menjalani hidup.

Karena hidup yang dipimpin Tuhan itu bukan: meledak… atau memendam tetapi tenang, jelas, dan penuh damai.
Dan dari situlah…
kita benar-benar bebas.

Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves, even when we risk disappointing others.”- Brené Brown.

“Berani menetapkan batas adalah tentang memiliki keberanian untuk mencintai diri sendiri, bahkan ketika kita berisiko mengecewakan orang lain.- Brené Brown.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengapa Masalah Kecil Bisa Jadi Seumur Hidup?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Mengapa Masalah Kecil Bisa Jadi Seumur Hidup?

Kita sering berkata, “kita harus menyelaraskan pikiran dengan Tuhan.” Kedengarannya benar. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, justru di sinilah banyak orang tersandung.

Bukan karena tidak percaya Tuhan. Tapi karena cara berpikirnya masih bertentangan dengan Firman.

Firman Tuhan sudah sangat jelas. Dalam 2 Korintus 4:17-18 dikatakan:

“_Penderitaan dan kesulitan yang kita alami ini sebenarnya ringan saja dan tidak akan berlangsung lama._ Namun, masa singkat penderitaan ini akan menghasilkan berkat Tuhan yang luar biasa dan kekal bagi kita selama-lamanya. Karena itu, kita tidak memusatkan perhatian pada apa yang terlihat sekarang…”

Tuhan menyebut masalah kita ringan dan sementara. Tapi banyak orang justru mengalaminya sebagai berat dan berkepanjangan.

Why?

Karena kita tidak sepakat dengan cara Tuhan melihatnya.

Kita melihat masalah, memikirkannya terus, membicarakannya berulang-ulang. Tanpa sadar, kita sedang memperbesar sesuatu yang Tuhan sebut kecil.

Padahal *prinsipnya sederhana: apa yang kita perhatikan, itu yang kita besarkan.*

Bangsa Israel adalah contoh nyata. Tuhan hanya merencanakan perjalanan 11 hari. Tapi mereka berputar 40 tahun. Bahkan banyak yang tidak pernah sampai.

Masalahnya bukan di jarak. Tapi di pikiran. Mereka sibuk komplain, mengingat masa di Mesir lalu menyesal minta kembali.

Padahal masa lalu sudah dipaku di kayu salib. Hidup kita adalah hari ini dan masa depan.

1 Kor 3: 22b
He has given you all of the present and all of the future. All are yours.

Dia telah memberikanmu semua masa kini dan semua masa depan. Semua adalah milikmu.

Perhatikan yang disebutkan oleh Tuhan hanya masa kini dan masa depan.
Masa lalu sudah selesai. Lupakan!

Mereka tidak membangun Firman di hati. Mereka lebih percaya apa yang terlihat daripada apa yang Tuhan katakan. Akibatnya, sesuatu yang seharusnya sesaat menjadi seumur hidup.

Ini sangat relevan untuk kita.

Banyak orang terjebak terlalu lama dalam satu situasi. Bukan karena tidak ada jalan keluar, tapi karena pikirannya terus memberi perhatian pada masalah itu.

Padahal, apa yang tidak kita beri perhatian, akan lewat….
Sebaliknya, apa yang terus kita fokuskan, akan tinggal.

Paulus mengerti hal ini. Dia berkata, *“Aku telah belajar mencukupkan diri.”*

Artinya, ketenangan itu dipelajari. Bukan menunggu keadaan berubah, tapi memilih untuk tetap stabil di tengah keadaan.

Dia tidak memberi tempat bagi tekanan untuk tinggal dalam pikirannya.

Dan di sinilah kunci banyak orang gagal. Mereka tidak sadar bahwa mereka “memelihara” masalah mereka sendiri. Dipikirkan terus, diceritakan terus, bahkan didoakan dengan ketakutan.

Padahal Tuhan berkata:
1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab la yang memelihara kamu.” (TB)

Why?
Supaya Tuhan bisa membereskannya.

Kalau masih kita pegang di pikiran, kita yang akan terus terbeban. Tapi kalau kita lepaskan, Tuhan mulai bekerja.

Lihat bagaimana Yesus bekerja. Dia tidak pernah membuat sesuatu jadi rumit.

Yesus selalu menyelesaikan masalah dengan sederhana:

– Kepada pegawai istana:
“Pergilah, anakmu hidup.”

– Kepada orang kusta:
“Aku mau, jadilah tahir.”

– Kepada Lazarus yang sudah mati 4 hari:
“Lazarus, keluarlah.”

Selesai.

Tidak ada drama. Tidak ada proses berbelit-belit. Tidak ada analisa panjang.

Artinya jelas: di tangan Tuhan, tidak ada yang rumit.

Yang membuatnya terlihat rumit seringkali bukan situasinya, tapi cara kita memikirkannya.
Kita terlalu banyak memberi kata pada masalah. Terlalu banyak memberi perhatian. Terlalu lama memutarnya dalam pikiran.
Padahal Tuhan tidak pernah mendesain hidup kita untuk berat.
Yesus berkata kuk-Nya ringan dan beban-Nya enak.

Jadi kalau hidup terasa berat, jujur saja, ada yang tidak selaras.
Bukan di Tuhan. Tapi di cara kita melihat.

Masalah bukanlah “big deal”.
Yang “big deal” adalah Firman Tuhan, nama Yesus, dan kuasa yang ada di dalam kita.

Kalau kita fokus pada masalah, kita akan hidup dalam tekanan.

Tapi kalau kita mulai mengalihkan perhatian kepada Tuhan, sesuatu berubah.

Yang tadinya berat jadi ringan.
Yang tadinya lama jadi singkat.
Yang tadinya rumit jadi sederhana.

Bukan karena masalah langsung hilang, tapi karena kita akhirnya melihat seperti Tuhan melihat.

Dan saat itu terjadi, kita berhenti menghambat pekerjaan-Nya.

Hari ini, pilih sederhana saja.

Berhenti membesarkan masalah.
Berhenti memberi perhatian berlebihan.

Mulai sepakat dengan Tuhan.

Kalau Dia bilang ringan, ya ringan.
Kalau Dia bilang sesaat, ya sesaat.

Dan dari situ, kita akan mulai melihat: ternyata bersama Tuhan, semuanya memang jauh lebih sederhana dari yang kita kira.

Your focus determines your reality more than your circumstances do.” – Andrew Wommack.

“Fokusmu lebih menentukan realitas hidupmu daripada keadaanmu.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 319