Saat Tuhan Membelokkan Stir Hidup Anda
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Saat Tuhan Membelokkan Stir Hidup Anda
Pernahkah Anda merasa sudah berada di jalur yang paling “pas” secara logika, lalu tiba-tiba Tuhan menginterupsi dan membelokkan arahnya ke tempat yang sama sekali tidak masuk akal?
Kita sudah merasa punya skill, punya latar belakang yang mendukung, dan merasa, “Di sinilah tempat saya seharusnya bersinar.”
Tapi Tuhan berkata, “Bukan di situ, anak-Ku. Ke sana.”
Gubraaaaaaakkk…..
Saya teringat kisah seorang arsitek senior yang sangat mapan. Dia merasa panggilannya adalah membangun gedung-gedung megah untuk kemuliaan Tuhan. Namun, di tengah puncak karirnya, Tuhan “menutup matanya” terhadap proyek-proyek besar dan mengarahkannya untuk melayani anak-anak putus sekolah di pelosok.
Logikanya berontak. Dia merasa keahliannya terbuang percuma. Namun, setelah dia taat, dia justru menemukan kepuasan yang tidak pernah diberikan oleh cetak biru bangunan manapun. Ternyata, Tuhan tidak butuh keahlian arsitekturnya, Tuhan butuh hatinya untuk membangun “bait suci” di dalam jiwa anak-anak itu.
Kisah Paulus juga dimulai dengan cara yang serupa. Setelah perjumpaan dramatis dengan Tuhan, Paulus bukan cuma bertobat, dia menjadi buta.
Tuhan lalu mengirim Ananias—bukan rasul besar, cuma orang biasa yang taat—untuk memulihkan penglihatannya.
Di sini kita belajar:
Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita, Dia memulihkan kita untuk sebuah penugasan.
?Why?
Karena kesembuhan dan pemulihan kita bukan sekadar untuk kenyamanan pribadi atau agar kita bisa pamer mujizat. Pemulihan itu adalah persiapan untuk tujuan kekekalan. Bayangkan jika Paulus tetap buta, dia tidak akan bisa menulis surat-surat yang menjadi napas iman kita hari ini. Tuhan memulihkan mata Paulus agar dia bisa melihat “Yang Benar” dan mendengar suara-Nya.
Namun, di sinilah ujiannya. Secara logika, Paulus adalah orang yang paling cocok melayani orang Yahudi. Dia pakar Taurat, dia tahu sistem mereka, dia punya “jam terbang” di sana. Tapi Tuhan justru berkata: “Aku mengutus engkau kepada bangsa-bangsa lain.” Ini seperti menyuruh seorang ahli bedah untuk menjadi koki. Tidak nyambung secara manusia, tapi sempurna secara ilahi.
Sering kali kita terjebak dalam versi kita sendiri tentang rencana Tuhan. Kita merasa, “Saya cocoknya di sini,” atau “Saya seharusnya melakukan ini.”
Tapi saat Tuhan mulai mengoreksi cara berpikir kita, mengganggu kenyamanan, atau mengubah arah hidup, kita mulai tidak nyaman. Masalahnya sering kali bukan pada Tuhan, tapi pada pola pikir kita yang kaku.
Kekristenan sejati bukan hanya tentang “sudah selamat,” lalu hidup semau kita. Ini tentang mengenal kehendak-Nya, mendengar suara-Nya, dan berani melangkah saat Dia membelokkan stir hidup kita. Hidup yang paling diberkati bukanlah hidup yang kita rancang sendiri dengan rapi, melainkan hidup yang kita jalani sesuai dengan tuntunan suara Tuhan, meski jalannya tidak seperti yang kita bayangkan.
Mari kita belajar seperti Paulus dan Ananias. Yang satu taat untuk dipulihkan dan diutus ke tempat yang asing, yang satu taat untuk menjadi alat bagi rencana besar orang lain. Jangan takut saat Tuhan mengubah arah hidup Anda. Think Eternity. Dia tahu tujuan akhir yang terbaik bagi kita.
“Obedience to God is the pathway to the life you were truly created for.”
“Ketaatan kepada Tuhan adalah jalan menuju kehidupan yang untuknya Anda benar-benar diciptakan.— Joyce Meyer
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan




