Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Tuhan Mengirim Penolong yang Tidak Kita Duga

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Tuhan Mengirim Penolong yang Tidak Kita Duga

Kita sering membayangkan pertolongan Tuhan datang lewat cara besar: mujizat instan, orang penting, atau perubahan drastis. Tapi kisah Yeremia menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam—Tuhan bekerja melalui orang yang tidak terlihat, tapi tepat.

Yeremia tidak jatuh ke dalam sumur karena kesalahan. Ia dimasukkan ke dalamnya karena kebenaran yang ia sampaikan membuat para pemimpin tersinggung. Mereka tidak mau mendengar suara Tuhan, jadi mereka memilih membungkam utusan-Nya.

Sumur itu bukan sekadar lubang. Itu seperti penjara tanpa jalan keluar. Tidak ada air, hanya lumpur. Yeremia tidak bisa berdiri dengan kuat, tidak bisa keluar sendiri. Secara manusia, itu kondisi yang sangat putus harapan.

Dan di titik itulah nama yang jarang kita dengar muncul.

Ebed-Melekh.

Dia bukan nabi.
Dia bukan pemimpin besar.
Dia bukan orang penting dalam sistem.

Alkitab mencatat dia sebagai seorang Etiopia—orang asing di tengah bangsa Israel. Secara status, dia bahkan tidak berada di posisi berpengaruh. Tapi justru orang seperti inilah yang Tuhan pakai.

Yang membuat Ebed-Melekh berbeda bukan posisinya, tapi hatinya.

Dia melihat ketidakadilan, dan dia tidak diam.

Saat orang lain memilih aman, dia memilih benar. Dia datang kepada raja dan berkata bahwa apa yang dilakukan kepada Yeremia itu salah. Ini bukan langkah kecil. Ini berisiko. Bisa saja dia ditolak, bahkan dihukum.

Tapi dia tetap berbicara.

Ini poin penting:
Tuhan sering bekerja lewat orang yang berani bertindak benar, bukan yang sekadar tahu kebenaran.

Raja akhirnya memberi izin. Tapi perhatikan, prosesnya tidak langsung spektakuler.

Ebed-Melekh tidak hanya berkata, “angkat dia keluar.”
Dia turun tangan dengan detail.

Dia mengambil kain-kain bekas dan pakaian usang. Dia tahu tali saja bisa melukai tubuh Yeremia yang sudah lemah. Jadi dia memberi alas di bawah ketiaknya sebelum ditarik.

Ini bukan sekadar menyelamatkan. Ini memperhatikan.

Tuhan tidak hanya peduli kita keluar dari masalah.
Dia peduli bagaimana kita keluar—tanpa menambah luka.

Ebed-Melekh kemudian memimpin proses itu. Tali diturunkan. Yeremia diminta berpegang. Orang-orang menariknya perlahan sampai dia keluar dari sumur.

Perhatikan ini baik-baik:

Pertolongan Tuhan datang melalui:

orang yang tepat

waktu yang tepat

cara yang penuh perhatian

Tidak terburu-buru. Tidak asal jadi.

Dan satu hal lagi yang sering terlewat—

Yeremia tetap harus berpegang pada tali itu.

Artinya, ada bagian Tuhan dan ada bagian kita. Tuhan kirim penolong. Tuhan siapkan jalan. Tapi kita tetap harus merespons. Tetap harus bertahan. Tetap harus percaya saat proses berlangsung.

Kalau Yeremia melepaskan pegangan di tengah jalan, dia tidak akan keluar.

Ini berbicara langsung ke hidup kita.

Kadang kita sudah mulai “ditarik keluar”—
situasi mulai berubah, orang mulai menolong, pintu mulai terbuka—
tapi karena prosesnya tidak cepat, kita jadi ragu, lalu “melepas.”

Di sinilah banyak orang gagal.

Bukan karena Tuhan tidak menolong, tapi karena tidak bertahan cukup lama untuk melihat hasilnya.

Kisah ini juga mengoreksi cara kita melihat orang.

Sering kita menunggu “tokoh besar” datang menolong. Padahal Tuhan bisa pakai siapa saja—bahkan orang yang tidak kita anggap penting.

Ebed-Melekh tidak terkenal. Tapi tanpa dia, Yeremia tetap di dalam sumur.

Kadang dalam hidup kita:

penolong itu bukan yang kita harapkan

jalannya bukan yang kita rancang

waktunya bukan yang kita pilih

Tapi justru di situlah tangan Tuhan bekerja paling nyata.

Dan satu hal yang memberi kekuatan—

Tuhan tidak pernah terlambat melihat.

Sebelum Ebed-Melekh bergerak, Tuhan sudah melihat Yeremia. Sebelum tali diturunkan, Tuhan sudah merancang pertolongan.

Jadi kalau hari ini kita merasa seperti di dalam “sumur”: gelap, sempit, tidak ada jalan keluar—

ingat ini:

Tuhan sudah melihat.
Tuhan sudah menyiapkan.
Dan Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menarik kita keluar.

Tugas kita sederhana:

Tetap pegang talinya. Jangan lepaskan.

Karena ketika Tuhan mengirim pertolongan, Dia tidak setengah-setengah. Dia menarik kita keluar—dengan cara yang penuh perhatian, dan dengan tujuan yang lebih besar dari sekadar selamat.

God is our refuge and strength, an ever-present help in trouble.”- Psalm 46:1

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” – Mazmur 46:1

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

The pit was never your destination. It was the place where God proved you were never alone.”

“Lubang itu bukan tujuanmu. Itu tempat di mana Tuhan membuktikan kamu tidak pernah sendirian” – YennyIndra

Read More
Articles

Warisan yang Tidak Mati Saat Kita Mati.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Warisan yang Tidak Mati Saat Kita Mati.

Belakangan ini saya belajar dari AR Bernard tentang arti sebuah legacy, warisan hidup yang bertahan bahkan setelah seseorang tidak ada lagi di bumi.

Jujur, banyak orang berpikir warisan hanyalah uang, rumah, bisnis, atau aset. Padahal Alkitab berbicara jauh lebih dalam dari itu.

“Orang baik meninggalkan warisan kepada anak cucunya.” (Amsal 13:22)

Ayat ini bukan sekadar bicara soal deposito atau properti. Sebab ada banyak orang meninggalkan uang besar, tetapi juga meninggalkan luka besar. Ada anak-anak yang menerima harta, tetapi tidak menerima kasih, arah hidup, hikmat, atau teladan.

AR Bernard mengatakan, legacy dibangun melalui lima area penting: spiritual, intellectual, emotional, motivational, dan material.

Saya langsung terdiam ketika membacanya.

Karena ternyata hidup ini sedang membangun sesuatu setiap hari. Entah kita sadar atau tidak, kita sedang meninggalkan jejak dalam hidup orang lain.

Kita sedang mewariskan cara berpikir.
Cara bereaksi.
Cara mengasihi.
Cara menghadapi tekanan.
Cara memperlakukan Tuhan.

Dan itu sering lebih kuat daripada uang.

1. Warisan Rohani

Menurut saya, ini fondasi utama.

Yesus tidak pernah memanggil kita hanya menjadi “orang Kristen.” Yesus memanggil kita menjadi murid yang diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Ada orang rajin pelayanan, tetapi anak-anaknya tidak pernah melihat kasih, damai, atau karakter Kristus di rumah.

Sebaliknya ada orang sederhana, tetapi hidupnya memancarkan hadirat Tuhan. Kata-katanya menenangkan. Doanya menguatkan. Sikapnya membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

Itu legacy rohani.

Dan saya percaya, generasi hari ini tidak hanya membutuhkan pengkhotbah hebat. Mereka membutuhkan orang-orang yang benar-benar berjalan dengan Tuhan.

2. Warisan Intelektual

AR Bernard juga berkata, hikmat, pengetahuan, dan pelajaran hidup harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Saya sangat setuju.

Karena buku yang kita tulis, pengajaran yang kita bagikan, bahkan percakapan yang membangun, bisa terus hidup lama setelah kita pergi.

Itulah sebabnya saya suka menulis.

Kadang kita berpikir tulisan kecil tidak berarti. Tetapi siapa tahu satu kalimat yang dipimpin Tuhan justru menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.

Ilmu tanpa karakter memang berbahaya. Tetapi hikmat yang lahir dari perjalanan bersama Tuhan bisa menjadi terang bagi banyak orang.

3. Warisan Emosional

Bagian ini sangat menyentuh saya.

*AR Bernard menulis bahwa hidup dibentuk oleh iman, pertumbuhan, ujian, kemenangan, dan pengalaman hidup.*

Benar sekali.

Ada musim sukacita. Ada musim air mata. Ada musim dikhianati, disalahpahami, atau merasa sendirian.

Tetapi semua musim itu sedang membentuk siapa kita.

Persoalannya bukan apakah hidup kita pernah terluka. Persoalannya adalah: apakah luka itu membuat kita pahit atau makin dewasa?

Karena orang yang sembuh akan menyembuhkan orang lain. Tetapi orang yang pahit sering melukai generasi setelahnya.

4. Warisan Motivasi

Warisan sejati lahir dari hidup yang menyentuh hidup lain.

Bukan soal terkenal.

Bukan soal viral.

Tetapi apakah hidup kita membuat orang lain lebih kuat, lebih berharap, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Ada orang kaya tetapi tidak mengangkat siapa pun.

Ada orang sederhana tetapi keberadaannya membuat banyak orang bertahan hidup.

Dan menurut saya, surga melihat itu.

5. Warisan Materi

Tentu materi penting. Pengelolaan yang bijaksana juga bagian dari tanggung jawab rohani.

Tetapi uang hanyalah alat. Uang bukan inti warisan.

Warisan terbesar adalah apa yang kita transfer ke generasi berikutnya: iman, hikmat, karakter, kasih, integritas, dan cara hidup bersama Tuhan.

Karena pada akhirnya, orang tidak akan terlalu mengingat apa yang kita miliki.

Tetapi mereka akan mengingat: siapa kita, bagaimana kita hidup, dan apa yang kita tinggalkan di hati mereka.

The greatest use of a life is to spend it on something that will outlast it.” – William James

“Penggunaan terbesar dari hidup adalah menghabiskannya untuk sesuatu yang akan tetap hidup bahkan setelah kita tiada.” – William James

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Jangan Menoleh ke Belakang: Hati yang Tertinggal Akan Menghambat Tujuan Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Jangan Menoleh ke Belakang: Hati yang Tertinggal Akan Menghambat Tujuan Tuhan.

Ada satu kalimat pendek dalam Alkitab yang sederhana, tapi keras: “Ingatlah akan isteri Lot.” (Lukas 17:32). Yesus tidak bicara panjang lebar. Tapi justru karena singkat, pesannya tajam.

Isteri Lot keluar dari Sodom. Kakinya melangkah, tapi hatinya tertinggal. Ketika api turun dari langit, dia menoleh. Satu kali saja. Dan itu cukup menghentikan hidupnya.

Masalahnya bukan sekadar menoleh secara fisik. Ini soal hati yang belum selesai dengan masa lalu.

Dia sudah melihat kejahatan Sodom. Sudah menerima peringatan Tuhan. Bahkan mengalami anugerah Tuhan—diselamatkan di tengah penghukuman. Tapi tetap saja, ada keterikatan yang tidak dilepaskan.

Dan itu mahal harganya.

Kita sering merasa cukup karena sudah “keluar”. Sudah berubah, sudah ikut Tuhan. Tapi Tuhan tidak hanya melihat langkah kaki. Dia melihat ke mana hati kita masih terikat.

Ini sama persis dengan bangsa Israel.

Mereka keluar dari Mesir dengan mujizat besar. Laut terbelah. Manna turun tiap hari. Tapi setiap tekanan datang, mereka berkata, “Lebih baik kembali ke Mesir.”

Padahal Mesir itu tempat perbudakan.

Perjalanan ke tanah perjanjian seharusnya hanya 11 hari. Tapi karena mereka terus mengeluh, menoleh ke belakang, tidak menghargai pertolongan Tuhan—perjalanan itu jadi 40 tahun.

Satu generasi habis di padang gurun.

Hanya Yosua dan Kaleb yang masuk. Kenapa? Karena mereka tidak hidup dari masa lalu, tapi dari janji Tuhan.

Ini bukan sekadar cerita. Ini pola.

Banyak orang percaya hari ini juga begitu. Sudah keluar dari dosa, tapi masih menyimpan keterikatan. Sudah dilepaskan, tapi masih rindu hal yang Tuhan suruh tinggalkan.

Padahal prinsipnya jelas:
kita tidak bisa maju kalau hati kita masih parkir di belakang.

Dan di sinilah kita perlu melihat satu kebenaran yang sangat kuat dari 1 Korintus 3:22–23:

“Baik Paulus, Apolos maupun Kefas, baik dunia, hidup maupun mati, baik waktu sekarang maupun waktu yang akan datang—semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.”

Dalam terjemahan bebasnya:
Tuhan sudah memberikan kepadamu semua yang ada sekarang dan semua yang akan datang. Semuanya milikmu. Dan kamu milik Kristus.

Perhatikan ini baik-baik.

Ayat ini tidak bicara tentang masa lalu.

Tidak ada kalimat, “masa lalumu adalah milikmu.”
Tidak ada penekanan ke belakang.

Yang disebut hanya dua hal: masa kini dan masa depan.
Bahkan Paulus dan Kefas (Petrus) diberikan Tuhan untuk memperlengkapi kita, memberi pemahaman yang benar, agar berkemenangan di dunia ini.

Mengapa?

Karena *masa lalu sudah selesai.
Sudah ditanggung oleh Yesus di kayu salib.*

Tidak ada lagi yang perlu dibawa. Tidak ada lagi yang perlu diulang-ulang. Tidak ada lagi yang perlu dihidupkan kembali.

Kalau Tuhan sendiri tidak mengangkat masa lalu kita, kenapa kita terus melihat ke sana?

Ini sering jadi jebakan yang halus.

Orang tidak kembali ke masa lalu secara fisik, tapi secara pikiran dan emosi.
Masih mengingat luka lama.
Masih merasa bersalah.
Masih membandingkan dengan “dulu”.
Masih terikat dengan identitas lama.

Padahal secara rohani, itu sudah tidak relevan.

Salib sudah menyelesaikan itu.

Jadi ketika kita terus menoleh ke belakang, sebenarnya kita sedang menolak realitas yang Tuhan sudah tetapkan.

Isteri Lot kehilangan masa depan karena menoleh.
Israel kehilangan generasi karena terus mengingat Mesir.

Dan hari ini, banyak orang kehilangan langkah karena terus hidup dari masa lalu yang sebenarnya sudah tidak punya kuasa lagi.

Kebenarannya sederhana, tapi tegas:
Tuhan bekerja di masa sekarang. Dan Tuhan membawa kita ke masa depan.
Bukan ke belakang.

Jadi berhenti menoleh.
Bukan karena masa lalu tidak pernah ada, tapi karena masa lalu sudah tidak menentukan lagi.

Artinya, coret CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).
Sudah tutup buku….

Kita ini milik Kristus.
Dan semua yang kita butuhkan untuk hidup sekarang dan ke depan—sudah diberikan.

Tinggal satu keputusan:
mau percaya dan melangkah… atau terus melihat ke belakang dan tertahan.
Pilihan ada di tangan Anda!

“The past is a place of reference, not a place of residence.” – Roy T. Bennett.

“Masa lalu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk tinggal.”- Roy T. Bennett.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Iman tidak berjalan mundur. Ia melangkah maju karena tahu: yang di depan sudah disediakan Tuhan, yang di belakang sudah diselesaikan di salib.”

“Faith never moves backward. It steps forward knowing this: what’s ahead has been prepared by God, and what’s behind has been finished at the cross.” – YennyIndra

Read More
Articles

Hati yang Lembut Selalu Bisa Diajar.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Hati yang Lembut Selalu Bisa Diajar.


“Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebodohannya tidak akan lenyap dari padanya.”
Amsal 27:22

Ayat ini terdengar keras. Bahkan mungkin membuat kita sedikit tidak nyaman. Tetapi justru karena keras, ayat ini sedang menunjukkan sebuah kenyataan hidup yang sering kita lihat sendiri.

Ada orang yang berubah setelah mengalami masalah besar. Tetapi ada juga yang tetap sama, walaupun hidupnya sudah “ditumbuk” berkali-kali.

Sudah jatuh bangkrut, tetap sombong.
Sudah kehilangan relasi, tetap keras kepala.
Sudah ditolong Tuhan berkali-kali, tetap tidak mau diajar.

Masalahnya ternyata bukan keadaan. Masalahnya ada pada hati.

Saya teringat sebuah ilustrasi sederhana.

Dua orang berjalan di bawah hujan yang sama. Tanah yang lembut menyerap air dan menjadi subur. Tetapi batu tetap keras walaupun diguyur hujan semalaman.

Padahal hujannya sama.

Demikian juga dalam kehidupan rohani. Ada orang yang setelah mengalami teguran kecil langsung bertobat dan belajar. Tetapi ada orang yang bahkan setelah mengalami guncangan besar tetap menyalahkan orang lain.

Amsal berkata, orang bodoh itu seperti ditumbuk dalam lesung bersama gandum. Gambaran yang dipakai Salomo sangat ekstrem. Gandum ditumbuk supaya kulit kerasnya terlepas. Tetapi orang bodoh, walaupun ditekan habis-habisan, tetap tidak berubah.

Karena kebodohan menurut Alkitab bukan soal IQ rendah.

Banyak orang pintar tetapi bodoh secara rohani.

Kenapa?

Karena tidak punya hati yang lembut.

Tidak mau ditegur.
Tidak mau mengakui salah.
Selalu merasa dirinya benar.
Selalu punya alasan.
Selalu menyalahkan keadaan.

Padahal orang yang berhikmat bukan orang yang selalu benar. Orang berhikmat adalah orang yang mudah diajar.

Semakin saya berjalan dengan Tuhan, semakin saya sadar bahwa hati yang lembut itu mahal sekali.

Tuhan bisa bekerja luar biasa melalui orang yang hatinya mau dibentuk.

Kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan kita, tetapi Tuhan sedang memakai keadaan untuk melembutkan hati kita.

Masalahnya, banyak orang lebih sibuk minta jalan keluar daripada minta hati yang bisa diajar.

“ Tuhan, keluarkan aku dari proses ini.”

Padahal mungkin Tuhan sedang berkata: “Aku sedang membentukmu.”

Ada orang yang setelah melewati penderitaan menjadi penuh kasih. Tetapi ada juga yang menjadi pahit.

Ada yang setelah gagal menjadi rendah hati. Tetapi ada yang justru makin keras.

Jadi penderitaan tidak otomatis membuat seseorang dewasa. Respons hati terhadap Tuhan itulah yang menentukan.

Saya belajar sesuatu: Orang yang hatinya lembut tidak perlu dihancurkan dulu baru mau berubah.

Dia bisa belajar dari Firman.
Belajar dari nasihat.
Belajar dari kesalahan kecil.
Belajar dari Roh Kudus.

Itu sebabnya hati yang lembut adalah perlindungan.

Karena orang yang keras sering baru sadar setelah semuanya terlambat.

Hari-hari ini dunia penuh dengan orang yang gampang tersinggung tetapi sulit ditegur. Cepat bicara tetapi lambat mendengar. Merasa rohani tetapi tidak bisa dinasihati.

Padahal semakin dewasa rohani seseorang, seharusnya semakin mudah diajar.

Bukan semakin merasa paling tahu.

Mungkin hari ini kita tidak merasa seperti “orang bodoh” dalam Amsal itu. Tetapi ayat ini tetap menjadi cermin untuk kita semua.

Apakah hati kita masih lembut di hadapan Tuhan?

Apakah kita masih mau dikoreksi?
Masih mau mendengar?
Masih mau berubah?

Atau jangan-jangan kita mulai diam-diam membangun benteng dalam hati: “Aku sudah begini dari dulu.”
“Memang karakterku seperti ini.”
“Sudahlah, aku tidak bisa berubah.”

Tidak. Selama hati kita tetap lembut, Tuhan masih bisa membentuk kita.

Tanah yang lembut selalu bisa ditanami benih baru.

Dan orang yang memiliki hati lembut akan terus bertumbuh, bahkan sampai usia tua.

Karena mujizat terbesar bukan hanya hidup yang diberkati.

Tetapi hati yang tetap bisa diajar Tuhan.

The greatest ability is to be teachable.” – John C. Maxwell.

“Kemampuan terbesar adalah tetap mau diajar.” – John C. Maxwell

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Hati yang lembut tidak menunggu hidup menghancurkannya untuk berubah.”

“A soft heart does not wait for life to break it before it changes.”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Pelayanan Menjadi Tempat Persembunyian Ego…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Pelayanan Menjadi Tempat Persembunyian Ego…

Kalimat itu membuat kita berhenti sejenak.

Karena salah satu hal tersulit dalam perjalanan rohani bukan membedakan yang benar dan yang salah.

Tetapi membedakan motivasi yang murni dan yang tercampur.

Kita bisa sungguh mengasihi Tuhan.
Sungguh ingin melayani Tuhan.
Sungguh ingin memberkati orang lain.

Namun di saat yang sama, masih ada bagian hati yang menikmati pengakuan manusia.

Masih ada bagian hati yang ingin dianggap penting.

Masih ada bagian hati yang terluka ketika tidak diperhatikan.

Dan sering kali kita sendiri tidak menyadarinya.

Karena motivasi adalah wilayah yang sangat dalam.

Bahkan kita bisa menyembunyikannya dari diri sendiri.

Kadang pelayanan menjadi tempat yang aman untuk menyembunyikan ego.

Semuanya terlihat rohani.
Tidak ada yang curiga.

Tetapi diam-diam hati menikmati sesuatu yang lain.

Menikmati posisi.
Menikmati pengaruh.
Menikmati penghormatan.
Menikmati perlakuan khusus.

Kadang bentuknya sangat halus sehingga hampir tidak terasa.

Misalnya ketika ada kesempatan pelayanan ke sebuah kota yang sudah lama ingin kita kunjungi.

Kita berkata bahwa kita ingin memberkati orang-orang di sana.

Dan mungkin itu benar.

Tetapi sesekali ada baiknya kita bertanya dengan jujur:

“Apakah hanya itu alasannya?”

Karena hati manusia cukup kreatif untuk mencampurkan panggilan dengan kepentingan pribadi.

Tidak selalu soal uang.
Kadang yang dicari adalah pengalaman.
Kesempatan bepergian.
Fasilitas yang tersedia.
Kenyamanan yang diperoleh.

Atau perlakuan khusus yang tidak kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada yang salah dengan menikmati berkat yang menyertai pelayanan.

Tetapi ada perbedaan antara menerima berkat dan menjadikan berkat itu sebagai alasan utama.

Kadang kita tidak mencari keuntungan finansial dari pelayanan.

Tetapi kita menikmati keuntungan-keuntungan lain yang jauh lebih halus.

Akses.
Pengaruh.
Pengakuan.
Kemudahan.
Kedekatan dengan orang-orang tertentu.

Dan karena semuanya dibungkus dalam aktivitas rohani, kita menganggapnya wajar tanpa pernah memeriksa hati.

Padahal Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan.

Tuhan juga melihat alasan mengapa kita melakukannya.

Itulah sebabnya salah satu doa yang paling berani bukanlah:

“Tuhan, pakailah aku lebih besar.”

Melainkan:

“Tuhan, tunjukkan apa yang masih tersembunyi dalam hatiku.”

Karena pertempuran terbesar sering kali tidak terjadi di atas panggung.

Tidak terjadi di media sosial.

Tidak terjadi di depan banyak orang.

Tetapi di ruang-ruang tersembunyi dalam hati kita.

Di sanalah Tuhan bekerja.

Di sanalah motivasi dimurnikan.

Di sanalah kasih kepada Tuhan dipisahkan dari keinginan untuk dikagumi manusia.

Semakin dewasa seseorang, biasanya ia semakin tidak sibuk mengoreksi orang lain.

Ia lebih sibuk mengizinkan Tuhan mengoreksi dirinya sendiri.

Ia mulai sadar bahwa musuh terbesar tidak selalu berada di luar dirinya.

Kadang musuh itu adalah ego yang masih ingin ikut menikmati sebagian kemuliaan.

Dan mungkin itulah sebabnya Tuhan berkata bahwa Bapa melihat apa yang dilakukan dalam tempat tersembunyi.

Karena Tuhan tertarik pada sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas.

Tuhan tertarik pada hati.

Pada akhirnya, tepuk tangan manusia akan berhenti.

Panggung akan kosong.
Jabatan akan berakhir.
Pelayanan akan selesai.

Dan yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Apakah selama ini kita sungguh mencari Tuhan, atau hanya mencari sesuatu untuk diri sendiri melalui Tuhan?

Karena kadang yang perlu disalibkan bukan pelayanan kita.
Melainkan keuntungan-keuntungan tersembunyi yang diam-diam kita peroleh darinya.

Tuhan tidak sedang mencari orang yang paling terkenal di hadapan manusia. Tuhan sedang mencari hati yang tetap murni ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

“It is possible to be a leader and not know God. is possible to be a preacher and not know God. But it is not possible to walk with God and not be changed.”
– Leonard Ravenhill.

“Seseorang bisa menjadi pemimpin dan tidak mengenal Tuhan. Seseorang bisa menjadi pengkhotbah dan tidak mengenal Tuhan. Tetapi tidak mungkin berjalan bersama Tuhan tanpa diubahkan” – Leonard Ravenhill

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 10