Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Mengejar Bayangan atau Menemukan Sumbernya?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Mengejar Bayangan atau Menemukan Sumbernya?

?Pernahkah Anda merasa seperti sedang mengejar bayangan? Kita berlari begitu kencang mengejar sesuatu yang kita sebut kebahagiaan, namun sering kali saat kita merasa hampir menyentuhnya, ia justru menjauh.

Dunia modern hari ini seolah-olah memaksa kita untuk percaya bahwa kebahagiaan adalah sebuah garis finish yang hanya bisa dicapai melalui pencapaian materi, pengakuan, atau kenyamanan hidup yang maksimal.

Kita terjebak dalam siklus “nanti kalau”: nanti kalau sudah punya rumah, nanti kalau anak-anak sudah lulus, nanti kalau tabungan sudah cukup, baru saya akan bahagia. Tapi jujur saja, apakah setelah semua itu tercapai, hati kita benar-benar merasa penuh?

?Saya merenungkan apa yang ditulis oleh Billy Graham dalam Hope For Each Day, sebuah pesan yang sangat sederhana namun menusuk kesadaran kita semua.

Billy mengingatkan bahwa kebahagiaan itu sebenarnya bukan tujuan utama, melainkan sebuah produk sampingan.

Bayangkan sebuah bunga; keindahannya merupakan hasil dari akar yang sehat dan tanah yang subur.

Tanpa sadar, kita sering kali sibuk menyemprot parfum pada kelopak bunga yang layu, padahal yang bermasalah adalah akarnya.

Akar dari segala kedamaian dan kebahagiaan sejati itu sebenarnya sudah dibocorkan rahasianya oleh Yesus ribuan tahun yang lalu dalam

Matius 6:33.
?”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Ayat ini mungkin sudah sangat sering kita dengar, bahkan mungkin sudah kita hafal luar kepala sejak sekolah minggu. Namun, seberapa dalam kita benar-benar menghidupinya?

Sering kali kita membalik urutannya. Kita mencari “semuanya itu” terlebih dahulu—mencari kecukupan, mencari keamanan, mencari kesuksesan—dan kalau masih ada waktu sisa, baru kita mencari Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan seperti ban serep yang hanya dicari saat ban utama kita bocor di tengah jalan. Padahal, kuncinya justru Think Eternity, berpikir dalam perspektif kekekalan.

?Berpikir tentang kekekalan bukan berarti kita menjadi orang yang tidak membumi atau tidak peduli dengan urusan dunia. Justru sebaliknya, dengan mata yang tertuju pada kekekalan, kita menjadi pribadi yang paling tenang di tengah badai dunia.

Why?
Karena kita tahu siapa yang memegang masa depan kita.

Mencari Kerajaan Allah berarti kita menyerahkan tongkat estafet hidup kita kepada Sang Raja. Kita berhenti mencoba menjadi “tuhan” atas hidup kita sendiri. Kita menyerahkan segala kekhawatiran tentang hari esok, tentang apa yang akan kita makan atau pakai, karena kita sadar, seorang ‘anak raja’ tidak akan pernah pusing memikirkan apa yang akan dia makan di istana ayahnya.

?Saya belajar bahwa kunci praktis dari gaya hidup ini adalah penyerahan diri tanpa syarat setiap hari.
Bukan hanya saat hari Minggu di gereja, tapi saat kita menghadapi macetnya jalanan, saat menghadapi rekan kerja yang menyebalkan, atau saat melihat saldo tabungan yang menipis.
Dalam setiap momen itu, kita punya pilihan: apakah saya mau mengandalkan kekuatan saya sendiri (yang sangat terbatas ini) atau saya mau tunduk pada otoritas Kristus sebagai Raja?

Saat kita memilih untuk mendahulukan kebenaran-Nya—memilih untuk tetap jujur saat orang lain curang, memilih untuk mengampuni saat hati disakiti, memilih untuk memberi saat kita sendiri kekurangan—di situlah sebenarnya kita sedang membangun Kerajaan Allah di dalam hati kita.

?Dan tahukah Anda apa yang luar biasa? Saat kita sibuk mengurus bagian kita, yaitu mencari wajah-Nya dan melakukan kehendak-Nya, Tuhan dengan penuh kasih setia akan mengurus bagian kita yang lainnya. Dia “menambahkan” kebahagiaan itu tanpa perlu kita kejar-kejar sampai kelelahan.

Kebahagiaan itu datang menyelinap masuk ke dalam hati kita dalam bentuk damai sejahtera yang melampaui segala akal.

Kita jadi mengerti bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi tentang seberapa dekat kita berjalan bersama Sang Raja.

?Mari kita mulai hari ini dengan perspektif yang baru. Mari kita berhenti berlari mengejar bayangan kebahagiaan yang semu. Kembalilah pada prioritas yang utama. Fokuslah pada kekekalan, fokuslah pada Kerajaan-Nya.
Biarkan Yesus benar-benar menjadi Raja atas setiap detik hidup kita. Ketika fokus kita benar, maka seluruh hidup kita akan mengikuti arah yang benar.

Percayalah, saat kita menempatkan Tuhan di tempat yang utama, Dia tidak akan pernah menempatkan kita di tempat yang terakhir. Kebahagiaan sejati itu sudah ada di sana, menunggu kita di dalam ketaatan dan penyerahan diri yang tulus kepada-Nya. Tetap semangat dan teruslah menginspirasi di dalam kasih-Nya!

“Happiness is not a destination, it is a byproduct of a life lived in harmony with God.”— Billy Graham.

“Kebahagiaan bukanlah sebuah tujuan, ia adalah produk sampingan dari hidup yang selaras dengan Tuhan.”— Billy Graham.

?YennyIndra
www.yennyindra.com

?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Diam Itu Bukan Selalu Iman

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Diam Itu Bukan Selalu Iman

Beberapa waktu ini saya membaca satu kalimat yang cukup “nendang”:

“Orang paling menakutkan bukan yang marah, tapi yang diam saat batasnya dilanggar.”

Jujur, awalnya saya setuju.
Karena memang ada tipe orang yang diam… tapi sekali dia “selesai”, dia benar-benar pergi tanpa suara.

Tapi makin saya renungkan, saya sadar:
tidak semua diam itu dewasa.
Tidak semua diam itu rohani.
Kadang… diam itu cuma tanda hati kita sedang penuh.
Kita sering salah mengerti kekuatan.

Kita pikir kuat itu berarti:
tahan semuanya
tidak usah bicara
tetap baik walau disakiti
Kita bilang, “Saya mengampuni.”
Padahal di dalam hati: kita terluka… dan tidak pernah benar-benar dibereskan.

Saya belajar satu hal penting:
Tuhan tidak pernah minta kita pura-pura kuat.
Mazmur itu jujur sekali.
Daud tidak menyembunyikan emosinya.
Dia bisa berkata: “Tuhan, aku terluka.”
“Tuhan, ini tidak adil.”
Itu bukan kelemahan.
Itu hubungan yang hidup.

Saya juga melihat sesuatu dalam hidup Yesus.
Yesus itu penuh kasih, iya.
Tapi Dia tidak “diam saja”.

Dia tahu kapan harus:
diam
bicara
bahkan menegur
Dia tidak membiarkan orang memperlakukan Dia sembarangan.

Artinya apa?
Kasih itu bukan berarti tidak punya batas.
Kasih itu punya kejelasan.
Di titik ini, saya mulai jujur pada diri sendiri.
Selama ini, saya pikir saya sabar.
Tapi ternyata… ada bagian di hati saya yang hanya “menahan”.
Dan yang ditahan itu tidak hilang.
Dia hanya menunggu waktu.
Makanya ada orang yang:
kelihatannya tenang
tidak pernah marah
tapi tiba-tiba “cut off” orang lain tanpa penjelasan
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena dia sudah capek menahan terlalu lama.

Firman Tuhan berkata:
“Apabila kamu marah, jangan berbuat dosa.” (Efesus 4:26)

Perhatikan, bukan “jangan marah”.
Tapi: jangan salah mengelola marah.

Artinya:
emosi itu bukan musuh.
Yang jadi masalah adalah cara kita merespon.

Saya belajar hidup dengan cara yang lebih sehat.
Bukan reaktif.
Tapi juga tidak memendam.
Kalau hati mulai tidak damai, saya berhenti.

Saya tanya: “Tuhan, ini kenapa?”
Kadang jawabannya sederhana: ada batas yang perlu ditegakkan.
Belajar bicara itu penting.
Bukan untuk menyerang.
Tapi untuk jujur.

Kita bisa bilang dengan tenang:
“Saya tidak nyaman dengan itu.”
“Itu melewati batas saya.”
Tanpa emosi. Tanpa drama.
Tapi jelas.
Percaya atau tidak, ini menyelamatkan banyak hubungan.

Satu lagi yang Tuhan koreksi dalam hidup saya:
Mengampuni bukan berarti membiarkan.
Ini beda.

Mengampuni itu:
melepaskan kepahitan
Tapi membiarkan terus disakiti…
itu bukan kasih.
Itu ketidakseimbangan.
Tuhan tidak pernah minta kita hidup tanpa batas. Tanpa Boundaries.
Dia justru memimpin kita hidup dalam terang.

Hari ini saya mengerti sesuatu:
Kedewasaan rohani itu bukan diukur dari seberapa lama kita bisa menahan marah.
Tapi dari seberapa jujur kita berjalan dengan Tuhan.

Apakah kita:
peka dengan damai di hati
berani menghadapi kebenaran
dan tidak hidup dalam kepura-puraan?

Jadi kalau hari ini kita merasa lelah karena “terlalu kuat”…
Mungkin kita tidak butuh jadi lebih kuat.
Mungkin kita hanya perlu jadi lebih jujur.
Di hadapan Tuhan.
Dan dalam cara kita menjalani hidup.

Karena hidup yang dipimpin Tuhan itu bukan: meledak… atau memendam tetapi tenang, jelas, dan penuh damai.
Dan dari situlah…
kita benar-benar bebas.

Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves, even when we risk disappointing others.”- Brené Brown.

“Berani menetapkan batas adalah tentang memiliki keberanian untuk mencintai diri sendiri, bahkan ketika kita berisiko mengecewakan orang lain.- Brené Brown.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengapa Masalah Kecil Bisa Jadi Seumur Hidup?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Mengapa Masalah Kecil Bisa Jadi Seumur Hidup?

Kita sering berkata, “kita harus menyelaraskan pikiran dengan Tuhan.” Kedengarannya benar. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, justru di sinilah banyak orang tersandung.

Bukan karena tidak percaya Tuhan. Tapi karena cara berpikirnya masih bertentangan dengan Firman.

Firman Tuhan sudah sangat jelas. Dalam 2 Korintus 4:17-18 dikatakan:

“_Penderitaan dan kesulitan yang kita alami ini sebenarnya ringan saja dan tidak akan berlangsung lama._ Namun, masa singkat penderitaan ini akan menghasilkan berkat Tuhan yang luar biasa dan kekal bagi kita selama-lamanya. Karena itu, kita tidak memusatkan perhatian pada apa yang terlihat sekarang…”

Tuhan menyebut masalah kita ringan dan sementara. Tapi banyak orang justru mengalaminya sebagai berat dan berkepanjangan.

Why?

Karena kita tidak sepakat dengan cara Tuhan melihatnya.

Kita melihat masalah, memikirkannya terus, membicarakannya berulang-ulang. Tanpa sadar, kita sedang memperbesar sesuatu yang Tuhan sebut kecil.

Padahal *prinsipnya sederhana: apa yang kita perhatikan, itu yang kita besarkan.*

Bangsa Israel adalah contoh nyata. Tuhan hanya merencanakan perjalanan 11 hari. Tapi mereka berputar 40 tahun. Bahkan banyak yang tidak pernah sampai.

Masalahnya bukan di jarak. Tapi di pikiran. Mereka sibuk komplain, mengingat masa di Mesir lalu menyesal minta kembali.

Padahal masa lalu sudah dipaku di kayu salib. Hidup kita adalah hari ini dan masa depan.

1 Kor 3: 22b
He has given you all of the present and all of the future. All are yours.

Dia telah memberikanmu semua masa kini dan semua masa depan. Semua adalah milikmu.

Perhatikan yang disebutkan oleh Tuhan hanya masa kini dan masa depan.
Masa lalu sudah selesai. Lupakan!

Mereka tidak membangun Firman di hati. Mereka lebih percaya apa yang terlihat daripada apa yang Tuhan katakan. Akibatnya, sesuatu yang seharusnya sesaat menjadi seumur hidup.

Ini sangat relevan untuk kita.

Banyak orang terjebak terlalu lama dalam satu situasi. Bukan karena tidak ada jalan keluar, tapi karena pikirannya terus memberi perhatian pada masalah itu.

Padahal, apa yang tidak kita beri perhatian, akan lewat….
Sebaliknya, apa yang terus kita fokuskan, akan tinggal.

Paulus mengerti hal ini. Dia berkata, *“Aku telah belajar mencukupkan diri.”*

Artinya, ketenangan itu dipelajari. Bukan menunggu keadaan berubah, tapi memilih untuk tetap stabil di tengah keadaan.

Dia tidak memberi tempat bagi tekanan untuk tinggal dalam pikirannya.

Dan di sinilah kunci banyak orang gagal. Mereka tidak sadar bahwa mereka “memelihara” masalah mereka sendiri. Dipikirkan terus, diceritakan terus, bahkan didoakan dengan ketakutan.

Padahal Tuhan berkata:
1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab la yang memelihara kamu.” (TB)

Why?
Supaya Tuhan bisa membereskannya.

Kalau masih kita pegang di pikiran, kita yang akan terus terbeban. Tapi kalau kita lepaskan, Tuhan mulai bekerja.

Lihat bagaimana Yesus bekerja. Dia tidak pernah membuat sesuatu jadi rumit.

Yesus selalu menyelesaikan masalah dengan sederhana:

– Kepada pegawai istana:
“Pergilah, anakmu hidup.”

– Kepada orang kusta:
“Aku mau, jadilah tahir.”

– Kepada Lazarus yang sudah mati 4 hari:
“Lazarus, keluarlah.”

Selesai.

Tidak ada drama. Tidak ada proses berbelit-belit. Tidak ada analisa panjang.

Artinya jelas: di tangan Tuhan, tidak ada yang rumit.

Yang membuatnya terlihat rumit seringkali bukan situasinya, tapi cara kita memikirkannya.
Kita terlalu banyak memberi kata pada masalah. Terlalu banyak memberi perhatian. Terlalu lama memutarnya dalam pikiran.
Padahal Tuhan tidak pernah mendesain hidup kita untuk berat.
Yesus berkata kuk-Nya ringan dan beban-Nya enak.

Jadi kalau hidup terasa berat, jujur saja, ada yang tidak selaras.
Bukan di Tuhan. Tapi di cara kita melihat.

Masalah bukanlah “big deal”.
Yang “big deal” adalah Firman Tuhan, nama Yesus, dan kuasa yang ada di dalam kita.

Kalau kita fokus pada masalah, kita akan hidup dalam tekanan.

Tapi kalau kita mulai mengalihkan perhatian kepada Tuhan, sesuatu berubah.

Yang tadinya berat jadi ringan.
Yang tadinya lama jadi singkat.
Yang tadinya rumit jadi sederhana.

Bukan karena masalah langsung hilang, tapi karena kita akhirnya melihat seperti Tuhan melihat.

Dan saat itu terjadi, kita berhenti menghambat pekerjaan-Nya.

Hari ini, pilih sederhana saja.

Berhenti membesarkan masalah.
Berhenti memberi perhatian berlebihan.

Mulai sepakat dengan Tuhan.

Kalau Dia bilang ringan, ya ringan.
Kalau Dia bilang sesaat, ya sesaat.

Dan dari situ, kita akan mulai melihat: ternyata bersama Tuhan, semuanya memang jauh lebih sederhana dari yang kita kira.

Your focus determines your reality more than your circumstances do.” – Andrew Wommack.

“Fokusmu lebih menentukan realitas hidupmu daripada keadaanmu.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Cukup Panggil Namanya!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Cukup Panggil Namanya!

Saya baru mendapatkan pewahyuan, yang membukakan pengertian saya.Sebenarnya cara kerja iman yang simpel dalam hidup kita sehari-hari.

Sering kali kita merasa hidup ini berat karena kita terus-menerus memohon sesuatu yang sebenarnya sudah Tuhan berikan. Kita lelah berdoa meminta hal yang sama berulang kali, seolah-olah Tuhan belum mendengar atau belum menyediakan. Padahal, rahasianya jauh lebih sederhana dari itu.

Kita tahu kan, saat kita lahir baru, Tuhan sudah mendepositkan segala yang kita butuhkan di dalam roh kita. Kesembuhan, kedamaian, bahkan kemakmuran itu sudah ada di sana. Ibarat sebuah rekening bank, saldonya sudah masuk, tinggal bagaimana kita mencairkannya.

Di rumah, kami punya anjing kesayangan bernama Kirey. Saya tahu persis, saya memiliki Kirey. Dia milik saya, dia ada di rumah saya, dan saya sangat mengenal dia.

Setiap kali saya butuh Kirey ada di dekat saya, apakah saya harus memohon-mohon kepada Tuhan supaya saya diberi anjing? Tentu tidak, bukan? Itu lucu sekali. Saya juga tidak perlu menangis meminta-minta agar Kirey muncul. Yang saya lakukan hanyalah memanggil namanya: “Kirey…!” Dan seketika itu juga, Kirey datang berlari menghampiri saya.

Sama halnya dengan janji-janji Tuhan dalam hidup kita. Karena kita sudah memilikinya di dalam roh, kita tidak perlu lagi berteriak meminta Tuhan memberikan apa yang sudah Dia selesaikan di kayu salib. Kita hanya perlu “memanggil” apa yang sudah menjadi milik kita itu agar bermanifestasi di dunia nyata.

Inilah rahasia “istirahat” atau rest yang Yesus tawarkan dalam Matius 11:28-29. Dia mengundang kita yang letih lesu untuk memikul “kuk” yang dipasang-Nya. Mungkin kita pikir, “Lho, kok malah disuruh pakai kuk?
Apa tidak tambah berat?”

Nah, di sinilah letak keajaibannya. Perintah Tuhan dan firman-Nya itu sebenarnya bukan beban, melainkan seperti sayap bagi burung.
Kalau kita timbang secara fisik, sayap itu ada beratnya. Tapi justru karena sayap itulah si burung bisa terbang tinggi dan lepas dari gravitasi bumi. Tanpa sayap, burung justru akan kesulitan berjalan terseok-seok di tanah.

Luar biasanya lagi, dalam “kuk” ini kita tidak sendirian. Kita dipasangkan bersama Yesus. Dia yang memikul beban utamanya, Dia yang memberikan tenaga-Nya, dan Dia yang membawa kita terbang tinggi mengatasi badai persoalan. Kita hanya perlu melekat erat dan mengikuti langkah-langkah-Nya dengan hati yang tenang.

Kalau kita butuh kesembuhan, panggil kesembuhan itu karena sudah ada di dalam kita oleh bilur-bilur-Nya. Kalau kita butuh hikmat, panggil hikmat itu. Kita bergerak bukan dari posisi “kekurangan”, tapi dari posisi “kepemilikan”. Kita tidak stres mengejar berkat, karena berkat itu sudah ada di rumah kita, di dalam roh kita.

Smith Wigglesworth pernah berkata dengan sangat luar biasa:
“God says it, I believe it, and that settles it!”
“Tuhan mengatakannya, saya mempercayainya, dan itu tuntas!”.

Beliau tidak membiarkan perasaan atau keadaan mendikte apa yang dia miliki. Beliau tahu apa yang sudah Tuhan taruh di dalam dirinya, dan beliau berjalan dalam otoritas itu dengan santai namun penuh kuasa.

Mari kita berhenti merasa lelah karena terus-menerus “meminta” barang yang sudah ada di tangan kita. Mulailah menyadari apa yang sudah Tuhan depositkan dalam roh kita. Kenali “nama” berkat-berkatmu, dan panggillah dengan penuh keyakinan. Saat kita berhenti berjuang dengan kekuatan sendiri dan mulai bertindak berdasarkan apa yang sudah kita miliki, di situlah hidup terasa ringan dan penuh kemenangan.

Jangan biarkan Kirey-mu hanya diam di sudut ruangan rohmu. Panggil dia, nikmati kehadirannya, dan biarkan dunia melihat betapa kayanya kita di dalam Dia.
Hhhm…. praktik yuk….

“Faith is the hand that takes what God has already provided by His grace.” — Smith Wigglesworth.

“Iman adalah tangan yang mengambil apa yang telah disediakan Tuhan melalui kasih karunia-Nya.” — Smith Wigglesworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Whitney Houston & Kevin Costner: Melihat Melampaui Keraguan: Pelajaran dari Sebuah Persahabatan Sejati.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Whitney Houston & Kevin Costner: Melihat Melampaui Keraguan: Pelajaran dari Sebuah Persahabatan Sejati.

Bayangkan jika film legendaris “The Bodyguard” tidak pernah dibintangi oleh Whitney Houston. Mungkin lagu “I Will Always Love You” tidak akan pernah bergema sedahsyat yang kita kenal sekarang. Tahukah Anda, bahwa di balik layar, pihak studio film awalnya sangat ragu? Mereka menginginkan aktris kulit putih yang sudah berpengalaman, bukan seorang penyanyi muda yang belum pernah berakting.

Namun, Kevin Costner ngotot. Ia pasang badan. Ia berkata dengan tegas kepada pihak studio, “Jika bukan Whitney, maka tidak ada film ini.”

Kevin melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat jiwa, bakat, dan kerentanan yang luar biasa dalam diri Whitney. Ia tidak hanya menjadi lawan main, ia menjadi pelindung bagi karier Whitney di Hollywood saat banyak orang meragukannya.

Pernahkah Anda membayangkan, saat perjalanan hidup kita di dunia ini selesai, apa yang akan orang katakan tentang kita? Apakah mereka akan mengingat saldo rekening kita? Jabatan mentereng di kartu nama? Atau seberapa megah rumah yang kita bangun?

Kisah dukungan Kevin ini mencapai puncaknya bertahun-tahun kemudian, di momen yang sangat mengharukan. Ketika Whitney Houston berpulang pada tahun 2012, dunia seolah berhenti berputar sejenak. Pemakamannya di New Hope Baptist Church disiarkan langsung dan ditonton oleh jutaan pasang mata. Semuanya sudah diatur dengan protokol ketat—terstruktur, terkontrol, dan sangat menghargai durasi siaran global.

Lalu, Kevin Costner berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir.
Panitia sudah memintanya untuk menjaga pidatonya tetap singkat agar sesuai jadwal televisi. Namun, Kevin memilih untuk mengabaikan batasan waktu demi sebuah kejujuran. Ia tidak berbicara tentang berapa banyak penghargaan Grammy yang diraih Whitney. Sebaliknya, ia membagikan sisi rapuh sang diva yang tidak pernah diketahui publik.

Ia bercerita bagaimana Whitney dulu ragu pada dirinya sendiri saat akan membintangi film itu. Whitney pernah bertanya pelan kepadanya,
“Apakah saya cukup baik? Apakah saya cukup cantik? Apakah mereka akan menyukai saya?”
Pertanyaan-pertanyaan manusiawi yang dunia tidak pernah dengar, tetapi seorang sahabat tidak pernah lupa.

Di akhir pidatonya, Kevin berkata dengan suara yang sarat dengan kasih, bukan sekadar duka: “Pergilah… dikawal oleh pasukan malaikat.” Pada momen itu, jadwal siaran tidak lagi penting. Kamera-kamera canggih itu tidak lagi berarti. Kevin berjalan ke peti jenazah, menciumnya dengan lembut, dan melangkah pergi.

Why?

Karena pada detik itu, ini bukan tentang seorang megabintang global. Ini tentang seorang sahabat yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Kisah ini membuat saya merenung dalam-dalam. Kita sering kali begitu sibuk membangun “citra” agar dunia terkesan. Kita bekerja keras tanpa henti agar dianggap “cukup” oleh standar orang lain. Padahal, pada akhirnya, saat kita kembali kepada Tuhan, yang kita bawa bukanlah tepuk tangan dunia atau piala-piala kristal yang berdebu.
Yang kita bawa pulang adalah Kasih.

Seberapa besar kita telah mengasihi orang-orang di sekitar kita? Seberapa dalam dampak yang kita tinggalkan di hati sesama? Nilai-nilai kehidupan yang sejati tidak ditemukan dalam kemegahan panggung, melainkan dalam ketulusan sebuah persahabatan, dalam keberanian untuk mendukung seseorang saat mereka sedang ragu, dan dalam kesetiaan untuk tetap berdiri di samping mereka saat dunia mempertanyakan kemampuan mereka.

Tuhan menciptakan kita masing-masing dengan sebuah “rancangan” yang spesifik. Dan rancangan itu jarang sekali tentang menjadi yang terhebat, melainkan tentang menjadi yang paling berdampak bagi orang lain. Sukses sejati adalah saat kita menggenapi rencana Tuhan dengan cara menyentuh hidup orang lain—memberi kekuatan bagi yang lemah, menjadi suara bagi yang bungkam, dan menjadi sahabat bagi yang kesepian.

Jangan tunggu sampai “waktu berhenti” bagi kita untuk menyadari hal ini. Mari mulai hari ini, hargai setiap hubungan yang ada. Berhentilah sejenak dari kesibukan mengejar angka, dan mulailah membangun makna. Karena saat tirai kehidupan ditutup, hanya kasih dan ketaatan kita pada rancangan Tuhan-lah yang akan terus bergema di kekekalan.

Think Eternity. Pastikan saat Anda pergi nanti, Anda meninggalkan jejak kasih yang tidak bisa dihapus oleh waktu.

“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”— Maya Angelou.

“Orang akan lupa apa yang Anda katakan, orang akan lupa apa yang Anda lakukan, tetapi orang tidak akan pernah lupa bagaimana Anda membuat mereka merasa berharga.”— Maya Angelou.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 9