Diam Itu Bukan Selalu Iman
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Diam Itu Bukan Selalu Iman
Beberapa waktu ini saya membaca satu kalimat yang cukup “nendang”:
“Orang paling menakutkan bukan yang marah, tapi yang diam saat batasnya dilanggar.”
Jujur, awalnya saya setuju.
Karena memang ada tipe orang yang diam… tapi sekali dia “selesai”, dia benar-benar pergi tanpa suara.
Tapi makin saya renungkan, saya sadar:
tidak semua diam itu dewasa.
Tidak semua diam itu rohani.
Kadang… diam itu cuma tanda hati kita sedang penuh.
Kita sering salah mengerti kekuatan.
Kita pikir kuat itu berarti:
tahan semuanya
tidak usah bicara
tetap baik walau disakiti
Kita bilang, “Saya mengampuni.”
Padahal di dalam hati: kita terluka… dan tidak pernah benar-benar dibereskan.
Saya belajar satu hal penting:
Tuhan tidak pernah minta kita pura-pura kuat.
Mazmur itu jujur sekali.
Daud tidak menyembunyikan emosinya.
Dia bisa berkata: “Tuhan, aku terluka.”
“Tuhan, ini tidak adil.”
Itu bukan kelemahan.
Itu hubungan yang hidup.
Saya juga melihat sesuatu dalam hidup Yesus.
Yesus itu penuh kasih, iya.
Tapi Dia tidak “diam saja”.
Dia tahu kapan harus:
diam
bicara
bahkan menegur
Dia tidak membiarkan orang memperlakukan Dia sembarangan.
Artinya apa?
Kasih itu bukan berarti tidak punya batas.
Kasih itu punya kejelasan.
Di titik ini, saya mulai jujur pada diri sendiri.
Selama ini, saya pikir saya sabar.
Tapi ternyata… ada bagian di hati saya yang hanya “menahan”.
Dan yang ditahan itu tidak hilang.
Dia hanya menunggu waktu.
Makanya ada orang yang:
kelihatannya tenang
tidak pernah marah
tapi tiba-tiba “cut off” orang lain tanpa penjelasan
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena dia sudah capek menahan terlalu lama.
Firman Tuhan berkata:
“Apabila kamu marah, jangan berbuat dosa.” (Efesus 4:26)
Perhatikan, bukan “jangan marah”.
Tapi: jangan salah mengelola marah.
Artinya:
emosi itu bukan musuh.
Yang jadi masalah adalah cara kita merespon.
Saya belajar hidup dengan cara yang lebih sehat.
Bukan reaktif.
Tapi juga tidak memendam.
Kalau hati mulai tidak damai, saya berhenti.
Saya tanya: “Tuhan, ini kenapa?”
Kadang jawabannya sederhana: ada batas yang perlu ditegakkan.
Belajar bicara itu penting.
Bukan untuk menyerang.
Tapi untuk jujur.
Kita bisa bilang dengan tenang:
“Saya tidak nyaman dengan itu.”
“Itu melewati batas saya.”
Tanpa emosi. Tanpa drama.
Tapi jelas.
Percaya atau tidak, ini menyelamatkan banyak hubungan.
Satu lagi yang Tuhan koreksi dalam hidup saya:
Mengampuni bukan berarti membiarkan.
Ini beda.
Mengampuni itu:
melepaskan kepahitan
Tapi membiarkan terus disakiti…
itu bukan kasih.
Itu ketidakseimbangan.
Tuhan tidak pernah minta kita hidup tanpa batas. Tanpa Boundaries.
Dia justru memimpin kita hidup dalam terang.
Hari ini saya mengerti sesuatu:
Kedewasaan rohani itu bukan diukur dari seberapa lama kita bisa menahan marah.
Tapi dari seberapa jujur kita berjalan dengan Tuhan.
Apakah kita:
peka dengan damai di hati
berani menghadapi kebenaran
dan tidak hidup dalam kepura-puraan?
Jadi kalau hari ini kita merasa lelah karena “terlalu kuat”…
Mungkin kita tidak butuh jadi lebih kuat.
Mungkin kita hanya perlu jadi lebih jujur.
Di hadapan Tuhan.
Dan dalam cara kita menjalani hidup.
Karena hidup yang dipimpin Tuhan itu bukan: meledak… atau memendam tetapi tenang, jelas, dan penuh damai.
Dan dari situlah…
kita benar-benar bebas.
Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves, even when we risk disappointing others.”- Brené Brown.
“Berani menetapkan batas adalah tentang memiliki keberanian untuk mencintai diri sendiri, bahkan ketika kita berisiko mengecewakan orang lain.- Brené Brown.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan