Articles

Svalbard: A Story from 78° North

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Svalbard: A Story from 78° North

Hari ini kami meninggalkan Tromsø menuju Longyearbyen, kota utama di Kepulauan Svalbard.

Sejak awal saya sudah tahu bahwa perjalanan ini akan berbeda.
Tetapi saya tidak menyangka akan seunik ini.

Meski berada di bawah kedaulatan Norwegia, Svalbard memiliki status khusus berdasarkan Svalbard Treaty. Itulah sebabnya sebelum naik pesawat kami harus melewati pemeriksaan paspor dan imigrasi.

Rasanya aneh.
Masih Norwegia.
Tetapi seperti pergi ke negara lain.

Begitu pesawat mulai mendekati Svalbard, saya langsung menempel ke jendela.

Wow…

Pemandangan di bawah sungguh luar biasa.

Gunung-gunung batu raksasa dengan bentuk yang berbeda-beda berdiri megah di tengah hamparan salju putih. Ada yang menyerupai benteng purba, ada yang bergelombang, ada yang tampak seperti ukiran alam yang belum pernah tersentuh manusia.

Perpaduan warna putih salju dan hitam kecokelatan batu menciptakan pemandangan yang jarang sekali kita lihat di Indonesia.

Saya akhirnya mengerti mengapa banyak orang menyebut penerbangan menuju Svalbard sebagai Panoramic Flight.

Tujuannya memang unik.
Tetapi perjalanan menuju ke sana sama spektakulernya.

Begitu pesawat mendarat, kami tiba di Longyearbyen.
Di mana-mana terlihat tulisan:

“The Northernmost Airport in the World.”

Kerennya!
Dan memang itulah salah satu kebanggaan mereka.
Bandara komersial berjadwal paling utara di dunia.

Lucunya, setelah semua penumpang keluar, suasana langsung sepi.
Bandara kecil itu seperti kembali tertidur.
Tidak banyak penerbangan datang ke sini setiap hari.

Tidak banyak manusia yang hidup sedekat ini dengan Kutub Utara.

Ketika saya bercerita kepada teman-teman bahwa saya akan ke ujung dunia: Svalbard, banyak yang bertanya,

“Bukannya ujung dunia itu Nordkapp?”

Memang Nordkapp sangat terkenal.
Tetapi Nordkapp berada di sekitar 71° lintang utara.

Sementara Longyearbyen berada di 78° lintang utara.
Artinya kami berada ratusan kilometer lebih dekat ke Kutub Utara dibanding Nordkapp.

Di halaman bandara bahkan terdapat penanda besar bertuliskan 78° North, lengkap dengan jarak menuju berbagai kota besar dunia.

Rasanya benar-benar seperti berdiri di ujung peta.

Yang membuat saya semakin kagum adalah kehidupan di sini.
Jumlah penduduk Longyearbyen hanya sekitar 2.500–3.000 orang.

Tetapi kota kecil ini memiliki sekolah, universitas, supermarket, museum, rumah sakit, gereja, hotel, pelabuhan, bahkan pusat penelitian internasional.
Lengkap.
Seperti dunia mini yang berdiri sendiri di tepi Kutub Utara.

Namun jangan salah.

Di Svalbard, manusialah yang menjadi tamu.
Alam tetap menjadi penguasa sesungguhnya.

Ratusan beruang kutub berkeliaran bebas di luar kawasan permukiman. Karena itu siapa pun yang bepergian keluar kota wajib membawa senjata atau perlengkapan perlindungan khusus.

Ini mungkin satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi di mana manusia benar-benar sadar bahwa mereka bukan penguasa alam.
Mereka hanya menumpang hidup di dalamnya.

Kota Longyearbyen sendiri tidak besar.
Berjalan kaki beberapa menit saja, kita sudah merasa mengenal sebagian besar pusat kotanya.

Kami menginap di Radisson Blu Polar Hotel, hotel terbesar dan paling terkenal di Longyearbyen.

Dari hotel terlihat pelabuhan kecil yang menjadi pintu masuk banyak kapal ekspedisi Arctic.
Sebagian besar kapal yang datang ke sini bukan kapal pesiar biasa.

Mereka adalah kapal ekspedisi yang membawa peneliti, fotografer, pencinta alam, dan petualang menuju kawasan Kutub Utara.
Biayanya terkenal sangat mahal.

Tetapi hari itu kami juga melihat Viking Cruise bersandar, kapal pesiar mewah yang membawa wisatawan menikmati keindahan Arctic dengan lebih nyaman.

Menariknya, kota yang biasanya tenang ini bisa mendadak ramai ketika beberapa kapal datang bersamaan.
Ribuan orang tiba-tiba membanjiri jalan-jalan kecil Longyearbyen.

Satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah bentuk rumah-rumahnya.
Hampir semuanya berdiri di atas tiang seperti rumah panggung.

Why?

Karena tanah di bawahnya adalah permafrost, lapisan tanah yang membeku sepanjang tahun.

Jika bangunan langsung menempel ke tanah, panas dari bangunan dapat mencairkan lapisan es dan merusak fondasi.
Karena itulah rumah-rumah di sini dibuat “mengambang” di atas tiang.

Unik sekali.

Permafrost ini juga memengaruhi seluruh kehidupan di Svalbard.

Tidak ada hutan.
Tidak ada perkebunan.
Tidak ada sawah.
Hampir semua kebutuhan hidup harus didatangkan dari mainland Norway.

Sayur-mayur.
Buah-buahan.
Material bangunan.
Peralatan rumah tangga.
Semuanya.
Karena alam di sini memang tidak dirancang untuk pertanian seperti yang kita kenal.

Bahkan para ibu hamil biasanya harus terbang ke Tromsø beberapa minggu sebelum melahirkan karena fasilitas persalinan lengkap tidak tersedia di Svalbard.

Orang-orang yang membutuhkan perawatan medis khusus juga biasanya dipindahkan ke daratan utama Norwegia.

Awalnya saya berpikir, betapa sulitnya hidup di sini.
Tetapi semakin lama saya melihat, semakin saya kagum.

Di tengah salju.
Di tengah es.
Di tengah keterbatasan.
Orang-orang tetap hidup.

Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap membangun keluarga.
Tetap bermimpi.

Dan saya kembali diingatkan bahwa Tuhan menciptakan dunia yang jauh lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan.

Di Indonesia kita menikmati hutan tropis yang hijau sepanjang tahun.
Di Svalbard saya melihat dunia batu, salju, es, dan laut yang membentang tanpa akhir.

Berbeda.
Tetapi sama-sama indah.
Sama-sama memukau.
Dan sama-sama menceritakan kebesaran Sang Pencipta.

Semakin jauh saya melangkah ke utara, semakin saya menyadari satu hal:

Dunia ini luar biasa besar. Tetapi Tuhan yang menciptakannya jauh lebih besar lagi.

“The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of His hands.”

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Living In God’s Best
Tujuan Allah Bagi Anda, Bagaimana Cara Menemukannya?
Serba-Serbi Doa Kesembuhan, Part 3 : Kesembuhan Supernatural.*