Monthly Archives: Jun 2026

Articles

Pelajaran yang Tidak Saya Minta…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pelajaran yang Tidak Saya Minta…

Belakangan ini saya merasa Tuhan sedang mengajar saya sebuah pelajaran yang tidak pernah saya minta.

Pelajaran tentang melepaskan.
Bukan melepaskan orang.
Tetapi melepaskan harapan-harapan kecil yang tanpa sadar masih saya genggam.

Harapan untuk selalu diingat.
Harapan untuk selalu dianggap penting.
Harapan untuk diperlakukan seperti yang saya bayangkan.

Lucunya, Tuhan tidak mengajar saya lewat mimbar.
Dia mengajarnya melalui kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika saya bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu pernah dekat.

Ada yang lupa nama saya.
Ada yang tampak lebih akrab dengan orang lain.

Dulu, mungkin saya akan sedikit kecewa.
Tetapi kali ini berbeda.
Saya hanya tersenyum.
Tidak ada rasa tersinggung.
Tidak ada keinginan menjelaskan diri.
Tidak ada dorongan untuk mencari perhatian.

Biasa saja.

Bahkan saat ada kesempatan berfoto bersama tamu penting dari luar negeri, saya tidak lagi merasa harus ikut.

Bukan karena marah.
Bukan karena kecewa.
Hanya… rasanya tidak perlu.

Lalu saya menyadari sesuatu.
Memang begitulah hidup.
Waktu terus berjalan.
Orang-orang bertemu.
Lalu berpisah.
Lingkaran pertemanan berubah.
Kedekatan pun berubah.
Dan itu bukan sesuatu yang harus disesali.

Beberapa hari kemudian Tuhan kembali mengajar saya.
Lewat sebuah situasi di rumah.
Ada perkataan yang cukup menyakitkan.
Anehnya, saya tidak ingin membalas.
Saya juga tidak ingin berdebat.
Saya memilih diam.
Bukan diam karena kalah.
Tetapi diam karena damai sejahtera dalam hati terasa jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah perdebatan.

Malam itu saya duduk diam di hadapan Tuhan.
Tidak banyak berdoa.
Hanya merenung.
Tiba-tiba hati saya dibawa kepada Yesus.

Saya teringat bagaimana begitu banyak orang pernah mengikuti-Nya.
Disembuhkan.
Dikenyangkan.
Ditolong.

Namun pada akhirnya banyak di antara mereka yang berteriak, “Salibkan Dia!”

Lalu saya teringat ayat yang selama ini sering saya baca tetapi malam itu terasa begitu hidup.

Yoh 2: 23-25
“Selama perayaan Paskah di Yerusalem, banyak orang percaya kepada Yesus setelah melihat mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. _Namun Yesus tidak menggantungkan kepercayaan-Nya kepada mereka. la mengenal manusia sampai ke dasar hatinya. la tahu bahwa hati manusia begitu mudah berubah._ Tidak ada seorang pun yang perlu menjelaskan hal itu kepada-Nya.”

Perhatikan, Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada manusia, karena Ia tahu isi hati manusia.

Betapa dalam kalimat itu.
Yesus mengasihi semua orang.
Tetapi Dia tidak menggantungkan hati-Nya pada respons mereka.

Saya merasa Tuhan sedang berbicara sangat pribadi kepada saya.

“Jangan biarkan perlakuan orang lain menentukan keadaan hatimu dan menentukan responmu. Bertindaklah seperti-Ku, karena Aku di dalammu.”

Kalimat itu terus terngiang.

Bukankah sering kali kita baik kepada orang karena mereka baik kepada kita?
Kita mudah mengasihi ketika dihargai.
Tetapi mulai terluka ketika diabaikan.

Padahal kasih yang Tuhan ajarkan memiliki sumber yang berbeda.
Bukan berasal dari bagaimana orang memperlakukan kita.
Melainkan dari Kristus yang hidup di dalam kita.

Saya tidak mengatakan bahwa pelajaran ini mudah.
Tetapi saya mulai merasakan kebebasan yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Ternyata damai itu muncul ketika kita berhenti menuntut orang lain memenuhi kebutuhan hati kita.

Keesokan paginya saya mendapat giliran memimpin doa pagi.
Lucunya, tanpa memasang alarm pun saya terbangun sendiri.
Tuhan seakan berkata, “Kalau ini memang bagianmu, Aku sendiri yang akan membangunkanmu.”

Saya belajar bahwa kedewasaan rohani bukan hanya tentang semakin banyak mengetahui Firman Tuhan.
Tetapi tentang semakin sedikit hati kita diguncang oleh perlakuan manusia.

Dan mungkin…

Itulah salah satu cara Tuhan membentuk hati kita agar semakin serupa dengan Kristus.

“Semakin hati kita berakar di dalam Kristus, semakin sedikit kita membutuhkan pengakuan dari manusia.”

Bagaimana pendapat Anda?

“The less you depend on people for your happiness, the happier you will be.”- Roy T. Bennett.

“Semakin sedikit kebahagiaanmu bergantung pada manusia, semakin bahagia hidupmu.” – Roy T. Bennett.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Pengaruh Besar Membuat Jiwa Lelah: Pelajaran Hidup James Robison

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Pengaruh Besar Membuat Jiwa Lelah: Pelajaran Hidup James Robison

James Robison pernah berada di puncak pengaruh.
Di tahun 1970–1980-an, namanya sangat besar di Amerika. Ia berkhotbah di stadion, tampil di televisi nasional, dekat dengan tokoh-tokoh politik penting seperti Ronald Reagan, dan menjadi salah satu suara Kristen konservatif paling berpengaruh saat itu.

Ia berani bicara tentang moralitas bangsa, keluarga, dosa, dan arah Amerika.
Dari luar, hidupnya terlihat luar biasa.
Tetapi diam-diam, jiwanya mulai lelah.

James pernah mengakui bahwa musim itu membuat dirinya menjadi keras. Ia begitu terbiasa “berjuang” dan “melawan” sampai tanpa sadar kehilangan kelembutan. Ia menjadi cepat marah, defensif, dan hidup dalam tekanan untuk terus tampil kuat.

Kadang itu juga terjadi dalam hidup kita.

Awalnya melayani Tuhan dengan hati yang tulus. Lalu perlahan hidup berubah menjadi performance. Selalu harus benar. Selalu harus kuat. Selalu harus terlihat berhasil.

Dan tanpa sadar… damai mulai hilang.

James mulai menyadari sesuatu yang pahit: memenangkan debat tidak selalu berarti memenangkan jiwa manusia.

Ia bisa berdiri di panggung besar dan dipuji banyak orang, tetapi pulang dengan jiwa yang kosong.

Kadang Tuhan memang mengizinkan seseorang melewati musim “keras” supaya akhirnya sadar:
pengaruh tanpa damai itu kosong,
popularitas tanpa intimacy with God itu melelahkan,
dan hidup yang terus mencari validasi manusia pada akhirnya menguras jiwa.

Di tengah musim itulah, istrinya Betty Robison banyak menolongnya.

Betty dikenal lebih lembut dan penuh belas kasihan. Ia membantu James kembali kepada hal-hal sederhana: duduk tenang di hadapan Tuhan, membangun hubungan pribadi dengan-Nya, dan berhenti hidup hanya dari tekanan pelayanan publik.

Perubahan James tidak terjadi dalam semalam. Tetapi orang-orang mulai melihat perbedaannya.
James tua jauh lebih lembut dibanding James muda.
Masih tegas. Masih berani. Tetapi tidak lagi dipenuhi kemarahan.

Lalu ada hal lain yang membuat banyak orang merasa hidup James “real”.
Ia tidak membangun image keluarga sempurna.
Di dunia pelayanan, itu jarang.

Banyak pemimpin rohani sibuk mempertahankan citra seolah rumah tangga mereka tidak pernah bermasalah. Tetapi James dan Betty cukup terbuka tentang pergumulan keluarga mereka.

Salah satu anak mereka pernah mengalami depresi dan pergumulan berat secara emosional. Dan menariknya, mereka tidak merespons dengan pencitraan rohani.
Mereka tidak pura-pura semuanya baik-baik saja.
Mereka mengakui rasa sakit. Mereka berbicara tentang tekanan. Mereka menghadapi kenyataan sebagai keluarga nyata.

Being real itu penting.

Karena terlalu banyak orang Kristen hidup capek menjaga image.
Takut kalau orang tahu kelemahannya. Takut kalau terlihat tidak rohani. Takut kalau dianggap gagal.

Padahal Tuhan tidak pernah meminta kita tampil sempurna. Tuhan meminta kita hidup dalam terang.

Ada perbedaan besar antara hidup kudus dan hidup palsu.
Hidup kudus berarti kita terus berjalan bersama Tuhan walaupun masih sedang diproses. Hidup palsu berarti kita sibuk menutupi luka supaya tetap dikagumi manusia.

James akhirnya belajar bahwa pelayanan terbesar bukanlah terlihat hebat di depan publik.
Tetapi tetap memiliki hati yang lembut di hadapan Tuhan.

Dan mungkin itu sebabnya, di akhir hidupnya, banyak orang tidak terutama mengingat seberapa dekat ia dengan presiden atau seberapa besar pelayanannya.

Mereka mengingat kelembutannya. Belas kasihnya. Kejujurannya. Dan bagaimana seorang anak yang lahir dari luka akhirnya dipakai Tuhan membawa pengharapan bagi banyak orang.

Kadang kemenangan rohani terbesar bukan ketika semua orang mengagumi kita.
Tetapi ketika kita akhirnya berhenti berpura-pura dan mulai hidup dekat dengan Tuhan apa adanya.

God never called us to impress people. He called us to walk with Him.”- Charles Stanley.

“Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk mengesankan manusia. Tuhan memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya.”- Charles Stanley.

??YennyIndra??
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

never called us to impress people. He called us to walk with Him.”- Charles Stanley.*

*”Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk mengesankan manusia. Tuhan memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya.”- Charles Stanley.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Jangan Tinggal di Museum Masa Lalu

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Jangan Tinggal di Museum Masa Lalu

Ada dua jenis orang yang sama-sama berhenti bertumbuh.
Yang pertama, hidupnya terpenjara oleh luka masa lalu.
Yang kedua, hidupnya terjebak dalam kejayaan masa lalu.
Kelihatannya berbeda. Tetapi ujungnya sama.

Mandek.
Tidak ada pertumbuhan.
Tidak ada pencapaian baru.

Dr. Caroline Leaf menjelaskan bahwa ketika seseorang terus memutar ulang pengalaman yang menyakitkan, otaknya akan bereaksi seolah-olah peristiwa itu sedang terjadi sekarang. Tubuh kembali tegang, emosi kembali naik, dan sistem saraf terus hidup dalam mode siaga.

Menurut saya, prinsip yang sama juga bisa terjadi pada kesuksesan.
Bukan tubuh yang terluka.
Tetapi semangat untuk terus bertumbuh yang perlahan mati.

Saya pernah bertemu orang yang hampir setiap kali berbicara selalu memulai dengan kalimat,

“Dulu waktu saya…”

“Dulu perusahaan saya…”

“Dulu pelayanan saya…”

“Dulu saya dipercaya…”

Awalnya menarik.

Tetapi lama-kelamaan saya menyadari sesuatu.
Ceritanya tidak pernah berubah.
Yang berubah hanya usianya.

Tanpa sadar, ia sedang tinggal di museum masa lalu.
Museum memang tempat yang indah untuk dikunjungi.
Tetapi tidak untuk ditinggali.

Masa lalu juga demikian.
Datanglah sesekali untuk belajar.
Jangan membangun rumah di sana.

Andrew Wommack sering mengajarkan bahwa iman selalu bekerja pada saat ini. Bukan kemarin. Bukan besok. Tuhan juga bekerja pada hari ini.

Karena itu saya percaya, Tuhan tidak memanggil kita menjadi kolektor kenangan, tetapi pencipta sejarah baru bersama-Nya.

The Passion Translation dalam Mazmur 139:5 berkata,

“You’ve gone into my future to prepare the way.”

Bayangkan.

Tuhan sudah berada di masa depan kita, sedang mempersiapkan jalan.
Tetapi kita justru sibuk memandangi album foto kehidupan.
Bagaimana mungkin kita melihat pintu baru kalau mata kita terus tertuju pada pintu lama?

Yesaya 43:18-19 berkata,
“Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu… Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”

Perhatikan.
Tuhan tidak menyuruh kita melupakan pelajaran masa lalu.
Tetapi Tuhan juga tidak mengizinkan masa lalu membatasi masa depan.

Bagi saya, masa lalu adalah sekolah, bukan alamat rumah.
Belajarlah di sana.
Lalu luluslah.
Jangan tinggal kelas seumur hidup.

Albert Einstein pernah berkata,

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”
Hidup memang seperti mengendarai sepeda.
Selama kita terus bergerak, kita seimbang.
Begitu berhenti terlalu lama, kita mulai kehilangan keseimbangan.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani, pelayanan, bisnis, bahkan karakter.
Orang yang berhenti belajar akan segera tertinggal.
Orang yang berhenti bertumbuh akan segera puas dengan dirinya sendiri.
Padahal Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.

Saya juga teringat perkataan John C. Maxwell,

“Change is inevitable. Growth is optional.”

Perubahan pasti terjadi.
Tetapi pertumbuhan adalah pilihan.
Dan saya memilih terus bertumbuh.

Saya ingin ketika bertemu orang sepuluh tahun lagi, saya masih punya cerita baru tentang apa yang Tuhan kerjakan hari ini, bukan hanya kisah indah puluhan tahun yang lalu.

Sebab saya percaya, karya terbaik Tuhan belum selesai.
Selama kita masih diberi napas, selalu ada pelajaran baru.

Selalu ada karakter yang sedang dibentuk.
Selalu ada orang yang bisa diberkati.
Selalu ada visi yang bisa diwujudkan.

Jangan hidup dari kejayaan kemarin.
Hiduplah dari penyertaan Tuhan hari ini.

Karena masa depan tidak dibangun dengan mengulang cerita lama, tetapi dengan melangkah bersama Tuhan setiap hari.

“The more you lose yourself in something bigger than yourself, the more energy you will have.” – Norman Vincent Peale.

“Semakin kita mengabdikan diri kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, semakin besar pula energi yang kita miliki.” – Norman Vincent Peale.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Warisan yang Tidak Mati Saat Kita Mati.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Warisan yang Tidak Mati Saat Kita Mati.

Belakangan ini saya belajar dari AR Bernard tentang arti sebuah legacy, warisan hidup yang bertahan bahkan setelah seseorang tidak ada lagi di bumi.

Jujur, banyak orang berpikir warisan hanyalah uang, rumah, bisnis, atau aset. Padahal Alkitab berbicara jauh lebih dalam dari itu.

“Orang baik meninggalkan warisan kepada anak cucunya.” (Amsal 13:22)

Ayat ini bukan sekadar bicara soal deposito atau properti. Sebab ada banyak orang meninggalkan uang besar, tetapi juga meninggalkan luka besar. Ada anak-anak yang menerima harta, tetapi tidak menerima kasih, arah hidup, hikmat, atau teladan.

AR Bernard mengatakan, legacy dibangun melalui lima area penting: spiritual, intellectual, emotional, motivational, dan material.

Saya langsung terdiam ketika membacanya.

Karena ternyata hidup ini sedang membangun sesuatu setiap hari. Entah kita sadar atau tidak, kita sedang meninggalkan jejak dalam hidup orang lain.

Kita sedang mewariskan cara berpikir.
Cara bereaksi.
Cara mengasihi.
Cara menghadapi tekanan.
Cara memperlakukan Tuhan.

Dan itu sering lebih kuat daripada uang.

1. Warisan Rohani

Menurut saya, ini fondasi utama.

Yesus tidak pernah memanggil kita hanya menjadi “orang Kristen.” Yesus memanggil kita menjadi murid yang diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Ada orang rajin pelayanan, tetapi anak-anaknya tidak pernah melihat kasih, damai, atau karakter Kristus di rumah.

Sebaliknya ada orang sederhana, tetapi hidupnya memancarkan hadirat Tuhan. Kata-katanya menenangkan. Doanya menguatkan. Sikapnya membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

Itu legacy rohani.

Dan saya percaya, generasi hari ini tidak hanya membutuhkan pengkhotbah hebat. Mereka membutuhkan orang-orang yang benar-benar berjalan dengan Tuhan.

2. Warisan Intelektual

AR Bernard juga berkata, hikmat, pengetahuan, dan pelajaran hidup harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Saya sangat setuju.

Karena buku yang kita tulis, pengajaran yang kita bagikan, bahkan percakapan yang membangun, bisa terus hidup lama setelah kita pergi.

Itulah sebabnya saya suka menulis.

Kadang kita berpikir tulisan kecil tidak berarti. Tetapi siapa tahu satu kalimat yang dipimpin Tuhan justru menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.

Ilmu tanpa karakter memang berbahaya. Tetapi hikmat yang lahir dari perjalanan bersama Tuhan bisa menjadi terang bagi banyak orang.

3. Warisan Emosional

Bagian ini sangat menyentuh saya.

*AR Bernard menulis bahwa hidup dibentuk oleh iman, pertumbuhan, ujian, kemenangan, dan pengalaman hidup.*

Benar sekali.

Ada musim sukacita. Ada musim air mata. Ada musim dikhianati, disalahpahami, atau merasa sendirian.

Tetapi semua musim itu sedang membentuk siapa kita.

Persoalannya bukan apakah hidup kita pernah terluka. Persoalannya adalah: apakah luka itu membuat kita pahit atau makin dewasa?

Karena orang yang sembuh akan menyembuhkan orang lain. Tetapi orang yang pahit sering melukai generasi setelahnya.

4. Warisan Motivasi

Warisan sejati lahir dari hidup yang menyentuh hidup lain.

Bukan soal terkenal.

Bukan soal viral.

Tetapi apakah hidup kita membuat orang lain lebih kuat, lebih berharap, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Ada orang kaya tetapi tidak mengangkat siapa pun.

Ada orang sederhana tetapi keberadaannya membuat banyak orang bertahan hidup.

Dan menurut saya, surga melihat itu.

5. Warisan Materi

Tentu materi penting. Pengelolaan yang bijaksana juga bagian dari tanggung jawab rohani.

Tetapi uang hanyalah alat. Uang bukan inti warisan.

Warisan terbesar adalah apa yang kita transfer ke generasi berikutnya: iman, hikmat, karakter, kasih, integritas, dan cara hidup bersama Tuhan.

Karena pada akhirnya, orang tidak akan terlalu mengingat apa yang kita miliki.

Tetapi mereka akan mengingat: siapa kita, bagaimana kita hidup, dan apa yang kita tinggalkan di hati mereka.

The greatest use of a life is to spend it on something that will outlast it.” – William James

“Penggunaan terbesar dari hidup adalah menghabiskannya untuk sesuatu yang akan tetap hidup bahkan setelah kita tiada.” – William James

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Di Tepi Ujung Dunia! Catatan dari Isfjorden, 78° 40′ Lintang Utara..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Tepi Ujung Dunia! Catatan dari Isfjorden, 78° 40′ Lintang Utara..

Hari ini kami memilih menikmati Svalbard dari sudut yang berbeda.
Bukan dari jalan raya.
Bukan dari atas gunung.
Melainkan dari laut.

Pagi itu kami naik catamaran menyusuri Isfjorden, salah satu fjord terbesar dan terindah di Svalbard.
Perjalanan pulang pergi memakan waktu hampir lima jam.
Lama?
Ya.
Tetapi sungguh sepadan.

Begitu kapal meninggalkan Longyearbyen, pemandangan yang terbentang di depan mata terasa semakin spektakuler.
Gunung-gunung batu menjulang di kiri dan kanan.
Sebagian masih dihiasi salju yang belum mencair meski musim panas telah tiba.

Di kejauhan tampak gletser berwarna putih kebiruan yang berdiri megah di antara pegunungan Arctic.
Air fjord begitu tenang.
Sesekali memantulkan bayangan gunung dan langit seperti cermin raksasa.

Burung-burung camar dan berbagai burung laut beterbangan rendah mengikuti arah angin.
Beberapa reindeer tampak di kejauhan, kecil seperti titik-titik cokelat di lereng gunung.

Kami berulang kali berpindah tempat di kapal untuk mengambil foto.
Salah satu yang paling saya sukai adalah saat berfoto dengan bendera Norwegia yang berkibar gagah di buritan kapal.
Latar belakangnya gunung, salju, dan fjord Arctic yang luar biasa indah.
Rasanya seperti berada di halaman belakang dunia.

Setelah puas berfoto ria, kami menikmati makan siang hangat di dalam kapal sambil terus memandangi pemandangan di luar jendela.

Dan saat itulah kejutan berikutnya datang.
Di layar kapal ditampilkan peta rute perjalanan kami.
Barulah saya benar-benar menyadari betapa jauhnya kami telah berada di utara bumi.

Ternyata dari posisi kami di Isfjorden berada di sekitar garis lintang 78° Utara. Sementara itu, titik poros bumi atau Kutub Utara sejati terletak di 90° Utara. Sedekat itu rupanya…..
Menakjubkan!

Ketika melihat peta, rasanya berbeda.
Di atas Longyearbyen hampir tidak ada lagi kota.
Tidak ada jalan raya.
Tidak ada kehidupan seperti yang kita kenal.
Hanya lautan Arctic, es, dan akhirnya Kutub Utara.
Di sisi lain terlihat kawasan menuju Pyramiden yang terkenal karena sejarah komunitas Rusia di Svalbard.

Saya memandang peta itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya benar-benar merasa:

Saya sedang berada di Tepi Ujung Dunia – Beyond The Edge.

Mungkin karena itulah Longyearbyen terasa begitu istimewa.
Kota kecil ini lahir karena seorang Amerika bernama John Munro Longyear datang ke Svalbard pada awal tahun 1900-an untuk mencari batu bara.
Ia memperoleh konsesi tambang dan membangun pemukiman bagi para pekerjanya.
Siapa sangka pencarian batu bara akhirnya melahirkan sebuah kota yang kini dikenal di seluruh dunia.

Longyear mencari batu bara.
Tetapi tanpa sadar ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebuah kota di hampir ujung bumi.

Hari ini Longyearbyen dikenal sebagai salah satu komunitas permanen paling utara yang dihuni manusia.
Di lokasi 78° 13 N. 15° 38? E. posisinya berada jauh di atas Lingkaran Arktik yang terletak di 66° 33′ U.

Karena letak geografisnya yang sangat tinggi ini, kota ini mengalami fenomena ekstrem seperti Midnight Sun (matahari 24 jam) dari pertengahan April hingga Agustus, serta Polar Night (kegelapan total 24 jam) dari pertengahan November hingga akhir Januari.

Kami bahkan menginap di Radisson Blu Polar Hotel Spitsbergen yang memegang Guinness World Record sebagai hotel full-service Paling Utara di Dunia.

Saat melihat sertifikat itu, saya terpukau..
Terimakasih Tuhan untuk anugerah-Mu!

Di tengah perjalanan hari ini saya juga teringat pada Henri Rudi, tokoh legendaris Svalbard yang dijuluki Raja Beruang Kutub.

Setelah bertahun-tahun hidup di Arctic, ia pernah menulis:
“Tanah yang begitu telanjang, tandus, dan keras, namun seseorang justru bisa jatuh cinta padanya.”

Saat pertama kali membaca kalimat itu, saya tidak benar-benar mengerti.
Tetapi setelah beberapa hari berada di Svalbard, saya mulai memahaminya.

Tempat ini memang tidak menawarkan kemewahan.
Tidak banyak pohon.
Tidak banyak warna.
Tidak banyak keramaian.
Tetapi justru karena itulah kita mulai memperhatikan hal-hal yang sering terlewatkan.

Keheningan.
Kesederhanaan.
Dan keagungan alam yang begitu murni.

Ada tempat-tempat yang membuat kita kagum karena keindahannya.
Ada pula tempat-tempat yang membuat kita kagum karena keheningannya.

Svalbard termasuk yang kedua.

Dari atas catamaran yang membelah Isfjorden hari ini, saya kembali menyadari bahwa Tuhan tidak hanya berbicara melalui Firman-Nya.
Kadang Ia juga berbicara melalui ciptaan-Nya.

Melalui gunung yang diam.
Melalui laut yang tenang.
Melalui gletser yang berdiri kokoh selama ribuan tahun.
Dan melalui keheningan yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak untuk mendengarkan.

Seperti kata Henri Rudi:
“Ketika badai mengamuk di luar dan teko kopi mendesis di atas tungku, saat itulah aku merasakan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun di dunia.”

Hari ini, di Isfjorden, saya mulai mengerti apa yang ia maksud.

Di hari terakhir sebelum kami ke airport, kabut putih pekat…. dan salju turun.
Bayangkan hujan salju di musim panas!
Kami mendapatkan pengalaman yang sangat komplit. Tak henti-hentinya mulut ini mengucapkan syukur. 4 hari 3 malam di Longyearbyen langit cerah, matahari sedemikian terik sehingga kami menikmati Fjord dengan sangat jelas. Jika kabut, semua pemandangan tertutup kabut.

Bukankah itu cara-Nya mendemonstrasikan kasih-Nya bagi kami?

Speechless!!!

“Lord, I love you full…”, copy – paste Mbah Surip.

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” – Albert Einstein

“Pandanglah alam lebih dalam, maka engkau akan memahami segala sesuatu dengan lebih baik.”- Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 6