Monthly Archives: Jun 2026

Articles

Kasih Tanpa Hikmat Itu Berbahaya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kasih Tanpa Hikmat Itu Berbahaya…

Ada satu jebakan yang sering tidak disadari oleh orang percaya yang sungguh mengasihi Tuhan. Kita belajar mengasihi, diajar untuk tidak curiga, dan memilih melihat yang baik dalam setiap orang. Kita memberi hati, waktu, bahkan kepercayaan. Masalahnya bukan pada kasih itu. Masalahnya muncul ketika kasih berjalan tanpa hikmat.

Di titik itu, kita mulai menyamakan semua orang dengan diri kita. Kita berpikir, “Kalau saya tulus, pasti mereka juga tulus.” Kalau saya datang ke gereja untuk Tuhan, berarti mereka juga. Padahal realitanya tidak semua orang datang dengan motivasi yang sama. Ada yang memang mencari Tuhan, tetapi ada juga yang mencari peluang. Ada yang membangun iman, tetapi ada juga yang membangun jaringan. Bahkan tidak sedikit yang memakai label rohani untuk mendapatkan akses, kepercayaan, dan keuntungan.

Ini bukan sinis, ini kenyataan. Lingkungan rohani tidak pernah sepenuhnya steril dari kepentingan manusia. Bahkan dalam momen yang paling kudus sekalipun, pengkhianatan bisa terjadi. Jadi kalau kita pernah merasa dimanfaatkan oleh orang yang terlihat rohani, jangan buru-buru menyalahkan diri karena terlalu percaya. Yang perlu diperbaiki bukan hati yang mengasihi, tetapi cara melihat.

Banyak kekecewaan terjadi bukan karena kita salah mengasihi, tetapi karena kita salah menilai. Kita menganggap semua orang punya pola pikir, nilai, dan hati yang sama seperti kita. Padahal setiap orang berjalan dengan “setting” yang berbeda. Seperti yang diajarkan Dr. Caroline Leaf, pikiran manusia dibentuk oleh sejarah hidupnya. Cara mereka berpikir, merespons, dan mengambil keputusan berasal dari pola yang sudah lama terbentuk, termasuk motif yang tidak selalu terlihat.

Masalahnya, kita sering masuk dalam relasi dengan asumsi, bukan dengan pengamatan. Kita berharap mereka bertindak seperti kita. Kita pikir mereka akan menjaga seperti kita menjaga. Saat itu tidak terjadi, kita terluka. Padahal sejak awal “rumusnya” sudah tidak cocok. Kita memakai variabel kita untuk membaca orang lain.

Inilah sebabnya kekecewaan bisa berulang pada orang yang sama. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak mau menerima apa yang sebenarnya sudah jelas. Kita tetap berharap mereka berubah, padahal pola mereka sudah terlihat.

Kasih tidak berarti buta. Kasih yang sehat selalu berjalan bersama hikmat. Hikmat membuat kita tetap lembut, tetapi tidak naif. Tetap memberi, tetapi tidak sembarangan percaya. Tetap terbuka, tetapi tahu batas.

Orang yang manipulatif tidak berubah hanya karena kita baik. Orang yang suka mengambil keuntungan tidak berhenti hanya karena kita tulus.

Kalau kita terus memberi tanpa melihat dengan jernih, yang terjadi bukan pelayanan, tetapi eksploitasi. Dan itu bukan kehendak Tuhan. Kasih Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menjadi korban, tetapi untuk hidup dalam terang, termasuk terang dalam melihat manusia.

Mulai sekarang, ubah satu hal sederhana. Setiap kali merasa kecewa, jangan langsung menyimpulkan mereka salah. Tanyakan ini dalam hati, “Saya tadi berharap mereka seperti saya, atau saya sudah melihat mereka apa adanya?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi membuka mata. Saat kita mulai melihat orang apa adanya, kita tidak mudah kaget. Kita tidak memberi akses sembarangan. Kita tahu seberapa jauh harus percaya dan seberapa dalam harus melibatkan hati.

Ini bukan soal menjauh dari orang, tetapi menempatkan orang dengan tepat. Tidak semua orang bisa masuk ke lingkaran terdalam hidup kita. Tidak semua orang layak memegang tingkat kepercayaan yang sama. Dan itu tidak berarti kita berhenti mengasihi.

Kita hanya mulai mengasihi dengan hikmat. Hidup menjadi jauh lebih ringan saat kita berhenti berharap semua orang tulus, dan mulai melihat dengan jernih. Karena kasih tanpa hikmat membuat kita terluka, tetapi kasih dengan hikmat membuat kita tetap mengasihi tanpa kehilangan diri.

Cerdiklah seperti ular tetapi tulus seperti merpati.
Makes Sense?

“You can’t make a good deal with a bad person.” – Warren Buffett.

“Kamu tidak bisa membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang tidak benar. – Warren Buffett.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU ??
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ekspektasi yang Salah, Luka yang Diulang.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ekspektasi yang Salah, Luka yang Diulang.

Kita sering berpikir masalahnya ada pada orang lain. Mereka tidak peka. Tidak peduli. Tidak bertanggung jawab. Tidak seperti yang kita harapkan.

Padahal kalau jujur, sumber luka itu sering bukan tindakan mereka, tapi ekspektasi kita.

Kita berharap orang lain berpikir seperti kita berpikir. Merasa seperti kita merasa. Bereaksi seperti kita bereaksi.

Kita akan membalas chat. Mereka tidak.
Kita akan datang tepat waktu. Mereka tidak.
Kita akan minta maaf. Mereka diam.

Lalu kita kecewa.

Bukan sekali. Tapi berulang.

Masalahnya sederhana, tapi sering tidak disadari: kita sedang memakai “standar kita” untuk mengukur orang lain.

Dan itu tidak realistis.

Setiap orang hidup dari pola yang berbeda. Cara mereka dibentuk oleh pengalaman, luka, nilai hidup, cara berpikir, bahkan cara mereka melihat ancaman dan rasa aman. Apa yang bagi kita jelas, bagi mereka belum tentu penting. Apa yang bagi kita salah, bagi mereka bisa jadi normal.

Di sinilah letak jebakannya.

Kita tidak melihat orang itu apa adanya. Kita melihat versi yang kita harapkan.

Dan ketika realita tidak cocok dengan harapan, kita menyebutnya “menyakitkan”.

Padahal sebenarnya kita sedang kaget karena realita tidak mengikuti skenario kita.

Kalau kita jujur, sebagian besar kekecewaan kita bukan karena orang berubah. Tapi karena kita tidak mau menerima siapa mereka sebenarnya.

Kita tahu polanya. Kita sudah melihatnya berulang. Tapi kita tetap berharap kali ini beda.

Ini bukan soal kasih atau pengampunan. Ini soal kejelasan melihat.

Orang akan bertindak sesuai dengan hati dan pola mereka, bukan sesuai dengan keinginan kita.

Dan kedewasaan itu dimulai saat kita berhenti kaget.

Bukan berarti kita jadi dingin atau tidak peduli. Justru sebaliknya. Kita jadi lebih tenang, lebih stabil, dan lebih bijak dalam merespon.

Kita tidak lagi memberi ekspektasi yang tidak realistis. Kita mulai menempatkan orang sesuai kapasitas mereka.

Orang yang tidak konsisten, jangan ditaruh di posisi yang butuh konsistensi.
Orang yang tidak komunikatif, jangan diharapkan membaca hati kita.
Orang yang tidak dewasa, jangan diberi tanggung jawab emosional yang berat.

Ini bukan menghakimi. Ini membaca dengan jernih.

Kita tetap bisa mengasihi tanpa harus terus terluka.

Kita tetap bisa memberi tanpa harus berharap balik dari orang yang memang tidak punya kapasitas memberi.

Di titik ini, damai mulai masuk.

Karena kita tidak lagi memaksa orang menjadi seperti kita.

Kita menerima bahwa setiap orang berjalan dengan “setting” yang berbeda.

Dan menariknya, justru di situ relasi jadi lebih sehat.

Kita berhenti bereaksi berlebihan. Kita tidak gampang tersinggung. Kita tidak lagi mengambil semuanya secara pribadi.

Karena kita sadar, banyak hal bukan tentang kita.

Itu hanya cerminan dari siapa mereka.

Coba minggu ini lakukan satu hal sederhana.

Setiap kali kecewa, jangan langsung menyimpulkan. Jangan langsung tersinggung.

Tanya satu hal ini dalam hati:

“Aku tadi berharap dia bertindak seperti aku… atau seperti dia yang sebenarnya?”

Jawaban itu akan membuka mata.

Kalau kita berharap sesuai siapa dia, kita tidak akan kaget. Kita bisa siap. Kita bisa memilih respon yang tepat.

Tapi kalau kita terus berharap dia jadi seperti kita, kita hanya sedang mempersiapkan diri untuk kecewa lagi.

Hidup ini lebih ringan saat kita berhenti menuntut orang menjadi versi yang kita inginkan.

Dan mulai belajar melihat mereka apa adanya.

Di situlah hikmat bekerja.

Kita tidak lagi hidup dari ekspektasi, tapi dari kejelasan.

Dan kejelasan itu melindungi hati kita.

“You have power over your mind, not outside events.”-Marcus Aurelius.

“Kamu berkuasa atas pikiranmu, bukan atas keadaan di luar dirimu.” – Marcus Aurelius.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Rancangan Tuhan Membuat Hidup Menjadi Utuh.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Rancangan Tuhan Membuat Hidup Menjadi Utuh.

Ada masa-masa dalam hidup ketika kita mulai mempertanyakan diri sendiri.

Mengapa jalan hidup saya berbeda?
Mengapa banyak hal terasa terlambat?
Mengapa orang lain tampak melaju, sementara saya seperti tertahan di tempat?

Dan kalau jujur, kadang muncul pikiran yang diam-diam melemahkan hati:

“Mungkin saya sudah melewatkan rencana Tuhan.”

Perasaan itu nyata. Apalagi ketika melihat harapan yang runtuh, hubungan yang gagal, doa yang belum terjawab, atau musim hidup yang terasa panjang dan melelahkan.

Tetapi ada satu hal yang perlu kita ingat baik-baik:

Kita lahir bukan secara kebetulan.

Sebelum kita ada di dunia ini, Tuhan sudah memiliki rancangan. Setiap pribadi datang ke bumi membawa tujuan, kapasitas, dan assignment yang berbeda-beda. Karena itu perjalanan hidup setiap orang memang tidak akan sama.

Masalahnya, banyak orang menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari panggilannya.

Mereka mengejar pengakuan, posisi, kekayaan, atau kehidupan orang lain. Tetapi jauh di dalam hati, tetap ada rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan.

Mengapa?

Karena jiwa manusia tidak pernah benar-benar dipuaskan hanya dengan pencapaian. Kita dipuaskan saat hidup berjalan selaras dengan tujuan Tuhan.

Untuk itulah kita ada di dunia ini.

Ada orang yang memiliki banyak uang tetapi kehilangan damai. Ada yang terkenal tetapi hidupnya kosong. Ada yang terlihat berhasil di luar, tetapi lelah dan hancur di dalam.

Sebaliknya, ada orang-orang yang mungkin hidup sederhana, tetapi hatinya penuh, tenang, dan utuh karena mereka tahu sedang berjalan di jalur Tuhan.

Saya sangat percaya kalimat ini:

“The plan of God is the wealthiest place in the world.”

“Rencana Tuhan adalah tempat terkaya di dunia.”

Bukan hanya kaya secara materi. Tetapi kaya damai sejahtera, kaya makna, kaya sukacita, kaya kepuasan hidup.

Karena tidak ada yang lebih melegakan selain mengetahui bahwa hidup kita dipakai untuk sesuatu yang memang Tuhan rancangkan.

Itulah sebabnya tugas terbesar kita sebenarnya bukan berusaha menjadi seperti orang lain. Tugas kita adalah mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti arahan-Nya.

Kadang arah Tuhan tidak selalu masuk akal.

Yusuf harus melewati penjara sebelum istana. Musa harus masuk padang gurun sebelum memimpin bangsa besar. Daud harus menjadi gembala dan pelarian sebelum menjadi raja.

Proses mereka berbeda-beda, tetapi satu hal sama: mereka belajar berjalan bersama Tuhan.

Dan itu juga perjalanan kita.

Kadang kita terlalu fokus pada hasil akhir sampai lupa bahwa Tuhan sedang membentuk kita di tengah proses. Penundaan tidak selalu berarti penolakan. Musim sulit tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita.

Sering kali justru di musim itulah Tuhan sedang membangun kapasitas, karakter, dan ketahanan di dalam diri kita.

Karena tujuan tanpa kesiapan bisa menghancurkan seseorang.

Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan hidupmu gagal hanya karena jalannya berbeda dari bayanganmu.

Jangan ukur nilai hidup berdasarkan timeline orang lain.

Ada orang yang mekar lebih cepat. Ada yang dibentuk lebih lama. Ada yang harus melewati musim dihancurkan, dipulihkan, lalu dibangun kembali dengan lebih kuat.

Tetapi selama Tuhan masih memberi napas, berarti cerita hidupmu belum selesai.

Masih ada tujuan Tuhan yang harus digenapi.

Karena itu jangan menyerah terhadap hidupmu sendiri.

Tetap letakkan tangan pada “bajak” itu. Tetap berjalan, meski perlahan. Tetap percaya, meski belum melihat semuanya jelas.

Tuhan tidak meminta kita mengetahui seluruh masa depan sekaligus. Tuhan hanya meminta kita tetap setia mengikuti langkah-Nya hari demi hari.

Dan semakin kita berjalan bersama-Nya, semakin kita akan menyadari sesuatu:

Hidup yang paling penuh, utuh dan memuaskan, bukanlah hidup yang paling mudah. Tetapi hidup yang berada di dalam rencana Tuhan.

Di situlah hati menjadi utuh.
Di situlah jiwa menemukan damai.
Dan di situlah hidup akhirnya terasa “pulang.”

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain.

“Dua hari terpenting dalam hidup adalah hari ketika kita dilahirkan dan hari ketika kita menemukan untuk apa kita dilahirkan.” – Mark Twain.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…

Kita semua senang berbicara tentang mimpi besar, doa yang terjawab, promosi, keberhasilan, dan pintu-pintu yang terbuka. Tetapi sangat sedikit orang yang suka membicarakan proses.

Padahal justru di sanalah kehidupan dibentuk.

Yusuf tidak langsung menjadi penguasa di Mesir. Ia melewati sumur, dijual saudara sendiri, menjadi budak, difitnah, dipenjara, dilupakan orang, lalu perlahan dibawa naik oleh Tuhan. Kalau dipikir secara manusia, jalannya terasa aneh. Terlalu panjang. Bahkan tampak tidak adil.

Tetapi Tuhan tidak pernah membuang waktu.

Sering kali kita berpikir tujuan adalah hal terpenting. Padahal bagi Tuhan, siapa diri kita saat sampai di tujuan jauh lebih penting daripada sekadar posisi yang kita capai.

Karena itu Tuhan membawa kita melalui berbagai stages kehidupan. Ada level ketika tanggung jawab mulai diperbesar. Ada tahap ketika karakter dibentuk lewat tekanan. Ada musim ketika iman diuji saat tidak ada satu pun hal yang terlihat bergerak.

Dan jujur saja, proses itu tidak nyaman.
Kita maunya cepat. Tuhan maunya matang.

Kita sering berdoa minta dipakai lebih besar, tetapi Tuhan justru membawa kita masuk ke musim pembentukan yang membuat ego dikikis, emosi ditertibkan, motivasi dimurnikan, dan hati dilatih tetap benar bahkan ketika tidak dihargai.

Di situlah banyak orang menyerah.

Mereka ingin hasil tanpa proses. Ingin promosi tanpa tanggung jawab. Ingin dipakai Tuhan tanpa mau dibentuk Tuhan.

Padahal sesuatu yang dibangun tanpa kedalaman biasanya tidak bertahan lama.

Yusuf berbeda.

Saat menjadi budak di rumah Potifar, sebenarnya Tuhan sedang melatih banyak hal dalam dirinya. Yusuf belajar tanggung jawab, ketelitian, tata krama, dan cara bersikap di lingkungan Mesir. Ia belajar bagaimana membawa diri dengan hormat dan bijaksana. Semua itu kelihatannya kecil, tetapi ternyata menjadi bagian penting dalam persiapannya.

Kelak, saat berdiri di hadapan Firaun, Yusuf tidak tampil seperti orang pahit yang haus pembelaan diri.

Ia tahu cara berbicara dengan sopan tanpa meninggikan diri. Ia tidak memanfaatkan kesempatan bertemu raja untuk menuntut keadilan atau meminta dibebaskan dari penjara. Padahal secara manusia, itu kesempatan emas.

Tetapi Yusuf tidak bergerak dari luka.
Ia bergerak dari kedewasaan.

Ia justru memberikan solusi. Ia mengarahkan perhatian kepada Allah dan memuliakan Tuhan, bukan mempromosikan dirinya sendiri.

Dan sikap seperti itu terasa.

Ada sesuatu dari orang yang sungguh “rest in the Lord” yang membawa rasa aman bagi orang lain. Tidak memaksa. Tidak haus pengakuan. Tidak sibuk meninggikan diri. Ada ketenangan yang membuat orang nyaman mempercayainya.

Itulah yang dilihat Firaun.

Meski Yusuf orang asing, mantan narapidana, dan bukan bagian dari bangsa Mesir, Firaun merasa aman memberikan kuasa penuh kepadanya. Para petinggi Mesir pun tidak merasa terancam oleh kehadiran Yusuf.

Mengapa?

Karena proses panjang telah menghasilkan kestabilan di dalam dirinya.

Pengendalian diri tidak muncul tiba-tiba. Kerendahan hati juga bukan sesuatu yang instan.

Salah satu stages penting dalam hidup Yusuf adalah belajar mengelola kekecewaan.

Bayangkan saat juru minuman yang pernah ditolongnya justru melupakannya bertahun-tahun. Yusuf punya alasan untuk kecewa, marah, bahkan pahit kepada Tuhan. Tetapi penundaan tidak membuatnya kehilangan hati.

Dan itu sangat penting.

Banyak orang gagal bukan saat menderita, tetapi saat kecewa. Kecewa membuat hati berubah arah. Mulai sinis. Mulai kehilangan kasih. Mulai mempertanyakan Tuhan.

Tetapi Yusuf tetap menjaga hati.

Ternyata yang Tuhan kerjakan di dalam diri Yusuf selama 13 tahun proses jauh lebih besar daripada posisi yang akhirnya ia terima.

Karena apa yang dibentuk Tuhan di dalam diri kita melalui proses, itulah yang nantinya menjadi fondasi bagi tujuan hidup kita.

Kadang kita mengira Tuhan sedang menahan kita. Padahal sebenarnya Tuhan sedang memperbesar kapasitas kita.

Sebab berkat besar membutuhkan hati yang besar. Tanggung jawab besar membutuhkan kedewasaan besar.

Dan kedewasaan tidak lahir dalam semalam.

Jangan remehkan stages kehidupan yang sedang kita jalani hari ini.

Bisa jadi hari-hari yang terasa berat, sepi, membosankan, bahkan menyakitkan itu justru sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kestabilan, hikmat, pengendalian diri, dan hati yang siap dipercaya.

Masa persiapan tidak pernah sia-sia.

“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened.” – Helen Keller.

“Karakter tidak dibentuk dalam kenyamanan dan kehidupan yang tenang. Hanya melalui ujian dan penderitaan jiwa menjadi kuat. – Helen Keller.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Dr. Caroline Leaf pernah menulis sesuatu yang sangat menarik.

Ia berkata bahwa sering kali seseorang justru merasa cemas ketika hidupnya mulai baik-baik saja.

Mengapa?

Karena terlalu lama hidup dalam “survival mode” membuat damai terasa asing.

Orang yang bertahun-tahun hidup dalam tekanan, konflik, ketakutan, penolakan, atau stres terus-menerus, akhirnya terbiasa hidup waspada. Otaknya terus mencari ancaman. Bahkan ketika ancaman itu sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Dan ini kalimat yang sangat dalam dari Caroline Leaf:

“The anxiety you feel in the good moments is your mind catching up to a life it hasn’t learned to trust yet.”

“Kecemasan yang muncul di saat-saat baik sebenarnya adalah pikiran kita yang sedang berusaha mengejar kehidupan yang belum ia pelajari untuk dipercayai.”

Aduh… dalam sekali.

Bukankah banyak dari kita memang seperti itu?

Saat hidup sulit, kita berdoa meminta damai.
Tetapi waktu damai itu datang, kita malah gelisah.

Takut semuanya akan rusak lagi.
Takut kecewa lagi.
Takut ditinggalkan lagi.
Takut sakit lagi.
Takut kehilangan lagi.

Akhirnya kita tidak pernah benar-benar menikmati sukacita.

Tubuh duduk di tempat yang aman, tetapi pikiran masih hidup di masa lalu.

Padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam damai sejahtera. Bukan damai palsu dari keadaan luar, tetapi damai yang menjaga hati dan pikiran.

Masalahnya, banyak orang lebih terbiasa hidup dalam tekanan daripada hidup dalam ketenangan.

Kalau suasana tenang, malah curiga.
Kalau semuanya baik-baik saja, malah berpikir:
“Pasti nanti ada sesuatu yang buruk terjadi.”

Mengapa?

Karena pikiran yang terus-menerus hidup dalam ancaman akhirnya membentuk pola berpikir tertentu.

Dan itu sebabnya pembaruan pikiran sangat penting.

Firman Tuhan tidak hanya menyelamatkan roh kita. Firman juga memulihkan cara berpikir kita.

Ada orang yang sudah keluar dari situasi toxic, tetapi pikirannya belum keluar.
Sudah tidak hidup dalam penolakan, tetapi masih merasa tidak aman.
Sudah diberkati Tuhan, tetapi tetap hidup dengan mentalitas takut kehilangan.

Itulah sebabnya Tuhan sering membawa kita masuk dalam proses “rest”.

Belajar percaya.
Belajar tenang.
Belajar berhenti mengantisipasi kehancuran setiap saat.

Kadang yang paling sulit bukan melewati badai.

Tetapi mempercayai bahwa badai sudah berlalu.

Bangsa Israel juga seperti itu. Walaupun sudah keluar dari Mesir, mental budak mereka belum hilang. Mereka masih berpikir seperti orang tertindas.

Dan banyak orang percaya hidup seperti itu hari ini.

Sudah ditebus.
Sudah diampuni.
Sudah diberkati.
Tetapi pikiran masih hidup dalam mode bertahan.

Karena itu Caroline Leaf memberi latihan sederhana:
tuliskan tiga hal yang benar-benar baik dalam hidup kita saat ini.

Mengapa?

Karena pikiran perlu belajar melihat bukti bahwa Tuhan sedang bekerja.

Ini sangat sejalan dengan prinsip Firman Tuhan tentang mengarahkan pikiran kepada perkara yang benar, mulia, baik, dan patut disyukuri.

Semakin kita melatih pikiran melihat kebaikan Tuhan, semakin jiwa belajar tenang.

Dan ketenangan itu bukan berarti masalah tidak ada.

Tetapi hati kita tidak lagi diperbudak ketakutan.

Ada orang yang hidupnya sederhana tetapi damai.
Ada juga yang hidupnya berkelimpahan tetapi selalu gelisah.

Karena damai bukan hasil keadaan luar.
Damai lahir dari pikiran yang mulai percaya bahwa Tuhan sungguh memegang hidup kita.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami itu.

Hidup mulai membaik.
Doa mulai dijawab.
Keadaan mulai tenang.

Tetapi anehnya, hati malah gelisah.

Kalau itu terjadi, jangan langsung merasa ada yang salah dengan diri kita.

Mungkin jiwa kita hanya sedang belajar sesuatu yang baru:
belajar hidup tanpa ketakutan.

Dan itu perlu proses.

Tetapi kabar baiknya, Tuhan sanggup memulihkan bukan hanya keadaan hidup kita, tetapi juga pola pikir kita.

Sedikit demi sedikit, hati belajar percaya lagi.

Bahwa tidak semua musim baik harus berakhir buruk.

Bahwa damai bukan jebakan.

Dan bahwa kita boleh menikmati kebaikan Tuhan tanpa terus hidup menunggu kehancuran datang.

«“Kadang luka masa lalu membuat kita lebih akrab dengan ketakutan daripada damai. Tetapi kasih Tuhan sanggup melatih jiwa kita untuk tenang kembali.” — Yenny Indra»

Sometimes the bravest thing you can do is to let yourself feel safe again.”- Morgan Harper Nichols

“Kadang tindakan paling berani adalah mengizinkan diri kita merasa aman kembali.- Morgan Harper

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2