Ketika Dunia Menilai Nama, Tuhan Melihat Hikmat.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Ketika Dunia Menilai Nama, Tuhan Melihat Hikmat.
Bagaimana jika karya terbaik dalam sebuah kompetisi ternyata dibuat oleh seseorang yang mungkin tidak akan pernah dipilih jika identitasnya diketahui sejak awal? Itulah yang terjadi pada Maya Lin.
Pada tahun 1980, Maya Lin masih seorang mahasiswi berusia 21 tahun di Yale University. Dalam sebuah tugas kuliah, ia diminta merancang memorial untuk mengenang para korban Perang Vietnam. Alih-alih menggambar patung besar atau tugu yang menjulang tinggi, Maya justru membayangkan sesuatu yang berbeda. Ia membayangkan sebuah luka yang membelah bumi, lalu menuangkannya dalam bentuk dinding granit hitam yang masuk ke dalam tanah dan memuat nama seluruh tentara Amerika yang gugur.
Menariknya, dosennya sendiri tidak terlalu terkesan dengan rancangan tersebut. Nilainya hanya B. Namun beberapa minggu kemudian, desain yang sama dikirim ke kompetisi nasional pembangunan Vietnam Veterans Memorial.
Kompetisi itu diikuti oleh 1.421 peserta, terdiri dari arsitek terkenal, profesional berpengalaman, dan berbagai nama besar di bidangnya. Akan tetapi, ada satu aturan penting. Semua desain dinilai secara anonim. Para juri tidak mengetahui siapa pembuat setiap karya. Mereka hanya menilai gagasan dan kualitas desainnya.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Desain Maya Lin dipilih secara bulat sebagai pemenang. Tidak seorang pun menyangka bahwa rancangan terbaik itu berasal dari seorang mahasiswi muda keturunan Asia yang bahkan belum lulus kuliah.
Namun bagian yang paling membuat saya merenung justru terjadi setelah itu. Begitu identitas Maya diumumkan, kritik mulai berdatangan. Orang-orang tidak lagi membicarakan desainnya. Mereka mulai membahas usianya, jenis kelaminnya, rasnya, dan latar belakangnya. Padahal desainnya tidak berubah. Gambarnya tetap sama. Konsepnya tetap sama. Yang berubah hanyalah informasi tentang siapa yang membuatnya.
“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Bukankah itulah kecenderungan manusia sejak dahulu? Kita sering menilai sebuah pesan berdasarkan siapa pembawanya. Kita lebih mudah mendengar orang yang terkenal daripada orang yang benar. Kita lebih mudah menghargai seseorang yang memiliki gelar daripada seseorang yang memiliki hikmat. Kita lebih mudah percaya kepada nama besar daripada kepada kebenaran itu sendiri.
Karena itulah Tuhan sering bekerja dengan cara yang berbeda. Daud hanyalah seorang gembala muda ketika dipilih menjadi raja. Tuhan seolah sengaja memakai orang yang tidak diperhitungkan dunia, supaya kemuliaan tidak tertuju kepada manusia, melainkan kepada-Nya.
Saya juga belajar sesuatu dari sikap Maya Lin. Ia tidak menghabiskan energinya untuk membuktikan diri. Ia tidak sibuk membalas kritik atau mencari pembenaran. Ia tetap berdiri pada keyakinannya dan percaya pada visi yang dimilikinya.
Dalam kehidupan kita pun ada kalanya Tuhan menaruh sebuah gagasan, langkah, atau arah yang berbeda dari kebanyakan orang. Tidak semua orang akan langsung mengerti. Tidak semua orang akan langsung setuju. Namun jika kita telah berdoa, mencari kehendak Tuhan, dan menerima damai sejahtera-Nya, jangan terlalu cepat membuang apa yang Tuhan taruh dalam hati hanya karena belum memperoleh persetujuan manusia.
Tentu kita tetap perlu rendah hati dan mau diajar. Tetapi kita juga perlu belajar membedakan antara koreksi yang sehat dan prasangka manusia. Tidak setiap penolakan berarti kita berada di jalan yang salah.
Pada akhirnya, Vietnam Veterans Memorial yang dahulu diejek sebagai “luka hitam” justru menjadi salah satu memorial yang paling dikagumi dan paling banyak dikunjungi di Amerika. Waktu membuktikan sesuatu yang sudah lebih dahulu dilihat Maya Lin.
Kadang hikmat memang terlihat aneh sebelum waktunya tiba. Dan kadang orang yang paling diremehkan justru membawa jawaban yang paling dibutuhkan. Karena Tuhan tidak pernah bergantung pada usia, gelar, popularitas, atau latar belakang seseorang. Yang Dia cari adalah hati yang mau mendengar, lalu cukup berani untuk taat.
Mungkin itu sebabnya, ketika nama kita tidak terlalu penting, hikmat Tuhan justru menjadi semakin jelas terlihat.
“Jangan kecewa ketika orang meremehkan siapa diri kita. Yang lebih penting bukan apakah nama kita dikenal, tetapi apakah hikmat Tuhan nyata melalui hidup kita. Tugas kita bukan membuat diri kita bersinar, melainkan memancarkan Dia.”
“There is no limit to what can be accomplished if it doesn’t matter who gets the credit.” – Ronald Reagan.
“Tidak ada batas bagi apa yang dapat dicapai ketika tidak lagi penting siapa yang mendapat pujian.”— Ronald Reagan.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
“When people stop looking at the label, they can finally see the wisdom.”
“Ketika orang berhenti melihat labelnya, mereka akhirnya dapat melihat hikmatnya.”
— Yenny Indra