Monthly Archives: Jun 2026

Articles

Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia

Pagi ini saya kembali terbangun di Longyearbyen, Svalbard.
Masih sulit dipercaya bahwa saya berada di hampir 78° lintang utara, begitu dekat dengan Kutub Utara.

Yang paling menarik adalah Midnight Sun di sini ternyata berbeda dengan yang kami alami di Lofoten.
Di Lofoten, langit memang terang sepanjang malam. Tetapi cahayanya lembut.

Di Svalbard berbeda.

Jam 9 malam, matahari masih bersinar terik seperti jam 12 siang di Indonesia.
Terang benderang.
Seolah-olah matahari lupa, ini sudah waktunya pulang.

Tubuh berkata malam.
Tetapi mata berkata siang.
Rasanya aneh sekaligus mengagumkan.

Pagi itu kami memulai city tour menyusuri alam liar Svalbard.

Pemandangan pertama yang menyambut kami adalah burung-burung Arctic yang beterbangan rendah di atas tundra.
Tidak lama kemudian kami melihat rusa kutub Svalbard (reindeer) sedang berjemur santai.
Sebagian berjalan di lereng gunung.
Sebagian lagi sibuk mencari makan di antara rerumputan pendek.
Sesekali kami juga melihat Arctic Fox, rubah kutub yang berlari cepat melintasi hamparan tanah yang luas.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian saya.
Semua guide membawa senapan.
Bukan satu.
Semua.
Awalnya saya mengira itu hanya formalitas.
Ternyata tidak.
Di luar kawasan kota, beruang kutub bisa muncul kapan saja.

Karena itulah sebelum kami turun dari kendaraan, guide selalu turun lebih dahulu.

Mengamati keadaan sekitar.
Barulah pintu dibuka dan kami diperbolehkan keluar.
Bahkan kami diminta tetap berjalan berkelompok.

Di Svalbard, manusia selalu diingatkan bahwa alam masih menjadi penguasa sesungguhnya.

Yang juga menarik adalah tanah yang kami injak.
Sekilas tampak biasa.
Tetapi ternyata tidak.
Tanah itu disebut tundra.
Saat musim panas, lapisan atasnya mencair sehingga terasa lembek ketika diinjak.

Namun beberapa sentimeter di bawahnya masih terdapat permafrost, lapisan tanah yang membeku permanen sepanjang tahun.
Saat musim dingin, daerah yang sama tertutup salju tebal selama berbulan-bulan.

Karena itulah kehidupan di sini tidak mudah.
Rusa-rusa kutub harus menggali salju untuk menemukan rumput yang tersembunyi di bawahnya.

Dalam perjalanan kami bahkan menemukan tulang-belulang seekor rusa yang mati secara alami sekitar dua tahun lalu.

Masih tergeletak di alam terbuka.
Tidak dipindahkan.
Tidak dibersihkan.

“From nature, back to nature,” kata Fernando.

Dari alam, kembali ke alam.

Bagian tubuhnya telah dimanfaatkan hewan-hewan lain dalam rantai kehidupan Arctic.
Tidak ada yang terbuang.
Alam memanfaatkan semuanya.

Menjelang siang kami berhenti di sebuah tenda sederhana untuk makan siang.
Menu yang tersedia cukup praktis.
Aneka nasi instan berbumbu, pasta, dan makanan siap saji khas outdoor.

Lucunya, kami menambahkan teri yang dibawa dari Indonesia.
Dan ternyata…
Enak juga!

Kami tertawa sambil berfoto memegang makan siang masing-masing.

Setelah itu kami menuju salah satu tempat paling penting di dunia:
Svalbard Global Seed Vault.

Banyak orang menjulukinya sebagai Bank Benih Dunia.
Atau Doomsday Vault.
Gudang harapan umat manusia.

Di sinilah lebih dari 1,3 juta sampel benih dari seluruh dunia disimpan pada suhu sekitar minus 18 derajat Celsius, jauh di dalam gunung.

Padi dari Asia.
Jagung dari Amerika.
Gandum dari Eropa.
Dan ribuan tanaman pangan lainnya.

Saya sangat tersentuh ketika mendengar tujuan tempat ini.
Benih-benih itu disimpan sebagai cadangan jika suatu hari terjadi perang, bencana alam besar, perubahan iklim ekstrem, atau kehancuran pertanian di suatu negara.

Dengan kata lain, ketika dunia kehilangan masa depannya, dunia masih memiliki salinannya di Svalbard.

Betapa luar biasanya.
Di tempat yang tampak tandus.
Di tempat yang hampir tidak memiliki pohon.
Di tempat yang begitu dingin dan terpencil.
Dunia justru menyimpan harapannya.

Bukankah itu sangat mirip dengan cara Tuhan bekerja?
Sering kali Dia menyimpan hal-hal paling berharga di tempat yang tidak pernah kita duga.

Sebelum kembali ke kota, kami berhenti di sebuah rambu terkenal bergambar beruang kutub.

Di bawahnya tertulis:
“Gjelder hele Svalbard.”

Artinya:
“Berlaku untuk seluruh Svalbard.”

Bukan hanya kawasan tertentu.
Bukan hanya tempat wisata.
Tetapi seluruh kepulauan Svalbard.
Rambu itu seperti pengingat bahwa kita hanyalah tamu.
Alam Arctic adalah tuan rumahnya.

Dalam perjalanan pulang saya sempat bertanya kepada Fernando dan Lorenzo.

“Apakah kalian tidak bosan tinggal di Svalbard yang sepi seperti ini?”

Mereka saling tersenyum.

“Never.”

Lalu Fernando berkata,
“Di sini hidup lebih sederhana. Orang belajar menikmati apa yang benar-benar penting.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Mungkin itulah pesona Svalbard.
Bukan sekadar gunung salju.
Bukan sekadar beruang kutub.
Bukan sekadar Seed Vault.
Tetapi ketenangan yang membuat kita kembali menyadari apa yang benar-benar penting.

Semakin lama berada di sini, semakin saya sadar bahwa tempat ini bukan sekadar destinasi wisata.

Ini adalah pengingat bahwa dunia yang Tuhan ciptakan jauh lebih besar, lebih unik, dan lebih menakjubkan daripada yang pernah kita bayangkan.

Di tempat yang paling dingin sekalipun, Tuhan tetap menyimpan harapan.

Sungguh luar biasa….

“Hva var det slags liv, dette bak disken? Nei, det var her i mørket og kulden, i ensomheten og den uendelige stillheten, at jeg fant det egentlige livet.” – Henri Rudi.

“Kehidupan macam apa itu di balik meja toko? Tidak, justru di sini, di dalam kegelapan dan kedinginan, dalam kesendirian dan keheningan yang tak bertepi, aku menemukan kehidupan yang sebenarnya” – Henri Rudi tentang Svalbard.

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Seruput Kopi Cantik ?
? Yenny Indra ?

*Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia…*

Pagi ini saya kembali terbangun di Longyearbyen, Svalbard.
Masih sulit dipercaya bahwa saya berada di hampir 78° lintang utara, begitu dekat dengan Kutub Utara.

Yang paling menarik adalah Midnight Sun di sini ternyata berbeda dengan yang kami alami di Lofoten.

Di Lofoten, langit memang terang sepanjang malam.
Tetapi cahayanya lembut.

Di Svalbard berbeda.

Jam 9 malam, matahari masih bersinar terik seperti jam 12 siang di Indonesia.
Terang benderang.
Seolah-olah matahari lupa bahwa sudah waktunya pulang.

Mungkin karena kami semakin dekat ke kutub bumi.
Tubuh berkata malam.
Tetapi mata berkata siang.
Rasanya aneh sekaligus mengagumkan.

Pagi itu kami memulai city tour.
Pemandangan pertama yang menyambut kami adalah burung-burung Arctic yang beterbangan rendah di atas tundra.

Tidak lama kemudian kami melihat beberapa rusa kutub Svalbard (reindeer) sedang berjemur santai.
Sebagian berjalan di lereng gunung.
Sebagian lagi mencari makan di antara rerumputan pendek tundra.

Sesekali kami juga melihat Arctic Fox, rubah kutub yang berlari cepat melintasi hamparan tanah yang luas.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian saya.
Semua guide membawa senapan.
Bukan satu.
Semua.

Awalnya saya mengira itu hanya formalitas.

Ternyata tidak.

Di luar kawasan kota, beruang kutub bisa muncul sewaktu-waktu.

Karena itulah sebelum kami turun dari kendaraan, guide selalu turun lebih dahulu.
Membawa senapan.
Mengamati keadaan sekitar.

Barulah pintu dibuka dan kami diperbolehkan keluar.
Bahkan kami diminta tetap berjalan berkelompok.

Di Svalbard, manusia selalu diingatkan bahwa alam masih menjadi penguasa sesungguhnya.

Di salah satu lokasi kami berhenti di sebuah rambu yang cukup terkenal.
Bergambar beruang kutub dengan tulisan:
*”Gjelder hele Svalbard.”*

Artinya:
*”Berlaku untuk seluruh Svalbard.”*

Bukan hanya daerah tertentu.
Bukan hanya kawasan wisata.
Tetapi seluruh kepulauan Svalbard.

Rambu sederhana itu seolah berkata, “Anda sedang memasuki wilayah beruang kutub. Silakan menikmati alam, tetapi jangan lupa siapa pemilik aslinya.”

Sejak beruang kutub dilindungi pada tahun 1973, insiden memang sangat jarang terjadi. Namun prosedur keamanan tetap dijalankan dengan sangat serius.

Yang juga menarik adalah tanah yang kami injak.
Sekilas tampak biasa.
Tetapi ternyata tidak.
Tanah itu disebut tundra.

Saat musim panas, lapisan atasnya mencair sehingga terasa lembek dan basah ketika diinjak.

Namun beberapa sentimeter di bawahnya masih terdapat permafrost, lapisan tanah yang membeku permanen sepanjang tahun.

Saat musim dingin, kawasan yang sama akan tertutup salju tebal selama berbulan-bulan.
Karena itulah kehidupan di sini tidak mudah.

Rusa-rusa kutub harus menggali salju untuk menemukan rumput yang tersembunyi di bawahnya.
Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari makan.

Dalam perjalanan kami bahkan menemukan tulang-belulang seekor rusa yang mati secara alami sekitar dua tahun lalu.

Masih tergeletak di alam terbuka.
Tidak dipindahkan.
Tidak dibersihkan.
Dibiarkan begitu saja.

*”From nature, back to nature,”* kata guide kami.

Dari alam, kembali ke alam.
Kakinya sudah hilang, kemungkinan dimakan predator.

Bagian lainnya dimanfaatkan oleh hewan-hewan lain dalam rantai kehidupan Arctic.
Tidak ada yang terbuang.
Alam memanfaatkan semuanya.

Saat makan siang, pengalaman unik lainnya menunggu kami.

Kami makan di dalam tenda sederhana di tengah alam Arctic.
Menu yang tersedia cukup praktis.
Aneka nasi instan berbumbu, pasta, dan makanan cepat saji khas outdoor.

Lucunya, kami menambahkan teri yang dibawa dari Indonesia.
Dan ternyata…
Enak juga!

Kami tertawa sambil berfoto memegang makan siang masing-masing.
Di salah satu tempat paling terpencil di dunia, teri Indonesia tetap berhasil mencuri perhatian.

Namun puncak perjalanan hari itu adalah ketika kami mengunjungi salah satu tempat paling penting di dunia:
*Svalbard Global Seed Vault.*

Banyak orang menjulukinya sebagai *Bank Benih Dunia.*
Atau bahkan *Doomsday Vault.*
Gudang harapan umat manusia.

Mengapa dibangun di sini?

Karena Svalbard memiliki permafrost alami yang sangat stabil, jauh dari konflik dunia, jauh dari gempa besar, dan relatif aman dari banyak bencana alam.

Di dalam gunung, sekitar 130 meter dari pintu masuk, tersimpan lebih dari 1,3 juta sampel benih dari seluruh dunia pada suhu minus 18 derajat Celsius.

Padi dari Asia.
Jagung dari Amerika.
Gandum dari Eropa.
Dan ribuan tanaman pangan lainnya.

Jika suatu hari terjadi perang besar, perubahan iklim ekstrem, wabah, atau bencana yang menghancurkan pertanian di suatu negara, cadangan benihnya masih aman di sini.

Saya berdiri memandang gunung tempat benih-benih itu disimpan.

Dan saya terdiam.
Di tempat yang tampak tandus.
Di tempat yang hampir tidak memiliki pohon.
Di tempat yang begitu dingin dan terpencil.
Dunia justru menyimpan masa depannya.

Bukankah itu menarik?

Sebelum pulang, guide kembali mengingatkan satu fakta unik.
Karena kondisi permafrost, penguburan baru di Svalbard dilarang.

Tubuh manusia tidak terurai secara normal di tanah yang membeku permanen.

Penelitian terhadap korban Flu Spanyol yang dimakamkan puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa jejak virus masih dapat ditemukan karena jasadnya terawetkan oleh suhu dingin.

Itulah sebabnya orang yang sakit keras biasanya dipindahkan ke mainland Norway untuk mendapatkan perawatan dan pemakaman yang layak bila diperlukan.

Saya lalu bertanya kepada Fernando, guide kami dari Mexico.

“Apakah kamu tidak bosan tinggal bertahun-tahun di Svalbard yang sepi?”

Ia tersenyum.
“Never.”

Lalu ia menambahkan,

“Di sini tidak banyak distraksi. Alam mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal sederhana. Memang tidak untuk semua orang sich….”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Mungkin itulah pesona Svalbard.
Bukan sekadar gunung salju.
Bukan sekadar beruang kutub.
Bukan sekadar Seed Vault.
Tetapi ketenangan yang membuat kita kembali menyadari apa yang benar-benar penting.

Semakin lama berada di sini, semakin saya sadar bahwa tempat ini bukan sekadar destinasi wisata.

Ini adalah pengingat bahwa dunia yang Tuhan ciptakan jauh lebih besar, lebih unik, dan lebih menakjubkan daripada yang pernah kita bayangkan.

Di tempat yang paling dingin sekalipun, Tuhan tetap menyimpan harapan.

Sungguh luar biasa….

*”God often hides the most valuable things in the places we least expect.”*

*”Tuhan sering menyimpan hal yang paling berharga di tempat yang paling tidak kita sangka.”*

??YennyIndra??
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
??? MPOIN PLUS & PIPAKU ??
??? SVRG ??
??? SWEET O’ TREAT ??
??? AESTICA ID ??
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Svalbard: A Story from 78° North

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Svalbard: A Story from 78° North

Hari ini kami meninggalkan Tromsø menuju Longyearbyen, kota utama di Kepulauan Svalbard.

Sejak awal saya sudah tahu bahwa perjalanan ini akan berbeda.
Tetapi saya tidak menyangka akan seunik ini.

Meski berada di bawah kedaulatan Norwegia, Svalbard memiliki status khusus berdasarkan Svalbard Treaty. Itulah sebabnya sebelum naik pesawat kami harus melewati pemeriksaan paspor dan imigrasi.

Rasanya aneh.
Masih Norwegia.
Tetapi seperti pergi ke negara lain.

Begitu pesawat mulai mendekati Svalbard, saya langsung menempel ke jendela.

Wow…

Pemandangan di bawah sungguh luar biasa.

Gunung-gunung batu raksasa dengan bentuk yang berbeda-beda berdiri megah di tengah hamparan salju putih. Ada yang menyerupai benteng purba, ada yang bergelombang, ada yang tampak seperti ukiran alam yang belum pernah tersentuh manusia.

Perpaduan warna putih salju dan hitam kecokelatan batu menciptakan pemandangan yang jarang sekali kita lihat di Indonesia.

Saya akhirnya mengerti mengapa banyak orang menyebut penerbangan menuju Svalbard sebagai Panoramic Flight.

Tujuannya memang unik.
Tetapi perjalanan menuju ke sana sama spektakulernya.

Begitu pesawat mendarat, kami tiba di Longyearbyen.
Di mana-mana terlihat tulisan:

“The Northernmost Airport in the World.”

Kerennya!
Dan memang itulah salah satu kebanggaan mereka.
Bandara komersial berjadwal paling utara di dunia.

Lucunya, setelah semua penumpang keluar, suasana langsung sepi.
Bandara kecil itu seperti kembali tertidur.
Tidak banyak penerbangan datang ke sini setiap hari.

Tidak banyak manusia yang hidup sedekat ini dengan Kutub Utara.

Ketika saya bercerita kepada teman-teman bahwa saya akan ke ujung dunia: Svalbard, banyak yang bertanya,

“Bukannya ujung dunia itu Nordkapp?”

Memang Nordkapp sangat terkenal.
Tetapi Nordkapp berada di sekitar 71° lintang utara.

Sementara Longyearbyen berada di 78° lintang utara.
Artinya kami berada ratusan kilometer lebih dekat ke Kutub Utara dibanding Nordkapp.

Di halaman bandara bahkan terdapat penanda besar bertuliskan 78° North, lengkap dengan jarak menuju berbagai kota besar dunia.

Rasanya benar-benar seperti berdiri di ujung peta.

Yang membuat saya semakin kagum adalah kehidupan di sini.
Jumlah penduduk Longyearbyen hanya sekitar 2.500–3.000 orang.

Tetapi kota kecil ini memiliki sekolah, universitas, supermarket, museum, rumah sakit, gereja, hotel, pelabuhan, bahkan pusat penelitian internasional.
Lengkap.
Seperti dunia mini yang berdiri sendiri di tepi Kutub Utara.

Namun jangan salah.

Di Svalbard, manusialah yang menjadi tamu.
Alam tetap menjadi penguasa sesungguhnya.

Ratusan beruang kutub berkeliaran bebas di luar kawasan permukiman. Karena itu siapa pun yang bepergian keluar kota wajib membawa senjata atau perlengkapan perlindungan khusus.

Ini mungkin satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi di mana manusia benar-benar sadar bahwa mereka bukan penguasa alam.
Mereka hanya menumpang hidup di dalamnya.

Kota Longyearbyen sendiri tidak besar.
Berjalan kaki beberapa menit saja, kita sudah merasa mengenal sebagian besar pusat kotanya.

Kami menginap di Radisson Blu Polar Hotel, hotel terbesar dan paling terkenal di Longyearbyen.

Dari hotel terlihat pelabuhan kecil yang menjadi pintu masuk banyak kapal ekspedisi Arctic.
Sebagian besar kapal yang datang ke sini bukan kapal pesiar biasa.

Mereka adalah kapal ekspedisi yang membawa peneliti, fotografer, pencinta alam, dan petualang menuju kawasan Kutub Utara.
Biayanya terkenal sangat mahal.

Tetapi hari itu kami juga melihat Viking Cruise bersandar, kapal pesiar mewah yang membawa wisatawan menikmati keindahan Arctic dengan lebih nyaman.

Menariknya, kota yang biasanya tenang ini bisa mendadak ramai ketika beberapa kapal datang bersamaan.
Ribuan orang tiba-tiba membanjiri jalan-jalan kecil Longyearbyen.

Satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah bentuk rumah-rumahnya.
Hampir semuanya berdiri di atas tiang seperti rumah panggung.

Why?

Karena tanah di bawahnya adalah permafrost, lapisan tanah yang membeku sepanjang tahun.

Jika bangunan langsung menempel ke tanah, panas dari bangunan dapat mencairkan lapisan es dan merusak fondasi.
Karena itulah rumah-rumah di sini dibuat “mengambang” di atas tiang.

Unik sekali.

Permafrost ini juga memengaruhi seluruh kehidupan di Svalbard.

Tidak ada hutan.
Tidak ada perkebunan.
Tidak ada sawah.
Hampir semua kebutuhan hidup harus didatangkan dari mainland Norway.

Sayur-mayur.
Buah-buahan.
Material bangunan.
Peralatan rumah tangga.
Semuanya.
Karena alam di sini memang tidak dirancang untuk pertanian seperti yang kita kenal.

Bahkan para ibu hamil biasanya harus terbang ke Tromsø beberapa minggu sebelum melahirkan karena fasilitas persalinan lengkap tidak tersedia di Svalbard.

Orang-orang yang membutuhkan perawatan medis khusus juga biasanya dipindahkan ke daratan utama Norwegia.

Awalnya saya berpikir, betapa sulitnya hidup di sini.
Tetapi semakin lama saya melihat, semakin saya kagum.

Di tengah salju.
Di tengah es.
Di tengah keterbatasan.
Orang-orang tetap hidup.

Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap membangun keluarga.
Tetap bermimpi.

Dan saya kembali diingatkan bahwa Tuhan menciptakan dunia yang jauh lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan.

Di Indonesia kita menikmati hutan tropis yang hijau sepanjang tahun.
Di Svalbard saya melihat dunia batu, salju, es, dan laut yang membentang tanpa akhir.

Berbeda.
Tetapi sama-sama indah.
Sama-sama memukau.
Dan sama-sama menceritakan kebesaran Sang Pencipta.

Semakin jauh saya melangkah ke utara, semakin saya menyadari satu hal:

Dunia ini luar biasa besar. Tetapi Tuhan yang menciptakannya jauh lebih besar lagi.

“The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of His hands.”

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tromso : Seniman Tetap Berkarya di Usia 93 Tahun….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tromso : Seniman Tetap Berkarya di Usia 93 Tahun….

Pagi ini kami meninggalkan Sommarøy menuju Tromsø, kota terbesar di kawasan Arctic Norwegia.*

Tromsø sering disebut sebagai Gateway to the Arctic, gerbang menuju Kutub Utara. Sebagian kota berada di Pulau Tromsøya, sementara sebagian lainnya berada di daratan utama Norwegia. Keduanya dihubungkan oleh jembatan dan terowongan yang menjadi urat nadi kehidupan kota ini.

Tujuan pertama kami adalah Fjellheisen, gondola yang membawa wisatawan naik ke Gunung Storsteinen setinggi sekitar 421 meter di atas permukaan laut.

Hanya sekitar empat menit perjalanan.
Tetapi pemandangan di atas sungguh luar biasa.
Arctic Cathedral terlihat kecil di kejauhan.
Jembatan Tromsø membentang anggun di atas air.

Pelabuhan dipenuhi kapal-kapal yang datang dan pergi.
Sementara pegunungan bersalju berdiri mengelilingi kota seperti benteng alam yang megah.

Norwegia memang negeri yang dekat dengan alam.
Bahkan terowongan pun dibuat menarik.
Di Tromsø ada terowongan unik yang memiliki jalur berputar di dalam gunung. Saat melintas, lampu-lampu warna-warni di langit-langit menyambut kendaraan yang lewat.

Fungsinya sederhana.
Tetapi dibuat indah.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa hidup di sini terasa menyenangkan.
Mereka tidak hanya membangun sesuatu agar berfungsi, tetapi juga agar bisa dinikmati.

Ski Jump, olah raga yang terkenal di Tromso.

Namun kejutan terbesar hari itu justru datang dari tempat yang tidak kami rencanakan.

Driver kami, Roar, yang sudah menemani perjalanan selama tujuh hari, mengajak kami ke sebuah spot foto tambahan yang bahkan menurut Bu Rita dari TX Travelbelum pernah ia kunjungi selama puluhan kali datang ke Tromsø.

Di sana berdiri sebuah karya mosaik besar yang membingkai pemandangan Arctic Cathedral, jembatan, pelabuhan, dan gunung bersalju di belakangnya.

Cantik sekali.

Seolah-olah seseorang sengaja membuat pigura untuk salah satu pemandangan terbaik di Tromsø.

Saat itulah saya mendengar kisah yang lebih menarik lagi.
Karya mosaik tersebut dibuat oleh seorang seniman Norwegia bernama Marit Bockelie.

Yang membuat saya tertegun bukan hanya karyanya.
Tetapi usianya.
Saat ini ia telah berusia lebih dari 90 tahun.
Bahkan salah satu karya mosaik monumentalnya di Tromsø diselesaikan ketika usianya sekitar 93 tahun.

Saya langsung terdiam.
Sembilan puluh tiga tahun.
Di usia ketika banyak orang merasa hidupnya sudah selesai.
Di usia ketika sebagian orang mulai menghitung hari-hari yang tersisa.

Perempuan ini masih berkarya.
Masih mencipta.
Masih meninggalkan jejak.
Masih memberi keindahan kepada dunia.

Bukankah itu luar biasa?

Sering kali kita berkata,
“Saya sudah terlalu tua.”
“Saya sudah terlambat.”
“Sudah bukan waktunya lagi.”

Tetapi ternyata umur tidak pernah menjadi penghalang utama.
Sering kali yang menjadi penghalang adalah cara berpikir kita.

Marit Bockelie mengingatkan saya bahwa selama Tuhan masih memberi napas, artinya masih ada tugas dari Tuhan, selalu ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Selalu ada sesuatu yang bisa dibagikan.
Selalu ada sesuatu yang bisa ditinggalkan sebagai warisan.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, saya teringat pula pada Roar.

Menurut Bu Rita, selama sepuluh tahun membawa rombongan wisata dari berbagai negara, Roar mengatakan grup kami yang paling ramah.

Kami suka tersenyum.
Suka menyapa, mengucapkan terima kasih.
Hal-hal kecil yang sering kali dianggap biasa.
Tetapi rupanya meninggalkan kesan.
Dan mungkin karena itulah kami mendapat bonus spot foto yang tidak ada dalam itinerary.

Saya kembali diingatkan pada satu prinsip sederhana.

Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.

Kadang bukan dalam bentuk uang.
Bukan pula dalam bentuk hadiah.
Tetapi dalam bentuk pintu yang terbuka.
Pertemuan yang menyenangkan.
Atau pengalaman indah yang tidak direncanakan.

Malam itu kami menginap di Radisson Blu Tromsøyang berada tepat di tepi pelabuhan.

Sambil memandang kapal-kapal yang berlabuh, saya merenungkan satu hal.

Hari ini saya belajar dari seorang sopir bus yang ramah.
Dan saya belajar dari seorang seniman berusia 93 tahun yang masih berkarya.
Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama.

Jangan berhenti memberi yang terbaik.
Karena kita tidak pernah tahu siapa yang sedang diberkati oleh apa yang kita lakukan.

“The meaning of life is to find your gift. The purpose of life is to give it away.”— Pablo Picasso.

“Makna hidup adalah menemukan karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Tujuan hidup adalah membagikannya kepada orang lain.” — Pablo Picasso.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sommaroy: Pulau yang Mengajak Dunia Melepas Jam Tangan

Melewati sebuah jembatan sepanjang sekitar 600 meter yang hanya cukup dilalui satu mobil secara bergantian, akhirnya kami tiba di tujuan utama perjalanan ini.: Sommarøy, yang dikejar karena terpesona kisah di Tiktok.

Pulau kecil di kawasan Arctic yang selama setahun terakhir hanya saya lihat di video-video perjalanan.

Kini saya benar-benar berada di sana.
Kami sudah berada di sekitar 69° Lintang Utara.
Masuk jauh ke kawasan Arctic, alias kutub utara.

Dan semakin saya melihatnya, semakin saya mengerti mengapa banyak orang menyebut Norwegia sebagai Stairway to Heaven.

Sebelum memasuki Sommarøy, perhatian saya tertuju pada sebuah pulau bergerigi yang berdiri gagah di tengah laut.

Namanya Pulau Håja.

Bentuknya begitu khas sehingga banyak orang percaya pulau inilah yang menginspirasi desain Arctic Cathedral di Tromsø yang terkenal itu.

Arsiteknya, Jan Inge Hovig, ternyata sengaja membiarkan misteri itu tetap hidup.

Kadang ia mengatakan inspirasinya berasal dari gunung es.
Kadang dari tenda suku Sami.
Kadang dari rak pengering ikan.
Kadang pula dari Pulau Håja.

Sampai beliau meninggal dunia, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.
Dan mungkin memang tidak semua keindahan harus dijelaskan.
Sebagian cukup dikagumi.

Sommarøy sendiri hanya dihuni sekitar 300 penduduk.
Sebagai perbandingan, seluruh kepulauan Lofoten yang begitu luas hanya memiliki sekitar 28.000 penduduk.

Tetapi yang membuat saya kagum, pulau kecil ini memiliki hampir semua yang dibutuhkan.

Ada sekolah.
Ada supermarket.
Ada museum kecil.
Ada pelabuhan.
Ada fasilitas umum.
Lengkap.
Seperti sebuah dunia mini yang berdiri sendiri di tengah lautan Arctic.

Pulau ini juga dikelilingi banyak pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Dari kejauhan tampak seperti batu-batu zamrud yang ditaburkan Tuhan di atas laut biru kehijauan.

Dan warna lautnya sungguh luar biasa.
Ketika langit mendung, air laut berubah menjadi abu-abu lembut.
Tetapi begitu matahari muncul, warnanya berubah menjadi hijau turquoise yang memukau.
Seolah-olah seseorang baru saja mengganti warna seluruh lautan.

Kami menginap di Sommarøy Arctic Hotel, satu-satunya hotel besar di pulau itu.
Dan tentu saja lokasinya yang terbaik.
Hotel ini memiliki lagoon sendiri.
Pantai pribadi.
Pasir putih.
Air sebening kristal.
Dan pemandangan yang membuat kita sulit berhenti memotret.

Malam itu suhu sekitar delapan derajat Celsius.
Bagi kami dingin.
Tetapi puluhan remaja Norwegia masih berenang dan bermain di pantai.
Padahal jam sudah malam.
Atau setidaknya seharusnya malam.

Karena di sini, malam dan siang menjadi konsep yang membingungkan.
Langit tetap terang.
Matahari masih bercahaya.
Dan tubuh kita seperti kehilangan orientasi waktu.

Ada satu spot yang sangat cantik di tengah Sommarøy.
Tiga rumah mungil yang berdiri anggun menghadap laut.
Persis seperti kartu pos.
Saya berfoto di sana.
Ternyata Private property.

Di Norwegia, hak milik pribadi benar-benar dihormati.
Tidak boleh sembarangan masuk.
Tidak boleh sembarangan parkir.
Bahkan untuk mengambil foto pun ada batas yang harus dihormati.

Awalnya terasa merepotkan.
Tetapi kemudian saya mengerti.
Mungkin karena itulah tempat-tempat seperti ini tetap terjaga keindahannya.

Namun keunikan terbesar Sommarøy bukanlah pantainya.
Bukan pula hotelnya.

Melainkan sebuah ide yang membuat dunia tercengang.

Pada tahun 2019, seorang warga bernama Kjell Ove Hveding mengusulkan agar Sommarøy menjadi Time-Free Zone, zona bebas waktu pertama di dunia.

Alasannya sederhana.
Selama musim panas, matahari tidak benar-benar terbenam selama sekitar 69 hari.

Siang dan malam menjadi kabur.
Jam tujuh malam terasa seperti jam dua siang.
Jam dua pagi bisa terasa seperti sore hari.
Kalau ingin minum kopi di pantai jam dua pagi, silakan.
Kalau ingin berenang jam empat pagi, juga silakan.

Bahkan saat kampanye itu diluncurkan, sebagian warga benar-benar menyimpan jam tangan mereka di laci.

Sebagian melepas jam dinding dari rumah.
Mereka ingin hidup mengikuti cahaya dan musim, bukan jarum jam.

Media internasional langsung heboh.
Lebih dari 1.600 media dunia memberitakannya.
Jangkauannya mencapai sekitar 1,2 miliar pembaca global.

Yang lebih mengejutkan lagi, belakangan diketahui bahwa kampanye tersebut merupakan strategi promosi wisata yang sangat cerdas.
Biayanya hanya sekitar 60.000 dolar AS.
Tetapi nilai publisitas yang dihasilkan diperkirakan mencapai 11,4 juta dolar AS.
Brilian.

Sebuah pulau kecil berpenduduk 300 orang berhasil membuat dunia membicarakan dirinya.

Namun setelah berada di sini, saya merasa keberhasilannya bukan semata karena pemasaran yang hebat.
Melainkan karena mereka menjual sesuatu yang memang dirindukan banyak orang.

Mereka menjual sebuah pertanyaan.
*Bagaimana jadinya jika hidup kita tidak terus-menerus dikuasai oleh waktu?*

Karena sesungguhnya banyak orang lelah.
Lelah mengejar jadwal.
Lelah mengejar target.
Lelah mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya.

Sommarøy seolah berbisik,
“Sesekali, lepaskan jam tanganmu.”

Bukan secara harfiah.
Tetapi di dalam hati.
Berhentilah sejenak.

Nikmati momen yang sedang Tuhan berikan.

Karena hidup bukan hanya soal mengelola waktu.

Tetapi juga tentang menikmati waktu yang telah dianugerahkan kepada kita.

“Jangan terlalu sibuk menghitung waktu hingga lupa menikmati kehidupan yang Tuhan berikan.”
Setuju?

“The butterfly counts not months but moments, and has time enough.”— Rabindranath Tagore .

“Kupu-kupu tidak menghitung bulan, melainkan momen. Dan itu sudah cukup baginya.” — Rabindranath Tagore .

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 6