Monthly Archives: Jun 2026

Articles

Ketika Logika Berkata “Jangan”, Tetapi Damai Tetap Tinggal…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Logika Berkata “Jangan”, Tetapi Damai Tetap Tinggal…

Setahun yang lalu, saya melihat sebuah video TikTok tentang Sommarøy, sebuah pulau kecil di Norwegia yang unik.

Saat musim panas, matahari hampir tidak pernah terbenam.

Midnight Sun.

Selama 24 jam langit tetap terang.

Konon, karena tidak ada malam yang sesungguhnya, penduduk setempat pernah mengusulkan agar arloji tidak lagi diperlukan. Orang bisa bermain bola, bekerja, memancing, atau berjalan-jalan kapan saja.

Saya langsung jatuh cinta.

“Wuih… unik sekali.”

Saya suka menulis. Topik yang unik akan dibaca banyak orang.

Tak lama kemudian, bersama beberapa teman, kami sepakat pergi ke sana pada Juni 2026.

Semua berjalan lancar.

DP sudah dibayar.

Acara sudah disusun.

Bahkan beberapa kegiatan tambahan sudah dilunasi.

Rasanya tinggal menghitung hari.

Lalu akhir Februari, dunia berubah.

Perang pecah antara Iran dan Amerika Serikat.

Berita demi berita mulai bermunculan.

Salah seorang sahabat memutuskan membatalkan keberangkatannya karena merasa tidak memiliki damai sejahtera. Menariknya, ketika ia membatalkan perjalanan itu, anak-anaknya justru merasa lega.

Saya mulai berpikir.

“Waduh… apakah perjalanan ini berbahaya?”

“Keputusan apa yang harus saya ambil?”

Apalagi beberapa teman yang sebelumnya bepergian ke Arctic mengalami berbagai gangguan penerbangan akibat situasi geopolitik yang memanas. Ada yang mengalami keterlambatan panjang. Bahkan ada yang harus membeli tiket pulang baru karena perubahan rute penerbangan.

Perang memang tidak bisa diprediksi.

Hari ini aman.

Besok bisa berubah.

Saat itu saya juga berpikir secara realistis.

Kalau membatalkan sekarang, dana yang kembali masih cukup besar.

Kalau menunggu terlalu dekat dengan hari keberangkatan, refund semakin kecil.

Menjelang keberangkatan, situasi belum juga mereda.

Bahkan empat peserta memilih menambah biaya dan mengganti maskapai agar tidak melewati wilayah Timur Tengah.

Sahabat lainnya memutuskan mundur karena trauma terhadap masalah tiket dan kekhawatiran soal keamanan.

Sementara saya, bersama beberapa teman lain, tetap pada rencana semula.

Saya bahkan sempat berpikir lucu.

“Kalau P. Anton Thedy owner TX Travel dan B. Rita, istrinya, tetap berangkat, ya saya ikut saja. Mereka pengusaha besar. Mereka juga tidak mau mati.”

Kami tertawa.

Tetapi di balik candaan itu ada pertanyaan yang serius.

Apa ini iman?

Atau nekat?

Karena hidup memang tidak pernah menawarkan jaminan seratus persen.

Selalu ada unsur ketidakpastian.

Tetapi ketidakpastian bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan.

Saya teringat bahwa sebenarnya sejak tahun 2023 saya dan suami pernah bermimpi mengunjungi Lofoten.

Namun perjalanan mandiri terasa sulit. Jaraknya jauh. Saya tidak bisa menyetir. Kalau suami harus mengemudi sendiri, pasti sangat melelahkan.

Tempat ini sudah lama ada dalam angan-angan saya.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Di tengah semua pertimbangan itu, saya belajar sesuatu yang sangat berharga.

Saya belajar mendengarkan suara Tuhan.

Selama ini saya sering mendengar bahwa Tuhan berbicara melalui hati yang dipenuhi damai, bukan melalui pikiran yang dipenuhi berbagai kemungkinan.

Karena itu saya terus memeriksa hati saya.

Berulang kali.

Bagaimana perasaan saya yang paling dalam?

Apakah ada ketakutan?

Apakah ada keraguan?

Apakah ada kegelisahan?

Dan setiap kali saya memeriksanya, jawabannya sama.

Damai.

Aneh memang.

Karena logika saya bisa membuat daftar panjang tentang apa saja yang mungkin terjadi.

Tetapi hati saya tetap tenang.

Bahkan dua sahabat yang akhirnya mundur sempat berkata kepada saya,

“Kamu mah imannya kuat dan berani.”

Gubraaak!

Saya malah jadi galau.

“Jangan-jangan saya nekat ya?”

Lalu dua hari sebelum keberangkatan, muncul lagi berita bahwa Bandara Kuwait diserang Iran. Hancur. Fotonya mengerikan.

Waduh…

Memang Kuwait jauh dari Dubai.

Tetapi tetap saja membuat hati kembali bertanya-tanya.

Saya berdoa meminta hikmat.

Lalu teringat sepupu saya, Lili. Anak lelakinya, Kevin, adalah pilot Qatar Airways.

Saya minta dicarikan informasi.

Jawaban Kevin sederhana.

“Aman kok. Bahkan pesawat ke Kuwait juga tetap terbang.”

Entah mengapa, saya langsung lega.

Dan sekarang saya menulis artikel ini dari Narvik, Norwegia.

Saya tersenyum ketika mengingat seluruh prosesnya.

Bukan karena saya berhasil sampai di sini.

Tetapi karena saya kembali belajar satu pelajaran penting:

Hidup adalah sekolah seumur hidup.

Kita terus belajar membedakan antara ketakutan dan hikmat.

Antara logika dan damai.

Antara kemungkinan terburuk dan pimpinan Tuhan.

Kadang Tuhan memimpin kita untuk berhenti.

Kadang Tuhan memimpin kita untuk tetap melangkah.

Yang penting bukan keputusan orang lain.

Yang penting adalah apakah kita sungguh belajar berjalan bersama-Nya.

Semakin banyak pengalaman bersama Tuhan, semakin saya mengenal-Nya.

Dan semakin saya mengenal-Nya, semakin saya menyadari bahwa Dia jauh lebih setia daripada yang mampu saya pikirkan.

Bagaimana dengan Anda?

Adakah keputusan yang sedang Anda hadapi hari-hari ini?

Mungkin jawabannya bukan ditemukan dengan memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.

Mungkin jawabannya ditemukan ketika kita berhenti sejenak… lalu memeriksa keadaan hati kita.

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.” – Corrie ten Boom.

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang tidak kita ketahui kepada Tuhan yang kita kenal.” – Corrie ten Boom.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Semakin lama berjalan bersama Tuhan, semakin saya sadar bahwa damai sejahtera sering kali adalah petunjuk yang lebih dapat dipercaya daripada ketakutan.”

“The longer I walk with God, the more I realize that peace is often a more reliable guide than fear.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Menoleh ke Belakang: Hati yang Tertinggal Akan Menghambat Tujuan Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Jangan Menoleh ke Belakang: Hati yang Tertinggal Akan Menghambat Tujuan Tuhan.

Ada satu kalimat pendek dalam Alkitab yang sederhana, tapi keras: “Ingatlah akan isteri Lot.” (Lukas 17:32). Yesus tidak bicara panjang lebar. Tapi justru karena singkat, pesannya tajam.

Isteri Lot keluar dari Sodom. Kakinya melangkah, tapi hatinya tertinggal. Ketika api turun dari langit, dia menoleh. Satu kali saja. Dan itu cukup menghentikan hidupnya.

Masalahnya bukan sekadar menoleh secara fisik. Ini soal hati yang belum selesai dengan masa lalu.

Dia sudah melihat kejahatan Sodom. Sudah menerima peringatan Tuhan. Bahkan mengalami anugerah Tuhan—diselamatkan di tengah penghukuman. Tapi tetap saja, ada keterikatan yang tidak dilepaskan.

Dan itu mahal harganya.

Kita sering merasa cukup karena sudah “keluar”. Sudah berubah, sudah ikut Tuhan. Tapi Tuhan tidak hanya melihat langkah kaki. Dia melihat ke mana hati kita masih terikat.

Ini sama persis dengan bangsa Israel.

Mereka keluar dari Mesir dengan mujizat besar. Laut terbelah. Manna turun tiap hari. Tapi setiap tekanan datang, mereka berkata, “Lebih baik kembali ke Mesir.”

Padahal Mesir itu tempat perbudakan.

Perjalanan ke tanah perjanjian seharusnya hanya 11 hari. Tapi karena mereka terus mengeluh, menoleh ke belakang, tidak menghargai pertolongan Tuhan—perjalanan itu jadi 40 tahun.

Satu generasi habis di padang gurun.

Hanya Yosua dan Kaleb yang masuk. Kenapa? Karena mereka tidak hidup dari masa lalu, tapi dari janji Tuhan.

Ini bukan sekadar cerita. Ini pola.

Banyak orang percaya hari ini juga begitu. Sudah keluar dari dosa, tapi masih menyimpan keterikatan. Sudah dilepaskan, tapi masih rindu hal yang Tuhan suruh tinggalkan.

Padahal prinsipnya jelas:
kita tidak bisa maju kalau hati kita masih parkir di belakang.

Dan di sinilah kita perlu melihat satu kebenaran yang sangat kuat dari 1 Korintus 3:22–23:

“Baik Paulus, Apolos maupun Kefas, baik dunia, hidup maupun mati, baik waktu sekarang maupun waktu yang akan datang—semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.”

Dalam terjemahan bebasnya:
Tuhan sudah memberikan kepadamu semua yang ada sekarang dan semua yang akan datang. Semuanya milikmu. Dan kamu milik Kristus.

Perhatikan ini baik-baik.

Ayat ini tidak bicara tentang masa lalu.

Tidak ada kalimat, “masa lalumu adalah milikmu.”
Tidak ada penekanan ke belakang.

Yang disebut hanya dua hal: masa kini dan masa depan.
Bahkan Paulus dan Kefas (Petrus) diberikan Tuhan untuk memperlengkapi kita, memberi pemahaman yang benar, agar berkemenangan di dunia ini.

Mengapa?

Karena *masa lalu sudah selesai.
Sudah ditanggung oleh Yesus di kayu salib.*

Tidak ada lagi yang perlu dibawa. Tidak ada lagi yang perlu diulang-ulang. Tidak ada lagi yang perlu dihidupkan kembali.

Kalau Tuhan sendiri tidak mengangkat masa lalu kita, kenapa kita terus melihat ke sana?

Ini sering jadi jebakan yang halus.

Orang tidak kembali ke masa lalu secara fisik, tapi secara pikiran dan emosi.
Masih mengingat luka lama.
Masih merasa bersalah.
Masih membandingkan dengan “dulu”.
Masih terikat dengan identitas lama.

Padahal secara rohani, itu sudah tidak relevan.

Salib sudah menyelesaikan itu.

Jadi ketika kita terus menoleh ke belakang, sebenarnya kita sedang menolak realitas yang Tuhan sudah tetapkan.

Isteri Lot kehilangan masa depan karena menoleh.
Israel kehilangan generasi karena terus mengingat Mesir.

Dan hari ini, banyak orang kehilangan langkah karena terus hidup dari masa lalu yang sebenarnya sudah tidak punya kuasa lagi.

Kebenarannya sederhana, tapi tegas:
Tuhan bekerja di masa sekarang. Dan Tuhan membawa kita ke masa depan.
Bukan ke belakang.

Jadi berhenti menoleh.
Bukan karena masa lalu tidak pernah ada, tapi karena masa lalu sudah tidak menentukan lagi.

Artinya, coret CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).
Sudah tutup buku….

Kita ini milik Kristus.
Dan semua yang kita butuhkan untuk hidup sekarang dan ke depan—sudah diberikan.

Tinggal satu keputusan:
mau percaya dan melangkah… atau terus melihat ke belakang dan tertahan.
Pilihan ada di tangan Anda!

“The past is a place of reference, not a place of residence.” – Roy T. Bennett.

“Masa lalu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk tinggal.”- Roy T. Bennett.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Iman tidak berjalan mundur. Ia melangkah maju karena tahu: yang di depan sudah disediakan Tuhan, yang di belakang sudah diselesaikan di salib.”

“Faith never moves backward. It steps forward knowing this: what’s ahead has been prepared by God, and what’s behind has been finished at the cross.” – YennyIndra

Read More
Articles

Hati yang Lembut Selalu Bisa Diajar.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Hati yang Lembut Selalu Bisa Diajar.


“Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebodohannya tidak akan lenyap dari padanya.”
Amsal 27:22

Ayat ini terdengar keras. Bahkan mungkin membuat kita sedikit tidak nyaman. Tetapi justru karena keras, ayat ini sedang menunjukkan sebuah kenyataan hidup yang sering kita lihat sendiri.

Ada orang yang berubah setelah mengalami masalah besar. Tetapi ada juga yang tetap sama, walaupun hidupnya sudah “ditumbuk” berkali-kali.

Sudah jatuh bangkrut, tetap sombong.
Sudah kehilangan relasi, tetap keras kepala.
Sudah ditolong Tuhan berkali-kali, tetap tidak mau diajar.

Masalahnya ternyata bukan keadaan. Masalahnya ada pada hati.

Saya teringat sebuah ilustrasi sederhana.

Dua orang berjalan di bawah hujan yang sama. Tanah yang lembut menyerap air dan menjadi subur. Tetapi batu tetap keras walaupun diguyur hujan semalaman.

Padahal hujannya sama.

Demikian juga dalam kehidupan rohani. Ada orang yang setelah mengalami teguran kecil langsung bertobat dan belajar. Tetapi ada orang yang bahkan setelah mengalami guncangan besar tetap menyalahkan orang lain.

Amsal berkata, orang bodoh itu seperti ditumbuk dalam lesung bersama gandum. Gambaran yang dipakai Salomo sangat ekstrem. Gandum ditumbuk supaya kulit kerasnya terlepas. Tetapi orang bodoh, walaupun ditekan habis-habisan, tetap tidak berubah.

Karena kebodohan menurut Alkitab bukan soal IQ rendah.

Banyak orang pintar tetapi bodoh secara rohani.

Kenapa?

Karena tidak punya hati yang lembut.

Tidak mau ditegur.
Tidak mau mengakui salah.
Selalu merasa dirinya benar.
Selalu punya alasan.
Selalu menyalahkan keadaan.

Padahal orang yang berhikmat bukan orang yang selalu benar. Orang berhikmat adalah orang yang mudah diajar.

Semakin saya berjalan dengan Tuhan, semakin saya sadar bahwa hati yang lembut itu mahal sekali.

Tuhan bisa bekerja luar biasa melalui orang yang hatinya mau dibentuk.

Kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan kita, tetapi Tuhan sedang memakai keadaan untuk melembutkan hati kita.

Masalahnya, banyak orang lebih sibuk minta jalan keluar daripada minta hati yang bisa diajar.

“ Tuhan, keluarkan aku dari proses ini.”

Padahal mungkin Tuhan sedang berkata: “Aku sedang membentukmu.”

Ada orang yang setelah melewati penderitaan menjadi penuh kasih. Tetapi ada juga yang menjadi pahit.

Ada yang setelah gagal menjadi rendah hati. Tetapi ada yang justru makin keras.

Jadi penderitaan tidak otomatis membuat seseorang dewasa. Respons hati terhadap Tuhan itulah yang menentukan.

Saya belajar sesuatu: Orang yang hatinya lembut tidak perlu dihancurkan dulu baru mau berubah.

Dia bisa belajar dari Firman.
Belajar dari nasihat.
Belajar dari kesalahan kecil.
Belajar dari Roh Kudus.

Itu sebabnya hati yang lembut adalah perlindungan.

Karena orang yang keras sering baru sadar setelah semuanya terlambat.

Hari-hari ini dunia penuh dengan orang yang gampang tersinggung tetapi sulit ditegur. Cepat bicara tetapi lambat mendengar. Merasa rohani tetapi tidak bisa dinasihati.

Padahal semakin dewasa rohani seseorang, seharusnya semakin mudah diajar.

Bukan semakin merasa paling tahu.

Mungkin hari ini kita tidak merasa seperti “orang bodoh” dalam Amsal itu. Tetapi ayat ini tetap menjadi cermin untuk kita semua.

Apakah hati kita masih lembut di hadapan Tuhan?

Apakah kita masih mau dikoreksi?
Masih mau mendengar?
Masih mau berubah?

Atau jangan-jangan kita mulai diam-diam membangun benteng dalam hati: “Aku sudah begini dari dulu.”
“Memang karakterku seperti ini.”
“Sudahlah, aku tidak bisa berubah.”

Tidak. Selama hati kita tetap lembut, Tuhan masih bisa membentuk kita.

Tanah yang lembut selalu bisa ditanami benih baru.

Dan orang yang memiliki hati lembut akan terus bertumbuh, bahkan sampai usia tua.

Karena mujizat terbesar bukan hanya hidup yang diberkati.

Tetapi hati yang tetap bisa diajar Tuhan.

The greatest ability is to be teachable.” – John C. Maxwell.

“Kemampuan terbesar adalah tetap mau diajar.” – John C. Maxwell

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Hati yang lembut tidak menunggu hidup menghancurkannya untuk berubah.”

“A soft heart does not wait for life to break it before it changes.”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Pelayanan Menjadi Tempat Persembunyian Ego…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Pelayanan Menjadi Tempat Persembunyian Ego…

Kalimat itu membuat kita berhenti sejenak.

Karena salah satu hal tersulit dalam perjalanan rohani bukan membedakan yang benar dan yang salah.

Tetapi membedakan motivasi yang murni dan yang tercampur.

Kita bisa sungguh mengasihi Tuhan.
Sungguh ingin melayani Tuhan.
Sungguh ingin memberkati orang lain.

Namun di saat yang sama, masih ada bagian hati yang menikmati pengakuan manusia.

Masih ada bagian hati yang ingin dianggap penting.

Masih ada bagian hati yang terluka ketika tidak diperhatikan.

Dan sering kali kita sendiri tidak menyadarinya.

Karena motivasi adalah wilayah yang sangat dalam.

Bahkan kita bisa menyembunyikannya dari diri sendiri.

Kadang pelayanan menjadi tempat yang aman untuk menyembunyikan ego.

Semuanya terlihat rohani.
Tidak ada yang curiga.

Tetapi diam-diam hati menikmati sesuatu yang lain.

Menikmati posisi.
Menikmati pengaruh.
Menikmati penghormatan.
Menikmati perlakuan khusus.

Kadang bentuknya sangat halus sehingga hampir tidak terasa.

Misalnya ketika ada kesempatan pelayanan ke sebuah kota yang sudah lama ingin kita kunjungi.

Kita berkata bahwa kita ingin memberkati orang-orang di sana.

Dan mungkin itu benar.

Tetapi sesekali ada baiknya kita bertanya dengan jujur:

“Apakah hanya itu alasannya?”

Karena hati manusia cukup kreatif untuk mencampurkan panggilan dengan kepentingan pribadi.

Tidak selalu soal uang.
Kadang yang dicari adalah pengalaman.
Kesempatan bepergian.
Fasilitas yang tersedia.
Kenyamanan yang diperoleh.

Atau perlakuan khusus yang tidak kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada yang salah dengan menikmati berkat yang menyertai pelayanan.

Tetapi ada perbedaan antara menerima berkat dan menjadikan berkat itu sebagai alasan utama.

Kadang kita tidak mencari keuntungan finansial dari pelayanan.

Tetapi kita menikmati keuntungan-keuntungan lain yang jauh lebih halus.

Akses.
Pengaruh.
Pengakuan.
Kemudahan.
Kedekatan dengan orang-orang tertentu.

Dan karena semuanya dibungkus dalam aktivitas rohani, kita menganggapnya wajar tanpa pernah memeriksa hati.

Padahal Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan.

Tuhan juga melihat alasan mengapa kita melakukannya.

Itulah sebabnya salah satu doa yang paling berani bukanlah:

“Tuhan, pakailah aku lebih besar.”

Melainkan:

“Tuhan, tunjukkan apa yang masih tersembunyi dalam hatiku.”

Karena pertempuran terbesar sering kali tidak terjadi di atas panggung.

Tidak terjadi di media sosial.

Tidak terjadi di depan banyak orang.

Tetapi di ruang-ruang tersembunyi dalam hati kita.

Di sanalah Tuhan bekerja.

Di sanalah motivasi dimurnikan.

Di sanalah kasih kepada Tuhan dipisahkan dari keinginan untuk dikagumi manusia.

Semakin dewasa seseorang, biasanya ia semakin tidak sibuk mengoreksi orang lain.

Ia lebih sibuk mengizinkan Tuhan mengoreksi dirinya sendiri.

Ia mulai sadar bahwa musuh terbesar tidak selalu berada di luar dirinya.

Kadang musuh itu adalah ego yang masih ingin ikut menikmati sebagian kemuliaan.

Dan mungkin itulah sebabnya Tuhan berkata bahwa Bapa melihat apa yang dilakukan dalam tempat tersembunyi.

Karena Tuhan tertarik pada sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas.

Tuhan tertarik pada hati.

Pada akhirnya, tepuk tangan manusia akan berhenti.

Panggung akan kosong.
Jabatan akan berakhir.
Pelayanan akan selesai.

Dan yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Apakah selama ini kita sungguh mencari Tuhan, atau hanya mencari sesuatu untuk diri sendiri melalui Tuhan?

Karena kadang yang perlu disalibkan bukan pelayanan kita.
Melainkan keuntungan-keuntungan tersembunyi yang diam-diam kita peroleh darinya.

Tuhan tidak sedang mencari orang yang paling terkenal di hadapan manusia. Tuhan sedang mencari hati yang tetap murni ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

“It is possible to be a leader and not know God. is possible to be a preacher and not know God. But it is not possible to walk with God and not be changed.”
– Leonard Ravenhill.

“Seseorang bisa menjadi pemimpin dan tidak mengenal Tuhan. Seseorang bisa menjadi pengkhotbah dan tidak mengenal Tuhan. Tetapi tidak mungkin berjalan bersama Tuhan tanpa diubahkan” – Leonard Ravenhill

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tuhan Sumbernya, Kita Pengelolanya

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tuhan Sumbernya, Kita Pengelolanya

Beberapa waktu lalu saya membaca kisah menarik tentang Truett Cathy, pendiri Chick-fil-A.

Secara logika bisnis, keputusan yang ia ambil terasa tidak masuk akal. Ketika banyak perusahaan berusaha memaksimalkan keuntungan dengan membuka usaha tujuh hari seminggu, ia justru menutup seluruh gerainya setiap hari Minggu.

Satu hari penuh tanpa pemasukan.

Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap keputusan yang merugikan. Tetapi bagi Truett Cathy, ada prinsip yang lebih penting daripada keuntungan.

Ia percaya bisnisnya bukan miliknya.
*Bisnis itu milik Tuhan.*

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengandung salah satu prinsip Kerajaan Allah yang paling penting: *Allah adalah Pemberi, kita hanyalah pengelola.*

Sering kali kita menganggap diri sebagai pemilik. Bekerja keras, berjuang, berpikir, mengambil risiko, lalu secara tidak sadar muncul pikiran, “Ini hasil saya.”

Memang kita tidak mengucapkannya dengan mulut, tetapi sikap hati kita sering menunjukkan hal itu.

Akibatnya, hidup menjadi berat.

Kita takut kehilangan.

Takut masa depan.

Takut bisnis menurun.

Takut investasi salah.

Takut berkat berhenti mengalir.

Mengapa?

Karena merasa semuanya bergantung pada kita.

Sesungguhnya, haruslah kita ingat kepada TUHAN, Allah kita, sebab Dialah yang memberikan kepada kita kekuatan untuk memperoleh kekayaan.

Perhatikan baik-baik.

Bukan hanya kekayaan yang berasal dari Tuhan.

Kemampuan untuk memperoleh kekayaan pun berasal dari Tuhan.

Ide berasal dari Tuhan.

Kesempatan berasal dari Tuhan.

Kesehatan berasal dari Tuhan.

Napas yang kita hirup hari ini pun berasal dari Tuhan.

Kalau demikian, apa sebenarnya yang benar-benar milik kita?

Bahkan hidup kita sendiri adalah titipan Tuhan.

Sebelum kita lahir, Dia sudah memiliki rancangan bagi hidup kita. Dia sudah mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan baik untuk kita jalani. Kita datang ke dunia bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pengelola dari apa yang Tuhan percayakan.

Ketika kebenaran ini masuk ke dalam hati, sesuatu berubah.

Tekanan mulai berkurang.

Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak lagi hidup dalam ketakutan.

Kita tetap bertanggung jawab, tetapi tidak memikul beban seolah-olah seluruh dunia berada di pundak kita.

Ada perbedaan besar antara tanggung jawab dan beban.

Tanggung jawab membuat kita bertindak.

Beban membuat kita tertekan.

Tuhan berkata:
“Janganlah kamu khawatir tentang hidupmu.”

Bukan karena hidup selalu mudah tetapi karena kita bukan sumbernya.

Allah sumbernya.

Allahlah yang akan memenuhi segala kebutuhan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Bukan menurut saldo rekening kita.

Bukan menurut kondisi ekonomi dunia.

Bukan menurut kemampuan kita.

Melainkan menurut kekayaan-Nya.

Itulah sebabnya orang yang mengerti Tuhan sebagai sumber memiliki damai yang berbeda. Mereka tetap menghadapi tantangan, tetapi tidak hidup dalam kepanikan.

Kembali kepada Truett Cathy.

Ketika ia memutuskan menghormati Tuhan dengan menutup Chick-fil-A setiap hari Minggu, banyak orang menganggapnya tidak bijaksana secara bisnis.

Namun hasilnya justru sebaliknya.

Perusahaannya berkembang menjadi salah satu jaringan restoran paling sukses di Amerika. Bahkan penjualan per gerainya melampaui banyak pesaing yang buka tujuh hari seminggu.

Mengapa?

Karena ia memilih mempercayai prinsip Tuhan daripada logika ketakutan.

Ia hidup sebagai pengelola, bukan pemilik.

Dan di situlah letak pelajaran yang sangat penting bagi kita.

Tuhan tidak sedang mencari orang yang memiliki banyak.
Tuhan sedang mencari orang yang dapat dipercaya.

Orang yang sadar bahwa uang, rumah, bisnis, pelayanan, keluarga, bahkan hidupnya sendiri adalah titipan Tuhan.

Ketika kita melihat semuanya sebagai titipan, kita tidak lagi terlalu takut kehilangan.

Kita juga tidak lagi terlalu sulit memberi.

Sebab kita sadar bahwa sumber kita bukanlah apa yang ada di tangan kita, melainkan Dia yang mengisi tangan kita.

Tuhan berkata:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Perhatikan urutannya.

Bukan mengejar tambahan terlebih dahulu.

Bukan mengejar uang terlebih dahulu.

Bukan mengejar keamanan terlebih dahulu.

Tetapi mencari Tuhan terlebih dahulu.

Ketika posisi hati kita benar, damai datang.

Dan ketika damai datang, kita mulai melihat hidup dari perspektif yang berbeda.

Tuhan bukan mengambil dari kita.

Dia sedang mempercayakan sesuatu kepada kita.

Dan selama kita setia mengelolanya, Dia tidak pernah kehabisan cara untuk menambah, melipatgandakan, dan memberkati hidup kita.

Tanpa stres.
Tanpa tekanan.
Tanpa ketakutan.

Karena sejak awal Tuhan adalah Pemberi, dan kita hanyalah pengelola. Saat posisi ini benar, beban berubah menjadi damai dan pengelolaan menjadi sukacita.

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.” -Corrie ten Boom

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang belum kita kenal kepada Tuhan yang sudah kita kenal.” – Corrie ten Boom.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 6