Articles

Tuhan Sumbernya, Kita Pengelolanya

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tuhan Sumbernya, Kita Pengelolanya

Beberapa waktu lalu saya membaca kisah menarik tentang Truett Cathy, pendiri Chick-fil-A.

Secara logika bisnis, keputusan yang ia ambil terasa tidak masuk akal. Ketika banyak perusahaan berusaha memaksimalkan keuntungan dengan membuka usaha tujuh hari seminggu, ia justru menutup seluruh gerainya setiap hari Minggu.

Satu hari penuh tanpa pemasukan.

Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap keputusan yang merugikan. Tetapi bagi Truett Cathy, ada prinsip yang lebih penting daripada keuntungan.

Ia percaya bisnisnya bukan miliknya.
*Bisnis itu milik Tuhan.*

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengandung salah satu prinsip Kerajaan Allah yang paling penting: *Allah adalah Pemberi, kita hanyalah pengelola.*

Sering kali kita menganggap diri sebagai pemilik. Bekerja keras, berjuang, berpikir, mengambil risiko, lalu secara tidak sadar muncul pikiran, “Ini hasil saya.”

Memang kita tidak mengucapkannya dengan mulut, tetapi sikap hati kita sering menunjukkan hal itu.

Akibatnya, hidup menjadi berat.

Kita takut kehilangan.

Takut masa depan.

Takut bisnis menurun.

Takut investasi salah.

Takut berkat berhenti mengalir.

Mengapa?

Karena merasa semuanya bergantung pada kita.

Sesungguhnya, haruslah kita ingat kepada TUHAN, Allah kita, sebab Dialah yang memberikan kepada kita kekuatan untuk memperoleh kekayaan.

Perhatikan baik-baik.

Bukan hanya kekayaan yang berasal dari Tuhan.

Kemampuan untuk memperoleh kekayaan pun berasal dari Tuhan.

Ide berasal dari Tuhan.

Kesempatan berasal dari Tuhan.

Kesehatan berasal dari Tuhan.

Napas yang kita hirup hari ini pun berasal dari Tuhan.

Kalau demikian, apa sebenarnya yang benar-benar milik kita?

Bahkan hidup kita sendiri adalah titipan Tuhan.

Sebelum kita lahir, Dia sudah memiliki rancangan bagi hidup kita. Dia sudah mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan baik untuk kita jalani. Kita datang ke dunia bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pengelola dari apa yang Tuhan percayakan.

Ketika kebenaran ini masuk ke dalam hati, sesuatu berubah.

Tekanan mulai berkurang.

Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak lagi hidup dalam ketakutan.

Kita tetap bertanggung jawab, tetapi tidak memikul beban seolah-olah seluruh dunia berada di pundak kita.

Ada perbedaan besar antara tanggung jawab dan beban.

Tanggung jawab membuat kita bertindak.

Beban membuat kita tertekan.

Tuhan berkata:
“Janganlah kamu khawatir tentang hidupmu.”

Bukan karena hidup selalu mudah tetapi karena kita bukan sumbernya.

Allah sumbernya.

Allahlah yang akan memenuhi segala kebutuhan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Bukan menurut saldo rekening kita.

Bukan menurut kondisi ekonomi dunia.

Bukan menurut kemampuan kita.

Melainkan menurut kekayaan-Nya.

Itulah sebabnya orang yang mengerti Tuhan sebagai sumber memiliki damai yang berbeda. Mereka tetap menghadapi tantangan, tetapi tidak hidup dalam kepanikan.

Kembali kepada Truett Cathy.

Ketika ia memutuskan menghormati Tuhan dengan menutup Chick-fil-A setiap hari Minggu, banyak orang menganggapnya tidak bijaksana secara bisnis.

Namun hasilnya justru sebaliknya.

Perusahaannya berkembang menjadi salah satu jaringan restoran paling sukses di Amerika. Bahkan penjualan per gerainya melampaui banyak pesaing yang buka tujuh hari seminggu.

Mengapa?

Karena ia memilih mempercayai prinsip Tuhan daripada logika ketakutan.

Ia hidup sebagai pengelola, bukan pemilik.

Dan di situlah letak pelajaran yang sangat penting bagi kita.

Tuhan tidak sedang mencari orang yang memiliki banyak.
Tuhan sedang mencari orang yang dapat dipercaya.

Orang yang sadar bahwa uang, rumah, bisnis, pelayanan, keluarga, bahkan hidupnya sendiri adalah titipan Tuhan.

Ketika kita melihat semuanya sebagai titipan, kita tidak lagi terlalu takut kehilangan.

Kita juga tidak lagi terlalu sulit memberi.

Sebab kita sadar bahwa sumber kita bukanlah apa yang ada di tangan kita, melainkan Dia yang mengisi tangan kita.

Tuhan berkata:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Perhatikan urutannya.

Bukan mengejar tambahan terlebih dahulu.

Bukan mengejar uang terlebih dahulu.

Bukan mengejar keamanan terlebih dahulu.

Tetapi mencari Tuhan terlebih dahulu.

Ketika posisi hati kita benar, damai datang.

Dan ketika damai datang, kita mulai melihat hidup dari perspektif yang berbeda.

Tuhan bukan mengambil dari kita.

Dia sedang mempercayakan sesuatu kepada kita.

Dan selama kita setia mengelolanya, Dia tidak pernah kehabisan cara untuk menambah, melipatgandakan, dan memberkati hidup kita.

Tanpa stres.
Tanpa tekanan.
Tanpa ketakutan.

Karena sejak awal Tuhan adalah Pemberi, dan kita hanyalah pengelola. Saat posisi ini benar, beban berubah menjadi damai dan pengelolaan menjadi sukacita.

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.” -Corrie ten Boom

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang belum kita kenal kepada Tuhan yang sudah kita kenal.” – Corrie ten Boom.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apakah Prioritas Investasimu?
Mengapa Perlu Berdoa? Padahal Itu Kehendak Tuhan!
“Anjing yang Terluka.”