Kasih Tanpa Hikmat Itu Berbahaya…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Kasih Tanpa Hikmat Itu Berbahaya…
Ada satu jebakan yang sering tidak disadari oleh orang percaya yang sungguh mengasihi Tuhan. Kita belajar mengasihi, diajar untuk tidak curiga, dan memilih melihat yang baik dalam setiap orang. Kita memberi hati, waktu, bahkan kepercayaan. Masalahnya bukan pada kasih itu. Masalahnya muncul ketika kasih berjalan tanpa hikmat.
Di titik itu, kita mulai menyamakan semua orang dengan diri kita. Kita berpikir, “Kalau saya tulus, pasti mereka juga tulus.” Kalau saya datang ke gereja untuk Tuhan, berarti mereka juga. Padahal realitanya tidak semua orang datang dengan motivasi yang sama. Ada yang memang mencari Tuhan, tetapi ada juga yang mencari peluang. Ada yang membangun iman, tetapi ada juga yang membangun jaringan. Bahkan tidak sedikit yang memakai label rohani untuk mendapatkan akses, kepercayaan, dan keuntungan.
Ini bukan sinis, ini kenyataan. Lingkungan rohani tidak pernah sepenuhnya steril dari kepentingan manusia. Bahkan dalam momen yang paling kudus sekalipun, pengkhianatan bisa terjadi. Jadi kalau kita pernah merasa dimanfaatkan oleh orang yang terlihat rohani, jangan buru-buru menyalahkan diri karena terlalu percaya. Yang perlu diperbaiki bukan hati yang mengasihi, tetapi cara melihat.
Banyak kekecewaan terjadi bukan karena kita salah mengasihi, tetapi karena kita salah menilai. Kita menganggap semua orang punya pola pikir, nilai, dan hati yang sama seperti kita. Padahal setiap orang berjalan dengan “setting” yang berbeda. Seperti yang diajarkan Dr. Caroline Leaf, pikiran manusia dibentuk oleh sejarah hidupnya. Cara mereka berpikir, merespons, dan mengambil keputusan berasal dari pola yang sudah lama terbentuk, termasuk motif yang tidak selalu terlihat.
Masalahnya, kita sering masuk dalam relasi dengan asumsi, bukan dengan pengamatan. Kita berharap mereka bertindak seperti kita. Kita pikir mereka akan menjaga seperti kita menjaga. Saat itu tidak terjadi, kita terluka. Padahal sejak awal “rumusnya” sudah tidak cocok. Kita memakai variabel kita untuk membaca orang lain.
Inilah sebabnya kekecewaan bisa berulang pada orang yang sama. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak mau menerima apa yang sebenarnya sudah jelas. Kita tetap berharap mereka berubah, padahal pola mereka sudah terlihat.
Kasih tidak berarti buta. Kasih yang sehat selalu berjalan bersama hikmat. Hikmat membuat kita tetap lembut, tetapi tidak naif. Tetap memberi, tetapi tidak sembarangan percaya. Tetap terbuka, tetapi tahu batas.
Orang yang manipulatif tidak berubah hanya karena kita baik. Orang yang suka mengambil keuntungan tidak berhenti hanya karena kita tulus.
Kalau kita terus memberi tanpa melihat dengan jernih, yang terjadi bukan pelayanan, tetapi eksploitasi. Dan itu bukan kehendak Tuhan. Kasih Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menjadi korban, tetapi untuk hidup dalam terang, termasuk terang dalam melihat manusia.
Mulai sekarang, ubah satu hal sederhana. Setiap kali merasa kecewa, jangan langsung menyimpulkan mereka salah. Tanyakan ini dalam hati, “Saya tadi berharap mereka seperti saya, atau saya sudah melihat mereka apa adanya?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi membuka mata. Saat kita mulai melihat orang apa adanya, kita tidak mudah kaget. Kita tidak memberi akses sembarangan. Kita tahu seberapa jauh harus percaya dan seberapa dalam harus melibatkan hati.
Ini bukan soal menjauh dari orang, tetapi menempatkan orang dengan tepat. Tidak semua orang bisa masuk ke lingkaran terdalam hidup kita. Tidak semua orang layak memegang tingkat kepercayaan yang sama. Dan itu tidak berarti kita berhenti mengasihi.
Kita hanya mulai mengasihi dengan hikmat. Hidup menjadi jauh lebih ringan saat kita berhenti berharap semua orang tulus, dan mulai melihat dengan jernih. Karena kasih tanpa hikmat membuat kita terluka, tetapi kasih dengan hikmat membuat kita tetap mengasihi tanpa kehilangan diri.
Cerdiklah seperti ular tetapi tulus seperti merpati.
Makes Sense?
“You can’t make a good deal with a bad person.” – Warren Buffett.
“Kamu tidak bisa membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang tidak benar. – Warren Buffett.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU ??
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan




