Articles

Pelajaran yang Tidak Saya Minta…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pelajaran yang Tidak Saya Minta…

Belakangan ini saya merasa Tuhan sedang mengajar saya sebuah pelajaran yang tidak pernah saya minta.

Pelajaran tentang melepaskan.
Bukan melepaskan orang.
Tetapi melepaskan harapan-harapan kecil yang tanpa sadar masih saya genggam.

Harapan untuk selalu diingat.
Harapan untuk selalu dianggap penting.
Harapan untuk diperlakukan seperti yang saya bayangkan.

Lucunya, Tuhan tidak mengajar saya lewat mimbar.
Dia mengajarnya melalui kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika saya bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu pernah dekat.

Ada yang lupa nama saya.
Ada yang tampak lebih akrab dengan orang lain.

Dulu, mungkin saya akan sedikit kecewa.
Tetapi kali ini berbeda.
Saya hanya tersenyum.
Tidak ada rasa tersinggung.
Tidak ada keinginan menjelaskan diri.
Tidak ada dorongan untuk mencari perhatian.

Biasa saja.

Bahkan saat ada kesempatan berfoto bersama tamu penting dari luar negeri, saya tidak lagi merasa harus ikut.

Bukan karena marah.
Bukan karena kecewa.
Hanya… rasanya tidak perlu.

Lalu saya menyadari sesuatu.
Memang begitulah hidup.
Waktu terus berjalan.
Orang-orang bertemu.
Lalu berpisah.
Lingkaran pertemanan berubah.
Kedekatan pun berubah.
Dan itu bukan sesuatu yang harus disesali.

Beberapa hari kemudian Tuhan kembali mengajar saya.
Lewat sebuah situasi di rumah.
Ada perkataan yang cukup menyakitkan.
Anehnya, saya tidak ingin membalas.
Saya juga tidak ingin berdebat.
Saya memilih diam.
Bukan diam karena kalah.
Tetapi diam karena damai sejahtera dalam hati terasa jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah perdebatan.

Malam itu saya duduk diam di hadapan Tuhan.
Tidak banyak berdoa.
Hanya merenung.
Tiba-tiba hati saya dibawa kepada Yesus.

Saya teringat bagaimana begitu banyak orang pernah mengikuti-Nya.
Disembuhkan.
Dikenyangkan.
Ditolong.

Namun pada akhirnya banyak di antara mereka yang berteriak, “Salibkan Dia!”

Lalu saya teringat ayat yang selama ini sering saya baca tetapi malam itu terasa begitu hidup.

Yoh 2: 23-25
“Selama perayaan Paskah di Yerusalem, banyak orang percaya kepada Yesus setelah melihat mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. _Namun Yesus tidak menggantungkan kepercayaan-Nya kepada mereka. la mengenal manusia sampai ke dasar hatinya. la tahu bahwa hati manusia begitu mudah berubah._ Tidak ada seorang pun yang perlu menjelaskan hal itu kepada-Nya.”

Perhatikan, Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada manusia, karena Ia tahu isi hati manusia.

Betapa dalam kalimat itu.
Yesus mengasihi semua orang.
Tetapi Dia tidak menggantungkan hati-Nya pada respons mereka.

Saya merasa Tuhan sedang berbicara sangat pribadi kepada saya.

“Jangan biarkan perlakuan orang lain menentukan keadaan hatimu dan menentukan responmu. Bertindaklah seperti-Ku, karena Aku di dalammu.”

Kalimat itu terus terngiang.

Bukankah sering kali kita baik kepada orang karena mereka baik kepada kita?
Kita mudah mengasihi ketika dihargai.
Tetapi mulai terluka ketika diabaikan.

Padahal kasih yang Tuhan ajarkan memiliki sumber yang berbeda.
Bukan berasal dari bagaimana orang memperlakukan kita.
Melainkan dari Kristus yang hidup di dalam kita.

Saya tidak mengatakan bahwa pelajaran ini mudah.
Tetapi saya mulai merasakan kebebasan yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Ternyata damai itu muncul ketika kita berhenti menuntut orang lain memenuhi kebutuhan hati kita.

Keesokan paginya saya mendapat giliran memimpin doa pagi.
Lucunya, tanpa memasang alarm pun saya terbangun sendiri.
Tuhan seakan berkata, “Kalau ini memang bagianmu, Aku sendiri yang akan membangunkanmu.”

Saya belajar bahwa kedewasaan rohani bukan hanya tentang semakin banyak mengetahui Firman Tuhan.
Tetapi tentang semakin sedikit hati kita diguncang oleh perlakuan manusia.

Dan mungkin…

Itulah salah satu cara Tuhan membentuk hati kita agar semakin serupa dengan Kristus.

“Semakin hati kita berakar di dalam Kristus, semakin sedikit kita membutuhkan pengakuan dari manusia.”

Bagaimana pendapat Anda?

“The less you depend on people for your happiness, the happier you will be.”- Roy T. Bennett.

“Semakin sedikit kebahagiaanmu bergantung pada manusia, semakin bahagia hidupmu.” – Roy T. Bennett.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Jagalah Iman Anda Tetap Segar.”
Rhema Part 5 – Solusi Bagi Semua Masalah
Kesembuhan ada di dalam Firman Tuhan