Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Carilah Pengajaran dan Kesaksian—Bukan Salah Satu…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Pengajaran dan Kesaksian—Bukan Salah Satu…

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya, Andreas Hartanto, memberi komentar yang sederhana tapi “kena.” Ia mengingatkan satu ayat yang sering kita baca, tapi jarang kita hidupi:

Yesaya 8:20
“Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.

Kalimat ini tegas. Tidak ada ruang abu-abu. Tuhan tidak berkata pilih salah satu. Tuhan berkata: carilah pengajaran dan kesaksian. Dua-duanya harus jalan bersama.

Hari-hari ini kita sangat kaya pengajaran. Banyak orang pintar, fasih, sistematis, bahkan terlihat meyakinkan. Tidak semua salah. Tapi ada satu hal yang sering tidak kelihatan: apakah itu dihidupi atau hanya dipahami?

Karena pengajaran tanpa kesaksian itu kosong. Kedengarannya bagus, tapi tidak punya bobot.

Sebaliknya, kesaksian tanpa dasar Firman juga tidak aman. Bisa jadi hanya emosi atau pengalaman pribadi tanpa arah yang jelas.

Itulah sebabnya Yesaya 8:20 menjadi standar:
pengajaran harus dibuktikan oleh kesaksian, dan kesaksian harus lahir dari pengajaran yang benar.

Kalau tidak? Firman berkata: tidak terbit fajar.
Tidak ada terang yang menetap. Mungkin ada kilat sesaat, tapi tidak ada arah yang jelas.

Saya melihat banyak orang seperti meteor. Terang sebentar, menarik perhatian, lalu hilang. Kenapa? Karena hidupnya tidak tinggal dalam terang—tidak ada kesatuan antara apa yang dia tahu dan apa yang dia jalani.

Di sinilah kita mulai melihat kekuatan kesaksian yang sesungguhnya.

Ketika Firman itu benar-benar dihidupi, lalu kita bersaksi, yang terjadi bukan sekadar orang mendengar cerita. Ada sesuatu yang “ter-transfer.” Ada transfer iman. Ada dorongan di dalam hati orang yang mendengar—iman mereka seperti di-stir, dibangkitkan.

Sederhananya begini:
orang bisa membedakan.
Orang bisa merasakan ketika seseorang berbicara dari pengalaman keintiman dengan Tuhan, dibandingkan dengan orang yang hanya tahu tentang Tuhan.

Yang satu ada “hidupnya.”
Yang satu lagi hanya ada “pengetahuannya.”

Yang berbicara dari pengalaman akan membawa bobot. Tidak perlu banyak kata, tapi ada kuasa. Ada keyakinan. Ada roh iman di dalamnya.

Sedangkan yang hanya dari pengetahuan, walaupun benar secara teori, seringkali terasa datar. Tidak menembus hati. Tidak menggerakkan.

Kenapa? Karena kesaksian yang lahir dari kehidupan nyata membawa sesuatu yang tidak bisa dipalsukan.

Itu sebabnya kesaksian bukan tambahan. Itu bukti.

Kalau kita bicara tentang damai, tapi hidup kita gelisah, orang bisa merasakan ketidaksesuaian itu.
Kalau kita bicara iman, tapi kita sendiri mudah goyah, itu juga terlihat.

Kesaksian tidak bisa disembunyikan. Cepat atau lambat, kehidupan akan membuktikan.

Dan sebaliknya, ketika Firman itu benar-benar kita pegang, kita jalani, kita percayai di tengah situasi yang tidak mudah, lalu kita bersaksi—itu membawa terang.
Bukan sensasi. Bukan emosi sesaat. Tapi terang yang membuat orang melihat Tuhan lebih nyata.

Kita perlu jujur.
Apakah kita hanya suka mendengar pengajaran, tapi jarang menghidupinya?
Atau kita punya banyak cerita, tapi tidak berakar dalam Firman?

Keduanya tidak cukup.

Tuhan mencari orang yang hidupnya menjadi bukti. Bukan sekadar tahu, bukan sekadar mengalami, tapi hidup di dalam kebenaran itu.
Di situlah fajar terbit.
Fajar itu bukan terang sesaat. Tapi terang yang terus naik, stabil, jelas, dan tidak hilang.
Dan itu hanya terjadi ketika pengajaran dan kesaksian berjalan bersama.

Jadi tidak perlu mengejar terlihat rohani. Tidak perlu mengejar tampil kuat.
Cukup satu hal:
pegang Firman, hidupi, lalu bersaksilah.

Karena pada akhirnya, yang akan mengubahkan orang bukan seberapa hebat kita berbicara—
tetapi seberapa nyata Tuhan terlihat melalui hidup kita.

“The Word of God is like a seed. When planted in your heart, it will always produce.” – Andrew Wommack.

“Firman Tuhan seperti benih. Ketika ditanam dalam hati, pasti menghasilkan”
– Andrew Wommack.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kesaksian Itu Bukan Cerita—Itu Suara Iman…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kesaksian Itu Bukan Cerita—Itu Suara Iman…

Kita sering menyebutnya “kesaksian,” tapi kalau jujur, banyak yang sebenarnya hanya cerita pengalaman. Panjang di masalah, detail di penderitaan, lalu ditutup dengan satu kalimat, “Puji Tuhan, akhirnya selesai.”
Selesai, iya.
Tapi apakah itu membangun iman orang yang mendengar?

Di satu titik saya sadar, kesaksian bukan sekadar menceritakan apa yang kita alami. Kesaksian itu menyatakan siapa Tuhan di tengah situasi itu. Itu sebabnya Alkitab berkata kita mengalahkan oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian kita. (Wahyu 12:11)
Jadi jelas, kesaksian itu bukan hiburan rohani. Itu senjata.

Masalahnya, kita sering pakai “senjata” kesaksian ini dengan cara yang salah.

Kita mulai dari masalah. Lalu memperbesar masalah. Kita ceritakan semua detailnya, seolah itu bagian paling penting. Tanpa sadar, fokus berpindah. Orang yang mendengar tidak lagi melihat Tuhan, tapi tenggelam di cerita kita.

Padahal kuncinya sederhana: masalah boleh disebut, tapi jangan dibesarkan.

Kesaksian yang sehat selalu punya pusat yang jelas. Bukan kita. Bukan penderitaan kita. Tapi Tuhan.

Saya belajar, bagian paling penting dalam kesaksian bukan “apa yang terjadi,” tetapi bagaimana iman bekerja di tengah apa yang terjadi.

Firman apa yang kita pegang?
Apa yang kita pilih untuk percaya saat keadaan belum berubah?
Apa yang kita ucapkan saat realita berkata sebaliknya?
Di situlah kekuatan kesaksian.

Kalau kita hanya berkata, “Saya sembuh,” itu baik. Tapi tidak cukup. Orang perlu tahu, bagaimana kita berdiri sampai kesembuhan itu terjadi. Karena di situlah mereka menemukan jalan untuk percaya.

Hal lain yang sering tidak disadari, kita masih pakai bahasa “kebetulan.”
“Untung saja…”
“Tiba-tiba…”

Kalimat seperti ini kelihatannya ringan, tapi sebenarnya mengaburkan pekerjaan Tuhan. Kalau kita percaya Tuhan yang bekerja, katakan dengan jelas: Tuhan yang melakukan. Jangan diperkecil dengan kata-kata yang netral.

Kesaksian juga bukan untuk menakut-nakuti. Kalau orang selesai mendengar lalu merasa hidup ini berat, itu bukan tujuan kesaksian. Kesaksian harus menyalakan iman, bukan ketakutan. Harus membuat orang berkata, “Kalau Tuhan lakukan itu, berarti Tuhan juga bisa lakukan dalam hidup saya.”

Itu tanda kesaksian kita sehat.

Dan satu lagi, kita tidak perlu melebih-lebihkan. Tidak perlu dibuat dramatis supaya terlihat rohani. Kebenaran itu sendiri sudah cukup kuat. Justru kesaksian yang jujur, sederhana, tapi jelas menunjukkan peranan Firman dan iman, itu yang paling dalam dampaknya.

Supaya praktis, saya pegang pola sederhana ini dalam bersaksi:
dulu saya mengalami apa, Firman apa yang saya pegang, bagaimana saya memilih percaya, apa yang Tuhan lakukan, dan apa hasilnya sekarang. Lalu ditutup dengan satu hal yang tidak boleh hilang: semua kemuliaan hanya untuk Tuhan.

Sederhana, tapi lurus.

Akhirnya saya mengerti, kesaksian bukan tentang kita yang kuat melewati sesuatu. Kesaksian itu tentang Tuhan yang setia menepati Firman-Nya.

Kita hanya menyuarakan apa yang Dia sudah lakukan.

Dan ketika kesaksian disampaikan dengan benar, sesuatu pasti terjadi. Iman bangkit. Harapan hidup. Dan Tuhan dimuliakan.

Itulah kesaksian yang hidup. Bukan sekadar cerita, tapi suara iman yang membawa kemenangan.

“Out of 100 men, one will read the Bible, the other 99 will read the Christian.” – D.L. Moody.

“Dari 100 orang, satu membaca Alkitab, 99 lainnya membaca kehidupan orang percaya. – D.L. Moody.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pilih Apa yang Kita Dengarkan, Pilih Kehidupan yang Kita Jalani

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pilih Apa yang Kita Dengarkan, Pilih Kehidupan yang Kita Jalani

Berulangkali teman-teman, bahkan hamba-hamba Tuhan, mengirim video dan artikel, minta pendapat saya. Nyaris semuanya topik-topik kontroversial.

Teman-teman, karena saya sekolah di Charis Bible College (CBC), saya sangat selektif dalam mendengarkan pembicara. Bukan karena merasa paling benar, tetapi karena saya sudah menikmati buahnya. Ini bukan teori. Ini hasil.

Kenapa harus selektif?

Karena apa yang kita dengar, itu yang akan membentuk cara kita berpikir. Dan cara kita berpikir, itu yang menentukan arah hidup kita.

Kalimat sederhananya begini:
“What you see and hear is what you get.”

Caranya bagaimana saya menjaga diri?
Sederhana, tapi disiplin.

Sebelum mendengarkan pembicara baru, saya check dan recheck. Apakah dia pernah diundang ke CBC Colorado? Saya suka mendengarkan kotbah berbahasa Inggris. Sambil belajar bahasa juga. Sambil menyelam, minum air.

Apakah jaringan pelayanannya selaras dengan pengajaran yang saya pegang? Apakah roh dan arah pengajarannya sejalan?
Kalau tidak jelas, saya tidak buang waktu.

Saya juga lebih memilih membaca dan mempelajari kisah para jenderal iman yang sudah terbukti. Orang-orang yang hidupnya menghasilkan buah nyata, bukan sekadar kata-kata.

Zaman boleh berubah, tetapi kebenaran Firman Tuhan tidak pernah berubah.

Dan jujur saja, saya punya begitu banyak materi pengajaran yang bagus. Bahkan sampai hari ini, saya masih kekurangan waktu untuk mempelajarinya.

Jadi buat apa saya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang kontroversial, yang manfaatnya belum tentu jelas?

Lebih berbahaya lagi, di sosial media. Sekali kita klik sesuatu yang negatif, algoritma akan “memberi makan” kita dengan hal yang sama, berulang-ulang.

Tanpa sadar, kita sedang membangun dunia dalam pikiran kita sendiri.

Itu sebabnya Firman Tuhan berkata dalam Ulangan:
“Aku memperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian… pilihlah kehidupan.”

Perhatikan, Tuhan tidak memilihkan. Kita yang memilih.

Kehidupan seperti apa yang kita jalani hari ini, itu hasil dari apa yang kita izinkan masuk ke dalam hati dan pikiran kita.

Saya mau cerita sedikit.

Suatu hari sahabat saya, Pak Irsan, kirim foto dari Penang. Saya kaget lihat matanya. Lalu dia cerita, setahun sebelumnya dokter sudah bilang kondisi saraf matanya tipis dan hampir putus. Risiko besar, bisa lepas retina. Disarankan segera laser.

Tapi dia memilih jalan iman.

“Kan Barry bilang kesembuhan adalah hak perjanjian orang percaya…,” ujarnya yakin,
“Andrew Wommack sering bilang lawanlah iblis maka ia akan lari dari padamu.”

Selama satu tahun, dia terus berbicara kepada matanya. Memerintahkan saraf, kornea, dan retina untuk pulih dalam nama Yesus.

Dan hasilnya?

Ketika dicek dengan alat OCTA, alat yang sangat canggih di Penang, matanya dinyatakan normal.
Ini bukan kebetulan. Itu bukti jawaban dari Tuhan.

Pak Irsan adalah murid CBC Distance Learning. Bahkan lulus lebih cepat, 6 bulan, dari jadwal yang semestinya 1 tahun.

Dan yang menarik, dia terus mengulang pelajaran level 1 sampai tujuh kali.
Mungkin di seluruh dunia cuma ada 1 murid yang sebegitu konsisten mengulang pelajaran seperti ini.
Only one in the world… wkwkwk…

Darimana saya tahu?

Krn setiap hari beliau kirim quotes apa yang di dapat dari video yg ditontonnya. Bahkan saat mau ke medan, ada pesta or kematian, ijin ke sy…

Hahaha….. padahal saya bukan siapa-siapa… sekedar sahabat saja.

Saya tanya, mengapa sich koq ngotot banget, mesti mengulang-ulang pelajaran level 1? Heran saya… dikasi materi baru dari guru-guru CBC di youtube, ga mau. Aneh kan?
Kenapa tidak lanjut ke materi baru?

Jawabannya sederhana, tapi dalam.

Karena dari pelajaran dasar itu, dia beberapa kali mendapat arahan Tuhan yang sangat tepat. Termasuk keputusan investasi emas, di waktu yang pas, dengan hasil yang tepat.

Artinya apa?

Kualitas hidup kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak hal baru yang kita konsumsi, tapi seberapa dalam kita mencerna kebenaran yang benar.

Inilah yang saya lihat dari hidupnya.

Kemakmuran, kesehatan, damai sejahtera, sukacita, itu datang dengan alami. Tidak dikejar, tapi mengikuti.

Hidupnya jadi damai… semeleh, kata orang Jawa.
Tenang, tidak reaktif, tidak panik. Karena dia berjalan dengan arah.
Bukan karena dia hebat. Tapi karena dia konsisten mendengar suara yang benar.

Jadi kalau ditanya, apakah kita mau hidup seperti itu?

Jawabannya bukan di luar sana.
Jawabannya ada di pilihan kita setiap hari.

Apa yang kita dengar.
Apa yang kita tonton.
Apa yang kita izinkan masuk.

Kalau mau hasil yang berbeda, jangan terus konsumsi hal yang sama.

Mulai pilih kehidupan.
Mulai pilih kebenaran.
Dan mulai praktik.
Tidak perlu tunggu siap.
Mulai saja…. yuk

“Guard your mind, and you will guard your life.” – Joyce Meyer.

“Jagalah pikiranmu, maka engkau menjaga hidupmu.” – Joyce Meyer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saat Tuhan Membelokkan Stir Hidup Anda

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Tuhan Membelokkan Stir Hidup Anda

Pernahkah Anda merasa sudah berada di jalur yang paling “pas” secara logika, lalu tiba-tiba Tuhan menginterupsi dan membelokkan arahnya ke tempat yang sama sekali tidak masuk akal?

Kita sudah merasa punya skill, punya latar belakang yang mendukung, dan merasa, “Di sinilah tempat saya seharusnya bersinar.”
Tapi Tuhan berkata, “Bukan di situ, anak-Ku. Ke sana.”

Gubraaaaaaakkk…..

Saya teringat kisah seorang arsitek senior yang sangat mapan. Dia merasa panggilannya adalah membangun gedung-gedung megah untuk kemuliaan Tuhan. Namun, di tengah puncak karirnya, Tuhan “menutup matanya” terhadap proyek-proyek besar dan mengarahkannya untuk melayani anak-anak putus sekolah di pelosok.

Logikanya berontak. Dia merasa keahliannya terbuang percuma. Namun, setelah dia taat, dia justru menemukan kepuasan yang tidak pernah diberikan oleh cetak biru bangunan manapun. Ternyata, Tuhan tidak butuh keahlian arsitekturnya, Tuhan butuh hatinya untuk membangun “bait suci” di dalam jiwa anak-anak itu.

Kisah Paulus juga dimulai dengan cara yang serupa. Setelah perjumpaan dramatis dengan Tuhan, Paulus bukan cuma bertobat, dia menjadi buta.

Tuhan lalu mengirim Ananias—bukan rasul besar, cuma orang biasa yang taat—untuk memulihkan penglihatannya.

Di sini kita belajar:
Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita, Dia memulihkan kita untuk sebuah penugasan.

?Why?
Karena kesembuhan dan pemulihan kita bukan sekadar untuk kenyamanan pribadi atau agar kita bisa pamer mujizat. Pemulihan itu adalah persiapan untuk tujuan kekekalan. Bayangkan jika Paulus tetap buta, dia tidak akan bisa menulis surat-surat yang menjadi napas iman kita hari ini. Tuhan memulihkan mata Paulus agar dia bisa melihat “Yang Benar” dan mendengar suara-Nya.

Namun, di sinilah ujiannya. Secara logika, Paulus adalah orang yang paling cocok melayani orang Yahudi. Dia pakar Taurat, dia tahu sistem mereka, dia punya “jam terbang” di sana. Tapi Tuhan justru berkata: “Aku mengutus engkau kepada bangsa-bangsa lain.” Ini seperti menyuruh seorang ahli bedah untuk menjadi koki. Tidak nyambung secara manusia, tapi sempurna secara ilahi.

Sering kali kita terjebak dalam versi kita sendiri tentang rencana Tuhan. Kita merasa, “Saya cocoknya di sini,” atau “Saya seharusnya melakukan ini.”

Tapi saat Tuhan mulai mengoreksi cara berpikir kita, mengganggu kenyamanan, atau mengubah arah hidup, kita mulai tidak nyaman. Masalahnya sering kali bukan pada Tuhan, tapi pada pola pikir kita yang kaku.

Kekristenan sejati bukan hanya tentang “sudah selamat,” lalu hidup semau kita. Ini tentang mengenal kehendak-Nya, mendengar suara-Nya, dan berani melangkah saat Dia membelokkan stir hidup kita. Hidup yang paling diberkati bukanlah hidup yang kita rancang sendiri dengan rapi, melainkan hidup yang kita jalani sesuai dengan tuntunan suara Tuhan, meski jalannya tidak seperti yang kita bayangkan.

Mari kita belajar seperti Paulus dan Ananias. Yang satu taat untuk dipulihkan dan diutus ke tempat yang asing, yang satu taat untuk menjadi alat bagi rencana besar orang lain. Jangan takut saat Tuhan mengubah arah hidup Anda. Think Eternity. Dia tahu tujuan akhir yang terbaik bagi kita.

“Obedience to God is the pathway to the life you were truly created for.”

“Ketaatan kepada Tuhan adalah jalan menuju kehidupan yang untuknya Anda benar-benar diciptakan.— Joyce Meyer

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ego Kecil, Pintu pun Stres Menutup.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ego Kecil, Pintu pun Stres Menutup.

Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara batin, padahal pekerjaan fisik tidak seberapa?
Kita sering kali menyalahkan keadaan, menunjuk orang lain sebagai sumber stres, atau merasa beban hidup ini terlalu tidak adil.

Namun, jika kita mau jujur dan duduk tenang sejenak sambil menyeruput kopi, mungkinkah sumber kelelahan itu sebenarnya berasal dari dalam diri kita sendiri?

Saya teringat kisah seorang manajer sukses yang hampir burnout. Dia stres luar biasa karena merasa stafnya tidak becus dan kliennya terlalu menuntut.

Suatu hari, dalam sebuah sesi konseling, dia ditanya: “Apa yang paling membuatmu sakit hati?”
Jawabannya jujur, “Saya merasa mereka tidak menghargai posisi dan pengalaman saya.”

Boom!
Di situlah letak masalahnya.

Ternyata bebannya bukan pada volume pekerjaan, tapi pada upaya raksasa untuk menjaga “harga diri” agar tetap diakui. Begitu dia belajar untuk melepaskan hak untuk dihormati dan mulai melayani stafnya dengan tulus, stresnya menguap. Bebannya hilang bukan karena kliennya berubah, tapi karena egonya mengecil.

Saya pun merenungkan pesan “Mak Jleb” dari Bro Hadi Pandu, mengenai Galatia 2:20.

Dalam versi bahasa Inggris, ada satu kalimat yang sangat tajam:
“My ego is no longer central.”
Ego saya bukan lagi pusatnya.

Kalimat ini seperti pedang bermata dua yang memisahkan antara apa yang kita sebut “masalah hidup” dengan apa yang sebenarnya adalah “masalah ego.”

Why?
Karena jujur saja, sebagian besar stres yang kita alami bukan karena dunia ini terlalu jahat, tapi karena ego kita masih terlalu besar.

Kita stres karena ingin dipahami, ingin dihargai, ingin dianggap benar, dan ingin semua hasil sesuai dengan kemauan kita. Tanpa sadar, hidup kita masih berputar di sekitar: aku, aku, dan aku.

Selama “aku” masih duduk di takhta hati, damai sejahtera kita akan selalu goyah. Sering kali stres adalah alarm bahwa identitas kita belum beres. Kalau kita belum tahu siapa kita di dalam Kristus, kita akan terus hidup dari opini orang lain. Satu komentar miring bisa melukai dalam, karena kita sedang mati-matian mempertahankan ego.

Galatia 2:20 bukan sekadar ayat pajangan, ini adalah ayat eksekusi.
“Aku telah disalibkan dengan Kristus…”

artinya hidup ini bukan lagi panggung pembuktian diri saya. Tuhan tidak menyuruh kita mendidik ego jadi kudus, tapi menyuruh kita menyalibkannya.
Saat Kristus sungguh menjadi pusat, kita menjadi bebas. Kita tidak lagi haus dipuji atau hancur saat ditolak.

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita bisa tetap tenang walau tidak semua orang paham, karena hidup kita bukan lagi tentang “bagaimana saya terlihat,” tetapi tentang “siapa yang hidup di dalam saya.” Semakin aman identitas kita di dalam Kristus, semakin tenang jiwa kita.

Jadi, jangan hanya bertanya “Mengapa saya stres?”, tapi tanyalah “Bagian mana dari ego saya yang masih ingin jadi pusat?”. Kabar baiknya, “aku” yang lama itu sudah disalibkan.
Mari hidup dalam kemenangan-Nya

“More of your ego means less of your peace. The less of self, the more of God.”— Rick Warren & Charles Spurgeon.

“Semakin besar ego Anda, semakin sedikit kedamaian Anda. Semakin sedikit diri sendiri, semakin banyak Tuhan yang bekerja” — Rick Warren & Charles Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 9