Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Cukup Panggil Namanya!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Cukup Panggil Namanya!

Saya baru mendapatkan pewahyuan, yang membukakan pengertian saya.Sebenarnya cara kerja iman yang simpel dalam hidup kita sehari-hari.

Sering kali kita merasa hidup ini berat karena kita terus-menerus memohon sesuatu yang sebenarnya sudah Tuhan berikan. Kita lelah berdoa meminta hal yang sama berulang kali, seolah-olah Tuhan belum mendengar atau belum menyediakan. Padahal, rahasianya jauh lebih sederhana dari itu.

Kita tahu kan, saat kita lahir baru, Tuhan sudah mendepositkan segala yang kita butuhkan di dalam roh kita. Kesembuhan, kedamaian, bahkan kemakmuran itu sudah ada di sana. Ibarat sebuah rekening bank, saldonya sudah masuk, tinggal bagaimana kita mencairkannya.

Di rumah, kami punya anjing kesayangan bernama Kirey. Saya tahu persis, saya memiliki Kirey. Dia milik saya, dia ada di rumah saya, dan saya sangat mengenal dia.

Setiap kali saya butuh Kirey ada di dekat saya, apakah saya harus memohon-mohon kepada Tuhan supaya saya diberi anjing? Tentu tidak, bukan? Itu lucu sekali. Saya juga tidak perlu menangis meminta-minta agar Kirey muncul. Yang saya lakukan hanyalah memanggil namanya: “Kirey…!” Dan seketika itu juga, Kirey datang berlari menghampiri saya.

Sama halnya dengan janji-janji Tuhan dalam hidup kita. Karena kita sudah memilikinya di dalam roh, kita tidak perlu lagi berteriak meminta Tuhan memberikan apa yang sudah Dia selesaikan di kayu salib. Kita hanya perlu “memanggil” apa yang sudah menjadi milik kita itu agar bermanifestasi di dunia nyata.

Inilah rahasia “istirahat” atau rest yang Yesus tawarkan dalam Matius 11:28-29. Dia mengundang kita yang letih lesu untuk memikul “kuk” yang dipasang-Nya. Mungkin kita pikir, “Lho, kok malah disuruh pakai kuk?
Apa tidak tambah berat?”

Nah, di sinilah letak keajaibannya. Perintah Tuhan dan firman-Nya itu sebenarnya bukan beban, melainkan seperti sayap bagi burung.
Kalau kita timbang secara fisik, sayap itu ada beratnya. Tapi justru karena sayap itulah si burung bisa terbang tinggi dan lepas dari gravitasi bumi. Tanpa sayap, burung justru akan kesulitan berjalan terseok-seok di tanah.

Luar biasanya lagi, dalam “kuk” ini kita tidak sendirian. Kita dipasangkan bersama Yesus. Dia yang memikul beban utamanya, Dia yang memberikan tenaga-Nya, dan Dia yang membawa kita terbang tinggi mengatasi badai persoalan. Kita hanya perlu melekat erat dan mengikuti langkah-langkah-Nya dengan hati yang tenang.

Kalau kita butuh kesembuhan, panggil kesembuhan itu karena sudah ada di dalam kita oleh bilur-bilur-Nya. Kalau kita butuh hikmat, panggil hikmat itu. Kita bergerak bukan dari posisi “kekurangan”, tapi dari posisi “kepemilikan”. Kita tidak stres mengejar berkat, karena berkat itu sudah ada di rumah kita, di dalam roh kita.

Smith Wigglesworth pernah berkata dengan sangat luar biasa:
“God says it, I believe it, and that settles it!”
“Tuhan mengatakannya, saya mempercayainya, dan itu tuntas!”.

Beliau tidak membiarkan perasaan atau keadaan mendikte apa yang dia miliki. Beliau tahu apa yang sudah Tuhan taruh di dalam dirinya, dan beliau berjalan dalam otoritas itu dengan santai namun penuh kuasa.

Mari kita berhenti merasa lelah karena terus-menerus “meminta” barang yang sudah ada di tangan kita. Mulailah menyadari apa yang sudah Tuhan depositkan dalam roh kita. Kenali “nama” berkat-berkatmu, dan panggillah dengan penuh keyakinan. Saat kita berhenti berjuang dengan kekuatan sendiri dan mulai bertindak berdasarkan apa yang sudah kita miliki, di situlah hidup terasa ringan dan penuh kemenangan.

Jangan biarkan Kirey-mu hanya diam di sudut ruangan rohmu. Panggil dia, nikmati kehadirannya, dan biarkan dunia melihat betapa kayanya kita di dalam Dia.
Hhhm…. praktik yuk….

“Faith is the hand that takes what God has already provided by His grace.” — Smith Wigglesworth.

“Iman adalah tangan yang mengambil apa yang telah disediakan Tuhan melalui kasih karunia-Nya.” — Smith Wigglesworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Whitney Houston & Kevin Costner: Melihat Melampaui Keraguan: Pelajaran dari Sebuah Persahabatan Sejati.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Whitney Houston & Kevin Costner: Melihat Melampaui Keraguan: Pelajaran dari Sebuah Persahabatan Sejati.

Bayangkan jika film legendaris “The Bodyguard” tidak pernah dibintangi oleh Whitney Houston. Mungkin lagu “I Will Always Love You” tidak akan pernah bergema sedahsyat yang kita kenal sekarang. Tahukah Anda, bahwa di balik layar, pihak studio film awalnya sangat ragu? Mereka menginginkan aktris kulit putih yang sudah berpengalaman, bukan seorang penyanyi muda yang belum pernah berakting.

Namun, Kevin Costner ngotot. Ia pasang badan. Ia berkata dengan tegas kepada pihak studio, “Jika bukan Whitney, maka tidak ada film ini.”

Kevin melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat jiwa, bakat, dan kerentanan yang luar biasa dalam diri Whitney. Ia tidak hanya menjadi lawan main, ia menjadi pelindung bagi karier Whitney di Hollywood saat banyak orang meragukannya.

Pernahkah Anda membayangkan, saat perjalanan hidup kita di dunia ini selesai, apa yang akan orang katakan tentang kita? Apakah mereka akan mengingat saldo rekening kita? Jabatan mentereng di kartu nama? Atau seberapa megah rumah yang kita bangun?

Kisah dukungan Kevin ini mencapai puncaknya bertahun-tahun kemudian, di momen yang sangat mengharukan. Ketika Whitney Houston berpulang pada tahun 2012, dunia seolah berhenti berputar sejenak. Pemakamannya di New Hope Baptist Church disiarkan langsung dan ditonton oleh jutaan pasang mata. Semuanya sudah diatur dengan protokol ketat—terstruktur, terkontrol, dan sangat menghargai durasi siaran global.

Lalu, Kevin Costner berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir.
Panitia sudah memintanya untuk menjaga pidatonya tetap singkat agar sesuai jadwal televisi. Namun, Kevin memilih untuk mengabaikan batasan waktu demi sebuah kejujuran. Ia tidak berbicara tentang berapa banyak penghargaan Grammy yang diraih Whitney. Sebaliknya, ia membagikan sisi rapuh sang diva yang tidak pernah diketahui publik.

Ia bercerita bagaimana Whitney dulu ragu pada dirinya sendiri saat akan membintangi film itu. Whitney pernah bertanya pelan kepadanya,
“Apakah saya cukup baik? Apakah saya cukup cantik? Apakah mereka akan menyukai saya?”
Pertanyaan-pertanyaan manusiawi yang dunia tidak pernah dengar, tetapi seorang sahabat tidak pernah lupa.

Di akhir pidatonya, Kevin berkata dengan suara yang sarat dengan kasih, bukan sekadar duka: “Pergilah… dikawal oleh pasukan malaikat.” Pada momen itu, jadwal siaran tidak lagi penting. Kamera-kamera canggih itu tidak lagi berarti. Kevin berjalan ke peti jenazah, menciumnya dengan lembut, dan melangkah pergi.

Why?

Karena pada detik itu, ini bukan tentang seorang megabintang global. Ini tentang seorang sahabat yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Kisah ini membuat saya merenung dalam-dalam. Kita sering kali begitu sibuk membangun “citra” agar dunia terkesan. Kita bekerja keras tanpa henti agar dianggap “cukup” oleh standar orang lain. Padahal, pada akhirnya, saat kita kembali kepada Tuhan, yang kita bawa bukanlah tepuk tangan dunia atau piala-piala kristal yang berdebu.
Yang kita bawa pulang adalah Kasih.

Seberapa besar kita telah mengasihi orang-orang di sekitar kita? Seberapa dalam dampak yang kita tinggalkan di hati sesama? Nilai-nilai kehidupan yang sejati tidak ditemukan dalam kemegahan panggung, melainkan dalam ketulusan sebuah persahabatan, dalam keberanian untuk mendukung seseorang saat mereka sedang ragu, dan dalam kesetiaan untuk tetap berdiri di samping mereka saat dunia mempertanyakan kemampuan mereka.

Tuhan menciptakan kita masing-masing dengan sebuah “rancangan” yang spesifik. Dan rancangan itu jarang sekali tentang menjadi yang terhebat, melainkan tentang menjadi yang paling berdampak bagi orang lain. Sukses sejati adalah saat kita menggenapi rencana Tuhan dengan cara menyentuh hidup orang lain—memberi kekuatan bagi yang lemah, menjadi suara bagi yang bungkam, dan menjadi sahabat bagi yang kesepian.

Jangan tunggu sampai “waktu berhenti” bagi kita untuk menyadari hal ini. Mari mulai hari ini, hargai setiap hubungan yang ada. Berhentilah sejenak dari kesibukan mengejar angka, dan mulailah membangun makna. Karena saat tirai kehidupan ditutup, hanya kasih dan ketaatan kita pada rancangan Tuhan-lah yang akan terus bergema di kekekalan.

Think Eternity. Pastikan saat Anda pergi nanti, Anda meninggalkan jejak kasih yang tidak bisa dihapus oleh waktu.

“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”— Maya Angelou.

“Orang akan lupa apa yang Anda katakan, orang akan lupa apa yang Anda lakukan, tetapi orang tidak akan pernah lupa bagaimana Anda membuat mereka merasa berharga.”— Maya Angelou.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Naomi & Ruth: Saat Hidup Tidak Butuh Penolong, Tapi Penjaga Arah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Naomi & Ruth: Saat Hidup Tidak Butuh Penolong, Tapi Penjaga Arah

Ada pelajaran hidup yang tidak bisa disiapkan oleh khotbah mana pun.
Saat hidup baik, saat tuaian ada, saat segala sesuatu berjalan lancar, banyak orang hadir di sekitar kita.

Namun ketika hidup berubah…
Ketika kehilangan datang…
Ketika cerita berbelok tanpa persetujuan kita…
Barulah terlihat siapa Orpa dan siapa Ruth.

Dan di titik inilah kita mulai mengerti:
Dalam hidup, kita tidak selalu membutuhkan bantuan ekonomi.
Ada musim ketika yang kita butuhkan bukan uang.
Tetapi kehadiran.
Seseorang yang mau duduk bersama dalam pergumulan.
Berdoa bersama sebelum keputusan diambil.
Memastikan langkah yang diambil tidak sekadar logis, tetapi selaras dengan hati Tuhan.
Karena ada keputusan dalam hidup yang tidak bisa diulang.
Sekali diambil, tidak ada jalan kembali.
Kalaupun diperbaiki, situasinya sudah berubah.
Dan kadang, keputusan itu menentukan arah hidup, pelayanan, bahkan masa depan generasi.

Untuk memahami prinsip ini, kita perlu melihat kisah Naomi, Orpa, dan Ruth.
Naomi adalah seorang perempuan Israel yang hidup di Betlehem bersama suaminya, Elimelekh, dan dua anak mereka. Ketika kelaparan melanda, mereka pindah ke Moab untuk bertahan hidup.

Di Moab, kedua anak Naomi menikah dengan perempuan setempat: Orpa dan Ruth.

Namun tragedi datang.
Suaminya meninggal.
Lalu kedua anaknya juga meninggal.
Naomi kini sendirian, bersama dua menantunya di negeri asing.
Ia memutuskan pulang ke Betlehem.

Dalam perjalanan, ia berkata kepada Orpa dan Ruth agar kembali ke keluarga masing-masing.

Orpa menangis, memeluk Naomi… lalu pulang.
Ruth juga menangis… tetapi memilih tinggal.
Ia berkata:
“Ke mana engkau pergi, aku pergi.”
Ia memilih berjalan bersama Naomi menuju masa depan yang tidak pasti.

Naomi tahu musim seperti itu.
Ia meninggalkan Betlehem, rumah roti, menuju Moab karena tekanan hidup.
Moab bukan sekadar tempat.
Moab adalah musim bertahan hidup.
Musim ketika *keputusan diambil karena krisis, bukan karena panggilan.*
Yang awalnya hanya langkah sementara berubah menjadi kehilangan permanen.

Namun ada satu hal yang Moab tidak bisa ambil:
Hikmat yang Tuhan tanam dalam dirinya.
Dan bahkan di tengah kehancuran itu, Tuhan telah mulai bekerja — mempersiapkan sarana pemulihan yang tidak disadari Naomi.

Ruth tidak membawa solusi praktis.
Ia tidak membawa jaringan.
Ia tidak membawa jaminan masa depan.
Ia hanya membawa kesetiaan.
Dan keputusan.
“Ke mana engkau pergi, aku pergi.”

Itu bukan sekadar emosi.
Itu komitmen hati.
Orpa juga menangis.
Orpa juga peduli.
Namun ia kembali.

Dan dalam hidup, kita akan menemukan banyak Orpa.
Mereka tidak jahat.
Mereka peduli.
Namun mereka adalah orang musiman.
Mereka berjalan bersama selama jalan terasa nyaman.
Selama masa depan terlihat jelas.
Namun ketika keputusan menjadi berat…
Ketika arah menjadi tidak pasti…
Mereka kembali ke yang familiar.

Ruth berbeda.
Ia memilih tinggal, justru ketika masa depan Naomi tampak kosong.
Dan di sinilah kita melihat prinsip anugerah:
Pemulihan Naomi dimulai dari Tuhan.
Namun Tuhan bekerja melalui kehadiran Ruth.
Ruth bukan sumber pemulihan, tetapi sarana anugerah-Nya.
Seseorang yang tidak pergi.
Seseorang yang mau berjalan bersama sampai arah Tuhan menjadi jelas.

Dalam Rut pasal 3, kita melihat sesuatu yang dalam.
Ruth memiliki kesetiaan.
Naomi memiliki hikmat.
Naomi memberi arahan.
Ruth merespons dengan ketaatan.
Dan di titik pertemuan itulah Tuhan membuka jalan.
Kesetiaan bertemu hikmat — dan anugerah bekerja.

Dalam hidup, kita semua akan berdiri di persimpangan.
Keputusan relasi.
Keputusan pelayanan.
Keputusan arah hidup.
Dan keputusan seperti ini tidak bisa diambil sendirian.
Bukan karena manusia adalah sumber jawaban,
tetapi karena Tuhan sering memakai tubuh Kristus untuk menuntun kita.

Di saat seperti itu, kita tidak butuh seseorang yang hanya berkata:
“Yang penting kamu bahagia.”
Kita butuh seseorang yang berkata:
“Mari kita berdoa dulu.”
Seseorang yang mau berjalan bersama sampai kehendak Tuhan menjadi jelas.

Karena bukan keputusan manusia yang menentukan masa depan,
melainkan anugerah Tuhan yang bekerja melalui langkah iman.

Dari Ruth dan Boas lahir Obed.
Dari Obed lahir Isai.
Dari Isai lahir Daud.
Dan dari garis itu lahir Yesus — Penebus sejati.
Semua ini bukan sekadar hasil keputusan manusia,
tetapi karya providensi Tuhan.

Dalam hidup, kita bersyukur ketika Tuhan menghadirkan Ruth.
Bukan sebagai penyelamat,
tetapi sebagai sahabat seperjalanan dalam anugerah-Nya.
Karena pada akhirnya,
masa depan kita tidak ditentukan oleh siapa yang menyelamatkan kita,
tetapi oleh Tuhan yang menebus kita —
sering kali melalui orang yang Ia tempatkan di samping kita.

Hhhmmm…. sekarang saya paham. Bagaimana dengan Anda?


“The Christian needs another Christian who speaks God’s Word to him.” – Dietrich Bonhoeffer

“Seorang Kristen membutuhkan orang percaya lain yang menyatakan Firman Tuhan kepadanya.” – Dietrich Bonhoeffer

??YennyIndra??
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saat Fokus Bergeser, Tuhan Turun Tangan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Fokus Bergeser, Tuhan Turun Tangan.

Dalam hidup kadang kita terjebak dalam situasi, di mana kita benar-benar tidak tahu apa yang harus kita lakukan.
Maju salah dan mundur pun salah.
Diam terasa seperti kalah. Bertindak bisa memperkeruh keadaan. Membela diri berpotensi memicu konflik baru. Tidak membela diri malah membuat kita tampak lemah.

Di titik seperti itu biasanya naluri kita langsung aktif. Kita ingin meluruskan. Menjelaskan. Mengoreksi. Bahkan kalau perlu, membalas.

Karena secara manusiawi, kita ingin menang.
Namun sering tanpa sadar, fokus kita bergeser. Dari hidup benar di hadapan Tuhan, menjadi sibuk mengalahkan manusia.

Padahal di sinilah letak jebakannya.

Kita mengira kemenangan terjadi ketika lawan berhenti menyerang. Ketika nama kita dipulihkan. Ketika keadaan kembali menguntungkan.
Tetapi Kerajaan Allah bekerja dengan cara yang berbeda.

Ada satu prinsip rohani yang sangat halus namun menentukan arah hidup: ketika fokus kita bergeser dari mengalahkan musuh menjadi menyenangkan Tuhan, posisi Tuhan pun bergeser.

Ia tidak lagi hanya mengamati.
Ia mulai membela.
Sering kita berpikir Tuhan akan turun tangan ketika keadaan sudah terlalu jauh. Ketika ketidakadilan sudah memuncak. Ketika tekanan sudah tidak tertahankan.

Namun Alkitab menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Bukan tekanan yang menggerakkan Tuhan.
Keselarasanlah yang menggerakkan-Nya.
Saat hidup kita berkenan kepada-Nya, sesuatu terjadi di balik layar yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Hati yang keras bisa menjadi lunak.
Serangan bisa kehilangan momentumnya.
Rencana yang tampaknya merugikan kita bisa runtuh dengan sendirinya.

Bukan karena kita lebih pintar.
Bukan karena kita lebih kuat.
Tetapi karena kita memilih tetap benar di hadapan Tuhan ketika kesempatan untuk membalas terbuka lebar.

Daud mengerti ini.
Ia punya peluang untuk mengakhiri ancaman Saul dengan tangannya sendiri. Secara logika, itu masuk akal. Secara strategi, itu aman. Secara emosi, itu memuaskan.

Tetapi Daud memilih menyenangkan Tuhan, bukan memenangkan situasi.
Ia menahan diri.
Dan di titik itulah, Tuhan tidak lagi sekadar menyertai. Tuhan mengambil alih.

Kerajaan Saul tidak runtuh karena serangan Daud, tetapi karena hatinya sendiri yang berhenti taat kepada Tuhan

Saul akhirnya disingkirkan, bukan oleh pedang Daud, tetapi oleh tangan Tuhan.

Ini membalik cara kita memandang konflik.
Banyak pertempuran yang kita kira harus kita menangkan sendiri, sebenarnya bukan milik kita.
Ketika kita sibuk mempertahankan diri, kita tanpa sadar mengambil alih posisi yang seharusnya menjadi milik Tuhan.
Dan ketika kita mengambil alih, Tuhan seringkali mundur.
Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena kita memilih mengandalkan cara kita sendiri.

Namun saat kita memilih integritas di atas pembalasan, damai di atas reaksi, ketaatan di atas pembuktian diri, sesuatu bergeser.
Tuhan mulai bekerja dalam dimensi yang tidak bisa kita sentuh.

Kadang hasilnya bukan rekonsiliasi instan. Kadang bukan perubahan cepat pada orang lain.
Kadang bentuk pembelaan Tuhan adalah perlindungan dari sesuatu yang bahkan tidak kita sadari.

Pintu yang tertutup.
Percakapan yang batal terjadi.
Kesempatan yang hilang yang ternyata menyelamatkan kita.

Ada pertempuran yang dimenangkan bukan di depan publik, tetapi di ruang sunyi ketaatan.
Dan seringkali, damai yang Tuhan hasilkan tidak datang karena kita berhasil menenangkan situasi, tetapi karena Ia meredakan sesuatu di hati orang lain.
Atau bahkan meredakan badai di sekitar kita.
Di saat seperti ini, pertanyaan terpenting bukan lagi, “Bagaimana saya keluar sebagai pemenang?”
Tetapi, “Apakah respons saya menyenangkan Tuhan?”

Karena kemenangan sejati bukan ketika musuh berhenti menyerang, tetapi ketika hidup kita tetap selaras dengan-Nya.
Saat fokus kita berubah, dinamika rohani pun berubah.
Tuhan tidak lagi sekadar melihat dari jauh.
Ia berdiri di depan.
Membela.
Melindungi.
Mengatur hasil yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan pada akhirnya, yang menjaga hidup kita bukan kecerdikan, tetapi perkenanan-Nya.
Tetap selaras. Tetap tenang. Tetap taat.
Tuhan tahu bagaimana menangani apa yang kita tidak sanggup.

God never asks us to sacrifice what is right in order to gain what is expedient.”
– A.W. Tozer

“Tuhan tidak pernah meminta kita mengorbankan yang benar demi memperoleh yang praktis. – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Dunia Gaduh, Iman Kita Jangan Ikut Goyah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Dunia Gaduh, Iman Kita Jangan Ikut Goyah

Perang.
Rumor.
Spekulasi akhir zaman.

Beberapa hari ini timeline penuh dengan pembahasan Amerika, Israel, Iran. Video demi video muncul. Tafsiran demi tafsiran berseliweran. Ada yang yakin ini tanda terakhir. Ada yang mulai menghitung-hitung nubuatan, menghubungkan ayat dengan headline berita.

Jujur, suasananya bisa bikin hati ikut tegang.

Di tengah semua itu, sahabat saya, Ci Mei Lian, menulis di grup gereja kami di Surabaya. Pesannya sederhana dan dewasa: jangan berspekulasi tentang “ramalan” akhir zaman. Dan mari berdoa untuk perdamaian. Kasihan anak-anak dan warga sipil yang jadi korban di pihak mana pun.

Saya membaca itu, dan entah kenapa hati saya langsung tenang.
Saya setuju.
Tuhan mengasihi semua manusia…
Tidak perlu membela kanan or kiri.

Saya tidak mendalami detail eskatologi. Ada orang-orang yang memang belajar dan dipanggil khusus di bidang itu. Biarlah mereka yang membahasnya dengan bertanggung jawab. Tidak semua orang harus jadi analis akhir zaman. Dan tidak semua berita harus kita tafsirkan.

Lalu sikap saya bagaimana?
Saya kembali ke tempat yang selalu aman: Firman.

Mazmur 91 bukan ayat hiasan untuk ditempel di dinding atau dibagikan saat suasana mencekam.
Itu deklarasi posisi.

“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa, akan berkata kepada TUHAN: Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Perhatikan kata “duduk” dan “bermalam”. Itu bukan visit, kunjungan singkat. Tetapi tinggal. Itu menetap. Itu pilihan sadar untuk berada di bawah naungan-Nya, bukan di bawah bayang-bayang ketakutan.

Lanjutannya tegas sekali.
“Ia akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.”
“Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang.”

Dan ayat yang selalu mengguncang iman saya:
“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.”
“Tulah tidak akan menimpa engkau, dan malapetaka tidak akan mendekat kepada kemahmu.”

Itu bukan janji untuk orang yang panik. Itu janji untuk orang yang memilih tinggal dalam naungan-Nya.

Ada bagian Tuhan. Ada bagian kita.
Bagian Tuhan adalah melindungi, melepaskan, menjaga. Bagian kita adalah tinggal, percaya, dan terus membangun iman.

Jangan salah. Saya juga manusia. Bisa merasa khawatir. Bisa terdistraksi oleh berita. Tapi saya belajar ini: kalau hati mulai goyah, itu tanda saya perlu kembali duduk. Bukan menambah konsumsi berita, tapi menambah waktu di hadirat-Nya.

Yesus pernah berkata, “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Pertanyaannya menusuk.
Bukan: adakah Ia mendapati orang yang paling update soal geopolitik?
Bukan: adakah Ia mendapati orang yang paling jago mengaitkan berita dengan kitab Wahyu?

Tetapi: adakah Ia mendapati iman?
Iman tidak lahir dari ketakutan.
Iman tidak dibangun dari rumor.
Iman timbul dari pendengaran akan Firman.

Dan waktu kita bukan tak terbatas.
Di usia saya sekarang, saya makin sadar, energi dan fokus adalah aset rohani.

Saya bisa menghabiskan waktu untuk belajar dadakan tentang akhir zaman.
Biar keren, biar update, biar gak kalah dengan yang lainnya.
Atau saya justru memakai waktu yang ada, untuk memperkuat iman, meneguhkan hati, memperdalam persekutuan dengan Dia?

Saya memilih yang kedua.
Saya memilih duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi.
Saya memilih bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa.
Saya memilih membangun iman, bukan membangun ketakutan.

Dunia boleh gaduh.
Timeline boleh panas.
Spekulasi boleh ramai.
Tapi jiwa kita tidak harus ikut gemetar.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita bertahan bukanlah pengetahuan detail tentang kronologi akhir zaman.

Yang membuat kita kokoh adalah keyakinan sederhana namun dalam:
Tuhan adalah perlindungan kita.
Dan iman kepada-Nya adalah posisi paling aman yang bisa kita miliki, apa pun yang sedang terjadi di dunia.

Bagaimana dengan Anda?

“I’ve read the last page of the Bible. It’s all going to turn out all right.” – Billy Graham.

“Saya sudah membaca hingga halaman terakhir Alkitab. Pada akhirnya semuanya akan berakhir dengan baik.” – Billy Graham.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 8