Articles

Ego Kecil, Pintu pun Stres Menutup.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ego Kecil, Pintu pun Stres Menutup.

Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara batin, padahal pekerjaan fisik tidak seberapa?
Kita sering kali menyalahkan keadaan, menunjuk orang lain sebagai sumber stres, atau merasa beban hidup ini terlalu tidak adil.

Namun, jika kita mau jujur dan duduk tenang sejenak sambil menyeruput kopi, mungkinkah sumber kelelahan itu sebenarnya berasal dari dalam diri kita sendiri?

Saya teringat kisah seorang manajer sukses yang hampir burnout. Dia stres luar biasa karena merasa stafnya tidak becus dan kliennya terlalu menuntut.

Suatu hari, dalam sebuah sesi konseling, dia ditanya: “Apa yang paling membuatmu sakit hati?”
Jawabannya jujur, “Saya merasa mereka tidak menghargai posisi dan pengalaman saya.”

Boom!
Di situlah letak masalahnya.

Ternyata bebannya bukan pada volume pekerjaan, tapi pada upaya raksasa untuk menjaga “harga diri” agar tetap diakui. Begitu dia belajar untuk melepaskan hak untuk dihormati dan mulai melayani stafnya dengan tulus, stresnya menguap. Bebannya hilang bukan karena kliennya berubah, tapi karena egonya mengecil.

Saya pun merenungkan pesan “Mak Jleb” dari Bro Hadi Pandu, mengenai Galatia 2:20.

Dalam versi bahasa Inggris, ada satu kalimat yang sangat tajam:
“My ego is no longer central.”
Ego saya bukan lagi pusatnya.

Kalimat ini seperti pedang bermata dua yang memisahkan antara apa yang kita sebut “masalah hidup” dengan apa yang sebenarnya adalah “masalah ego.”

Why?
Karena jujur saja, sebagian besar stres yang kita alami bukan karena dunia ini terlalu jahat, tapi karena ego kita masih terlalu besar.

Kita stres karena ingin dipahami, ingin dihargai, ingin dianggap benar, dan ingin semua hasil sesuai dengan kemauan kita. Tanpa sadar, hidup kita masih berputar di sekitar: aku, aku, dan aku.

Selama “aku” masih duduk di takhta hati, damai sejahtera kita akan selalu goyah. Sering kali stres adalah alarm bahwa identitas kita belum beres. Kalau kita belum tahu siapa kita di dalam Kristus, kita akan terus hidup dari opini orang lain. Satu komentar miring bisa melukai dalam, karena kita sedang mati-matian mempertahankan ego.

Galatia 2:20 bukan sekadar ayat pajangan, ini adalah ayat eksekusi.
“Aku telah disalibkan dengan Kristus…”

artinya hidup ini bukan lagi panggung pembuktian diri saya. Tuhan tidak menyuruh kita mendidik ego jadi kudus, tapi menyuruh kita menyalibkannya.
Saat Kristus sungguh menjadi pusat, kita menjadi bebas. Kita tidak lagi haus dipuji atau hancur saat ditolak.

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita bisa tetap tenang walau tidak semua orang paham, karena hidup kita bukan lagi tentang “bagaimana saya terlihat,” tetapi tentang “siapa yang hidup di dalam saya.” Semakin aman identitas kita di dalam Kristus, semakin tenang jiwa kita.

Jadi, jangan hanya bertanya “Mengapa saya stres?”, tapi tanyalah “Bagian mana dari ego saya yang masih ingin jadi pusat?”. Kabar baiknya, “aku” yang lama itu sudah disalibkan.
Mari hidup dalam kemenangan-Nya

“More of your ego means less of your peace. The less of self, the more of God.”— Rick Warren & Charles Spurgeon.

“Semakin besar ego Anda, semakin sedikit kedamaian Anda. Semakin sedikit diri sendiri, semakin banyak Tuhan yang bekerja” — Rick Warren & Charles Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Berjumpa Dengan Teman Yang Jauh Lebih Sukses. Bagaimana Sikap Kita?
POSITIVE FRIENDS
“Apakah Kasih Itu?”