Kesaksian Itu Bukan Cerita—Itu Suara Iman…
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Kesaksian Itu Bukan Cerita—Itu Suara Iman…
Kita sering menyebutnya “kesaksian,” tapi kalau jujur, banyak yang sebenarnya hanya cerita pengalaman. Panjang di masalah, detail di penderitaan, lalu ditutup dengan satu kalimat, “Puji Tuhan, akhirnya selesai.”
Selesai, iya.
Tapi apakah itu membangun iman orang yang mendengar?
Di satu titik saya sadar, kesaksian bukan sekadar menceritakan apa yang kita alami. Kesaksian itu menyatakan siapa Tuhan di tengah situasi itu. Itu sebabnya Alkitab berkata kita mengalahkan oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian kita. (Wahyu 12:11)
Jadi jelas, kesaksian itu bukan hiburan rohani. Itu senjata.
Masalahnya, kita sering pakai “senjata” kesaksian ini dengan cara yang salah.
Kita mulai dari masalah. Lalu memperbesar masalah. Kita ceritakan semua detailnya, seolah itu bagian paling penting. Tanpa sadar, fokus berpindah. Orang yang mendengar tidak lagi melihat Tuhan, tapi tenggelam di cerita kita.
Padahal kuncinya sederhana: masalah boleh disebut, tapi jangan dibesarkan.
Kesaksian yang sehat selalu punya pusat yang jelas. Bukan kita. Bukan penderitaan kita. Tapi Tuhan.
Saya belajar, bagian paling penting dalam kesaksian bukan “apa yang terjadi,” tetapi bagaimana iman bekerja di tengah apa yang terjadi.
Firman apa yang kita pegang?
Apa yang kita pilih untuk percaya saat keadaan belum berubah?
Apa yang kita ucapkan saat realita berkata sebaliknya?
Di situlah kekuatan kesaksian.
Kalau kita hanya berkata, “Saya sembuh,” itu baik. Tapi tidak cukup. Orang perlu tahu, bagaimana kita berdiri sampai kesembuhan itu terjadi. Karena di situlah mereka menemukan jalan untuk percaya.
Hal lain yang sering tidak disadari, kita masih pakai bahasa “kebetulan.”
“Untung saja…”
“Tiba-tiba…”
Kalimat seperti ini kelihatannya ringan, tapi sebenarnya mengaburkan pekerjaan Tuhan. Kalau kita percaya Tuhan yang bekerja, katakan dengan jelas: Tuhan yang melakukan. Jangan diperkecil dengan kata-kata yang netral.
Kesaksian juga bukan untuk menakut-nakuti. Kalau orang selesai mendengar lalu merasa hidup ini berat, itu bukan tujuan kesaksian. Kesaksian harus menyalakan iman, bukan ketakutan. Harus membuat orang berkata, “Kalau Tuhan lakukan itu, berarti Tuhan juga bisa lakukan dalam hidup saya.”
Itu tanda kesaksian kita sehat.
Dan satu lagi, kita tidak perlu melebih-lebihkan. Tidak perlu dibuat dramatis supaya terlihat rohani. Kebenaran itu sendiri sudah cukup kuat. Justru kesaksian yang jujur, sederhana, tapi jelas menunjukkan peranan Firman dan iman, itu yang paling dalam dampaknya.
Supaya praktis, saya pegang pola sederhana ini dalam bersaksi:
dulu saya mengalami apa, Firman apa yang saya pegang, bagaimana saya memilih percaya, apa yang Tuhan lakukan, dan apa hasilnya sekarang. Lalu ditutup dengan satu hal yang tidak boleh hilang: semua kemuliaan hanya untuk Tuhan.
Sederhana, tapi lurus.
Akhirnya saya mengerti, kesaksian bukan tentang kita yang kuat melewati sesuatu. Kesaksian itu tentang Tuhan yang setia menepati Firman-Nya.
Kita hanya menyuarakan apa yang Dia sudah lakukan.
Dan ketika kesaksian disampaikan dengan benar, sesuatu pasti terjadi. Iman bangkit. Harapan hidup. Dan Tuhan dimuliakan.
Itulah kesaksian yang hidup. Bukan sekadar cerita, tapi suara iman yang membawa kemenangan.
“Out of 100 men, one will read the Bible, the other 99 will read the Christian.” – D.L. Moody.
“Dari 100 orang, satu membaca Alkitab, 99 lainnya membaca kehidupan orang percaya. – D.L. Moody.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan