Family Constitution: Solusi Menghadapi Perang Bratayudha dalam Keluarga.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Family Constitution: Solusi Menghadapi Perang Bratayudha dalam Keluarga.
“Kekayaan tidak bertahan sampai generasi ketiga.”
Tahukah Anda bahwa pepatah ini ternyata dikenal hampir di seluruh dunia? Di Tiongkok ada ungkapan “fù bù guò san dài”. Di Amerika dikenal dengan “Shirtsleeves to shirtsleeves in three generations.” Italia, Brasil, hingga Jepang pun memiliki pepatah yang senada.
Pesannya sama.
Generasi pertama membangun. Generasi kedua mengembangkan. Generasi ketiga… meruntuhkan.
Mitos?
Ternyata tidak.
Fenomena ini begitu sering terjadi sehingga para pakar menyebutnya Third Generation Curse. Penyebabnya bukan semata-mata karena generasi ketiga kurang pintar, tetapi karena mereka lahir dalam kenyamanan. Mereka menikmati hasil perjuangan tanpa mengalami pahitnya membangun dari nol. Ditambah lagi konflik mengenai warisan, jabatan, dan kekuasaan yang sering kali memecah keluarga.
Di salah satu slide seminar ditampilkan kutipan yang sangat mengena.
“Hard times create strong men. Strong men create good times. Good times create weak men. Weak men create hard times.”
“Masa-masa sulit membentuk manusia yang kuat. Manusia kuat menciptakan masa yang baik. Masa yang baik melahirkan manusia yang lemah. Dan manusia yang lemah kembali menciptakan masa yang sulit.”
Kalimat sederhana, tetapi menjelaskan mengapa banyak perusahaan keluarga gagal melewati generasi ketiga.
Itulah sebabnya P. Indra dan saya rela terbang ke Surabaya mengikuti Family Constitution Workshop. Saya percaya satu hal, segala sesuatu ada ilmunya. Kalau kita rela belajar membangun perusahaan, mengapa kita tidak belajar mempertahankannya?
Workshop dipandu oleh P. Dahlan Iskan dengan gaya khasnya yang santai, tajam, dan penuh humor. Beliau tidak sekadar menjadi moderator, tetapi menggali pengalaman para narasumber melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang sering kali menghasilkan jawaban-jawaban yang jauh lebih berharga daripada teori. Tidak lupa, beliau juga berbagi pengalamannya yang berharga.
Narasumber pertama adalah P. Bambang Sutantio, Founder & President Commissioner Cimory Group.
Yang membuat saya terkesan, beliau memilih mundur ketika masih berusia sekitar enam puluhan. Saat tubuh masih sehat, pikiran masih tajam, dan energi masih sangat produktif.
Operasional perusahaan benar-benar diserahkan kepada anak-anaknya. Masing-masing memimpin perusahaan yang berbeda sesuai bidangnya, sementara kepemilikan saham dibuat saling silang (cross shareholding). Dengan cara itu mereka tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi memiliki kepentingan yang sama untuk melihat seluruh grup terus bertumbuh.
Lalu P. Dahlan bertanya, “Kapan waktu terbaik untuk mundur?”
Jawaban P. Bambang sangat singkat.
“As soon as possible.”
Awalnya terdengar ekstrem.
Namun penjelasannya sangat masuk akal. Bila orang tua baru melepaskan kendali ketika kesehatan mulai menurun atau kemampuan berpikir berkurang, anak-anak sering kali sudah kehilangan respek terhadap keputusan-keputusannya.
Sebaliknya, ketika mundur saat masih kuat, orang tua dapat berubah peran menjadi mentor. Anak-anak diberi ruang untuk memimpin, sementara orang tua tetap mendampingi.
Yang menarik, pensiun bukan berarti berhenti berkarya. P. Bambang justru memiliki lebih banyak waktu memikirkan strategi jangka panjang, membeli startup yang potensial, atau bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lama yang membutuhkan transformasi. Beliau tidak mengalami power syndrome. Beliau hanya naik ke level peran yang berbeda.
Materi berikutnya dibawakan *Dr. Hadi Cahyadi* mengenai Family Constitution.
Sebelumnya saya mengira *Family Constitution* hanyalah dokumen berisi aturan keluarga.
Ternyata saya salah.
Yang paling penting bukan dokumennya, melainkan proses penyusunannya.
Seluruh anggota keluarga duduk bersama, belajar saling mendengar, menyampaikan harapan, membahas potensi konflik, lalu menyepakati aturan sebelum masalah benar-benar terjadi.
Dr. Hadi menjelaskan hubungan antara keluarga, kepemilikan, dan bisnis. Konflik biasanya muncul ketika seseorang memegang lebih dari satu peran. Karena itu hak, kewajiban, kompensasi, dividen, hingga mekanisme suksesi harus disepakati dengan jelas.
Siapa boleh menjadi CEO?
Bukan karena ia anak sulung atau anak favorit.
Tetapi karena memenuhi kompetensi yang telah disepakati bersama, bahkan bila perlu dinilai oleh pihak independen.
Mau mendapatkan lebih?
Silakan.
Tetapi harus melalui performance, bukan hubungan darah.
Saya juga menyukai konsep 5R yang dijelaskan Dr. Hadi.
Konflik selalu dimulai dari Resah, lalu menjadi Risih, berkembang menjadi Ribut, berlanjut Rebutan, dan akhirnya Rusak-rusakan.
Artinya, waktu terbaik menyusun Family Constitution justru ketika keluarga baru mulai merasa “resah”, bukan ketika sudah saling berebut.
Beliau juga memperkenalkan konsep PHC: Parenting to Equip, Harmonizing to Prosper, dan Collaborating to Endure.
Anak dipersiapkan sejak dini, keluarga dijaga tetap harmonis, dan perusahaan dibangun bersama para profesional agar mampu bertahan lintas generasi.
Dan PHC sesungguhnya singkatan lain Profesor Hadi Cahyadi…. hahaha… kreatifnya!
Sesi terakhir bersama P. Antonius Tanan, anak didik sekaligus tangan kanan Alm. P. Ciputra, membuka wawasan saya tentang *Tacit Knowledge.*
Menurut P. Anton, Pak Ci memiliki kemampuan yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Saat melihat sebidang tanah, beliau tidak sekadar melihat hamparan kosong.
*Beliau “mencium bau tanahnya”.*
Dari “bau” itulah Pak Ci seolah dapat membaca masa depan. Di tempat yang bagi orang lain hanyalah semak belukar atau lahan tidur, beliau sudah melihat jalan raya, kawasan bisnis, sekolah, rumah sakit, bahkan sebuah kota baru. BSD & PIK, contohnya.
Kemampuan itu bukan sihir.
Itulah yang disebut Tacit Knowledge, pengetahuan yang dibentuk oleh pengalaman puluhan tahun, intuisi, keberhasilan, kegagalan, dan ribuan keputusan yang pernah diambil.
Tetapi muncul satu persoalan.
Bagaimana jika semua pengetahuan berharga itu hanya tersimpan di kepala sang pendiri?
Karena itulah P. Anton menjelaskan pentingnya externalization, yaitu mengubah Tacit Knowledge menjadi pengetahuan yang terdokumentasi sehingga dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Namun beliau mengingatkan bahwa Tacit Knowledge tidak dapat diwariskan hanya melalui buku atau SOP. Ia harus ditransfer melalui pendampingan. Anak-anak perlu diajak mengikuti rapat-rapat penting, dilibatkan saat menghadapi persoalan besar, menyaksikan bagaimana orang tua mengambil keputusan sulit, bernegosiasi, menghadapi krisis, bahkan belajar dari kegagalan. Di situlah intuisi bisnis dibentuk.
Saya langsung teringat pada apa yang dilakukan P. Bambang Sutantio. Beliau tidak sekadar menyerahkan jabatan kepada anak-anaknya, tetapi jauh sebelumnya telah mempercayakan setiap anak memimpin sebuah perusahaan sambil terus mendampingi mereka sebagai mentor. Dengan cara itulah Tacit Knowledge perlahan berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Saat itulah saya menyadari bahwa Family Constitution sesungguhnya merupakan salah satu bentuk externalization. Nilai-nilai keluarga yang selama puluhan tahun hanya hidup di kepala dan hati pendiri akhirnya dituangkan menjadi kesepakatan yang dipahami seluruh anggota keluarga. Bukan sekadar mewariskan aset, tetapi mewariskan cara berpikir.
Saya terus memikirkan satu hal.
Selama ini banyak orang sibuk mempersiapkan warisan, tetapi sangat sedikit yang mempersiapkan hubungan. Kita menulis wasiat, tetapi sering lupa mewariskan nilai, karakter, dan hikmat yang membuat keluarga tetap utuh.
Mungkin itulah makna terdalam dari Family Constitution.
Bukan sekadar mengatur siapa memperoleh apa, melainkan menjaga agar kasih, kepercayaan, dan visi keluarga tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena perusahaan bisa dibangun kembali. Tetapi keluarga yang hancur akibat “perang Bratayudha” memperebutkan warisan sering kali tidak pernah benar-benar pulih. Dan mungkin, warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua bukanlah kekayaan, melainkan keluarga yang tetap utuh.
*”What you leave behind is not what is engraved in stone monuments, but what is woven into the lives of others.” – Pericles.*
*”Warisan sejati bukanlah apa yang terukir pada monumen batu, melainkan apa yang teranyam ke dalam kehidupan orang lain.”- Pericles.*
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur
“Families stay strong when wisdom is shared before wealth is divided.”
“Keluarga tetap kuat ketika hikmat diwariskan sebelum harta dibagikan.” – YennyIndra
