Articles

Xi’an: Sehari Melompat Menembus Ribuan Tahun….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Xi’an: Sehari Melompat Menembus Ribuan Tahun….

Kemarin kami masih berada di Qinghai, memakai jaket, ditemani hujan dan udara dingin.
Hari ini?

Welcome to Xi’an!

Matahari bersinar terang dan suhu siang mencapai 31°C.
Panas!

Katanya musim panas di Xi’an suhu bisa menembus 40°C, sementara musim dinginnya bisa bersalju.
Benar-benar ekstrem.

Tetapi justru di bawah matahari yang menyengat itu, kami mulai menjelajahi salah satu kota paling bersejarah di Tiongkok.

Xi’an dahulu dikenal sebagai Chang’an dan pernah menjadi ibu kota bagi 13 dinasti Tiongkok selama lebih dari seribu tahun. Letaknya strategis, dikelilingi pegunungan dan kawasan sungai, sekaligus menjadi salah satu titik penting Jalur Sutra.

Tidak heran sejarah ada di mana-mana.
Perhentian pertama kami adalah Xi’an City Wall.

Tembok kota yang kita lihat sekarang sebagian besar berasal dari Dinasti Ming, dibangun pada abad ke-14. Kelilingnya hampir 14 kilometer, tingginya sekitar 12 meter, dan termasuk tembok kota kuno yang paling lengkap terpelihara di Tiongkok.

Bayangkan…

Sudah berdiri sekitar 650 tahun!

Gerbangnya besar dengan pintu merah bertabur paku-paku keemasan. Berdiri di bawahnya membuat manusia terasa kecil sekali.

Malam hari katanya lebih cantik lagi karena seluruh tembok diterangi lampu.

Xi’an memang seperti kota yang masa lalunya tidak pernah benar-benar pergi.

Dari peninggalan Dinasti Ming, kami melompat mundur lebih jauh lagi…

Lebih dari dua ribu tahun!

Kami menuju Terracotta Warriors, pasukan tanah liat yang dibuat untuk menjaga makam Qin Shi Huang, kaisar pertama yang mempersatukan Tiongkok.

Yang membuat ceritanya semakin menarik, penemuan luar biasa ini terjadi secara tidak sengaja.

Tahun 1974, beberapa petani sedang menggali sumur.
Mereka bukan sedang mencari benda purbakala.
Bukan arkeolog.
Cuma mau mencari air.
Eh… malah menemukan salah satu penemuan arkeologi terbesar abad ke-20.

Ha… ha….

Ketika masuk ke dalam bangunan besar yang menaungi Pit No. 1, barulah saya memahami skalanya.

Wow!

Barisan demi barisan prajurit berdiri di depan kami.

Bukan puluhan.

Ribuan!

Ada prajurit infanteri, pemanah, perwira, kuda dan kereta perang. Menariknya, wajah mereka tidak terlihat persis sama. Bentuk rambut, ekspresi, pakaian dan detailnya berbeda-beda.

Seperti sebuah pasukan sungguhan yang tiba-tiba membeku selama lebih dari dua ribu tahun. Konon patung-patung itu replika prajurit sungguhan.

Dan ternyata Terracotta Warriors hanyalah sebagian dari proyek makam Qin Shi Huang.

Kompleks makamnya membentang sekitar 56 kilometer persegi.

Lebih mencengangkan lagi, makam utama sang kaisar hingga sekarang belum dibuka sepenuhnya.

Catatan sejarawan Tiongkok kuno, Sima Qian, menceritakan adanya sungai dan lautan yang dibuat dari merkuri di dalam makam. Penelitian modern memang menemukan kadar merkuri yang tidak biasa di kawasan tersebut.

Misterius ya….

Dua ribu tahun berlalu dan manusia modern masih belum mengetahui seluruh rahasia yang terkubur di sana.

Ada pula cerita terkenal bahwa senjata-senjata perunggu yang ditemukan tetap terawat karena teknologi chromium coating yang sangat maju.

Ternyata penelitian modern mengoreksi teori tersebut. Kondisi tanah dan komposisi perunggunya kemungkinan jauh lebih berperan daripada teknologi pelapisan krom yang sengaja dibuat.

Menarik.

Sejarah pun kadang harus bersedia dikoreksi ketika bukti baru ditemukan.

Setelah melihat pasukan Terracotta, kami melanjutkan ke area taman makam kaisar.

Suasananya berubah total.

Dari ribuan prajurit tanah liat menjadi taman hijau yang tenang.

Pohon-pohon Yangliu menjuntai sampai hampir menyentuh air. Ada jembatan merah melengkung, gunung hijau di belakangnya, dan semuanya terpantul begitu jernih di permukaan kolam.

Cantik sekali!

Ada pula ayunan besar yang dihiasi bunga-bunga merah.

Ya sudah…

Foto lagi!

Wkwkwk….

Namanya juga traveling. Sejarah dapat, foto juga jangan sampai ketinggalan.

Tetapi perjalanan menembus waktu kami ternyata belum selesai.

Malamnya kami menonton Ancient City Beacon, sebuah pertunjukan kolosal yang membawa penonton ke masa pergolakan Tiongkok sekitar tahun 1935.

Terus terang saya tidak memahami seluruh ceritanya.

Lha wong dialognya Mandarin….

Ha… ha….

Secara singkat kisahnya tentang Zhao Yunfeng, seorang pemuda yang mengalami tragedi keluarga, kemudian terlibat dalam perlawanan terhadap penindasan di tengah masa Tiongkok yang penuh pergolakan.

Tetapi meski tidak memahami setiap dialog, pertunjukannya tetap spektakuler.

Yang paling unik, kursi penontonnya bisa berputar mengikuti perpindahan adegan.

Jadi bukan sekadar panggung yang berubah.

Kami yang ikut “dibawa” menuju setting berikutnya.

Ada peperangan, ledakan, kereta, pesawat, efek air, bahkan anjing dan unta sungguhan muncul dalam pertunjukan.

Rasanya seperti berada di dalam film.

Barulah ketika perjalanan hari itu selesai saya menyadari sesuatu.

Pagi kami berdiri di atas tembok kota berusia sekitar 650 tahun.

Siang kami berhadapan dengan pasukan yang dibuat lebih dari 2.000 tahun lalu.

Malam kami “dipindahkan” ke Tiongkok tahun 1935.

Dalam satu hari, Xi’an membawa kami melompat-lompat menembus zaman.

Dan mungkin itulah daya tarik terbesar kota ini.

Xi’an tidak hanya menyimpan sejarah di museum.

Sejarahnya masih berdiri dalam tembok-temboknya, terkubur di bawah tanahnya, hidup dalam taman-tamannya, bahkan dipentaskan kembali di atas panggung.

Dua ribu tahun lalu manusia membangun sesuatu yang mereka pikir akan menemani seorang kaisar menuju keabadian.

Hari ini sang kaisar telah lama tiada.

Tetapi karya tangan manusia yang ditinggalkannya justru membuat jutaan orang dari seluruh dunia datang untuk melihatnya.

Waktu memang berlalu, tetapi jejak yang kita tinggalkan bisa berbicara jauh lebih lama daripada umur kita sendiri.

Dan perjalanan Xi’an kami…
masih belum selesai. 🙂

“What we do now echoes in eternity.” – Marcus Aurelius.

“Apa yang kita lakukan sekarang bergema hingga kekekalan.” – Marcus Aurelius.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Sejarah mengajarkan satu hal yang tidak disukai ego: sehebat apa pun seseorang pada zamannya, suatu hari ia akan menjadi cerita. Pertanyaannya, cerita seperti apa?”

“History teaches the ego an uncomfortable truth: no matter how great someone is in their time, one day they will become a story. The question is, what kind of story?”
– Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
2022… Here We Go!
Living In God’s Best
Berangkat Sebagai Narapidana, Pulang Jadi Penguasa. Apa Rahasianya?