Articles

Ketika Yesus Menjadi Nyata di Tengah Hujan…


Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Yesus Menjadi Nyata di Tengah Hujan…

“I will let Myself be clearly seen by him and make Myself real to him.”
Yohanes 14:21 ( AMPC).

Beberapa hari ini saya terus terpikat pada satu frasa:

“Make Myself real to him.”

Yesus ingin menjadi nyata bagi kita.

Dulu mungkin saya membayangkan Tuhan menjadi nyata ketika doa dijawab persis seperti yang saya inginkan.

Ternyata tidak selalu demikian.

Perjalanan ke Chaka Salt Lake dan Qinghai Lake memberi saya pelajaran sederhana.

Saat hendak ke Chaka, saya berdoa agar tidak hujan.

Mengapa?

Karena Chaka terkenal sebagai Mirror of the Sky. Ada lapisan air tipis di atas hamparan garam yang memantulkan langit seperti cermin. Kalau hujan, tentu pengalaman dan fotonya berbeda.

Saya sudah berdoa.

Setelah itu saya memilih berhenti memikirkannya.

Beberapa teman masih berkata,

“Semoga nggak hujan ya…”

“Kalau hujan bagaimana?”

Saya pikir, sudah berdoa, ya sudah.

Bukan berarti Tuhan harus mengikuti keinginan saya.

Saya hanya percaya Dia mengasihi saya. Apa pun hasilnya, saya akan tetap menikmati perjalanan.

Dan ternyata…
Cuaca Chaka bagus!

Kami mendapatkan foto-foto dengan pantulan yang cantik.
Puji Tuhan.

Doa dijawab sesuai keinginan.
Senang?
Tentu!

Lalu perjalanan berlanjut ke Qinghai Lake dan keesokan harinya, Kanbula Forest Park.

Dan…
Hujan.
Ha… ha….

Kali ini tidak berhenti.
Foto pun tidak bisa sebanyak yang kami harapkan.

Sehebat apa pun manusia, ternyata ada wilayah-wilayah kehidupan di mana kita harus mengakui:

Kita bukan Tuhan.

Manusia bisa membangun kereta supercepat, membuat jalan menembus pegunungan, menciptakan teknologi luar biasa.
Tetapi kita tidak bisa memerintah awan sesuka hati.

Pertanyaannya kemudian:
Apakah sukacita saya ikut berhenti karena hujan tidak berhenti?

Nah, justru di sinilah Yohanes 14:21 terasa semakin nyata.

Mungkin “make Myself real to him” bukan hanya ketika Tuhan memberikan apa yang saya minta.

Kadang Yesus justru menjadi sangat nyata ketika keadaan tidak sesuai keinginan, tetapi saya menemukan sesuatu di dalam hati saya sudah berubah.

Dulu mungkin kecewa.
Ngomel.
Sudah jauh-jauh datang ke sini, kok malah hujan?
Sekarang?
Dibawa happy saja.

Kami tetap menikmati perjalanan.
Lihat-lihat ke sekeliling.

Eh… ada bunga-bunga cantik.
Jepret!
Cakep juga.
Ha… ha….

Saya belajar, kita tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi di luar, tetapi kita tidak perlu menyerahkan remote control hati kita kepada keadaan.

Inilah yang dikatakan Kolose 3:15:
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu…”

Perhatikan kata memerintah.

Berarti bukan cuaca yang memerintah.
Bukan komentar orang.
Bukan keadaan bisnis.
Bukan perubahan rencana.
Bukan pula apakah doa kita dijawab persis seperti keinginan kita.

Damai Kristus yang memerintah.

Paulus berkata dalam Filipi 4 bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Saya suka kata belajar.

Artinya kedewasaan tidak otomatis terjadi.

Kita berlatih.
Hari ini cuaca.
Besok mungkin bisnis.
Lain kali hubungan.
Atau rencana yang tiba-tiba berubah.

Setiap kesempatan menjadi tempat kita belajar:
Apakah keadaan mengendalikan hati saya, atau Kristus yang memerintah di sana?

Dan saya mulai melihat sesuatu yang lebih dalam.

Di Chaka, saya mengenal kebaikan Tuhan ketika hujan berhenti.

Di Qinghai & Kanbula, saya juga dapat mengenal kebaikan Tuhan ketika hujan tetap turun.

Wow.

*Ternyata kebaikan Tuhan tidak berubah mengikuti cuaca.*

Kalau iman kita hanya bersukacita ketika keadaan sesuai doa, kita akan mudah naik turun.

Tetapi ketika kita mengenal Pribadi-Nya, kita bisa berkata:
Saya suka kalau hujannya berhenti.
Kalau tetap hujan?
Tuhan tetap baik.
Mari kita cari bunga cantik!

Ha… ha….

Why?
Saya mengenal karakter Bapa saya yang mengasihi saya tanpa syarat. Meski saya tidak tahu alasannya, saya percaya kepada-Nya: kebaikan-Nya, pertimbangan-Nya dan pilihan-Nya.

Tidak perlu saya mencari alasan yang rohani yang masuk akal.
Tidak semua dalam hidup bisa kita pahami dengan otak kita yang hanya sebesar kacang – “Your Peanut Brain”, kata Greg Mohr, guru saya.

Mungkin inilah salah satu bentuk *distinction* yang sesungguhnya.

Bukan tampil berbeda supaya orang kagum.

Tetapi begitu mengenal Kristus sehingga ketika cuaca kehidupan berubah, sesuatu dari Kristus tetap terlihat melalui kita.

Damai-Nya.
Sukacita-Nya.
Kemampuan menikmati kehidupan.
Rasa syukur.
Dan ketenangan yang tidak mudah dicuri keadaan.

Jesus makes Himself real to us, bukan hanya melalui mukjizat yang mengubah keadaan, tetapi juga melalui transformasi yang mengubah cara kita menjalani keadaan.

Akhirnya saya belajar:

Mukjizat bukan hanya ketika hujan berhenti. Kadang mukjizat yang lebih dalam adalah ketika hujan tetap turun, tetapi sukacita kita tidak ikut hanyut bersamanya.

Damai Kristus memerintah hatiku.

Hujan atau cerah…

He is here. And I am okay.

“You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – St. Augustine

“Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan tenang sampai menemukan ketenangannya di dalam-Mu.” – St. Augustine.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

*”Yesus menjadi nyata bukan hanya ketika Dia mengubah apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi ketika kehadiran-Nya mengubah apa yang terjadi di dalam kita.”*

*”Jesus becomes real not only when He changes what happens around us, but when His presence changes what happens within us.” – Yenny Indra*

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Bom Bisa Menghancurkan Kota, Kasih Tuhan Mengubah Hati
The purpose of prayer
Rhema Part 9 – Arti Menjadi Ciptaan Baru….