Articles

Jangan Lupakan Tangan yang Pernah Menolong…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Lupakan Tangan yang Pernah Menolong…

Saya percaya sepenuhnya bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang baik dalam kehidupan kita.

Pertolongan datang dari Tuhan. Hikmat berasal dari-Nya. Kesempatan dibukakan-Nya. Bahkan orang-orang yang hadir tepat pada waktunya dalam kehidupan kita pun sering kali merupakan bagian dari cara Tuhan menjawab kebutuhan kita.

Tetapi ada satu hal yang mengusik hati saya.

Kadang dengan alasan, “Semua karena Tuhan, manusia hanya alat,” tanpa sadar kita menjadi begitu rohani sampai lupa menghargai alat yang Tuhan pakai.

Memang benar, manusia hanyalah alat.

Tetapi alat itu punya nama. Punya hati. Punya waktu yang dikorbankan. Punya kebaikan yang layak dihargai.

Mengakui jasa seseorang tidak pernah mengurangi kemuliaan Tuhan.

Justru menurut saya, salah satu bentuk ucapan syukur kepada Tuhan adalah menghargai orang yang dipakai-Nya untuk menolong kita.

Saya teringat pengalaman keluarga kami.

Selama lebih dari dua tahun, kami direpotkan oleh urticaria. Bagi orang yang tidak pernah mengalaminya mungkin terdengar sederhana, hanya alergi atau gatal-gatal.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ketika terus berulang, sulit diketahui pemicunya, dan mengganggu aktivitas sehari-hari, urticaria benar-benar memengaruhi kualitas hidup. Kami mencoba mencari solusi, tetapi persoalan itu terus datang dan pergi.

Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kami dengan Dr. Jusuf.

Melalui pengetahuan, pengalaman, dan penanganannya, perlahan kami menemukan solusi. Urticaria itu akhirnya dapat dikendalikan.

Bagi orang lain mungkin biasa saja.

Bagi kami, itu sangat berarti.

Hidup menjadi jauh lebih nyaman. Tidak lagi terus-menerus direpotkan oleh persoalan yang sama. Kualitas hidup kami berubah.

Apakah saya percaya Dr. Jusuf yang menjadi sumber kesembuhan kami?

Tentu tidak.

Tuhanlah sumbernya.

Tetapi Tuhan memakai seseorang yang mempunyai ilmu, pengalaman, perhatian, dan kemampuan untuk menjadi jawaban bagi kebutuhan kami.

Karena itu dengan bercanda sekaligus sungguh-sungguh, saya sering menjulukinya “malaikat” yang Tuhan kirimkan kepada kami.

Dan setelah persoalan selesai, saya tidak ingin kemudian melupakan orangnya.

Hubungan baik tetap kami pelihara dengan Dr. Jusuf dan keluarganya. Kalau ada sesuatu yang dapat saya lakukan atau bagikan untuk menjadi kebaikan bagi mereka, saya ingin memperhatikannya.

Bukan untuk membayar utang.

Kebaikan sejati memang tidak selalu dapat dibayar.

Tetapi kebaikan dapat diingat.

Saya tidak ingin take it for granted.

Ada orang yang begitu membutuhkan kita ketika sedang kesulitan, tetapi setelah keadaan membaik, orang-orang yang pernah menolong perlahan menghilang dari ingatannya.

Sayang sekali.

Tuhan memang dapat memakai siapa saja. Hari ini A, besok B. Tetapi kenyataan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja tidak membuat orang yang sungguh-sungguh telah dipakai-Nya menjadi tidak berarti.

Daud tidak melupakan kebaikan Yonatan. Bertahun-tahun setelah Yonatan meninggal, Daud bertanya,

“Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.”

Lalu Mefiboset menerima kebaikan yang sebenarnya berakar dari hubungan yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.

Saya belajar, orang yang tahu berterima kasih sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sopan santun. Ia sedang membangun karakter dan hubungan.

Hidup ini panjang.

Kita tidak pernah tahu kapan jalan kita akan kembali bersinggungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan kita.

Karena itu saya percaya, mengingat kebaikan orang lain seperti menggelar karpet merah di sepanjang perjalanan kehidupan.

Bukan formula supaya hidup bebas masalah.

Bukan pula transaksi: saya baik supaya suatu hari dibalas.

Tetapi orang yang menghargai kebaikan, menjaga hubungan, dan tidak mudah melupakan pertolongan orang lain biasanya tidak meninggalkan jembatan-jembatan yang terbakar di belakangnya.

Tuhan adalah sumbernya.

Manusia memang alat-Nya.

Tetapi ketika Tuhan memilih sebuah tangan untuk menolong kita, jangan hanya bersyukur kepada Tuhan lalu melupakan tangan itu.

Hargai.

Ingat kebaikannya.

Jaga hubungan jika memungkinkan.

Dan ketika suatu hari kita berada pada posisi untuk menjadi “alat” Tuhan bagi orang lain, lakukan hal yang sama.

Karena kehidupan yang indah bukan hanya dibangun oleh berkat yang kita terima, tetapi juga oleh kebaikan yang tidak kita lupakan.


“Feeling gratitude and not expressing it is like wrapping a present and not giving it.” – William Arthur Ward.

“Merasakan syukur tetapi tidak mengungkapkannya seperti membungkus sebuah hadiah tetapi tidak pernah memberikannya.- – William Arthur Ward.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

Tuhan adalah sumbernya, tetapi jangan lupakan tangan yang dipakai-Nya untuk menolongmu. Hati yang tahu berterima kasih tidak pernah kehilangan kemuliaannya.

God is the source, but never forget the hands He chose to help you. A grateful heart never loses its nobility. – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
PROAKTIF
Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.
Pewahyuan atau Peniruan?”