Mengejar Bayangan atau Menemukan Sumbernya?
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Mengejar Bayangan atau Menemukan Sumbernya?
?Pernahkah Anda merasa seperti sedang mengejar bayangan? Kita berlari begitu kencang mengejar sesuatu yang kita sebut kebahagiaan, namun sering kali saat kita merasa hampir menyentuhnya, ia justru menjauh.
Dunia modern hari ini seolah-olah memaksa kita untuk percaya bahwa kebahagiaan adalah sebuah garis finish yang hanya bisa dicapai melalui pencapaian materi, pengakuan, atau kenyamanan hidup yang maksimal.
Kita terjebak dalam siklus “nanti kalau”: nanti kalau sudah punya rumah, nanti kalau anak-anak sudah lulus, nanti kalau tabungan sudah cukup, baru saya akan bahagia. Tapi jujur saja, apakah setelah semua itu tercapai, hati kita benar-benar merasa penuh?
?Saya merenungkan apa yang ditulis oleh Billy Graham dalam Hope For Each Day, sebuah pesan yang sangat sederhana namun menusuk kesadaran kita semua.
Billy mengingatkan bahwa kebahagiaan itu sebenarnya bukan tujuan utama, melainkan sebuah produk sampingan.
Bayangkan sebuah bunga; keindahannya merupakan hasil dari akar yang sehat dan tanah yang subur.
Tanpa sadar, kita sering kali sibuk menyemprot parfum pada kelopak bunga yang layu, padahal yang bermasalah adalah akarnya.
Akar dari segala kedamaian dan kebahagiaan sejati itu sebenarnya sudah dibocorkan rahasianya oleh Yesus ribuan tahun yang lalu dalam
Matius 6:33.
?”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Ayat ini mungkin sudah sangat sering kita dengar, bahkan mungkin sudah kita hafal luar kepala sejak sekolah minggu. Namun, seberapa dalam kita benar-benar menghidupinya?
Sering kali kita membalik urutannya. Kita mencari “semuanya itu” terlebih dahulu—mencari kecukupan, mencari keamanan, mencari kesuksesan—dan kalau masih ada waktu sisa, baru kita mencari Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan seperti ban serep yang hanya dicari saat ban utama kita bocor di tengah jalan. Padahal, kuncinya justru Think Eternity, berpikir dalam perspektif kekekalan.
?Berpikir tentang kekekalan bukan berarti kita menjadi orang yang tidak membumi atau tidak peduli dengan urusan dunia. Justru sebaliknya, dengan mata yang tertuju pada kekekalan, kita menjadi pribadi yang paling tenang di tengah badai dunia.
Why?
Karena kita tahu siapa yang memegang masa depan kita.
Mencari Kerajaan Allah berarti kita menyerahkan tongkat estafet hidup kita kepada Sang Raja. Kita berhenti mencoba menjadi “tuhan” atas hidup kita sendiri. Kita menyerahkan segala kekhawatiran tentang hari esok, tentang apa yang akan kita makan atau pakai, karena kita sadar, seorang ‘anak raja’ tidak akan pernah pusing memikirkan apa yang akan dia makan di istana ayahnya.
?Saya belajar bahwa kunci praktis dari gaya hidup ini adalah penyerahan diri tanpa syarat setiap hari.
Bukan hanya saat hari Minggu di gereja, tapi saat kita menghadapi macetnya jalanan, saat menghadapi rekan kerja yang menyebalkan, atau saat melihat saldo tabungan yang menipis.
Dalam setiap momen itu, kita punya pilihan: apakah saya mau mengandalkan kekuatan saya sendiri (yang sangat terbatas ini) atau saya mau tunduk pada otoritas Kristus sebagai Raja?
Saat kita memilih untuk mendahulukan kebenaran-Nya—memilih untuk tetap jujur saat orang lain curang, memilih untuk mengampuni saat hati disakiti, memilih untuk memberi saat kita sendiri kekurangan—di situlah sebenarnya kita sedang membangun Kerajaan Allah di dalam hati kita.
?Dan tahukah Anda apa yang luar biasa? Saat kita sibuk mengurus bagian kita, yaitu mencari wajah-Nya dan melakukan kehendak-Nya, Tuhan dengan penuh kasih setia akan mengurus bagian kita yang lainnya. Dia “menambahkan” kebahagiaan itu tanpa perlu kita kejar-kejar sampai kelelahan.
Kebahagiaan itu datang menyelinap masuk ke dalam hati kita dalam bentuk damai sejahtera yang melampaui segala akal.
Kita jadi mengerti bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi tentang seberapa dekat kita berjalan bersama Sang Raja.
?Mari kita mulai hari ini dengan perspektif yang baru. Mari kita berhenti berlari mengejar bayangan kebahagiaan yang semu. Kembalilah pada prioritas yang utama. Fokuslah pada kekekalan, fokuslah pada Kerajaan-Nya.
Biarkan Yesus benar-benar menjadi Raja atas setiap detik hidup kita. Ketika fokus kita benar, maka seluruh hidup kita akan mengikuti arah yang benar.
Percayalah, saat kita menempatkan Tuhan di tempat yang utama, Dia tidak akan pernah menempatkan kita di tempat yang terakhir. Kebahagiaan sejati itu sudah ada di sana, menunggu kita di dalam ketaatan dan penyerahan diri yang tulus kepada-Nya. Tetap semangat dan teruslah menginspirasi di dalam kasih-Nya!
“Happiness is not a destination, it is a byproduct of a life lived in harmony with God.”— Billy Graham.
“Kebahagiaan bukanlah sebuah tujuan, ia adalah produk sampingan dari hidup yang selaras dengan Tuhan.”— Billy Graham.
?YennyIndra
www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan