Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Iman Dimulai Sebelum Bukti Muncul.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Iman Dimulai Sebelum Bukti Muncul.

Ada musim-musim dalam hidup yang terasa membingungkan. Kita sudah berdoa, sudah berusaha, bahkan merasa telah melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya belum juga terlihat. Pintu yang kita harapkan terbuka ternyata masih tertutup. Jawaban yang kita nantikan belum juga datang. Bahkan terkadang keadaan justru tampak semakin tidak masuk akal.

Saat berada di musim seperti itu, biasanya pikiran kita mulai bekerja lembur. Muncul berbagai pertanyaan yang melemahkan hati. “Bagaimana kalau gagal?” “Bagaimana kalau semua ini sia-sia?” “Bagaimana kalau Tuhan tidak menjawab doa saya?” Tanpa sadar, pikiran berubah menjadi mesin pencari masalah. Sedikit saja ada berita buruk, kita langsung menghubungkannya dengan keadaan kita. Sedikit hambatan membuat kita merasa semuanya akan berakhir buruk.

Padahal sering kali yang berubah bukanlah keadaan, melainkan cara kita memandang keadaan.

Saya pernah membaca sebuah penjelasan menarik tentang cara kerja otak. Ketika seseorang memutuskan untuk percaya bahwa sesuatu akan berhasil, otaknya mulai mencari berbagai bukti yang mendukung keyakinan itu. Sebaliknya, ketika seseorang sudah yakin bahwa semuanya akan gagal, otaknya juga akan bekerja keras menemukan alasan mengapa kegagalan itu pasti terjadi. Otaknya sama. Dunianya sama. Yang berbeda hanyalah apa yang dipilih untuk dipercaya.

Prinsip ini sebenarnya sudah lama diajarkan dalam Firman Tuhan. Apa yang terus memenuhi pikiran kita perlahan akan membentuk cara kita memandang kehidupan, lalu memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil.

Karena itu saya belajar bahwa iman bukanlah menutup mata terhadap kenyataan. Iman adalah memilih melihat kenyataan dari sudut pandang Tuhan.

Abraham menjadi teladan yang indah. Secara manusia hampir tidak ada alasan baginya untuk tetap berharap. Usianya sudah lanjut, tubuhnya semakin lemah, dan janji Tuhan belum juga digenapi. Namun ia memilih tetap percaya. Ia tidak menunggu bukti baru untuk mulai percaya. Ia lebih dahulu mengambil keputusan untuk percaya, lalu tetap berdiri di atas keputusan itu.

Sering kali kita justru melakukan kebalikannya. Kita berkata, “Kalau nanti saya melihat hasilnya, baru saya percaya.” Padahal iman berkata, “Saya percaya, karena itu saya akan melihat.”

Dalam perjalanan hidup, saya beberapa kali mengalami hal yang sama. Ketika sedang berada di tengah proses, saya bertanya-tanya, “Tuhan, sebenarnya Engkau sedang mengerjakan apa?” Jawabannya tidak selalu datang saat itu juga. Namun ketika menoleh ke belakang, saya baru menyadari bahwa tidak ada satu langkah pun yang sia-sia. Tuhan sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih indah daripada yang mampu saya bayangkan.

Mungkin hari ini Anda sedang berada dalam masa penantian. Doa belum terjawab. Usaha belum membuahkan hasil. Jalan di depan masih tampak berkabut. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Tuhan sedang diam. Sangat mungkin Dia sedang bekerja di balik layar, mempersiapkan sesuatu yang belum dapat kita lihat.

Karena itu, keputusan terpenting yang dapat kita ambil hari ini bukanlah menyerah, melainkan tetap percaya. Sebab sering kali mukjizat tidak dimulai ketika keadaan berubah. Mukjizat dimulai ketika hati memutuskan untuk tetap mempercayai Tuhan, meskipun mata belum melihat apa pun.

“Keadaan tidak selalu berubah seketika. Tetapi ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan, cara kita memandang keadaan mulai berubah. Dan sering kali, di situlah mukjizat mulai bekerja.”

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”- Søren Kierkegaard.

“Hidup hanya bisa dipahami ketika menoleh ke belakang, tetapi harus dijalani dengan terus melangkah ke depan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Keajaiban bukan selalu ketika keadaan berubah. Kadang keajaiban pertama adalah hati yang tetap tenang di tengah penantian.”

“Miracles are not always when circumstances change. Sometimes the first miracle is a heart that remains at peace while waiting.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Dunia Menilai Nama, Tuhan Melihat Hikmat.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Dunia Menilai Nama, Tuhan Melihat Hikmat.

Bagaimana jika karya terbaik dalam sebuah kompetisi ternyata dibuat oleh seseorang yang mungkin tidak akan pernah dipilih jika identitasnya diketahui sejak awal? Itulah yang terjadi pada Maya Lin.

Pada tahun 1980, Maya Lin masih seorang mahasiswi berusia 21 tahun di Yale University. Dalam sebuah tugas kuliah, ia diminta merancang memorial untuk mengenang para korban Perang Vietnam. Alih-alih menggambar patung besar atau tugu yang menjulang tinggi, Maya justru membayangkan sesuatu yang berbeda. Ia membayangkan sebuah luka yang membelah bumi, lalu menuangkannya dalam bentuk dinding granit hitam yang masuk ke dalam tanah dan memuat nama seluruh tentara Amerika yang gugur.

Menariknya, dosennya sendiri tidak terlalu terkesan dengan rancangan tersebut. Nilainya hanya B. Namun beberapa minggu kemudian, desain yang sama dikirim ke kompetisi nasional pembangunan Vietnam Veterans Memorial.

Kompetisi itu diikuti oleh 1.421 peserta, terdiri dari arsitek terkenal, profesional berpengalaman, dan berbagai nama besar di bidangnya. Akan tetapi, ada satu aturan penting. Semua desain dinilai secara anonim. Para juri tidak mengetahui siapa pembuat setiap karya. Mereka hanya menilai gagasan dan kualitas desainnya.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Desain Maya Lin dipilih secara bulat sebagai pemenang. Tidak seorang pun menyangka bahwa rancangan terbaik itu berasal dari seorang mahasiswi muda keturunan Asia yang bahkan belum lulus kuliah.

Namun bagian yang paling membuat saya merenung justru terjadi setelah itu. Begitu identitas Maya diumumkan, kritik mulai berdatangan. Orang-orang tidak lagi membicarakan desainnya. Mereka mulai membahas usianya, jenis kelaminnya, rasnya, dan latar belakangnya. Padahal desainnya tidak berubah. Gambarnya tetap sama. Konsepnya tetap sama. Yang berubah hanyalah informasi tentang siapa yang membuatnya.

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Bukankah itulah kecenderungan manusia sejak dahulu? Kita sering menilai sebuah pesan berdasarkan siapa pembawanya. Kita lebih mudah mendengar orang yang terkenal daripada orang yang benar. Kita lebih mudah menghargai seseorang yang memiliki gelar daripada seseorang yang memiliki hikmat. Kita lebih mudah percaya kepada nama besar daripada kepada kebenaran itu sendiri.

Karena itulah Tuhan sering bekerja dengan cara yang berbeda. Daud hanyalah seorang gembala muda ketika dipilih menjadi raja. Tuhan seolah sengaja memakai orang yang tidak diperhitungkan dunia, supaya kemuliaan tidak tertuju kepada manusia, melainkan kepada-Nya.

Saya juga belajar sesuatu dari sikap Maya Lin. Ia tidak menghabiskan energinya untuk membuktikan diri. Ia tidak sibuk membalas kritik atau mencari pembenaran. Ia tetap berdiri pada keyakinannya dan percaya pada visi yang dimilikinya.

Dalam kehidupan kita pun ada kalanya Tuhan menaruh sebuah gagasan, langkah, atau arah yang berbeda dari kebanyakan orang. Tidak semua orang akan langsung mengerti. Tidak semua orang akan langsung setuju. Namun jika kita telah berdoa, mencari kehendak Tuhan, dan menerima damai sejahtera-Nya, jangan terlalu cepat membuang apa yang Tuhan taruh dalam hati hanya karena belum memperoleh persetujuan manusia.

Tentu kita tetap perlu rendah hati dan mau diajar. Tetapi kita juga perlu belajar membedakan antara koreksi yang sehat dan prasangka manusia. Tidak setiap penolakan berarti kita berada di jalan yang salah.

Pada akhirnya, Vietnam Veterans Memorial yang dahulu diejek sebagai “luka hitam” justru menjadi salah satu memorial yang paling dikagumi dan paling banyak dikunjungi di Amerika. Waktu membuktikan sesuatu yang sudah lebih dahulu dilihat Maya Lin.

Kadang hikmat memang terlihat aneh sebelum waktunya tiba. Dan kadang orang yang paling diremehkan justru membawa jawaban yang paling dibutuhkan. Karena Tuhan tidak pernah bergantung pada usia, gelar, popularitas, atau latar belakang seseorang. Yang Dia cari adalah hati yang mau mendengar, lalu cukup berani untuk taat.

Mungkin itu sebabnya, ketika nama kita tidak terlalu penting, hikmat Tuhan justru menjadi semakin jelas terlihat.

“Jangan kecewa ketika orang meremehkan siapa diri kita. Yang lebih penting bukan apakah nama kita dikenal, tetapi apakah hikmat Tuhan nyata melalui hidup kita. Tugas kita bukan membuat diri kita bersinar, melainkan memancarkan Dia.”

“There is no limit to what can be accomplished if it doesn’t matter who gets the credit.” – Ronald Reagan.

“Tidak ada batas bagi apa yang dapat dicapai ketika tidak lagi penting siapa yang mendapat pujian.”— Ronald Reagan.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“When people stop looking at the label, they can finally see the wisdom.”

“Ketika orang berhenti melihat labelnya, mereka akhirnya dapat melihat hikmatnya.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

Teori “Cukup”: Rahasia Damai yang Sering Kita Lupakan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Teori “Cukup”: Rahasia Damai yang Sering Kita Lupakan

Beberapa hari terakhir saya membaca sebuah kalimat yang sangat sederhana, tetapi terus terngiang dalam pikiran saya.

The Enough Theory.

A calm life is enough. A small circle is enough. A heart that loves is enough.

Hidup yang tenang itu cukup. Lingkaran pertemanan yang kecil itu cukup. Hati yang mampu mengasihi itu cukup.

Sederhana sekali. Tetapi justru karena sederhana, kalimat itu terasa menampar.

Sejak kecil kita diajar untuk mengejar lebih. Lebih banyak teman, lebih banyak uang, lebih banyak pencapaian, lebih banyak pengaruh, dan lebih banyak pengakuan. Tanpa sadar kita mulai percaya bahwa kebahagiaan berada di ujung kata lebih.

Masalahnya, ujung itu tidak pernah benar-benar tiba. Begitu mencapai satu target, muncul target berikutnya. Begitu memperoleh sesuatu, kita mulai membandingkannya dengan milik orang lain. Begitu mendapat pengakuan, kita mulai takut kehilangannya. Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan yang seolah tidak memiliki garis akhir.

Semakin bertambah usia, saya justru menyadari, banyak hal yang dulu saya anggap sangat penting ternyata tidak sepenting yang saya bayangkan. Yang benar-benar berharga justru sering kali sangat sederhana. Duduk bersama orang yang kita kasihi, menikmati percakapan yang tulus, memiliki tubuh yang sehat, hati yang tenang, tidur nyenyak tanpa kecemasan, dan terutama hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Dr. Caroline Leaf pernah mengatakan bahwa dunia terus mendorong kita untuk mencari lebih banyak, tetapi damai tidak lahir dari kelimpahan yang berlebihan. Damai lahir ketika kita memilih apa yang sungguh penting. Saya sangat setuju. Karena sesungguhnya yang melelahkan bukanlah banyaknya aktivitas. Yang melelahkan adalah ketika hati terus merasa kurang.

Ada orang yang rumahnya besar tetapi tidak pernah puas. Ada yang pelayanannya besar tetapi hidup dalam tekanan. Ada yang dikenal banyak orang tetapi merasa kesepian. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi memiliki damai yang membuat orang lain bertanya-tanya. Apa bedanya? Mereka sudah menemukan satu kata yang sangat sulit diterima dunia modern: cukup.

Bukan berarti berhenti bertumbuh. Bukan berarti kehilangan impian. Bukan berarti menjadi pasif. Tetapi hati mereka tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada hal berikutnya yang belum dimiliki. Mereka belajar menikmati apa yang Tuhan percayakan hari ini sambil tetap setia mengerjakan panggilan-Nya.

Firman Tuhan berkali-kali mengajar kita untuk memperbarui cara berpikir.
Why?
Karena pikiran yang tidak diperbarui akan terus mengikuti standar dunia. Dan standar dunia selalu berkata, “Belum cukup.”

Sebaliknya, Tuhan mengajarkan kita melihat dari perspektif yang berbeda. Kita tidak hidup dari kekurangan menuju kecukupan. Kita hidup dari kecukupan yang sudah diberikan-Nya di dalam Kristus.

Karena itu kita perlu terus mendeklarasikan siapa diri kita yang sebenarnya. Bukan berdasarkan opini orang, bukan berdasarkan pencapaian, bukan berdasarkan jumlah pengikut atau pengakuan, melainkan berdasarkan rancangan Tuhan atas hidup kita. Semakin pikiran kita selaras dengan kebenaran itu, semakin kita terbebas dari tekanan untuk menjadi seperti orang lain.

Menariknya, ketika kita berhenti mengejar segala sesuatu, justru kita mulai menikmati banyak hal yang sebelumnya terlewatkan.

Matahari pagi terasa lebih indah. Percakapan terasa lebih bermakna. Keluarga terasa lebih berharga. Persahabatan terasa lebih hangat. Hidup terasa lebih ringan. Bukan karena semua masalah sudah hilang, tetapi karena hati kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan yang tidak ada habisnya.

Mungkin itulah inti dari The Enough Theory. Ketika kita memahami bahwa cukup bukan berarti kekurangan, melainkan kemampuan menghargai apa yang benar-benar bernilai, kita menemukan sesuatu yang selama ini dicari banyak orang: damai. Karena sering kali, saat kita berhenti mengejar lebih banyak, barulah kita menyadari bahwa bersama Tuhan, kita sudah memiliki lebih dari yang benar-benar kita butuhkan.

“The man who has God for his treasure has all things in One.”— A.W. Tozer.

“Orang yang menjadikan Tuhan sebagai hartanya, sesungguhnya telah memiliki segala sesuatu di dalam Dia.”— A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Kekayaan terbesar bukan memiliki lebih banyak, tetapi mampu mensyukuri apa yang sudah ada.”

“The greatest wealth is not having more, but being grateful for what you already have.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Kebaikan Kehilangan Hikmat

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Kebaikan Kehilangan Hikmat

Ada satu kisah nyata yang membuat saya merenung cukup lama.

Seorang miliarder Tiongkok bernama Chen Sheng lahir di sebuah desa miskin di Guangdong. Ketika diterima di Universitas Peking, keluarganya bahkan tidak mampu membeli tiket kereta. Warga desa yang sama-sama hidup sederhana mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar ia dapat berangkat kuliah.

Kebaikan itu tidak pernah ia lupakan.

Bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi pengusaha sukses, Chen Sheng memutuskan pulang ke kampung halamannya. Ia tidak sekadar ingin memberi sumbangan. Ia ingin mengubah masa depan desa yang pernah membesarkannya.

Ia menghabiskan sekitar 200 juta Yuan, atau sekitar 680 miliar rupiah, untuk membangun 258 vila mewah, lengkap dengan taman, garasi, lapangan olahraga, taman bermain, hingga berbagai fasilitas umum. Tidak berhenti di situ, ia juga membangun peternakan babi berskala besar agar warga memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.

Mimpinya sederhana.

Orang-orang yang dahulu membantunya keluar dari kemiskinan, kini dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.

Namun kenyataan tidak selalu seindah niat.

Ketika vila-vila itu hampir selesai dibagikan, muncul berbagai tuntutan.
Ada yang meminta dua atau tiga vila karena anaknya akan menikah.

Ada yang sudah puluhan tahun meninggalkan desa, tetapi tiba-tiba kembali meminta bagian.

Ada pula yang menolak vila baru dan meminta uang tunai sebagai gantinya.

Sebagian bahkan meminta kompensasi tambahan karena merasa rumah lama mereka lebih besar.

Suasana desa berubah.

Orang-orang mulai saling mempersoalkan siapa yang paling berhak menerima.

Konflik semakin membesar hingga pembagian vila terpaksa dihentikan. Proyek yang semula menjadi lambang rasa syukur berubah menjadi sumber pertengkaran.

Chen Sheng sangat terpukul.

Dalam sebuah wawancara ia mengatakan bahwa setiap kali pulang ke desa, orang-orang selalu datang membawa tuntutan baru. Ia akhirnya memilih tidak kembali ke kampung halamannya selama beberapa tahun.

Untungnya, kisah ini tidak berakhir di sana.
Pemerintah daerah akhirnya turun tangan melakukan mediasi. Setelah melalui berbagai pertemuan, kriteria penerima disusun kembali secara lebih adil dan transparan. Pembagian vila akhirnya dapat dilakukan secara bertahap, dan desa itu perlahan kembali tenang.

Saya belajar sesuatu dari kisah ini.

Bukan berarti kita berhenti berbuat baik karena takut dikecewakan.

Tetapi kebaikan juga membutuhkan hikmat.

Ada kalanya kita berpikir semakin banyak memberi berarti semakin besar kasih kita.
Padahal tidak selalu demikian.

Memberi tanpa batas yang jelas kadang justru menumbuhkan rasa berhak. Orang yang semula bersyukur perlahan mulai menganggap pemberian itu sebagai sesuatu yang memang pantas ia terima.

Para psikolog menyebut keadaan ini sebagai Entitlement Syndrome, yaitu kecenderungan seseorang merasa berhak menerima sesuatu tanpa lagi melihatnya sebagai anugerah. Ketika rasa berhak mulai menguasai hati, rasa syukur perlahan memudar. Yang tadinya diterima sebagai hadiah, akhirnya dianggap sebagai kewajiban orang lain.

Bukankah hal seperti ini juga dapat terjadi dalam kehidupan kita?

Sebagai orang tua, kita ingin memberikan yang terbaik bagi anak.

Sebagai pemimpin, kita ingin menolong bawahan.

Sebagai sahabat, kita ingin membantu orang yang kita kasihi.

Semuanya baik.

Namun kasih yang sehat bukan hanya memberi.

Kasih juga mendidik.

Kasih mengangkat, tetapi tidak membuat seseorang kehilangan tanggung jawab.

Kasih menolong, tetapi tidak mematikan semangat untuk bertumbuh.

Saya juga belajar bahwa membangun sistem sering kali lebih penting daripada sekadar memberikan sesuatu.

Chen Sheng sebenarnya memahami hal itu. Karena itulah ia tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menyediakan lapangan pekerjaan agar warga dapat hidup mandiri. Ia ingin memberi masa depan, bukan sekadar memberi hadiah.

Sayangnya, ketika karakter tidak bertumbuh secepat berkat yang diterima, kebaikan yang besar pun hampir berubah menjadi sumber perpecahan.

Saya menyukai akhir dari kisah ini.
Bukan karena semua persoalan langsung hilang.
Melainkan karena akhirnya semua pihak belajar bahwa kemurahan hati membutuhkan hikmat, dan rasa syukur membutuhkan karakter.

Kebaikan memang indah.

Namun ketika berjalan bersama hikmat, kebaikan bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga membangun manusia yang lebih dewasa di masa depan.

Karena tujuan kasih bukan sekadar memenuhi kebutuhan seseorang, melainkan menolong mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai setiap anugerah yang diterimanya.

“Wisdom is knowing the right thing to do. Integrity is doing it.” – John C. Maxwell

“Hikmat adalah mengetahui apa yang benar untuk dilakukan. Integritas adalah melakukannya.” – John C. Maxwell

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Kemurahan hati tanpa hikmat dapat melahirkan tuntutan. Kemurahan hati yang disertai hikmat melahirkan rasa syukur dan kedewasaan.”

“Generosity without wisdom may create entitlement. Generosity with wisdom cultivates gratitude and maturity.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Memahami Masa Lalu Itu Baik. Tinggal di Sana, Tidak.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Memahami Masa Lalu Itu Baik. Tinggal di Sana, Tidak.

Belakangan ini saya banyak membaca tentang trauma, masa kecil, dan berbagai alasan mengapa seseorang bertindak seperti sekarang.

Memang benar.
Masa lalu sering kali menjelaskan banyak hal.

Mengapa seseorang mudah marah.
Mengapa sulit mempercayai orang lain.
Mengapa selalu merasa ditolak.
Mengapa terus mengulang kesalahan yang sama.

Memahami semua itu dapat menumbuhkan empati.
Tetapi saya juga menyadari satu hal.
Memahami masa lalu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk terus tinggal di sana.

Ada orang yang bertahun-tahun terus menggali luka masa kecilnya.

Terus mencari siapa yang salah.
Terus mengingat perlakuan orang lain.
Terus memutar ulang cerita yang sama.
Ironisnya, hidupnya tidak banyak berubah.

Why?
Karena fokusnya masih tertuju ke belakang.

Saya percaya, memahami masa lalu memang penting.
Tetapi kita tidak dipanggil untuk hidup di dalamnya.

Masa lalu adalah guru yang baik.
Namun bukan tempat tinggal yang baik.

Ketika seseorang datang kepada Tuhan dan menerima-Nya sebagai Juruselamat, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Kita menjadi ciptaan yang baru.
Identitas kita berubah.
Kita menerima hidup yang baru
Ada natur baru yang mulai bekerja di dalam diri kita.

Hal-hal yang dulu terasa biasa mulai terasa mengganggu.
Hati nurani menjadi lebih peka.
Ada kerinduan untuk hidup benar.

Namun perubahan itu tidak terjadi secara otomatis.

Kita tetap memiliki pilihan.

Apakah kita akan terus mengikuti pola pikir yang lama?
Atau bersedia memperbarui cara berpikir kita?
Di sinilah proses pembaruan budi menjadi sangat penting.

Semakin kita menyelaraskan pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan, semakin cara kita memandang hidup ikut berubah.

Kita tidak lagi bereaksi seperti dulu.
Kita mulai merespons dengan hikmat.
Tidak lagi dikuasai rasa takut.
Tidak lagi mudah tersinggung.
Tidak lagi merasa harus membalas.

Perlahan-lahan, karakter baru itu mulai terlihat.

Yang menarik, ketika hati kita semakin selaras dengan Tuhan, ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ada wibawa.
Bukan karena suara kita lebih keras.
Bukan karena kita menjadi lebih galak.

Melainkan karena kehidupan Tuhan mulai memancar melalui sikap kita.

Saya pernah melihat orang yang dahulu sering diremehkan.
Mudah dimanfaatkan.
Bahkan diperlakukan semena-mena.
Namun ketika hidupnya semakin dekat dengan Tuhan, orang-orang mulai memperlakukannya dengan cara yang berbeda.

Ia tidak banyak berubah dari luar.
Tetapi ada ketenangan.
Ada keberanian.
Ada hikmat.

Dan orang lain dapat merasakannya.
Bukan hasil usaha manusia semata.
Melainkan karena Tuhan sedang bekerja di dalam dirinya.

Saya semakin yakin bahwa solusi terbesar bukanlah terus menerus menganalisis luka.

Solusi terbesar adalah mengizinkan Tuhan membentuk hidup kita setiap hari.

Karena semakin kita bergantung kepada-Nya, semakin kita mampu melakukan hal-hal yang dahulu terasa mustahil.

Mengampuni.
Mengasihi.
Bersikap tenang.
Mengambil keputusan yang bijaksana.

Bukan karena kita kuat.
Tetapi karena kekuatan-Nya mengalir melalui hidup kita.

Jangan habiskan hidup hanya dengan melihat ke belakang.
Lihatlah ke depan.
Tuhan tidak sedang mengajak kita mengulang masa lalu.
Dia sedang mempersiapkan kita untuk menjalani masa depan yang baru.

“Masa lalu mungkin menjelaskan siapa kita dahulu. Tetapi ketika kita berjalan bersama Tuhan, bukan masa lalu yang membentuk masa depan kita, melainkan kesediaan kita untuk terus diubahkan setiap hari.”


“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” – Søren Kierkegaard.

“Hidup memang dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melangkah ke depan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 420