Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Mengapa Justru Setelah Menang, Masalah Datang Lagi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengapa Justru Setelah Menang, Masalah Datang Lagi?

“Life’s tests often come on the heels of a great victory, when we’re full and enjoying life at its best.”
— Chuck Swindoll

“Ujian kehidupan sering kali datang tepat setelah sebuah kemenangan besar, ketika kita sedang merasa penuh dan menikmati kehidupan dalam keadaan terbaik.”
— Chuck Swindoll

Aneh juga ya cara kehidupan berjalan?

Ketika masalah datang pada masa-masa sulit, kita tidak terlalu heran. Rasanya memang masuk akal.

Tetapi ketika masalah datang tepat setelah kemenangan besar, kita mulai bingung.

Baru saja doa dijawab. Bisnis sedang bagus. Hubungan keluarga membaik. Kesempatan baru terbuka. Kita sedang menikmati kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Tiba-tiba… boom!

Masalah datang.

Lalu pikiran mulai bertanya, “Saya salah apa?”

Bahkan kadang kita mulai mencurigai Tuhan.

Padahal belum tentu ada yang salah.

Saya teringat Elia.

Baru saja ia mengalami kemenangan spektakuler di Gunung Karmel. Api Tuhan turun. Bangsa Israel menyaksikan kuasa Tuhan dengan mata kepala sendiri.

Kalau kehidupan Elia dibuat film, rasanya inilah saat yang tepat untuk menuliskan: The End.

Happy ending.

Ternyata tidak.

Tidak lama sesudah kemenangan besar itu, ancaman Izebel datang. Elia ketakutan, melarikan diri, bahkan sampai kehilangan semangat hidup.

Menarik bukan?

Orang yang baru saja berdiri dengan berani menghadapi ratusan nabi Baal, sekarang ketakutan menghadapi ancaman seorang perempuan.

Apa yang terjadi?

Elia tetap manusia.

Tubuhnya lelah. Emosinya terkuras. Dan setelah tekanan yang begitu besar, ia membutuhkan pemulihan.

Yang menarik, Tuhan tidak datang memarahinya.

Tuhan memberinya makanan.

Membiarkannya tidur.

Kemudian memberinya makanan lagi.

Saya suka sekali bagian ini.

Kadang kita terlalu cepat membuat segala sesuatu menjadi persoalan rohani, padahal mungkin kita hanya perlu makan dan tidur.

Tubuh kita mempunyai batas.

Kemenangan tidak membuat kita menjadi Superman.

Justru setelah bekerja keras, menyelesaikan proyek besar, melayani banyak orang, atau melewati masa yang sangat intens, kita perlu belajar berhenti dan memulihkan diri.

Tetapi ada pelajaran lain yang tidak kalah penting.

Kemenangan mempunyai bahayanya sendiri.

Ketika semuanya berjalan lancar, tanpa sadar kita mudah merasa sudah menguasai kehidupan.

Kita tahu caranya.

Kita punya pengalaman.

Kita punya koneksi.

Kita punya uang.

Kita tahu strategi yang berhasil.

Perlahan-lahan ketergantungan kepada Tuhan dapat bergeser menjadi ketergantungan kepada kemampuan sendiri.

Karena itu setiap tantangan yang muncul dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengingat:

Saya tetap membutuhkan Tuhan.

Bukan berarti Tuhan mengirimkan hal buruk untuk mengajari kita. Yang buruk bukan berasal dari-Nya.

Tetapi ketika kehidupan menghadirkan sesuatu yang tidak kita harapkan, Tuhan sanggup menuntun kita melewatinya dan membuat kita bertumbuh di tengah keadaan tersebut.

Di situlah perspektif menjadi penting.

Jangan langsung menafsirkan masalah sebagai hukuman.

Jangan pula menganggap kemenangan kemarin menjadi tidak berarti hanya karena hari ini muncul tantangan baru.

Kemenangan kemarin tetap kemenangan. Masalah hari ini hanyalah persoalan baru yang perlu dihadapi bersama Tuhan.

Dan mungkin setelah sebuah kemenangan besar, pertanyaan terbaik bukanlah,

“What’s next?”

Melainkan,

“Apakah hati saya masih bergantung kepada Tuhan seperti ketika saya belum memiliki jawabannya?”

Sebab kesuksesan yang sesungguhnya bukan hanya berhasil mencapai sesuatu.

Kesuksesan adalah tetap mengenal siapa sumber kita setelah kita berhasil.

Tetap rendah hati ketika dipuji.

Tetap mau mendengar ketika sudah berpengalaman.

Tetap bergantung kepada Tuhan ketika rekening cukup, bisnis berkembang, keluarga bahagia, dan kehidupan terasa baik-baik saja.

Jangan hanya mencari Tuhan ketika tembok berada di depan kita.

Tetaplah dekat ketika tembok sudah runtuh.

Karena kemenangan terbaik bukan sekadar mendapatkan apa yang kita doakan.

Kemenangan terbaik adalah ketika setelah semuanya kita peroleh, hati kita tetap melekat kepada Tuhan.

“I have learned to kiss the wave that throws me against the Rock of Ages. – Charles Spurgeon.

“Saya telah belajar menerima gelombang yang menghempaskan saya kembali kepada Batu Karang yang Kekal. – Charles Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Dulu kita menggenggam Tuhan erat karena membutuhkan pertolongan-Nya. Kedewasaan adalah tetap menggenggam-Nya erat ketika pertolongan itu sudah menjadi kemenangan.”

“We once held tightly to God because we needed His help. Maturity is holding Him just as tightly when His help has become our victory.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Seperti Apa Tuhan yang Kita Kenal?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Seperti Apa Tuhan yang Kita Kenal?

A.W. Tozer pernah mengatakan sesuatu yang membuat saya berpikir.

*Kondisi moral sebuah bangsa akan mengikuti konsep bangsa itu tentang Tuhan. Tetapi ada kebenaran lain yang tidak kalah penting: ketika umat Tuhan mulai mempunyai pengertian yang keliru dan tidak memadai tentang siapa Tuhan, kemerosotan pun dimulai.*

Mak jleb!

Ternyata cara kita memandang Tuhan akan menentukan cara kita menjalani kehidupan.

Kalau kita membayangkan Tuhan sebagai Pribadi yang mudah marah, kita akan hidup dalam ketakutan.

Kalau kita berpikir Tuhan memberi penyakit untuk mengajar kita sesuatu, kita akan kesulitan mempercayai-Nya sebagai Penyembuh.

Kalau kita menganggap Tuhan sengaja membuat kita kekurangan supaya rendah hati, kita akan sulit percaya kepada-Nya sebagai Bapa yang menyediakan.

Kalau kita berpikir kasih Tuhan berubah mengikuti baik buruknya kelakuan kita, hubungan dengan-Nya akan seperti naik roller coaster.

Hari ini merasa Tuhan dekat.

Besok melakukan kesalahan, langsung merasa Tuhan menjauh.

Karena itu pertanyaan “Seperti apakah Tuhan?” bukan sekadar pertanyaan teologi.

Jawabannya memengaruhi seluruh kehidupan kita.

Lalu bagaimana kita mengetahui seperti apa Tuhan sebenarnya?

Di sinilah Tozer memberikan jawaban yang sangat sederhana tetapi powerful.

Lihatlah Yesus.

Yesus berkata bahwa barangsiapa telah melihat Dia, telah melihat Bapa.

Wow!

Berarti kita tidak perlu menebak-nebak karakter Tuhan.

Ingin tahu bagaimana Tuhan memandang orang sakit?

Lihat Yesus.

Orang sakit datang kepada-Nya dan Dia menyembuhkan mereka. Dia tidak pernah berkata, “Penyakit ini baik untukmu. Pertahankan supaya karaktermu bertumbuh.”

Ingin tahu bagaimana Tuhan memperlakukan orang yang gagal?

Lihat bagaimana Yesus memulihkan Petrus setelah menyangkal-Nya tiga kali.

Ingin tahu bagaimana hati Tuhan terhadap orang berdosa?

Lihat perempuan yang tertangkap berzinah. Yesus tidak menyetujui dosanya, tetapi Dia juga tidak ikut melemparinya dengan batu. Ada kasih sekaligus kebenaran.

Ingin tahu bagaimana Tuhan memandang kebutuhan manusia?

Lihat orang banyak yang kelaparan. Yesus tidak berkata bahwa kebutuhan jasmani tidak penting karena yang penting hanya rohani. Dia memberi mereka makan.

Inilah yang mengubah cara saya mengenal Tuhan.

Kita kadang membangun gambaran tentang Tuhan dari pengalaman.

Ketika doa belum terjawab, kita mulai menyimpulkan Tuhan tidak mau menjawab.

Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita berkata, “Mungkin Tuhan mempunyai maksud dengan memberikan ini.”

Ketika kehidupan terasa berat, tanpa sadar keadaan mulai menjadi kacamata untuk menafsirkan karakter Tuhan.

Padahal seharusnya terbalik.

Jangan menafsirkan Tuhan melalui keadaan. Tafsirkan keadaan melalui siapa Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita.

Pengalaman berubah.
Perasaan berubah.
Keadaan berubah.
Tetapi karakter Tuhan tidak berubah.

Tozer mengatakan, dalam Yesus pencarian manusia tentang seperti apa Allah sebenarnya telah mendapatkan jawabannya.

Yesus adalah gambaran sempurna dari Bapa.
Apa yang Yesus lakukan menunjukkan hati Bapa.
Apa yang Yesus katakan menyatakan pikiran Bapa.
Cara Yesus mengasihi menunjukkan kasih Bapa.
Cara Yesus menyembuhkan menunjukkan belas kasih Bapa.
Dan semakin kita mengenal-Nya, semakin banyak pemikiran lama tentang Tuhan yang perlu dibongkar.

Mungkin selama bertahun-tahun kita mengenal Tuhan terutama dari perkataan orang.

“Tuhan seperti ini.”

“Tuhan melakukan itu.”

“Tuhan memberikan masalah supaya…”

Tetapi kedewasaan rohani dimulai ketika kita berani bertanya:

Benarkah demikian? Apakah seperti itu yang saya lihat dalam kehidupan Yesus?

Karena iman tidak akan pernah bertumbuh melampaui pengenalan kita akan karakter Tuhan.

Sulit mempercayai seseorang yang kita curigai.

Sebaliknya, semakin kita mengenal hati-Nya, semakin mudah kita mempercayakan kehidupan kepada-Nya.

Kita tidak lagi datang kepada Tuhan sambil bertanya-tanya, “Apakah Dia sungguh baik kepada saya?”

Kita datang karena sudah mengenal jawabannya.

Dia baik.

Maka mungkin salah satu investasi terpenting dalam kehidupan bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Tuhan.

Tetapi mengenal Tuhan sebagaimana Dia benar-benar ada.

Dan kalau suatu hari kita kembali bertanya,

“Seperti apakah Tuhan itu?”

Jangan menebak.

Jangan melihat keadaan.

Lihatlah Yesus.

Di sana kita menemukan jawabannya.

“What comes into our minds when we think about God is the most important thing about us.” – A.W. Tozer

“Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika memikirkan Tuhan adalah hal terpenting tentang diri kita.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Masalah terbesar kita sering kali bukan tidak percaya Tuhan sanggup, tetapi belum sepenuhnya yakin bahwa Dia sungguh baik.”

“Our greatest struggle is often not believing that God can, but being fully convinced that He is truly good.” – Yenny Indra

Read More
Articles

JANGAN BUKA CELAH…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

JANGAN BUKA CELAH…

Yohanes 14:21 AMPC
“Orang yang memiliki perintah-perintah-Ku dan memeliharanya adalah orang yang mengasihi Aku; dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku akan mengasihi dia dan akan menunjukkan diri-Ku kepadanya. [Aku akan membiarkan diri-Ku terlihat jelas olehnya dan menjadikan diri-Ku nyata baginya.]”

Mengapa kesembuhan belum termanifestasi dan berkat seolah tidak mengalir, padahal kita sudah memperkatakan Firman Tuhan?

Firman adalah sumber kehidupan kita.

Amsal 4:20-22 berkata,
“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku… Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”

Karena itu kita memperkatakan ayat-ayat kesembuhan, kelimpahan, perlindungan, dan janji-janji Tuhan. Kita merenungkannya sampai Firman memenuhi hati dan memperbarui pikiran kita.

Tetapi jangan berhenti di sana.

Setelah memperkatakan Firman, belajarlah diam dan dengarkan tuntunan Roh Kudus.

Roma 8:14 berkata, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”

Mungkin kita sedang percaya Tuhan untuk kesembuhan, tetapi Roh Kudus mengingatkan supaya beristirahat. Kita percaya untuk kelimpahan, tetapi Dia menunjukkan keputusan finansial yang harus diperbaiki. Kita berdoa agar keadaan berubah, tetapi Roh Kudus justru menunjukkan sikap hati yang perlu dibereskan.

Salah satu hal yang sering dianggap sepele adalah strife: pertengkaran, perselisihan, iri hati, dan kepahitan.

Yakobus 3:16 berkata,
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

Perhatikan: every evil work.

Strife bukan perkara kecil.

Bukan berarti Tuhan berkata, “Karena kamu bertengkar, Aku tidak mau memberkatimu.” Kasih karunia Tuhan tidak diberikan berdasarkan kesempurnaan perilaku kita. Yesus sudah membayar semuanya.

Namun ketika kita terus memelihara strife, kita sedang berjalan berlawanan dengan Firman dan membuka ruang bagi kekacauan. Kita memberi celah kepada iblis untuk memporakporandakan kehidupan kita.

Efesus 4:26-27 memperingatkan,
“Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Neither give place to the devil.

Artinya ada place yang jangan kita berikan.

Iblis memang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum mencari orang yang dapat ditelannya. Tetapi 1 Petrus 5:9 tidak menyuruh kita takut kepadanya. Justru dikatakan,

“Lawanlah dia dengan iman yang teguh.”

Jadi jangan hidup dengan kesadaran bahwa setan selalu mengawasi kita. Hiduplah dengan kesadaran bahwa Tuhan ada di dalam kita dan kita memiliki otoritas di dalam Kristus.

Musuh bukan pusat perhatian kita. Kristuslah pusat perhatian kita.

Ada orang berkata, “Kalau hidup kita mulus-mulus saja, mungkin karena kita berjalan searah dengan setan sehingga tidak perlu diganggu.”

Kita perlu berhati-hati dengan pemikiran seperti itu.

Yesus memang berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Tetapi kehidupan yang damai bukan bukti bahwa seseorang berjalan bersama setan. Amsal 3:17 justru menggambarkan jalan hikmat sebagai “jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera.”

Yang perlu kita lakukan bukan mencari-cari serangan musuh, tetapi menutup setiap celah dan hidup selaras dengan Firman.

Salah satu cara terpenting adalah walking in love.

Galatia 5:6 mengatakan,
“Faith which worketh by love.”

Iman bekerja melalui kasih.

Walking in love bukan harga yang kita bayar supaya Tuhan mau memberkati kita. Kita berjalan dalam kasih karena itulah natur kehidupan baru kita di dalam Kristus.

Ketika hati bebas dari strife, kepahitan, dan iri hati, energi kita tidak habis untuk memadamkan kebakaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Energi, waktu, dan perhatian kita dapat dipakai untuk mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Itulah kehidupan yang efektif.

Bukan sibuk melawan setan sepanjang hari, tetapi sibuk berjalan bersama Tuhan.

Firman memenuhi hati kita.
Roh Kudus memimpin langkah kita.
Kasih menentukan respons kita.
Dan kita menolak memberikan tempat kepada musuh.

Ketika hidup semakin selaras dengan Firman, kita semakin bebas menikmati apa yang sudah Tuhan sediakan dan semakin efektif menjadi terang dan garam dunia.

Jadi setelah memperkatakan janji Tuhan, jangan hanya bertanya,

“Kapan manifestasinya?”

Tanyakan juga,

“Roh Kudus, apa langkahku selanjutnya?”

Lalu dengarkan.

Ketika Dia menunjukkan sesuatu, lakukan.

Firman memberi arah. Roh Kudus memimpin langkah. Kasih menjaga jalan kita tetap bersih.

“Walking in love is the way to victory.” -Kenneth E. Hagin.

“Berjalan dalam kasih adalah jalan menuju kemenangan.”- Kenneth E. Hagin.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Musuh tidak selalu membutuhkan pintu yang terbuka lebar. Sebuah celah cukup. Tutup dengan kasih, jaga dengan Firman.”

“The enemy doesn’t always need a wide-open door. A foothold is enough. Close it with love, guard it with the Word.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Terlalu Cepat Menyebutnya Malapetaka…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Jangan Terlalu Cepat Menyebutnya Malapetaka…

“The secret of overcoming is to see Jesus in everything that happens in our lives.”

“Rahasia untuk menang adalah melihat Tuhan di dalam segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita.”— David Wilkerson

Saya suka pemikiran ini.

Tetapi ada satu hal penting yang perlu kita pahami.

Melihat Tuhan dalam segala sesuatu bukan berarti segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Tuhan itu baik. Dia bukan sumber malapetaka, penyakit, kehancuran atau berbagai hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita.

Namun ketika sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi, kita mempunyai pilihan: terus menatap masalah sampai ketakutan menguasai kita, atau mengarahkan mata kepada Tuhan dan bertanya,

“Tuhan, bagaimana Engkau melihat keadaan ini? Tunjukkan kepadaku jalan keluarnya.”

Ini bukan denial.

Ini iman.

Salah seorang anak saya mempunyai bisnis. Dalam perjalanan membangun bisnis tersebut, ada seorang investor yang tiba-tiba memutuskan untuk keluar.

Mendadak.

Tentu mengagetkan.

Kalau hanya melihat keadaan saat itu, mudah sekali menganggapnya sebagai masalah besar. Investor keluar berarti modal berkurang, dukungan berubah, dan berbagai rencana mungkin harus disusun kembali.

Tetapi saya suka respons anak saya.

Ia tidak tenggelam dalam kekecewaan. Ia memilih berpikir positif dan percaya,

“Pasti ada sesuatu yang baik yang bisa terjadi dari semua ini.”

Bukan berarti keluarnya investor itu dianggap berasal dari Tuhan.

Bukan pula pura-pura mengatakan semuanya baik-baik saja.

Tetapi ia memilih tidak membiarkan kejadian hari ini menentukan bagaimana ia memandang masa depannya.

Beberapa bulan berlalu.

Suatu hari mantan investor tersebut menghubunginya kembali.

Kali ini bukan untuk kembali menjadi investor.

Ia ingin melakukan sebuah kegiatan sosial dan memberikan sumbangan dalam jumlah cukup besar. Karena bisnisnya bergerak di bidang yang berbeda, ia membutuhkan produk yang kebetulan memang diproduksi oleh perusahaan anak saya.

Akhirnya ia membeli produk tersebut untuk dibagikan.

Dan karena produk itu berasal dari perusahaan anak saya, brand perusahaan anak saya tercetak besar-besar di sana.

Ketika mendengarnya saya langsung berpikir,

Lho… ini namanya promosi dibayari orang lain!

Ha… ha…

Orang yang beberapa bulan sebelumnya keluar dari bisnisnya, sekarang justru mengeluarkan uang sendiri untuk membeli produknya sekaligus memperkenalkan brand anak saya kepada lebih banyak orang.

Mak jleb!

Saya kembali belajar sesuatu:

Jangan terlalu cepat memberi nama “malapetaka” kepada sebuah kejadian ketika ceritanya belum selesai.

Kita baru membaca satu halaman.

Tuhan melihat seluruh buku.

Sering kali masalah terbesar kita bukan hanya apa yang terjadi, tetapi kesimpulan yang terlalu cepat kita buat tentang apa yang terjadi.

Pintu tertutup.

“Wah, habislah saya.”

Seseorang meninggalkan kita.

“Berarti semuanya gagal.”

Rencana berubah.

“Masa depan saya berantakan.”

Belum tentu.

Don’t put a period where God may only be putting a comma.

Jangan menaruh titik pada cerita yang mungkin baru sampai koma.

Apa yang hari ini terlihat sebagai kehilangan belum tentu berakhir sebagai kerugian.

Apa yang tampaknya seperti pintu tertutup belum tentu berarti perjalanan berhenti.

Dan sesuatu yang hari ini membuat kita bertanya, “Kok bisa begini?”, beberapa bulan kemudian mungkin membuat kita tersenyum,

“Oh… ternyata begini ceritanya.”

Di sinilah mengenal Tuhan menjadi sangat penting.

Ketika kita mengenal karakter-Nya, kita tidak menilai kebaikan Tuhan berdasarkan keadaan.

Keadaan berubah.

Tuhan tidak.

Karena itu overcoming tidak selalu dimulai ketika masalah kita selesai.

Kadang kemenangan dimulai di tengah masalah, ketika cara kita melihatnya berubah.

Kita berhenti bertanya dengan ketakutan, “Bagaimana kalau semuanya berantakan?”

Dan mulai berkata,

“Saya memang belum tahu bagaimana akhirnya, tetapi saya tahu siapa Tuhan saya.”

Ada masalah yang perlu kita lawan dengan iman.

Ada keputusan yang membutuhkan wisdom.

Ada pintu yang perlu diketuk.

Ada pula keadaan yang perlu kita serahkan kepada Tuhan sambil tetap melakukan bagian kita.

Faith bukan duduk diam menunggu keajaiban.

Faith adalah tetap berjalan bersama Tuhan ketika kita belum melihat keseluruhan gambarnya.

Dan setiap pengalaman, baik maupun buruk, dapat menjadi kesempatan untuk membuat kita naik level, semakin bijaksana dan semakin mengenal Tuhan.

Bukan karena semua pengalaman berasal dari-Nya.

Tetapi karena apa pun yang terjadi, Tuhan sanggup bekerja bersama kita dan mengubahnya menjadi kebaikan bagi masa depan kita.

Jadi kalau hari ini sesuatu berjalan berbeda dari rencana, jangan buru-buru panik.

Jangan cepat memberi label gagal.

Serahkan kepada Tuhan.

Minta hikmat-Nya.

Lakukan bagian kita.

Tetap percaya kepada karakter-Nya.

Lalu terus berjalan.

Karena bisa jadi sesuatu yang hari ini kita tangisi sebagai kehilangan, suatu hari justru membuat kita tersenyum dan berkata,

“Untung saya tidak menyerah ketika ceritanya baru setengah jalan.”

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards.” – Steve Jobs.

“Kita tidak dapat menghubungkan titik-titik kehidupan dengan melihat ke depan; kita baru dapat melihat hubungannya ketika menoleh ke belakang”.- Steve Jobs.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Jangan menilai masa depan dari satu kejadian hari ini. Cerita yang belum selesai belum layak diberi kesimpulan.”

“Don’t judge your future by one event today. An unfinished story doesn’t deserve a final conclusion.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Punya Emas, Tapi Tidak Ada Toko! oh…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Punya Emas, Tapi Tidak Ada Toko! oh…

Kadang saya merenungkan perjalanan bangsa Israel dan Tuhan itu luar biasa.

Bayangkan, mereka keluar dari Mesir setelah mengalami perbudakan dan penindasan selama beberapa generasi. Tetapi mereka tidak keluar sebagai rombongan budak miskin yang tidak mempunyai apa-apa.

Sebelum mereka pergi, Tuhan menyuruh bangsa Israel meminta barang-barang perak, emas dan pakaian kepada orang Mesir.

Dan orang Mesir memberikannya!

Keluaran 12:35-36 bahkan mengatakan bahwa dengan cara itu mereka “merampasi orang Mesir.”

Wow!

Setelah bekerja sebagai budak bertahun-tahun, mereka keluar membawa kekayaan.

Seolah-olah upah yang selama ini tidak mereka nikmati dibayar sekaligus ketika mereka meninggalkan Mesir.

Tetapi kemudian Tuhan membawa mereka ke…

padang gurun.

Nah, di sinilah menurut saya menarik.

Mereka punya emas.

Punya perak.

Punya barang-barang berharga.

Tetapi…

mau shopping di mana?

Ha… ha….

Tidak ada mall.

Tidak ada restoran.

Tidak ada supermarket.

Tidak ada marketplace.

Mendadak emas yang mereka bawa tidak bisa menghasilkan air ketika haus dan tidak bisa menciptakan makanan ketika lapar.

Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu yang sangat penting:
Kekayaan adalah berkat, tetapi kekayaan bukan Sumber.

Di Mesir mereka mengenal sistem yang menyediakan kebutuhan melalui kerja keras sebagai budak.

Di padang gurun mereka harus belajar mengenal Tuhan sebagai Sumber mereka.

Ketika panas, ada tiang awan.

Ketika malam, ada tiang api.

Ketika lapar, manna turun dari langit.

Dan manna pun mempunyai aturan supernatural yang unik.

Hari biasa, kalau disimpan sampai besok, manna menjadi busuk.

Tetapi menjelang Sabat?
Mereka mengumpulkan dua kali lipat dan manna yang sama bisa bertahan sampai keesokan harinya.

Tuhan seperti sedang berkata,
“Pemeliharaanmu tidak bergantung pada manna. Pemeliharaanmu bergantung kepada-Ku.”

Lebih dahsyat lagi, Mazmur 105:37 mencatat bahwa ketika Tuhan membawa mereka keluar, tidak ada yang lemah di antara suku-suku mereka.

Ulangan 8:4 mengatakan pakaian mereka tidak menjadi usang dan kaki mereka tidak membengkak selama empat puluh tahun. Ulangan 29:5 bahkan menyebut pakaian dan kasut mereka tidak menjadi usang.

Serba supernatural.

Masalahnya, bangsa Israel lebih cepat keluar dari Mesir daripada Mesir keluar dari pikiran mereka.

Tubuh mereka sudah bebas.
Hati mereka masih sering menoleh ke belakang.
Setiap menghadapi kesulitan, mereka mengeluh.

Makanan?
Ingat Mesir.

Kesulitan?
Mesir lagi.

Menghadapi musuh?
Ingin kembali ke Mesir.

Padahal di depan mereka ada Tanah Perjanjian yang berlimpah susu dan madu.

Ulangan 1:2 memberi detail yang menyentak: perjalanan dari Horeb menuju Kadesh-Barnea melalui pegunungan Seir sebenarnya hanya sebelas hari perjalanan.
Namun generasi yang keluar dari Mesir akhirnya berputar-putar di padang gurun selama puluhan tahun.

Mak jleb!

Ternyata jarak menuju janji Tuhan tidak selalu menjadi masalah terbesar. Cara berpikir kitalah yang kadang membuat perjalanan menjadi sangat panjang.
Lalu muncul generasi berikutnya.
Yosua memimpin mereka memasuki Tanah Perjanjian.

Apa pesan Tuhan kepadanya?

Yosua 1:8.
Renungkan Firman itu siang dan malam.
Perkatakan.
Lakukan dengan hati-hati apa yang tertulis di dalamnya.
Barulah perjalananmu berhasil dan engkau beruntung.
Mereka tetap menghadapi peperangan.
Tanah Perjanjian bukan tanah tanpa musuh.
Tetapi berulang kali mereka menyaksikan kemenangan yang tidak mungkin dihasilkan oleh kekuatan manusia semata.

Tembok Yerikho runtuh setelah mereka mengelilinginya dan bersorak.

Dalam peperangan lain, Tuhan mengacaukan musuh, bahkan batu-batu besar dari langit menghantam mereka.

Tuhan yang berperang bagi umat-Nya.

Dan saya rasa di sinilah pelajarannya bagi kita.

Kita bahkan memiliki sesuatu yang generasi Israel di padang gurun tidak miliki seperti kita sekarang: Firman Tuhan yang tertulis lengkap di tangan kita.

Kita bisa membacanya.

Merenungkannya.

Memperkatakannya.

Dan menyelaraskan cara berpikir serta tindakan kita dengannya.

Jangan sampai memiliki Alkitab tetapi cara berpikir kita tetap seperti budak yang baru keluar dari Mesir.

Tuhan bukan sedang mengajar kita memandang rendah kekayaan. Justru Dialah yang memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan.

Tetapi jangan pernah menukar Pemberi dengan pemberian-Nya.

Emas bisa menjadi alat.

Tetapi emas bukan sumber.

Sumber kita tetap Tuhan.

Dan ketika kita mengenal Sang Sumber, padang gurun sekalipun tidak mempunyai kuasa untuk menentukan masa depan kita.

Karena tujuan Tuhan bukan membuat kita berputar-putar di padang gurun.

Ada Tanah Perjanjian di depan. Saatnya memperbarui pikiran, mempercayai Firman, lalu berjalan masuk.

“What comes into our minds when we think about God is the most important thing about us.” – A.W. Tozer.

“Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika memikirkan Tuhan adalah hal terpenting tentang diri kita.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Kadang yang memperpanjang perjalanan bukan jauhnya tujuan, tetapi cara berpikir lama yang kita bawa menuju masa depan.”

“Sometimes it is not the distance to our destination that prolongs the journey, but the old mindset we carry into the future.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 427