Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Jangan Tinggal di Museum Masa Lalu

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Jangan Tinggal di Museum Masa Lalu

Ada dua jenis orang yang sama-sama berhenti bertumbuh.
Yang pertama, hidupnya terpenjara oleh luka masa lalu.
Yang kedua, hidupnya terjebak dalam kejayaan masa lalu.
Kelihatannya berbeda. Tetapi ujungnya sama.

Mandek.
Tidak ada pertumbuhan.
Tidak ada pencapaian baru.

Dr. Caroline Leaf menjelaskan bahwa ketika seseorang terus memutar ulang pengalaman yang menyakitkan, otaknya akan bereaksi seolah-olah peristiwa itu sedang terjadi sekarang. Tubuh kembali tegang, emosi kembali naik, dan sistem saraf terus hidup dalam mode siaga.

Menurut saya, prinsip yang sama juga bisa terjadi pada kesuksesan.
Bukan tubuh yang terluka.
Tetapi semangat untuk terus bertumbuh yang perlahan mati.

Saya pernah bertemu orang yang hampir setiap kali berbicara selalu memulai dengan kalimat,

“Dulu waktu saya…”

“Dulu perusahaan saya…”

“Dulu pelayanan saya…”

“Dulu saya dipercaya…”

Awalnya menarik.

Tetapi lama-kelamaan saya menyadari sesuatu.
Ceritanya tidak pernah berubah.
Yang berubah hanya usianya.

Tanpa sadar, ia sedang tinggal di museum masa lalu.
Museum memang tempat yang indah untuk dikunjungi.
Tetapi tidak untuk ditinggali.

Masa lalu juga demikian.
Datanglah sesekali untuk belajar.
Jangan membangun rumah di sana.

Andrew Wommack sering mengajarkan bahwa iman selalu bekerja pada saat ini. Bukan kemarin. Bukan besok. Tuhan juga bekerja pada hari ini.

Karena itu saya percaya, Tuhan tidak memanggil kita menjadi kolektor kenangan, tetapi pencipta sejarah baru bersama-Nya.

The Passion Translation dalam Mazmur 139:5 berkata,

“You’ve gone into my future to prepare the way.”

Bayangkan.

Tuhan sudah berada di masa depan kita, sedang mempersiapkan jalan.
Tetapi kita justru sibuk memandangi album foto kehidupan.
Bagaimana mungkin kita melihat pintu baru kalau mata kita terus tertuju pada pintu lama?

Yesaya 43:18-19 berkata,
“Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu… Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”

Perhatikan.
Tuhan tidak menyuruh kita melupakan pelajaran masa lalu.
Tetapi Tuhan juga tidak mengizinkan masa lalu membatasi masa depan.

Bagi saya, masa lalu adalah sekolah, bukan alamat rumah.
Belajarlah di sana.
Lalu luluslah.
Jangan tinggal kelas seumur hidup.

Albert Einstein pernah berkata,

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”
Hidup memang seperti mengendarai sepeda.
Selama kita terus bergerak, kita seimbang.
Begitu berhenti terlalu lama, kita mulai kehilangan keseimbangan.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani, pelayanan, bisnis, bahkan karakter.
Orang yang berhenti belajar akan segera tertinggal.
Orang yang berhenti bertumbuh akan segera puas dengan dirinya sendiri.
Padahal Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.

Saya juga teringat perkataan John C. Maxwell,

“Change is inevitable. Growth is optional.”

Perubahan pasti terjadi.
Tetapi pertumbuhan adalah pilihan.
Dan saya memilih terus bertumbuh.

Saya ingin ketika bertemu orang sepuluh tahun lagi, saya masih punya cerita baru tentang apa yang Tuhan kerjakan hari ini, bukan hanya kisah indah puluhan tahun yang lalu.

Sebab saya percaya, karya terbaik Tuhan belum selesai.
Selama kita masih diberi napas, selalu ada pelajaran baru.

Selalu ada karakter yang sedang dibentuk.
Selalu ada orang yang bisa diberkati.
Selalu ada visi yang bisa diwujudkan.

Jangan hidup dari kejayaan kemarin.
Hiduplah dari penyertaan Tuhan hari ini.

Karena masa depan tidak dibangun dengan mengulang cerita lama, tetapi dengan melangkah bersama Tuhan setiap hari.

“The more you lose yourself in something bigger than yourself, the more energy you will have.” – Norman Vincent Peale.

“Semakin kita mengabdikan diri kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, semakin besar pula energi yang kita miliki.” – Norman Vincent Peale.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Warisan yang Tidak Mati Saat Kita Mati.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Warisan yang Tidak Mati Saat Kita Mati.

Belakangan ini saya belajar dari AR Bernard tentang arti sebuah legacy, warisan hidup yang bertahan bahkan setelah seseorang tidak ada lagi di bumi.

Jujur, banyak orang berpikir warisan hanyalah uang, rumah, bisnis, atau aset. Padahal Alkitab berbicara jauh lebih dalam dari itu.

“Orang baik meninggalkan warisan kepada anak cucunya.” (Amsal 13:22)

Ayat ini bukan sekadar bicara soal deposito atau properti. Sebab ada banyak orang meninggalkan uang besar, tetapi juga meninggalkan luka besar. Ada anak-anak yang menerima harta, tetapi tidak menerima kasih, arah hidup, hikmat, atau teladan.

AR Bernard mengatakan, legacy dibangun melalui lima area penting: spiritual, intellectual, emotional, motivational, dan material.

Saya langsung terdiam ketika membacanya.

Karena ternyata hidup ini sedang membangun sesuatu setiap hari. Entah kita sadar atau tidak, kita sedang meninggalkan jejak dalam hidup orang lain.

Kita sedang mewariskan cara berpikir.
Cara bereaksi.
Cara mengasihi.
Cara menghadapi tekanan.
Cara memperlakukan Tuhan.

Dan itu sering lebih kuat daripada uang.

1. Warisan Rohani

Menurut saya, ini fondasi utama.

Yesus tidak pernah memanggil kita hanya menjadi “orang Kristen.” Yesus memanggil kita menjadi murid yang diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Ada orang rajin pelayanan, tetapi anak-anaknya tidak pernah melihat kasih, damai, atau karakter Kristus di rumah.

Sebaliknya ada orang sederhana, tetapi hidupnya memancarkan hadirat Tuhan. Kata-katanya menenangkan. Doanya menguatkan. Sikapnya membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

Itu legacy rohani.

Dan saya percaya, generasi hari ini tidak hanya membutuhkan pengkhotbah hebat. Mereka membutuhkan orang-orang yang benar-benar berjalan dengan Tuhan.

2. Warisan Intelektual

AR Bernard juga berkata, hikmat, pengetahuan, dan pelajaran hidup harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Saya sangat setuju.

Karena buku yang kita tulis, pengajaran yang kita bagikan, bahkan percakapan yang membangun, bisa terus hidup lama setelah kita pergi.

Itulah sebabnya saya suka menulis.

Kadang kita berpikir tulisan kecil tidak berarti. Tetapi siapa tahu satu kalimat yang dipimpin Tuhan justru menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.

Ilmu tanpa karakter memang berbahaya. Tetapi hikmat yang lahir dari perjalanan bersama Tuhan bisa menjadi terang bagi banyak orang.

3. Warisan Emosional

Bagian ini sangat menyentuh saya.

*AR Bernard menulis bahwa hidup dibentuk oleh iman, pertumbuhan, ujian, kemenangan, dan pengalaman hidup.*

Benar sekali.

Ada musim sukacita. Ada musim air mata. Ada musim dikhianati, disalahpahami, atau merasa sendirian.

Tetapi semua musim itu sedang membentuk siapa kita.

Persoalannya bukan apakah hidup kita pernah terluka. Persoalannya adalah: apakah luka itu membuat kita pahit atau makin dewasa?

Karena orang yang sembuh akan menyembuhkan orang lain. Tetapi orang yang pahit sering melukai generasi setelahnya.

4. Warisan Motivasi

Warisan sejati lahir dari hidup yang menyentuh hidup lain.

Bukan soal terkenal.

Bukan soal viral.

Tetapi apakah hidup kita membuat orang lain lebih kuat, lebih berharap, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Ada orang kaya tetapi tidak mengangkat siapa pun.

Ada orang sederhana tetapi keberadaannya membuat banyak orang bertahan hidup.

Dan menurut saya, surga melihat itu.

5. Warisan Materi

Tentu materi penting. Pengelolaan yang bijaksana juga bagian dari tanggung jawab rohani.

Tetapi uang hanyalah alat. Uang bukan inti warisan.

Warisan terbesar adalah apa yang kita transfer ke generasi berikutnya: iman, hikmat, karakter, kasih, integritas, dan cara hidup bersama Tuhan.

Karena pada akhirnya, orang tidak akan terlalu mengingat apa yang kita miliki.

Tetapi mereka akan mengingat: siapa kita, bagaimana kita hidup, dan apa yang kita tinggalkan di hati mereka.

The greatest use of a life is to spend it on something that will outlast it.” – William James

“Penggunaan terbesar dari hidup adalah menghabiskannya untuk sesuatu yang akan tetap hidup bahkan setelah kita tiada.” – William James

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Di Tepi Ujung Dunia! Catatan dari Isfjorden, 78° 40′ Lintang Utara..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Tepi Ujung Dunia! Catatan dari Isfjorden, 78° 40′ Lintang Utara..

Hari ini kami memilih menikmati Svalbard dari sudut yang berbeda.
Bukan dari jalan raya.
Bukan dari atas gunung.
Melainkan dari laut.

Pagi itu kami naik catamaran menyusuri Isfjorden, salah satu fjord terbesar dan terindah di Svalbard.
Perjalanan pulang pergi memakan waktu hampir lima jam.
Lama?
Ya.
Tetapi sungguh sepadan.

Begitu kapal meninggalkan Longyearbyen, pemandangan yang terbentang di depan mata terasa semakin spektakuler.
Gunung-gunung batu menjulang di kiri dan kanan.
Sebagian masih dihiasi salju yang belum mencair meski musim panas telah tiba.

Di kejauhan tampak gletser berwarna putih kebiruan yang berdiri megah di antara pegunungan Arctic.
Air fjord begitu tenang.
Sesekali memantulkan bayangan gunung dan langit seperti cermin raksasa.

Burung-burung camar dan berbagai burung laut beterbangan rendah mengikuti arah angin.
Beberapa reindeer tampak di kejauhan, kecil seperti titik-titik cokelat di lereng gunung.

Kami berulang kali berpindah tempat di kapal untuk mengambil foto.
Salah satu yang paling saya sukai adalah saat berfoto dengan bendera Norwegia yang berkibar gagah di buritan kapal.
Latar belakangnya gunung, salju, dan fjord Arctic yang luar biasa indah.
Rasanya seperti berada di halaman belakang dunia.

Setelah puas berfoto ria, kami menikmati makan siang hangat di dalam kapal sambil terus memandangi pemandangan di luar jendela.

Dan saat itulah kejutan berikutnya datang.
Di layar kapal ditampilkan peta rute perjalanan kami.
Barulah saya benar-benar menyadari betapa jauhnya kami telah berada di utara bumi.

Ternyata dari posisi kami di Isfjorden berada di sekitar garis lintang 78° Utara. Sementara itu, titik poros bumi atau Kutub Utara sejati terletak di 90° Utara. Sedekat itu rupanya…..
Menakjubkan!

Ketika melihat peta, rasanya berbeda.
Di atas Longyearbyen hampir tidak ada lagi kota.
Tidak ada jalan raya.
Tidak ada kehidupan seperti yang kita kenal.
Hanya lautan Arctic, es, dan akhirnya Kutub Utara.
Di sisi lain terlihat kawasan menuju Pyramiden yang terkenal karena sejarah komunitas Rusia di Svalbard.

Saya memandang peta itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya benar-benar merasa:

Saya sedang berada di Tepi Ujung Dunia – Beyond The Edge.

Mungkin karena itulah Longyearbyen terasa begitu istimewa.
Kota kecil ini lahir karena seorang Amerika bernama John Munro Longyear datang ke Svalbard pada awal tahun 1900-an untuk mencari batu bara.
Ia memperoleh konsesi tambang dan membangun pemukiman bagi para pekerjanya.
Siapa sangka pencarian batu bara akhirnya melahirkan sebuah kota yang kini dikenal di seluruh dunia.

Longyear mencari batu bara.
Tetapi tanpa sadar ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebuah kota di hampir ujung bumi.

Hari ini Longyearbyen dikenal sebagai salah satu komunitas permanen paling utara yang dihuni manusia.
Di lokasi 78° 13 N. 15° 38? E. posisinya berada jauh di atas Lingkaran Arktik yang terletak di 66° 33′ U.

Karena letak geografisnya yang sangat tinggi ini, kota ini mengalami fenomena ekstrem seperti Midnight Sun (matahari 24 jam) dari pertengahan April hingga Agustus, serta Polar Night (kegelapan total 24 jam) dari pertengahan November hingga akhir Januari.

Kami bahkan menginap di Radisson Blu Polar Hotel Spitsbergen yang memegang Guinness World Record sebagai hotel full-service Paling Utara di Dunia.

Saat melihat sertifikat itu, saya terpukau..
Terimakasih Tuhan untuk anugerah-Mu!

Di tengah perjalanan hari ini saya juga teringat pada Henri Rudi, tokoh legendaris Svalbard yang dijuluki Raja Beruang Kutub.

Setelah bertahun-tahun hidup di Arctic, ia pernah menulis:
“Tanah yang begitu telanjang, tandus, dan keras, namun seseorang justru bisa jatuh cinta padanya.”

Saat pertama kali membaca kalimat itu, saya tidak benar-benar mengerti.
Tetapi setelah beberapa hari berada di Svalbard, saya mulai memahaminya.

Tempat ini memang tidak menawarkan kemewahan.
Tidak banyak pohon.
Tidak banyak warna.
Tidak banyak keramaian.
Tetapi justru karena itulah kita mulai memperhatikan hal-hal yang sering terlewatkan.

Keheningan.
Kesederhanaan.
Dan keagungan alam yang begitu murni.

Ada tempat-tempat yang membuat kita kagum karena keindahannya.
Ada pula tempat-tempat yang membuat kita kagum karena keheningannya.

Svalbard termasuk yang kedua.

Dari atas catamaran yang membelah Isfjorden hari ini, saya kembali menyadari bahwa Tuhan tidak hanya berbicara melalui Firman-Nya.
Kadang Ia juga berbicara melalui ciptaan-Nya.

Melalui gunung yang diam.
Melalui laut yang tenang.
Melalui gletser yang berdiri kokoh selama ribuan tahun.
Dan melalui keheningan yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak untuk mendengarkan.

Seperti kata Henri Rudi:
“Ketika badai mengamuk di luar dan teko kopi mendesis di atas tungku, saat itulah aku merasakan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun di dunia.”

Hari ini, di Isfjorden, saya mulai mengerti apa yang ia maksud.

Di hari terakhir sebelum kami ke airport, kabut putih pekat…. dan salju turun.
Bayangkan hujan salju di musim panas!
Kami mendapatkan pengalaman yang sangat komplit. Tak henti-hentinya mulut ini mengucapkan syukur. 4 hari 3 malam di Longyearbyen langit cerah, matahari sedemikian terik sehingga kami menikmati Fjord dengan sangat jelas. Jika kabut, semua pemandangan tertutup kabut.

Bukankah itu cara-Nya mendemonstrasikan kasih-Nya bagi kami?

Speechless!!!

“Lord, I love you full…”, copy – paste Mbah Surip.

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” – Albert Einstein

“Pandanglah alam lebih dalam, maka engkau akan memahami segala sesuatu dengan lebih baik.”- Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia

Pagi ini saya kembali terbangun di Longyearbyen, Svalbard.
Masih sulit dipercaya bahwa saya berada di hampir 78° lintang utara, begitu dekat dengan Kutub Utara.

Yang paling menarik adalah Midnight Sun di sini ternyata berbeda dengan yang kami alami di Lofoten.
Di Lofoten, langit memang terang sepanjang malam. Tetapi cahayanya lembut.

Di Svalbard berbeda.

Jam 9 malam, matahari masih bersinar terik seperti jam 12 siang di Indonesia.
Terang benderang.
Seolah-olah matahari lupa, ini sudah waktunya pulang.

Tubuh berkata malam.
Tetapi mata berkata siang.
Rasanya aneh sekaligus mengagumkan.

Pagi itu kami memulai city tour menyusuri alam liar Svalbard.

Pemandangan pertama yang menyambut kami adalah burung-burung Arctic yang beterbangan rendah di atas tundra.
Tidak lama kemudian kami melihat rusa kutub Svalbard (reindeer) sedang berjemur santai.
Sebagian berjalan di lereng gunung.
Sebagian lagi sibuk mencari makan di antara rerumputan pendek.
Sesekali kami juga melihat Arctic Fox, rubah kutub yang berlari cepat melintasi hamparan tanah yang luas.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian saya.
Semua guide membawa senapan.
Bukan satu.
Semua.
Awalnya saya mengira itu hanya formalitas.
Ternyata tidak.
Di luar kawasan kota, beruang kutub bisa muncul kapan saja.

Karena itulah sebelum kami turun dari kendaraan, guide selalu turun lebih dahulu.

Mengamati keadaan sekitar.
Barulah pintu dibuka dan kami diperbolehkan keluar.
Bahkan kami diminta tetap berjalan berkelompok.

Di Svalbard, manusia selalu diingatkan bahwa alam masih menjadi penguasa sesungguhnya.

Yang juga menarik adalah tanah yang kami injak.
Sekilas tampak biasa.
Tetapi ternyata tidak.
Tanah itu disebut tundra.
Saat musim panas, lapisan atasnya mencair sehingga terasa lembek ketika diinjak.

Namun beberapa sentimeter di bawahnya masih terdapat permafrost, lapisan tanah yang membeku permanen sepanjang tahun.
Saat musim dingin, daerah yang sama tertutup salju tebal selama berbulan-bulan.

Karena itulah kehidupan di sini tidak mudah.
Rusa-rusa kutub harus menggali salju untuk menemukan rumput yang tersembunyi di bawahnya.

Dalam perjalanan kami bahkan menemukan tulang-belulang seekor rusa yang mati secara alami sekitar dua tahun lalu.

Masih tergeletak di alam terbuka.
Tidak dipindahkan.
Tidak dibersihkan.

“From nature, back to nature,” kata Fernando.

Dari alam, kembali ke alam.

Bagian tubuhnya telah dimanfaatkan hewan-hewan lain dalam rantai kehidupan Arctic.
Tidak ada yang terbuang.
Alam memanfaatkan semuanya.

Menjelang siang kami berhenti di sebuah tenda sederhana untuk makan siang.
Menu yang tersedia cukup praktis.
Aneka nasi instan berbumbu, pasta, dan makanan siap saji khas outdoor.

Lucunya, kami menambahkan teri yang dibawa dari Indonesia.
Dan ternyata…
Enak juga!

Kami tertawa sambil berfoto memegang makan siang masing-masing.

Setelah itu kami menuju salah satu tempat paling penting di dunia:
Svalbard Global Seed Vault.

Banyak orang menjulukinya sebagai Bank Benih Dunia.
Atau Doomsday Vault.
Gudang harapan umat manusia.

Di sinilah lebih dari 1,3 juta sampel benih dari seluruh dunia disimpan pada suhu sekitar minus 18 derajat Celsius, jauh di dalam gunung.

Padi dari Asia.
Jagung dari Amerika.
Gandum dari Eropa.
Dan ribuan tanaman pangan lainnya.

Saya sangat tersentuh ketika mendengar tujuan tempat ini.
Benih-benih itu disimpan sebagai cadangan jika suatu hari terjadi perang, bencana alam besar, perubahan iklim ekstrem, atau kehancuran pertanian di suatu negara.

Dengan kata lain, ketika dunia kehilangan masa depannya, dunia masih memiliki salinannya di Svalbard.

Betapa luar biasanya.
Di tempat yang tampak tandus.
Di tempat yang hampir tidak memiliki pohon.
Di tempat yang begitu dingin dan terpencil.
Dunia justru menyimpan harapannya.

Bukankah itu sangat mirip dengan cara Tuhan bekerja?
Sering kali Dia menyimpan hal-hal paling berharga di tempat yang tidak pernah kita duga.

Sebelum kembali ke kota, kami berhenti di sebuah rambu terkenal bergambar beruang kutub.

Di bawahnya tertulis:
“Gjelder hele Svalbard.”

Artinya:
“Berlaku untuk seluruh Svalbard.”

Bukan hanya kawasan tertentu.
Bukan hanya tempat wisata.
Tetapi seluruh kepulauan Svalbard.
Rambu itu seperti pengingat bahwa kita hanyalah tamu.
Alam Arctic adalah tuan rumahnya.

Dalam perjalanan pulang saya sempat bertanya kepada Fernando dan Lorenzo.

“Apakah kalian tidak bosan tinggal di Svalbard yang sepi seperti ini?”

Mereka saling tersenyum.

“Never.”

Lalu Fernando berkata,
“Di sini hidup lebih sederhana. Orang belajar menikmati apa yang benar-benar penting.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Mungkin itulah pesona Svalbard.
Bukan sekadar gunung salju.
Bukan sekadar beruang kutub.
Bukan sekadar Seed Vault.
Tetapi ketenangan yang membuat kita kembali menyadari apa yang benar-benar penting.

Semakin lama berada di sini, semakin saya sadar bahwa tempat ini bukan sekadar destinasi wisata.

Ini adalah pengingat bahwa dunia yang Tuhan ciptakan jauh lebih besar, lebih unik, dan lebih menakjubkan daripada yang pernah kita bayangkan.

Di tempat yang paling dingin sekalipun, Tuhan tetap menyimpan harapan.

Sungguh luar biasa….

“Hva var det slags liv, dette bak disken? Nei, det var her i mørket og kulden, i ensomheten og den uendelige stillheten, at jeg fant det egentlige livet.” – Henri Rudi.

“Kehidupan macam apa itu di balik meja toko? Tidak, justru di sini, di dalam kegelapan dan kedinginan, dalam kesendirian dan keheningan yang tak bertepi, aku menemukan kehidupan yang sebenarnya” – Henri Rudi tentang Svalbard.

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Seruput Kopi Cantik ?
? Yenny Indra ?

*Di Negeri Beruang Kutub dan Gudang Harapan Dunia…*

Pagi ini saya kembali terbangun di Longyearbyen, Svalbard.
Masih sulit dipercaya bahwa saya berada di hampir 78° lintang utara, begitu dekat dengan Kutub Utara.

Yang paling menarik adalah Midnight Sun di sini ternyata berbeda dengan yang kami alami di Lofoten.

Di Lofoten, langit memang terang sepanjang malam.
Tetapi cahayanya lembut.

Di Svalbard berbeda.

Jam 9 malam, matahari masih bersinar terik seperti jam 12 siang di Indonesia.
Terang benderang.
Seolah-olah matahari lupa bahwa sudah waktunya pulang.

Mungkin karena kami semakin dekat ke kutub bumi.
Tubuh berkata malam.
Tetapi mata berkata siang.
Rasanya aneh sekaligus mengagumkan.

Pagi itu kami memulai city tour.
Pemandangan pertama yang menyambut kami adalah burung-burung Arctic yang beterbangan rendah di atas tundra.

Tidak lama kemudian kami melihat beberapa rusa kutub Svalbard (reindeer) sedang berjemur santai.
Sebagian berjalan di lereng gunung.
Sebagian lagi mencari makan di antara rerumputan pendek tundra.

Sesekali kami juga melihat Arctic Fox, rubah kutub yang berlari cepat melintasi hamparan tanah yang luas.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian saya.
Semua guide membawa senapan.
Bukan satu.
Semua.

Awalnya saya mengira itu hanya formalitas.

Ternyata tidak.

Di luar kawasan kota, beruang kutub bisa muncul sewaktu-waktu.

Karena itulah sebelum kami turun dari kendaraan, guide selalu turun lebih dahulu.
Membawa senapan.
Mengamati keadaan sekitar.

Barulah pintu dibuka dan kami diperbolehkan keluar.
Bahkan kami diminta tetap berjalan berkelompok.

Di Svalbard, manusia selalu diingatkan bahwa alam masih menjadi penguasa sesungguhnya.

Di salah satu lokasi kami berhenti di sebuah rambu yang cukup terkenal.
Bergambar beruang kutub dengan tulisan:
*”Gjelder hele Svalbard.”*

Artinya:
*”Berlaku untuk seluruh Svalbard.”*

Bukan hanya daerah tertentu.
Bukan hanya kawasan wisata.
Tetapi seluruh kepulauan Svalbard.

Rambu sederhana itu seolah berkata, “Anda sedang memasuki wilayah beruang kutub. Silakan menikmati alam, tetapi jangan lupa siapa pemilik aslinya.”

Sejak beruang kutub dilindungi pada tahun 1973, insiden memang sangat jarang terjadi. Namun prosedur keamanan tetap dijalankan dengan sangat serius.

Yang juga menarik adalah tanah yang kami injak.
Sekilas tampak biasa.
Tetapi ternyata tidak.
Tanah itu disebut tundra.

Saat musim panas, lapisan atasnya mencair sehingga terasa lembek dan basah ketika diinjak.

Namun beberapa sentimeter di bawahnya masih terdapat permafrost, lapisan tanah yang membeku permanen sepanjang tahun.

Saat musim dingin, kawasan yang sama akan tertutup salju tebal selama berbulan-bulan.
Karena itulah kehidupan di sini tidak mudah.

Rusa-rusa kutub harus menggali salju untuk menemukan rumput yang tersembunyi di bawahnya.
Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari makan.

Dalam perjalanan kami bahkan menemukan tulang-belulang seekor rusa yang mati secara alami sekitar dua tahun lalu.

Masih tergeletak di alam terbuka.
Tidak dipindahkan.
Tidak dibersihkan.
Dibiarkan begitu saja.

*”From nature, back to nature,”* kata guide kami.

Dari alam, kembali ke alam.
Kakinya sudah hilang, kemungkinan dimakan predator.

Bagian lainnya dimanfaatkan oleh hewan-hewan lain dalam rantai kehidupan Arctic.
Tidak ada yang terbuang.
Alam memanfaatkan semuanya.

Saat makan siang, pengalaman unik lainnya menunggu kami.

Kami makan di dalam tenda sederhana di tengah alam Arctic.
Menu yang tersedia cukup praktis.
Aneka nasi instan berbumbu, pasta, dan makanan cepat saji khas outdoor.

Lucunya, kami menambahkan teri yang dibawa dari Indonesia.
Dan ternyata…
Enak juga!

Kami tertawa sambil berfoto memegang makan siang masing-masing.
Di salah satu tempat paling terpencil di dunia, teri Indonesia tetap berhasil mencuri perhatian.

Namun puncak perjalanan hari itu adalah ketika kami mengunjungi salah satu tempat paling penting di dunia:
*Svalbard Global Seed Vault.*

Banyak orang menjulukinya sebagai *Bank Benih Dunia.*
Atau bahkan *Doomsday Vault.*
Gudang harapan umat manusia.

Mengapa dibangun di sini?

Karena Svalbard memiliki permafrost alami yang sangat stabil, jauh dari konflik dunia, jauh dari gempa besar, dan relatif aman dari banyak bencana alam.

Di dalam gunung, sekitar 130 meter dari pintu masuk, tersimpan lebih dari 1,3 juta sampel benih dari seluruh dunia pada suhu minus 18 derajat Celsius.

Padi dari Asia.
Jagung dari Amerika.
Gandum dari Eropa.
Dan ribuan tanaman pangan lainnya.

Jika suatu hari terjadi perang besar, perubahan iklim ekstrem, wabah, atau bencana yang menghancurkan pertanian di suatu negara, cadangan benihnya masih aman di sini.

Saya berdiri memandang gunung tempat benih-benih itu disimpan.

Dan saya terdiam.
Di tempat yang tampak tandus.
Di tempat yang hampir tidak memiliki pohon.
Di tempat yang begitu dingin dan terpencil.
Dunia justru menyimpan masa depannya.

Bukankah itu menarik?

Sebelum pulang, guide kembali mengingatkan satu fakta unik.
Karena kondisi permafrost, penguburan baru di Svalbard dilarang.

Tubuh manusia tidak terurai secara normal di tanah yang membeku permanen.

Penelitian terhadap korban Flu Spanyol yang dimakamkan puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa jejak virus masih dapat ditemukan karena jasadnya terawetkan oleh suhu dingin.

Itulah sebabnya orang yang sakit keras biasanya dipindahkan ke mainland Norway untuk mendapatkan perawatan dan pemakaman yang layak bila diperlukan.

Saya lalu bertanya kepada Fernando, guide kami dari Mexico.

“Apakah kamu tidak bosan tinggal bertahun-tahun di Svalbard yang sepi?”

Ia tersenyum.
“Never.”

Lalu ia menambahkan,

“Di sini tidak banyak distraksi. Alam mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal sederhana. Memang tidak untuk semua orang sich….”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Mungkin itulah pesona Svalbard.
Bukan sekadar gunung salju.
Bukan sekadar beruang kutub.
Bukan sekadar Seed Vault.
Tetapi ketenangan yang membuat kita kembali menyadari apa yang benar-benar penting.

Semakin lama berada di sini, semakin saya sadar bahwa tempat ini bukan sekadar destinasi wisata.

Ini adalah pengingat bahwa dunia yang Tuhan ciptakan jauh lebih besar, lebih unik, dan lebih menakjubkan daripada yang pernah kita bayangkan.

Di tempat yang paling dingin sekalipun, Tuhan tetap menyimpan harapan.

Sungguh luar biasa….

*”God often hides the most valuable things in the places we least expect.”*

*”Tuhan sering menyimpan hal yang paling berharga di tempat yang paling tidak kita sangka.”*

??YennyIndra??
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
??? MPOIN PLUS & PIPAKU ??
??? SVRG ??
??? SWEET O’ TREAT ??
??? AESTICA ID ??
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 6 420