Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Chaka Salt Lake: Ketika Bumi Meminjam Langit sebagai Cerminnya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Chaka Salt Lake: Ketika Bumi Meminjam Langit sebagai Cerminnya…

Kali ini liburan kami menjelajahi Xining–Xi’an dan sekitarnya.

Perjalanan dari Xining menuju Chaka Salt Lake memakan waktu sekitar 4,5 jam.

Tetapi perjalanan panjang ini tidak membosankan. Qinghai seperti membawa kami melintasi sejarah, budaya, dan bentang alam yang sama sekali berbeda dari kota-kota besar China yang biasa kita lihat.

Xining sejak dahulu mempunyai posisi strategis sebagai pintu menuju Dataran Tinggi Tibet dan bagian penting jaringan perdagangan Jalur Sutra. Berbagai etnis hidup berdampingan di Qinghai, termasuk Han, Tibet, Mongol, dan Hui.

Yang menarik perhatian saya, di sini cukup banyak masyarakat Muslim Tionghoa, terutama etnis Hui.

Urusan halal mereka serius sekali.

Bukan sekadar tidak makan babi. Makanan yang dikonsumsi juga diperhatikan proses dan pengolahannya. Driver kami seorang Muslim. Bahkan snack yang kami bawa dari Indonesia pun tidak mau dicicipinya karena ia tidak mengetahui dengan pasti proses pembuatannya.

Saya justru kagum melihat bagaimana seseorang memegang keyakinannya dengan sungguh-sungguh.

Sementara local guide kami penganut Budha Tibet.

Traveling memang membuat dunia terasa semakin luas.

Kita bertemu manusia dengan budaya, tradisi, dan keyakinan berbeda. Tidak harus menjadi sama untuk bisa saling menghormati.

Dalam perjalanan kami juga mendengar cerita tentang Pegunungan Kunlun, salah satu rangkaian pegunungan besar di Asia yang mempunyai tempat istimewa dalam sejarah dan legenda Tiongkok.

Jika bepergian dengan Qinghai-Tibet Railway menuju Lhasa, kereta akan melintasi kawasan Kunlun. Salah satu bagian jalurnya bahkan berada di sekitar ketinggian 4.600 meter. Semakin tinggi, permukiman manusia semakin jarang. Bentang alamnya didominasi pegunungan dan habitat satwa liar.

Jadi teringat sohib saya, P. Irsan, yang suka sekali cerita silat. Kunlun Pai, perguruan silat yang sering muncul dalam cerita-cerita pendekar Tiongkok… ternyata mengambil namanya dari Pegunungan Kunlun yang benar-benar ada.

Ha… ha….

Selama ini tahunya dari cerita silat, sekarang saya berada di kawasan yang selama ini hanya hidup dalam imajinasi.

Daerah ini memang sudah berada di dataran tinggi. Chaka Salt Lake sendiri terletak sekitar 3.059 meter di atas permukaan laut, sementara perjalanan menuju Tibet bahkan dapat membawa kita ke ketinggian lebih dari 5.000 meter.

Di tempat seperti ini, mau tidak mau kita kembali menyadari betapa kecilnya manusia di tengah kemegahan ciptaan Tuhan.

Lalu tibalah kami di Chaka Salt Lake.

Wow!

Sejauh mata memandang terlihat hamparan putih.

Garam.

Bukan salju.

Chaka terbentuk melalui proses alam yang sangat panjang. Kawasan ini merupakan cekungan tertutup. Air membawa berbagai mineral ke dalamnya, lalu penguapan meninggalkan kandungan garam yang selama ribuan tahun membentuk lapisan garam keras yang kita lihat hari ini.

Kami kemudian menaiki kereta wisata menuju salah satu pemberhentian di area danau.

Sebelum turun ke hamparan garam, kami diberi pelindung karet untuk membungkus sepatu. Detail kecil, tetapi menunjukkan bagaimana kebutuhan dan kenyamanan wisatawan dipikirkan dengan serius.

Tidak heran pengalaman berwisata di banyak tempat di China terasa begitu tertata.

Barulah saya memahami mengapa tempat ini terkenal sebagai “Mirror of the Sky”, Cermin Langit.

Di atas lapisan garam yang keras terdapat air tipis. Ketika kondisi tepat dan air cukup tenang, permukaannya memantulkan langit, awan, dan manusia yang berdiri di atasnya.

Jepret!

Kita seperti mempunyai kembaran di bawah kaki.

Langit di atas.

Langit di bawah.

Cantik sekali.

Dan sekarang saya mengerti mengapa cuaca begitu penting di Chaka.

Sebelum datang, saya sudah berdoa supaya tidak hujan. Setelah menyampaikan permintaan kepada Tuhan, saya memilih tidak memikirkannya lagi.

Beberapa teman masih berkali-kali berkata,

“Semoga nggak hujan ya…”

“Kalau hujan bagaimana?”

Saya memilih berhenti di sana.

Saya sudah meminta. Sekarang bagian saya adalah percaya.

Bukan karena saya yakin Tuhan harus mengikuti keinginan saya, tetapi karena saya yakin apa pun hasilnya, kasih-Nya kepada saya tidak berubah dan Dia tahu yang terbaik.

Dan ketika akhirnya berdiri di sana menikmati pantulan Chaka yang indah, hati saya penuh syukur.

Di kawasan ini ternyata bukan hanya ada hamparan garam. Ada berbagai karya dan spot foto yang unik: patung-patung ukiran garam, bangunan menyerupai istana bak Disneyland, gitar besar yang mengingatkan saya pada Hard Rock Cafe, ayunan, dan berbagai tempat cantik untuk berfoto.

Pokoknya urusan foto…

Kalau di Harbin hampir semuanya dibuat dari es, di Chaka garam pun naik kelas menjadi karya seni.

China memang mengerti kebutuhan para turis.

Ha… ha….

Ada pula legenda lokal tentang cermin yang membuat Chaka semakin puitis. Salah satu cerita menghubungkan kawasan Qinghai dengan cermin, matahari, dan bulan. Entah bagaimana persisnya legenda itu berkembang selama berabad-abad, berdiri di Chaka membuat saya memahami mengapa manusia zaman dahulu menghubungkan tempat ini dengan sebuah cermin raksasa.

Alamnya memang seperti lukisan.

Dan perjalanan hari itu ditutup dengan kenikmatan yang jauh lebih sederhana:

Lamian halal buatan penduduk Muslim setempat.

Wuih…

Mi-nya lembut dan empuk sekali. Setelah berjalan di udara dataran tinggi dengan oksigen yang lebih tipis, semangkuk lamian hangat rasanya naik kelas menjadi makanan bintang lima.

Kami menginap semalam di Chaka.

Kebetulan tanggal 25 Agustus itu wedding anniversary saya dan P. Indra yang ke-41.

Surprise!

Tanpa kami duga, TX Travel sudah menyiapkan extra food, dua kue tart, bahkan kamar kami dihias lucu untuk merayakan anniversary.

Wow… senangnya!

Thank you TX Travel, P. Anton Thedy & B. Rita, Lita, TL kami, dan semua teman-teman. Love you all!

Chaka menjadi salah satu pemberhentian yang indah.

Perjalanan kami masih berlanjut.

“If I could wish for anything, I would not wish for wealth or power, but for a passionate sense of possibility-for an eye that, forever young and eager, always sees what could be.” – Søren Kierkegaard.

“Jika aku bisa meminta apa saja, aku tidak ingin kekayaan atau kekuasaan, melainkan kepekaan jiwa terhadap potensi, serta mata yang selalu muda dan bersemangat untuk melihat berbagai kemungkinan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

A quiet heart reflects God’s goodness more clearly, just as still water reflects the sky.”

“Hati yang tenang memantulkan kebaikan Tuhan dengan lebih jelas, seperti air yang tenang memantulkan langit.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Tetap Muda, Ternyata Bukan Karena Usia…. Lho?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tetap Muda, Ternyata Bukan Karena Usia…. Lho?

Pernahkah seseorang berkata kepada kita, “Kok kamu kelihatan jauh lebih muda dari umurmu?”

Biasanya kita spontan menjawab, “Ah, masa sih?” lalu tersenyum senang.

Tetapi ada sesuatu yang menarik dari tulisan yang saya baca. Pesannya bukan sebenarnya tentang kulit, wajah, atau berapa banyak kerutan yang kita miliki.

Ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan.

Psikologi mengenal istilah subjective age, yaitu usia yang kita rasakan di dalam diri, yang tidak selalu sama dengan usia kronologis. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami lebih banyak stres dan lebih sedikit pengalaman positif, ia cenderung merasa lebih tua dan bahkan melaporkan bahwa dirinya terlihat dan berperilaku lebih tua. Sebaliknya, pengalaman positif dapat membantu seseorang merasa lebih muda.

Menarik, bukan?

Jadi ketika seseorang terlihat lebih muda, tentu faktor genetik, kesehatan, perawatan tubuh, tidur, nutrisi dan banyak faktor lainnya tetap berperan. Kita tidak boleh menyederhanakan semuanya menjadi, “Kalau hatimu bahagia, pasti wajahmu muda.”

Tetapi psikologi memang menemukan hubungan antara stres, cara kita memandang diri sendiri, dan kesejahteraan emosional. Persepsi yang lebih positif terhadap proses menua juga ditemukan dapat meredam dampak stres terhadap keluhan kesehatan fisik.

Nah, di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih dalam.

Kita semua pernah melewati badai.

Ada doa yang belum terjawab. Ada orang yang mengecewakan. Ada hubungan yang tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Ada kehilangan. Ada masa ketika kita menangis diam-diam dan tidak seorang pun tahu.

Tetapi pengalaman pahit tidak harus membuat hati kita pahit.

Kita boleh terluka tanpa menjadi pahit.
Kita boleh kecewa tanpa kehilangan pengharapan.
Kita boleh menangis tanpa kehilangan sukacita.

Menurut saya, ini salah satu bentuk kedewasaan yang paling indah.

Semakin bertambah usia, seharusnya kita tidak semakin berat karena membawa semua luka masa lalu ke mana-mana. Justru kita belajar meletakkan apa yang sudah tidak perlu dibawa.

Belajar melepaskan.

Belajar mengampuni.

Belajar berkata, “Tidak apa-apa, saya tidak harus memenangkan semua perdebatan.”

Belajar menjaga energi.

Belajar menjauh dari drama tanpa menyimpan kebencian.

Belajar tetap baik tanpa harus membuat semua orang menyukai kita.

Dan yang paling penting, belajar menjaga damai sejahtera di dalam hati.

Bukankah ada orang yang secara usia masih muda tetapi wajah dan hidupnya terlihat begitu lelah?

Sebaliknya, ada orang yang usianya sudah jauh lebih matang, tetapi ketika kita berbicara dengannya, ada sesuatu yang ringan. Matanya masih berbinar. Ia masih bisa tertawa. Masih punya mimpi. Masih ingin belajar. Masih mudah bersyukur.

Menurut saya, itulah hati yang tidak membiarkan kehidupan menjadi keras.

Bukan berarti hidupnya mudah.

Justru mungkin ia sudah melewati jauh lebih banyak badai daripada yang kita tahu.

Tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan badai menentukan siapa dirinya.

Dan di sinilah iman saya kepada Tuhan membuat perbedaannya.

Saya percaya damai bukan berarti hidup tanpa masalah.

Damai adalah ketika kita tahu bahwa kita tidak menghadapi hidup seorang diri.

Ada Tuhan yang memegang hidup kita.

Ada kasih karunia yang cukup untuk hari ini.

Ada pengharapan bahwa cerita kita belum selesai.

Karena itu, saya tidak ingin memasuki usia yang semakin bertambah dengan hati yang semakin tua.

Saya ingin usia bertambah, tetapi hati tetap hidup.

Tetap ingin belajar.

Tetap mudah mengagumi kebaikan Tuhan.

Tetap bisa tertawa karena hal-hal sederhana.

Tetap punya keberanian untuk memulai lagi.

Tetap bisa mengasihi meskipun pernah terluka.

Dan tetap memilih damai ketika sebenarnya kita punya banyak alasan untuk marah.

Mungkin inilah arti sebenarnya dari “looking younger than your age.”

Bukan berarti kita harus terlihat dua puluh tahun lebih muda.

Tetapi ketika orang bertemu dengan kita, mereka merasakan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh skincare apa pun:

hati yang ringan, jiwa yang damai, dan sukacita yang belum kehilangan kehidupan.

Usia akan terus berjalan.

Kerutan mungkin akan datang.

Rambut mungkin akan berubah warna.

Tubuh mungkin tidak lagi sekuat dulu.

Tetapi jangan biarkan hati kita ikut menjadi tua.

Biarlah tubuh bertambah usia, tetapi hati semakin matang, semakin damai, semakin penuh kasih, dan semakin hidup di dalam Tuhan.

Mungkin itulah kecantikan yang sesungguhnya.

Dan kecantikan seperti itu tidak mengenal usia.

“Beautiful young people are accidents of nature, but beautiful old people are works of art” – Eleanor Roosevelt.

“Menjadi muda dan cantik adalah anugerah alam, tetapi menjadi indah di usia tua adalah sebuah karya seni.”
– Eleanor Roosevelt.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Mungkin rahasia tetap muda bukan terletak pada bagaimana kita merawat wajah, tetapi bagaimana kita menjaga hati agar tidak kehilangan sukacita.”

“Perhaps the secret to staying young is not how we care for our face, but how we guard our hearts from losing their joy.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Kamu Tidak Hilang, Kamu Sedang Dicari.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kamu Tidak Hilang, Kamu Sedang Dicari.

Ada satu bagian hidup yang sering tidak kita ceritakan ke siapa pun. Bagian ketika kita merasa “hilang”. Bukan hilang secara fisik, tapi hilang arah, hilang semangat, hilang rasa berharga. Kita masih ada, masih berfungsi, tapi di dalam terasa kosong.

Dalam salah satu cerita yang Yesus sampaikan, ada seorang perempuan yang kehilangan satu dirham. Hanya satu dari sepuluh. Secara logika, ia masih punya sembilan. Masih cukup. Tapi ia tidak menganggapnya kecil. Ia menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencari dengan teliti sampai menemukannya. Karena bagi dia, yang satu itu tetap bernilai.

Di sini kita belajar sesuatu yang penting. Nilai tidak hilang hanya karena kita jatuh. Tidak hilang karena kita tersesat. Tidak hilang karena kita gagal. Dirham itu tetap perak, walaupun ada di debu. Begitu juga kita.

Masalahnya, saat kita berada di titik rendah, kita mulai percaya bahwa kita sudah kehilangan nilai. Kita merasa sudah terlalu jauh, terlalu rusak, terlalu terlambat. Padahal bukan nilai kita yang hilang. Kita hanya “tergeser posisi”.

Dan Tuhan tidak pernah mengabaikan itu. Dia tidak berkata, “Sudahlah, masih ada yang lain.” Dia tidak berkata, “Itu salahnya sendiri.” Dia mencari.

Dia menyalakan terang. Terang itu membuka hal-hal yang selama ini tersembunyi. Kadang tidak nyaman. Kita mulai melihat luka lama, pola pikir yang salah, kebiasaan yang merusak. Tapi di situlah pemulihan dimulai.

Lalu ada proses “menyapu”. Membersihkan. Menggeser apa yang selama ini menutupi nilai kita. Ego, kepahitan, ketakutan, kompromi. Ini juga tidak mudah, tapi tanpa itu, kita tetap tertutup.

Dan Tuhan tidak berhenti sampai menemukan.

Kalau kita lihat dalam kehidupan nyata, kisah seperti ini juga nyata. Joyce Meyer pernah mengalami masa kecil yang sangat berat. Ia mengalami pelecehan dari ayahnya sendiri selama bertahun-tahun. Luka itu membentuk hidupnya. Ia tumbuh dengan rasa marah, kepahitan, dan identitas diri yang rusak. Dalam banyak hal, hidupnya terlihat seperti “hancur dari dalam”.

Tetapi Tuhan tidak berhenti di situ.

Dalam perjalanannya, Joyce mulai mengenal firman Tuhan secara pribadi. Prosesnya tidak instan. Tuhan mulai menyingkapkan luka-luka yang selama ini ia simpan. Ia harus belajar mengampuni, belajar mempercayai kembali, belajar mengubah cara berpikirnya yang selama ini dipenuhi trauma. Itu menyakitkan, tapi juga menyembuhkan.

Sedikit demi sedikit, hidupnya dipulihkan. Bukan hanya secara emosi, tapi juga secara rohani. Dari seseorang yang penuh luka, ia berubah menjadi seseorang yang membawa pemulihan bagi banyak orang. Hari ini, pelayanannya menjangkau jutaan orang di seluruh dunia.

Ia tidak kehilangan nilai. Ia hanya sempat tertutup oleh luka.

Begitu juga kita.

Kadang hidup terasa kacau, tidak jelas, bahkan memalukan. Tapi bisa jadi itu bukan akhir. Itu bagian dari proses Tuhan untuk menemukan, membuka, dan memulihkan kita.

Dan saat perempuan itu menemukan dirhamnya, ia bersukacita. Ia merayakan. Itu gambaran hati Tuhan. Pemulihan kita bukan hal kecil bagi-Nya.

Jadi kalau hari ini kita merasa hilang, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sudah selesai. Bisa jadi kita tidak hilang. Kita sedang dicari.

Dan proses yang kita jalani sekarang, walaupun tidak nyaman, bisa jadi adalah cara Tuhan membawa kita kembali.

Jangan menolak terang. Jangan menolak proses.

Karena di ujungnya, kita bukan hanya ditemukan… kita dipulihkan.

“God doesn’t call the qualified, He qualifies the called.” — Unknown

“Tuhan tidak memanggil yang mampu, Dia memampukan yang dipanggil.” – Anonim

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

You are not forgotten. You are being found.”

“Kamu tidak dilupakan. Kamu sedang ditemukan.” – YennyIndra

Read More
Articles

Bukan Sekadar Naik Posisi, Tapi Dipanggil untuk Tujuan…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Bukan Sekadar Naik Posisi, Tapi Dipanggil untuk Tujuan…

Di sebuah kerajaan besar, raja sedang mencari ratu baru. Banyak perempuan dikumpulkan, dipersiapkan, dan diberi kesempatan untuk tampil sebaik mungkin. Secara alami, suasananya penuh persaingan. Masing-masing ingin terlihat paling menarik, paling menonjol, paling layak dipilih.

Di tengah situasi itu, ada Ester. Seorang perempuan muda Yahudi, tanpa latar belakang istana, tanpa “modal” sosial. Menariknya, saat yang lain sibuk menunjukkan diri, Ester justru memilih hal yang berbeda. Ia tidak mencoba mengatur segalanya dengan caranya sendiri. Ia mengikuti saran para sida-sida istana, orang-orang yang setiap hari melayani raja, yang tahu selera raja, tahu apa yang disukai dan tidak disukai.

Secara logika, mungkin terlihat sederhana. Tapi sebenarnya ini keputusan yang sangat cerdas.

Ester tidak mengandalkan dirinya. Ia rendah hati untuk belajar dan mau diarahkan oleh orang yang lebih paham situasi. Sementara yang lain sibuk bersaing dan menonjolkan diri, Ester memilih mendengar.

Dan justru itu yang membuatnya berbeda.

Ia tidak tampil berlebihan, tidak memaksakan diri, tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia berjalan dengan hikmat, bukan ambisi.

Hasilnya, ia mendapat perkenanan.

Ini menarik. Kadang kita pikir untuk maju, kita harus paling terlihat, paling keras, paling menonjol. Tapi Ester menunjukkan hal lain. Justru sikap hati yang benar, kerendahan hati untuk belajar, dan kepekaan membaca situasi, itu yang membuka pintu.

Dan benar saja, Ester akhirnya terpilih menjadi ratu.

Tapi kisahnya tidak berhenti di sana.

Beberapa waktu kemudian, muncul ancaman besar. Ada rencana untuk memusnahkan seluruh bangsa Yahudi. Dan Ester, walaupun sekarang ratu, tetap bagian dari bangsa itu.

Di sinilah posisi yang ia miliki tiba-tiba punya makna yang jauh lebih besar.

Mordekhai, orang yang membesarkannya, mengirim pesan yang sangat jelas. Intinya begini:
“Jangan pikir kamu aman hanya karena kamu ada di istana. Kalau kamu diam sekarang, pertolongan tetap akan datang dari tempat lain, tapi kamu bisa kehilangan bagianmu. Siapa tahu justru untuk saat seperti ini kamu ditempatkan di posisi itu.”

Kalimat ini sederhana, tapi tajam.

Mordekhai sedang mengingatkan Ester bahwa posisinya bukan kebetulan. Ada tujuan di baliknya. Dan tujuan itu sedang menunggu responsnya.

Ester dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Kalau ia diam, ia aman. Tapi bangsanya binasa. Kalau ia bicara, ia bisa kehilangan nyawa.

Karena menghadap raja tanpa dipanggil bukan hal sepele.

Di titik ini, kita melihat sesuatu yang dalam. Ester tidak langsung bertindak gegabah. Ia tidak mengandalkan keberanian sesaat. Ia berhenti, ia berdoa, ia berpuasa.

Ia memastikan hatinya selaras dulu, sebelum melangkah.

Lalu ia mengambil keputusan.

Ia berkata, kalau harus mati, ia siap.

Ini bukan nekat. Ini keputusan sadar.

Dan dari satu langkah itu, sejarah berubah. Bangsanya diselamatkan.

Kalau dipikir-pikir, semua ini dimulai dari hal yang terlihat kecil. Dari sikap hati saat di proses. Dari kerendahan hati untuk mendengar. Dari pilihan untuk tidak bersaing secara ego, tapi berjalan dengan hikmat.

Lalu berlanjut ke keberanian saat momen besar datang.

Sering kali kita menunggu momen besar, tapi lupa membangun sikap yang benar di hal kecil.

Ester tidak tiba-tiba siap di momen tekanan. Ia sudah dibentuk sebelumnya.

Kalau kita tarik ke hidup kita, ini sederhana tapi dalam.

Tidak semua kesempatan datang dengan label “ini panggilanmu”. Kadang kita baru sadar setelah kita sudah ada di dalamnya.

Posisi kita hari ini, pekerjaan kita, lingkungan kita, bisa jadi bukan kebetulan.

Pertanyaannya bukan “kenapa saya di sini”, tapi “untuk apa saya di sini”.

Dan saat momen itu datang, biasanya tidak nyaman.

Akan ada risiko. Akan ada tekanan.

Di situlah kita memilih. Diam dan aman, atau taat dan berdampak.

Ester memilih taat.

Dan itu yang membuat hidupnya berarti.

“Courage is not the absence of fear, but the triumph over it.” — Nelson Mandela

“Keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi menang atas rasa takut itu.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Favor is not a reward. It is a responsibility.”

“Perkenanan bukan hadiah. Itu tanggung jawab.”
– YennyIndra

Read More
Articles

Jaga Hatimu, Karena di Situlah Peperangan Dimulai…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jaga Hatimu, Karena di Situlah Peperangan Dimulai…

Ada kisah yang sejak kecil mungkin sudah kita kenal: Simson dan Delila.

Simson bukan orang biasa. Sejak dari kandungan, ia telah dikhususkan bagi Allah sebagai seorang nazir. Tuhan memberikan kepadanya kekuatan yang luar biasa. Kita membaca bagaimana suatu hari Simson sedang berjalan menuju Timna, lalu seekor singa muda datang mengaum-aum hendak menerkamnya. Roh TUHAN berkuasa atas Simson, sehingga ia mencabik singa itu seperti orang mencabik anak kambing, padahal ia tidak membawa senjata apa pun.

Bayangkan. Singa datang dengan kekuatannya, tetapi Simson mengalahkannya dengan tangan kosong.

Bukan hanya itu. Simson kemudian mampu mengalahkan ribuan orang Filistin seorang diri. Kekuatan yang bekerja di dalam dirinya benar-benar luar biasa.

Tetapi orang yang memiliki kekuatan sebesar itu akhirnya jatuh.

Bukan karena ia tidak kuat.
Bukan karena musuhnya lebih kuat.
Bukan karena rambutnya semata-mata.
*Persoalannya adalah hatinya.*

Diceritakan bagaimana Delila berkali-kali mendesak Simson untuk memberitahukan sumber kekuatannya. Tiga kali Simson memberikan jawaban yang tidak benar. Tetapi Delila tidak berhenti.

Ia terus mendesak Simson setiap hari sampai hatinya jemu.

Lalu ia berkata:
“Bagaimana mungkin engkau berkata: Aku mencintai engkau, padahal hatimu tidak bersama-sama dengan aku?”

Akhirnya Simson memberitahukan seluruh isi hatinya.

Dan perhatikan kalimat ini karena menurut saya sangat penting:
“Ia telah memberitahukan kepadanya seluruh isi hatinya.”

Di situlah titik balik kehidupan Simson.

Delila bukan hanya mendapatkan informasi. Ia mendapatkan akses kepada hati Simson.

Ketika Delila mengetahui bahwa rambut Simson tidak pernah dicukur karena ia seorang nazir Allah sejak kandungan, ia menyuruh orang Filistin datang. Simson dibuat tidur di pangkuannya, lalu ketujuh rambut kepalanya dicukur.

Ketika Simson terbangun, ia berpikir ia akan kembali melepaskan diri seperti sebelumnya.
Tetapi kali ini berbeda.

“TUHAN telah meninggalkan dia.”

Selama ini kita sering berpikir masalah Simson adalah rambut.
Padahal sebenarnya bukan.
Persoalannya adalah hati.

Rambut hanyalah tanda lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu kehidupan yang telah dikhususkan bagi Allah. Simson tahu panggilannya. Ia tahu kekuatannya berasal dari Tuhan. Tetapi ia gagal menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.

Inilah yang sering tidak kita sadari dalam kehidupan rohani.
Kita sibuk memikirkan apa yang terjadi di luar, padahal peperangan terbesar sering kali terjadi di dalam hati.

Dalam kitab Amsal, Raja Salomo berkata:
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Mengapa hati harus dijaga?
Karena apa yang menguasai hati kita akhirnya akan memengaruhi pikiran, perkataan, keputusan, dan kehidupan kita.

Saya percaya salah satu alasan orang percaya sulit berjalan dalam kasih karunia, iman, pengurapan Roh Kudus, dan kepenuhan yang Tuhan telah sediakan adalah karena kita belum belajar menjaga hati dan roh kita.

Kita tahu Tuhan adalah Penyedia. Tetapi ketika kekurangan datang, apakah hati kita langsung panik?

Kita tahu Tuhan adalah Penyembuh. Tetapi ketika tubuh belum berubah, apakah kita mulai menerima ketakutan?

Kita tahu Tuhan menyertai kita. Tetapi ketika seseorang menyakiti kita, apakah kita membiarkan kepahitan tinggal di dalam hati?

Di situlah penjagaan hati menjadi penting.
Hati kita tidak boleh menjadi tempat tinggal bagi setiap perkataan yang kita dengar.

Tidak semua suara harus kita izinkan menetap.
Tidak semua opini harus kita percaya.
Tidak semua ketakutan harus kita pelihara.
Tidak semua pikiran harus kita jadikan kenyataan.

Amsal Salomo berkata:
“Orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

Menaklukkan kota mungkin terlihat hebat. Tetapi Tuhan berkata bahwa menguasai diri sendiri jauh lebih besar.

Simson memiliki kekuatan untuk mengalahkan singa dan ribuan musuh, tetapi ia gagal menjaga hatinya sendiri.

Betapa mudahnya kita mengagumi kekuatan Simson, tetapi lupa belajar dari kelemahannya.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:
“Seberapa kuat saya?”
Melainkan:
“Siapa yang memegang hati saya?”

Apakah Firman Tuhan?
Atau perkataan manusia?
Apakah iman?
Atau ketakutan?
Apakah kasih karunia?
Atau rasa bersalah dan kepahitan?

Jaga hati kita.
Jaga roh kita.
Sebab dari sanalah kehidupan mengalir.

Dan ketika hati kita terus diselaraskan dengan Firman Tuhan, kita akan semakin mampu berjalan dalam apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita: kasih karunia, iman, pengurapan, kepenuhan, dan kehidupan yang menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya.

Masalahnya bukan seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Masalahnya adalah siapa yang kita izinkan memegang hati kita.

He who conquers others is strong; he who conquers himself is mighty.” – Lao Tzu

“Orang yang menaklukkan orang lain adalah kuat; orang yang menaklukkan dirinya sendiri adalah perkasa.- Lao Tzu

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Musuh tidak selalu menghancurkan kita dari luar. Kadang ia menang ketika kita memberinya akses ke dalam.”

“The enemy does not always destroy us from the outside. Sometimes he wins when we give him access to what is within.” – Yenny Indra

Read More
1 2 3 4 5 6 427