Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…

Kita semua senang berbicara tentang mimpi besar, doa yang terjawab, promosi, keberhasilan, dan pintu-pintu yang terbuka. Tetapi sangat sedikit orang yang suka membicarakan proses.

Padahal justru di sanalah kehidupan dibentuk.

Yusuf tidak langsung menjadi penguasa di Mesir. Ia melewati sumur, dijual saudara sendiri, menjadi budak, difitnah, dipenjara, dilupakan orang, lalu perlahan dibawa naik oleh Tuhan. Kalau dipikir secara manusia, jalannya terasa aneh. Terlalu panjang. Bahkan tampak tidak adil.

Tetapi Tuhan tidak pernah membuang waktu.

Sering kali kita berpikir tujuan adalah hal terpenting. Padahal bagi Tuhan, siapa diri kita saat sampai di tujuan jauh lebih penting daripada sekadar posisi yang kita capai.

Karena itu Tuhan membawa kita melalui berbagai stages kehidupan. Ada level ketika tanggung jawab mulai diperbesar. Ada tahap ketika karakter dibentuk lewat tekanan. Ada musim ketika iman diuji saat tidak ada satu pun hal yang terlihat bergerak.

Dan jujur saja, proses itu tidak nyaman.
Kita maunya cepat. Tuhan maunya matang.

Kita sering berdoa minta dipakai lebih besar, tetapi Tuhan justru membawa kita masuk ke musim pembentukan yang membuat ego dikikis, emosi ditertibkan, motivasi dimurnikan, dan hati dilatih tetap benar bahkan ketika tidak dihargai.

Di situlah banyak orang menyerah.

Mereka ingin hasil tanpa proses. Ingin promosi tanpa tanggung jawab. Ingin dipakai Tuhan tanpa mau dibentuk Tuhan.

Padahal sesuatu yang dibangun tanpa kedalaman biasanya tidak bertahan lama.

Yusuf berbeda.

Saat menjadi budak di rumah Potifar, sebenarnya Tuhan sedang melatih banyak hal dalam dirinya. Yusuf belajar tanggung jawab, ketelitian, tata krama, dan cara bersikap di lingkungan Mesir. Ia belajar bagaimana membawa diri dengan hormat dan bijaksana. Semua itu kelihatannya kecil, tetapi ternyata menjadi bagian penting dalam persiapannya.

Kelak, saat berdiri di hadapan Firaun, Yusuf tidak tampil seperti orang pahit yang haus pembelaan diri.

Ia tahu cara berbicara dengan sopan tanpa meninggikan diri. Ia tidak memanfaatkan kesempatan bertemu raja untuk menuntut keadilan atau meminta dibebaskan dari penjara. Padahal secara manusia, itu kesempatan emas.

Tetapi Yusuf tidak bergerak dari luka.
Ia bergerak dari kedewasaan.

Ia justru memberikan solusi. Ia mengarahkan perhatian kepada Allah dan memuliakan Tuhan, bukan mempromosikan dirinya sendiri.

Dan sikap seperti itu terasa.

Ada sesuatu dari orang yang sungguh “rest in the Lord” yang membawa rasa aman bagi orang lain. Tidak memaksa. Tidak haus pengakuan. Tidak sibuk meninggikan diri. Ada ketenangan yang membuat orang nyaman mempercayainya.

Itulah yang dilihat Firaun.

Meski Yusuf orang asing, mantan narapidana, dan bukan bagian dari bangsa Mesir, Firaun merasa aman memberikan kuasa penuh kepadanya. Para petinggi Mesir pun tidak merasa terancam oleh kehadiran Yusuf.

Mengapa?

Karena proses panjang telah menghasilkan kestabilan di dalam dirinya.

Pengendalian diri tidak muncul tiba-tiba. Kerendahan hati juga bukan sesuatu yang instan.

Salah satu stages penting dalam hidup Yusuf adalah belajar mengelola kekecewaan.

Bayangkan saat juru minuman yang pernah ditolongnya justru melupakannya bertahun-tahun. Yusuf punya alasan untuk kecewa, marah, bahkan pahit kepada Tuhan. Tetapi penundaan tidak membuatnya kehilangan hati.

Dan itu sangat penting.

Banyak orang gagal bukan saat menderita, tetapi saat kecewa. Kecewa membuat hati berubah arah. Mulai sinis. Mulai kehilangan kasih. Mulai mempertanyakan Tuhan.

Tetapi Yusuf tetap menjaga hati.

Ternyata yang Tuhan kerjakan di dalam diri Yusuf selama 13 tahun proses jauh lebih besar daripada posisi yang akhirnya ia terima.

Karena apa yang dibentuk Tuhan di dalam diri kita melalui proses, itulah yang nantinya menjadi fondasi bagi tujuan hidup kita.

Kadang kita mengira Tuhan sedang menahan kita. Padahal sebenarnya Tuhan sedang memperbesar kapasitas kita.

Sebab berkat besar membutuhkan hati yang besar. Tanggung jawab besar membutuhkan kedewasaan besar.

Dan kedewasaan tidak lahir dalam semalam.

Jangan remehkan stages kehidupan yang sedang kita jalani hari ini.

Bisa jadi hari-hari yang terasa berat, sepi, membosankan, bahkan menyakitkan itu justru sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kestabilan, hikmat, pengendalian diri, dan hati yang siap dipercaya.

Masa persiapan tidak pernah sia-sia.

“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened.” – Helen Keller.

“Karakter tidak dibentuk dalam kenyamanan dan kehidupan yang tenang. Hanya melalui ujian dan penderitaan jiwa menjadi kuat. – Helen Keller.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Dr. Caroline Leaf pernah menulis sesuatu yang sangat menarik.

Ia berkata bahwa sering kali seseorang justru merasa cemas ketika hidupnya mulai baik-baik saja.

Mengapa?

Karena terlalu lama hidup dalam “survival mode” membuat damai terasa asing.

Orang yang bertahun-tahun hidup dalam tekanan, konflik, ketakutan, penolakan, atau stres terus-menerus, akhirnya terbiasa hidup waspada. Otaknya terus mencari ancaman. Bahkan ketika ancaman itu sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Dan ini kalimat yang sangat dalam dari Caroline Leaf:

“The anxiety you feel in the good moments is your mind catching up to a life it hasn’t learned to trust yet.”

“Kecemasan yang muncul di saat-saat baik sebenarnya adalah pikiran kita yang sedang berusaha mengejar kehidupan yang belum ia pelajari untuk dipercayai.”

Aduh… dalam sekali.

Bukankah banyak dari kita memang seperti itu?

Saat hidup sulit, kita berdoa meminta damai.
Tetapi waktu damai itu datang, kita malah gelisah.

Takut semuanya akan rusak lagi.
Takut kecewa lagi.
Takut ditinggalkan lagi.
Takut sakit lagi.
Takut kehilangan lagi.

Akhirnya kita tidak pernah benar-benar menikmati sukacita.

Tubuh duduk di tempat yang aman, tetapi pikiran masih hidup di masa lalu.

Padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam damai sejahtera. Bukan damai palsu dari keadaan luar, tetapi damai yang menjaga hati dan pikiran.

Masalahnya, banyak orang lebih terbiasa hidup dalam tekanan daripada hidup dalam ketenangan.

Kalau suasana tenang, malah curiga.
Kalau semuanya baik-baik saja, malah berpikir:
“Pasti nanti ada sesuatu yang buruk terjadi.”

Mengapa?

Karena pikiran yang terus-menerus hidup dalam ancaman akhirnya membentuk pola berpikir tertentu.

Dan itu sebabnya pembaruan pikiran sangat penting.

Firman Tuhan tidak hanya menyelamatkan roh kita. Firman juga memulihkan cara berpikir kita.

Ada orang yang sudah keluar dari situasi toxic, tetapi pikirannya belum keluar.
Sudah tidak hidup dalam penolakan, tetapi masih merasa tidak aman.
Sudah diberkati Tuhan, tetapi tetap hidup dengan mentalitas takut kehilangan.

Itulah sebabnya Tuhan sering membawa kita masuk dalam proses “rest”.

Belajar percaya.
Belajar tenang.
Belajar berhenti mengantisipasi kehancuran setiap saat.

Kadang yang paling sulit bukan melewati badai.

Tetapi mempercayai bahwa badai sudah berlalu.

Bangsa Israel juga seperti itu. Walaupun sudah keluar dari Mesir, mental budak mereka belum hilang. Mereka masih berpikir seperti orang tertindas.

Dan banyak orang percaya hidup seperti itu hari ini.

Sudah ditebus.
Sudah diampuni.
Sudah diberkati.
Tetapi pikiran masih hidup dalam mode bertahan.

Karena itu Caroline Leaf memberi latihan sederhana:
tuliskan tiga hal yang benar-benar baik dalam hidup kita saat ini.

Mengapa?

Karena pikiran perlu belajar melihat bukti bahwa Tuhan sedang bekerja.

Ini sangat sejalan dengan prinsip Firman Tuhan tentang mengarahkan pikiran kepada perkara yang benar, mulia, baik, dan patut disyukuri.

Semakin kita melatih pikiran melihat kebaikan Tuhan, semakin jiwa belajar tenang.

Dan ketenangan itu bukan berarti masalah tidak ada.

Tetapi hati kita tidak lagi diperbudak ketakutan.

Ada orang yang hidupnya sederhana tetapi damai.
Ada juga yang hidupnya berkelimpahan tetapi selalu gelisah.

Karena damai bukan hasil keadaan luar.
Damai lahir dari pikiran yang mulai percaya bahwa Tuhan sungguh memegang hidup kita.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami itu.

Hidup mulai membaik.
Doa mulai dijawab.
Keadaan mulai tenang.

Tetapi anehnya, hati malah gelisah.

Kalau itu terjadi, jangan langsung merasa ada yang salah dengan diri kita.

Mungkin jiwa kita hanya sedang belajar sesuatu yang baru:
belajar hidup tanpa ketakutan.

Dan itu perlu proses.

Tetapi kabar baiknya, Tuhan sanggup memulihkan bukan hanya keadaan hidup kita, tetapi juga pola pikir kita.

Sedikit demi sedikit, hati belajar percaya lagi.

Bahwa tidak semua musim baik harus berakhir buruk.

Bahwa damai bukan jebakan.

Dan bahwa kita boleh menikmati kebaikan Tuhan tanpa terus hidup menunggu kehancuran datang.

«“Kadang luka masa lalu membuat kita lebih akrab dengan ketakutan daripada damai. Tetapi kasih Tuhan sanggup melatih jiwa kita untuk tenang kembali.” — Yenny Indra»

Sometimes the bravest thing you can do is to let yourself feel safe again.”- Morgan Harper Nichols

“Kadang tindakan paling berani adalah mengizinkan diri kita merasa aman kembali.- Morgan Harper

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Damai Mengubah Selera Kita Terhadap Orang

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Damai Mengubah Selera Kita Terhadap Orang

Dr. Caroline Leaf pernah menulis sebuah kalimat yang sangat menarik:

“Peace literally changes your taste in people. You get a whole new perspective on what and who you want around you.”

Damai benar-benar mengubah selera kita terhadap orang. Kita mendapatkan perspektif yang baru tentang siapa dan apa yang kita inginkan yang ada di sekitar kita.

Saat pertama kali membaca kalimat itu, saya langsung terdiam.

Karena ternyata banyak hubungan yang kita pilih bukan dibangun dari kesehatan jiwa, melainkan dari apa yang selama ini terasa akrab bagi kita.

Ada versi diri kita di masa lalu yang terus memilih tipe orang yang sama berulang kali, tetapi tidak pernah mengerti mengapa.

Mengapa selalu tertarik pada orang yang sulit?

Mengapa selalu terjebak dalam hubungan yang melelahkan?

Mengapa selalu memberi kesempatan kepada orang yang terus melukai?

Sering kali jawabannya bukan karena kita bodoh atau tidak belajar dari pengalaman.

Jawabannya lebih dalam dari itu.

Pikiran manusia cenderung tertarik pada apa yang sudah dikenalnya.

Jika sejak kecil seseorang tumbuh di tengah konflik, ketidakstabilan, penolakan, kritik, atau hubungan yang tidak sehat, semua itu perlahan dianggap normal. Walaupun menyakitkan, rasanya tetap familiar.

Pikiran akan terus kembali kepada apa yang terasa seperti rumah.

Bahkan ketika “rumah” itu sebenarnya melukai.

Itulah sebabnya ada orang yang berulang kali masuk ke pola yang sama. Nama orangnya berbeda, tetapi ceritanya hampir sama. Lukanya juga sama.

Yang belum berubah sebenarnya bukan orang-orang di sekitarnya.

Yang belum berubah adalah pola pikirnya.

Karena itu perubahan hidup yang sejati selalu dimulai dari dalam.

Kita tidak bisa membangun masa depan yang berbeda dengan cara berpikir yang sama.

Banyak orang berharap hidupnya berubah, tetapi tetap mempertahankan kesimpulan-kesimpulan lama tentang dirinya.

Masih merasa tidak cukup baik.

Masih merasa harus menyenangkan semua orang.

Masih merasa harus berjuang mendapatkan penerimaan.

Masih merasa dirinya tidak layak dicintai.

Padahal selama pola pikir itu masih ada, pilihan-pilihan hidup kita akan terus dipengaruhi olehnya.

Inilah sebabnya kita perlu terus memperbarui pikiran.

Kita perlu mengganti standar lama dengan standar yang benar.

Kita perlu berhenti menilai diri berdasarkan luka, kegagalan, atau pengalaman masa lalu.

Kita perlu belajar melihat diri sebagaimana kita memang dirancang untuk menjadi.

Dan salah satu cara yang paling kuat adalah terus memperkatakan identitas yang sehat kepada diri sendiri.

Bukan sekadar afirmasi kosong.

Tetapi mengingatkan diri tentang siapa kita sebenarnya.

“Aku berharga.”

“Aku layak dihormati.”

“Aku tidak harus mengejar penerimaan semua orang.”

“Aku boleh hidup dengan damai.”

“Aku tidak harus mengulangi pola lama.”

Apa yang terus kita pikirkan dan ucapkan akan membentuk cara kita memandang hidup.

Sedikit demi sedikit, program lama mulai digantikan oleh cara berpikir yang baru.

Dan ketika itu terjadi, sesuatu yang menarik mulai muncul.

Selera kita berubah.

Dulu kita tertarik pada drama.

Sekarang kita menghargai ketenangan.

Dulu kita menganggap ketidakpastian itu menarik.

Sekarang kita menghargai konsistensi.

Dulu kita mengejar orang yang sulit memberi perhatian.

Sekarang kita lebih menghargai orang yang hadir, jujur, dan dapat dipercaya.

Mengapa?

Karena damai sedang membentuk ulang standar hidup kita.

Perhatikan perubahan itu.

Jangan abaikan.

Itu salah satu tanda paling jelas bahwa ada sesuatu yang sedang bertumbuh sehat di dalam diri kita.

Ketika jiwa mulai pulih, kita tidak lagi tertarik pada hal-hal yang dulu membuat kita terluka.

Kita mulai memilih apa yang memberi kehidupan, bukan sekadar apa yang terasa familiar.

Dan mungkin itulah salah satu tanda kedewasaan yang sesungguhnya:

Bukan ketika kita berhasil mengubah semua orang di sekitar kita.

Tetapi ketika kita berubah cukup dalam sehingga tidak lagi tertarik pada pola yang pernah menghancurkan kita.

Karena saat damai menjadi rumah baru bagi jiwa kita, pilihan-pilihan hidup kita pun mulai berubah.

Dan sering kali, perubahan terbesar dalam hidup dimulai dari satu hal sederhana:

“Cara kita berpikir tentang diri kita sendiri.”

“True healing does not begin when life changes. It begins when the way we see ourselves starts to change.”
— Yenny Indra

“Pemulihan yang sejati bukan ketika hidup kita berubah terlebih dahulu. Pemulihan dimulai ketika cara kita melihat diri sendiri mulai berubah.” — Yenny Indra

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kadang Kita Tidak Ditipu… Kita Hanya Kurang Informasi.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kadang Kita Tidak Ditipu… Kita Hanya Kurang Informasi.

“Keledai tidak jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali,” demikian kata pepatah.

Dan terus terang, saya belajar banyak dari sebuah kasus yang cukup membuka mata saya. Bukan terutama soal uangnya, tetapi soal bagaimana saya bisa salah menilai seseorang.

Sebut saja namanya Amin.

Amin ini rajin pelayanan. Berkomitmen. Kalau diberi tugas, dikerjakan. Datang tepat waktu. Sikapnya sopan. Dan itu berlangsung bukan sehari dua hari, tetapi bertahun-tahun.

Jadi sebagai orang yang lebih tua, saya melihat dia sebagai anak muda yang baik. Layak dipercaya. Layak dibantu saat membutuhkan. Tidak ada alarm apa pun dalam hati saya.

Sampai akhirnya kasus itu terbongkar.

Dan ternyata bukan hanya saya yang tertipu.

Mulai muncul cerita dari anak-anak muda lain yang ternyata sudah lama tidak nyaman dengan Amin. Mereka melihat sisi karakter yang selama ini tidak tampak di depan orang-orang yang lebih senior.

Ternyata Amin pendendam. Orang yang sudah minta maaf dan berubah pun masih dijegal. Dalam hal uang juga mulai terlihat bahwa dirinya berbeda dengan image yang selama ini ditampilkan.

Tetapi setelah saya pikir-pikir lagi, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berpura-pura dengan sempurna terus-menerus.

Pasti ada sisi-sisi kecil yang menunjukkan karakter aslinya, meski samar.

Kadang muncul lewat komentar kecil. Cara memperlakukan orang tertentu. Cara bicara saat kecewa. Cara bereaksi saat tidak diuntungkan. Cara memandang uang, posisi, atau relasi.

Masalahnya, sering kali kita tidak menangkap sinyal itu. Atau mungkin kita menangkapnya, tetapi mengabaikannya karena overall image orang itu terlihat baik.

Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri:

“Di mana saya bisa terlewat?”

Jawabannya sederhana.

Karena saya kurang punya informasi yang akurat.

Kami beda generasi. Saya tidak bergaul dekat dengan Amin dan lingkaran pertemanannya. Anak-anak muda juga cenderung bersopan ria kepada yang lebih tua. Jadi yang terlihat di permukaan memang manis.

Saya menilai dari apa yang saya lihat, tetapi saya tidak punya cukup “peta”.

Dan di situlah saya belajar sesuatu yang penting:

Saat informasi kita salah, persepsi kita pun bisa salah. Dan saat persepsi salah, keputusan kita juga bisa salah.

As simple as that.

Kadang kita terlalu cepat berkata,
“Ah, saya gak mau dengar cerita orang. Nanti jatuhnya gosip.”

Padahal tidak semua usaha mencari informasi itu gosip.

Menurut saya, motivasinya yang menentukan.

Saya teringat satu pengalaman lain. Suatu kali salah satu grup teman pergi berlibur bersama dan saya tidak ikut. Setelah mereka pulang, saya mendengar sempat terjadi kesalahpahaman antar peserta.

Lalu seorang teman berkata:

“Kamu telpon si Ana saja, dia bisa jelaskan lebih detail.”

Saya langsung jawab,

“Gak mau… nanti saya bergosip.”

Dia tertawa dan berkata,

“Lha, ini kan kamu juga bergosip dengan aku?”

Saya lalu menjawab,

“Beda ya… tujuanku supaya saya tahu situasinya -peta politiknya- bagaimana. Saya gak mau ikut-ikutan. Dengan tahu gambar besarnya, saya bisa menempatkan diri dengan lebih bijak.”

Dan sampai hari ini saya masih merasa itu benar.

Karena menurut saya, dengan tahu informasi yang tepat, kita bisa menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.

Ada orang ingin terlihat “suci”, sehingga menolak tahu apa pun. Akibatnya malah naif. Mudah dimanfaatkan. Mudah diperalat. Riskan salah ambil keputusan.

Tentu kita tidak boleh jadi tukang gosip. Itu jelas merusak.

Tetapi menjadi bijak juga perlu informasi yang benar.

Bahkan dalam dunia investasi pun demikian. Misalnya di bidang properti, kadang orang perlu mendengar kabar ‘gosip’ tentang rencana pembangunan suatu kawasan supaya bisa lebih dulu mengambil langkah.

Secara kasat mata tanah itu mungkin masih hutan belantara atau tampak seperti tanah mangkrak. Tetapi beberapa tahun kemudian, ternyata lokasi itu menjadi kawasan emas.

Karena itu, tidak semua informasi itu buruk. Yang penting adalah motivasi hati dan bagaimana kita menggunakannya dengan bijaksana.

Raja Salomo berkali-kali menekankan pentingnya hikmat dan discernment, kemampuan membedakan dengan tepat.

Hikmat bukan cuma soal hati baik. Hikmat juga soal kemampuan membaca manusia dan situasi dengan tepat.

Kita tidak bisa menolong semua orang hanya berdasarkan tampilan luar.

Dan sering kali, karakter asli seseorang baru terlihat saat uang, posisi, atau kepentingannya terganggu.

Karena itu saya memutuskan, ke depan sebelum mengambil keputusan, bahkan dalam hal menolong yang selama ini dianggap mulia, saya harus lebih berhati-hati.

Tanya dulu.
Cari tahu dulu.
Doakan dulu.
Jangan terburu-buru.

Sebab hati yang baik tanpa hikmat bisa menjadi pintu masuk bagi banyak masalah.

Dan saya percaya, Tuhan tidak pernah meminta kita menjadi naif. Tuhan meminta kita tetap mengasihi, tetapi juga bertumbuh dalam discernment dan kebijaksanaan.

“Not all information is gossip. Sometimes accurate information is God’s protection to keep us from the wrong battles.”— Yenny Indra.

“Tidak semua informasi adalah gosip. Kadang informasi yang tepat adalah perlindungan Tuhan supaya kita tidak masuk ke pertempuran yang salah.”— Yenny Indra.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Lahir dari Luka, Tetapi Dipilih Tuhan: Kisah James Robison.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Lahir dari Luka, Tetapi Dipilih Tuhan: Kisah James Robison.

James Robison lahir dari sebuah kisah yang sangat kelam.

Ibunya, Myra Wattinger, bekerja sebagai seorang perawat praktis. Suatu hari ia merawat seorang pria tua yang sakit. Tetapi anak laki-laki dari pria tua itu, seorang pria alkoholik, memperkosanya. Dari peristiwa tragis itulah James dikandung.

Myra sangat terpukul. Malu. Hancur. Ia bahkan sempat ingin menggugurkan kandungannya. Tetapi dokter yang ditemuinya menolak melakukan aborsi. Bertahun-tahun kemudian James sering berkata bahwa hidupnya ada karena seorang dokter memilih mempertahankan kehidupan seorang bayi yang tidak diinginkan.

Bayangkan ironinya.

Seorang anak yang lahir dari kekerasan… justru dipakai Tuhan membawa pengharapan kepada jutaan orang.

James lahir tahun 1943 di Houston, Texas. Masa kecilnya sangat sulit. Karena merasa tidak mampu membesarkannya, ibunya sempat menyerahkannya kepada keluarga pendeta yang merawat James kecil selama lima tahun pertama hidupnya.

Tetapi suatu hari ibunya datang dan mengambilnya kembali.

James pernah menceritakan bagaimana ia bersembunyi di bawah tempat tidur sambil menangis dan mencengkeram lantai ketika harus dipisahkan dari keluarga yang ia kasihi. Luka penolakan itu membekas dalam hidupnya.

Ia tumbuh dalam kemiskinan, ketidakstabilan, dan kemarahan. Ayah biologisnya dikenal keras dan alkoholik. Tidak heran James muda pernah dipenuhi rasa rendah diri dan pertanyaan besar:

“Mengapa saya lahir?”

Tetapi Tuhan sering kali memulai karya terbesar-Nya dari tempat paling gelap.

Saat remaja, James mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa hidupnya bukan kecelakaan. Bahwa asal-usul seseorang tidak menentukan tujuan akhirnya.

Dan ia sering memakai hidupnya sendiri sebagai contoh ketika berkata:

“Manusia mungkin berkata kita tidak diinginkan, tetapi Tuhan tetap bisa berkata kita dipilih.”

Kalimat itu bukan slogan rohani. Itu adalah kesaksian hidupnya sendiri.

James mulai berkhotbah sejak muda. Bukan karena hidupnya sempurna, tetapi justru karena ia tahu bagaimana rasanya terluka, ditolak, dan merasa tidak berharga. Ia berbicara dengan hati yang nyata. Tidak menggurui. Tidak berpura-pura.

Bersama istrinya Betty, ia kemudian membangun Life Outreach International, pelayanan yang memberitakan Injil sekaligus memberi makan orang lapar, menyediakan air bersih, dan menolong mereka yang menderita di berbagai negara.

Salah satu hal yang sangat kuat dari hidup James adalah: ia tidak membiarkan masa lalu menentukan identitasnya.

Itulah sebabnya ayat ini sangat dalam maknanya:

“Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus maupun Apolos, baik Kefas, baik dunia, hidup maupun mati, _waktu sekarang maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya._ Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.” (1 Korintus 3:21-23, TLB)

Dalam bahasa Inggris tertulis:

“He has given you all of the present and all of the future.”

“Dia telah memberikanmu semua masa kini dan semua masa depan.”

Mengapa ayat itu berbicara tentang present dan future, tetapi tidak menyebut masa lalu?

*Karena bagi orang percaya, masa lalu sudah dipaku di kayu salib.*

Move On…. Tinggalkan!

Terlalu banyak orang masih hidup dari luka lama, rasa malu lama, kegagalan lama, dosa lama, dan penolakan lama. Padahal Yesus datang bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memberi identitas baru.

James Robison memahami itu.

Ia bisa saja hidup sebagai korban. Ia bisa saja pahit kepada dunia. Tetapi ia memilih mempercayai tujuan Tuhan lebih besar daripada luka masa lalunya.

Dan sampai akhir hidupnya, dampaknya terus terasa.

Ada kehidupan yang berhenti saat seseorang meninggal. Tetapi ada kehidupan yang terus berbicara bahkan setelah orangnya tidak ada lagi.

James Robison termasuk yang kedua.

Dari seorang bayi yang nyaris diaborsi, ia menjadi suara pengharapan bagi dunia.

Dan mungkin itulah sebabnya kalimat Tuhan ini terasa begitu tepat untuk hidupnya:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Matius 25:21)

Betapa indahnya…..

“Your present circumstances don’t determine where you can go; they merely determine where you start.” – Nido Qubein

“Keadaan kita saat ini tidak menentukan ke mana kita bisa pergi; itu hanya menentukan dari mana kita memulai.”- Nido Qubein

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 6 416