Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Hoi An: Kota Tua yang Tidak Sibuk, Tapi Justru Paling Hidup

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hoi An: Kota Tua yang Tidak Sibuk, Tapi Justru Paling Hidup

Dari Sapa kami terbang ke Hoi An, kota tua yang terkenal di Vietnam. Perjalanan ini bukan sekadar pindah lokasi, tapi seperti masuk ke suasana yang berbeda. Begitu tiba, ritmenya langsung terasa lebih pelan… lebih hangat… dan lebih “hidup”.

Hotel kami tepat di pusat kota tua. Tinggal melangkah sedikit, kami sudah berada di tengah suasana yang tidak bisa dibuat-buat. Jalanan kecil, bangunan tua, warna-warna hangat… semuanya terasa menyatu.

Ikon kota ini adalah Japanese Covered Bridge. Jembatan tua peninggalan komunitas Jepang yang sudah berdiri ratusan tahun. Di satu sisi ada pengaruh Jepang, di sisi lain ada kawasan komunitas China dari Guangzhou, Teochew, dan Hokkien. Hoi An memang dari dulu adalah tempat pertemuan budaya.

Begitu malam tiba, semuanya berubah. Lampion-lampion menyala di mana-mana. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan, tapi cukup untuk membuat suasana terasa romantis tanpa usaha.

Di sungai, sampan-sampan kecil melaju pelan. Para penumpang duduk tenang, lalu satu per satu melepaskan lentera kecil berisi lilin ke air. Katanya ini simbol doa, harapan, bahkan berkat—melepas yang lama, berharap yang baik datang.
Percaya atau tidak, saat melihatnya langsung, kita tidak sibuk menganalisa. Kita hanya diam… dan menikmati.

Kami berjalan menyusuri gang-gang kecil yang berkelok. Narrow, winding streets, tapi justru di situ pesonanya. Kami mengunjungi Chua Ong Pagoda, lalu Chinese Assembly Hall yang penuh detail dan warna. Ada rasa hormat terhadap tradisi yang masih dijaga sampai sekarang.

Kami juga masuk ke Tan Ky ancestral house yang sudah berusia lebih dari 200 tahun. Rumah ini dibangun pada akhir abad ke-18 oleh keluarga pedagang Vietnam yang cukup terpandang. Nama “Tan Ky” sendiri berarti “toko kemakmuran” atau “kemajuan”, mencerminkan harapan pemiliknya saat itu.

Yang menarik, rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga toko dagang. Letaknya strategis, menghadap langsung ke sungai—memudahkan aktivitas perdagangan di masa Hoi An masih menjadi pelabuhan penting di Asia Tenggara.

Arsitekturnya unik, perpaduan gaya Vietnam, Jepang, dan Cina. Tiang-tiang kayu kokoh, ukiran detail, dan tata ruang yang dirancang untuk menghadapi banjir—karena rumah ini sudah berkali-kali melewati musim air pasang, tapi tetap berdiri sampai sekarang. Bahkan beberapa bagian interiornya masih asli, diwariskan turun-temurun hingga generasi ketujuh.

Masuk ke dalamnya, kita tidak merasa seperti di museum. Lebih seperti masuk ke kehidupan yang masih “bernafas”.
Sepanjang jalan, satu hal yang tidak bisa dilewatkan: makanan.

Kami mencoba Banh Mi yang konon paling enak di Vietnam, di Banh Mi Phuong. Ini bukan sekadar roti isi. Kulitnya renyah, isinya juicy, bumbunya meresap. Sekali gigit langsung mengerti kenapa orang rela antre.

Lalu ada Cao l?u, yang sering disebut seperti “pho kering”-nya Vietnam. Mi-nya kenyal, disajikan dengan irisan daging, sayuran, dan kuah yang hanya sedikit tapi kaya rasa. Simple, tapi dalam.

Yang menarik, di banyak sudut kota ada penjual bubur atau jenang—kalau orang Jawa bilang. Hangat, manis, dan comforting. Cocok dinikmati sambil duduk santai. Belum lagi minuman-minuman unik yang antreannya panjang. Dari kopi khas Vietnam sampai minuman dingin dengan campuran yang tidak biasa. Orang rela berdiri lama hanya untuk satu gelas.

Di Hoi An, makan bukan sekadar isi perut. Tapi bagian dari pengalaman.

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami menuju Bay Mau Coconut Village. Suasananya langsung berubah dari tenang menjadi seru.

Kami naik basket boat, perahu bulat seperti mangkuk yang hanya boleh diisi dua orang. Mendayung melewati kanal kecil di antara pohon kelapa air yang tumbuh rapat, seperti lorong alami.

Lalu tiba-tiba… perahu diputar-putar di tengah. Air muncrat, musik terdengar, dan suasana langsung pecah.
Kristina, Ninin, dr. Merry, dr. Daniel berjoget di sampan tengah bersama penyanyi. Bahkan tamu dari grup lain ikut bergabung. Tidak ada yang canggung. Semua larut.
Wow… seru sekali.

Hoi An tidak menawarkan kemewahan yang berisik. Tapi ia memberi sesuatu yang lebih jujur.
Ia mengajak kita melambat, menikmati, dan merasakan.
Dan tanpa sadar, kita tidak hanya melihat… tapi ikut hidup di dalamnya.

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” – Marcel Proust.

“Perjalanan sejati bukan tentang mencari pemandangan baru, tetapi memiliki cara pandang yang baru.” – Marcel Proust.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Angin Seolah Menahan Hujan… dan Kami Sampai di Puncak Fansipan”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Angin Seolah Menahan Hujan… dan Kami Sampai di Puncak Fansipan”

Hari ini kami meninggalkan Hanoi menuju Sapa. Perjalanan panjang, sekitar 6 hours driving. Tidak sebentar… tapi justru di situ letak nikmatnya. Kita dipaksa melambat. Melihat. Menyerap.
Sepanjang jalan, pegunungan bergulung seperti lukisan. Kabut turun naik, kadang menutup, kadang membuka. Ada momen di mana kita diam saja… dan hati terasa penuh.

Setibanya di Sapa, rombongan langsung menuju Cat Cat Village, sebuah desa kecil milik suku Black H’Mong. Desa ini dikenal dengan kehidupan tradisionalnya yang masih terjaga. Di sana orang bisa melihat air terjun, aliran sungai, pembangkit listrik kecil, juga aktivitas seperti menenun, membuat perhiasan perak, menempa alat, sampai ukiran batu.
Tapi kali ini… saya tidak ikut turun.
Gerimis mulai turun. Dan separuh rombongan, termasuk saya, memilih tetap di atas. Kami menikmati pemandangan dari kejauhan, dari puncak, sambil santai melihat-lihat souvenir.

Dan anehnya… tidak ada rasa rugi.
Kadang kita pikir harus ikut semua supaya lengkap. Tapi ternyata, menikmati dari tempat kita berada… juga cukup. Bahkan bisa lebih tenang.
Cat Cat Village tetap indah, meskipun hanya dilihat dari atas.

Perjalanan dilanjutkan ke gereja batu di pusat Sapa.
Gereja ini sudah berdiri sejak zaman kolonial Perancis. Konon dibangun dari batu tanpa semen.
Bayangkan… batu disusun, tapi bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Saya berdiri di depannya cukup lama. Tidak besar. Tidak megah berlebihan. Tapi ada rasa kokoh yang sulit dijelaskan.
Seperti hidup… yang sebenarnya tidak perlu terlihat hebat, tapi harus dibangun dengan benar.

Malamnya, kami mencoba sesuatu yang unik. Tim ayam hitam dalam labu. Katanya ini makanan khas Sapa.
Setiap tempat selalu punya cerita lewat makanannya.

Keesokan harinya, kami pergi ke Moana Sapa, tidak jauh dari hotel. Tempat ini penuh spot foto yang cantik yang instagramable dan playful.
Ikonnya adalah patung wanita dengan kedua tangan terbuka. Seolah menyambut semua yang datang.
Di sekitarnya ada jembatan, ayunan, piano di atas air, bahkan sepasang bebek putih dan hitam yang lucu sekali.
Kami foto sana sini. Tertawa. Menikmati momen.
Simple… tapi penuh.

Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Fansipan.
Sepanjang jalan menuju cable car, mata dimanjakan oleh bunga warna-warni dan berbagai spot foto. Cantik sekali. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Angin mulai terasa lebih kencang. Awan hitam sesekali melintas, lalu matahari muncul kembali.
Kami berbaris menuju cable car.
Naik… perlahan… meninggalkan dunia bawah.
Tapi ternyata perjalanan belum selesai.
Keluar dari cable-car station, masih ada tantangan berikutnya. Banyak anak tangga yang harus dilalui sebelum sampai ke furnicular.
Di tengah perjalanan, berdiri patung Buddha emas. Sementara di sisi kanan atas, jauh di atas, ada patung Buddha hitam yang jauh lebih besar, terlihat begitu megah.

Fansipan sendiri dikenal sebagai “The Roof of Indochina”, dengan ketinggian 3.143 meter. Dulu, hanya pendaki yang benar-benar kuat yang bisa mencapai puncaknya. Sekarang, aksesnya lebih mudah… tapi tetap butuh effort.
Angin bertiup sangat kencang. Serius. Beberapa kali rasanya tubuh ini terdorong, hampir kehilangan keseimbangan.
Awan gelap datang… lalu pergi.
Dan kami terus naik.
Sampai akhirnya…
Kami sampai di puncak.

Di sana berdiri menara dengan bendera Vietnam yang berkibar gagah. Dan tulisan yang sederhana tapi penuh arti: Fansipan 3.143m – Top of Indochina.
Jepret… jepret…. foto pun diabadikan.
Betapa leganya…
Tujuan tercapai. Dan… tidak hujan.
Padahal ramalan cuaca siang itu seharusnya hujan lebat.
Makanya angin bertiup sangat kencang. Seolah hujan itu “ditahan”.
Dan di situ, hati ini hanya bisa berkata pelan…
God is good all the time.
Lalu… seperti biasa…

Shopping time.
Kami berjalan santai, menikmati Sapa Night Market. Lampu-lampu, udara dingin, suara orang, semuanya terasa hidup.

Perjalanan ini sederhana.
Tapi justru di situ… kita belajar menikmati hidup, tanpa harus semuanya sempurna.

“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill.

“Jika kamu sedang melewati masa sulit, teruslah berjalan” – Winston Churchill.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
##mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Tidak Instan, Tapi Indah: Pelajaran Hidup dari Hanoi yang Tidak Terlupakan”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Tidak Instan, Tapi Indah: Pelajaran Hidup dari Hanoi yang Tidak Terlupakan”

Pagi di Hanoi selalu punya cara sederhana untuk membuat hati kita diam… lalu kagum.
Hari itu kami memulai perjalanan ke Quang Phu Cau Incense Village. Desa kecil ini tidak biasa. Begitu melangkah masuk, mata langsung disambut lautan merah. Ribuan batang dupa disusun rapi, membentuk pola seperti bunga raksasa yang terbuka sempurna. Cantik… dan memukau.

Namun semakin lama memandang, semakin terasa… keindahan itu tidak lahir dalam semalam. Dupa-dupa itu harus melewati panas matahari, waktu, dan ketekunan sebelum akhirnya mengeluarkan aroma harum.
Saya tersenyum sendiri.

Bukankah hidup kita juga begitu?
Kita sering ingin hasil cepat. Jawaban doa yang instan. Padahal Tuhan bekerja lewat proses. Dipanaskan, dibentuk, diatur… sampai akhirnya hidup kita bukan hanya terlihat indah, tetapi juga mengeluarkan “aroma” yang menyenangkan hati-Nya.

Kami menuju Trang An Scenic Landscape Complex.
Perahu kecil yang kami tumpangi hanya berisi empat orang. Kami duduk santai, membiarkan perahu kayu itu meluncur pelan di atas air yang tenang. Di kiri kanan, tebing-tebing batu kapur berdiri megah, seperti lukisan hidup.

Perahu-perahu rombongan kami, 18 personil, meluncur kadang sedikit berlomba dan kadang berdampingan. Saling memotret, bergaya sambil tertawa ceria…

Ninin sibuk bergaya—dari pose santai sampai terlentang di ujung kepala perahu bak “supermodel dadakan” di atas perahu. Kami semua tertawa. Dr. Merry menyanyi tanpa henti… dari lagu anak-anak, Mandarin, sampai Bengawan Solo. Ada pula yang bergaya mendayung perahu, tetapi ada yang beneran kompak membantu mendayung.

Tidak ada yang terlalu serius. Dan justru di situlah letak keindahannya.
Kadang, liburan yang paling berkesan bukan karena tempatnya… tapi karena siapa yang berjalan bersama kita.

Lalu bagian yang paling seru… saat perahu mulai masuk ke gua.
Beberapa gua cukup rendah, membuat kami refleks menundukkan kepala. Ada momen hening… hanya suara air yang disentuh dayung. Lalu tiba-tiba… cahaya muncul di ujung gelap itu, membuka pemandangan baru yang lebih luas dan lebih indah.
Seperti diingatkan… selalu ada terang di ujung perjalanan.

Perjalanan hampir dua jam ini terasa singkat. Mungkin karena dipenuhi tawa.

Perjalanan kami juga dipenuhi dengan pengalaman rasa. Dari hari sebelumnya di restoran all you can eat dengan seafood lengkap… sampai makanan tradisional Vietnam yang sederhana tapi kaya cita rasa.

Salah satu yang paling berkesan adalah saat kami makan di Bún cha Huong Liên—tempat yang pernah dikunjungi Barack Obama.
Barack Obama makan di sini pada 23 Mei 2016, saat kunjungan resminya ke Vietnam. Malam itu ia makan bersama chef terkenal Anthony Bourdain—dan momen itu langsung viral ke seluruh dunia.

Yang menarik, meja, kursi, bahkan peralatan makan yang digunakan saat itu dipajang rapi di balik kaca. Foto kunjungan itu terpampang di dinding. Kreatif. Satu momen sederhana diolah menjadi cerita yang terus hidup. Cara Marketing yang cerdas.

Pengaruh Tiktok yang membawa kami ke sini, ternyata bukan sekadar viral.
Begitu makanan datang, langsung terasa… ini cocok dengan lidah kita.

Bún cha-nya punya rasa yang akrab. Sedikit manis, segar, dengan sentuhan asam yang ringan. Dagingnya empuk, kuahnya ringan tapi kaya rasa. Bahkan ada sensasi yang mengingatkan pada galantin… tapi dengan gaya Vietnam.
Ditambah lumpia udang goreng yang besar—renyah di luar, lembut di dalam.
Hhhmmm… lezat dan memuaskan.
Sederhana. Tidak mewah. Tapi justru itu daya tariknya. Ada rasa “asli” yang tidak dibuat-buat.

Menariknya, hanya dengan satu kali kunjungan Barack Obama, restoran ini seperti mendapat pintu yang terbuka lebar. Berkat mengalir… dan mereka tahu bagaimana menjaganya.

Malamnya, kami pikir hari sudah selesai.
Ternyata belum.
Kami naik jeep terbuka, berkeliling kota Hanoi. Angin malam langsung menyapa wajah. Jalanan hidup. Lampu kota berkelip. Kami duduk santai, sesekali berhenti untuk foto… lalu tertawa lagi.
Tidak ada yang dikejar. Tidak ada yang harus dibuktikan.
Hanya menikmati.

Dan justru di situ rasanya lengkap.
Hari itu penuh. Tapi bukan hanya penuh aktivitas… penuh rasa.

Life is good….
Tuhan baik dengan anugerah-Nya yang terus belimpah menyertai langkah anak-anak-Nya. Bahkan lewat perjalanan sederhana seperti ini.

“Sometimes it’s the journey that teaches you a lot” – Aubrey Drake Graham.

“Kadang justru perjalananlah yang mengajarkan banyak hal tentang tujuan kita.” – Aubrey Drake Graham.

YennyIndra
www.yennyindrppa.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hanoi: Seni Menikmati Perbedaan di Antara Rel Kereta dan Jejak Sejarah

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hanoi: Seni Menikmati Perbedaan di Antara Rel Kereta dan Jejak Sejarah

Hanoi menyambut kami dengan hembusan angin yang membawa aroma rempah yang khas. Begitu menjejakkan kaki di kota ini, tujuan pertama kami sudah pasti mencari semangkuk kehangatan yang legendaris: Pho di 10 Ly Quoc Su. Bayangkan, antreannya panjang sekali!

Lucunya, kami bertemu dengan rombongan turis mancanegara. Kami pun mengobrol dan tertawa kecil, sama-sama menyadari bahwa kami semua menjadi “korban” rasa penasaran akibat ulasan viral di internet & label Michelin.

Namun, ada hal menarik saat mencicipinya. Ternyata rasa pho otentik ini agak berbeda dengan selera lidah kita di Indonesia. Di sinilah kita belajar bahwa setiap suku dan negara memang memiliki standar kelezatan yang berbeda-beda. Apa yang dianggap terbaik di satu tempat, bisa saja terasa asing di tempat lain.

Keesokan paginya, petualangan berlanjut ke Mega Grand World.
Tempat ini benar-benar sebuah megaproyek yang memadukan hiburan dan budaya dengan sangat megah. Begitu sampai, kami merasa seperti sedang menjelajahi dunia dalam satu lokasi.

Yang paling menyenangkan adalah saat naik kendaraan wisata semacam “odong-odong” modern untuk berkeliling. Kami dibawa melintasi berbagai tema arsitektur yang sangat cantik. Ada sudut yang membuat kita merasa sedang berada di Hong Kong dengan lampu-lampu neonnya yang ikonik, lalu seketika berpindah ke kanal-kanal romantis ala Italia di Venesia. Tidak hanya itu, ada juga nuansa Korea yang estetik serta sentuhan Prancis yang elegan.

Perjalanan singkat ini mengingatkan kita betapa kreatifnya manusia yang diberi talenta oleh Sang Pencipta untuk membangun keindahan.

Puas berkeliling dunia mini, kami menuju ke pusat sejarah kota ini, yaitu Pagoda Tran Quoc.

Ini adalah tempat bersejarah tertua di Hanoi yang sudah berdiri lebih dari 1.500 tahun. Letaknya sangat istimewa, berada di sebuah pulau kecil di sisi timur Danau Barat (West Lake).

Pemandangannya sangat menenangkan. Bayangan bangunan yang menjulang tinggi terpantul di permukaan air danau yang tenang. Keistimewaan tempat ini bukan hanya pada usianya, tetapi juga pada lokasinya yang asri di tepi air. Berada di sini, di tengah semilir angin danau, membuat kita sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia dan bersyukur atas ketenangan yang bisa kita temukan di alam ciptaan-Nya.

Setelah itu, kami menuju ke tempat yang sangat unik dan memacu adrenalin:
Train Café!

Apaan tuh?

Ternyata ini adalah deretan kafe mungil yang terletak tepat di pinggir rel kereta api yang masih aktif. Pengalamannya sungguh luar biasa unik karena kita bisa duduk santai menikmati kopi sambil menunggu kereta lewat hanya beberapa sentimeter dari meja kita!

Saat klakson kereta berbunyi, semua orang merapat ke dinding, dan sensasi getaran relnya memberikan keseruan tersendiri.

Kreatif sekali, ya… kafe-kafe kecil yang seharusnya berada di lokasi yang menurut pikiran normal “kurang bagus” dan tidak strategis, justru diubah menjadi kekuatan dan daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan mancanegara.

Saya pun belajar… sesungguhnya semua tergantung pada mindset, kreativitas, dan marketing-nya.

Sesuatu yang unik dan langka akan menarik perhatian, lalu menjadi nilai jual yang kuat. Berbondong-bondong turis datang, duduk menikmati makanan dan minuman, berfoto ria di rel kereta api, sambil menanti kereta melintas.

Bukankah hidup juga sering seperti itu?
Apa yang kita anggap kurang, biasa, tidak menarik, atau bahkan “salah tempat”, ternyata justru bisa menjadi titik kekuatan yang tidak pernah kita sangka.

Sore harinya, kami menutup perjalanan dengan mengeksplorasi Old Quarter dan mengikuti city tour kota Hanoi. Area ini adalah jantung kehidupan Hanoi, dengan gang-gang sempit yang penuh sejarah dan kearifan lokal.

Saat city tour, kami berhenti untuk mengambil foto di beberapa spot menarik, salah satunya patung naga raksasa yang megah di tepi danau. Naga-naga yang gagah ini, dengan ukiran yang detail, seolah-olah sedang menjaga ketenangan air danau dan memperkaya keindahan alam West Lake.

Setiap perjalanan adalah kesempatan bagi kita untuk melihat betapa besarnya dunia ini dan betapa kecilnya kita, namun di tengah semuanya itu, kita sangat dikasihi oleh-Nya.

“Travel makes one modest. You see what a tiny place you occupy in the world.”— Gustave Flaubert.

“Perjalanan membuat seseorang menjadi rendah hati. Kita jadi melihat betapa kecilnya tempat yang kita tempati di dunia ini.”— Gustave Flaubert

YennyIndra
www.yennyindra.com?
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

?Hagar & EL-ROI: Ketika Tuhan Membuka Mata…. Oh, Ternyata Sudah Ada di Sana!

?Pernahkah kita merasa begitu lelah menghadapi ketidakpastian? Rasanya seperti berdiri di depan padang kosong yang luas, tidak ada petunjuk, tidak ada jawaban. Di saat seperti itu, jujur saja, kadang terselip tanya di hati: Tuhan, Engkau di mana?

?Lucunya, sering kali masalahnya bukan karena Tuhan belum memberi. Masalahnya justru karena mata kita yang belum melihat apa yang sebenarnya sudah Dia sediakan di depan hidung kita.

?Tuhan punya pola yang unik. Berkali-kali Tuhan tidak langsung mengubah keadaan atau menyulap padang gurun jadi taman bunga. Yang Dia lakukan justru sesuatu yang jauh lebih esensial: Dia membuka mata kita.

?Hagar bukan orang asing di rumah Abraham, tapi tiba-tiba dunianya runtuh. Tanpa penjelasan panjang, ia disuruh pergi hanya dengan roti dan sekantong air.

Bayangkan perasaan Hagar. Ini terasa seperti penolakan yang brutal. Ia tidak meminta konflik ini, tapi tiba-tiba ia harus berjalan di padang gurun Bersyeba bersama Ismael yang masih kecil.
?Kadang hidup memang terasa “sekasar” itu. Bukan karena kita bersalah atau berdosa, tapi tiba-tiba keadaan berubah dan kita merasa tidak lagi diinginkan. Di situlah padang gurun kita dimulai.

?Saat air di kantong Hagar habis, ia menyerah. Ia menaruh anaknya di bawah semak dan berjalan menjauh karena tidak sanggup melihat Ismael mati kehausan. Seorang ibu yang hancur hati, duduk dan menangis. Tapi perhatikan, surga tidak pernah diam.

?Tuhan tidak datang dengan kuliah teologi yang panjang. Dia hanya menyatakan hadirat-Nya dan melakukan hal yang luar biasa: Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur.

?Satu hal yang harus kita catat baik-baik: Tuhan tidak menciptakan sumur itu saat itu juga. Sumur itu sudah ada di sana! Yang berubah bukan padang gurunnya, melainkan penglihatan Hagar.

Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya,”

?Sering kali kita pun begitu. Dalam keputusasaan, kita hanya fokus pada “kantong air yang kosong”. Kita merasa semuanya habis, padahal penyediaan Tuhan sebenarnya sudah ada di dekat kita. Ada sebuah janji yang manis: Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawab. Artinya, Tuhan sering kali sudah bekerja jauh sebelum kita sempat berlutut.

?Iman itu bukan memaksa Tuhan menciptakan sesuatu dari nol sesuai kemauan kita. Iman adalah keberanian untuk meminta Tuhan membuka mata kita supaya bisa melihat apa yang sudah Dia sediakan.

?Menariknya, Hagar memberi Tuhan sebuah nama: El-Roi. Artinya: Allah yang melihat aku. Bukan nabi besar yang memberi nama itu, tapi seorang perempuan yang terluka dan tersingkir.

Hagar menemukan rahasia yang indah: Dunia boleh melupakan kita, tapi Tuhan tidak pernah kehilangan koordinat lokasi kita.

Wuih …. dahsyatnya!
Sangat melegakan…..

?Tuhan tidak dengan sengaja membiarkan kantong air kita habis. Namun, sering kali Dia sedang menunggu kita mengundang-Nya untuk terlibat. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat sopan; Dia tidak akan mengintervensi hidup kita jika tidak diizinkan. Dia menunggu “undangan” dari hati kita yang berserah.

?Pintu yang tertutup sering kali bukan penolakan, tapi cara Tuhan mengarahkan kita ke sumber air yang lebih besar saat kita mulai melibatkan-Nya.

?Jadi, kalau hari ini Anda merasa sedang di padang gurun dan merasa ditinggalkan, ingatlah El-Roi masih sama. Dia melihat Anda. Dia mendengar Anda. Sama seperti kepada Hagar, Dia sanggup membuka mata kita untuk melihat “sumur” yang sudah Dia siapkan sejak semula. Karena dalam Kerajaan Allah, penyediaan itu sering kali sudah ada. Kita hanya perlu melibatkan-Nya dan melihat dengan mata iman.

?Lakukan yang terbaik hari ini, undang Dia dalam setiap detail hidupmu, lalu biarkan Tuhan membuka mata kita untuk melihat keajaiban-Nya yang sudah tersedia.

?”The strongest prison is not made of concrete and steel. It is the prison of your mind. God came to open that prison door.” — AR Bernard

“Penjara yang paling kokoh tidak terbuat dari beton dan baja. Melainkan penjara pikiran Anda. Tuhan datang untuk membuka pintu penjara itu.” — AR Bernard

?YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5 6 410