Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

SATU PUTARAN LAGI….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

SATU PUTARAN LAGI….

“The walls of Jericho didn’t get smaller with every lap. They just built the faith that would eventually bring them down.

God had already declared the victory before the first step was taken. They didn’t need a better plan. They needed one more lap of obedience.

Whatever wall you are facing, keep walking.”
— Christine Caine

“Tembok Yerikho tidak menjadi semakin kecil setiap kali mereka mengelilinginya. Setiap putaran justru membangun iman yang pada akhirnya membawa tembok itu runtuh.

Tuhan sudah menyatakan kemenangan bahkan sebelum langkah pertama diambil. Mereka tidak membutuhkan strategi yang lebih baik. Mereka membutuhkan satu putaran ketaatan lagi.

Apa pun tembok yang sedang Anda hadapi, teruslah berjalan.”

Pernahkah kita merasa seperti sedang menatap tembok?

Sudah berdoa. Sudah percaya. Sudah melakukan yang kita tahu harus dilakukan.

Tetapi tidak ada perubahan.

Masalah dalam keluarga masih sama. Bisnis belum bergerak seperti yang diharapkan. Jawaban yang dinantikan belum terlihat. Tubuh belum menunjukkan perubahan. Bahkan setelah sekian lama berjalan bersama Tuhan, tembok itu rasanya masih berdiri kokoh.

Kisah Yerikho mengajarkan sesuatu yang menarik.

Ketika bangsa Israel berdiri di hadapan Yerikho, Tuhan tidak memberikan strategi perang yang masuk akal. Tidak ada perintah membuat senjata baru atau mencari titik terlemah tembok.

Mereka hanya diperintahkan berjalan mengelilingi kota itu sekali sehari selama enam hari. Hari ketujuh, tujuh kali. Kemudian bersorak.

Aneh.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih menarik.

Sebelum mereka mengambil langkah pertama, Tuhan sudah berkata kepada Yosua, “Aku serahkan ke tanganmu Yerikho.”

Bukan, “Aku akan menyerahkannya.”

Kemenangan sudah dinyatakan ketika temboknya masih berdiri.

Wow!

Bayangkan posisi mereka.

Mata melihat tembok.

Tetapi telinga sudah mendengar kemenangan.

Dan di antara keduanya ada sebuah pilihan: mana yang akan dipercaya?

Inilah iman.

Iman bukan menyangkal bahwa tembok itu ada. Iman melihat tembok, tetapi memilih memberikan otoritas lebih tinggi kepada apa yang Tuhan katakan.

Hari pertama mereka berjalan.

Tidak terjadi apa-apa.

Hari kedua, tembok masih sama.

Hari ketiga, keempat, kelima…

Tidak ada retakan.

Bahkan hari keenam mereka bisa saja berkata, “Apa gunanya? Kita sudah mengelilinginya berkali-kali dan nothing happens.”

Menariknya, Tuhan tidak menjelaskan kepada mereka apa yang sedang terjadi di balik layar.

Tugas mereka sederhana:

Terus berjalan.

Bukankah kita sering berhenti justru di sini?

Kita ingin melihat sedikit perubahan sebagai bukti bahwa iman kita bekerja.

Doa sudah mulai dijawab sedikit.

Keadaan mulai membaik.

Ada tanda-tanda positif.

Barulah kita tenang.

Tetapi bagaimana kalau belum ada tanda apa pun?

Yerikho mengajarkan bahwa ketiadaan perubahan yang terlihat bukan berarti Firman Tuhan tidak sedang bekerja.

Tembok itu tidak semakin pendek setiap kali mereka berkeliling.

Tetapi setiap putaran membawa mereka semakin dekat kepada saat kemenangan menjadi terlihat.

Karena itu jangan mengubah apa yang Tuhan sudah katakan hanya karena keadaan belum berubah.

Jangan biarkan ketakutan menulis ulang janji Tuhan.

Jangan buru-buru mencari strategi baru ketika Tuhan hanya meminta kita tetap berjalan dalam apa yang sudah Dia tunjukkan.

Tentu ketaatan bukan berarti melakukan ritual yang sama berulang-ulang untuk “memaksa” Tuhan bekerja. Bukan putaran mereka yang mempunyai kuasa magis.

Kuasa ada pada Tuhan. Mereka hanya mempercayai-Nya cukup untuk taat.

Mungkin hari ini kita sedang berada di putaran kedua.

Atau keenam.

Atau mungkin kita merasa sudah sangat lama mengelilingi tembok yang sama.

Kita tidak tahu.

Tetapi kita tahu siapa Tuhan.

Karena itu, mata boleh melihat tembok, tetapi hati tetap berpegang pada Firman.

Terus berdoa.
Terus percaya.
Terus memperkatakan janji-Nya.
Terus melakukan bagian yang Tuhan sudah tunjukkan.

Dan jangan menilai kesetiaan Tuhan berdasarkan apa yang terlihat hari ini.
Sebab sering kali kita tidak membutuhkan rencana yang lebih hebat.
Kita hanya perlu satu langkah ketaatan lagi.

Whatever wall you are facing…
Keep walking.

Mungkin temboknya belum bergerak sedikit pun.
Tetapi Firman Tuhan juga belum berubah sedikit pun.
Dan jawaban doa serta mujizat, menanti di depan sana….

Siap?

“Faith never knows where it is being led, but it loves and knows the One who is leading.” – Oswald Chambers.

“Iman tidak selalu tahu ke mana ia sedang dibawa, tetapi ia mengasihi dan mengenal Pribadi yang menuntunnya.” – Oswald Chambers.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Mata melihat tembok. Iman melihat janji. Ketaatan terus berjalan.”

“Eyes see the wall. Faith sees the promise. Obedience keeps walking.”
– Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya Personal…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya Personal…

Pernahkah kita bertemu seseorang yang tiba-tiba berbicara kasar, meremehkan, atau memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan?

Respons pertama kita biasanya langsung mencari kesalahan sendiri.

Saya salah apa?
Apakah perkataan saya menyinggung dia?
Mengapa dia memperlakukan saya seperti ini?

Lalu tanpa sadar, satu tindakan orang lain berhasil mengambil alih pikiran kita sepanjang hari.

Saya membaca sebuah pemikiran menarik dari Dr. Caroline Leaf: orang biasanya lebih mudah bersikap baik ketika keadaan di dalam dirinya juga baik. Sebaliknya, ketidakramahan seseorang sering kali lebih banyak menceritakan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya daripada siapa orang yang sedang dihadapinya.

Saya pikir ada wisdom yang bisa kita pelajari di sini.

Orang yang aman dengan dirinya sendiri tidak perlu merendahkan orang lain supaya merasa lebih tinggi.

Orang yang damai tidak perlu menciptakan drama untuk mendapatkan perhatian.

Orang yang mengenal nilainya tidak perlu menghancurkan nilai orang lain.

Sebab apa yang memenuhi hati seseorang, cepat atau lambat akan keluar melalui perkataan dan tindakannya.

Mungkin ada luka yang belum selesai. Mungkin ada insecurity. Mungkin ada kemarahan yang dipendam. Mungkin ada tekanan hidup yang tidak kita ketahui.

Dan kebetulan kita sedang berdiri di dekatnya ketika semuanya tumpah keluar.

Tetapi memahami alasan seseorang bersikap buruk bukan berarti membenarkan perilakunya.

Tuhan mengajarkan kita untuk mengampuni, mengasihi, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Tuhan juga mengajarkan hikmat.

Kasih tidak membuat kita kehilangan discernment.

Kita dapat memahami seseorang sedang terluka, tetapi tetap mengakui bahwa tindakannya salah.

Kita dapat mengampuni seseorang tanpa terus-menerus memberikan kesempatan kepadanya untuk memperlakukan kita dengan cara yang sama.

Kita dapat mendoakannya tanpa harus selalu berada dekat dengannya.

Understanding doesn’t require proximity.

Memahami tidak selalu berarti harus dekat.

Menurut saya, ini salah satu pelajaran penting dalam membangun hubungan yang sehat.

Kadang kita berpikir menjadi orang baik berarti harus selalu mengalah, selalu mengatakan ya, selalu tersedia, bahkan terus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat supaya dianggap penuh kasih.

Tidak demikian.

Tuhan mengajarkan kasih, tetapi kasih tidak sama dengan kehilangan batas. Ada waktunya mendekat, ada waktunya mengambil jarak. Ada waktunya berbicara, ada waktunya diam. Ada orang yang dapat kita kasihi dari dekat, ada pula yang lebih bijaksana kita kasihi dari kejauhan.

Kasih dan hikmat harus berjalan bersama.

Hal lain yang perlu kita jaga adalah jangan terlalu cepat menjadikan perlakuan orang sebagai ukuran nilai diri kita.

Kalau seseorang meremehkan kita, itu tidak membuat kita menjadi kurang berharga.

Kalau seseorang tidak menyukai kita, itu tidak mengurangi nilai kita.

Kalau seseorang berbicara buruk tentang kita, perkataannya tidak mempunyai hak untuk mendefinisikan siapa kita.

Nilai kita tidak naik ketika dipuji dan tidak turun ketika diremehkan. Nilai kita berasal dari Tuhan.

Ketika hal ini semakin kuat di dalam hati, kita tidak perlu memenangkan setiap perdebatan.

Tidak perlu membuktikan diri kepada semua orang.

Tidak perlu membalas setiap komentar.

Bahkan tidak perlu membuat semua orang memahami posisi kita.

Kadang respons yang paling bijaksana adalah mengampuni, mendoakan, kemudian melanjutkan hidup dengan damai.

Wish them well, from a distance.

Bukan karena membenci.

Justru karena kita tidak membenci, kita tidak perlu terus bertengkar. Kita menyerahkan orang itu kepada Tuhan dan menjaga hati kita sendiri.

Dan setiap pengalaman, termasuk perjumpaan dengan orang yang sulit, bisa menjadi kesempatan untuk bertumbuh.

Belajar tidak mengambil semuanya secara personal.

Belajar mengenali boundaries.

Belajar membedakan kasih dengan people-pleasing.

Belajar mengampuni tanpa menjadi naif.

Belajar tetap lembut tanpa membiarkan diri terus-menerus terluka.

Pada akhirnya kita memang tidak bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Tetapi kita bisa menentukan apa yang tetap tinggal di dalam hati kita setelah mereka pergi.

Jangan biarkan ketidakramahan seseorang mencuri damai kita.

Pahami bila perlu.

Ampuni.

Tetapkan batas dengan hikmat.

Lalu teruslah berjalan.

Sebab perilaku orang lain mungkin menunjukkan apa yang sedang terjadi di dalam diri mereka, tetapi respons kita menunjukkan apa yang sedang bertumbuh di dalam diri kita.

“No one can make you feel inferior without your consent.”
— Eleanor Roosevelt

“Tidak seorang pun dapat membuatmu merasa rendah tanpa persetujuanmu.” — Eleanor Roosevelt

YennyIndra
yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Perlakuan orang lain tidak menentukan nilaimu, tetapi responsmu menunjukkan kedewasaanmu.”

“How others treat you does not determine your worth, but how you respond reveals your maturity.” – Yenny Indra

Read More
Articles

“Ketika “Maaf” Belum Memperbaiki Jendela yang Pecah…”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Ketika “Maaf” Belum Memperbaiki Jendela yang Pecah…”

Saya membaca sebuah cerita sederhana tentang sebuah jendela yang pecah.

Seorang laki-laki memecahkan jendela rumah seorang perempuan. Ia meminta maaf, dan perempuan itu mengampuninya.
Selesai?

Ternyata tidak.

Setiap malam udara dingin masuk melalui celah jendela. Ketika hujan turun, air masuk ke rumah. Perempuan itu masih merasakan dampak dari sesuatu yang sudah diampuninya.

Akhirnya ia berkata, “Kita perlu memperbaiki jendelanya.”

Laki-laki itu bingung.

“Bukankah aku sudah minta maaf?”

Kalimat sederhana ini sebenarnya menggambarkan banyak hubungan.

Pengampunan dan pemulihan adalah dua hal yang berbeda.

Mengampuni berarti kita memilih untuk tidak menyimpan kesalahan seseorang sebagai utang di dalam hati. Kita menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan tidak membiarkan kepahitan menguasai hidup kita.

Tetapi mengampuni tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa jendelanya tidak pecah.

Kalau kepercayaan rusak, mungkin diperlukan waktu untuk membangunnya kembali. Kalau seseorang berulang kali melukai melalui perkataan atau tindakannya, permintaan maaf saja tidak cukup. Dibutuhkan perubahan.

Kata-kata meminta maaf. Karakter membuktikan perubahan.

Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara forgiveness, trust, dan reconciliation.

Kita bisa mengampuni seseorang tanpa langsung mempercayainya kembali. Kita bisa mengasihi seseorang tanpa memberikan akses yang sama seperti sebelumnya. Kita bisa berdamai di dalam hati tanpa memaksakan hubungan kembali seperti dahulu.

Ini bukan berarti kita menjadi keras.

Ini berarti kita belajar menjadi bijaksana.

Tuhan mengajarkan kita untuk melihat buah. Seseorang dapat berkata, “Saya sudah berubah,” tetapi perubahan sejati akhirnya terlihat dari cara ia hidup.

Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lakukan: menjadikan luka sebagai identitas.

Ya, pengalaman buruk itu nyata. Ada orang yang mengecewakan kita. Ada hubungan yang melukai. Ada kegagalan yang menyakitkan.

Tetapi kita tidak perlu menyebut yang buruk sebagai sesuatu yang Tuhan kerjakan.

Yang baik berasal dari Tuhan. Yang buruk bukan berasal dari-Nya.

Iblis datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Tuhan datang supaya kita memiliki hidup dan menikmatinya dalam kelimpahan.

Jadi ketika pengalaman buruk datang, jangan berhenti pada pertanyaan, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Kita dapat berkata,

“Tuhan, aku tidak menerima ini sebagai kehendak-Mu. Tetapi sekarang aku mau melihat bagaimana aku bisa bertumbuh dan keluar dari pengalaman ini sebagai pribadi yang lebih kuat di dalam Kristus.”

Sebab kita tidak selalu dapat memilih pengalaman yang datang kepada kita.

Tetapi kita dapat memilih apa yang akan kita lakukan terhadap pengalaman itu.

Dan ini bukan hanya berlaku untuk pengalaman buruk.

Setiap pengalaman, baik maupun buruk, memberi kesempatan kepada kita untuk naik level dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Pengalaman yang baik mengajarkan kita bersyukur.

Keberhasilan mengajarkan kita bertanggung jawab.

Kegagalan mengajarkan kita mengevaluasi diri.

Kekecewaan mengajarkan kita menjadi lebih bijaksana.

Orang yang melukai kita dapat mengajarkan kita tentang pengampunan, batas yang sehat, dan discernment.

Bukan berarti kita menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang baik. Tidak.

Yang buruk tetap buruk. Tetapi kita tidak harus menyia-nyiakannya.

Kita bisa membiarkan pengalaman buruk membuat kita pahit. Atau kita bisa membawanya kepada Tuhan dan bertumbuh melewatinya.

Dulu mungkin kita terlalu mudah percaya. Sekarang kita belajar membedakan.

Dulu kita takut berkata tidak. Sekarang kita belajar berkata tidak tanpa kebencian.

Dulu kita selalu mencari penerimaan manusia. Sekarang kita belajar hidup dari identitas kita di dalam Kristus.

Itulah pertumbuhan.

Bukan menjadi lebih keras, tetapi menjadi lebih matang.

Bukan kehilangan kasih, tetapi belajar mengasihi dengan hikmat.

Bukan hidup tanpa pengalaman buruk, tetapi tidak membiarkan pengalaman buruk menentukan siapa kita.

Mungkin jendelanya pernah pecah.
Tetapi kita tidak harus selamanya tinggal di rumah yang dingin.

Tuhan sanggup memulihkan hati kita dan memakai setiap proses untuk membuat kita semakin kuat, bijaksana, penuh kasih, dan semakin serupa dengan Kristus.

Jadi jangan hanya bertanya,

“Apa yang terjadi kepadaku?”

Tanyakan juga,

“Siapa saya setelah melewati semua ini?”

Karena hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada kita.

Hidup juga tentang siapa kita memilih untuk menjadi setelahnya.

Jangan sia-siakan satu pun pengalaman. Yang baik menjadi alasan untuk bersyukur. Yang buruk menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Keduanya dapat membuat kita naik level.

“There are no mistakes, no coincidences. All events are blessings given to us to learn from.” – Elisabeth Kübler-Ross.

“Tidak ada kesalahan dan tidak ada kebetulan. Semua peristiwa adalah kesempatan untuk kita belajar.” – Elisabeth Kübler-Ross.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Luka boleh menjadi bagian dari ceritamu, tetapi jangan biarkan luka menjadi penulis ceritamu.”

“Wounds may be part of your story, but never let them become the author of your story.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Menikmati Hidup, Itu Juga Ibadah….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menikmati Hidup, Itu Juga Ibadah….

Entah mengapa, kita sering merasa bersalah ketika sedang tidak produktif.

Duduk menikmati kopi terasa membuang waktu. Tidur siang dianggap malas. Liburan terlalu lama membuat kita mulai berpikir, “Seharusnya saya mengerjakan sesuatu.”

Apalagi orang yang terbiasa hidup aktif. Belajar, bekerja, melayani, menolong orang, mengejar target. Diam sebentar saja rasanya tidak nyaman.

Padahal saya semakin belajar bahwa beristirahat dan menikmati berkat Tuhan pun merupakan bagian dari ibadah.

Tuhan tidak menciptakan kita menjadi mesin produktivitas.

Ada waktu bekerja, ada waktu berhenti. Ada waktu menabur, ada waktu menikmati hasilnya. Ada waktu belajar dan berdoa, tetapi ada juga waktu tertawa bersama keluarga, jalan-jalan, makan enak, menikmati alam, tidur cukup, bahkan sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.

John Piper berkata,
“God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.”

“Tuhan paling dimuliakan di dalam kita ketika kita merasa paling dipuaskan di dalam Dia.”

Saya teringat kisah Ed Dufresne, seorang pengajar yang terkenal dengan pelayanan kesembuhan. Ketika ia didiagnosis kanker, ia bertanya kepada Tuhan, “Why?”

Menurut kesaksian yang kemudian diceritakan Nancy Dufresne, istrinya, Ed menyadari ada hal yang harus dikoreksi dalam kehidupannya. Ia bertobat dan melakukan penyesuaian. Ia percaya Tuhan mengatakan bahwa kanker itu akan hilang dalam tiga puluh hari. Pada hari ke-28 ia kembali diperiksa dokter, dan kanker itu sudah tidak ditemukan.

Ada pelajaran menarik dari kisah keluarga Dufresne ini. Nancy juga pernah menceritakan seseorang yang bekerja begitu keras hingga tubuhnya terkuras. Setelah mengalami kesembuhan supernatural, orang itu kembali kepada pola hidup lamanya tanpa melakukan koreksi, kemudian kembali sakit. Pesannya sederhana: kesembuhan bukan alasan untuk terus memperlakukan tubuh dengan cara yang salah.

Ini membuat saya berpikir.

Saya membaca kisah banyak tokoh iman yang luar biasa. Mereka percaya kesembuhan. Mereka mendoakan orang sakit dan menyaksikan berbagai mujizat. Tetapi sebagian dari mereka sendiri pernah bergumul dengan masalah kesehatan. Smith Wigglesworth, misalnya, dikenal sangat kuat dalam pelayanan kesembuhan, tetapi ia sendiri pernah mengalami batu ginjal berat selama bertahun-tahun.

Jadi iman tidak berarti kita boleh mengabaikan tubuh.
Tubuh kita adalah mortal body, tubuh yang fana.

Tubuh membutuhkan makanan, air, tidur, gerak, pemulihan dan istirahat secara natural. Percaya kepada kuasa Tuhan dan memelihara tubuh bukan dua hal yang bertentangan.

Saya juga tidak berani menyimpulkan bahwa setiap orang yang sakit pasti kurang tidur, stres, atau terlalu sibuk. Itu terlalu sederhana dan tidak adil. Penyakit mempunyai banyak faktor.

Tetapi satu hal jelas: tubuh mempunyai batas yang perlu dihormati.

Kadang kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang berikutnya sampai lupa menikmati apa yang sudah Tuhan berikan.

Sudah punya keluarga, tidak sempat menikmatinya.
Sudah punya rumah, jarang duduk santai di dalamnya.
Sudah punya kesempatan traveling, tetapi sepanjang perjalanan masih sibuk bekerja.
Sudah diberkati, tetapi tidak pernah merasa cukup untuk berhenti dan berkata, “Terima kasih Tuhan. Hidup ini indah.”

Mungkin kita perlu mengubah cara berpikir.

Menikmati berkat bukan berarti kita materialistis.
Beristirahat bukan berarti malas.
Berlibur bukan berarti kehilangan tujuan.
Tidur cukup bukan berarti kurang beriman.
Semuanya bisa menjadi ungkapan syukur ketika dilakukan dengan hati yang benar.

Tuhan tidak hanya senang melihat kita menghasilkan sesuatu. Saya percaya Dia juga senang ketika kita menikmati dengan penuh syukur apa yang telah Dia berikan.

Jadi bekerjalah dengan excellent. Kejar mimpi. Terus belajar. Berdoa. Berkarya. Jadilah berkat.

Tetapi tahu kapan harus berhenti.

Tidurlah.

Tertawalah.

Traveling-lah.

Nikmati makanan.

Nikmati keluarga dan sahabat.

Nikmati hari yang Tuhan berikan.

Karena kehidupan bukan hanya sesuatu yang harus kita selesaikan.

Kehidupan adalah pemberian yang juga perlu kita nikmati.
Apalagi di usia saya…. itulah sebabnya liburan bersama teman-teman atau keluarga, sesuatu yang penting.

Dan mungkin salah satu bentuk syukur yang paling indah adalah ketika kita bisa berhenti sejenak, tersenyum, lalu berkata,

“Tuhan, terima kasih. Hari ini saya tidak sedang mengejar apa-apa. Saya hanya sedang menikmati kebaikan-Mu.”

Ternyata, beristirahat dengan penuh syukur pun bisa menjadi ibadah.

“You must ruthlessly eliminate hurry from your life.”You must ruthlessly eliminate hurry from your life.” – Dallas Willard

“Kita harus dengan sungguh-sungguh menyingkirkan ketergesa-gesaan dari hidup kita.” – Dallas Willard

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Apa gunanya memiliki begitu banyak berkat kalau kita terlalu sibuk untuk menikmatinya?”

“What is the point of having so many blessings if we are too busy to enjoy them?” – Yenny Indra

Read More
Articles

Ternyata Kelimpahan Itu Punya Alamat Lho….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ternyata Kelimpahan Itu Punya Alamat Lho….

Kita sering menghubungkan kelimpahan dengan uang, keberhasilan, bisnis yang berkembang, jabatan tinggi, atau kehidupan yang nyaman.

Padahal kelimpahan Tuhan jauh lebih besar daripada itu.

Kelimpahan Ilahi meliputi roh, jiwa, dan tubuh. Hidup yang utuh. Ada damai sejahtera, sukacita, kesehatan, hubungan yang baik, keluarga yang menikmati kebersamaan, pekerjaan yang berarti, sekaligus kecukupan untuk menjadi berkat.

Dan yang indah, kelimpahan Tuhan tidak datang dengan paket dukacita yang menyertainya.

Ada orang yang sangat sukses menurut ukuran dunia, tetapi harga yang dibayar begitu mahal. Waktunya habis mengejar pencapaian. Tidak punya waktu untuk pasangan, anak-anak, bahkan dirinya sendiri. Rumahnya besar, tetapi jarang dinikmati. Uangnya bertambah, tetapi damainya justru berkurang.

Itulah sebabnya tempat paling berkelimpahan bagi kita bukan sekadar tempat yang paling menguntungkan.

Our wealthiest place is in God’s plan.
Tempat kelimpahan kita ada di dalam rencana Tuhan.

Persoalannya, bagaimana kita dapat hidup di dalam rencana Tuhan kalau kita tidak mengenali suara-Nya?

Kita membutuhkan rhema, suara Tuhan yang khusus bagi kita.

Firman Tuhan adalah fondasi yang tidak berubah, tetapi dalam perjalanan hidup, ada begitu banyak keputusan yang tidak tertulis secara spesifik: bisnis mana yang harus diambil, pintu mana yang sebaiknya dilepaskan, kapan maju, kapan berhenti, dengan siapa bekerja sama, bahkan sesuatu yang tampaknya bagus tetapi sebenarnya bukan bagian kita.

Di sinilah kita membutuhkan kepekaan mendengar-Nya.

Tuhan membukakan sebuah rahasia yang menarik:

“Orang yang memegang perintah-perintah-Ku dan menaatinya, dialah yang sungguh-sungguh mengasihi Aku; dan siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Aku akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. Aku akan membuat diri-Ku terlihat jelas olehnya dan membuat diri-Ku menjadi nyata baginya.”

Ternyata ada hubungan antara mengasihi, menaati, dan mengalami Tuhan menjadi semakin nyata.

Banyak orang antusias terhadap Tuhan. Senang mendengarkan berbagai khotbah, membaca buku rohani, mengikuti seminar dan berbagai kegiatan. Pengetahuannya banyak. Bisa menjelaskan berbagai kebenaran dengan sangat menarik.

Tetapi mengetahui Firman berbeda dengan melakukannya.

Bayangkan seseorang berdiri di depan jendela toko roti. Setiap hari ia mengagumi croissant, cake, dan berbagai roti yang terpajang di sana. Ia hafal namanya, tahu bahan-bahannya, bahkan bisa bercerita dengan fasih betapa lezatnya roti-roti itu.

Masalahnya satu.
Ia tidak pernah masuk, membeli, lalu memakannya.
Akhirnya ia tetap kurus.

Demikian juga kehidupan rohani. Kita tidak bertumbuh karena banyaknya Firman yang kita dengar, tetapi karena Firman yang kita percaya dan hidupi.

Kadang kita taat pada bagian yang kita sukai, tetapi mengabaikan bagian yang tidak nyaman. Padahal kasih yang sejati menghasilkan ketaatan.

Namun ketaatan ini berbeda dengan legalisme.
Orang legalistik taat supaya diterima Tuhan, supaya diberkati, atau karena takut dihukum.

Anugerah Tuhan membalik urutannya.
Kita taat bukan supaya dikasihi. Kita taat karena kita mengasihi-Nya dan hidup dalam kasih-Nya.

Lalu Tuhan memberikan janji yang luar biasa: Dia akan menyatakan diri-Nya, membuat diri-Nya semakin nyata bagi kita.

Semakin kita mengenal hati-Nya dan membiasakan diri merespons Firman-Nya, semakin peka kita mengenali suara-Nya. Bukan karena Tuhan baru mulai berbicara, tetapi karena hati kita semakin selaras dengan-Nya.

Di sanalah rhema menjadi semakin jelas.
Ternyata mendengar suara Tuhan bukan sekadar mencari sebuah “suara” untuk memberi tahu kita harus memilih A atau B.
Ini buah dari hubungan kasih.

Kita mengenal suara seseorang karena kita mengenal pribadinya.
Dan ketika kita mengenal suara-Nya, mengikuti tuntunan-Nya, serta berani menaati-Nya, kita menemukan tempat yang memang sudah disediakan-Nya bagi kita.

Mungkin bukan tempat yang paling gemerlap menurut dunia.
Tetapi di sanalah ada damai. Ada tujuan. Ada kecukupan. Ada sukacita. Ada kehidupan yang utuh.

Our wealthiest place is in God’s plan.

Dan sering kali, jalan menuju ke sana dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:

Dengar Firman-Nya. Kasihi Dia. Lakukan apa yang kita sudah tahu.
Lalu selangkah demi selangkah, suara-Nya menjadi semakin nyata.

“Kelimpahan sejati bukan sekadar memiliki lebih banyak, tetapi berada tepat di tempat yang Tuhan rancangkan bagi kita.”

Setuju?

“God always gives His best to those who leave the choice with Him.” – Jim Elliot.

“Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada mereka yang menyerahkan pilihan kepada-Nya.” – Jim Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan sekadar mencari pintu yang paling menguntungkan. Carilah pintu yang Tuhan tunjukkan. Di sanalah kelimpahan kita berada.”

“Don’t simply look for the most profitable door. Look for the door God shows you. That is where your abundance lies.” – Yenny Indra

Read More
1 3 4 5 6 7 427