Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Tak Ada Hati yang Terlalu Rusak untuk Dipulihkan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Tak Ada Hati yang Terlalu Rusak untuk Dipulihkan

Ada kalanya kita memandang seseorang lalu berkata dalam hati, “Orang ini sudah tidak mungkin berubah.” Mungkin karena ia terlalu keras, terlalu sombong, terlalu jauh dari Tuhan, atau terlalu lama hidup dalam dosa. Kita pun diam-diam kehilangan harapan.

Jika ada orang yang tampaknya paling kecil kemungkinannya untuk bertobat, Nebukadnezar adalah salah satunya.

Ia adalah raja paling berkuasa pada zamannya. Ia menaklukkan bangsa-bangsa, menghancurkan Yerusalem, dan mengangkut umat Allah ke pembuangan. Kekuasaan membuatnya lupa diri. Ia memandang dirinya sebagai sumber keberhasilan, seolah-olah seluruh kerajaan Babel berdiri karena kehebatannya sendiri.

Namun kesombongan selalu membawa manusia menjauh dari Tuhan.

Allah tidak membinasakan Nebukadnezar, tetapi merendahkannya. Dalam Daniel 4, ia kehilangan kewarasannya. Selama tujuh masa ia hidup seperti binatang di padang. Rambutnya memanjang seperti bulu rajawali dan kukunya seperti kuku burung.

Sekilas, kisah ini terdengar seperti hukuman yang mengerikan. Namun jika kita membaca sampai akhir, kita menemukan sesuatu yang luar biasa.

Alkitab berkata, “Pada akhir zaman itu aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, maka akal budiku kembali kepadaku.”

Pemulihan dimulai ketika pandangannya berubah. Selama ini ia hanya memandang dirinya sendiri. Kini ia menengadah kepada Allah.

Yang menarik, tujuan utama kisah ini bukanlah sekadar menunjukkan bahwa Allah sanggup memulihkan kesehatan mental seseorang. Tujuan utamanya adalah agar Nebukadnezar mengenal siapa Allah yang sesungguhnya. Setelah dipulihkan, ia tidak lagi memuji dirinya. Ia berkata, “Sekarang aku memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Surga.”

Inilah Anugerah Allah.

Allah bukan hanya sanggup memulihkan keadaan kita. Dia ingin memulihkan hati kita agar kembali mengenal-Nya.

Sering kali kita lebih tertarik pada mukjizat daripada Pribadi yang melakukan mukjizat. Kita berdoa agar masalah selesai, tetapi lupa bahwa tujuan terbesar Tuhan adalah membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

Kisah Nebukadnezar juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.

Mungkin hari ini ada anggota keluarga yang keras hati, teman yang menolak Injil, atau seseorang yang tampaknya mustahil berubah. Jangan terlalu cepat menutup pintu pengharapan. Jika Allah sanggup menjangkau seorang raja yang paling angkuh di dunia, Dia juga sanggup menjamah siapa pun yang kita doakan.

Itulah sebabnya kita tidak pernah boleh berhenti berharap.

Namun kisah ini juga menjadi cermin bagi diri kita sendiri. Kesombongan tidak selalu tampil dalam bentuk membanggakan harta atau jabatan. Kadang kesombongan muncul saat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan, mengandalkan kemampuan sendiri, atau diam-diam mengambil kemuliaan yang seharusnya menjadi milik-Nya.

Nebukadnezar dipulihkan bukan karena ia hebat, melainkan karena Allah penuh belas kasihan.

Demikian juga kita.

Tidak ada seorang pun yang dipulihkan karena jasanya sendiri. Kita dipulihkan karena anugerah. Kasih karunia Allah sanggup mengangkat orang yang paling terpuruk, mengampuni orang yang paling berdosa, dan memulihkan hidup yang tampaknya sudah hancur.

Karena itu, jangan pernah berkata, “Sudah terlambat.” Selama masih ada kasih karunia, masih ada harapan.

Mungkin hari ini yang perlu kita lakukan bukan berusaha lebih keras, melainkan seperti Nebukadnezar: menengadah kepada Allah. Saat mata kita kembali tertuju kepada-Nya, kita akan menyadari bahwa Dia tetap berdaulat, tetap penuh kasih, dan tetap sanggup melakukan apa yang tidak mungkin bagi manusia.

Tidak ada hati yang terlalu keras untuk disentuh-Nya. Tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan-Nya. Dan tidak ada orang yang berada di luar jangkauan kasih karunia-Nya.

“The Lord is able to transform the hardest heart because His grace is greater than human pride.”

“Tuhan sanggup mengubahkan hati yang paling keras, karena kasih anugerah-Nya jauh lebih besar daripada kesombongan manusia.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Pemulihan sejati tidak dimulai ketika keadaan berubah, tetapi ketika hati kembali mengakui bahwa Tuhanlah Raja.”

“True restoration does not begin when circumstances change, but when the heart once again acknowledges God as King.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Jangan Hanya Percaya pada Tangan Tuhan, Kenalilah Hati-Nya.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Hanya Percaya pada Tangan Tuhan, Kenalilah Hati-Nya.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar sebuah ilustrasi dari Ps. Wendell Parr, guru saya, yang sangat sederhana, tetapi begitu dalam.

Pada hari Senin ia berkata kepada anak-anaknya, “Hari Sabtu nanti kita pergi ke kebun binatang.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan apakah tiketnya sudah dibeli. Tidak ada cerita apakah uangnya sudah cukup. Tidak ada pembahasan bagaimana semuanya akan terlaksana.

Namun sejak hari Selasa, anak-anaknya sudah bersukacita. Mereka bercerita kepada teman-temannya dengan penuh semangat, “Sabtu nanti aku pergi ke kebun binatang!”

Mereka tidak pernah bertanya, “Papa, uangnya ada tidak?” Mereka juga tidak berdoa, “Dalam nama Yesus, kami patahkan setiap roh yang menghalangi kami pergi ke kebun binatang.”

Mengapa?

Karena bagi mereka hanya ada satu alasan.

Papa sudah berkata. Itu sudah cukup.

Mereka tidak sedang percaya kepada kebun binatang. Mereka percaya kepada ayah yang memberi janji.

Bukankah di situlah letak iman yang sesungguhnya?

Sering kali kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kalau jujur, kita lebih sibuk memikirkan bagaimana Tuhan akan menggenapi janji-Nya daripada siapa Dia yang memberi janji.

Kita percaya Tuhan sanggup menyembuhkan. Kita percaya Tuhan sanggup mencukupi. Kita percaya Tuhan sanggup membuka jalan.

Namun ketika jawaban belum datang, hati mulai gelisah. Kita bertanya-tanya apakah Tuhan masih bekerja.

Tanpa sadar, kita lebih mencari tangan Tuhan daripada mengenal hati-Nya.

Padahal iman yang dewasa bukan hanya berkata, “Aku percaya Tuhan sanggup.” Iman yang dewasa juga berkata, “Aku percaya Tuhan itu baik.”

Abraham memahami rahasia ini.

Ketika Allah memintanya mempersembahkan Ishak, ia tidak mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir. Namun ia mengenal Pribadi yang berbicara kepadanya. Karena itu imannya tidak berdiri di atas penjelasan, melainkan di atas karakter Allah.

Sering kali kita berkata, “Tuhan, jelaskan dulu, baru aku percaya.”

Tetapi Tuhan seolah berkata, “Percayalah kepada-Ku. Nanti engkau akan mengerti.”

Semakin saya berjalan bersama Tuhan, semakin saya menyadari bahwa fokus-Nya sering kali berbeda dengan fokus kita.

Kita datang membawa daftar kebutuhan.

“Tuhan, berkati usahaku.”
“Tuhan, pulihkan keuanganku.”
“Tuhan, lipatgandakan investasiku.”

Seolah-olah Tuhan terutama sedang mengurus financial portfolio kita.

Padahal yang terutama sedang dikerjakan-Nya adalah membentuk karakter kita.

Why?

Karena Tuhan tahu bahwa karakter jauh lebih berharga daripada harta. Uang bisa habis. Jabatan bisa hilang. Peluang bisa lewat. Tetapi karakter yang dibentuk oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah seumur hidup.

Semakin kita mengenal hati Bapa, semakin kita diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Dan ketika karakter kita bertumbuh, favor dan hikmat Tuhan mulai mengalir dengan sendirinya.

Kita tidak lagi mengejar berkat, tetapi hidup dalam pribadi yang siap dipercayakan berkat.

Di situlah kita mulai bersinergi dengan Roh Kudus.

Secara alami, kemampuan manusia terbatas. Tetapi ketika Roh Kudus memimpin langkah kita, hasilnya menjadi jauh melampaui kemampuan alami kita.

Yang natural dipenuhi kuasa yang supernatural.

Alkitab berkata, “Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus orang, dan seratus orang akan mengejar sepuluh ribu orang.” (Imamat 26:8).

Itulah kehidupan yang dipimpin Roh Kudus. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah bekerja melalui hidup kita.

Ratapan 3:22-23 mengingatkan,

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

Perhatikan, Firman Tuhan tidak berkata bahwa setiap pagi kita akan mengerti semua jawaban. Yang diingatkan setiap pagi adalah satu hal: besar kesetiaan-Nya.

Paulus pun berkata dalam Filipi 3:10,
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia…”

Bukan lebih dahulu mengejar mujizat, tetapi mengenal Pribadi yang melakukan mujizat.

Mungkin hari ini Anda masih menunggu jawaban doa.

Ingatlah anak-anak kecil itu.

Mereka tidak tahu bagaimana ayah mereka akan mengatur semuanya.

Mereka hanya tahu satu hal.
Papa sudah berkata.

Bukankah demikian seharusnya iman kita?
Bapa sudah berfirman. Itu sudah cukup.

“God is too good to be unkind and too wise to be mistaken. And when we cannot trace His hand, we must trust His heart.” – Charles H. Spurgeon.

“Allah terlalu baik untuk berlaku tidak baik, dan terlalu bijaksana untuk keliru. Ketika kita tidak dapat melihat tangan-Nya bekerja, kita harus mempercayai hati-Nya.” – Charles H. Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Kedewasaan rohani bukan ditandai oleh seberapa banyak doa yang telah dijawab Tuhan, melainkan oleh seberapa dalam kita tetap mempercayai hati-Nya ketika belum semua jawaban kita terima.”

“Spiritual maturity is not measured by how many prayers God has answered, but by how deeply we continue to trust His heart even before every answer comes.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Bukan Apa yang Kita Katakan, Tetapi Bagaimana Hati Kita Mengatakannya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bukan Apa yang Kita Katakan, Tetapi Bagaimana Hati Kita Mengatakannya…

Pernahkah Anda mendengar dua orang mengucapkan kalimat yang sama, tetapi menghasilkan perasaan yang sama sekali berbeda? Satu membuat kita merasa dihargai, sementara yang lain justru membuat kita terluka. Padahal kata-katanya hampir sama. Bedanya hanya satu, yaitu *tone of voice* – nada suaranya.

Saya semakin menyadari bahwa komunikasi bukan hanya tentang memilih kata yang benar. Komunikasi adalah bagaimana hati kita membungkus kata-kata itu.

Kejujuran memang penting. Tetapi kejujuran tanpa rasa hormat sering kali berubah menjadi senjata. Sebaliknya, kejujuran yang disampaikan dengan kasih justru membangun kepercayaan. Tidak jarang kita berkata, “Saya hanya jujur.” Padahal yang melukai bukanlah kejujurannya, melainkan cara kita menyampaikannya. Kata-kata yang sama dapat menjadi jembatan, tetapi juga dapat menjadi tembok. Semuanya bergantung pada hati yang mengucapkannya.

Itulah sebabnya Raja Salomo berkata, *”Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”*

Perhatikan, bukan hanya isi perkataannya, tetapi juga cara menyampaikannya. Nada suara dapat membangun hubungan. Nada suara yang sama juga dapat menghancurkannya hanya dalam beberapa detik.

*Sering kali sebuah hubungan bukan rusak karena satu masalah besar, tetapi karena bertahun-tahun dipenuhi nada bicara yang meremehkan, menyindir, atau meninggikan diri*.

Sebaliknya, hubungan yang hangat biasanya dibangun oleh ribuan percakapan sederhana yang diucapkan dengan kelembutan dan rasa hormat.

Lalu bagaimana kita menjaga tone of voice?
Banyak orang berusaha mengubah cara berbicara. Padahal akar masalahnya bukan di mulut, melainkan di hati. “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” Kalau hati dipenuhi amarah, nada suara akan sulit disembunyikan. Kalau hati dipenuhi kepahitan, wajah pun ikut berbicara. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi kasih Allah, kelembutan itu akan terpancar secara alami.

Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tatapan mata, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara. Orang mungkin lupa apa yang kita katakan. Tetapi mereka sering kali mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berbicara dengan kita.

Saya pernah bertemu orang yang bicaranya sangat sederhana. Tidak banyak kata-kata indah. Tetapi setiap kali berbicara, kita merasa tenang.
Why?
Karena hati yang damai selalu memiliki bahasa yang berbeda. Kehadirannya membuat orang merasa diterima. Nada suaranya tidak mengintimidasi. Tatapannya tidak menghakimi. Kita pulang dari percakapan itu dengan hati yang lebih ringan.

Sebaliknya, ada juga orang yang menyampaikan kebenaran. Isinya benar. Logikanya benar. Tetapi nadanya membuat orang menutup hati bahkan sebelum sempat mendengar pesannya. Kebenaran yang kehilangan kasih sering kali kehilangan kekuatannya.

Saya belajar bahwa sebelum menjaga lidah, saya perlu menjaga hati. Sebelum memperbaiki pilihan kata, saya perlu membiarkan Roh Kudus memenuhi hati saya terlebih dahulu. Karena ketika hati dipenuhi kasih, banyak hal berubah dengan sendirinya. Nada suara menjadi lebih lembut. Tatapan menjadi lebih hangat. Respons menjadi lebih sabar. Bahkan saat harus menegur seseorang, orang itu tetap dapat merasakan bahwa ia dikasihi.

Saya percaya, dunia hari ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Yang masih langka adalah orang yang mampu menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kasih, dan menunjukkan kasih tanpa mengorbankan kebenaran. Karena komunikasi yang paling mengubah hidup bukanlah yang paling cerdas, melainkan yang keluar dari hati yang dipenuhi kasih, ketulusan, dan kepedulian kepada orang lain.

Mungkin sebelum kita bertanya, “Apa yang harus saya katakan?” ada pertanyaan yang lebih penting, yaitu, “Dengan hati seperti apa saya akan mengatakannya?” Karena sering kali bukan kata-kata kita yang paling menyentuh hidup seseorang, melainkan hati di balik kata-kata itu.

“Jika hati kita dipenuhi kasih Allah, orang bukan hanya akan mendengar kata-kata kita. Mereka akan merasakan kasih-Nya melalui nada suara, tatapan mata, dan setiap sikap kita.”

“Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.” — Mother Teresa.

“Kata-kata yang penuh kebaikan mungkin singkat dan mudah diucapkan, tetapi gema pengaruhnya tidak pernah berakhir.” — Mother Teresa.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Nada suara kita sering kali mengungkapkan isi hati lebih jujur daripada kata-kata yang kita ucapkan.”

“Our tone of voice often reveals the true condition of our heart more honestly than the words we speak.”- Yenny Indra

Read More
Articles

Kalau Aku Bisa Kembali ke Masa Lalu…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Aku Bisa Kembali ke Masa Lalu…

Kalau hari ini Anda diberi kesempatan kembali ke masa lalu, apa yang ingin Anda ubah?

Mungkin Anda ingin memilih jurusan yang berbeda. Menolak sebuah pekerjaan. Tidak menikah terlalu cepat. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua. Atau mengambil keputusan yang selama ini paling Anda sesali.

Pertanyaan seperti ini sering muncul, bahkan menjadi tren di media sosial: “Apa yang akan kamu katakan kepada dirimu yang lebih muda?”

Jujur, saya juga pernah memikirkannya.

Namun belakangan ini saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Bagaimana jika justru semua musim yang ingin kita hapus itu adalah bagian dari proses yang membentuk kita menjadi pribadi hari ini?

Bukan berarti Allah merancang penderitaan kita. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan: Allah itu baik. Dia bukan sumber kejahatan atau penderitaan. Tetapi firman juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun pengalaman yang sia-sia ketika kita menyerahkannya ke dalam tangan-Nya.

Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya. Itu bukan rencana Allah. Itu adalah kejahatan manusia. Namun pada akhirnya Yusuf dapat berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Allah tidak menciptakan kejahatan itu, tetapi Dia sanggup mengubahnya menjadi berkat.

Demikian juga dalam hidup kita.

Ada musim-musim yang terasa tidak adil. Ada doa yang belum kita lihat jawabannya. Ada pintu yang tertutup ketika kita merasa pintu itulah harapan terakhir. Ada kegagalan yang membuat kita mempertanyakan diri sendiri.

Kalau boleh jujur, kita ingin melewati semua bagian itu.
Tetapi bagaimana jika justru di sanalah karakter kita sedang dibentuk?

Emas dimurnikan dalam api. Otot bertumbuh karena tekanan. Demikian pula iman menjadi semakin dewasa ketika tetap memilih percaya kepada Tuhan, sekalipun keadaan belum berubah.

Firman Tuhan berkata bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Perhatikan, tidak dikatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Yang dikatakan adalah Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu. Artinya, sekalipun dunia yang telah jatuh ini menghadirkan banyak hal yang menyakitkan, Allah tidak pernah kehilangan kemampuan untuk menenun semuanya menjadi sesuatu yang indah.

Mungkin hari ini Anda sedang berada di ruang yang terasa asing.

Anda membayangkan pada usia sekarang seharusnya karier sudah lebih baik. Bisnis sudah lebih berkembang. Keluarga sudah lebih harmonis. Kesehatan sudah pulih. Namun kenyataannya berbeda.

Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Anda tertinggal.

Tuhan tidak pernah panik melihat garis waktu hidup kita.
Dia hadir di tengah jarak antara kenyataan hari ini dan impian yang belum kita lihat menjadi nyata.
Dia tidak meninggalkan kita di tengah proses.

Sering kali kita baru memahami penyertaan Tuhan ketika menoleh ke belakang. Saat itu kita menyadari bahwa justru di musim yang paling sulit, kita belajar berdoa lebih sungguh-sungguh. Kita belajar mengampuni. Kita belajar bergantung kepada anugerah-Nya, bukan kepada kekuatan sendiri.

Kalau semua jalan selalu mulus, mungkin kita hanya mengenal berkat Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal hati-Nya.

Hari ini mungkin masih ada pertanyaan yang belum terjawab.

Tidak apa-apa.

Iman bukan berarti memiliki semua jawaban. Iman adalah tetap mempercayai Pribadi yang memegang seluruh jawaban.

Suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali perjalanan hidup ini, mungkin kita akan berkata, “Tuhan, sekarang aku mengerti. Engkau tidak pernah meninggalkanku. Bahkan ketika aku tidak memahami apa yang sedang terjadi, Engkau tetap bekerja.”

Dan mungkin, bagian hidup yang paling ingin kita hapus hari ini justru akan menjadi bagian yang paling kita syukuri karena melalui itulah kita semakin mengenal Allah.

God wasn’t absent in your hardest seasons. He was working.
You can’t skip the pain and still get the formation.
The unfair parts, the unplanned parts, the parts that hurt the most – they weren’t detours from His plan. They were the plan.*
*He was with you in every single one of them. – Christine Cain.

Allah tidak pernah absen dalam musim-musim tersulit hidupmu. Dia tetap bekerja.*
*Kita tidak bisa melewati rasa sakit tanpa mengalami pembentukan.
Bagian-bagian hidup yang terasa tidak adil, yang tidak pernah kita rencanakan, dan yang paling menyakitkan bukan berasal dari Allah. Namun, ketika kita tetap berjalan bersama-Nya, tidak satu pun dari semuanya menjadi sia-sia. Allah sanggup memakai setiap keadaan untuk membentuk karakter kita dan mendatangkan kebaikan.
Dia menyertai kita dalam setiap langkah perjalanan itu – Christine Caine.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi Dia berjanji tidak akan membiarkan satu pun badai berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang berharga di dalam diri kita ketika kita tetap berjalan bersama-Nya.”

“God does not promise a life without storms, but He does promise that no storm is wasted when we keep walking with Him.” — Yenny Indra

Read More
Articles

Dua Kata yang Mengubah Segalanya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Dua Kata yang Mengubah Segalanya!

Ada kalanya yang paling kita takuti bukanlah kegagalan itu sendiri.
Melainkan pulang setelah gagal.

Kita takut dihakimi.
Takut dipersalahkan.
Takut mendengar kalimat, “Sudah kubilang, kan?”

Rasa malu sering kali membuat seseorang menjauh, bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari Tuhan.

Saya teringat sebuah kisah yang dibagikan Ruth Graham pada pemakaman ayahnya, Billy Graham, tahun 2018.

Setelah menjalani pernikahan selama 21 tahun yang berakhir dengan perceraian, Ruth mengambil keputusan yang terburu-buru. Ia menikah lagi, meskipun orang tua dan anak-anaknya telah menasihatinya untuk tidak melakukannya.

Sehari setelah pernikahan itu berlangsung, ia mulai sadar bahwa ia telah membuat kesalahan besar.

Lima minggu kemudian, ia meninggalkan hubungan itu.

Dengan hati yang hancur, dipenuhi rasa malu dan penyesalan, ia mengemudikan mobil menuju rumah orang tuanya di Montreat, North Carolina.

Sepanjang perjalanan ia membayangkan berbagai kemungkinan.

Bagaimana jika ayahnya kecewa?
Bagaimana jika ia dimarahi?
Bagaimana jika ia dianggap telah mempermalukan keluarga?

Ruth sadar apa yang dilakukannya, mencoreng nama besar ayahnya, yang terkenal di seluruh dunia.

Namun ketika mobilnya memasuki halaman rumah, pemandangan yang ia lihat sama sekali di luar dugaannya.

Billy Graham sudah berdiri di luar rumah, menunggunya.
Begitu Ruth turun dari mobil, ayahnya memeluknya erat dan hanya mengucapkan dua kata.

“Welcome home.”
“Selamat datang di rumah.”

Hanya itu.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada kalimat yang menyalahkan.
Tidak ada penghukuman.
Yang ada hanyalah pelukan seorang ayah.

Saat membaca kisah ini, hati saya langsung teringat kepada perumpamaan anak yang hilang.

Ketika anak itu pulang, ia telah menyiapkan pidato panjang. Ia siap menjadi seorang hamba karena merasa dirinya tidak lagi layak disebut anak.
Tetapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, ayahnya sudah berlari memeluknya.

Kasih selalu lebih cepat daripada rasa bersalah.

Bukankah sering kali kita membayangkan Tuhan seperti hakim yang sedang menunggu untuk menegur kita?

Padahal firman menggambarkan Dia sebagai Bapa yang merindukan anak-anak-Nya kembali pulang.

Bukan karena Dia menganggap dosa tidak penting.
Tetapi karena pengampunan-Nya lebih besar daripada kegagalan kita.

Sering kali yang membuat kita tetap terikat bukanlah dosa itu sendiri.
Melainkan rasa malu.

Kita merasa sudah terlalu jauh.
Sudah terlalu banyak kesalahan.
Sudah terlalu mengecewakan Tuhan.

Namun Kasih Kristus berkata sebaliknya.

Anugerah selalu membuka jalan pulang.
Saya percaya setiap kita pernah mengalami musim ketika merasa gagal.

Gagal sebagai orang tua.
Gagal sebagai pasangan.
Gagal dalam pekerjaan.
Bahkan mungkin merasa gagal sebagai orang percaya.

Kalau hari ini Anda sedang berada di titik itu, jangan biarkan rasa malu menjauhkan Anda dari Bapa.
Justru datanglah kepada-Nya.

Karena kasih Allah tidak dimulai ketika kita berhasil.
Kasih-Nya sudah ada bahkan ketika kita masih penuh kegagalan.

Mungkin kita membayangkan Tuhan akan berkata, “Mengapa kamu melakukan itu?”

Tetapi saya percaya, hati Bapa lebih dahulu berkata,
“Selamat datang di rumah.”
Itulah Anugerah….

Kasih yang tidak menunggu kita sempurna, sebelum menerima kita.
Kasih yang memulihkan, mengangkat, lalu memberi kita kekuatan untuk melangkah lagi.

Karena rumah Bapa bukanlah tempat bagi orang-orang yang tidak pernah gagal.
Rumah Bapa adalah tempat bagi mereka yang mau pulang.

“When we honestly ask ourselves which person in our lives means the most to us, we often find that it is those who, instead of giving advice or solutions, have chosen rather to share our pain and touch our wounds with a warm and tender hand.” – Henri Nouwen.

“Ketika kita jujur bertanya siapa yang paling berarti dalam hidup kita, sering kali jawabannya adalah mereka yang tidak buru-buru memberi nasihat atau solusi, melainkan memilih hadir, ikut merasakan luka kita, dan menyentuhnya dengan kasih.” – Henri Nouwen.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Anugerah tidak menunggu kita layak untuk pulang. Kasih karunia justru membuka pintu agar kita berani pulang.”

“Grace doesn’t wait until we are worthy to come home. Grace opens the door so we have the courage to come home.” — Yenny Indra

Read More
1 5 6 7 8 9 427