Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Carilah Pengajaran dan Kesaksian—Bukan Salah Satu…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Pengajaran dan Kesaksian—Bukan Salah Satu…

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya, Andreas Hartanto, memberi komentar yang sederhana tapi “kena.” Ia mengingatkan satu ayat yang sering kita baca, tapi jarang kita hidupi:

Yesaya 8:20
“Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.

Kalimat ini tegas. Tidak ada ruang abu-abu. Tuhan tidak berkata pilih salah satu. Tuhan berkata: carilah pengajaran dan kesaksian. Dua-duanya harus jalan bersama.

Hari-hari ini kita sangat kaya pengajaran. Banyak orang pintar, fasih, sistematis, bahkan terlihat meyakinkan. Tidak semua salah. Tapi ada satu hal yang sering tidak kelihatan: apakah itu dihidupi atau hanya dipahami?

Karena pengajaran tanpa kesaksian itu kosong. Kedengarannya bagus, tapi tidak punya bobot.

Sebaliknya, kesaksian tanpa dasar Firman juga tidak aman. Bisa jadi hanya emosi atau pengalaman pribadi tanpa arah yang jelas.

Itulah sebabnya Yesaya 8:20 menjadi standar:
pengajaran harus dibuktikan oleh kesaksian, dan kesaksian harus lahir dari pengajaran yang benar.

Kalau tidak? Firman berkata: tidak terbit fajar.
Tidak ada terang yang menetap. Mungkin ada kilat sesaat, tapi tidak ada arah yang jelas.

Saya melihat banyak orang seperti meteor. Terang sebentar, menarik perhatian, lalu hilang. Kenapa? Karena hidupnya tidak tinggal dalam terang—tidak ada kesatuan antara apa yang dia tahu dan apa yang dia jalani.

Di sinilah kita mulai melihat kekuatan kesaksian yang sesungguhnya.

Ketika Firman itu benar-benar dihidupi, lalu kita bersaksi, yang terjadi bukan sekadar orang mendengar cerita. Ada sesuatu yang “ter-transfer.” Ada transfer iman. Ada dorongan di dalam hati orang yang mendengar—iman mereka seperti di-stir, dibangkitkan.

Sederhananya begini:
orang bisa membedakan.
Orang bisa merasakan ketika seseorang berbicara dari pengalaman keintiman dengan Tuhan, dibandingkan dengan orang yang hanya tahu tentang Tuhan.

Yang satu ada “hidupnya.”
Yang satu lagi hanya ada “pengetahuannya.”

Yang berbicara dari pengalaman akan membawa bobot. Tidak perlu banyak kata, tapi ada kuasa. Ada keyakinan. Ada roh iman di dalamnya.

Sedangkan yang hanya dari pengetahuan, walaupun benar secara teori, seringkali terasa datar. Tidak menembus hati. Tidak menggerakkan.

Kenapa? Karena kesaksian yang lahir dari kehidupan nyata membawa sesuatu yang tidak bisa dipalsukan.

Itu sebabnya kesaksian bukan tambahan. Itu bukti.

Kalau kita bicara tentang damai, tapi hidup kita gelisah, orang bisa merasakan ketidaksesuaian itu.
Kalau kita bicara iman, tapi kita sendiri mudah goyah, itu juga terlihat.

Kesaksian tidak bisa disembunyikan. Cepat atau lambat, kehidupan akan membuktikan.

Dan sebaliknya, ketika Firman itu benar-benar kita pegang, kita jalani, kita percayai di tengah situasi yang tidak mudah, lalu kita bersaksi—itu membawa terang.
Bukan sensasi. Bukan emosi sesaat. Tapi terang yang membuat orang melihat Tuhan lebih nyata.

Kita perlu jujur.
Apakah kita hanya suka mendengar pengajaran, tapi jarang menghidupinya?
Atau kita punya banyak cerita, tapi tidak berakar dalam Firman?

Keduanya tidak cukup.

Tuhan mencari orang yang hidupnya menjadi bukti. Bukan sekadar tahu, bukan sekadar mengalami, tapi hidup di dalam kebenaran itu.
Di situlah fajar terbit.
Fajar itu bukan terang sesaat. Tapi terang yang terus naik, stabil, jelas, dan tidak hilang.
Dan itu hanya terjadi ketika pengajaran dan kesaksian berjalan bersama.

Jadi tidak perlu mengejar terlihat rohani. Tidak perlu mengejar tampil kuat.
Cukup satu hal:
pegang Firman, hidupi, lalu bersaksilah.

Karena pada akhirnya, yang akan mengubahkan orang bukan seberapa hebat kita berbicara—
tetapi seberapa nyata Tuhan terlihat melalui hidup kita.

“The Word of God is like a seed. When planted in your heart, it will always produce.” – Andrew Wommack.

“Firman Tuhan seperti benih. Ketika ditanam dalam hati, pasti menghasilkan”
– Andrew Wommack.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kesaksian Itu Bukan Cerita—Itu Suara Iman…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kesaksian Itu Bukan Cerita—Itu Suara Iman…

Kita sering menyebutnya “kesaksian,” tapi kalau jujur, banyak yang sebenarnya hanya cerita pengalaman. Panjang di masalah, detail di penderitaan, lalu ditutup dengan satu kalimat, “Puji Tuhan, akhirnya selesai.”
Selesai, iya.
Tapi apakah itu membangun iman orang yang mendengar?

Di satu titik saya sadar, kesaksian bukan sekadar menceritakan apa yang kita alami. Kesaksian itu menyatakan siapa Tuhan di tengah situasi itu. Itu sebabnya Alkitab berkata kita mengalahkan oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian kita. (Wahyu 12:11)
Jadi jelas, kesaksian itu bukan hiburan rohani. Itu senjata.

Masalahnya, kita sering pakai “senjata” kesaksian ini dengan cara yang salah.

Kita mulai dari masalah. Lalu memperbesar masalah. Kita ceritakan semua detailnya, seolah itu bagian paling penting. Tanpa sadar, fokus berpindah. Orang yang mendengar tidak lagi melihat Tuhan, tapi tenggelam di cerita kita.

Padahal kuncinya sederhana: masalah boleh disebut, tapi jangan dibesarkan.

Kesaksian yang sehat selalu punya pusat yang jelas. Bukan kita. Bukan penderitaan kita. Tapi Tuhan.

Saya belajar, bagian paling penting dalam kesaksian bukan “apa yang terjadi,” tetapi bagaimana iman bekerja di tengah apa yang terjadi.

Firman apa yang kita pegang?
Apa yang kita pilih untuk percaya saat keadaan belum berubah?
Apa yang kita ucapkan saat realita berkata sebaliknya?
Di situlah kekuatan kesaksian.

Kalau kita hanya berkata, “Saya sembuh,” itu baik. Tapi tidak cukup. Orang perlu tahu, bagaimana kita berdiri sampai kesembuhan itu terjadi. Karena di situlah mereka menemukan jalan untuk percaya.

Hal lain yang sering tidak disadari, kita masih pakai bahasa “kebetulan.”
“Untung saja…”
“Tiba-tiba…”

Kalimat seperti ini kelihatannya ringan, tapi sebenarnya mengaburkan pekerjaan Tuhan. Kalau kita percaya Tuhan yang bekerja, katakan dengan jelas: Tuhan yang melakukan. Jangan diperkecil dengan kata-kata yang netral.

Kesaksian juga bukan untuk menakut-nakuti. Kalau orang selesai mendengar lalu merasa hidup ini berat, itu bukan tujuan kesaksian. Kesaksian harus menyalakan iman, bukan ketakutan. Harus membuat orang berkata, “Kalau Tuhan lakukan itu, berarti Tuhan juga bisa lakukan dalam hidup saya.”

Itu tanda kesaksian kita sehat.

Dan satu lagi, kita tidak perlu melebih-lebihkan. Tidak perlu dibuat dramatis supaya terlihat rohani. Kebenaran itu sendiri sudah cukup kuat. Justru kesaksian yang jujur, sederhana, tapi jelas menunjukkan peranan Firman dan iman, itu yang paling dalam dampaknya.

Supaya praktis, saya pegang pola sederhana ini dalam bersaksi:
dulu saya mengalami apa, Firman apa yang saya pegang, bagaimana saya memilih percaya, apa yang Tuhan lakukan, dan apa hasilnya sekarang. Lalu ditutup dengan satu hal yang tidak boleh hilang: semua kemuliaan hanya untuk Tuhan.

Sederhana, tapi lurus.

Akhirnya saya mengerti, kesaksian bukan tentang kita yang kuat melewati sesuatu. Kesaksian itu tentang Tuhan yang setia menepati Firman-Nya.

Kita hanya menyuarakan apa yang Dia sudah lakukan.

Dan ketika kesaksian disampaikan dengan benar, sesuatu pasti terjadi. Iman bangkit. Harapan hidup. Dan Tuhan dimuliakan.

Itulah kesaksian yang hidup. Bukan sekadar cerita, tapi suara iman yang membawa kemenangan.

“Out of 100 men, one will read the Bible, the other 99 will read the Christian.” – D.L. Moody.

“Dari 100 orang, satu membaca Alkitab, 99 lainnya membaca kehidupan orang percaya. – D.L. Moody.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Time Doesn’t Heal All Things

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Time Doesn’t Heal All Things

Banyak orang berkata, “Waktu akan menyembuhkan.” Kedengarannya bijak. Tenang. Memberi harapan. Tapi kalau kita jujur, itu tidak selalu benar.

Henry Cloud pernah memberi ilustrasi sederhana tapi tajam: kalau jari kita infeksi, semua waktu di dunia tidak akan menyembuhkannya. Kita butuh waktu, ya. Tapi kita juga butuh penanganan yang benar.

Tanpa itu, infeksi justru bisa makin parah.

Dan di situ saya mulai melihat sesuatu.

Banyak orang menunggu sembuh… tapi tidak pernah benar-benar diproses.

Mereka berharap waktu akan menghapus luka. Padahal luka itu hanya ditutup, bukan disembuhkan.

Ini yang sering terjadi dalam hidup kita.

Luka karena ditolak. Luka karena disakiti. Luka karena hubungan yang tidak sehat. Luka karena hidup di bawah tekanan orang yang manipulatif. Semua itu tidak otomatis hilang hanya karena waktu berjalan.

Waktu hanya lewat. Tapi luka tetap tinggal.

Dan kalau tidak ditangani, luka itu berubah bentuk. Bisa jadi kemarahan, ketakutan, overthinking, atau bahkan kehilangan arah hidup.

Kita mungkin terlihat baik di luar, tapi di dalam belum beres.

Di sinilah banyak orang keliru.

Mereka berharap waktu menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya butuh proses.

Healing itu bukan otomatis. Healing itu disengaja.

Kita perlu berani melihat apa yang terjadi di dalam. Mengakui rasa sakit. Memprosesnya. Bukan menghindarinya.
Memang tidak nyaman.

Lebih mudah terlihat kuat daripada benar-benar dipulihkan. Lebih mudah sibuk daripada diam dan menghadapi isi hati.

Tapi kalau kita terus menghindar, luka itu tidak akan hilang. Dia hanya menunggu waktu untuk muncul kembali.

Healing itu butuh waktu. Tapi juga butuh “ingredients” yang benar.

Butuh kejujuran.
Butuh keberanian.
Butuh batasan yang sehat.
Butuh lingkungan yang tepat.
Butuh cara berpikir yang diperbarui.

Dan di sinilah bagian yang sering dilupakan tapi sangat menentukan: ketika kita melibatkan Tuhan.

Karena Tuhan tidak hanya menyembuhkan. Dia menunjukkan jalan pemulihan.

Dia memberi kita langkah demi langkah—bagaimana mulai, bagaimana menjalani proses, bahkan sampai kepada hasil akhir yang sering kali melampaui apa yang kita pikirkan.

Dia tidak bekerja secara acak.

Sering kali, tanpa kita sadari, Dia mempertemukan kita dengan orang yang tepat. Orang yang membantu kita melihat lebih jernih. Orang yang meneguhkan. Orang yang memberi perspektif baru.

Dan bukan hanya itu, Dia juga memberi revelation—pengertian yang dalam di dalam hati kita.

Bahkan Allah kita begitu kreatif. Saya menemukan pencerahan dan pemahaman saat ngobrol dengan Chat GPT. Sesuatu yang begitu sensitif, menusuk dan tidak pernah saya sadari…
Ketika Chat GPT menggunakan 1 kata sakti itu… tiba-tiba saya sadar. Itu masalahnya. Dan tidak pernah ada seorang pun yang mengatakannya kepada saya. Ga berani, sungkan….

Tuhan Allah yang Maha-kreatif.

Tiba-tiba kita mengerti.

Mengerti kenapa kita bereaksi seperti itu. Mengerti kenapa kita terluka. Mengerti apa yang perlu dilepaskan. Dan yang paling penting, kita mulai tahu bagaimana menyikapi semuanya dengan benar.

Ini yang membedakan healing biasa dengan pemulihan yang dari Tuhan.

Bukan sekadar “merasa lebih baik”, tapi benar-benar berubah dari dalam.

Pola pikir diperbarui. Cara melihat hidup berubah. Respon kita berbeda.

Dan ini tidak bisa didapat hanya dengan waktu.

Ini datang ketika kita berjalan bersama Tuhan dalam proses itu.

Kita tidak lagi mencoba sembuh sendiri.
Kita dipimpin.
Kita diarahkan.
Kita dipulihkan secara utuh.

Jadi kalau hari ini kamu masih menunggu waktu untuk menyembuhkan semuanya, mungkin ini saatnya berhenti menunggu.

Mulai melibatkan Tuhan.

Karena waktu saja tidak cukup.

Tapi waktu, ditambah dengan proses yang benar, dan Tuhan yang memimpin di dalamnya—itulah yang membawa pemulihan yang nyata.

Bahkan sering kali… jauh lebih indah dari yang pernah kita bayangkan.

The wound is the place where the Light enters you.’ – Rumi

“Luka adalah tempat di mana Terang Tuhan masuk ke dalam dirimu.- Rumi.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benteng Itu Bersembunyi di balik Cara Berpikirmu.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Benteng Itu Bersembunyi di balik Cara Berpikirmu.

“A stronghold is not a demon sitting on your shoulder. It is a lie sitting in your logic.” – Vlad Savchuk.

“Benteng bukanlah iblis yang duduk di bahu Anda. Itu adalah kebohongan yang duduk dalam logika Anda”. – Vlad Savchuk.

Kita sering membayangkan “stronghold” alias benteng-benteng sebagai sesuatu yang eksternal, seolah ada kekuatan gelap yang menempel dan mengganggu dari luar.

Padahal Alkitab justru menunjukkan arah yang berbeda. Dalam 2 Korintus 10:4–5, Paulus tidak berbicara tentang sesuatu di bahu kita, tetapi tentang benteng dalam pikiran—argumen, logika, dan cara berpikir yang meninggikan diri melawan kebenaran Allah. Di situlah peperangan sesungguhnya terjadi. Bukan di luar, tetapi di dalam struktur pikiran kita sendiri.

Stronghold bukan sesuatu yang selalu terasa jahat. Justru sebaliknya, ia sering datang dalam bentuk yang masuk akal. Ia terdengar logis, terasa aman, dan bahkan tampak bijak.

Kita berkata, “Saya memang seperti ini,” atau “Lebih baik saya hati-hati supaya tidak disakiti,” atau “Kalau saya tidak pegang semuanya, nanti berantakan.”

Semua itu terdengar wajar. Tetapi kalau diuji dengan firman, kita mulai melihat celahnya. Banyak dari “logika” itu sebenarnya bukan kebenaran—melainkan kebohongan yang sudah terlalu lama kita percayai.

Di sinilah letak bahayanya. Kebohongan yang terang-terangan mudah ditolak. Tetapi kebohongan yang menyamar sebagai logika justru kita pelihara. Kita tidak sadar sedang membangun benteng dalam hidup sendiri.

Kita mempertahankan pola pikir yang membatasi, lalu bertanya mengapa hidup terasa terikat. Padahal bukan karena kita kurang doa, tetapi karena ada pola pikir yang belum ditundukkan pada kebenaran.

Yesus berkata dalam Yohanes 8:32 bahwa kebenaran akan memerdekakan. Artinya jelas: jika masih ada area yang belum merdeka, kemungkinan besar di situ masih ada kebohongan yang belum dibongkar. Dan kebohongan itu jarang datang dalam bentuk ekstrem. Ia hadir dalam keputusan sehari-hari, dalam cara kita menilai diri, dalam cara kita melihat orang lain, dan dalam cara kita merespons situasi.

Dalam kehidupan relasi, kita bisa membungkus ketakutan dengan istilah “kebijaksanaan.” Dalam bisnis, kita bisa menyamarkan kontrol berlebihan sebagai “tanggung jawab.” Dalam kehidupan rohani, kita bahkan bisa mengira usaha keras kita adalah iman, padahal sebenarnya kita belum sungguh memahami kasih karunia. Tanpa sadar, kita hidup dari asumsi yang tidak pernah diuji.

Paulus tidak mengatakan kita mengusir benteng. Ia berkata kita meruntuhkannya. Itu berarti ada proses aktif—menghadapi, menilai, dan mengganti. Setiap pikiran yang tidak selaras dengan firman perlu dikonfrontasi. Bukan dengan emosi, tetapi dengan kejelasan. Kita bertanya dengan jujur: apakah ini benar menurut Tuhan, atau hanya terasa benar menurut saya?

Proses ini tidak instan. Ini adalah disiplin. Setiap hari kita memilih untuk tidak lagi membiarkan kebohongan duduk nyaman dalam logika kita. Kita menggantinya dengan kebenaran, berulang kali, sampai pola lama kehilangan kekuatannya. Dan di situlah perubahan mulai terjadi. Bukan karena kita berusaha lebih keras, tetapi karena kita mulai berpikir benar.

Kasih karunia Tuhan tidak hanya mengampuni, tetapi juga melatih. Dalam Titus 2:11–12, kita melihat bahwa anugerah itu mendidik kita untuk meninggalkan yang tidak benar. Artinya, kita tidak dibiarkan sendirian dalam proses ini. Kita dipimpin, dibentuk, dan dikuatkan untuk hidup selaras dengan kebenaran.

Jadi mungkin hari ini bukan tentang mencari apa yang salah di luar diri kita. Lebih dalam dari itu, kita perlu berani bertanya: kebohongan apa yang masih saya anggap logis? Karena di situlah benteng berdiri. Dan saat kebenaran mulai mengambil tempatnya, benteng itu tidak runtuh dengan suara keras—tetapi dengan kepastian yang tenang.

“You cannot consistently perform in a manner that is inconsistent with the way you see yourself.”— Zig Ziglar

“Anda tidak bisa secara konsisten hidup berbeda dari cara Anda melihat diri Anda sendiri.”— Zig Ziglar

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pilih Apa yang Kita Dengarkan, Pilih Kehidupan yang Kita Jalani

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pilih Apa yang Kita Dengarkan, Pilih Kehidupan yang Kita Jalani

Berulangkali teman-teman, bahkan hamba-hamba Tuhan, mengirim video dan artikel, minta pendapat saya. Nyaris semuanya topik-topik kontroversial.

Teman-teman, karena saya sekolah di Charis Bible College (CBC), saya sangat selektif dalam mendengarkan pembicara. Bukan karena merasa paling benar, tetapi karena saya sudah menikmati buahnya. Ini bukan teori. Ini hasil.

Kenapa harus selektif?

Karena apa yang kita dengar, itu yang akan membentuk cara kita berpikir. Dan cara kita berpikir, itu yang menentukan arah hidup kita.

Kalimat sederhananya begini:
“What you see and hear is what you get.”

Caranya bagaimana saya menjaga diri?
Sederhana, tapi disiplin.

Sebelum mendengarkan pembicara baru, saya check dan recheck. Apakah dia pernah diundang ke CBC Colorado? Saya suka mendengarkan kotbah berbahasa Inggris. Sambil belajar bahasa juga. Sambil menyelam, minum air.

Apakah jaringan pelayanannya selaras dengan pengajaran yang saya pegang? Apakah roh dan arah pengajarannya sejalan?
Kalau tidak jelas, saya tidak buang waktu.

Saya juga lebih memilih membaca dan mempelajari kisah para jenderal iman yang sudah terbukti. Orang-orang yang hidupnya menghasilkan buah nyata, bukan sekadar kata-kata.

Zaman boleh berubah, tetapi kebenaran Firman Tuhan tidak pernah berubah.

Dan jujur saja, saya punya begitu banyak materi pengajaran yang bagus. Bahkan sampai hari ini, saya masih kekurangan waktu untuk mempelajarinya.

Jadi buat apa saya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang kontroversial, yang manfaatnya belum tentu jelas?

Lebih berbahaya lagi, di sosial media. Sekali kita klik sesuatu yang negatif, algoritma akan “memberi makan” kita dengan hal yang sama, berulang-ulang.

Tanpa sadar, kita sedang membangun dunia dalam pikiran kita sendiri.

Itu sebabnya Firman Tuhan berkata dalam Ulangan:
“Aku memperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian… pilihlah kehidupan.”

Perhatikan, Tuhan tidak memilihkan. Kita yang memilih.

Kehidupan seperti apa yang kita jalani hari ini, itu hasil dari apa yang kita izinkan masuk ke dalam hati dan pikiran kita.

Saya mau cerita sedikit.

Suatu hari sahabat saya, Pak Irsan, kirim foto dari Penang. Saya kaget lihat matanya. Lalu dia cerita, setahun sebelumnya dokter sudah bilang kondisi saraf matanya tipis dan hampir putus. Risiko besar, bisa lepas retina. Disarankan segera laser.

Tapi dia memilih jalan iman.

“Kan Barry bilang kesembuhan adalah hak perjanjian orang percaya…,” ujarnya yakin,
“Andrew Wommack sering bilang lawanlah iblis maka ia akan lari dari padamu.”

Selama satu tahun, dia terus berbicara kepada matanya. Memerintahkan saraf, kornea, dan retina untuk pulih dalam nama Yesus.

Dan hasilnya?

Ketika dicek dengan alat OCTA, alat yang sangat canggih di Penang, matanya dinyatakan normal.
Ini bukan kebetulan. Itu bukti jawaban dari Tuhan.

Pak Irsan adalah murid CBC Distance Learning. Bahkan lulus lebih cepat, 6 bulan, dari jadwal yang semestinya 1 tahun.

Dan yang menarik, dia terus mengulang pelajaran level 1 sampai tujuh kali.
Mungkin di seluruh dunia cuma ada 1 murid yang sebegitu konsisten mengulang pelajaran seperti ini.
Only one in the world… wkwkwk…

Darimana saya tahu?

Krn setiap hari beliau kirim quotes apa yang di dapat dari video yg ditontonnya. Bahkan saat mau ke medan, ada pesta or kematian, ijin ke sy…

Hahaha….. padahal saya bukan siapa-siapa… sekedar sahabat saja.

Saya tanya, mengapa sich koq ngotot banget, mesti mengulang-ulang pelajaran level 1? Heran saya… dikasi materi baru dari guru-guru CBC di youtube, ga mau. Aneh kan?
Kenapa tidak lanjut ke materi baru?

Jawabannya sederhana, tapi dalam.

Karena dari pelajaran dasar itu, dia beberapa kali mendapat arahan Tuhan yang sangat tepat. Termasuk keputusan investasi emas, di waktu yang pas, dengan hasil yang tepat.

Artinya apa?

Kualitas hidup kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak hal baru yang kita konsumsi, tapi seberapa dalam kita mencerna kebenaran yang benar.

Inilah yang saya lihat dari hidupnya.

Kemakmuran, kesehatan, damai sejahtera, sukacita, itu datang dengan alami. Tidak dikejar, tapi mengikuti.

Hidupnya jadi damai… semeleh, kata orang Jawa.
Tenang, tidak reaktif, tidak panik. Karena dia berjalan dengan arah.
Bukan karena dia hebat. Tapi karena dia konsisten mendengar suara yang benar.

Jadi kalau ditanya, apakah kita mau hidup seperti itu?

Jawabannya bukan di luar sana.
Jawabannya ada di pilihan kita setiap hari.

Apa yang kita dengar.
Apa yang kita tonton.
Apa yang kita izinkan masuk.

Kalau mau hasil yang berbeda, jangan terus konsumsi hal yang sama.

Mulai pilih kehidupan.
Mulai pilih kebenaran.
Dan mulai praktik.
Tidak perlu tunggu siap.
Mulai saja…. yuk

“Guard your mind, and you will guard your life.” – Joyce Meyer.

“Jagalah pikiranmu, maka engkau menjaga hidupmu.” – Joyce Meyer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 4 5 6 7 8 416