Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Ketika Kasih Karunia Lebih Besar daripada Kesalahan Kita….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Kasih Karunia Lebih Besar daripada Kesalahan Kita….

Beberapa hari terakhir saya merenungkan satu hal.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seseorang menjalani hidup tanpa Tuhan.

Mengapa?

Karena hidup ini tidak pernah lepas dari kesalahan.
Ada keputusan yang ternyata keliru.
Ada kesempatan yang sudah lewat.
Ada kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan.
Dan yang paling berat, ada kesalahan yang sudah terjadi dan tidak bisa lagi diperbaiki.

Saat itulah penyesalan datang.
Ia berbisik pelan, tetapi terus-menerus.

“Seandainya waktu itu…”

“Kalau saja aku tahu…”

“Mengapa aku mengambil keputusan itu?”

Semakin dipikirkan, semakin berat rasanya.
Masa lalu memang tidak bisa diubah.
Tetapi penyesalan sering kali membuat kita kehilangan damai hari ini dan ketakutan menghadapi hari esok.

Saya bersyukur mempunyai Tuhan.
Bukan karena orang percaya tidak pernah salah.
Bukan pula karena setiap keputusan kita selalu benar.
Tetapi karena kasih karunia Tuhan lebih besar daripada kesalahan kita.

Beberapa waktu lalu saya kembali merenungkan *Roma 8:28.
“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Perhatikan baik-baik.

Ayat ini tidak berkata semua yang terjadi berasal dari Tuhan.
Ayat ini juga tidak berkata bahwa semua yang terjadi itu baik.
Tetapi Tuhan sanggup bekerja di dalam segala sesuatu.
Termasuk di dalam keputusan yang pernah kita sesali.

Saya belajar bahwa iman bukan berarti menyangkal fakta.
Iman berarti meninggikan Firman Tuhan di atas fakta.

Fakta berkata,
“Kamu pernah salah.”

Firman berkata,
“Kasih karunia-Ku cukup bagimu.”

Fakta berkata,
“Sudah terlambat.”

Firman berkata,
“Aku turut bekerja mendatangkan kebaikan.”

Fakta mengajak kita terus melihat ke belakang.
Firman mengajak kita berjalan bersama Tuhan hari ini.

Saya membayangkan betapa beratnya hidup jika semuanya bergantung pada kesempurnaan kita.
Kalau begitu, siapa yang bisa hidup dengan tenang?

Tetapi syukurlah, dasar hidup kita bukan kesempurnaan kita.
Dasarnya adalah kesetiaan Tuhan.

Abraham pernah keliru.
Daud pernah jatuh.
Petrus pernah menyangkal Yesus.
Namun kisah mereka tidak berhenti pada kegagalan.
Karena kasih karunia Tuhan selalu menulis bab berikutnya.

Ada satu kalimat yang sangat menguatkan hati saya.

Gembala yang baik bukan hanya menjaga domba yang selalu benar melangkah. Ia juga tahu bagaimana membawa pulang domba yang pernah salah melangkah.

Kalimat itu membuat hati saya lega.

Sebab saya sadar, ada kesalahan yang bisa saya perbaiki.
Tetapi ada juga yang tidak.

Namun ternyata pengharapan saya tidak terletak pada kemampuan saya memperbaiki masa lalu.

Pengharapan saya ada pada kesetiaan Gembala yang tetap memegang tangan saya hari ini.

Kalau memang saya keliru, saya belajar.
Kalau perlu bertobat, saya bertobat.
Lalu saya melangkah lagi.
Bukan dengan rasa bersalah.
Tetapi dengan iman bahwa Tuhan masih memegang masa depan saya.

Mungkin hari ini Anda juga sedang memikul beban penyesalan.
Jangan biarkan penyesalan itu berbicara lebih keras daripada janji Tuhan.

Apa yang sudah berlalu memang tidak bisa diubah.
Tetapi Tuhan masih memegang hari ini.
Dan Dia juga sudah berada di hari esok.

Karena itu saya memilih mempercayai Firman-Nya lebih daripada perasaan saya.

Saya memilih meninggikan janji-Nya di atas fakta yang saya lihat.

Sebab saya percaya, kasih karunia Tuhan selalu memiliki kata terakhir.

“Aku tidak lagi mengukur masa depanku dari kesalahan kemarin, tetapi dari janji Tuhan yang tidak pernah berubah.”

My grace is sufficient for you, for My power is made perfect in weakness.” – 2 Korintus 12:9

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
– 2 Korintus 12:9

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“I no longer measure my future by yesterday’s mistakes, but by God’s unchanging promises.”

“Aku tidak lagi mengukur masa depanku dari kesalahan kemarin, tetapi dari janji Tuhan yang tidak pernah berubah. – YennyIndra

Read More
Articles

Berani Bertanya, Berani Bertumbuh

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berani Bertanya, Berani Bertumbuh

Mengapa ada orang yang mampu melihat dunia dengan cara yang berbeda, sementara sebagian besar dari kita menerima segala sesuatu apa adanya? Pertanyaan itu membawa saya kepada kisah Albert Einstein.

Einstein lahir di Jerman pada tahun 1879. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang pendiam, tetapi memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Ia tidak puas hanya menerima jawaban. Ia ingin mengerti mengapa sesuatu bisa terjadi. Ketika sistem pendidikan pada zamannya lebih menekankan hafalan dan disiplin, Einstein justru lebih tertarik memahami konsep daripada sekadar mengingat fakta. Rasa ingin tahunya tidak pernah padam.

Setelah lulus dari ETH Zurich, ia tidak langsung menjadi profesor terkenal. Sebaliknya, ia bekerja sebagai pegawai di Kantor Paten Swiss di Bern. Pekerjaannya bukan meneliti alam semesta, melainkan memeriksa dokumen-dokumen penemuan orang lain. Namun di sela-sela pekerjaannya, pikirannya terus bekerja. Ia berdiskusi dengan beberapa sahabat dekat dalam sebuah kelompok kecil yang mereka sebut Olympia Academy. Mereka membaca buku, saling mengkritik, berdiskusi, dan mempertanyakan berbagai hal. Di sanalah kebiasaan berpikir Einstein semakin terasah.

Ada satu pertanyaan sederhana yang terus mengisi pikirannya sejak remaja,
“Bagaimana jika seseorang dapat bergerak secepat cahaya?”
Pertanyaan itu terdengar aneh.
Tidak ada laboratorium. Tidak ada teleskop canggih. Hanya sebuah imajinasi. Namun justru dari pertanyaan sederhana itulah lahir salah satu teori paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Tahun 1905, yang kemudian dikenal sebagai Annus Mirabilis atau Miracle Year, Einstein menerbitkan empat makalah ilmiah yang mengubah dunia fisika. Saat itu ia belum menjadi ilmuwan terkenal. Ia masih bekerja di kantor paten. Namun pikirannya sudah melampaui zamannya.

Tidak semua orang langsung menerima gagasannya. Banyak ilmuwan bersikap skeptis karena teorinya menantang cara berpikir yang selama ini dianggap benar. Namun Einstein tidak berhenti bertanya. Ia lebih tertarik mencari kebenaran daripada mengejar pengakuan manusia.

Ada satu kutipan Einstein yang sangat terkenal, “Imagination is more important than knowledge.”

Banyak orang salah memahaminya, seolah-olah Einstein menganggap pengetahuan tidak penting. Padahal bukan itu maksudnya. Baginya, pengetahuan adalah apa yang sudah kita ketahui hari ini, sedangkan imajinasi memberi keberanian untuk menjelajahi apa yang belum pernah diketahui.

Membaca kisah itu membuat saya bertanya kepada diri sendiri. Kapan terakhir kali saya benar-benar penasaran? Bukan sekadar mencari jawaban di internet, tetapi sungguh-sungguh berpikir. Sungguh-sungguh bertanya.

Sering kali kita berhenti belajar bukan karena sudah tahu banyak, melainkan karena berhenti bertanya. Padahal setiap pertumbuhan selalu dimulai oleh sebuah pertanyaan.
Mengapa?
Bagaimana?
Apakah ada cara yang lebih baik?

Saya percaya prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani. Orang yang terus bertumbuh bukanlah mereka yang merasa sudah mengetahui semuanya.
Justru mereka yang terus datang kepada Tuhan dan bertanya,
“Apa yang ingin Engkau ajarkan melalui situasi ini?”
atau,
“Apa yang masih perlu Engkau ubah dalam hidup saya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat tetap rendah hati, tetap mau belajar, dan tetap terbuka untuk diubahkan.

Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa orang yang berhenti bertanya biasanya juga berhenti bertumbuh. Karena itu jangan takut bertanya. Jangan takut berpikir. Jangan takut melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Siapa tahu, perubahan besar dalam hidup kita justru dimulai dari satu pertanyaan sederhana yang selama ini belum pernah kita beranikan untuk ajukan.

“Pertumbuhan tidak selalu dimulai dari jawaban yang hebat. Sering kali, pertumbuhan dimulai dari keberanian mengajukan pertanyaan yang tepat.”

“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing.”— Albert Einstein.

“Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti bertanya. Rasa ingin tahu memiliki alasannya sendiri untuk ada.” — Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Jawaban dapat menambah pengetahuan. Tetapi pertanyaan yang tepat dapat

mengubah arah hidup.” “Answers add knowledge. But the right question can change the direction of your life. – Yenny Indra

Read More
Articles

Iman Dimulai Sebelum Bukti Muncul.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Iman Dimulai Sebelum Bukti Muncul.

Ada musim-musim dalam hidup yang terasa membingungkan. Kita sudah berdoa, sudah berusaha, bahkan merasa telah melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya belum juga terlihat. Pintu yang kita harapkan terbuka ternyata masih tertutup. Jawaban yang kita nantikan belum juga datang. Bahkan terkadang keadaan justru tampak semakin tidak masuk akal.

Saat berada di musim seperti itu, biasanya pikiran kita mulai bekerja lembur. Muncul berbagai pertanyaan yang melemahkan hati. “Bagaimana kalau gagal?” “Bagaimana kalau semua ini sia-sia?” “Bagaimana kalau Tuhan tidak menjawab doa saya?” Tanpa sadar, pikiran berubah menjadi mesin pencari masalah. Sedikit saja ada berita buruk, kita langsung menghubungkannya dengan keadaan kita. Sedikit hambatan membuat kita merasa semuanya akan berakhir buruk.

Padahal sering kali yang berubah bukanlah keadaan, melainkan cara kita memandang keadaan.

Saya pernah membaca sebuah penjelasan menarik tentang cara kerja otak. Ketika seseorang memutuskan untuk percaya bahwa sesuatu akan berhasil, otaknya mulai mencari berbagai bukti yang mendukung keyakinan itu. Sebaliknya, ketika seseorang sudah yakin bahwa semuanya akan gagal, otaknya juga akan bekerja keras menemukan alasan mengapa kegagalan itu pasti terjadi. Otaknya sama. Dunianya sama. Yang berbeda hanyalah apa yang dipilih untuk dipercaya.

Prinsip ini sebenarnya sudah lama diajarkan dalam Firman Tuhan. Apa yang terus memenuhi pikiran kita perlahan akan membentuk cara kita memandang kehidupan, lalu memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil.

Karena itu saya belajar bahwa iman bukanlah menutup mata terhadap kenyataan. Iman adalah memilih melihat kenyataan dari sudut pandang Tuhan.

Abraham menjadi teladan yang indah. Secara manusia hampir tidak ada alasan baginya untuk tetap berharap. Usianya sudah lanjut, tubuhnya semakin lemah, dan janji Tuhan belum juga digenapi. Namun ia memilih tetap percaya. Ia tidak menunggu bukti baru untuk mulai percaya. Ia lebih dahulu mengambil keputusan untuk percaya, lalu tetap berdiri di atas keputusan itu.

Sering kali kita justru melakukan kebalikannya. Kita berkata, “Kalau nanti saya melihat hasilnya, baru saya percaya.” Padahal iman berkata, “Saya percaya, karena itu saya akan melihat.”

Dalam perjalanan hidup, saya beberapa kali mengalami hal yang sama. Ketika sedang berada di tengah proses, saya bertanya-tanya, “Tuhan, sebenarnya Engkau sedang mengerjakan apa?” Jawabannya tidak selalu datang saat itu juga. Namun ketika menoleh ke belakang, saya baru menyadari bahwa tidak ada satu langkah pun yang sia-sia. Tuhan sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih indah daripada yang mampu saya bayangkan.

Mungkin hari ini Anda sedang berada dalam masa penantian. Doa belum terjawab. Usaha belum membuahkan hasil. Jalan di depan masih tampak berkabut. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Tuhan sedang diam. Sangat mungkin Dia sedang bekerja di balik layar, mempersiapkan sesuatu yang belum dapat kita lihat.

Karena itu, keputusan terpenting yang dapat kita ambil hari ini bukanlah menyerah, melainkan tetap percaya. Sebab sering kali mukjizat tidak dimulai ketika keadaan berubah. Mukjizat dimulai ketika hati memutuskan untuk tetap mempercayai Tuhan, meskipun mata belum melihat apa pun.

“Keadaan tidak selalu berubah seketika. Tetapi ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan, cara kita memandang keadaan mulai berubah. Dan sering kali, di situlah mukjizat mulai bekerja.”

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”- Søren Kierkegaard.

“Hidup hanya bisa dipahami ketika menoleh ke belakang, tetapi harus dijalani dengan terus melangkah ke depan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Keajaiban bukan selalu ketika keadaan berubah. Kadang keajaiban pertama adalah hati yang tetap tenang di tengah penantian.”

“Miracles are not always when circumstances change. Sometimes the first miracle is a heart that remains at peace while waiting.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Ketika Dunia Menilai Nama, Tuhan Melihat Hikmat.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Dunia Menilai Nama, Tuhan Melihat Hikmat.

Bagaimana jika karya terbaik dalam sebuah kompetisi ternyata dibuat oleh seseorang yang mungkin tidak akan pernah dipilih jika identitasnya diketahui sejak awal? Itulah yang terjadi pada Maya Lin.

Pada tahun 1980, Maya Lin masih seorang mahasiswi berusia 21 tahun di Yale University. Dalam sebuah tugas kuliah, ia diminta merancang memorial untuk mengenang para korban Perang Vietnam. Alih-alih menggambar patung besar atau tugu yang menjulang tinggi, Maya justru membayangkan sesuatu yang berbeda. Ia membayangkan sebuah luka yang membelah bumi, lalu menuangkannya dalam bentuk dinding granit hitam yang masuk ke dalam tanah dan memuat nama seluruh tentara Amerika yang gugur.

Menariknya, dosennya sendiri tidak terlalu terkesan dengan rancangan tersebut. Nilainya hanya B. Namun beberapa minggu kemudian, desain yang sama dikirim ke kompetisi nasional pembangunan Vietnam Veterans Memorial.

Kompetisi itu diikuti oleh 1.421 peserta, terdiri dari arsitek terkenal, profesional berpengalaman, dan berbagai nama besar di bidangnya. Akan tetapi, ada satu aturan penting. Semua desain dinilai secara anonim. Para juri tidak mengetahui siapa pembuat setiap karya. Mereka hanya menilai gagasan dan kualitas desainnya.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Desain Maya Lin dipilih secara bulat sebagai pemenang. Tidak seorang pun menyangka bahwa rancangan terbaik itu berasal dari seorang mahasiswi muda keturunan Asia yang bahkan belum lulus kuliah.

Namun bagian yang paling membuat saya merenung justru terjadi setelah itu. Begitu identitas Maya diumumkan, kritik mulai berdatangan. Orang-orang tidak lagi membicarakan desainnya. Mereka mulai membahas usianya, jenis kelaminnya, rasnya, dan latar belakangnya. Padahal desainnya tidak berubah. Gambarnya tetap sama. Konsepnya tetap sama. Yang berubah hanyalah informasi tentang siapa yang membuatnya.

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Bukankah itulah kecenderungan manusia sejak dahulu? Kita sering menilai sebuah pesan berdasarkan siapa pembawanya. Kita lebih mudah mendengar orang yang terkenal daripada orang yang benar. Kita lebih mudah menghargai seseorang yang memiliki gelar daripada seseorang yang memiliki hikmat. Kita lebih mudah percaya kepada nama besar daripada kepada kebenaran itu sendiri.

Karena itulah Tuhan sering bekerja dengan cara yang berbeda. Daud hanyalah seorang gembala muda ketika dipilih menjadi raja. Tuhan seolah sengaja memakai orang yang tidak diperhitungkan dunia, supaya kemuliaan tidak tertuju kepada manusia, melainkan kepada-Nya.

Saya juga belajar sesuatu dari sikap Maya Lin. Ia tidak menghabiskan energinya untuk membuktikan diri. Ia tidak sibuk membalas kritik atau mencari pembenaran. Ia tetap berdiri pada keyakinannya dan percaya pada visi yang dimilikinya.

Dalam kehidupan kita pun ada kalanya Tuhan menaruh sebuah gagasan, langkah, atau arah yang berbeda dari kebanyakan orang. Tidak semua orang akan langsung mengerti. Tidak semua orang akan langsung setuju. Namun jika kita telah berdoa, mencari kehendak Tuhan, dan menerima damai sejahtera-Nya, jangan terlalu cepat membuang apa yang Tuhan taruh dalam hati hanya karena belum memperoleh persetujuan manusia.

Tentu kita tetap perlu rendah hati dan mau diajar. Tetapi kita juga perlu belajar membedakan antara koreksi yang sehat dan prasangka manusia. Tidak setiap penolakan berarti kita berada di jalan yang salah.

Pada akhirnya, Vietnam Veterans Memorial yang dahulu diejek sebagai “luka hitam” justru menjadi salah satu memorial yang paling dikagumi dan paling banyak dikunjungi di Amerika. Waktu membuktikan sesuatu yang sudah lebih dahulu dilihat Maya Lin.

Kadang hikmat memang terlihat aneh sebelum waktunya tiba. Dan kadang orang yang paling diremehkan justru membawa jawaban yang paling dibutuhkan. Karena Tuhan tidak pernah bergantung pada usia, gelar, popularitas, atau latar belakang seseorang. Yang Dia cari adalah hati yang mau mendengar, lalu cukup berani untuk taat.

Mungkin itu sebabnya, ketika nama kita tidak terlalu penting, hikmat Tuhan justru menjadi semakin jelas terlihat.

“Jangan kecewa ketika orang meremehkan siapa diri kita. Yang lebih penting bukan apakah nama kita dikenal, tetapi apakah hikmat Tuhan nyata melalui hidup kita. Tugas kita bukan membuat diri kita bersinar, melainkan memancarkan Dia.”

“There is no limit to what can be accomplished if it doesn’t matter who gets the credit.” – Ronald Reagan.

“Tidak ada batas bagi apa yang dapat dicapai ketika tidak lagi penting siapa yang mendapat pujian.”— Ronald Reagan.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“When people stop looking at the label, they can finally see the wisdom.”

“Ketika orang berhenti melihat labelnya, mereka akhirnya dapat melihat hikmatnya.”
— Yenny Indra

Read More
Articles

Teori “Cukup”: Rahasia Damai yang Sering Kita Lupakan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Teori “Cukup”: Rahasia Damai yang Sering Kita Lupakan

Beberapa hari terakhir saya membaca sebuah kalimat yang sangat sederhana, tetapi terus terngiang dalam pikiran saya.

The Enough Theory.

A calm life is enough. A small circle is enough. A heart that loves is enough.

Hidup yang tenang itu cukup. Lingkaran pertemanan yang kecil itu cukup. Hati yang mampu mengasihi itu cukup.

Sederhana sekali. Tetapi justru karena sederhana, kalimat itu terasa menampar.

Sejak kecil kita diajar untuk mengejar lebih. Lebih banyak teman, lebih banyak uang, lebih banyak pencapaian, lebih banyak pengaruh, dan lebih banyak pengakuan. Tanpa sadar kita mulai percaya bahwa kebahagiaan berada di ujung kata lebih.

Masalahnya, ujung itu tidak pernah benar-benar tiba. Begitu mencapai satu target, muncul target berikutnya. Begitu memperoleh sesuatu, kita mulai membandingkannya dengan milik orang lain. Begitu mendapat pengakuan, kita mulai takut kehilangannya. Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan yang seolah tidak memiliki garis akhir.

Semakin bertambah usia, saya justru menyadari, banyak hal yang dulu saya anggap sangat penting ternyata tidak sepenting yang saya bayangkan. Yang benar-benar berharga justru sering kali sangat sederhana. Duduk bersama orang yang kita kasihi, menikmati percakapan yang tulus, memiliki tubuh yang sehat, hati yang tenang, tidur nyenyak tanpa kecemasan, dan terutama hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Dr. Caroline Leaf pernah mengatakan bahwa dunia terus mendorong kita untuk mencari lebih banyak, tetapi damai tidak lahir dari kelimpahan yang berlebihan. Damai lahir ketika kita memilih apa yang sungguh penting. Saya sangat setuju. Karena sesungguhnya yang melelahkan bukanlah banyaknya aktivitas. Yang melelahkan adalah ketika hati terus merasa kurang.

Ada orang yang rumahnya besar tetapi tidak pernah puas. Ada yang pelayanannya besar tetapi hidup dalam tekanan. Ada yang dikenal banyak orang tetapi merasa kesepian. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi memiliki damai yang membuat orang lain bertanya-tanya. Apa bedanya? Mereka sudah menemukan satu kata yang sangat sulit diterima dunia modern: cukup.

Bukan berarti berhenti bertumbuh. Bukan berarti kehilangan impian. Bukan berarti menjadi pasif. Tetapi hati mereka tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada hal berikutnya yang belum dimiliki. Mereka belajar menikmati apa yang Tuhan percayakan hari ini sambil tetap setia mengerjakan panggilan-Nya.

Firman Tuhan berkali-kali mengajar kita untuk memperbarui cara berpikir.
Why?
Karena pikiran yang tidak diperbarui akan terus mengikuti standar dunia. Dan standar dunia selalu berkata, “Belum cukup.”

Sebaliknya, Tuhan mengajarkan kita melihat dari perspektif yang berbeda. Kita tidak hidup dari kekurangan menuju kecukupan. Kita hidup dari kecukupan yang sudah diberikan-Nya di dalam Kristus.

Karena itu kita perlu terus mendeklarasikan siapa diri kita yang sebenarnya. Bukan berdasarkan opini orang, bukan berdasarkan pencapaian, bukan berdasarkan jumlah pengikut atau pengakuan, melainkan berdasarkan rancangan Tuhan atas hidup kita. Semakin pikiran kita selaras dengan kebenaran itu, semakin kita terbebas dari tekanan untuk menjadi seperti orang lain.

Menariknya, ketika kita berhenti mengejar segala sesuatu, justru kita mulai menikmati banyak hal yang sebelumnya terlewatkan.

Matahari pagi terasa lebih indah. Percakapan terasa lebih bermakna. Keluarga terasa lebih berharga. Persahabatan terasa lebih hangat. Hidup terasa lebih ringan. Bukan karena semua masalah sudah hilang, tetapi karena hati kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan yang tidak ada habisnya.

Mungkin itulah inti dari The Enough Theory. Ketika kita memahami bahwa cukup bukan berarti kekurangan, melainkan kemampuan menghargai apa yang benar-benar bernilai, kita menemukan sesuatu yang selama ini dicari banyak orang: damai. Karena sering kali, saat kita berhenti mengejar lebih banyak, barulah kita menyadari bahwa bersama Tuhan, kita sudah memiliki lebih dari yang benar-benar kita butuhkan.

“The man who has God for his treasure has all things in One.”— A.W. Tozer.

“Orang yang menjadikan Tuhan sebagai hartanya, sesungguhnya telah memiliki segala sesuatu di dalam Dia.”— A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Kekayaan terbesar bukan memiliki lebih banyak, tetapi mampu mensyukuri apa yang sudah ada.”

“The greatest wealth is not having more, but being grateful for what you already have.” — Yenny Indra

Read More
1 7 8 9 10 11 427