Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Ketika Kebaikan Kehilangan Hikmat

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Kebaikan Kehilangan Hikmat

Ada satu kisah nyata yang membuat saya merenung cukup lama.

Seorang miliarder Tiongkok bernama Chen Sheng lahir di sebuah desa miskin di Guangdong. Ketika diterima di Universitas Peking, keluarganya bahkan tidak mampu membeli tiket kereta. Warga desa yang sama-sama hidup sederhana mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar ia dapat berangkat kuliah.

Kebaikan itu tidak pernah ia lupakan.

Bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi pengusaha sukses, Chen Sheng memutuskan pulang ke kampung halamannya. Ia tidak sekadar ingin memberi sumbangan. Ia ingin mengubah masa depan desa yang pernah membesarkannya.

Ia menghabiskan sekitar 200 juta Yuan, atau sekitar 680 miliar rupiah, untuk membangun 258 vila mewah, lengkap dengan taman, garasi, lapangan olahraga, taman bermain, hingga berbagai fasilitas umum. Tidak berhenti di situ, ia juga membangun peternakan babi berskala besar agar warga memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.

Mimpinya sederhana.

Orang-orang yang dahulu membantunya keluar dari kemiskinan, kini dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.

Namun kenyataan tidak selalu seindah niat.

Ketika vila-vila itu hampir selesai dibagikan, muncul berbagai tuntutan.
Ada yang meminta dua atau tiga vila karena anaknya akan menikah.

Ada yang sudah puluhan tahun meninggalkan desa, tetapi tiba-tiba kembali meminta bagian.

Ada pula yang menolak vila baru dan meminta uang tunai sebagai gantinya.

Sebagian bahkan meminta kompensasi tambahan karena merasa rumah lama mereka lebih besar.

Suasana desa berubah.

Orang-orang mulai saling mempersoalkan siapa yang paling berhak menerima.

Konflik semakin membesar hingga pembagian vila terpaksa dihentikan. Proyek yang semula menjadi lambang rasa syukur berubah menjadi sumber pertengkaran.

Chen Sheng sangat terpukul.

Dalam sebuah wawancara ia mengatakan bahwa setiap kali pulang ke desa, orang-orang selalu datang membawa tuntutan baru. Ia akhirnya memilih tidak kembali ke kampung halamannya selama beberapa tahun.

Untungnya, kisah ini tidak berakhir di sana.
Pemerintah daerah akhirnya turun tangan melakukan mediasi. Setelah melalui berbagai pertemuan, kriteria penerima disusun kembali secara lebih adil dan transparan. Pembagian vila akhirnya dapat dilakukan secara bertahap, dan desa itu perlahan kembali tenang.

Saya belajar sesuatu dari kisah ini.

Bukan berarti kita berhenti berbuat baik karena takut dikecewakan.

Tetapi kebaikan juga membutuhkan hikmat.

Ada kalanya kita berpikir semakin banyak memberi berarti semakin besar kasih kita.
Padahal tidak selalu demikian.

Memberi tanpa batas yang jelas kadang justru menumbuhkan rasa berhak. Orang yang semula bersyukur perlahan mulai menganggap pemberian itu sebagai sesuatu yang memang pantas ia terima.

Para psikolog menyebut keadaan ini sebagai Entitlement Syndrome, yaitu kecenderungan seseorang merasa berhak menerima sesuatu tanpa lagi melihatnya sebagai anugerah. Ketika rasa berhak mulai menguasai hati, rasa syukur perlahan memudar. Yang tadinya diterima sebagai hadiah, akhirnya dianggap sebagai kewajiban orang lain.

Bukankah hal seperti ini juga dapat terjadi dalam kehidupan kita?

Sebagai orang tua, kita ingin memberikan yang terbaik bagi anak.

Sebagai pemimpin, kita ingin menolong bawahan.

Sebagai sahabat, kita ingin membantu orang yang kita kasihi.

Semuanya baik.

Namun kasih yang sehat bukan hanya memberi.

Kasih juga mendidik.

Kasih mengangkat, tetapi tidak membuat seseorang kehilangan tanggung jawab.

Kasih menolong, tetapi tidak mematikan semangat untuk bertumbuh.

Saya juga belajar bahwa membangun sistem sering kali lebih penting daripada sekadar memberikan sesuatu.

Chen Sheng sebenarnya memahami hal itu. Karena itulah ia tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menyediakan lapangan pekerjaan agar warga dapat hidup mandiri. Ia ingin memberi masa depan, bukan sekadar memberi hadiah.

Sayangnya, ketika karakter tidak bertumbuh secepat berkat yang diterima, kebaikan yang besar pun hampir berubah menjadi sumber perpecahan.

Saya menyukai akhir dari kisah ini.
Bukan karena semua persoalan langsung hilang.
Melainkan karena akhirnya semua pihak belajar bahwa kemurahan hati membutuhkan hikmat, dan rasa syukur membutuhkan karakter.

Kebaikan memang indah.

Namun ketika berjalan bersama hikmat, kebaikan bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga membangun manusia yang lebih dewasa di masa depan.

Karena tujuan kasih bukan sekadar memenuhi kebutuhan seseorang, melainkan menolong mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai setiap anugerah yang diterimanya.

“Wisdom is knowing the right thing to do. Integrity is doing it.” – John C. Maxwell

“Hikmat adalah mengetahui apa yang benar untuk dilakukan. Integritas adalah melakukannya.” – John C. Maxwell

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

Kemurahan hati tanpa hikmat dapat melahirkan tuntutan. Kemurahan hati yang disertai hikmat melahirkan rasa syukur dan kedewasaan.”

“Generosity without wisdom may create entitlement. Generosity with wisdom cultivates gratitude and maturity.” – Yenny Indra

Read More
Articles

Memahami Masa Lalu Itu Baik. Tinggal di Sana, Tidak.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Memahami Masa Lalu Itu Baik. Tinggal di Sana, Tidak.

Belakangan ini saya banyak membaca tentang trauma, masa kecil, dan berbagai alasan mengapa seseorang bertindak seperti sekarang.

Memang benar.
Masa lalu sering kali menjelaskan banyak hal.

Mengapa seseorang mudah marah.
Mengapa sulit mempercayai orang lain.
Mengapa selalu merasa ditolak.
Mengapa terus mengulang kesalahan yang sama.

Memahami semua itu dapat menumbuhkan empati.
Tetapi saya juga menyadari satu hal.
Memahami masa lalu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk terus tinggal di sana.

Ada orang yang bertahun-tahun terus menggali luka masa kecilnya.

Terus mencari siapa yang salah.
Terus mengingat perlakuan orang lain.
Terus memutar ulang cerita yang sama.
Ironisnya, hidupnya tidak banyak berubah.

Why?
Karena fokusnya masih tertuju ke belakang.

Saya percaya, memahami masa lalu memang penting.
Tetapi kita tidak dipanggil untuk hidup di dalamnya.

Masa lalu adalah guru yang baik.
Namun bukan tempat tinggal yang baik.

Ketika seseorang datang kepada Tuhan dan menerima-Nya sebagai Juruselamat, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Kita menjadi ciptaan yang baru.
Identitas kita berubah.
Kita menerima hidup yang baru
Ada natur baru yang mulai bekerja di dalam diri kita.

Hal-hal yang dulu terasa biasa mulai terasa mengganggu.
Hati nurani menjadi lebih peka.
Ada kerinduan untuk hidup benar.

Namun perubahan itu tidak terjadi secara otomatis.

Kita tetap memiliki pilihan.

Apakah kita akan terus mengikuti pola pikir yang lama?
Atau bersedia memperbarui cara berpikir kita?
Di sinilah proses pembaruan budi menjadi sangat penting.

Semakin kita menyelaraskan pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan, semakin cara kita memandang hidup ikut berubah.

Kita tidak lagi bereaksi seperti dulu.
Kita mulai merespons dengan hikmat.
Tidak lagi dikuasai rasa takut.
Tidak lagi mudah tersinggung.
Tidak lagi merasa harus membalas.

Perlahan-lahan, karakter baru itu mulai terlihat.

Yang menarik, ketika hati kita semakin selaras dengan Tuhan, ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ada wibawa.
Bukan karena suara kita lebih keras.
Bukan karena kita menjadi lebih galak.

Melainkan karena kehidupan Tuhan mulai memancar melalui sikap kita.

Saya pernah melihat orang yang dahulu sering diremehkan.
Mudah dimanfaatkan.
Bahkan diperlakukan semena-mena.
Namun ketika hidupnya semakin dekat dengan Tuhan, orang-orang mulai memperlakukannya dengan cara yang berbeda.

Ia tidak banyak berubah dari luar.
Tetapi ada ketenangan.
Ada keberanian.
Ada hikmat.

Dan orang lain dapat merasakannya.
Bukan hasil usaha manusia semata.
Melainkan karena Tuhan sedang bekerja di dalam dirinya.

Saya semakin yakin bahwa solusi terbesar bukanlah terus menerus menganalisis luka.

Solusi terbesar adalah mengizinkan Tuhan membentuk hidup kita setiap hari.

Karena semakin kita bergantung kepada-Nya, semakin kita mampu melakukan hal-hal yang dahulu terasa mustahil.

Mengampuni.
Mengasihi.
Bersikap tenang.
Mengambil keputusan yang bijaksana.

Bukan karena kita kuat.
Tetapi karena kekuatan-Nya mengalir melalui hidup kita.

Jangan habiskan hidup hanya dengan melihat ke belakang.
Lihatlah ke depan.
Tuhan tidak sedang mengajak kita mengulang masa lalu.
Dia sedang mempersiapkan kita untuk menjalani masa depan yang baru.

“Masa lalu mungkin menjelaskan siapa kita dahulu. Tetapi ketika kita berjalan bersama Tuhan, bukan masa lalu yang membentuk masa depan kita, melainkan kesediaan kita untuk terus diubahkan setiap hari.”


“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” – Søren Kierkegaard.

“Hidup memang dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melangkah ke depan.” – Søren Kierkegaard.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Maya Angelou & Oprah Winfrey: Ketika Masa Lalu Berusaha Membungkammu…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Maya Angelou & Oprah Winfrey: Ketika Masa Lalu Berusaha Membungkammu…

Beberapa waktu lalu saya membaca buku “I Know Why the Caged Bird Sings” karya Maya Angelou.

Saya akhirnya mengerti mengapa buku ini begitu mengubah hidup Oprah Winfrey.

Maya Angelou mengalami pelecehan seksual saat masih berusia delapan tahun.
Sesudah kejadian itu terungkap, pelakunya dipenjara. Tidak lama kemudian ia meninggal. Maya kecil lalu menarik sebuah kesimpulan yang keliru.

“Perkataankulah yang menyebabkan dia mati.”

Seorang anak berusia delapan tahun tentu belum mampu memahami rumitnya hidup orang dewasa.
Yang ia tahu hanyalah satu hal.
Suaraku berbahaya.
Karena itulah Maya memilih diam.
Bukan sehari.
Bukan seminggu.
Hampir lima tahun.

Bayangkan menjadi seorang anak yang hidup dalam ketakutan setiap hari. Ingin tertawa tetapi takut. Ingin bercerita tetapi tidak berani. Ingin dipercaya tetapi merasa dirinya kotor. Ingin hidup normal tetapi terus dihantui rasa malu.

Banyak orang mengira luka terbesar dari pelecehan adalah kejadian itu sendiri.
Padahal sering kali yang lebih menyakitkan adalah apa yang terjadi setelahnya.

Korban mulai kehilangan rasa aman.
Sulit mempercayai orang.
Mudah menyalahkan diri sendiri.
Merasa tidak berharga.
Merasa rusak.
Bahkan ada yang bertahun-tahun terus bertanya,

“Kalau saja waktu itu aku…”

Padahal sesungguhnya mereka bukan pelakunya.
Mereka adalah korbannya.

Yang membuat saya terharu, titik balik hidup Maya bukan dimulai dari terapi yang rumit.
Bukan pula dari seseorang yang memberinya ceramah panjang.
Melainkan dari seorang wanita bernama Mrs. Bertha Flowers.

Mrs. Flowers tidak memaksa Maya berbicara.

Ia tidak berkata,
“Sudahlah… lupakan saja.”

Ia juga tidak berkata,
“Kamu harus kuat.”

Sebaliknya, ia membangun sesuatu yang mungkin sudah lama hilang dari hidup Maya.

Rasa aman.
Ia mengajak Maya membaca buku.
Membacakan puisi.
Mengobrol tentang banyak hal.

Perlahan-lahan, Maya mulai menemukan kembali suaranya.
Bukan hanya suara untuk berbicara.
Tetapi suara untuk hidup.

Bertahun-tahun kemudian, Maya Angelou menjadi salah satu penulis dan pembicara paling berpengaruh di dunia.

Ironisnya, perempuan yang pernah memilih diam selama lima tahun, sekarang justru dikenal karena kata-katanya.

Kisah Maya kemudian dibaca oleh jutaan orang, termasuk Oprah Winfrey.
Oprah pernah mengalami luka masa kecil yang hampir serupa. Dilecehkan banyak orang bahkan memiliki anak di usia 14 tahun dan meninggal.

Saat membaca buku Maya, ia berkata bahwa untuk pertama kalinya ia merasa ada seseorang yang benar-benar memahami apa yang ia rasakan.
Ia tidak lagi merasa sendirian. Lalu mereka bersahabat.

“Ubahlah luka-lukamu menjadi hikmat,” ujar Oprah Winfrey, presenter televisi, penulis, dan filantropis yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.”

Saya belajar sesuatu dari dua wanita luar biasa ini.

Orang yang terluka tidak selalu membutuhkan jawaban.
Sering kali mereka lebih membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal.

Yang mau mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Yang tidak memaksa mereka segera pulih.
Yang tidak menghakimi ketika mereka menangis.
Yang tidak berkata, “Kamu harus move on.”

Karena luka tidak sembuh oleh tekanan.
Luka sembuh ketika seseorang kembali merasa aman.
Ketika ia kembali percaya bahwa hidupnya masih berharga.
Ketika ia mulai berani berharap lagi.

Kalau hari ini di sekitar kita ada seseorang yang membawa luka seperti ini, mungkin kita tidak memiliki semua jawaban.

Tidak apa-apa.

Kadang kehadiran yang tulus jauh lebih menyembuhkan daripada seribu kalimat yang terdengar bijaksana.
Mungkin yang mereka butuhkan bukan orang yang paling pandai berbicara.
Melainkan seseorang yang mau duduk di samping mereka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan dengan sabar mengingatkan bahwa masa lalu tidak harus menjadi akhir cerita.

Maya Angelou dan Oprah Winfrey tidak dapat mengubah masa lalu mereka. Tetapi mereka membuktikan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan.

Saya percaya, inilah pengharapan yang Tuhan berikan kepada kita. Bukan berarti semua yang terjadi itu baik, tetapi Tuhan sanggup bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Apa yang dimaksudkan si jahat untuk melukai kita, di tangan Tuhan dapat menjadi kesaksian. Dan apa yang pernah membuat kita kehilangan suara, di tangan Tuhan dapat berubah menjadi suara yang membawa pengharapan bagi banyak orang.

“When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”- Viktor Frankl

“Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu keadaan, tantangannya adalah mengubah diri kita sendiri.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Aku Bukan Sebuah Kesalahan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Aku Bukan Sebuah Kesalahan…

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.” – Yeremia 1:5.

Ada pertanyaan yang Ani simpan selama puluhan tahun.

“Siapa sebenarnya saya?”

Sejak kecil ia merasa berbeda, tetapi tidak pernah tahu alasannya. Suatu hari, saat masih remaja, seorang tetangga lama datang berkunjung. Begitu melihatnya, ia berkata sambil tertawa, “Mirip Riyanto.”

Ani tidak mengenal nama itu. Ia hanya sempat mendengar percakapan yang terpotong.

“Tidak mengaku… padahal mirip sekali.”

Ibunya menjawab pelan, “Plek ketiplek wajahnya… tingkah lakunya juga sama.”

Ani tidak mengerti. Percakapan itu pun terlupakan. Ia tidak tahu bahwa Tuhan sedang meninggalkan sebuah jejak kecil yang baru dipahaminya puluhan tahun kemudian.

Masa kecilnya dipenuhi luka. Saat SMP ia tidak naik kelas. Meski nilai akademiknya baik, sekolah tetap mempertahankan keputusan itu. Yang lebih menyakitkan terjadi ketika ayahnya mengetahui hal tersebut. Dalam kemarahannya, ia memukul Ani sambil berkata, “Lebih baik kamu mati sejak kecil.”

Kalimat itu tertanam dalam hati. Ani tumbuh dengan perasaan tidak berharga.

Karena keterbatasan ekonomi, ia juga harus berhenti sekolah. Ia mulai bekerja sebagai SPG dan berharap suatu hari pernikahan akan memberinya keluarga yang penuh kasih.

Namun harapan itu kembali hancur.

Ia hamil di usia muda. Anak pertamanya lahir ketika usianya baru dua puluh tahun. Pria yang dicintainya meninggalkan mereka.

Setiap malam Ani menangis kepada Tuhan.

“Tuhan, mengapa hidup saya seperti ini?”

Suatu malam ia merasakan Tuhan berbicara sangat jelas.

“Mengapa kamu menyalahkan Aku? Sebelum memilih dia, apakah kamu pernah bertanya kepada-Ku?”

Ani terdiam.

Kemudian Tuhan berkata lagi,

“Tentang anakmu, itu sudah ada dalam rencana-Ku. Aku yang akan memeliharanya.”

Kalimat itu menjadi titik balik hidupnya.

Dengan iman, ia melangkah ke masa depan tanpa tahu bagaimana Tuhan akan membuka jalan. Namun sedikit demi sedikit ia melihat pemeliharaan Tuhan yang nyata. Tuhan mencukupi kebutuhannya, menghiburnya, dan menguatkannya melewati setiap musim kehidupan.

Puluhan tahun kemudian, Tuhan mulai membuka kepingan-kepingan puzzle hidupnya. Percakapan tetangga yang pernah terlupakan kembali teringat. Berbagai petunjuk mengarah pada sebuah pencarian panjang hingga akhirnya Ani menemukan identitas ayah biologisnya.

Yang mengejutkan, namanya ternyata bukan Riyanto seperti yang pernah disebut tetangga dahulu. Saat semua itu terungkap, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Tidak ada lagi yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Anehnya, Ani tidak dipenuhi kemarahan.

Yang memenuhi hatinya justru damai.

Ia menyadari bahwa selama ini Tuhan bukan sedang membawanya mencari seorang ayah biologis, melainkan menemukan identitas dirinya.

Selama bertahun-tahun ia merasa hidupnya adalah sebuah kesalahan.

Hari ini ia tahu bahwa itu tidak benar.

Ia ada bukan karena kebetulan.

Ia ada karena Tuhan menghendakinya ada.

Yang paling berharga bukanlah menemukan siapa ayah biologisnya, melainkan menemukan bahwa Bapa di surga tidak pernah kehilangan dirinya.

Mungkin kisah kelahiran kita tidak sempurna.

Mungkin masa lalu kita penuh luka.

Namun kasih Tuhan selalu lebih besar daripada masa lalu kita.

Identitas kita tidak ditentukan oleh siapa orang tua biologis kita, melainkan oleh siapa Bapa surgawi kita.

Karena itu, jika hari ini Anda merasa ditolak, tidak diinginkan, atau mempertanyakan nilai diri Anda, ingatlah satu kebenaran ini:

Tuhan tidak pernah menciptakan seorang pun sebagai sebuah kesalahan.

“God never wastes a hurt.” – Elisabeth Elliot.

“Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan sebuah luka.” — Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Jangan Berhenti di ABC Firman

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Berhenti di ABC Firman

Belum lama ini saya mendengar sebuah ilustrasi dari Grace Lubega yang benar-benar mengubah cara saya memandang pembelajaran Firman Tuhan.

Kurang lebih beliau berkata demikian,
“Belajar Firman itu seperti belajar huruf A, B, C. Tetapi tujuan belajar bukan berhenti di alfabet. Tujuannya adalah memakai alfabet itu untuk menjadi dokter, pengacara, insinyur, atau profesi lain yang berguna bagi banyak orang.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terus saya renungkan.
Benar juga.
Anak kecil yang hafal A sampai Z belum otomatis bisa menulis buku.
Mahasiswa kedokteran yang hafal nama semua tulang belum tentu mampu menyelamatkan pasien.

Pengetahuan adalah fondasi.
Tetapi fondasi bukan tujuan.
Begitu pula saat kita belajar Firman Tuhan.

Belakangan ini semakin banyak orang tertarik mempelajari bahasa Ibrani dan Yunani. Menurut saya, itu sesuatu yang baik. Saya sendiri sering diberkati ketika seorang pengajar menjelaskan arti sebuah kata dalam bahasa aslinya.

Namun melalui proses belajar, saya mulai memahami satu hal yang sangat penting.
Bahasa asli adalah alat bantu, bukan tujuan akhir.

Saya teringat Andrew Wommack pernah mengingatkan agar kita tidak membangun sebuah doktrin hanya dari arti satu kata Yunani.

Mengapa?
Karena satu kata bisa memiliki beberapa kemungkinan arti.

Contohnya kata Yunani kosmos, yang biasanya diterjemahkan menjadi “dunia.”

Dalam Yohanes 3:16,
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia…”
Di sini “dunia” berbicara tentang umat manusia yang dikasihi Allah.

Tetapi dalam 1 Yohanes 2:15,
“Janganlah kamu mengasihi dunia.”

Di sini “dunia” berbicara tentang sistem dunia yang melawan Allah.
Kata Yunaninya sama.
Artinya berbeda.

Apa yang membedakannya?
Konteks.

Saya belajar bahwa arti sebuah kata tidak ditentukan oleh kamus semata, tetapi oleh kalimatnya, paragrafnya, bahkan keseluruhan Kitab Suci.

Melalui proses belajar dari guru-guru seperti Grace Lubega dan Andrew Wommack, saya justru menemukan sebuah urutan belajar yang menurut saya sangat bijaksana. Saya sendiri sedang belajar menerapkannya sedikit demi sedikit.

Pertama, baca konteksnya terlebih dahulu.

Apa yang sedang dibicarakan Yesus?
Mengapa Paulus menulis surat itu?
Apa masalah yang sedang dihadapi jemaat waktu itu?
Sering kali jawaban terbesar justru sudah ada di sekitar ayat itu sendiri.

Kedua, bandingkan beberapa terjemahan.

Saya belajar bahwa banyak penafsir Alkitab menyarankan memulai dari terjemahan yang lebih LITERAL. Untuk bahasa Indonesia saya biasanya membaca LAI, lalu membandingkannya dengan terjemahan seperti KJV, NKJV, NASB, atau ESV.

Kalau ingin melihat alur pikir penulis dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, NLT juga sangat membantu.

Sesudah itu, The Passion Translation (TPT) atau The Message (MSG) dapat menjadi bacaan renungan yang memperkaya. Namun karena keduanya merupakan parafrasa, sebaiknya tidak dijadikan dasar utama untuk membangun sebuah doktrin.

Ketiga, bila memang diperlukan, barulah melihat bahasa Ibrani atau Yunani.

Di sinilah bahasa asli menjadi sangat berharga.
Bukan untuk menemukan arti baru yang tidak pernah dimaksudkan penulis.
Melainkan untuk memperjelas apa yang memang sedang disampaikan oleh penulis Alkitab.

Bahasa asli adalah kaca pembesar, bukan pencipta makna.

Keempat, barulah membuat aplikasi bagi kehidupan.

Menurut saya, di sinilah kita perlu berhati-hati.
Sering kali seorang pengajar mengembangkan sebuah ilustrasi atau renungan yang sangat indah berdasarkan satu kata Yunani. Sebagai ilustrasi, itu bisa sangat memberkati.

Tetapi kita perlu membedakan antara exegesis dan aplikasi.

Exegesis berarti menggali keluar makna yang memang ada di dalam teks Alkitab.

Pertanyaannya adalah:
“Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembacanya?”

Sedangkan aplikasi bertanya,
“Bagaimana kebenaran itu saya hidupi hari ini?”
Keduanya sama-sama penting.

Namun jika hasil pengembangan seorang pengajar kemudian dianggap sebagai makna asli ayat, tanpa disadari kita sudah keluar dari maksud penulis Alkitab.

Semakin saya belajar, saya justru semakin kagum pada kesederhanaan Firman Tuhan.

Yesus mengajar para nelayan.
Paulus menulis kepada jemaat biasa.

Firman Tuhan memang dalam, tetapi tidak ditulis sebagai teka-teki yang hanya bisa dipahami oleh ahli bahasa Yunani.

Tujuannya bukan membuat kita berkata,
“Hebat sekali pengajarnya.”

Melainkan membuat kita berkata,
“Betapa luar biasanya Yesus.”

Saya rasa inilah yang dimaksud Grace Lubega.
Belajar ABC memang penting.
Tetapi Tuhan tidak memanggil kita berhenti di alfabet.

Dia memanggil kita memakai “alfabet Firman” itu untuk menyembuhkan yang terluka, menguatkan yang lemah, menuntun yang tersesat, dan membawa orang semakin mengenal Kristus.

Karena pewahyuan sejati bukan membuat kita semakin kagum pada kepintaran manusia, melainkan semakin mengagumi Pribadi Yesus yang dinyatakan melalui Firman-Nya.

The Bible was not given for our information but for our transformation.” – D.L. Moody

“Alkitab tidak diberikan hanya untuk menambah pengetahuan kita, tetapi untuk mengubahkan hidup kita.”- D.L. Moody

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

The goal of studying Scripture is not to become impressed by knowledge, but to be transformed by the One who wrote it.”

“Tujuan mempelajari Firman bukan untuk mengagumi pengetahuan, tetapi untuk diubahkan oleh Pribadi yang mengilhamkannya.” – Yenny Indra

Read More
1 8 9 10 11 12 427