Articles

Jangan Berhenti di ABC Firman

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Berhenti di ABC Firman

Belum lama ini saya mendengar sebuah ilustrasi dari Grace Lubega yang benar-benar mengubah cara saya memandang pembelajaran Firman Tuhan.

Kurang lebih beliau berkata demikian,
“Belajar Firman itu seperti belajar huruf A, B, C. Tetapi tujuan belajar bukan berhenti di alfabet. Tujuannya adalah memakai alfabet itu untuk menjadi dokter, pengacara, insinyur, atau profesi lain yang berguna bagi banyak orang.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terus saya renungkan.
Benar juga.
Anak kecil yang hafal A sampai Z belum otomatis bisa menulis buku.
Mahasiswa kedokteran yang hafal nama semua tulang belum tentu mampu menyelamatkan pasien.

Pengetahuan adalah fondasi.
Tetapi fondasi bukan tujuan.
Begitu pula saat kita belajar Firman Tuhan.

Belakangan ini semakin banyak orang tertarik mempelajari bahasa Ibrani dan Yunani. Menurut saya, itu sesuatu yang baik. Saya sendiri sering diberkati ketika seorang pengajar menjelaskan arti sebuah kata dalam bahasa aslinya.

Namun melalui proses belajar, saya mulai memahami satu hal yang sangat penting.
Bahasa asli adalah alat bantu, bukan tujuan akhir.

Saya teringat Andrew Wommack pernah mengingatkan agar kita tidak membangun sebuah doktrin hanya dari arti satu kata Yunani.

Mengapa?
Karena satu kata bisa memiliki beberapa kemungkinan arti.

Contohnya kata Yunani kosmos, yang biasanya diterjemahkan menjadi “dunia.”

Dalam Yohanes 3:16,
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia…”
Di sini “dunia” berbicara tentang umat manusia yang dikasihi Allah.

Tetapi dalam 1 Yohanes 2:15,
“Janganlah kamu mengasihi dunia.”

Di sini “dunia” berbicara tentang sistem dunia yang melawan Allah.
Kata Yunaninya sama.
Artinya berbeda.

Apa yang membedakannya?
Konteks.

Saya belajar bahwa arti sebuah kata tidak ditentukan oleh kamus semata, tetapi oleh kalimatnya, paragrafnya, bahkan keseluruhan Kitab Suci.

Melalui proses belajar dari guru-guru seperti Grace Lubega dan Andrew Wommack, saya justru menemukan sebuah urutan belajar yang menurut saya sangat bijaksana. Saya sendiri sedang belajar menerapkannya sedikit demi sedikit.

Pertama, baca konteksnya terlebih dahulu.

Apa yang sedang dibicarakan Yesus?
Mengapa Paulus menulis surat itu?
Apa masalah yang sedang dihadapi jemaat waktu itu?
Sering kali jawaban terbesar justru sudah ada di sekitar ayat itu sendiri.

Kedua, bandingkan beberapa terjemahan.

Saya belajar bahwa banyak penafsir Alkitab menyarankan memulai dari terjemahan yang lebih LITERAL. Untuk bahasa Indonesia saya biasanya membaca LAI, lalu membandingkannya dengan terjemahan seperti KJV, NKJV, NASB, atau ESV.

Kalau ingin melihat alur pikir penulis dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, NLT juga sangat membantu.

Sesudah itu, The Passion Translation (TPT) atau The Message (MSG) dapat menjadi bacaan renungan yang memperkaya. Namun karena keduanya merupakan parafrasa, sebaiknya tidak dijadikan dasar utama untuk membangun sebuah doktrin.

Ketiga, bila memang diperlukan, barulah melihat bahasa Ibrani atau Yunani.

Di sinilah bahasa asli menjadi sangat berharga.
Bukan untuk menemukan arti baru yang tidak pernah dimaksudkan penulis.
Melainkan untuk memperjelas apa yang memang sedang disampaikan oleh penulis Alkitab.

Bahasa asli adalah kaca pembesar, bukan pencipta makna.

Keempat, barulah membuat aplikasi bagi kehidupan.

Menurut saya, di sinilah kita perlu berhati-hati.
Sering kali seorang pengajar mengembangkan sebuah ilustrasi atau renungan yang sangat indah berdasarkan satu kata Yunani. Sebagai ilustrasi, itu bisa sangat memberkati.

Tetapi kita perlu membedakan antara exegesis dan aplikasi.

Exegesis berarti menggali keluar makna yang memang ada di dalam teks Alkitab.

Pertanyaannya adalah:
“Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembacanya?”

Sedangkan aplikasi bertanya,
“Bagaimana kebenaran itu saya hidupi hari ini?”
Keduanya sama-sama penting.

Namun jika hasil pengembangan seorang pengajar kemudian dianggap sebagai makna asli ayat, tanpa disadari kita sudah keluar dari maksud penulis Alkitab.

Semakin saya belajar, saya justru semakin kagum pada kesederhanaan Firman Tuhan.

Yesus mengajar para nelayan.
Paulus menulis kepada jemaat biasa.

Firman Tuhan memang dalam, tetapi tidak ditulis sebagai teka-teki yang hanya bisa dipahami oleh ahli bahasa Yunani.

Tujuannya bukan membuat kita berkata,
“Hebat sekali pengajarnya.”

Melainkan membuat kita berkata,
“Betapa luar biasanya Yesus.”

Saya rasa inilah yang dimaksud Grace Lubega.
Belajar ABC memang penting.
Tetapi Tuhan tidak memanggil kita berhenti di alfabet.

Dia memanggil kita memakai “alfabet Firman” itu untuk menyembuhkan yang terluka, menguatkan yang lemah, menuntun yang tersesat, dan membawa orang semakin mengenal Kristus.

Karena pewahyuan sejati bukan membuat kita semakin kagum pada kepintaran manusia, melainkan semakin mengagumi Pribadi Yesus yang dinyatakan melalui Firman-Nya.

The Bible was not given for our information but for our transformation.” – D.L. Moody

“Alkitab tidak diberikan hanya untuk menambah pengetahuan kita, tetapi untuk mengubahkan hidup kita.”- D.L. Moody

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

The goal of studying Scripture is not to become impressed by knowledge, but to be transformed by the One who wrote it.”

“Tujuan mempelajari Firman bukan untuk mengagumi pengetahuan, tetapi untuk diubahkan oleh Pribadi yang mengilhamkannya.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Natural & Supernatural Adalah Kunci Sukses! Sudah Dipraktikkan?
Term & Conditions
Jangan Serahkan Kembali Kepada Musuh, Area Yang Telah Kita Menangi…