Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
*DARI BUKHARA HINGGA SEVEN LAKES.*
Dari Bukhara kami melanjutkan perjalanan sekitar lima jam menuju Samarkand.
Namanya travelling rame-rame, lima jam bisa diisi tidur, ngobrol, ngemil, lihat pemandangan… lalu tidur lagi. Ha… ha…
Dalam perjalanan kami singgah di *kawasan Imam al-Bukhari Memorial Complex*, tempat makam Imam al-Bukhari, seorang tokoh besar dalam sejarah Islam yang lahir di Bukhara tahun 810 dan dikenal sebagai penyusun *Sahih al-Bukhari,* salah satu kumpulan Hadis yang paling penting dalam tradisi Islam. Makamnya berada di *Khartang,* sekitar 25 kilometer dari Samarkand.
Kompleksnya membuat saya terkesan.
Bersih, luas, cantik dan elegan. Kubah-kubah biru berdiri anggun, ada masjid besar, taman, kolam dengan air kebiruan, museum, hotel dan berbagai fasilitas bagi pengunjung. Kompleks ini baru saja mengalami renovasi dan pengembangan besar-besaran.
Dan di kawasan inilah kami lunch di *Kampoeng Indonesia.*
Jauh-jauh ke Uzbekistan, ketemu Kampoeng Indonesia!
Konon salah seorang pelayannya berasal dari Jakarta Selatan.
Small world indeed.
Ada kisah menarik tentang *Imam al-Bukhari.* Menurut riwayat yang diceritakan turun-temurun, ketika masih kecil ia pernah kehilangan penglihatannya. Ibunya tekun berdoa hingga akhirnya penglihatannya pulih. Saya tidak mau terlalu masuk ke detail karena versi ceritanya beragam, tetapi bagian tentang seorang ibu yang terus berdoa bagi anaknya menarik perhatian saya.
Seorang anak yang pernah tidak dapat melihat, kelak meninggalkan karya yang dibaca manusia berabad-abad kemudian.
Ada pula riwayat tentang perselisihannya dengan penguasa Bukhara. Sang penguasa ingin anak-anaknya memperoleh pelajaran khusus darinya. Imam al-Bukhari menolak memberikan keistimewaan seperti itu.
*Di hadapan ilmu, semua orang setara, semua adalah murid.*
Pada akhirnya ia meninggalkan Bukhara dan kemudian tinggal di Khartang, tempat ia wafat dan dimakamkan.
Mak jleb!
Penguasa pada zamannya sudah lama berlalu, tetapi hampir 1.200 tahun kemudian orang dari berbagai negara masih datang mengunjungi makam seorang guru.
*Power can command people. Value makes people remember.*
*Kekuasaan bisa memerintah orang. Tetapi nilai- nilainya yang membuat orang mengingatnya.*
Ada kejadian lucu di sana.
Masih ingat jepit hati merah dengan antena yang bisa goyang-goyang yang kami beli di Bukhara?
Tiba-tiba seorang wanita bule mendekati saya dan berbicara dalam bahasa Jerman.
Saya bengong.
Rupanya dia ingin tahu…
“Di mana beli jepit hati merah itu?”
Ha… ha…
Dia bahkan memanggil temannya untuk melihatnya. Rupanya tujuan mereka berikutnya Tashkent dan mereka ingin mencari jepit yang sama.
Dari sekian banyak bangunan megah dan sejarah berusia ratusan tahun, yang mencuri perhatian malah jepit hati merah!
Malam harinya kami menikmati sebuah show di Samarkand, lalu cepat-cepat beristirahat.
Karena keesokan paginya, subuh-subuh kami sudah berangkat menuju negara berikutnya.
*Tajikistan, here we come!*
Begitu memasuki Tajikistan, suasananya terasa berbeda. Kehidupan yang kami lihat terasa lebih sederhana dibanding kota-kota wisata Uzbekistan. Kami sempat mampir ke pasar tradisional, tempat yang justru menarik karena di sanalah kita melihat kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Tujuan utama hari itu adalah *Seven Lakes, atau Haftkul, yang berarti “tujuh danau”.*
*Seven Lakes berada di Fann Mountains, Tajikistan bagian barat, dekat Panjakent.* Tujuh danau ini tersusun mengikuti lembah Sungai Shing. Danau pertama berada pada ketinggian sekitar 1.640 meter, sedangkan danau ketujuh sekitar 2.400 meter.
Perjalanannya saja sudah spektakuler.
Jalan berkelok-kelok di antara tebing batu raksasa. Semakin masuk ke pegunungan, semakin sedikit bangunan, sementara alam mengambil alih panggung.
Lalu muncullah danau pertama, *Nezhigon atau Mijgon.*
Dari ketinggian bentuknya seperti alis atau bulu mata manusia.
Airnya biru kehijauan, jernih, dikelilingi gunung-gunung batu yang menjulang tinggi.
Wow!
Foto saja tidak benar-benar mampu menangkap rasanya ketika berdiri di sana.
Dan itu baru danau pertama.
Ada *Soya, Gushor, Nofin, Khurdak, Marguzor hingga Khazorchashma.* Sebagian terbentuk karena longsoran batu yang membendung lembah sejak zaman dahulu.
Di tengah pemandangan dramatis itu tetap saja ada cerita lucu.
Anak-anak Tajikistan melihat boneka kecil yang bergelantungan di jaket kami. Mata mereka langsung tertuju pada si panda.
Mau diambil!
Ha… ha…
Jaket yang anak-anak kami sendiri ogah memakainya, ternyata di Tajikistan pandanya malah laris manis.
Lalu ketemu keledai.
Foto lagi!
Gunung dapat.
Danau dapat.
Keledai pun dapat.
Wkwkwk…
Melihat Seven Lakes saya kembali teringat mengapa saya suka travelling.
Kemarin kami berdiri di antara masjid, mausoleum dan jejak peradaban berusia ratusan tahun. Hari ini kami berdiri di tengah gunung batu dan danau sebening kaca.
Travelling bukan sekadar mengumpulkan negara yang pernah dikunjungi.
Kita pergi supaya belajar melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.
Kadang pelajarannya datang dari seorang tokoh besar yang karyanya bertahan hampir 1.200 tahun.
Kadang dari alam yang membuat kita sadar betapa kecilnya manusia.
Dan kadang…
dari seorang anak Tajikistan yang matanya berbinar hanya karena melihat panda kecil bergelantungan di jaket kami.
Ternyata perjalanan yang indah bukan hanya tentang apa yang kita lihat.
Tetapi apa yang kita bawa pulang di dalam hati.
*”The world is full of magic things, patiently waiting for our senses to grow sharper.” — W.B. Yeats.*
*”Dunia dipenuhi hal-hal menakjubkan yang dengan sabar menunggu sampai kepekaan kita semakin tajam untuk melihatnya.” — W.B. Yeats.*
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Travelling membawa kita jauh dari rumah bukan sekadar untuk melihat dunia yang berbeda, tetapi supaya ketika pulang, mata kita melihat kehidupan dengan lebih luas dan hati kita belajar mensyukuri hal-hal sederhana.” — Yenny Indra
“Travel takes us far from home not merely to see a different world, but so that when we return, our eyes see life more broadly and our hearts learn to appreciate the simple things.” — Yenny Indra