KETIKA DUNIA MENGHAKIMI, BILLY GRAHAM MEMELUKNYA
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
KETIKA DUNIA MENGHAKIMI, BILLY GRAHAM MEMELUKNYA
Bayangkan seseorang yang dahulu begitu terkenal, dihormati, memiliki pelayanan besar, dan tampil di televisi bersama tokoh-tokoh dunia.
Tiba-tiba semuanya runtuh.
Itulah yang dialami Jim Bakker, penginjil televisi Amerika yang pernah membangun kerajaan pelayanan “Praise The Lord”. Setelah terlibat skandal keuangan dan dinyatakan bersalah atas penipuan, ia harus menjalani hukuman penjara.
Dari panggung megah, kini ia menjadi seorang narapidana.
Reputasinya hancur. Banyak orang menjauh. Dunia yang dahulu mengelu-elukannya kini mencemoohnya.
Suatu hari, ketika Jim sedang membersihkan toilet penjara, seorang petugas memberitahukan bahwa ada tamu yang ingin menemuinya.
Padahal bukan hari kunjungan.
Jim sedang sakit, pakaiannya kusut, sepatunya usang. Ia merasa malu dengan keadaannya.
Siapa yang datang?
Billy Graham!
Salah seorang penginjil paling dihormati di dunia.
Ketika bertemu Jim, Billy tidak menguliahinya. Tidak menanyakan mengapa ia melakukan kesalahan yang begitu memalukan. Tidak pula menjaga jarak demi melindungi reputasinya sendiri.
Billy justru merangkul dan memeluknya.
“Jim, I love you.”
Jim begitu terharu.
Ketika dunia seolah sudah menolaknya, ternyata masih ada seseorang yang datang khusus untuk mengatakan bahwa dirinya tetap dikasihi.
Wow…
Tetapi kisahnya tidak berhenti di sana.
Franklin Graham, putra Billy, berkali-kali mengunjungi Jim di penjara. Bahkan menawarkan pekerjaan, tempat tinggal dan mobil setelah ia bebas.
Jim sempat menolak karena khawatir reputasi keluarga Graham ikut tercemar.
Namun Franklin menegaskan bahwa persahabatan mereka tidak berubah.
Setelah Jim dibebaskan pada tahun 1994, keluarga Graham benar-benar menepati janji mereka.
Ruth Graham, istri Billy, mengajaknya beribadah bersama keluarga mereka.
Bayangkan, seorang mantan narapidana duduk di tengah keluarga penginjil paling terkenal di dunia!
Ruth bahkan duduk di sebelahnya.
Tanpa berkhotbah sepatah kata pun, Ruth sedang menyampaikan pesan yang sangat kuat.
Orang ini tetap sahabat kami.
Ketika mengetahui Jim masih menyimpan barang-barangnya dalam amplop bekas penjara karena tidak mempunyai dompet, Ruth memberinya salah satu dompet milik Billy.
Tindakan sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang kehilangan harga diri, penerimaan seperti itu sungguh luar biasa.
Membaca kisah ini, saya teringat perumpamaan tentang anak yang hilang.
Anak itu menghabiskan warisan ayahnya, hidup sembarangan, hingga akhirnya jatuh miskin dan kelaparan.
Ketika pulang, ia sudah menyiapkan pengakuan kesalahan. Ia merasa tidak layak lagi disebut anak.
Tetapi apa yang dilakukan sang ayah?
Dari jauh ayahnya melihat dia, berlari menyambutnya, memeluk dan menciumnya.
Bahkan mengadakan pesta!
Sang ayah tidak menunggu anaknya menjadi sempurna untuk kembali mengasihinya.
Inilah hati Bapa di surga.
Tentu saja kesalahan mempunyai konsekuensi. Mengampuni bukan berarti membenarkan penipuan atau mengabaikan orang-orang yang dirugikan.
Namun seseorang jauh lebih berharga daripada kesalahan yang pernah dibuatnya.
Setiap orang bisa salah. Bisa jatuh. Bisa mengambil keputusan yang buruk.
Dan ketika itu terjadi, dunia sering kali begitu cepat menghakimi, memberi cap, bahkan menutup pintu selamanya.
Padahal penerimaan yang tulus dapat menjadi awal seseorang berani bangkit, bertanggung jawab dan membangun kembali kehidupannya.
Saya mengagumi Billy Graham bukan hanya karena ia berkhotbah kepada jutaan orang.
Tetapi karena ketika berhadapan dengan seseorang yang sudah kehilangan segalanya, ia memilih memeluknya.
Tidak semua orang sanggup melakukan itu.
**Kasih yang sejati bukan sekadar indah ketika dikhotbahkan. Kasih menjadi nyata ketika kita bersedia mengulurkan tangan kepada orang yang sedang jatuh.**
Mungkin itulah salah satu warisan terindah Billy Graham.
Ia tidak hanya memberitakan kasih Bapa.
Ia memperagakannya.
Dan saya pun bertanya kepada diri sendiri…
Ketika seseorang jatuh, apakah kehadiran saya membuatnya semakin merasa dihukum, atau justru memberinya keberanian untuk bangkit kembali?
Karena terkadang, sebuah pelukan yang tulus mampu menyampaikan kasih jauh lebih kuat daripada seribu kata nasihat.
“Jim, I love you.” — Billy Graham
“Jim, aku mengasihimu.” — Billy Graham
“Every saint has a past, and every sinner has a future.” – Oscar Wilde.
“Setiap orang kudus mempunyai masa lalu, dan setiap orang berdosa mempunyai masa depan.” – Oscar Wilde
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS \& PIPA PVC
MPOIN PLUS \& PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #KasihSejati
“Kesalahan seseorang mungkin membuatnya kehilangan kepercayaan banyak orang. Tetapi kasih yang tulus memberinya keberanian untuk bertanggung jawab, memperbaiki diri dan memulai kembali. Jangan sampai kita begitu sibuk menghakimi kesalahannya hingga lupa melihat manusia yang membutuhkan kasih di baliknya.” — Yenny Indra
“A person’s mistakes may cost them the trust of many. But genuine love gives them the courage to take responsibility, make things right, and begin again. May we never become so busy judging someone’s failures that we forget the human being in need of love behind them.” — Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
“Tahukah Kita Bahwa Hati Yang Tidak Berterima Kasih Adalah Pintu Menuju Kegelapan Dan Kesia-siaan?”
September 9, 2020
Apakah Anda merasa terjebak?
Mei 3, 2020
