SAMARKAND: MENAKLUKKAN DUNIA, BERAKHIR DI SEBIDANG TANAH.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
SAMARKAND: MENAKLUKKAN DUNIA, BERAKHIR DI SEBIDANG TANAH.
Samarkand, Uzbekistan, adalah salah satu kota tertua di dunia, bahkan sejarahnya lebih tua daripada Roma. Kota ini menjadi saksi kejayaan Amir Timur, seorang penakluk besar yang membangun kekaisaran luas pada abad ke-14.
Amir Timur (1336–1405), yang dikenal pula sebagai Tamerlane,sering dibandingkan dengan Jenghis Khan karena keberhasilannya menaklukkan wilayah yang sangat luas, dari Asia Tengah dan Persia hingga India utara.
Bayangkan, pada zaman ketika belum ada pesawat, kereta cepat, apalagi teknologi komunikasi modern, Amir Timur berhasil membangun kekaisaran yang begitu besar!
Perjalanan kami dimulai dengan mengunjungi patung Amir Timur yang sedang duduk dengan gagah di sebuah taman kota. Sosoknya terlihat berwibawa, seolah masih mengawasi kota yang dahulu menjadi pusat kekuasaannya.
Di sinilah terjadi peristiwa yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.
Ketika Kristina dan saya berdiri di samping patung Amir Timur, kami melihat Novianto mengarahkan kamera ke arah kami.
Spontan, Kris menyenggol saya, mengajak bergaya sambil melambaikan tangan. Pokoknya, jangan sampai mati gaya!
Eh, tiba-tiba Novi tertawa sambil berteriak,
“Lhooo… aku ini sedang selfie!”
Alamak!
Ternyata sejak tadi Novi sedang memotret dirinya sendiri, bukan kami!
Hahaha… inilah akibatnya kalau terlalu ke-GR-an! Kami semua tertawa terbahak-bahak.
Begitulah asyiknya traveling bersama teman-teman. Bukan hanya tempat-tempat indah yang menjadi kenangan, tetapi juga kejadian-kejadian spontan yang tak pernah direncanakan.
Perjalanan berlanjut ke Registan Square, kompleks bangunan bersejarah yang menjadi ikon Samarkand. Tiga madrasah megah berdiri mengelilingi lapangan, dihiasi mozaik biru pirus dengan pola geometris yang luar biasa indah.
Salah satunya, Madrasah Ulugh Beg, dibangun oleh cucu Amir Timur yang terkenal sebagai ahli astronomi dan matematika.
Menarik sekali, di tengah sejarah penaklukan dan peperangan, Samarkand juga berkembang menjadi pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Kami pun mengunjungi Gur-e-Amir, mausoleum tempat Amir Timur dimakamkan bersama beberapa anggota keluarganya.
Bangunannya megah, dengan kubah biru yang indah dan dekorasi yang begitu rumit. Pengaruh arsitektur Dinasti Timurid bahkan dapat ditelusuri hingga bangunan-bangunan terkenal di India, termasuk Taj Mahal.
Ada ungkapan yang sering dikaitkan dengan Amir Timur, “Jika ingin melihat kebesaranku, lihatlah bangunan-bangunan yang kubangun.”
Memang, ratusan tahun setelah kematiannya, kita masih bisa mengagumi peninggalannya.
Namun, justru ketika melihat makamnya, saya tertegun.
Seorang penguasa yang pernah menaklukkan begitu banyak wilayah, memiliki kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh luar biasa, akhirnya tetap meninggalkan semuanya.
Dahulu, wilayah kekuasaannya membentang ribuan kilometer. Kini, jasadnya beristirahat di sebidang kecil tanah.
Sungguh sebuah pengingat yang sangat kuat.
Betapa mudahnya manusia menghabiskan seluruh hidup untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat dibawa pergi.
Tentu tidak salah menjadi sukses, membangun bisnis, memiliki kekayaan, bahkan meninggalkan bangunan megah. Namun, semua itu seharusnya menjadi sarana untuk menghasilkan sesuatu yang lebih berarti daripada sekadar kebanggaan pribadi.
Setelah menikmati berbagai peninggalan sejarah, kami juga mengunjungi Eternal City, kawasan wisata yang menghadirkan suasana kota tradisional Uzbekistan dengan bangunan, kerajinan, dan budaya khasnya.
Dan ternyata, dunia ini benar-benar kecil!
Siapa sangka, jauh-jauh traveling ke Samarkand, saya justru bertemu Lily Is, teman saya di SMA Sedes Sapientiae Semarang.
Bayangkan, dari sekian banyak kota di dunia, kami bisa bertemu di Uzbekistan.
Sungguh kejutan yang menyenangkan!
Di tengah perjalanan menyaksikan peninggalan kerajaan berusia ratusan tahun, justru pertemuan sederhana dengan sahabat lama menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Saya kembali diingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, seberapa tinggi kita mencapai kesuksesan, atau seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Ada kekayaan lain yang tidak kalah berharga: persahabatan, keluarga, pengalaman indah, dan kenangan yang membuat kita tersenyum setiap kali mengingatnya.
Amir Timur meninggalkan bangunan megah yang dikagumi dunia. Kita mungkin tidak akan meninggalkan monumen sebesar itu.
Namun, setiap kita mempunyai kesempatan meninggalkan warisan yang tak kalah berarti, melalui kasih, kebaikan, nilai-nilai kehidupan, dan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar kita.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya apa yang kita tinggalkan di dunia, tetapi apa yang tetap hidup dalam hati orang-orang yang pernah mengenal kita.
“The great use of life is to spend it for something that will outlast it.” — William James.
“Penggunaan hidup yang paling bermakna adalah mengabdikan hidup untuk sesuatu yang akan bertahan lebih lama daripada hidup itu sendiri.”— William James.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
Success is not merely about how much we accumulate, but about how much goodness remains after we are gone.”
— Yenny Indra
“Kesuksesan bukan sekadar seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang tetap tinggal ketika kita sudah tiada.”
— Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Are You Crazy??? Why?
Juni 28, 2019
Hidup Bagai Yoyo? Ini Solusinya!
Maret 1, 2019

