NAIK METRO LEBIH MURAH DARIPADA KENCING! HAAAH…?
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
NAIK METRO LEBIH MURAH DARIPADA KENCING! HAAAH…?
Pernah membayangkan naik metro lebih murah daripada pergi ke toilet?
Ha… ha…
Itulah salah satu pengalaman paling unik kami di Tashkent, ibu kota Uzbekistan.
Setelah perjalanan darat sekitar empat jam, kami tiba di Tashkent. Kota ini terasa berbeda dibanding Bukhara dan Samarkand. Jalanannya lebar, bangunannya modern, tetapi jejak masa Uni Soviet masih terasa, terutama pada sistem transportasinya.
Kami sengaja mencoba naik metro.
Ternyata tarifnya hanya 2.000 som Uzbekistan!
Murah sekali.
Yang menarik, stasiun-stasiun metronya bukan sekadar tempat naik dan turun kereta. Masing-masing memiliki desain dan tema yang berbeda. Ada lampu gantung cantik, pilar-pilar megah, ornamen artistik, dan langit-langit yang dihias seperti ruang pameran seni.
Memang negara-negara bekas Uni Soviet terkenal membangun stasiun metro yang indah. Transportasi umum bukan hanya untuk memindahkan manusia, tetapi juga menjadi kebanggaan kota.
Namun yang membuat kami tertawa justru perbandingan harganya.
Naik metro 2.000 som.
Pergi ke toilet umum bisa 3.000–5.000 som!
Lho?
Berarti naik metro jauh lebih murah daripada kencing!
Wkwkwk…
Dan di dalam metro, ada kejadian yang tidak kalah lucu.
Seorang bapak dari rombongan kami kebetulan duduk di sebelah seorang ibu muda yang cantik.
Teman-teman langsung mengambil foto mereka.
Melihat itu, sang ibu muda spontan menggandeng lengan si bapak, ikut berpose seolah-olah mereka pasangan.
Wah… pecahlah tawa kami!
Jadilah mereka berdua, pasangan suami istri yang sesungguhnya, digoda habis-habisan sepanjang perjalanan.
Tentu saja namanya tidak boleh disebut.
SKC dibaca umum, jangan sampai candaan di Uzbekistan berubah menjadi gosip internasional!
Ha… ha…
Salah satu tujuan kami hari itu adalah Hazrati Imam Complex, kawasan bersejarah yang menjadi salah satu pusat warisan keagamaan Tashkent. Bangunannya megah, dengan kubah, menara dan halaman luas yang tertata rapi.
Kami juga mengunjungi Minor Mosque, masjid berwarna putih yang cantik dengan kubah biru. Perpaduan warna putih dan birunya tampak elegan sekali.
Dan justru di sinilah kejutan berikutnya terjadi.
Di tengah kunjungan, saya bertemu Yuanita, teman lama ketika kami sama-sama sekolah di Extension Sanata Dharma, Yogyakarta.
Wow!
Bertahun-tahun tidak bertemu di Indonesia, eh… malah ketemunya di Uzbekistan!
Kami tentu langsung berfoto berdua, lalu saya mengirimkannya ke grup teman-teman Extension.
Yuanita berkomentar,
“What a small world, di Indonesia ga bisa ketemu malah ketemu Yenny di Minor Mosque Tashkent…”
Belum selesai.
Bambang Riyanto langsung menimpali,
“Well, more proper idiom: what a giant steps, kalo mau ketemu eks Extension harus di luar negreeee hahaha…”
Hahaha…
Memang keren ya.
Di Indonesia susah mengatur waktu untuk bertemu, tetapi tanpa janjian malah berpapasan di negara yang ribuan kilometer jauhnya dari rumah.
Sometimes, the best meetings are the ones we never planned.
Perjalanan hari itu ditutup dengan suasana yang sama sekali berbeda.
Kami mengunjungi Seoul Mun, kawasan kafe dan restoran modern bernuansa Korea yang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda Tashkent.
Di tengah kawasan mengalir sungai dengan arus yang cukup deras. Bangunan-bangunan kafe yang cantik berjajar di sekitarnya, menciptakan suasana santai dan menyenangkan.
Ada pula pertunjukan air mancur menari yang bergerak mengikuti iringan musik, mengingatkan saya pada suasana di kawasan PIK Batavia.
Dari masjid bersejarah, metro peninggalan era Soviet, sampai kafe modern ala Korea…
Tashkent benar-benar memperlihatkan perpaduan masa lalu dan masa kini.
Yang juga menarik, tur kami tidak menyediakan paket makan bersama.
Awalnya saya sempat khawatir.
Bagaimana kalau makanannya tidak cocok dengan lidah Indonesia?
Saking khawatirnya, saya membawa lauk-pauk Indonesia buanyaaak sekali.
Sampai Pop Mie segala!
Padahal biasanya saya tidak pernah membawa bekal seperti itu kalau travelling.
Ternyata…
Kekhawatiran saya tidak terbukti.
Kami justru diajak ke berbagai kafe dan restoran modern. Masing-masing bebas memilih makanan sesuai selera.
Dan ternyata enak-enak lho!
Banyak sekali pilihan makanan yang cocok dengan lidah kami.
Saya jadi geli sendiri mengingat bekal yang sudah memenuhi koper.
Ha… ha…
Sering kali kita sudah membayangkan berbagai kesulitan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.
Padahal ketika dijalani, kenyataannya jauh lebih menyenangkan daripada yang kita khawatirkan.
Begitulah Tashkent.
Kami datang untuk melihat bangunan bersejarah dan mengenal kota baru. Tetapi pulang membawa cerita tentang metro yang lebih murah daripada toilet, pasangan dadakan di kereta, pertemuan tak terduga dengan teman lama, dan makanan yang ternyata jauh lebih enak daripada perkiraan.
Saya semakin menyadari, travelling bukan hanya memperkenalkan kita kepada tempat-tempat baru.
Travelling juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat berprasangka terhadap sesuatu yang belum kita alami.
Kadang yang kita khawatirkan justru menjadi kejutan yang menyenangkan.
Dan kadang, kejutan terbaik bukanlah tempat yang indah, melainkan seseorang yang tidak pernah kita sangka akan kita jumpai di sana.
“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” — Marcel Proust.
“Perjalanan penemuan yang sesungguhnya bukan sekadar mencari pemandangan baru, tetapi memiliki cara pandang yang baru.” — Marcel Proust
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Sering kali kita membawa terlalu banyak kekhawatiran untuk sesuatu yang belum terjadi. Ketika berani melangkah, ternyata kehidupan menyediakan jauh lebih banyak kejutan indah daripada yang pernah kita bayangkan.” — Yenny Indra
“Often, we carry too many worries about things that haven’t happened. Yet when we dare to take a step forward, life may surprise us with far more beautiful experiences than we ever imagined.” — Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Labuan Bajo Day 2: Pulau Padar, Pulau Komodo, Pink Beach, Taka Makassar & Snorkeling Manta Point.
Juli 13, 2019
Rest In The Lord.
Juli 30, 2019

