Articles

Ketika Ilmu Sampai Pada Batasnya.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Ilmu Sampai Pada Batasnya.

Ada saatnya manusia sudah melakukan semua yang diketahuinya, tetapi jawabannya tetap tidak ditemukan.

Charles Cullistahu persis rasanya.

Ia bukan orang yang anti-pengobatan. Ia seorang dokter terlatih, memperoleh gelar kedokteran dari University of Vermont pada usia 24 tahun. Sejak kecil kesehatannya sendiri tidak terlalu baik, mungkin itu pula yang membuat hatinya mudah tersentuh melihat penderitaan orang sakit.

Pada tahun 1864, Cullis membuka rumah perawatan gratis di Boston bagi para penderita tuberkulosis. Pada zaman itu, penyakit ini sangat ditakuti. Banyak pasien yang dianggap tidak mempunyai harapan bahkan ditolak rumah sakit.

Cullis menerima mereka.

Ia memberikan perawatan medis, tempat tinggal yang hangat, perhatian, sekaligus doa.

Dalam urusan keuangan, Cullis banyak belajar dari George Müller. Ia memilih tidak meminta-minta sumbangan, tetapi percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Pelayanannya kemudian berkembang. Ada rumah bagi anak yatim piatu, pasien kanker, penderita gangguan tulang belakang, dan orang miskin.

Selama enam tahun Cullis bekerja sebagai dokter seperti biasa, merawat pasien dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya sambil tetap berdoa bagi mereka.

Hingga pada tahun 1870 terjadi sesuatu yang mengubah hidupnya.

Seorang perempuan bernama Lucy Drake datang kepadanya dengan tumor otak yang sangat melemahkan. Kemampuan medis pada masa itu hanya memberikan sedikit harapan.

Cullis sudah belajar kedokteran. Ia tahu apa yang dapat dilakukan dokter.

Ia juga tahu kapan ilmu manusia sudah sampai pada batasnya.

Cullis menumpangkan tangan atas Lucy dan berdoa dengan sederhana.

Lucy sembuh.

Seketika.

Apa yang terjadi di depan matanya mengguncang cara Cullis memandang kesembuhan. Bukan karena ilmu kedokteran tiba-tiba menjadi buruk, tetapi karena ia menemukan bahwa kemampuan manusia bukanlah batas kemampuan Tuhan.

Saya menyukai bagian ini.

Kadang-kadang tanpa sadar kita mengukur apa yang Tuhan dapat lakukan berdasarkan apa yang manusia masih dapat lakukan.

Selama dokter berkata masih ada jalan, kita tenang.

Selama rekening masih cukup, kita tenang.

Selama bisnis masih dapat dikendalikan, kita tenang.

Tetapi ketika manusia berkata, “Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi,” hati kita ikut kehilangan harapan.

Padahal batas manusia tidak pernah menjadi batas Tuhan.

Setelah pengalaman itu, pelayanan Cullis semakin dikenal dengan doa bagi orang sakit. Pada tahun-tahun berikutnya ia mengadakan berbagai *Faith Conventions.* Banyak orang datang untuk mendengar Firman dan berdoa bagi kesembuhan.

Pengaruhnya bahkan menjangkau tokoh-tokoh lain.

*A. B. Simpson*, yang kemudian mendirikan *Christian and Missionary Alliance*, mengalami kesembuhan dalam lingkungan pelayanan Cullis. *A. J. Gordon* juga sangat dipengaruhi oleh apa yang disaksikannya dan kemudian menulis tentang kesembuhan ilahi.

Satu kehidupan yang sederhana ternyata dapat menyalakan api yang menjalar jauh melampaui zamannya.

Tetapi ada sesuatu yang lebih menyentuh saya.

Sebelum Cullis dikenal karena kisah-kisah kesembuhan, ia sudah melayani orang sakit ketika belum ada sesuatu yang spektakuler untuk diceritakan.

Ia merawat penderita tuberkulosis.

Menolong orang miskin.

Menerima mereka yang tidak mempunyai tempat untuk pergi.

Memberikan rumah yang hangat bagi orang yang sedang menderita.

Iman Cullis tidak dimulai ketika mukjizat terjadi. Iman itu sudah terlihat ketika ia memilih mengasihi orang-orang yang tidak dapat membalas apa pun kepadanya.

Kemudian Tuhan memperluas pengaruhnya.

Kita perlu belajar menjaga keseimbangan ini.

Kita bersyukur untuk dokter, pengobatan, pengetahuan, dan segala sarana yang tersedia. Tetapi iman kita tidak berhenti pada apa yang dapat dilakukan manusia.

Dokter menolong.

Obat dapat menjadi sarana.

Ilmu pengetahuan terus berkembang.

Tetapi Tuhan tetap Sumber kita.

Ketika manusia berkata tidak tahu lagi harus berbuat apa, kita tidak perlu ikut berkata, “Berarti sudah tidak ada jalan.”

Ada Pribadi yang jauh lebih besar daripada diagnosis, statistik, pengalaman manusia, dan segala sesuatu yang dapat kita lihat.

Mukjizat bukan tentang kehebatan orang yang berdoa.

Mukjizat menunjuk kepada kehebatan Tuhan yang menjawab doa.

Karena pada akhirnya, bukan Charles Cullis yang harus menjadi pusat cerita ini.

Bukan pula Lucy Drake.

Melainkan Tuhan yang menunjukkan bahwa ketika kemampuan manusia sampai pada batasnya, kuasa-Nya tidak pernah kehabisan jalan.

“Faith begins where the will of God is known.” — F. F. Bosworth.

“Iman dimulai ketika kehendak Tuhan diketahui.” — F. F. Bosworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Batas kemampuan manusia bukanlah batas kemampuan Tuhan. Gunakanlah setiap pertolongan yang tersedia, tetapi jangan pernah memindahkan kepercayaan kita dari Sang Sumber kepada sarana.” — Yenny Indra

“The limit of human ability is never the limit of God’s ability. Use every help available, but never transfer your trust from the Source to the means.” — Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Mau Tahu Rahasia Menemukan HP Yang Hilang Secara Supernatural?
Apakah Sikap Kita Mencerminkan Karakter Allah?
Serba Serbi Menua…..