Kesempatan Kedua di Bawah Reruntuhan…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Kesempatan Kedua di Bawah Reruntuhan…
Pagi 11 September 2001, Genelle Guzman-McMillan berangkat bekerja seperti biasa. Tidak ada firasat bahwa beberapa jam kemudian hidupnya akan berubah selamanya.
Genelle bekerja di lantai 64 North Tower, World Trade Center, New York. Ketika pesawat menghantam gedung itu, ia bersama teman-temannya berusaha turun melalui tangga darurat.
Mereka hampir berhasil.
Genelle sudah berada sekitar lantai 13 ketika gedung itu runtuh.
Dalam hitungan detik, semuanya gelap.
Genelle terkubur di bawah berton-ton beton dan baja. Kedua kakinya terjepit. Tubuhnya nyaris tidak dapat bergerak. Hanya satu tangannya yang masih bisa digerakkan.
Tidak ada cahaya.
Tidak tahu apakah ada orang yang mencarinya.
Tidak tahu apakah ia akan keluar hidup-hidup.
Di tengah kegelapan itulah Genelle mulai memikirkan hidupnya.
Sebelum tragedi itu, ia percaya kepada Tuhan, tetapi mengakui bahwa ia tidak sungguh-sungguh menjalani hidup bersama-Nya. Sekarang, di bawah reruntuhan World Trade Center, tidak ada lagi jabatan, pekerjaan, uang, penampilan, atau kesibukan yang berarti.
Tinggal dirinya dan Tuhan.
Genelle berdoa.
Ia meminta Tuhan mengampuninya dan memberinya kesempatan kedua. Jika ia keluar hidup-hidup, ia ingin hidupnya berubah.
Saya berhenti sejenak ketika membaca kisah ini.
Betapa mudahnya kita menjalani hidup seolah-olah masih mempunyai waktu tanpa batas.
Nanti saja berdamai.
Nanti saja mengampuni.
Nanti saja memperbaiki hubungan.
Nanti kalau tidak sibuk, baru punya waktu untuk Tuhan.
Nanti. Nanti. Nanti.
Sampai suatu hari kita menyadari bahwa tidak seorang pun memegang kontrak tentang hari esok.
Genelle menunggu.
Satu jam.
Lima jam.
Sepuluh jam.
Malam datang dan ia masih berada di sana.
Akhirnya, setelah sekitar 27 jam terkubur, pertolongan datang. Para penyelamat menemukan Genelle dan perlahan-lahan membebaskannya dari beton dan baja yang menjepit tubuhnya.
Genelle Guzman-McMillan tercatat sebagai orang terakhir yang ditemukan hidup dari reruntuhan World Trade Center.
Ia selamat.
Namun bagi Genelle, kisah terbesarnya bukan sekadar bahwa tubuhnya berhasil dikeluarkan dari reruntuhan.
Ia merasa memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda.
Genelle kemudian menceritakan satu pengalaman yang sangat pribadi. Ketika terperangkap, ia berseru meminta pertolongan dan merasakan seseorang menggenggam tangannya. Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Paul dan menguatkannya sampai tim penyelamat tiba. Belakangan ia tidak pernah berhasil menemukan siapa Paul tersebut.
Genelle sendiri percaya mungkin Tuhan mengirimkan seorang malaikat.
Kita tidak perlu membangun doktrin dari pengalaman pribadi yang tidak dapat diverifikasi. Tetapi satu hal tidak perlu diperdebatkan: Genelle diselamatkan dari reruntuhan, dan pengalaman itu mengubah arah hidupnya.
Ia bahkan kemudian menulis kisahnya dalam sebuah buku berjudul Angel in the Rubble.
Bagi saya, ada pertanyaan yang lebih penting daripada, “Siapakah Paul?”
Apa yang kita lakukan dengan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita hari ini?
Tidak semua orang membutuhkan reruntuhan untuk mengubah hidupnya.
Kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Tidak perlu menunggu sakit untuk menyadari berharganya kesehatan.
Tidak perlu menunggu hubungan hancur untuk menurunkan ego.
Tidak perlu menunggu hidup terguncang untuk mulai mencari Tuhan.
Kadang-kadang mukjizat terbesar bukan ketika Tuhan mengeluarkan seseorang dari reruntuhan.
Mukjizat terbesar terjadi ketika setelah keluar dari reruntuhan, ia tidak kembali menjadi orang yang sama.
Setiap pagi ketika kita membuka mata, sesungguhnya kehidupan sedang memberikan kesempatan baru.
Kesempatan untuk mengasihi lebih sungguh-sungguh.
Mengampuni lebih cepat.
Mengucapkan kata-kata yang membangun.
Menghargai keluarga.
Melakukan apa yang benar.
Dan terutama, hidup semakin dekat dengan Tuhan.
Genelle mendapat kesempatan kedua setelah 27 jam terkubur di bawah reruntuhan.
Kita mendapatkannya pagi ini.
Jangan tunggu reruntuhan.
“It is never too late to be what you might have been.” — George Eliot
“Tidak pernah terlambat untuk menjadi pribadi yang seharusnya dapat kita jadi.” — George Eliot
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Jangan menunggu hidup runtuh untuk menemukan apa yang benar-benar berharga. Selama Tuhan masih memberi kita hari ini, kita masih mempunyai kesempatan untuk hidup dengan cara yang berbeda.” — Yenny Indra
“Don’t wait until life falls apart to discover what truly matters. As long as God still gives us today, we still have the opportunity to live differently.” — Yenny Indra